Vampire , The UnTold Story (Episode 4)
SISI KELAM SANG PENGUASA PERKEBUNAN

Hari itu seperti biasanya Sancaka memeriksa perkebunan kopi yang dikelolanya, inspeksi dilakukannya bergantian berselang-seling hari antara kebun the dan kebun kopi, hasil inspeksi segera diimplementasikan dalam bentuk arahan kepada mandor-mandor lapangan yang ada.
Pekerjaan Sancaka sudah jauh berkurang beratnya, ia sudah mahir menunggang kuda sehingga pekerjaan inspeksi dapat dilakukan dengan cepat dan tidak terlalu melelahkan.
Melihat semua mandor selalu mengikuti arahannya dia yakin pekerjaanya akan sangat memuaskan Tuan Frantzheof de Van Pierre.

Sancaka membuka jam sakunya, jam berlapis dan berantai emas hadiah Tuan Frantzheof de Van Pierre, ah sudah jam tiga sore pikirnya, sudah cukup pekerjaannya hari ini.

Sampai di Villa, Sancaka langsung melempar tubuhnya ke tempat tidur, dia membutuhkan istirahat yang cukup, hari ini giliran selir ke-tiga Tuan Frantzheof de Van Pierre, selir yang paling liar dan binal diantara kelima selir yang melayaninya secara bergiliran itu.

Sancaka terbangun karena merasa sesak seperti tertindih beban berat, begitu dia membuka matanya, Wulan sudah langsung memencet hidungnya dengan gemas, “Bangun pemalas … jangan pernah berleha-leha kalau Wulan yang sedang bertugas”, katanya tersenyum geli.

Sancaka, entah kenapa, selalu cepat terangsang kalau berdekatan dengan gadis satu ini, segera dipeluknya dan dibalikkannya tubuh gadis itu, mukanya bergerak mendekat dan bermaksud melumat bibir ranum Wulan.
Dia mendengar tawa geli gadis itu, tangan gadis itu telah dengan sigap menutup dan menghalangi bibir Sancaka, “Jangan sekarang … jangan sekarang”, katanya sambil terus tertawa geli dan menghindari serangan bibir Sancaka.

“Ihh … si Nogopasung udah bangun yah?”, teriaknya dan langsung mendorong-dorong tubuh Sancaka, “Sabar dong ganteng … Wulan punya kejutan buat kamu nanti” katanya sambilmengecup bibir Sancaka sekilas.

Sancaka hanya tersenyum,

“Mandi yuk”, ajak Wulan, Sancaka tidak segera bangkit, “Boleh … tapi mimik dulu yah aku haus”, goda pemuda itu.

“Dasar pemalas”, katanya sambil kembali memencet hidung pemuda itu, tapi tangannya segera bergerak membuka kancing baju depannya, dan segera terpampang buah dadanya yang bulat besar menantang, ditarik dan dibenamkannya kepala pemuda itu sambil terkikik geli, satu hal yang disukai Sancaka dari gadis ini adalah dia tidak mengenakan BH.

Dibiarkannya beberapa lama pemuda itu menetek didadanya dengan buas, “Sudah … celana dalam Wulan mulai basah nih” katanya lagi.

Sancaka bangkit dan tersenyum, ditariknya gadis itu bangun, dan merekapun sambil berangkulan segera menuju kamar mandi.

****

Selama mandi sore tadi sampai dengan selesai makan malam barusan, Sancaka habis-habisan dibuat penasaran oleh Wulan, gadis itu sengaja menghindar dan menahan semua serangan pemuda itu, “Jangan sekarang” atau “Sabar dikit kenapa”, itu ke itu terus saja jawaban gadis itu.

Seakan tak mau tahu betapa konak Sancaka dibuatnya, pemuda itu tergelatak terlentang di tempat tidur sambil menikmati rokoknya.

Tak lama kemudian Wulan masuk kedalam kamar pemuda itu, “Dasar pemalas … pakai ini” katanya tersenyum geli melihat ekspresi muka Sancaka, Sancaka menyambut benda yang dilemparkan gadis itu, “Pakainya seperti ini”, lanjut gadis itu memperagakan, ah ternyata itu semacam jubah hitam dan terbuat dari sutera tapi untuk apa pakai jubah segala pikir pemuda itu.

“Eh … kok malah bengong … ayo cepat” kata gadis itu melotot, “mau yang enak gak?” tanyanya sambil menarik Sancaka bangun.

“Iya … iya … dari tadi udah minta-minta tapi nggak dikasih”, sungut pemuda itu sambil mengenakan jubahnya.

“Jadi ngambek nih ceritanya … apa mau netek dulu?” tanya gadis itu menggoda Sancaka, gadis itu tertawa geli sambil memaju-majukan dadanya.

Begitu Sancaka bergerak untuk menangkapnya, gadis itu segera meloncat dan menghindar sambil berlalri keluar kamar, “Wulan tunggu di beranda belakang”, teriaknya sambil cekikikan.

Bukan main gemasnya Sancaka, gadis satu itu selalu berhasil mempermainkan dirinya, sekaligus juga selalu bisa memuaskan nafsu birahinya apalagi kalau gadis itu mengambil posisi diatas, Sancaka selalu terpuruk kalah dibuatnya.

“Ayo cepat … ntar terlambat”, kata Wulan yang saat itu sudah duduk diatas kuda hitam kesayangannya. Kuda coklat yang biasa dipergunakan Sancaka melakukan inspeksi di perkebunan telah pula dituntun oleh gadis itu.

“Pakai kerudung jubahnya”, perintah gadis itu dan segera menggebrakkan kakinya, “ikut saja dan tutup mulut”, katanya lagi.

Sancaka hanya tersenyum kecut, gadis satu ini memang bukan main pikirnya. Ia pun segera mengekor di belakang gadis itu.

Sancaka cukup terkejut juga karena malam-malam berjubah hitam-hitam pula tapi kenapa agaknya Wulan menuju ke atas gunung ini. Bukankah tempat diatas terdapat Villa Darah, bukankah tempat itu terlarang baginya.
Sancaka mendongak kelangit, celaka pikir pemuda itu, malam ini malam purnama, mau apa gadis itu, apa ingin mencelakakan dirinya, jantung Sancaka berdebar keras, hanya kerudungnya yang dapat menyembunyikan pucatnya wajah pemuda itu.

Taka lama kemudian Sancaka melihat sebuah bangunan dikejauhan, dengan dua buah menara tinggi dibagian depannya, agaknya lebih pantas di sebut kastil.

Lebih kurang dua ratus meter dari bangunan itu Wulan memberikan kode berhenti dengan tangannya, dia melompat turun dari kudanya, meletakkan jari telunjuk didepan bibirnya memberikan isyarat untuk tidak bersuara, dengan perlahan gadis itu menambatkan kudanya ke pohon terdekat.
Sancaka mengikuti perbuatan gadis itu dengan sedikit bingung, tapi dia tak mau berpikir banyak dia ingin tahu apa maksud dan tujuan gadis itu.

“Kita sudah sampai”, bisik gadis itu ditelinga Sancaka, “Ini adalah Villa Darah … ikuti wulan dan jangan bersuara … hati-hati melangkah jangan menimbulkan bunyi yang mencurigakan” jelas gadis itu selanjutnya.
Gadis itu tidak tahu atau pura pura tidak tahu betapa pemuda itu tercekat dan pucat pasi mendengar ucapannya.

“Jangan takut … kalau ada apa-apa Wulan yang tanggung jawab”, bisik gadis itu, dielusnya muka pucat Sancaka dan diberinya ciuman sekilas, tangannya menarik tangan pemuda itu, Sancaka terpaksa mengikuti gadis itu.

****

Bangunan yang mereka tuju tidaklah berwarna merah, bangunan itu berwarna putih dan terawat bersih, lebih terawat daripada dua Villa lainnya malah, rasanya janggal di sebut sebagai Villa Darah.

Sancaka dan Wulan terus bergerak berindap-indap, seperti dua sosok bayangan yang terus bergerak perlahan menuju salah satu jendela besar disamping bangunan itu.

Sesampai disamping jendela itu, Wulan meraba-raba didinding, agak jauh dari jendela itu dia seperti mencongkel sesuatu, dan tampak ada bagian dingding yang bergerak, wulan menarik bagian itu dan meletakkannya ditanah, ternyata satu bagian bata yang utuh yang dapat dilepas, gadis itu mengintai sejenak, bibirnya tampak tersenyum.
Ia pun segera memberikan kode kepada Sancaka sambil menunjuk ke arah dinding yang kini berlubang itu, Sancaka beringsut dan hendak mengintip kedalam, “Apapun yang terjadi didalam jangan sekali-kali bersuara … mengerti?” bisik gadis itu lirih. Sancaka hanya mengangguk dan segera mengintip ke dalam.

Ruangan itu cukup luas seluruh dinding dan langit-langitnya berwarna merah, sementara lantainya sangat kontras berwarna putih, dibagian tengah tampak sebuah tempat tidur berbentuk bulat yang juga dilapisi kain sutra berwarna merah.

Diatas tempat tidur tergolek sesosok tubuh telanjang, tubuh putih mulus, yang membuat Sancaka menahan nafas adalah yang tergolek telanjang dengan pose merangsang itu adalah Tantri, Selir Utama Tuan Frantzheof de Van Pierre, juga terdapat seorang lelaki yang duduk membelakangi Sancaka, lelaki yang tanpa baju itu agaknya sedang asyik memandangi tubuh molek Tantri, tangannya naik turun mengelus-elus paha gadis itu.

Sancaka mengalihkan pandangannya karena mendengar suara pintu terbuka, dilihatnya seorang gadis melangkah masuk kedalam kamar itu, Sancaka belum pernah melihat gadis itu, setelah berada di sisi pembaringan gadis itu berhenti dan hanya berdiri menunduk, gadis itu mengenakan kimono sutera berwarna merah darah.

Tantri bergerak turun dari tempat tidur, didekatinya gadis itu, Tantri tampak membisikkan sesuatu ketelinga gadis itu, gadis itu menganggukkan kepalanya, Tantri membuka selendang pengikat kimono gadis itu, dan langsung menggunakannya sebagai penutup mata gadis itu, diikatkannya kesekeliling kepala gadis itu, kemudian dibuka dan dibiarkannya kimono itu jatuh ke bawah.

Gadis itu berdiri telanjang dengan mata tertutup, Tantri memegang kedua bahu gadis itu, dibimbing dan dibaringkannya gadis itu ke atas tempat tidur, lelaki yang duduk membelakangi Sancaka bangkit berdiri, ah ternyata lelaki itu adalah Tuan Frantzheof de Van Pierre, yang tampak tersenyum puas melihat betapa molek dan menggairahkannya gadis yang baru masuk tadi, Tantri segera melangkah mendekati Tuan Frantzheof de Van Pierre, segera dibukanya kain sutera merah yang melilit di pinggang londo itu, Tuan Frantzheof de Van Pierre kini telah berdiri telanjang dengan penis yang berdiri tegang mengacung, penis yang lebih besar dari milik Sancaka.

Tuan Frantzheof de Van Pierre segera merayap diatas tempat tidur itu, dia mulai menjilat dari betis gadis itu, terus merambat keatas, dan berhenti sebentar melumat putting susu gadis itu, gadis itu tampak mengerinjal dan mendesah lirih, jilatan londo itu kembali bergerak ke leher, dan kemudian melumat bibir gadis itu. Tangannya mengelus seluruh bagian tubuh gadis itu.

Tuan Frantzheof de Van Pierre itu menyibakkan kedua paha gadis itu, gadis itu berusaha menutupi kewanitaannya dengan tangan, tetapi kedua tangan itu dengan halus langsung disingkirkan oleh Tantri dan digenggamnya kedua tangan gadis itu, Tuan Frantzheof de Van Pierre tersenyum puas melihat betapa bibir-bibir vagina gadis itu masih begitu rapat dengan bulu-bulu yang masih halus disekitarnya.

Tuan Frantzheof de Van Pierre menjulurkan tangan dan jari telunjuknya menyusuri belahan bibir vagina gadis itu yang sudah mulai basah dari atas kebawah, kemudian dijilatnya telunjuk itu, londo itu menunduk dan membenamkan mukanya keselangkangan gadis itu, lidahnya naik turun di belahan vagina gadis itu, gadis itu mengelinjang dan mendesah keenakan, lidah londo itu mulai masuk dan membelah lebih dalam keliang vagina gadis itu, gadis itu mengejang, semakin lama lidah Tuan Frantzheof de Van Pierre semakin bergerak makin dalam mengobok-obok mulut gua kenikmatan gadis itu, dan tanpa sadar pantat gadis itu ikut bergoyang naik turun mengikuti gerakan lidah Tuan Frantzheof de Van Pierre.

Dibombardir serangan lidah Tuan Frantzheof de Van Pierre yang sudah banyak pengalaman itu membuat gadis lugu itu tak dapat bertahan lama, dengan tersentak gadis itu menjerit kuat, tubuhnya menggeliat-geliat keenakan, Tuan Frantzheof de Van Pierre tak menyia-nyiakan kesempatan itu, mulutnya menempel ketat ke permukaan vagina gadis itu, londo itu menyedot dengan kuat berulang-ulang, seakan ingin menguras cairan kenikmatan gadis itu.

Sancaka mengamati semuanya dengan jakun turun naik, Wulan yang berada disampingnya hanya tersenyum-senyum melihat raut muka pemuda itu, “Ingat … jangan mengeluarkan suara sedikitpun”, bisik gadis itu lirih sekali.

Wulan bergerak ke bawah, dia berlutut di depan pemuda itu, dibukanya celana pemuda itu seluruhnya, penis Sancaka yang memang sudah tegang segera mengacung didepan wajah gadis itu, Sancaka mengalihkan pandangannya ke bawah, ia sudah hendak menggerakkan bibirnya bertanya tapi dia langsung bungkam melihat telunjuk di bibir gadis itu, Wulan menggenggam batang penis Sancaka dengan tangan kanannya, sementara tulunjuk kirinya memberi isyarat agar pemuda itu meneruskan aksi mengintipnya tadi.

Tetapi Sancaka tersentak seketika, pandangannya yang baru akan melihat kembali kedalam ruangan itu langsung beralih ke bawah, untung dia ingat untuk tidak bersuara sedikitpun, dilihatnya Wulan sedang menjilat-jilat kepala penisnya, dan kemudian memasukkan kepala penis itu kedalam mulutnya, kepala gadis itu maju mundur dengan gerakan menghisap dan menjilat sedemikian rupa yang membuat Sancaka matia-matian berusaha agar tidak menggeram keenakan.
Memang ini adalah hal yang benar-benar baru bagi Sancaka, ia baru kali ini mengetahui adanya permainan seks seperti itu.
Wulan melirik keatas dan merasa sangat puas dapat mengerjai pemuda itu, kembali telunjuknya memberi isyarat agar Sancaka meneruskan mengintip kedalam ruangan itu.
Sancaka kembali mengintip kedalam.

Dia melihat Tantri duduk membungkuk disebelah atas kepala gadis yang tertutup matanya itu, kedua tangan gadis itu menggenggam erat tangan Tantri, kepalanya terdongak dengan menggigit bibirnya sendiri, Tantri tampak membisikkan sesuatu kepada gadis itu, sementara Tuan Frantzheof de Van Pierre tampak memegang dan membimbing penisnya di depan liang vagina gadis itu, londo itu tampak menggerak-gerakkan pinggulnya berusaha mendorong menembus liang vagina itu. Setiap usaha paksa penis itu itu selalu diiringi jerit tertahan gadis itu.
Tahulah Sancaka bahwa gadis itu pastilah masih perawan, rasa sakit yang diakibatkan penis Tuan Frantzheof de Van Pierre yang diatas ukuran rata-rata orang melayu itu tentu menimbulkan rekasi mencengkeram yang mempersulit kepala penis itu untuk masuk.

Tuan Frantzheof de Van Pierre setelah beberapa kali berusaha tampaknya telah berhasil memasukkan bagian kepala penisnya keliang vagina gadis itu, dan sambil tersenyum sumringah dia pun menghentakkan pinggulnya, seluruh batang penisnya tenggelam diiringi jeritan kuat gadis itu.
Tanpa sadar Sancaka juga mengayunkan pinggulnya kedepan, seluruh batang penisnya terbenam sampai kedalam tenggorokan Wulan, tangannya langsung meremas rambut Wulan. Pemandangan yang dilihatnya dan kuluman mulut Wulan membuat semuanya menjadi sangat sensasional.

Didalam ruangan, Tuan Frantzheof de Van Pierre tampak mulai menggoyangkan pinggulnya, tampak penisnya keluar masuk vagina gadis itu, ada rona merah dibatang penis itu, sementara gadis itu hanya tersentak-sentak lemah dan tampaknya menahan sakit dan isak tangis.
Diluar Wulan mulai menggerakkan kepalanya maju mundur dengan cepat, tangan kanannya pun mulai bergerak mengocok seirama.

Didalam ruangan, Tuan Frantzheof de Van Pierre tampak mulai menindih gadis itu, mulutnya menghisap dan menjilat putting susu gadis itu dengan buas, kedua tangan gadis itu sudah dilepaskan oleh Tantri, dan kini tampak memeluk erat Tuan Frantzheof de Van Pierre.
“Achh” dan “Auch”, hanya itu suara erang nya mengiringi setiap hujaman penis Tuan Frantzheof de Van Pierre, agaknya gadis itu telah mulai merasakan nikmatnya.

Tuan Frantzheof de Van Pierre mulai melumat bibir gadis dan meningkatkan hunjaman-hunjaman penisnya, terdengar londo itu menggeram berulang kali.
Sancaka merasakan penisnya berdenyut hebat, Wulan segera tanggap, mulutnya menghisap kuat-kuat kepala penis Sancaka, sementara tangan kanannya mengocok batang penis pemuda itu dengan cepat, Sancaka menutup mulutnya rapat-rapat, batang penisnya menyembur hebat, Wulan sampai tersedak dibuatnya, konaknya sejak siang terlampiaskan sudah.
Sancaka menengok kebawah dengan nafas memburu, lututnya sedikit gemetar, dibawahnya Wulan menelan habis air mani pemuda itu, bahkan lidahnya berputar membersihkan sisa semburan disekitar bibirnya, dikecupnya kepala penis Sancaka yang masih berdenyut-denyut itu, mulutnya tersenyum puas.

Setelah membenahi celana Sancaka, Wulan bangkit dari jongkoknya dan memeluk pemuda itu dari belakang, kepalanya bersandar di punggung Sancaka.
Sancaka kembali mengamati kedaan didalam ruangan itu.

Dilihatnya Tuan Frantzheof de Van Pierre masih sesekali mengeram dan makin mempercepat gerakan pinggulnya sambil mengamati raut wajah gadis itu, sementara kedua tangan gadis itu tampak meremas lengan londo itu dengan kuat, kedua insan itu tampaknya sudah mendekati puncak kepuasan masing-masing.
Sampai puncaknya gadis itu menjerit tertahan dengan tubuh tersentak, Tuan Frantzheof de Van Pierre pun menhunjamkan batang penisnya sekuat-kuatnya sambil membenamkan mukanya keleher gadis itu.
Kedua kaki gadis itu tampak menendang-nendang kebawah, tangannya mengapai kesana-kemari, tubuh mulusnya tampak berkelojotan dibawah tindihan Tuan Frantzheof de Van Pierre. Bukan main orgasme yang dicapai keduanya pikir Sancaka.

Beberapa saat kemudian terlihat tubuh gadis itu bergetar lemah dan akhirnya diam tak bergerak lagi.
Tuan Frantzheof de Van Pierre bangkit dan segera menghambur kedalam pelukan Tantri yang sejak tadi berbaring dan menyaksikan semuanya disebelah gadis itu. Tantri tampak membelai-belai rambut Tuan Frantzheof de Van Pierre dengan penuh sayang.
Sancaka mengamati gadis yang tertutup matanya itu, ada yang janggal disana, gadis itu masih diam kaku tak bergerak, kepalanya terdongak keatas, mulutnya menganga dengan kulit tubuh pucat membiru, ada dua titik hitam dengan lingkaran kebiru-biruan di leher gadis itu, tidak ada tanda-tanda kalau gadis itu masih bernafas.

Sancaka tercekat, “Mati”, pikirnya seketika, “Gadis itu telah mati”, nafasnya sesak dan perutnya terasa mual, lututnya terasa goyah, Sancaka jatuh terduduk menutup mulutnya.

“Siapa itu?” terdengar suara Tantri membentak.

“Lari … cepat lari”, bisik Wulan yang langsung menyeret pemuda itu berlari menuju kuda-kuda mereka yang ditambatkan tadi.
Jatuh bangun Sancaka mengikutinya, ia sempat menoleh dan melihat Tantri berdiri di jendela itu, ia tidak punya waktu untuk memikirkan dan tidak mau menebak-nebak apakah gadis itu melihat dirinya dan Wulan.

Setelah cukup jauh dari tempat itu, Sancaka tak dapat lagi menahan rasa mualnya, ia menghentikan kudanya dan meloncat turun serta langsung memuntahkan semua isi perutnya.
“Dasar pemalas … jangan loyo begitu”, ejek Wulan sambil tersenyum geli, kali ini Sancaka melirik dengan tajam kearah gadis itu.
Wulan menangkap kegusaran pemuda itu, iapun meloncat turun dari kudanya, dirangkulnya bahu Sancaka, “Ayo ganteng … kita harus cepat kembali ke Villa … kita tidak boleh ketahuan telah mengintai ke Villa Darah”, bujuknya.

Merekapun kembali menunggang kudanya supaya cepat Sampai di Villa Sancaka. Sesampai di Villa Wulan segera membimbing pemuda itu ke ruang mandi, “Mandi air hangat yah … biar segar”, bujuknya. “Tunggu disini … Wulan mau ambil minuman”, lanjutnya sebelum keluar.
Sancaka masih terguncang, ia hanya mengikut saja perintah gadis itu, “Tunggu disini … Wulan mau ambil minuman”, lanjutnya sebelum keluar.

Sancaka masuk ke kolam dan langsung tergolek lesu, saran Wulan memang sedikit dapat mengurangi goncangan bathinnya.

Tak lama kemudian tampak Wulan yang juga sudah membuka seluruh pakaiannya dan ikut masuk ke kolam, “Minum ini … nanti semuanya akan lebih baik” katanya sambil menyodorkan gelas berisi anggur merah.
Sancaka menyambutnya. Ia mencoba menikmati anggur merah itu. Wulan hanya mengamatinya dan tak bersuara sedikitpun, ia membiarkan saja pemuda itu dengan pikirannya sendiri. Gadis itu tersenyum setiap kali Sancaka meneguk minumannya.

****

“Dasar pemalas … mandi sendiri nggak ngajak-ngajak Wulan”, kata gadis itu sambil memencet hidung Sancaka, pemuda itu tergagap bangun.

“Makanya jangan mandi sendiri … jadinya ketiduran begini”, kata gadis itu geli, “Pantesan dari tadi Wulan cari-cari nggak ketemu” lanjut gadis itu.

Sancaka memegang kepalanya sendiri, kepalanya terasa berat dan pandangannya sedikit nanar. Apa benar ia ketiduran disini pikirnya.
“Belum makan … iya kan?” tanya gadis itu, “makanya jadi pusing”, katanya memapah Sancaka bangkit.

Sancaka memang merasa betapa perutnya sangat lapar, dan ia melihat Wulan masih berpakaian lengkap. Hanya samar samar dan terpenggal-penggal ia merasa ingat kejadian di Villa Darah barusan.

“Kok bengong …. Mimpi apa barusan?”, tanya Wulan setelah mengenakan kimono kepada pemuda itu sambil terus memapahnya keluar ruang mandi.
Sancaka tercenung apakah kejadian di Villa Darah yang samar-samar diingatnya hanyalah mimpi, ia kembali memegang kepalanya yang terasa berat.

“Ayo kita langsung makan … ntar Wulan bikinin kopi hangat buat ngurangin rasa pusingnya”, kata gadis itu lagi dan membimbing Sancaka ke ruang makan.

Sancaka makan dengan lahap, perutnya terasa sangat kosong dan berkeroncongan terus minta diisi. Selesai makan Wulan sudah menyediakan secangkir kopi dimeja kamar tidur Sancaka. Sementara Sancaka merokok dan menikmati kopinya, gadis itu merapikan tempat tidur sambil sesekali melirik kearah Sancaka yang masih terlihat seperti orang kebingungan.

“Tuh kan melamun lagi … ayo bobok yuk”, bisiknya mesra sambil merangkul Sancaka dari belakang, “Aku punya kejutan untuk kamu”, lanjutnya.

Ditarik dan dibimbingnya pemuda itu keatas pembaringan. Dibukanya seluruh pakaian Sancaka, “Ini Wulan persembahkan khusus buat kamu … Wulan nggak pernah ngelakuin ini pada siapapun sebelum ini” katanya dan kemudian langsung merayap diatas tubuh pemuda itu, dijilat dan dihisapnya kedua putting susu Sancaka, Sancaka langsung bereaksi, tangannya membelai-belai kepala gadis itu.

Lidah Wulan terus bergeser ke bawah, dijilat-jilatnya kepala penis pemuda itu, Sancaka mendesah, sedikit terkilas dibenaknya rasa-rasanya diapun pernah memimpikan perbuatan Wulan seperti ini kepadanya, tapi entah kapan dan dimana, semuanya masih terasa samar-samar.

Tapi pemuda itu tidak sempat banyak berpikir lagi, mulut Wulan telah mulai mengulum dan menghisap-hisap kepala penisnya, diapun menggeliat dibuatnya.

Wulan dengan lincah memainkan peran mulut dan lidahnya sambil menggerakkan kepalanya, sesaat dia menjilat-jilat seluruh kepala dan batang penis pemuda itu, sesaat kemudian dia sudah mengulum dan menjilat-jilat buah zakar pemuda itu, dilanjutkan dengan mengocokkan batang penis pemuda itu didalam mulutnya. Semakin lama tempo permainan mulut dan lidah gadis itu semakin cepat dan ganas.
Sancaka hanya merem-melek keenakan, tangannya hanya dapat meremas-remas rambut gadis itu dengan geram.

Sesekali Wulan memasukkan seluruh batang penis pemuda itu kedalam mulutnya, terasa penis itu memenuhi mulut dan tenggorokannya, Wulan mengocok-ngocok penis itu ditenggorokannya dan pada saat itu Sancaka pasti menggeram nikmat. Remasan dan kocokan tenggorokan gadis itu memberikan sensasi nikmat tersendiri di kepala dan batang penis Sancaka. Terutama saat gadis itu nampak mulai tersedak seperti mau muntah dan terpaksa mengeluarkan batang penis itu dari mulutnya dengan cepat, menimbulkan sensasi nikmat tersendiri.

Ketika dirasakannya penis pemuda itu sudah sangat tegang dan mulai berdenyut-denyut, Wulan segera menghentikan gerakannya, dia bangkit berdiri dan tanpa melepas bajunya ia membuka celana dalamnya, ia kemudian berdiri mengangkangi tubuh Sancaka, Wulan berjongkok diatas pinggul pemuda itu, “Saatnya pelajaran tambahan cara menunggang kuda yang baik”, katanya sambil tersenyum, diraihnya dan dibimbingnya penis Sancaka ke bibir vaginanya, diapun menurunkan tubuhnya dengan perlahan, kepala penis Sancaka langsung menyeruak masuk kedalam vagina gadis itu.

Tubuh Wulan mulai bergerak naik turun dengan teratur, setiap tubuh gadis itu bergerak turun dengan cepat maka batang penis Sancaka langsung terbenam seluruhnya ke liang vagina gadis itu, sementara setiap tubuh Gadis itu bergerak naik dengan perlahan terasa memberikan jepitan ke batang penis Sancaka.

Sancaka mengulurkan tangannya meremas-remas buah dada dibalik pakaian gadis itu, Wulan mempercepat gerakan naik-turunnya, dia ingin menggapai kepuasan bersamaan dengan pemuda itu.
Wulan menjulurkan tangan kanannya keselangkangannya, jari telunjuknya memainkan clitorisnya sendiri sambil terus bergerak naik turun dengan cepat.
Sancaka sudah tak kuat lagi menahan diri, dia meremas-remas buah dada gadis itu dengan kuat, Wulan juga merasakan penis pemuda itu sudah mulai berdenyut-denyut lagi. Dia kini bergerak naik-turun sambil mengayunkan pinggulnya dengan cepat, dia berusaha mengejar ketinggalannya, tak lama kemudian keduanya saling pandang dan saling menggeram, Sancaka mengangkat pantatnya keatas dan Wulan menghempaskan pinggulnya kebawah hampir bersamaan, batang penis Sancaka terbenam dan terus berdenyut menghabiskan semburannya.

Wulan segera membungkuk dan melumat bibir Sancaka, Sancaka segera menyambut dan merangkul gadis itu, mereka terus berciuman sampai semua sensasi kenikmatan orgasme bersamaan itu hilang.

“Makasih yah”, bisik Wulan dan bergulir kesamping, kemudian merebahkan kepalanya ke dada Sancaka. Sancaka membelai-belai rambut gadis itu.

****

Sancaka masih belum dapat memejamkan matanya, ia berada dalam kebingungannya sendiri, ia terus saja menghisap dalam-dalam dan menghembuskan rokoknya dengan kuat, seingatnya dia pulang dari perkebunan lebih cepat daripada biasanya tadi siang, tapi apakah benar dia tertidur di kamar mandi? Benarkah dia dan Wulan tidak menyusup ke Villa Darah? Benarkah semua itu hanya mimpi?

Wulan telah tertidur disamping pemuda itu dengan kepala rebah di dada pemuda itu sejak tadi.
Sementara Sancaka terus melamun sampai dirinya tertidur sendiri.

****

Ada dua hal yang tidak diketahui Sancaka, hal pertama adalah peristiwa yang dialaminya di Villa Darah adalah kejadian yang nyata-nyata dialaminya, hal kedua adalah Wulan telah mencampurkan sejenis ramuan khusus kedalam anggur merah yang diminumnya di kolam mandi tadi.

Jadi tidak mengherankan kalau esoknya Sancaka tanpa sadar telah meyakini kata-kata Wulan semalam dan Sancaka benar-benar sudah menganggap bahwa peristiwa diingatnya mengenai Villa Darah adalah benar-benar mimpi adanya.
Pemuda itu kembali menjalani kehidupannya di perkebunan itu sebagaimana biasanya.