Vampire , The UnTold Story (Episode 2)
SEORANG PEMUDA DAN KERESAHANNYA.

Sancaka tertegun didepan villa yang diberikan oleh Tuan Frantzheof de Van Pierre untuk tempat kediamannya, Villa yang putih megah dengan pemandangan kebun teh yang indah, mandor tua kepercayaan Tuan Frantzheof de Van Pierre yang ada disebelah pemuda itu hanya tersenyum.

“Tuan muda Sancaka tinggal di villa ini, sementara Tuan Frantzheof de Van Pierre tinggal di villa yang disana itu”, kata si mandor tua menunjuk kearah Villa yang jauh lebih besar dengan letak yang sedikit lebih tinggi.

“Tolong panggil saja nak Sanca … saya nggak enak mendengar panggilan tuan muda itu pak”, kata Sancaka.

“Maafkan bapak … bapak nggak berani melanggar perintah Tuan Frantzheof de Van Pierre … kami semua sudah dipesan untuk memanggil dengan sebutan Tuan Muda”, jawab mandor tua itu terbungkuk-bungkuk.

Sekilas Sancaka menangkap ada kesan ketakutan di wajah orang tua itu.

Mandor tua itulah yang menjemput Sancaka ke Palembang sesuai perintah Tuan Frantzheof de Van Pierre, untuk kemudian diantarkan ke Villa Mendung yang sekarang sedang dikagumi oleh Sancaka, namanya bia dipanggil Pak Udin.
Villa Mendung ini letaknya tidak berjauhan dengan Villa Bulan tempat Tuan Frantzheof de Van Pierre tinggal, hanya berjarak sekitar 300 meter.

Setelah masuk Sancaka agak berkerut keningnya, villa ini terkesan suram, dengan langit-langit yang tinggi dan jendela-jendela yang besar, dindingnya dihiasi dengan berbagai lukisan wanita cantik yang sedang bersedih. satu lukisan yang berbeda, lukisan seorang wanita yang sedang memeluk seorang pria, hanya saja tetap terkesan suram.

“Ini kamar tidur tuan muda”, kata pak Udin sambil membuka sebuah ruangan.

Sancaka terpana sejenak, sebuah kamar tidur yang besar, dengan sebuah ranjang yang besar ditengah-tengah, ada empat tiang disetiap sudutnya untuk menopang semacam tingkap yang terbalut kelambu tipis, dengan dinding berwarna biru cerah, terdapat tiga buah lemari besar dan satu set meja tamu, terlalu mewah untuk dirinya.

Pak Udin meletakkan tas bawaan Sancaka di samping ranjang itu, “Kalau Tuan Muda memerlukan sesuatu tarik lah bandulan itu … akan ada yang datang untuk melayani tuan” katanya sambil menunjuk sebuah bandulan disisi tempat tidur, bandul dengan sulaman indah berumbai-rumbai yang tergantung pada tali terpilin yang tergantung menembus langit-langit kamar itu.

“Silahkan berisitirahat tuan … saya akan memeriksa apakah makanan siang tuan muda sudah disiapkan”, kata orang tua itu membungkuk mundur keluar sambil menutupkan pintu.

Sancaka naik dan berbaring diranjang itu, terasa betapa empuknya kasur dan bantal yang menopang tubuhnya. Sancaka tidak akan menduga bahwa kasur dan bantal itu bukanlah terisi kapuk melainkan terisi oleh bulu angsa.

****

Sancaka membuka matanya, seorang gadis manis sedang mengguncang-guncang pahanya membangunkan tidurnya, kiranya kenyamanan telah membuat pemuda itu tertidur tadi.

“Bangunlah tuan … makan siang untuk tuan telah kami siapkan”, suara lembut gadis itu terdengar, senyum genit terhias diwajahnya.

“Ya … ya … aku bangun”, jawab Sancaka tergagap.

“Eit … tuan muda nggak boleh turun dari ranjang … duduk aja yang nyaman” kata gadis itu sambil menggoyang-goyangkan telunjuknya ketika melihat Sancaka akan turun dari ranjang itu.

Sancaka melongo sebentar, diapun naik kembali ke atas tempat tidur itu, duduk bersandar ke kepala tempat tidur itu, matanya tak lepas mengawasi gerak-gerik gadis itu.

Gadis itu mendekati semacam meja kecil yang beroda, semacam meja dorong agaknya, mengenakan gaun hijau ketat tanpa lengan yang bergaya china, kulitnya putih mulus ciri khas gadis-gadis Pagaralam, tentu dia berasal dari daerah sekitar sini pikir Sancaka, gadis itu berdiri menyamping sehingga Sancaka dapat dengan jelas melihat bentuk siluet tubuhnya yang aduhai, buah dada yang tegak menantang, rambut digelung keatas memperlihatkan rambut-rambut halus ditengkuknya.

Gadis itu mulai membuka semua tutup piring dengan berbagai bentuk di meja itu, perkiraan Sancaka sedikitnya ada enam macam piring disana, Sancaka meneruskan penjelajahan matanya ke tubuh gadis itu, nafasnya sedikit tersendat, gaun panjang gadis itu memiliki belahan memanjang disamping, belahan dari bawa sampai mendekati pinggulnya, memperlihatkan kaki jenjang dengan kulit yang putih mulus, tanpa sadar Sancaka meneguk liurnya sendiri. Pikiran kotor mulai hadir dikepalanya.

“Nama saya Yuni … Tuan suka yang tuan lihat?”, terdengar suara gadis itu menggodanya.

“Maaf”, sahut Sancaka dengan muka merah menahan malu.

“Ya … wajar kok kalau tuan minta maaf … karena tebakan tuan tadi salah … saya bukan berasal dari daerah sini … saya orang sunda”, sahut gadis itu sambil melirik dan melempar senyum menggoda kearah Sancaka.

Sancaka tercenung, gadis ini dapat membaca pikirannya.

Gadis itu dengan tenang mendorong meja itu kesamping tempat tidur Sancaka, meletakkan semacam meja yang cukup panjang dengan pendek disekitar atas paha Sancaka, dan mulai menyusun piring dan pelaratan makan yang ada. Setiap piring berisi satu jenis masakan yang penampilannya benar-benar mengundang selera.

Setiap menyusun sesuatu di meja pendek itu, Sancaka dapat melihat belahan dan sebagian besar buah dada gadis itu yang juga putih mulus, agaknya tidak ada pakaian dalam dibalik pakaian ketat hijaunya itu. Bau harum merebak dari tubuh gadis itu.

“Mau ya? Buah yang satu itu belum boleh dimakan sekarang”, bisik gadis itu sambil tersenyum tanpa menghentikan aktifitasnya menyusun hidangan dihadapan Sancaka.

Sancaka kembali tersedak, ia seperti pemuda bego yang terus-terusan ketangkap basah, “E … E … saya tidak melihat ada nasi diantara hidangan ini”, jawab Sancaka sekenanya, asal jawab malah.

“Tuan membutuhkan makanan yang bergizi tinggi … ini sesuai perintah Tuan Frantzheof de Van Pierre”, jelas gadis itu. Tampaknya ia telah menyelesaikan tugasnya.

“Silahkan makan tuan … jika telah selesai silahkan tuan panggil saya dengan menarik bandul itu”, gadis itu membungkuk dan melangkah mundur keluar dari kamar itu.

Masih tertangkap senyum nakal gadis itu sebelum pintu kamar Sancaka ditutupnya kembali.

Sancaka hanya bisa mengutuki dirinya sendiri yang terlihat begitu bodoh dimata gadis itu tadi, dilampiaskannya dengan melahap semua hidangan itu, ternyata hidangan itu benar-benar lezat.

****

Sancaka mematikan rokoknya ke asbak dimeja tamu dalam kamar tidurnya, itu batang rokok ketiga yang dihabiskannya, dia tersenyum sendiri, selera pemilik villa ini agak nakal juga, asbak yang terletak dimeja itu bentuknya menggambarkan wanita telanjang yang duduk mengangkang diatas tempayan sebuah besar.

Ditariknya bandulan disamping tempat tidurnya, lamat-lamat ia mendengar bunyi loceng berdentang jauh diluar kamar tidurnya.

Terdengar suara langkah kaki mendekati pintu kamarnya, pintu itu membuka dan langsung terlihat wajah Yuni yang tersenyum manis, “Sudah selesai tuan?”, tanyanya sambil berjalan masuk, “Ah … masakan yang kami hidangkan memenuhi selera tuan” lanjutnya melihat betapa semua hidangan itu habis dilahap Sancaka, diapun kemudian sibuk membereskan semuanya termasuk merapikan tempat tidur Sancaka.

Sancaka duduk dikursi yang menghadap ke tempat tidurnya, menyulut rokoknya, kembali ia memperhatikan semua gerak-gerik gadis itu.

Kali ini Yuni tidak berkomentar sedikitpun, ia hanya tersenyum-senyum manis dan sesekali melirik kearah Sancaka.

Didorongnya meja sorong itu keluar, “Saya akan menyiapkan air panas untuk tuan mandi sore ini”, kata gadis itu sedikit menganggukkan kepalanya sambil menutup pintu dari luar.

Sancaka hanya bisa menghembuskan rokonya dengan kuat, kemulusan dan keharuman gadis itu mengguncang bathinnya.

****

Selang satu jam, saat Sancaka sedang berdiri memandang keluar ke kebun teh melalui jendela kamar tidurnya, pintu kamarnya terbuka, tampak Yuni melangkah masuk dengan memangku pakaian ungu muda yang terlipat rapi, “Tempat mandinya sudah saya siapkan … tanggalkan semua pakaian tuan dan pakailah kimono ini”, terdengar suara gadis itu sambil meletakkan lipatan pakaian itu keatas tempat tidur Sancaka.

“Terima kasih”, sahut Sancaka.

“Saya tunggu diluar kamar”, kata gadis itu sambil berjalan keluar dan kemudian menutup pintu.

Sancaka menanggalkan semua pakaian ditubuhnya, dikenakannya kimono itu, terasa lembut dan ringan, agaknya terbuat dari sutera pilihan.
Tetapi dia tidak menemukan sebuah pun cermin dikamar itu, jadi dia tidak dapat melihat bagaimana penampilannya dengan kimono itu.

Diapun melangkah ke pintu, dibukanya pintu itu, Yuni yang berada di depan pintu itu membungkuk sopan, “Silahkan ikuti saya” katanya tersenyum.
Sancaka pun melangkah mengiringi gadis itu, kali ini Sancaka dapat mengamati dengan jelas lenggak-lenggok tubuh semampai gadis itu, pinggangnya sungguh ramping. Bau harum tubuh gadis itu semakin menggoda.

Mereka melewati ruang tengah yang luas, dengan hiasan segala macam senjata tajam didindingnya, semuanya tersusun dengan baik, sehingga indah dipandang. Masuk ke ruang makan dengan meja besar panjang berbentuk oval yang dikitari oleh 13 kursi. Ada tiga pintu disana, “Pintu di kiri menuju ke ruang baca sekaligus perpustakaan pribadi Tuan Frantzheof de Van Pierre … tuan diijinkan menggunakannya … pintu dibelakan sana menuju keruang belakang, ke dapur dan ke gudang persdiaan anggur dibawah tanah … pintu di kanan adalah ruang mandi yang kita tuju”, jelas gadis itu.

Gadis itu melangkah mendekati pintu itu, membukakannya untuk Sancaka, “Silahkan tuan”, katanya sambil membungkuk sopan.

Sancaka melangkah masuk kedalam, dia tidak lagi menginjak lantai marmer seperti ruang lainnya, lantai ruang mandi itu dari batu-batu koral hitam, dan gadis itu segera menutup kembali pintu itu dari luar. Dipandangnya sekeliling ruang mandi itu, ruang mandi itu sangat besar dan dirancang dengan sempurna, seluruh dindingnya berwarna biru cerah dengan gambar mata seukuran telapak tangan yang bertebaran tak teratur diseluruh permukaan dinding itu, tampak kolam oval dengan lebar 2 meter dan panjang 3 meter ditengah ruangan itu, terisi air yang jernih walaupun tidak terlalu penuh. Ada enam kuntum mawar merah mengambang ditengah kolam itu. Ada semacam parit kecil disalah satu sisi kolam itu. Agaknya kolam itu tertimbun sekelilingnya oleh batu koral hitam.
Terdengar bunyi air mengalir dan melalu parit kecil itu tampak mengalir air yang menimbulkan uap tipis dipermukaan kolam, agaknya itu air panas, Sancaka memperhatikan dengan kagum.

Ia pun mendekati tepi kolam, perkiraannya kedalaman kolam itu hampir setengah meter, dicelupkannya tangannya, terasa bahwa air kolam itu cukup hangatnya, agaknya jumlah komposisi air panas dan air dingin di kolam itu telah diperhitungkan dengan tepat. Bagian dalam dan bagian atas kolam itu dilapisi oleh marmer yang telah dibentuk sedemikian rupa, semuanya terasa halus tidak ada bagian yang bersudut/menonjol tajam.

Dia ingin cepat-cepat mandi takut airnya keburu dingin lagi, toleh sana – toleh sini, Sancaka tidak menemukan tempat untuk menggantungkan kimononya, karena sayang dengan kimono yang terbuat dari sutera itu, setelah ditanggalkannya kimono itupun langsung dilipatnya baik-baik, dan kemudian di letakkannya agak jauh dari kolam biar tidak basah.

Diapun segera masuk ke kolam itu dengan perlahan, hangatnya air kolam menimbulkan rasa nyaman. Sancaka menyandarkan tubuhnya, matanya terpejam, sungguh nyaman menjadi orang yang kaya raya seperti ini pikirnya.

Terdengar bunyi batu bergesekan karena langkah kaki yang mendekati kolam itu, Sancaka membuka matanya, ditepi kolam tampak Yuni yang mengenakan kimono seperti dia tadi, hanya saja warnanya putih bersih. Gadis itu berdiri sambil tangan kanannya menutup mulutnya membungkam suara tawanya, tangan kirinya menunjuk ke arah kimono Sancaka yang terlipat rapi.
Sancaka ikut menoleh memperhatikan kimononya yang terlipat rapi, lama diamatinya tapi tidak ada yang aneh dengan kimono itu. Ia pun menoleh kembali kearah gadis itu hendak bertanya, tapi suaranya tertahan.

Yuni kini berdiri bertolak pinggang dan tersenyum manis sekali, “Tuan muda yang ganteng … urusan kimono ataupun pakaian kotor di villa ini sudah ada yang mengurusinya”, kata gadis itu, “Oleh karena itu … setiap kali mandi dan seterusnya nanti … begitu kolam air hangatnya siap … tuan tinggal menanggalkan kimono ini” lanjutnya sambil tangannya menarik lepas ikatan kimono putihnya, membuka bagian depan kimononya kesamping dan kimono itu lansung jatuh lepas ke bawah.

Nafas Sancaka terhenti seketika, dibalik kimono putih itu Yuni tidak mengenakan selembar benangpun.
Tubuhnya yang putih mulus terpampang jelas dimata Sancaka. Semua bagian tubuh gadis itu sangat sempurna.

Sancaka masih terbeliak dengan mulut menganga, Yuni sudah melangkah masuk kedalam kolam itu dan terus melangkah kearah Sancaka yang duduk tersandar tegang, gadis itu berhenti persis didepan pemuda itu.

Vagina gadis itu sekarang benar-benar terpampang jelas didepan muka Sancaka, hanya dilindungi sejumput bulu-bulu halus dibagian atasnya, beberapa kali pemuda itu hanya dapat meneguk air liurnya sendiri.

Yuni mengamati dengan puas betapa kikuknya pemuda dibawahnya, bibirnya tetap tersenyum manis, diturunkannya tubuhnya perlahan-lahan, kembali Sancaka diberi pemandangan baru, pemandangan dua buah dada gadis itu yang turun secara perlahan, buah dada putih mulus yang berdiri tegak menantang dengan indahnya, puting susunya terlihat masih kecil menggemaskan membuat Sancaka sekuatnya menahan diri untuk tidak segera menyambarnya.

Yuni telah duduk dipangkuan Sancaka sambil tersenyum manis, tanganya segera dikalungkan keleher pemuda itu, kedua mata mereka saling bertatapan, Yuni mendekatkan mukanya dan menempelkan bibirnya ketelinga pemuda itu, “Yuni akan berusaha menyenangkan tuan”, bisiknya lirih.

Dua buah dadanya menempel ketat ke dada Sancaka, lidahnya langsung menyapu telinga pemuda itu, ciumannya langsung merambat ke leher dan terus turun ke dada Sancaka, lidahnya lincah menari diatas puting susu pemuda itu, Tubuh Sancaka bagai tersengat listrik, belum pernah dia merasakan sensasi seperti ini.

Setelah puas bermain disana, ciuman Yuni pun segera merambat kembali keatas, dipagutnya bibir pemuda itu dengan buas. Kali ini Sancaka segera membalas dengan tak kalah ganas.
Yuni mengulurkan tangannya kebawah, digenggamnya batang penis pemuda itu, terasa betapa batang penis itu telah berdiri tegang, ukuran batang penis itu tidak mengecewakannya, tampaknya dia akan dapat meraih kepuasan penuh malam ini, terlebih lagi dia telah mencampurkan ramuan khusus kedalam hidangan yang dimakan pemuda itu tadi. Ramuan yang akan membuat pemuda itu bertahan cukup lama untuk memuaskan dahaganya.

Tangan Yuni mulai bergerak memberikan kocokan-kocokan lembut ke penis Sancaka, membuat pemuda itu semakin ganas membalas pagutan gadis itu.

Diarahkannya kepala penis itu ke bibir vaginanya, kemudian Yuni segera memajukan pantatnya, kepala penis itupun mulai menyeruak masuk kedalam lubang kenikmatan gadis itu. Keduanya sama-sama melenguh sambil terus berpagutan.
Gerakan masuk penis itu selalu diiringi gelembung-gelembung udara kecil yang keluar dari celah bibir vagina gadis itu, udara yang terdesak keluar dari dalam liang vagina Yuni yang dipenuhi batang penis Sancaka.

Batang penis itu telah masuk seluruhnya, Yuni pun segera menggoyang pantatnya, maju mundur dengan gerakan teratur, semakin lama semakin cepat tanpa sedikitpun melepaskan pagutannya dibibir pemuda itu. Hanya suara “mmh” saja yang terdengar bersahutan dari keduanya.

Sancaka mulai merasa kehabisan nafas, akan tetapi ada sensasi lain yang dirasakannya yang membuat ia enggan melepas pagutan gadis itu. Entah kenapa semuanya terasa lebih nikmat, lebih nikmat daripada saat ia dan Ratih mereguk kenikmatan dulu.

Gerakan Yuni semakin cepat dan tak beraturan, Sancaka merasakan betapa cengkeraman liang vagina gadis itu semakin ketat dan terus berdenyut-denyut tak beraturan. Tiba-tiba gadis itu menggeram hebat sambil menghempaskan pantatnya dengan kuat, penisnya tertanam kuat sampai kepangkalnya.
Tubuh gadis itu agak melenting ke belakang.

Sancaka segera menangkap dan memeluk gadis itu, mulutnya langsung melumat habis kedua puting susu gadis itu, masih terasa sentakan-sentakan tubuh gadis itu menghabiskan sisa-sia puncak kenikmatannya.

“Tuan benar-benar dahsyat”, bisik gadis itu, “Tuan berhasil melemparkan saya ke puncak kenikmatan hanya dalam satu kali serangan”, lanjutnya sambil membelai rambut pemuda itu yang masih asyik menetek didadanya.

Tangan Yuni meraih sebuah bandul ditengah kolam itu, bandul yang mirip dengan bandul yang ada disisi tempat tidur Sancaka, bandul yang tadi luput dari perhatian Sancaka.

Air permukaan kolam turun dengan cepatnya, keluar melalui lubang-lubang kecil diseputar dasar kolam itu, sebentar saja air kolam itupun habis terkuras. Hal itu tak luput dari perhatian Sancaka, dia akan membalas gadis itu pikirnya, akan dibaringkannya gadis itu didasar kolam dan giliran dirinya sekarang untuk memburu kenikmatannya.

“Lakukanlah tuan … Marilah kita reguk kepuasan itu bersama”, bisik gadis itu, Sancaka tidak mau berlama-lama memikirkan mengapa gadis itu selalu dapat membaca pikirannya.

Tanpa melepaskan penisnya dari vagina gadis itu, dibaringkan dan ditindihnya tubuh putih mulus itu, kembali mulutnya menetek dengan buasnya dikedua putting susu Yuni, sambil terus menggerakkan pantatnya memompakan penisnya keluar-masuk liang vagina gadis itu.

“Terus tuan … terus”, ceracau gadis itu sambil kedua tangannya meremas-remas dan menarik-narik pantat Sancaka seakan membantu tenaga dorongan penis pemuda itu.

Ceracauan yang membuat Sancaka semakin terbakar nafsu, digerakkannya pantatnya dengan kuat dan cepat, menimbulkan bunyi plak-plok disetiap hempasannya. Sancaka mulai mendesis, ia merasakan kenikmatan yang lebih daripada ketika Yuni berada diatas tadi, ia tidak tahu bahwa hal itu diakibatkan oleh pengaruh ramuan yang tadi makannya telah mulai hilang.

Terlebih Yuni mulai mengimbangi gerakan pemuda itu dan ikut mengayun-ayunkan pantatnya keatas menyambut hempasan Sancaka, Sancaka makin cepat mendekati puncaknya, denyutan dipangkal batang penisnya mulai terasa semakin kuat. Vagina gadis itupun mulai ikut mencengkeram meremas-remas dengan denyut tak beraturan.

Yuni segera mengangkat muka pemuda itu, menariknya dan melumat bibir pemuda itu dengan buas, kini Sancaka yang menggeram hebat, dia menghunjam-hunjamkan penisnya dengan sekuat-kuatnya, dan akhirnya dengan mata terpejam rapat dia menghempaskan pantatnya sekuat tenaga, dihisapnya habis-habisan bibir gadis itu, penisnya bernyut disertai semburan-semburan kedasar liang vagina gadis itu.
Yuni pun kembali menggapai puncaknya disaat yang sama, kedua tangan gadis itu dengan kuat meremas pantat Sancaka. Denyutan lubang vaginanya yang mencengkeram dengan kuat seakan membantu menyedot dan memerah habis cairan dari batang penis pemuda itu.

Keduanya sama-sama terengah-engah dengan nafas memburu dan terkulai lemas saling bertindihan.

Hampir saja Sancaka jatuh tertidur diatas tubuh gadis itu, kalau saja Yuni tidak menepuk-nepuk pantatnya dengan lembut, “Tuan apakah pantas tidur disini … Yuni bukan kasur lho” kata gadis itu geli.

Sancaka mengulingkan dirinya kesamping, ditolehnya gadis itu, akan tetapi Yuni segera meletakkan jari telunjuknya kebibir pemuda itu, “Nanti” bisiknya tersenyum.

Kembali Sancaka heran bagaimana gadis itu selalu tahu pikirannya, ia tadi ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepada gadis itu.

Yuni segera bangkit berdiri, berjalan kearah pintu dan mengambil salah satu dai dua kimono baru yang terlipat rapi didepan pintu, agaknya tadi dia datang dengan membawa dua kimono itu.

Sancaka pun ikut bangkit berdiri, Yuni mendekat kearah pemuda itu dan memakaikan kimono itu, ternyata kimono itu terbuat dari bahan handuk yang cukup tebal sehingga dapat menyerap keringat yang membasahi tubuhnya.

Setelah mengenakan kimono satunya, Yuni segera membuka pintu dan membungkuk hormat kepada Sancaka sambil berkata, “Silahkan kembali ke kamar tuan … semoga pelayanan saya memuaskan tuan”.

“Terima kasih”, balas Sancaka dan iapun berlalu melewati gadis itu.

“Tuan Frantzheof de Van Pierre mengundang anda untuk makan malam di Villanya … jam tujuh malam nanti … Pakaian yang akan tuan pakai telah saya letakkan diatas tempat tidur tuan dikamar”, kata gadis itu masih tetap membungkuk.

“Ya … Terima kasih”, balas Sancaka lagi dan meneruskan langkahnya menuju kamarnya. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan.

Yang tidak diketahui Sancaka adalah ada beberapa pasang mata yang sejak awal telah mengawasi segala perbuatan mereka berdua tadi, beberapa pasang mata yang mengintip dari lobang-lobang kecil yang terdapat diantara gambar-gambar mata di dinding ruang mandi itu.

****

Sancaka duduk dengan tenang dimeja makan itu, sebuah meja oval memanjang, dia hadir lebih cepat dari undangan Tuan Frantzheof de Van Pierre, dia tampak gagah mengenakan pakaian ala eropa yang disediakan untuknya, untung semasa dijawa dulu dia pernah belajar dari temannya yang memang keturunan belanda mengenai tata berpakaian ala eropa itu sewaktu akan mengikuti acara pesta yang diadakan temannya itu.
Ukuran pakaian sampai ke ukuran sepatunya begitu pas seakan memang dibuat untuk dirinya.

Tak lama kemudian seorang londo yang gagah dan tampan masuk juga keruang makan itu, agaknya itulah Tuan Frantzheof de Van Pierre, pemilik perkebunan tempat ia akan bekerja pikir Sancaka, tangan Tuan Frantzheof de Van Pierre menggandeng seorang gadis yang mengenakan gaun putih, sewarna dengan kulitnya yang putih mulus.

Sancaka berdiri dari kursinya, Tuan Frantzheof de Van Pierre langsung tersenyum sumringah, dia semakin menyukai pemuda yang tahu tata krama itu.

“Selamat datang Sanca … duduklah … jangan malu-malu”, katanya mempersilahkan dengan tangannya, “Perkenalkan ini Tantri … pendampingku malam ini yang cantik jelita”, lanjutnya lagi sambil tertawa-tawa.

Sancaka pun terbawa keakraban yang ditunjukkan oleh tuan londo itu, diapun dapat menjawab beberapa pertanyaan perkenalan dari si londo dengan rileks, hanya pertanyaan-pertanyaan ringan seputaran siapa Sancaka.

“Ah .. sebaiknya kita segera makan malam”, akhirnya Tuan Frantzheof de Van Pierre mengakhiri pertanyaan-pertanyaannya kepada Sancaka, tangannya mengambil dan menggoyang-goyangkan lonceng kecil yang terletak diatas meja didepannya.

Tak lama kemudian masuk lima orang gadis dengan gaun yang berbeda-beda warna, masing-masing mendorong meja sorong yang berisi macam-macam hidangan. Semuanya cantik jelita, Sancaka menahan nafasnya sejenak, ia melihat Yuni diantara gadis itu, gadis itu melirik ke arah Sancaka dan tersenyum manis.
Kelima gadis itu pun dengan sigap langsung menata hidangan di meja.

“Sanca … tentu telah mengenal Yuyun Yuniarti … bunga dari Paris Van Java yang butuh perjuangan keras untuk dapat memboyongnya kemari … bagaimana pelayanannya? Aku yakin gadisku yang satu ini tidak mengecewakan”, kata tuan londo itu tertawa.

Sancaka hanya tersenyum kecut, apalagi ketika dilihatnya semua gadis itu tersenyum-senyum geli, hanya Tantri seorang yang tidak tersenyum malah memandang tajam kearahnya.
Sancaka balas memandang, ia tercenung sejenak, ia merasa pernah melihat gadis itu, entah kapan entah dimana, akan tetapi ia cepat-cepat mengalihkan pandangannya, ia tidak ingin dianggap tidak sopan karena memandang dan mengamat-amati nyonya rumah.

Setelah selesai, kelima gadis itu mengundurkan diri, dengan didahului oleh Tuan Frantzheof de Van Pierre merekapun selanjutnya makan-minum dengan diselingi obrolan-obrolan ringan, sesekali mata Sancaka bertemu dengan lirikan tajam Tantri, tapi pemuda itu berusaha untuk tetap bersikap biasa.

Selesai makan, dan setelah kelima gadis tadi selesai membereskan meja makan, Tantri segera bangkit dan melangkah kearah meja kecil disudut ruang makan itu, diatas meja itu terdapat berbagi botol berisi cairan dengan warna menyolok, diantaranya merah, kuning agak kecoklatan, putih bening.

Diambilnya dua gelas yang bertiang dan bentuknya seperti kerucut terbalik, dengan tangan kanan, tangan kirinya meraih botol tinggi yang berisi cairan berwarna merah, gelas dan botol itu terbuat dari kristal mewah dan cairan merah itu pasti sejenis anggur merah pikir pemuda itu.

Tantri melangkah kembali ke meja makan mendekati Tuan Frantzheof de Van Pierre, diletakkannya salah satu gelas itu didepan si londo, dituangkannya cairan merah itu sampai setengah gelas.
Kemudian ia melangkah karah Sancaka, kembali diletakkannya gelas kedua didepan pemuda itu, dituangkannya cairan merah itu sampai setengah gelas.
Sambil menuang matanya tak berkedip menatap Sancaka, Sancaka dapat meraskan hal itu, akan tetapi dia menundukkan mukanya pura-pura memperhatikan gelas itu.

“Silahkan dicicipi Sanca … ini anggur merah pilihan dari Perancis … usianya mungkin seumur denganmu” kata Tuan Frantzheof de Van Pierre sambil mengangkat gelasnya dengan bangga.

Kembali mereka terlibat obrolan ringan sambil menikmati anggur merah itu.

“Ah cukup rasanya … sudah saatnya kau istirahat Sanca … besok kita melihat-lihat perkebunan yang akan kau kelola”, kata Tuan Frantzheof de Van Pierre sambil berdiri, “Silahkan beristirahat anak muda”, lanjutnya, dia melihat bahwa muka Sancaka sudah mulai merah, dia tidak ingin membuat mabuk pemuda itu.
Tantri pun ikut berdiri dan menggandeng ke tuan londo itu. Ia menganggukan sedikit kepalanya dengan mata yang masih juga memandang tajam kearah Sancaka.

Sancaka pun bangkit berdiri, “Baiklan tuan …. kalau begitu saya permisi dulu”, kata pemuda itu membungkuk hormat, selanjutnya iapun melangkah keluar dari ruang makan itu, kembali ke villa yang kini ditinggalinya.

****

Sancaka berdiri tercenung didepan pintu kamarnya, ada keresahan yang terpancar diwajahnya, sepanjang perjalan pulang banyak sekali pertanyaan yang berkembang dikepalanya.
Mengapa Yuni selalu dapat membaca pikirannya?
Mengapa ia merasa dirinya mengenal Tantri?
Mengapa Tantri selalu memandang tajam kearahnya?
Dan banyak lagi pertanyaan mengapa lainnya.

Ah masa bodoh pikirnya … pengaruh alkohol dalam anggur yang diminumnya tadi mulai terasa.

Didorongnya pintu kamarnya, dan dia langsung tercekat.

Diatas tempat tidurnya Yuni sudah tergolek telanjang dan tampaknya sudah tertidur pulas.
Didekatinya gadis itu. Diamatinya seluruh tubuh telanjang gadis itu. Yuni membuka matanya, diulurkannya tangannya membelai pipi pemuda itu, “Kenapa lama pulangnya … Yuni sudah capek dari tadi menunggu kepulangan tuan”, katanya sambil tersenyum manis.

Sancaka pun segera menjatuhkan dirinya kedalam pelukan gadis itu, pertempuran nafsu babak kedua malam itu segera dimulai. Sampai akhirnya keduanya tertidur berpelukan dalam keadaan telanjang.