Vampire, The UnTold Story(Episode 3) :


SEORANG PEMUDA DAN GERBANG PENANTIANNYA
.

Baru pada paginya, sambil Yuni menyusun hidangan sarapan pagi, Sancaka dapat puas-puas bertanya.
Barulah ia mengetahui kalau ada 3 buah villa di perkebunan ini, Villa Mendung yang ditempati oleh Sancaka, Villa Bulan yang ditempati oleh Tuan Frantzheof de Van Pierre, dan cukup jauh keatas gunung terdapat satu Villa lagi yang disebut Villa Darah yang merupakan tempat khusus bagi Tuan Frantzheof de Van Pierre setiap Bulan Purnama penuh.

Untuk melayani pertanyaan Sancaka gadis itu tidak meninggalkan ruangan itu, ia hanya berdiri disisi tempat tidur Sancaka, melayani setiap pertanyaan pemuda yang sedang sarapan pagi itu.
Yuni mengingatkan bahwa Villa Darah merupakan tempat terlarang bagi siapapun, termasuk Sancaka, hanya orang-orang tertentu yang mendapat undangan khusus yang boleh kesana.

Sancaka sempat tersedak mengetahui bahwa Yuni adalah selir ke-enam dari Tuan Frantzheof de Van Pierre, Tantri adalah selir pertama, kelima gadis yang melayani jamuan makan kemarin semuanya adalah selir-selir Tuan Frantzheof de Van Pierre.
Yuni ditugaskan melayani Sancaka sampai dengan Sarapan pagi ini, selanjutnya yang akan melayani pemuda itu adalah selir ke-lima, yang akan bertugas melayani Sancaka sampai dengan sarapan pagi besok, demikian seterusnya, mereka ditugaskan untuk melayani “semua” keperluan Sancaka, demikian perintah Tuan Frantzheof de Van Pierre kepada kelima selirnya, kecuali Tantri tentunya.
Disetiap Villa terdapat 5 orang pelayan dengan tugas masing-masing, mereka tinggal di rumah kecil di bagian belakang setiap Villa.

Tak lama kemudian Pak Udin melangkah masuk, “Tuan Frantzheof de Van Pierre berpesan kehadiran tuan muda ditunggu di Villa Bulan jam 9 nanti”, katanya sambil membungku hormat, “Saya akan memeriksa kuda yang akan tuan muda tunggangi nanti”, lanjutnya menundurkan diri.

Sancaka kaget, ia belum pernah menunggang kuda! Akan tetapi Yuni dapat menenangkan pemuda itu dan mengatakan bahwa kalau memang belum bisa nanti kuda Sancaka akan berjalan dituntun oleh mandor perkebunan, akan tetapi Sancaka harus cepat-cepat belajar menunggang kuda karena tanpa kuda akan menyulitkan Sancaka sendiri ketika memeriksa perkebunan yang luas itu nantinya.
Gadis itu akan meminta selir ke-tiga untuk mengajari Sancaka, diseluruh perkebunan selir yang memiliki darah campuran belanda itu yang paling pandai menunggang kuda.

Ketika Sancaka bertanya kenapa tidak ada sepotongpun cermin di villa itu, Yuni hanya mengatakan kalau Tuan Frantzheof de Van Pierre membenci benda itu, “Lagipula kalau hanya untuk mematut diri … tidak perlu cermin khan? tuan tinggal panggil dan kami siap membantu tuan berdandan”, jelasnya.

Mendengar Sancaka menanyakan mengapa Yuni seakan selalu dapat membaca pikirannya, gadis itu tertawa geli, namun gadis itu tidak mau menjawab pertanyaan pemuda itu, “Hanya kebetulan kok itu”, elaknya.

“Sudah ya sarapannya … saya bereskan ya”, katanya melihat pemuda itu sudah menjangkau rokoknya.

Selesai membereskan semuanya, Yuni membungkuk mencium pipi Sancaka, “Sampai bertemu lima hari lagi”, bisiknya. Kemudian gadis itu mengundurkan.

Sancaka menghabiskan rokoknya kemudian bersiap untuk pergi menemui Tuan Frantzheof de Van Pierre di Villa Bulan, dia jelas tak akan membuat majikannya itu menunggu.
Karena memang tak dapat menunggang kuda akhirnya Sancaka benar-benar seperti anak kecil yang duduk diatas kuda yang dituntun Pak Udin, Tuan Frantzheof de Van Pierre yang melihatnya datang seperti itu tertawa terbahak-bahak, “Nanti kuminta Wulan mengajarimu menunggang kuda”, katanya disela-sela tawa.
Agaknya itulah selir ke-tiga yang dimaksudkan Yuni tadi pikir pemuda itu.

****

Sekitar jam dua siang Sancaka telah kembali lagi ke villa, disulutnya sebatang rokok dan diapun duduk mengaso sebentar diberanda depan.

Tadi Tuan Frantzheof de Van Pierre hanya menunjukkan batas-batas perkebunan the dan perkebunan kopi miliknya.
Ditengah perkebunan itu terdapat sebuah bangunan semacam pendopo yang cukup besar, disanalah mereka beristirahat siang itu setelah berkeliling, hidangan makan siang pun telah disiapkan, para mandor lapangan telah pula berkumpul ditempat itu, Sancaka telah diperkenalkan sebagai pengelola perkebunan yang baru, semua mandor lapangan diminta mematuhi semua perintah pemuda itu.

Setelah habis dua batang rokok, Sancaka bangkit berdiri dan melangkah masuk menuju kamarnya. Enaknya ngopi dulu terus tidur siang pikir pemuda itu.
Diraihnya bandulan itu.
Belum sempat ditariknya, pintu kamarnya terbuka, seorang gadis hitam manis melangkah masuk, tanganya membawa nampan berisi gelas keramik bertutup, “Kopinya tuan”, sebagaimana Yuni gadis inipun tampak selalu tersenyum manis.

“Silahkan dinikmati”, katanya meletakkan gelas itu keatas meja. Setelah membungkuk hormat gadis itu pun segera melangkah keluar dan menutupkan pintu.

Sancaka yang sejak tadi mengamati seluruh gerak-gerik gadis itu hanya mengangguk.

****

Sancaka duduk dan menikmati kopinya sambil merokok, pikirannya menerawang, gadis tadi walaupun tidak putih seperti Yuni tapi badannya lebih menantang, apakah benar seperti yang dikatakan Yuni tadi bahwa kelima selir Tuan Frantzheof de Van Pierre diperintahkan untuk melayani “semua” keperluannya.
Baru sampai disitu saja pikiran kotor yang mulai muncul sudah cukup membuat penis pemuda itu pelan-pelan mulai bereaksi.

Pintu kamarnya kembali terbuka, tampak gadis itu masuk hanya dengan mengenakan kimono putih seperti yang dikenakan Yuni kemarin, dia hanya melirik kearah Sancaka dan tersenyum geli, melihat Sancaka yang tampak bengong.

Gadis itu terus melangkah terus kearah tempat tidur Sancaka, menurunkan semua kelambu, “Kopinya udah habis khan … bobok siang yuk” kata gadis itu menoleh kerah Sancaka, ditanggalkannya kimono itu, lalu masuk kedalam kelambu dan naik keatas tempat tidur.

Tanpa pikir panjang Sancaka segera bangkit dan menyusul gadis itu kedalam kelambu. Tempat tidur itu segera menjadi arena peratrungan keduanya.

Demikian kehidupan Sancaka yang tentunya harus bekerja keras di perkebunan itu, dia bekerja penuh semangat pagi sampai sore mengelola perkebunan Tuan Frantzheof de Van Pierre, sore sampai pagi mengelola “kebun” para selir londo itu dengan penuh keringat.

****

Hari itu Sancaka menerima sepucuk telegram, orang tuanya memintanya pulang sebentar ada urusan penting yang harus dibicarakan. Sancaka berangkat segera setelah mendapat ijin selama dua minggu penuh dari Tuan Frantzheof de Van Pierre.

Dari penjelasan orang tuanya dia mengetahui bahwa kedua orang tua Gayatri ingin diadakan semacam pertunangan antara Sancaka dan Gayatri, hal ini dikarenakan walaupun sebentar lagi gadis itu akan menyelesaikan pendidikannya Gayatri meminta pernikahan ditunda, gadis itu ingin menerapkan keilmuannya dan mengabdikan diri untuk melayani masyarakat barang setahun atau dua tahun.
Dan Gayatri menyetujui rencana kedua orang-tuanya, dia akan segera sampai kembali ke Palembang dua tiga hari lagi, akan tetapi mungin segera kembali ke Jawa setelah acara pertunangan selesai.

Rumah Sancaka dan Rumah Gayatri terlihat mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Tiga hari itu merupakan tiga hari yang menyesakkan bagi Sancaka, setiap kali berpapasan dengan Ratih dia selalu dapat melihat betapa gadis itu memandangnya dengan sendu penuh kerinduan, walaupun berusaha terlihat riang tapi Sancaka tahu bahwa gadis itu terluka tetapi suasana rumah yang sibuk itu tidak memberikan tempat dan waktu bagi keduanya.

****

Acara pertunangan Sancaka dan Gayatri berjalan dengan baik, keesokan harinya Sancaka mendengar kalau tunangannya itu kurang enak badan, Sancaka segera menjenguknya, karena mereka berdua telah bertunangan maka kedua orang tua Gayatri mengijinkan Sancaka masuk kedalam kamar gadis itu. Dilihatnya gadisnya duduk bersandar di kepala tempat tidurnya, mukanya agak pucat. Sancaka mengambil kuris rias gadis itu dan duduk disamping

Ibunya Gayatri masuk kedalam kamar, dia hanya tersenyum melihat mereka berdua, “Kopinya nak Sanca”, diletakkannya kopi itu di meja rias gadis itu, “Ibu mau ke pasar dulu” lanjut orang tua itu sambil keluar.

“Terima kasih bu … maaf ngerepoti”, jawab Sancaka sopan.

“Hu … sok sopan gitu” kata gadis itu berusaha mencubit Sancaka, “Sini duduk sini” kata gadis itu sambil bergeser agak ketengah tempat tidur.
Sancaka segera berpindah, Gayatri langsung menyenderkan kepalanya ke bahu pemuda itu. Sancaka meraih tangan gadis itu kedalam genggamannya. Merekapun terlibat obrolan ngalor-ngidul.

Satu hal yang tidak diketahui Gayatri, Sancaka yang ada dihadapannya bukanlah Sancaka seperti yang dikenalnya dulu.
Terbukti tak lama kemudian pemuda itu sudah mulai melancarkan serangannya.

Diangkatnya dagu gadis itu, dikecupnya gadis itu, Gayatri yang juga merindukan pemuda itu langsung membalas, ciuman Sancaka bertambah ganas, sebenarnya hal ini cukup memngejutkan gadis itu, selama ini pemuda itu selalu menciumnya dengan lembut, tapi ditepiskannya pikiran itu, mungkin hanya karena terlalu rindu pikirnya.

Tangan Sancaka mulai turun kearah dada Gayatri, tangan pemuda mulai meremas buah dada sebelah kirinya dengan lembut, tangan kanan pemuda itu mulai bergerilya, membuka semua kancing bagian depan dan melepas kaitan BH gadis itu.

Sancaka pun merunduk, mulutnya hinggap dan langsung menghisap-hisap putting susu gadis itu, Gayatri mendesis perlahan, “Kacian … bayi besar udah haus yah?” tanyanya tersenyum, dibelai-belainya pemuda itu.

Belaian Gayatri terhenti seketika, mukanya pucat pasi dengan mata mendelik ketika tangan Sancaka mengelus paha, menyingkapkan roknya dan langsung mengarah ke selangkangannya.
Dirapatkannya kedua pahanya, cukuplah itu sebagai teguran buat kelancangan tangan pemuda itu pikirnya.
Tetapi reaksi yang didapatnya sangat mengejutkan. Sancaka tetap bersikukuh dan meneruskan gerakan tangannya yang tadi sempat terhenti, didorongkannya tanganya dengan paksa, sekuat-kuatnya jepitan paha Gayatri tidak mungkin dapat menahan gerakan maju tangan pemuda itu.
Tangan Sancaka berhasil masuk dan membekap lembah kenikmatan gadis itu, untung masih terlindungi oleh celana dalamnya. Kening Gayatri berkerut tak senang, tetapi dia masih diam tak bersuara, biarlah kalau cuma pegang-pegang pikirnya toh kami sudah bertunangan, tidak apa-apa pikirnya, sebagai seorang calon dokter dia tentu paham batas-batasnya.
Diapun tidak setegang tadi, jepitan pahanya hanya untuk menahan memberikan batasan terhadap gerakan tangan pemuda itu.

Jari tangan Sancaka mulai beraksi, bermain lincah dibelahan vagina gadis itu, celana Gayatri sudah mulai basah, gadis itu sendiri hanya dapat mendelik dan mendesah lirih, dia tetaplah wanita normal yang juga bisa terangsang, sejenak dia mengendurkan pertahanannya, dinikmatinya perlakuan Sancaka.
Reaksi Gayatri memang wajar, karena selama mereka pacaran Sancaka belum pernah melangkah sejauh ini, peluk-cium-netek itu memang sudah biasa, karena memang itulah batasan maksimal yang diberikan Gayatri dan Sancaka dulupun menyetujuinya.

Gayatri agaknya sudah terlena kini, kedua tangan Sancaka bergerak menarik celana dalam gadis itu ke bawah, kepala Sancaka segera bergerak kebawah mengarah ke selangkangan gadis itu, lidahnya bergerak membelah vagina gadis itu dengan jilatan kuat, seketika itu Gayatri tersentak bangun, ia cepat beringsut mundur sambil kedua tangannya mendorong kepala pemuda itu kuat-kuat, ditariknya celananya keatas dengan terisak, tangannya pun segera melayang menampar muka Sancaka yang sedikit terlongon tak menyangka akan reaksi gadis itu.

“Keluar!”, teriak gadis itu histeris, “Mas Sanca jahat!”, teriaknya lagi, membuat Sancaka meloncat turun dari tempat tidur gadis itu, Gayatri segera menyembunyikan diri dalam selimut.

Sancaka hanya berdiri terpaku, setelah beberapa kali gadis itu meneriakkan kata-kata “keluar”, Sancakapun mambalikkan badan dan melangkah keluar dari kamar gadis itu. Tangannya masih mengelus-elus bekas tamparan tadi.
Pikirannya kalut, campur baur antara perasaan menyesal telah menyinggung gadis itu dan perasaan kesal atas penolakan tunangannya, apa beda sekarang atau nanti pikirnya.
Dia sudah sampai didepan gerbang Gayatri tadi, kenapa masih disuruh menunggu.

Untung rumah Gayatri sedang sepi sehingga teriakan-teriakan gadis itu tadi tidak sampai menimbulkan heboh.

****

Sesampai dirumah ia segera melangkah kebelakang ke arah kamar mandi, ia ingin mendinginkan kepalanya dengan mandi.
Didepan kamar mandi ia tertegun sejenak, didengarnya Ratih sedang bersenandung kecil, dan benarlah tak lama pintu kamar mandi terbuka, Ratih berdiri disana, matanya lekat memandang Sancaka.

Sancaka melangkah mendekat, segera dikecupnya bibir gadis itu dengan mesra, Ratih segera membalas, “Ratih kangen banget sama mas Sanca”, bisiknya diantara panasnya ciuman pemuda itu.

Sancaka hanya tersenyum, tanganya segera menarik tangan gadis itu, ditariknya menuju kamar gadis itu, matanya jalang mengawasi keadaan rumah, jangan samapi ada yang memergoki mereka.
Segera ditutup dan dikuncinya pintu kamar gadis itu, ditariknya gadis itu kedalam pelukannya, ditariknya lepas handuk yang melilit ditubuh Ratih, dibalikkannya tubuh gadis itu membelakanginya, ditekannya punggung gadis itu sehingga kini berdiri menungging dengan tangan bertelekan tepi pembaringan.

Sancaka segera membuka seluruh pakaian yang melekat ditubuhnya, sementara Ratih hanya diam menunggu dengan pasrah.

Dimbimbingnya penisnya menuju kearah belahan vagina gadis itu, ditekannya dengan mantap, kini penisnya perlahan dapat masuk dengan gagahnya tidak sesulit dulu ketika ia memetik keperawanan gadis itu, Ratih hanya dapat merintih dan meremas-remas selimutnya.

Setelah seluruh batang penisnya tenggelam kedalam liang vagina gadis itu, Sancaka segera bergerak memaju-mundurkan pinggulnya, tangannya meremas-remas bongkahan pantat gadis itu.
Liang vagina ketat itu membuat Sancaka mengeram lirih, apalagi setiap sodokan Sancaka membuat gadis itu tersentak mengejang, memberikan jepitan-jepitan yang merupakan sensasi tambahan yang sangat dinikmati oleh Sancaka.

Sancaka yang sudah mendapat banyak pelajaran tambahan dari selir-selir Tuan Frantzheof de Van Pierre, sudah sedikit mampu mengontrol dirinya, dia mampu melakukan sodokan-sodokan mantap dengan kecepatan yang hampir sama, Ratih yang belum banyak pengalaman itu semakin sering tersentak mengejang, gadis itu menggigit selimutnya menahan suara-sura rintihnnya yang makin tak terkendali.

Akhirnya tubuh Ratih bergetar hebat, tangannya menjambak rambutnya sendiri, dibenamkannya mukanya ke kasur jeritannya pun teredam, Sancaka menekankan batang penisnya sedalam mungkin, ia menikmati lagi denyutan-denyutan hangat liang vagina gadis itu. Dibiarkanya sejenak gadis itu menikmati puncak orgasmenya.

Sancaka membalikkan tubuh Ratih, gadis itu kini terlentang lemah dengan nafasnya memburu, segera diterkamnya dengan penuh nafsu, batang penisnya tak perlu dituntun lagi, dengan mudah ia menemukan lubang persembunyiannya, kini dipegang dan diangkatnya kedua paha gadis itu, kedua paha Ratih kini terpentang. Membuat vagina gadis itu kini seakan menengadah keatas siap menerima semua serangan penis pemuda itu.

Didekapnya gadis itu, dengan buas dilumatnya bibir gadis itu sebentar. Sancaka tetaplah Sancaka, kesukaannya adalah netek, kinipun ia dengan buas menetek di dada Ratih, pantatnya mulai bergerak naik-turun, liang vagina ratih yang telah basah itu membuat Sancaka dapat memberikan hunjaman-hunjaman sesuai kemauannya.

Ratih yang lugu itu mengelepar dibawah tindihan dan hantaman penis Sancaka, “Ratih nggak kuat mas … Ratih nggak kuat”, rintihnya berulang kali.

Sancaka memompakan penisnya ke liang vagina gadis itu dengan buas, gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat, ia tak mampu bertahan lagi, nafasnya serasa mau putus, Ratih menjerit kuat tapi hanya terdengar suara “mmmh”, gadis itu telah menutup mulutnya dengan kuat sambil mengejang hebat, kakinya tersentak menendang, Sancaka menggeram, kali ini tidak membiarkan gadis itu sampai dipuncak sendirian, dengan sentakan kuat iapun menghunjamkan penisnya sedalam mungkin, penisnya menyembur dengan kuat.

Setelah cukup beristirahat Sancaka segera bangkit dan mengenakan kembali pakaiannya, dikecupnya kening gadis itu, “Nanti malam kamarnya jangan dikunci … mas Sanca mau menyusup kemari”, bisiknya.
Setelah membuka pintu dan mengintai situasi diluar kamar, Sancaka segera menyelinap menuju kamarnya sendiri.

Ratih dengan lemah menarik selimut menutupi tubuh telanjangnya, iapun segera tertidur dengan bibir tersenyum bahagia.

****

Gayatri dapat merasakan perubahan sikap Sancaka terhadap dirinya, walaupun pemuda itu nampak berusaha menutupi hal itu.
Sebenarnya setelah habis tangisnya dan mengetahui bahwa Sancaka langsung pulang siang itu, gadis itu timbul rasa sesal dihatinya, dia sudah mengecewakan hati tunangannya, diapun saat itu sudah membulatkan tekadnya akan memberikan apa yang diinginkan pemuda itu, hanya sayangnya sejak kejadian itu Sancaka selalu menahan diri. Membatasi keakraban dan kemesraan mereka bahkan mencium bibir gadis itupun tidak dilakukannya lagi.

Sampai tiba waktunya Gayatri harus kembali ke Jawa pun Sancaka seakan tetap menjaga jarak dengan gadis itu, Sancaka dapat melepas kepergian gadis itu dengan senyum, sementara Gayatri walaupun tersenyum akan tetapi hatinya gundah gulana.
Sayang gadis itu tidak tahu, bahkan mungkin tidak akan pernah tahu, bahwa kehangatan yang tidak diberikannya kepada pemuda itu dengan mudah bisa didapat Sancaka dari Ratih dan selir-selir Tuan Frantzheof de Van Pierre.