Vampire, The UnTold Story(Episode 5)
SELIR UTAMA SANG PENGUASA

Beberapa minggu kemudian, setelah sarapan pagi yang dilayani Yuni, Sancaka seperti biasa segera berkuda ke perkebunan, seperti biasa pula ia melakukan inspeksi dan memberikan pengarahan kepada para mandor yang ada.

Waktu kira-kira pukul dua sore, namun Sancaka telah selesai melakukan inspeksi sampai dengan bagian terjauh perkebunan itu, saat akan menaiki kudanya meninggalkan perkebunan dia melihat seorang wanita berbaju putih dan mengenakan payung putih kecil menyusuri bagian tengah perkebunan Teh itu

Sancaka menaiki kudanya dan mulai membayangi wanit itu dari kejauhan, wanita itu bergerak meninggalkan kawasan perkebunan itu, Sancaka kembali melihat arloji sakunya, masih pukul setengah tiga pikirnya. Dia memutuskan untuk mengikuti terus, dia penasaran siapa dan mau kemana wanita itu.

Setelah hampir setengah jam, wanita itu menuju jalan setapak yang menurun, Sancaka masih mengikuti dengan hati-hati, dari kejauhan terdengar suara air mengalir deras. Wanita itu menuju ke sungai dibawah pikir Sancaka.

Sancaka turun dan menambatkan kudanya cukup jauh, diapun segera berindap-indap mengambil jalan memutar ketempat yang lebih tinggi. Sancaka makin penasaran, walaupun hari masih tergolong siang namun tidak baik rasanya wanita pergi ke tempat sesunyi ini sendirian.

Sancaka makin dekat ke tepi sungai makin berhati-hati, ia tidak ingin ketahuan si wanita, kalau ternyata si wanita itu ternyata berniat mandi bisa-bisa runyam ceritanya kalau dia kepergok berindap-indap seperti ini.

Sancaka mengambil tempat digerombolan pohon sejenis pakis, rasanya dia tidak terlalu jauh dari arah jalan menurun tadi. Disibakkannya pelan-pelan daun-daun pakis itu, mulutnya langsung menganga, kira-kira dua meter didekat batu besar didepan tampak seorang gadis yang berdiri membelakanginya, gadis itu sedang melepas seluruh pakaiannya satu persatu.

Lekuk tubuhnya dari bahu pinggang dan pinggul serta pahanya tampak sempurna, putih mulus menggairahkan.
Gadis itu melangkah menuju sungai sampai kedalaman air sudah mencapai pinggangnya, dia pun berbalik dan mulai menurunkan badannya mencelupkan diri ke dalam air.
Bukan si gadis yang kedinginan terkena air sungai itu, Sancaka lah yang langsung merasa sekujur tubuhnya terasa dingin dengan muka pucat pasi penuh keringat dingin, betapa tidak gadis itu adalah Tantri, selir kesayangan Tuan Frantzheof de Van Pierre.

Disatu sisi pemuda itu menjadi agak takut karena gadis yang diintipnya itu adalah Selir Utama sang pemilik perkebunan alias majikannya, disisi lain pemuda itu sangat ingin melihat keindahan lekak-lekuk tubuh gadis itu dari depan.

Akhirnya nafsunya yang menang, Sancaka bertekat meneruskan aksi mengintipnya. Konak juga karena sejak tadi hanya mendapat sekilas pandang, itupun hanya bagian dada gadis itu kalau dia sedang bermain air sambil berdiri.

Tantri menyelam dan menghilang dari pandangan Sancaka, pemuda itu jadi celingak-celinguk mencari bayangan gadis itu.
Tak lama kemudian gadis itu muncul didekat sebuah batu besar, setelah menoleh kesana-sini seakan ingin memastikan tidak ada orang lain di sungai itu Tantri kemudian berdiri bersandar pada batu besar itu, kedua tangannya meremas-remas buah dadanya sendiri, matanya terpejam rapat, tangan kanannya mulai turun ke bawah kearah selangkangannya.
Gadis itu meliuk-liuk dengan tangan kiri meremas-remas buah dadanya sedangkan tangan kanan mengelus-elus belahan vaginanya.

Kemudian gadis itu mulai memasukkan jari tengahnya keliang vaginanya, Tantri mulai mengocokkan tangannya, semakin lama gerakannya semakin cepat, tubuh gadis itu melengkung kedepan, kocokan tangannya semakin liar dan cepat.
Tubuh bugil gadis itu tampak seperti menggigil tetapi bukan karena kedinginan.
Mulutnya tak berjenti mendesah-desah seperti orang kepedasan.

Beberapa saat kemudian terdengar jerit tertahan dari mulut gadis itu, kedua pahanya menjepit tangannya sendiri dengan kuat, gadis itu agaknya telah meraih orgasmenya.

Setelah gelombang orgasmenya reda Tantri segera duduk diatas batu-batu sungai, gadis itu duduk berendam dan beristirahat dari pendakiannya.

Tak lama kemudian Tantri berjalan keluar dari sungai itu, berjalan langsung kearah Sancaka, Sancaka menahan nafas dengan tubuh tegang tak bergerak, untungnya gadis itu berjalan agak menunduk sambil memeras rambut panjangnya.
Seakan tak menyadari betapa sepasang mata mengawasi setiap inci permukaan tubuhnya, Tantri dengan santainya berdiri menghadap tempat Sancaka mengintip sampai rambutnya dirasa telah cukup kering.
Kemudian gadis itu berpakaian kembali.

Sancaka tetap diam tak bergerak sampai gadis itu pergi dengan kudanya, setelah Tanri tak terlihat lagi barulah Sancaka menjatuhkan dirinya duduk dengan nafas terengah-engah, bukan main keindahan tubuh Tantri yang dilihatnya tadi desahnya.

Sancaka menuju kesungai dan mencuci mukanya, berusaha meredakan konaknya. Segera ia menuju tempat kudanya ditambatkan dan selanjutnya langsung membalapkan binatang itu pulang.

****

Sancaka telah sampai dijalan menurun menuju ke Villa, dilihatnya Diah selir kelima Tuan Frantzheof de Van Pierre yang tadinya duduk diteras langsung berlari ke dalam ketika melihat pemuda itu datang di kejauhan.
Diah adalah seorang gadis yang pendiam, seorang gadis yang berkulit hitam manis. Yang selalu menundukkan muka dengan sopan bila berdekatan dengan Sancaka, yang tidak akan bersuara jika tidak diajak bicara, yang tidak pernah memancing-mancing gairah birahi pemuda itu.

Sancaka melompat sigap dari punggung kudanya dan melangkah masuk ke ruang tamu, Diah yang telah meletakkan secangkir kopi di meja dengan sopan menyambut topi pemuda itu, Sancaka langsung duduk ke kursi panjang dan mengeluarkan rokoknya. Dilihatnya secangkir kopi dan sepiring kecil pisang goreng di meja. Sancaka tersenyum senang.

Diah kemudian berjongkok disamping pemuda itu, melepaskan sepatunya, dan meletakkanya ditempat sepatu diluar kamar pemuda itu.

“Sini … duduk sini”, kata Sancaka melihat Diah telah kembali keruang tamu. Gadis itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepala dan duduk diujung lain kursi panjang itu.

“Numpang istirahat yah … Siang ini panasnya nggak ketulungan … jadi capek sekali rasanya”, kata Sancaka berbaring di kursi panjang itu dan meletakkan kepalanya di pangkuan Diah. Gadis itu lagi-lagi hanya tersenyum mengangguk.

Sancaka meneruskan menikmati rokoknya sambil berbaring, sementara Diah hanya diam membiarkan dan hanya membelai-belai pemuda kepala pemuda itu.

“Merokok sudah … Makan pisang goreng sudah … Minum kopi sudah”, kata Sancaka sambil mematikan rokoknya, “Jadi yang belum tinggal yang ini”, lanjut pemuda itu sambil meremas lembut buah dada Diah.

Diah hanya tersenyum, “Emang ada yang ngelarang?”, tanya gadis itu menunduk malu.

Sancaka tertawa dan mencubit dagu gadis itu, tangannya segera menyibak kimono gadis itu, buah dada gadis itu kini terpampang jelas.

Sesuai permintaan Sancaka semua selir Tuan Frantzheof de Van Pierre ketika bertugas melayani dia kini tidak diperbolehkan lagi memakai pakaian dalam.

Diah membungkukkan badannya sehingga puting susu kirinya mendekati mulut Sancaka, pemuda itu dengan sigap langsung melahap puting susu gadis itu, Diah hanya tersenyum dan membelai-belai pemuda kepala pemuda itu.

Merasa bahwa pemuda itu semakin ganas menetek dan meremas buah dadanya, Diah memindahkan aktifitas tangannya ke selangkangan pemuda itu, tangannya menyusup kedalam celana pemuda itu, dibelai-belainya batang penis Sancaka, kemudian digenggam dan dikocok-kocoknya dengan perlahan.

Sancaka mulai belingsatan, diapun bangun dan segera membuka celananya, setelah berlutut didepan Diah yang masih dalam posisi duduk segera dibukanya kimono gadis itu.
Ditariknya kaki gadis itu, Diah melorot hingga pantatnya menggantung di bibir kursi, Sancaka segera mengarahkan kepala penisnya ke bibir vagina gadis itu.

Diah dengan menggigit bibirnya ikut memperhatikan kepala penis pemuda itu, Sancaka mulai menekan dan kepala penisnya pun masuk ke liang vagina gadis itu, Sancaka menahan gerakan penisnya, ditempelkannya telapak tangannya dibawah pusar gadis itu dan jari jempolnya segera memainkan klitoris gadis itu.

Diah mulai mengelinjang dan memejamkan matanya, Sancaka semakin mempercepat gerakan jarinya, Diah menjepitkan pahanya ke pinggul Sancaka, pemuda itu terus mempermainkan klitoris dengan tangan kanan sementara tangan kirinya meremas-remas buah dada kiri Diah, kepala penisnya serasa diremas-remas liang vagina gadis itu.

Diah membuka matanya, dia memandang pemuda itu dengan mata sayu, “Masukkan … masukkan”, rintihnya memelas, tangannya menggapai dan berusaha menarik pinggul Sancaka, Sancaka tetap bertahan malah semakin mempercepat gerakan jarinya di klitoris gadis itu.

Sampai akhirnya gadis itu menjerit dan menarik pinggul Sancaka sekuat tenaganya, Sancaka membiarkan tarikan gadis itu, seluruh batang penisnya terbenam dalam liang vagina gadis itu, Sancaka membiarkan gadis itu yang meliuk dan tersentak-sentak menikmati orgasmenya, terasa penisnya bagai diremas dan disedot liang vagina gadis itu.

Diah tersandar lemas dengan mata terpejam, masih terengah-engah dengan nafas yang memburu, membuka mata dan menyadari Sancaka memperhatikannya dengan tersenyum gadis itu menjadi malu sendiri, ditutupnya mukanya dengan tangannya.

Sancaka menyibakkan kedua tangan gadis itu, “Kenapa pake tutup muka gitu … nggak enak yah”, Diah menggeleng kepalanya dengan cepat, “Diteruskan nggak nih?” tanya pemuda itu menggoda, dan Sancaka langsung tertawa dan memencet hidung Diah ketika melihat gadis itu menganggukkan kepalanya berkali-kali.

Sancaka meletakkan kedua tangannya diatas kedua buah dada gadis itu, dipelintir-pelintirnya puting susu gadis itu, diapun mulai menggerakkan pinggulnya mundur dengan perlahan, setelah kepala penisnya nyaris keluar dari bibir vagina gadis itu langsung dihunjamkannya kembali dengan cepat, Diah langsung tersentak, “augh…” terdengar desah tertahan gadis itu.

Sancaka ikut mendesah, liang vagina gadis ini biarpun cepat sekali basah bila dirangsang dan sangat becek setelah orgasme, tapi tetap terasa sekali remasan-remasan dinding liang vaginanya, memang benar kata orang-orang cewek hitam manis lebih enak dibandingkan cewek putih, pikir pemuda itu.

Sancaka terus menggerakkan pinggulnya dengan irama yang sama, hanya saja semakin lama semakin cepat, Diah mengejang-ngejang keenakan, kepalanya menggeleng kekanan dan kekiri dengan mata terpejam rapat, lenguhan “mmh…” atau “achh…” gadis itu di setiap hunjaman penis Sancaka semakin membuat pemuda itu mempercepat gerakannya.

Sancaka merasa pendakiannya tinggal sedikit lagi, pangkal batang penisnya mulai berdenyut-denyut dengan kuat, gerakan pinggulnya mulai tak beraturan penisnya menghunjam-hunjam vagina gadis itu dengan kuat.
Ketika rasa itu mulai tak tertahankan lagi Sancaka langsung berdiri, ditariknya kepala Diah kearah selangkangannya, gadis itu mengerti keinginan pemuda itu, tangannya langsung menyambar batang penis itu dan memberikan kocokan-kocokan dengan cepat, mulutnya menganga didepan kepala penis Sancaka menanti semburan.

Sancaka menggeram, kepalanya mendongak keatas dengan mata terpejam, tangannya meremas rambut dan menarik kepala gadis itu, dihunjamkannya penisnya kedalam mulut gadis itu, tangan Diah menekan ke paha Sancaka dengan kuat berusaha menarik mundur kepalanya, tubuh gadis itu meliuk-liuk tak beraturan.
Semburan kuat air mani Sancaka telah membuat Diah tersedak, gadis itu setengah mati menahan rasa mual yang naik ketenggorokannya.
Setelah beberapa saat barulah Sancaka mengendurkan tekanan tangannya, Diah langsung menarik mundur kepalanya, gadis itu terduduk sambil menutup mulutnya dengan tangan berusaha menahan gejala mualnya.

Sancaka segera berjongkok dan mengangkat gadis itu untuk bangun dan mendudukkannya di kursi, hati pemuda itu langsung terenyuh melihat ada air mata yang mengalir di pipi gadis itu, “Maafkan kekasaranku tadi yah”, bisiknya sambil memeluk gadis itu.
Diah balas memeluk dan terisak, digeleng-gelengkannya kepalanya sambil berbisik, “Nggak apa-apa … yang penting Mas puas”.

Sancaka menarik kepalanya dan langsung melumat bibir gadis itu dengan mesra.

****

Ketika Sancaka dan Diah mandi sore harinya, ketika Sancaka sedang menikmati kuluman dan sedotan mulut gadis itu sambil duduk dibibir kolam, dia terkejut melihat bayangan sesorang yang berdiri dibalik tirai di pintu masuk kamar mandi, namun orang tersebut tidak kunjung masuk ke kamar mandi itu.

“Diah selesaikan urusanmu … dan setelah makan malam antarkan Sancaka ke Villa Darah untuk menemuiku”, terdengar suara orang itu, seorang wanita rupanya pikir Sancaka.
Diah masih terus menjilat dan mengulum kepala penis Sancaka dan seakan tidak memperdulikan ucapan wanita itu.

Sancaka menunduk dan memandang Diah dengan sorot mata penuh pertanyaan, tetapi dia akhirnya diam ketika melihat Diah hanya memandang sekilas kearahnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, gadis itu tidak sedikitpun menghentikan kegiatannya.
Sancaka menengok lagi kearah tirai pintu masuk akan tetapi bayangan wanita itu sudah tidak ada lagi disana.

Rasa penasaran membuat keinginan bercinta pemuda itu banyak berkurang, dia hanya menimbangi saja permainan Diah dikolam mandi sore itu.

****

Sancaka berdiri didepan pintu masuk Villa Darah dengan hati berdebar kencang, dia telah mengetahui bahwa bayangan wanita dikolam mandi sore tadi adalah Tantri, Selir Utama Tuan Frantzheof de Van Pierre, Diah yang memberitahukan hal itu ketika mereka dalam perjalanan tadi.

Diah telah pulang kembali ke Villa dimana Sancaka tinggal, dia hanya bertugas mengantar katanya, dan Sancaka langsung diperintahkan masuk pesannya.

Dengan tangan gemetar Sancaka mendorong pintu didepannya, diapun melangkah masuk, Sancaka tertegun sejenak, rasa-rasanya dia pernah melihat ruangan ini, pemuda itu menepuk keningnya, dia ingat bahwa dia pernah bermimpi tentang ruangan ini.

“Mau masuk tidak?”, mendengar suara itu Sancaka refleks menoleh, dilihatnya Tantri duduk dikursi tinggi didepan semacam mini-bar di sudut sebelah kiri, gadis cantik itu mengenakan kimono merah darah. Bagian samping kimono itu memperlihatkan kaki jenjangnya yang putih mulus.

Dengan gugup Sancaka menganguk-anggukan kepalanya dan segera menutupkan pintu dibelakangnya, “Jangan lupa dikunci”, perintah gadis itu.

Setelah menguncikan pintu itu Sancaka melangkah kearah mini-bar dimana Tantri berada, Tantri mengawasi semua gerak-gerik pemuda itu dengan pandangan mata tajam dan dingin.
Tantri segera menyodorkan segelas anggur merah kepada Sancaka setelah pemuda itu duduk di kursi tinggi dihadapannya.

Tantri mengangkat gelasnya ke bibirnya, “Suka yang kamu lihat di sungai tadi siang?”, katanya dengan pandangan mata tajam kearah Sancaka.
Sancaka yang saat itu sedang mimum langsung tersedak dengan muka pucat pasi.
Tantri yang melihat reaksi pemuda itu langsung tertawa lepas sambil menurunkan gelasnya, “Kayaknya percuma aku masih mengenakan kimono ini … padahal kamu sudah melihat semuanya siang tadi”, katanya sambil tersenyum manis.

Sancaka tambah gugup dibuatnya, gadis itu dengan senyum manisnya menjadi semakin cantik saja dimata Sancaka.
Sejak awal melihat Tantri memang Sancaka merasa pernah melihat gadis ini entah kapan dan dimana.

“Aku punya penawaran menarik untukmu”, kata gadis itu sambil menjulurkan kakinya kearah selangkangan Sancaka.
Ujung kaki gadis itu membelai-belai dan sesekali menekan batang penis Sancaka yang ada didalam celananya. Terdengar tawa geli gadis itu menyadari betapa batang penis pemuda itu rupanya sudah bangun dengan tegang.

“Kamu tahu siapa aku? Selain sebagai Selir Utama Tuan Frantzheof de Van Pierre tentunya”, tanya gadis itu tanpa menatap Sancaka, matanya asyik mengamati selangkangan pemuda itu sambil kakinya terus mempermainkan batang penis Sancaka.

Sancaka terlihat diam dengan kening berkerut, darimana dia tahu siapa gadis ini, walaupun dia merasa pernah mengenal Tantri entah kapan dan dimana.

“Kalau kamu tahu siapa aku … aku akan mengijinkanmu menyetubuhiku malam ini … kalau kamu tidak tahu siapa aku … aku hanya akan mengijinkanmu menciumku malam ini … dibagian manapun yang kamu inginkan ….”, katanya lagi tanpa menghentikan aktifitas kakinya.

“Bagaimana? Sebuah penawaran yang cukup menarik bukan?”, lanjut gadis itu, “Aku kasih waktu sampai dengan anggurmu habis …. aku tunggu jawabanmu diatas pembaringan merah itu”, dan Tantri segera berdiri dan melangkahkan kakinya karah pembaringan merah ditengan ruangan itu.

Sambil berjalan gadis itu melepaskan kimononya, dan setelah berada diatas pembaringan itu Tantri kemudian berbaring miring menghadap Sancaka sambil tersenyum manis.

Betatapun kerasnya Sancaka berusaha dia tidak dapat lagi berpikir jernih, nafsu birahinya telah naik ke kepala, ditambah lagi pose tubuh Tnatri yang sangat menggoda semakin membuat pemuda itu menerkam tubuh Selir Utama Tuan Frantzheof de Van Pierre itu.

Dihabiskannya minumannya dan diapun melangkah gontai kearah pembaringan itu.

“Maaf … aku sungguh tidak tahu”, kata Sancaka setelah berdiri disisi pembaringan itu.

Tantri hanya tersenyum dan berkata, “Buka semua bajumu … aku ingin melihat tubuh telanjangmu dengan demikian kita impas …. dan sesuai perjanjian tadi … kamu boleh menciumku dibagian manapun yang kamu inginkan”, gadis itu bergulir ke tengah pembaringan dengan posisi terlentang.

Sancaka kembali memandang takjub melihat tubuh molek gadis itu, dibukanya pakaiannya satu-persatu, keudian diapun naik ke pambaringan itu, Tantri hanya memandangnya sambil tersenyum, Sancaka segera mengambil posisi menindih tubuh tantri, dipeluk dan dikecupnya bibir gadis itu, Tantri membalas dengan penuh gairah, ciuman Sancaka merambat turun ke leher dan buah dada gadis itu, ganasnya sancaka menetek didadanya membuat Tantri mendesis-desis sambil meremas-remas rambut pemuda itu.
Setelah puas menetek Sancaka merayap turun kearah selangkangan gadis itu, dilumat, disedot dan dijilat-jilatnya dengan kuat bibir serta liang vagina gadis itu, Tantri meliuk-liuk keenakan, tangannya tidak lagi meremas-remas rambut pemuda itu, melainkan kini menekankan kepala pemuda itu sekuat-kuatnya keselangkangannya.

Tak lama kemudian terdengar Tantri menggeram, pantat gadis itu terangkat sejenak dan terhempas kembali, tubuhnya tersentak-sentak dan pahanya menjepit kuat kepala Sancaka. Gadis itu telah mencapai puncak orgasmenya.

Dengan sigap gadis itu bangun dan mendorong kuat tubuh Sancaka hingga jatuh terlentang, diterkamnya tubuh pemuda itu, dijilatnya telinga pemuda itu sambil berbisik, “Diam dan nikmati … sesuai perjanjian kamu tidak boleh menyetubuhiku … tetapi aku boleh memperkosa kamu, bukan?”, digenggam dan diarahkannya batang penis Sancaka, setelah pas dan kepala penis itu membelah bibir vaginanya, Tantri segera menekan dengan kuat, gadis itu menggeram dan menggigit leher Sancaka.

Sancaka meremas kedua bongkahan pantat gadis itu, ditahannya gerakan pantat gadis itu sejenak.
Lubang vagina gadis itu terasa masih sangat ketat mencengkeram batang penisnya, apa mungkin hanya sesekali saja gadis ini melayani nafsu birahi Tuan Frantzheof de Van Pierre.
Masih sangat ketat seperti liang vagina Ratih pada waktu baru dua-tiga kali mencicipi serangan batang penisnya dulu.

Merasa remasan dan tekanan tangan pemuda itu dipantatnya telah berkurang, Tantri mulai memompa batang penis Sancaka dengan gerakan perlahan sambil menjilat-jilat telinga pemuda itu, kemudian gadis itu dengan ganas melumat bibir Sancaka.

Melihat betapa pemuda itu merem-melek keenakan Tantri hanya tersenyum, jilatannya berpindah keputing pemuda itu, kini ganti dia yang menjilat dan menyedot puting susu pemuda itu dengan ganas, gerakannya mulai makin cepat tak beraturan, remasan liang vagina gadis itu membuat Sancaka tak bakal kuat bertahan lebih lama lagi, pemuda itu memeluk dengan kuat dan mulai ikut menggoyangkan pantatnya menyambut.
Tantri mendesis geram, “Kamu memang bandel … disuruh diam malah goyang”, digigitnya dada pemuda itu, gerakan gadis itu makin cepat dan kuat, “kamu memang pemuda sialan … aku sudah hampir tak kuat lagi”, lanjutnya dengan nafas memburu.

Sancaka tak jauh berbeda, diremasnya rambut gadis itu dengan kuat, pemuda itu mengejang kuat dan berusaha mengangkat pantatnya setinggi mungkin, batang penisnya berdenyut-denyut dengan kuatnya, Tantri berusaha menghempas-hempaskan pantatnya dengan kuat, dan pertahanan pemuda itu amblas sudah, penisnya menyembur dengan kuat kedalam liang vagina gadis itu.
Tantri menekankan pantatnya dengan kuat, diapun telah mencapai orgasmenya.

Dilumatnya habis-habisan bibir pemuda itu, “Mulai hari ini kamu adalah budak seks milikku … aku berhak memperkosa kamu kapanpun aku mau”, kemudian diapun bergulir kesamping pemuda itu, “kecuali kamu bisa mengingat siapa aku … kamu baru bisa bebas dari perbudakan” lanjutnya sambil tertawa geli.

Sancaka menoleh dan memandang kearah gadis itu, memangnya siapa yang nggak mau menjadi budak seks gadis secantik kamu pikirnya.

“Kalau begitu aku nggak bakalan berusaha mengingat-ingat itu … ntar aja ngingatnya kalau udah bosan diperkosa”, goda Sancaka.

“Sialan kamu yah”, jerit Tantri sambil berusaha mencubit pinggang pemuda itu. Sancaka berusaha mengelak dan menangkap tangan gadis itu. Kedua insan itu saling bercanda dengan mesra.

“TANTRI!”, terdengar gema suara geram melengking di kejauhan, Tantri refleks meloncat dari pembaringan saking takutnya, “Celaka … Dia sudah pulang”, desis gadis itu.

Dengan cepat gadis itu berlari kesana kemari menutup seluruh jendela yang terbuka, setelah itu mendorong lemari disamping pembaringan, “cepat lari keruang bawah tanah … ikuti terus lorong dibawah sana sampai keluar dan cepat kembali ke villa tempatmu tinggal”, suara gadis itu membayangkan ketakutan dan kecemasan. Tampak semacam pintu dengan anak-tangga menurun disana.

Gadis itu meraih botol besar berisi cairan bening bertangkai panjang dengan semacam balon diujungnya, dan mulai menyemprotkan isi botol hampir keseluruh ruangan, tercium wangi melati yang sangat kuat, sejenis farfum agaknya.

Sancaka masih berdiri tertegun memperhatikan semua itu.

“Cepat lari … kalau ketahuan kita bisa mati”, sentak gadis itu sambil mendorong pemuda itu kearah lorong bawah tanah.

Dikecupnya sebentar bibir Sancaka, “Hati-hati” bisiknya sebelum menarik lemari dan menutup jalan ke ruang bawah tanah itu.

Sancaka tahu siapa yang dimaksudkan gadis itu, diapun tak mau tertangkap basah telah menggauli selir kesayangan majikannya, tak ingin berlama-lama disitu, segera diraihnya sebatang obor yang tertancap didinding dan mulai menuruni tangga ke bawah.