Vampire, The UnTold Stoy (Episode 6)
TERJEBAK DI VILLA DARAH

Tangga menurun itu cukup landai dan berbentuk seperti sebuah setengah lingkaran besar, akan tetapi karena permukaan tangga itu sudah mulai ditumbuhi dan dipenuhi lumut maka entah berapa kali pemuda itu nyaris jatuh tergelincir.

Setelah menuruni tangga itu lebih kurang sepuluh meteran, akhirnya Sancaka menginjakkan kakinya di lantai ruang bawah tanah itu, ruang bawah tanah itu berbentuk memanjang dengan langit-langit melengkung, seperti di anak tangga menurun tadi, ruang bawah tanah ini setiap beberapa meter diterangi dua buah obor, satu dikiri satu dikanan.

Lebar ruang bawah tanah itu sekitar duabelas meteran, terbagi menjadi tiga bagian memanjang, di kiri seperti kolam, dan dibagian tengah seperti sebuah jalan, sedangkan bagian sebelah kanan sama seperti bagian sebelah kiri juga seperti sebuah kolam. Yang menarik perhatian Sancaka adalah permukaan kolam itu ditutupi oleh semacam jeruji dari besi bundar yang cukup besar.

Pemuda itu mendekati bibir kolam sebelah kiri dan mengarahkan obor ditangannya keatas permukaan kolam itu, akan tetapi tidak terlihat tanda-tanda dasar kolam itu, menandakan betapa dalamnya kolam itu.
Pemuda itu tak habis pikir untuk apa kolam itu dibangun di ruang bawah tanah seperti ini, yang lebih mengejutkan adalah batang-batang jeruji besi yang malang-melintang hanya beberapa jari diatas permukaan kolam itu dipenuhi duri-duri besi seperti mata anak panah bentuknya, tampak runcing dan tajam dengan jumlah banyak sekali, semua duri tajam itu mengarah kebawah kearah kolam.
Seakan seluruh permukaan kolam itu dipasang jeruji semacam itu untuk mencegah sesuatu keluar dari kolam itu, entah makhluk seperti apa yang berada didalam kolam itu, akan tetapi jelas pemasangan jeruji semacam itu menunjukkan kalau mahkluk itu sangat berbahaya.
Penasaran pemuda itu melangkah ke arah kolam sebelah kanan dan menemukan hal yang sama.

Setelah puas mengamati dan tak mampu menemukan alasan keanehan di kedua kolam itu maka Sancaka mulai melangkah maju menyusuri jalan ditengah ruang bawah tanah itu.
Setelah sampai ditengah barulah sancaka dapat melihat bagian diujung sana, ternyata ruang bawah tanah ini cukup panjang, mungkin ada sekitar seratus meteran lebih. Kolam yang memanjang dikiri dan kanan jalan yang dilalui Sancaka hanya sampai kira-kira sepertiga panjang ruang bawah tanah ini saja.
Sepertiga bagian diujung sana merupakan ruangan dengan lantai yang luas. Hanya saja bagian diujung sana kurang diterangi oleh penerangan karena banyak tiang-tiang obor disekeliling lantai itu yang agaknya tidak menyala.

Ketika Sancaka telah mendekati bagian lantai yang luas itu, pemuda itu melihat ada empat rantai ukuran sedang yang berwarna putih kekuningan yang memanjang dari dasar bagian tengah-tengah lantai kearah langit-langit. Rantai-rantai tampak bergoyang dan mengendur, mata pemuda itu dengan penasaran mengikuti arah rantai itu.

Reflek pemuda itu meloncat mundur dan menjerit tertahan, obor ditangannya nyaris lepas, betapa tidak, pemuda itu seakan melihat hantu ketika sesosok bayangan hitam melayang turun bersamaan dengan mengendurnya rantai itu.
Jantung pemuda itu berhenti berdenyut dan mukanya pucat pasi, matanya tak lepas kearah sosok bayangan hitam itu, walaupun lututnya terasa goyah gemetar saking takutnya.

Sedetik kemudian pemuda itu menjerit histeris, melemparkan obor ditangannya dan langsung berbalik serta lari tunggang-langgang ketika sosok hitam itu melesat cepat kearahnya diikuti bunyi gemerincing yang nyaring.
Sancaka berlari sekuat dia mampu, dan langsung menaiki tangga yang tadi dituruninya, baru beberapa anak tangga pemuda itu telah tergelincir dan jatuh tersungkur, tangan dan kakinya terasa nyeri bukan main karena terbentur sudut-sudut anak tangga itu.
Sambil mengelus tangan dan kakinya pemuda itu melihat kearah belakang, ternyata sosok bayangan hitam itu masih mengejarnya, hanya saja kini tidak melesat cepat hanya melayang dan mengambang perlahan kearahnya.
Rasa nyeri ditangan dan kakinya membuat pemuda itu tidak dapat bergerak lagi. Dia hanya bisa diam pasrah menunggu. Tampak keringat dingin telah bermunculan di kening pemuda yang ketakutan setengah mati itu.

Ketika sosok bayangan hitam itu hampir sampai di anak tangga pertama, Sancaka tidak kuat lagi menahan takutnya, pemuda gagah itu langsung terkulai dan jatuh pingsan.

****

Sancaka membuka matanya, tubuhnya terasa dingin, setelah bangkit duduk barulah ia menyadari bahwa ia tadi terbaring diatas semacam altar dari batu pualam putih, ukuran altar ini cukup besar paling tidak berukuran dua kali tiga meter.
Matanya nanar memandang ke sekeliling, dia masih berada di ruang bawah tanah sialan ini rutuknya. Pemuda itu meraba bagian belakang kepalanya yang terasa sakit, agaknya karena terbentur sudut anak tangga ketika dia pingsan tadi.

Sancaka meloncat turun dengan muka pucat, dia baru teringat dengan sosok bayangan hitam yang menakutkan itu.

“Namamu Sancaka bukan?”, terdengar suara seperti suara wanita berbisik di telinga kanan Sancaka.

Refleks Sancaka menoleh kekanan, “Iya … ben..”, jawaban pemuda itu terhenti karena tidak ada seorangpun disebelah kanannya.

“Ada yang hilang anak muda?”, kembali terdengar suara seperti suara wanita itu berbisik di telinga kiri Sancaka, pemuda itu refleks menoleh kekiri dan langsung jatuh tersungkur, sebuah tamparan kuat hinggap dipipi pemuda itu sebelum ia sempat melihat suara siapa itu.

“Diam dan jangan bergerak tanpa kuperintah!”, terdengar suara seperti suara wanita itu membentak dengan marahnya.

“Pertama … kau tidak akan dapat keluar dari tempat ini melalui pintu darimana engkau masuk … karena pintu itu hanya berfungsi satu arah saja”, terdengar kembali bisikan di telinga kiri Sancaka.

“Kedua … kau tidak akan dapat keluar melalui jalan lain tanpa bantuanku”, kini bisikan itu terdengar di telinga kanan Sancaka.

Pemuda jangankan bergerak, menoleh saja dia sudah tidak berani lagi.

“Sekarang bangun dan berdiri diatas altar itu!”, terdengar suara itu membentak lagi. Sancaka segera bangun dan naik berdiri diatas altar itu. Tampak bayangan hitam berkelebat kesekeliling ruangan dimana altar itu berada dan kini bagian ujung ruang bawah tanah itu menjadi terang benderang, kiranya bayangan hitam itu telah menghidupkan seluruh obor yang ada.

Sancaka melihat sosok bayangan hitam itu masih mengambang melayang di sudut kanan setelah menghidupkan tiang obor terakhir dilantai itu, sosok bayangan itu kemudian berbalik dan melayang mendekat kearah Sancaka.

Sosok bayangan itu berhenti persis didepan sancaka, kemudian tangannya bergerak keatas menyingkapkan tudung kepalaya, Sancaka mengawasi dengan lutut gemetar, sekuat tenaga pemuda itu menahan rasa takutnya.

Sesosok wajah muncul dihadapan pemuda itu, sosok wajah yang membuat Sancaka menatap terbeliak, sesosok wajah yang cantik jelita dengan senyum manis muncul dari balik tudung hitam itu.
Sosok bayangan hitam yang begitu ditakutinya ternyata adalah seorang wanita cantik, bodoh dan memalukan sekali kau ini makinya pada diri sendiri.

Melihat reaksi Sancaka wanita itu tertawa geli, seluruh bulu roma ditubuh Sancaka langsung berdiri, pemuda itu melihat betapa diantara barisan giginya yang putih rapi dan bagus itu, gigi taring wanita itu lebih panjang dari barisan giginya yang lain, walapun tidak sedikitpun mengurangi kecantikan wanita itu tetapi tetaplah menimbulkan kesan seram bagi Sancaka.

Tangan wanita itu kembali bergerak menanggalkan jubah hitam tebal yang dikenakannya, kembali Sancaka melongo dengan jakun turun naik.
Wanita itu kini hanya mengenakan gaun putih tipis yang membayangkan lekak-lekuk tubuhnya yang jelas tidak mengenakan apa-apa selain gaun tipis itu. Bentuk tubuh yang memang indah dan ditambah wajah yang cantik itu membayangkan kedewasaan wanita yang sudah matang.
Ukuran bahu, pinggang dan pinggulnya, buah dada yang cukup besar bulat menantang, belahan gaun di bagian pinggul itu memperlihatkan kedua pahanya yang putih mulus dengan kaki yang jenjang, membuat tubuh itu benar-benar sempurna.

Hanya pandangan pemuda itu sedikit terpaku pada pergelangan tangan dan kaki wanita itu, ada belenggu dengan rantai panjang berwarna putih kekuningan dimasing-masing pergelangan itu.
Hanya saja tidak terlihat bekas-bekas luka disana, seakan si wanita dapat mengenakan belenggu itu dengan nyaman-nyaman saja, tidak sedikitpun membuatnya terganggu.

Wanita itu melayang semakin mendekat dan menjejakkan kakinya tepat dihadapan pemuda itu, wajahnya hanya terpisah beberapa jari dari wajah Sancaka, hembusan nafasnya yang hangat dan harum menerpa wajah pemuda itu, “Namaku Rianti … Untuk dapat keluar dari sini kau harus memberikan tiga macam kepuasan bagiku” bisiknya.

Kedua tangan Rianti mulai bergerak menanggalkan seluruh pakaian Sancaka, binar dimatanya menunjukkan bahwa dia menyukai apa yang dilihatnya. Rianti pun kembali melayang sedikit menjauhi Sancaka sambil menanggalkan seluruh pakaiannya.

“Kauperhatikan rantai yang membelengguku ini … disetiap pangkalnya terdapat sebuah rol penggulung rantai dengan mekanisme pengunci … gulung dan kencangkan rantai-rantai ini serta kuncikan”, perintah Rianti, kemudian tubuhnya melayang dalam posisi terlentang dengan ketinggian kira-kira sepinggang Sancaka.

Sancaka bergerak kearah salah satu pangkal rantai itu didinding, ada sejenis rol dengan roda penggulung dilengkapi pengait di roda-roda giginya, jika pengait itu diturunkan maka roda gigi tidak dapat berputar, agaknya itulah mekanisme pengunci yang dimaksud Rianti tadi.
Sancaka memutar roda penggulung itu dan terdengar gemerincing rantai yang tertarik, agaknya yang sedang diputarnya ini adalah bagian rantai di tangan kanan Rianti. Sancaka terus memutar sementara Rianti tampak menahan, “Cukup … Kuncikan!” dan pemuda itu segera memasang pengait keroda gigi penggulung itu setelah mendengar teriakan Rianti
Setelah keempat rantai itu tertarik kencang, kini posisi Rianti tampak terlentang mengambang dengan kaki dan tangan terpentang lebar seperti orang hukuman.

“Tugas pertamamu … tunjukkan keperkasaanmu, setubuhilah aku yang tak berdaya ini dengan buas sesukamu sampai terpuaskan nafsuku!”, perintah wanita itu.

Sancaka terbengong sejenak, tidak salahkah pendengarannya, ataukah memang wanita cantik ini memiliki kelainan jiwa.

“Setan kau Sancaka … tidak kau dengarkah perintahku!”, Rianti menjerit histeris.

Sancaka segera mendekat kearah selangkangan wanita itu, belahan vagina itu terlihat masih rapat, agaknya sudah sekian lama tidak terjamah. Aroma khas yang tercium dari sana mulai membuat batang penisnya bangun berdiri.

Tangannya meraba mulai dari paha dan terus keatas, kemudian diremas-remasnya buah dada Rianti, sambil menggesek-gesekan kepala penisnya dibelahan vagina wanita itu. Rianti hanya diam dengan mata dan mulut terkatup rapat.

Sancaka mulai tak tahan lagi, siapa yang tahan disuguhi tubuh molek seperti ini pikirnya, diarahkannya kepala penisnya ke belahan vagina Rianti, Sancaka berusaha menekan dan kepala penisnya mulai membelah bibir vagina wanita itu.
Hanya saja setelah kepala penisnya masuk terasa betapa liang vagina Rianti menjepit kuat seakan tak merelakan batang penis Sancaka untuk menerobos lebih jauh.

Sancaka kembali mendorong akan tetapi kepala penisnya hanya berhasil maju sedikit saja, jepitan liang vagina Rianti benar-benar menghalangi gerakannya.
Sancaka segera memegang pinggul Rianti dan segera mengambil ancang-ancang, tidak mungkin aku tak sanggup menembus pertahananmu tekad pemuda itu, kedua tangannya menarik pinggul itu kuat-kuat dan bersamaan dengan itu ia menggerakkan pinggulnya dengan dorongan kuat.

Batang penis Sancaka menembus jepitan kuat liang vagina Rianti, pemuda itu merasakan sedikit ngilu di kepala penisnya, “Terkutuk!” jerit Rianti dan kepalanya terkulai, liang vaginanya masih berusaha menjepit dengan kuat.

Sancaka gemas juga mendengar makian-makian Rianti sejak tadi, diapun mulai terbakar emosi, dengan tanpa ragu-ragu lagi dia mulai menghunjam-hunjamkan penisnya dengan kuat ke liang vagina Rianti.

Perlawanan gadis itu mulai mengendur, jepitan liang vaginannya sudah tak sekuat tadi, akan tetapi mulutnya terus-menerus memaki-maki Sancaka dengan segala macam sumpah serapah.
Sancaka terbakar sudah emosinya, sumpah serapah Rianti dibalasnya dengan hunjaman-hunjaman cepat dan liar.

Jepitan-jepitan liang vagina Rianti disetiap hunjaman batang penisnya tak urung menambah kenikmatan bagi Sancaka.
Tetapi pemuda itu tetap berusaha bertahan, dia ingin menunjukkan kepada wanita aneh ini bahwa dia sanggup memberikan kepasan padanya.
Untungnya pertempuran dengan Tantri sebelumnya telah sedikit membantu membuat pertahanan Sancaka tidak lekas jebol.

Sampai akhirnya Rianti mengejang hebat dan meronta-ronta tak terkendali, “Terkutuk! … Terkutuk!”, jeritnya histeris.
Tangan dan kakinya menyentak-yentakkan rantai yang mengekangnya, keempat rol penggulung itu sampai berderak-derak dibuatnya.
Sancaka meloncat mundur dan terlongong bingung.

Setelah Rianti tidak lagi tersentak-sentak Sancaka melangkah mendekati tubuh yang tergantung itu. Dilihatnya ada sisa-sisa aliran air mata di pipi Rianti, “Lepaskan semua pengait rantai terkutuk itu Sancaka”, bisik wanita itu merintih.

Sancaka berlari melepas semua pengait itu, tubuh Rianti jatuh terkulai dilantai. Sancaka segera berlari kembali dan merengkuh tubuh Rianti kedalam pelukannya. Rianti terisak didada pemuda itu.

“Terima kasih Sancaka … aku masih belum mampu melupakan peristiwa terkutuk itu … peristiwa terkutuk ketika aku diperkosa dulu”, rintih Rianti, “peristiwa yang paling kubenci … tapi dasar terkutuk … peristiwa itu pula yang pertama memperkenalkan kenikmatan itu padaku”.

Sancaka membiarkan Rianti menangis sepuasnya.

****

Setelah puas menangisi diri, Rianti segera bangkit berdiri, kini gadis itu memandang mesra kearah Sancaka sambil tersenyum manis.
Tak sedikitpun tampak sisa-sisa kesedihannya tadi, benar-benar wanita yang aneh pikir Sancaka.

“Sekarang tugas keduamu Sancaka … aku ingin kau mencumbu aku dengan penuh kemesraan dan luapan birahi”, katanya.

Rianti kemudian melayang tinggi kelangit-langit ruang bawah tanah itu, dan melayang turun kembali sambil duduk diatas semacam ayunan dari jalinan kain-kain sutera warna-warni yang juga tergantung pada dua rantai yang juga berwarna putih kekuningan.
Dan ayunan itu berhenti diketinggian yang pas sama dengan Sancaka yang dalam keadaan berdiri.

Sejenak ia membiarkan mata pemuda itu kembali menjelajahi tubuh telanjangnya, setelah itu dengan jari telunjuknya ia memberi isyarat agar pemuda itu mendekat kearahnya.
Sancaka dengan gemetar melangkah mendekat kearah Rianti dengan nafas yang sudah tak terkendali lagi.
Melihat pemuda itu masih dapat menahan diri walaupun jelas terlihat betapa sudah sangat ingin menerkam tubuh telanjangnya membuat Rianti semakin menyukai pemuda itu.

Setelah langkah Sancaka semakin dekat wanita itu membentangkan tangannya menyambut, Rianti membuka kedua pahanya dan dengan perlahan mengaitkan kakinya ke sekeliling pinggul pemuda itu, sehingga gerakan maju pemuda pas berhenti dengan posisi batang kemaluannya yang sudah tegang itu bergesekan dengan belahan vagina Rianti.
Rianti memejamkan matanya dan mendesis lirih.

Sancaka sudah tidak dapat menahan diri lagi, segera dipeluknya tubuh telanjang itu, dipagut dan dilumatnya bibir Rianti, Rianti pun membalas tak kalah ganasnya.

Kedewasaan Rianti dan semakin berpengalamannya Sancaka membuat keduanya dengan mudahnya menyelaraskan gerakan dan posisi pinggul masing-masing. Dengan mudah kepala penis Sancaka menemukan menyusup ke dalam liang vagina Rianti.
Dengan satu sentakan seluruh batang penis pemuda itu langsung menghunjam kedalam vagina Rianti.
Lumatan bibir keduanya langsung terhenti berganti desahan dan geraman nikmat.

Sancaka langsung menyambar dan dengan ganas mulai melumat buah dada Rianti, Rianti mendesis dan berusaha mengimbangi dengan mengoyang-goyangkan pingulnya. Liang vagina Rianti mulai menunjukkan jati dirinya, liang vagina wanita itu rupanya memiliki otot-otot yang sudah terlatih sempurna, Sancaka menyedot kuat puting susu wanita itu dan menggeram nikmat merasakan remasan dan sedotan liang vagina Rianti.

Pemuda itu tidak mau kalah telak dalam pertempuran perdana ini, ditegakkannya tubuhnya dan dibukanya jepitan kaki wanita itu, dipegangnya kedua pergelangan kaki Rianti dan kemudian dibentangkannya selebar mungkin.
Sancaka mulai menggerakkan pingulnya memompa dan menghunjamkan batang penisnya keluar masuk liang vagina wanita itu, membuat Rianti mendesis nikmat sambil meremas-remas buah dadanya sendiri.
Semakin lama gerakan Sancaka semakin cepat dan kuat, diiringi bunyi plak-plok dan sumpah serapah yang keluar dari mulut Rianti. Agaknya benar bahwa kenikmatan membuat mulut wanita itu menjadi tidak terkontrol.
Anehnya seperti tadi, semua sumpah serapah itu semakin menyemangati gerakan Sancaka, membuat gerakan pemuda itu semakin liar dan ganas.

Sampai suatu saat Rianti mendelik dan menjerit nyaring, “Seetaan!”, terdengar suaranya menggeram dan kakinya menyentak kuat, dan tubuhnya bergetar hebat melenting-lenting seperti cacing kepanasan dengan kedua tangan menutup muka, penis Sancaka sampai tercabut dari liang vaginannya, Sancaka berusaha tetap memegang pergelangan kaki wanita itu walaupun cukup sulit dan membuat lengannya terasa ngilu.
Hebatnya tubuh Rianti tidak terjatuh dari ayunan itu, tubuhnya melayang sesuka hatinya seperti tidak mengakui adanya hukum gravitasi.
Cukup lama sampai tubuh wanita itu mulai tenang dan hanya terdengar suara nafasnya yang terengah-engah.

Rianti memandang mesra kearah Sancaka, “Setan kamu Sancaka! Sudah lama aku tidak merasakan kenikmatan terkutuk ini!”, makinya sambil tersenyum manis.
Tangannya terjulur dan Sancaka mengerti segera dipeluknya tubuh gadis itu, “Kamu sudah memenuhi permintaanku dan telah memberikan kepuasan yang kedua”, bisik gadis itu, Sancaka hanya tersenyum dan langsung menyambar bibir gadis itu, kembali keduanya berciuman dengan ganas.
Rianti membiarkan pemuda itu kembali menetek dengan ganas didadanya, tangannya meremas-remas rambut pemuda itu dengan gemas.

Ditahannya kepala pemuda itu dan didorongnya menjauh, Sancaka terpaksa menghentikan kesenangannya sejenak, Rianti melayang turun dari atas ayunan itu.
Dengan gerakan jari telunjuknya ia memberi perintah, dan Sancaka dapat dengan mudah mengerti maksud wanita itu.
Kini gantian dia yang duduk diatas ayunan sutera itu, tangannya berpegang pada pangkal ayunan itu. Rianti segera melayang keatas dan menduduki tubuh pemuda itu.

Tangan kanannya menekan dada Sancaka dan tangan kirinya terjulur kebelakang, diraihnya batang penis pemuda itu, diangkatnya pantatnya dan diarahkannya kepala penis pemuda itu ke liang vaginanya.

Rianti tersenyum manis kearah Sancaka, “Sekarang giliranmu untuk diam dan jangan membalas”, bisiknya dan mulai menurunkan pantatnya, batang penis pemuda itu kembali memasuki lorong kenikmatan yang tadi meninggalkannya.
Rianti mulai memompa sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya, kembali remasan dan sedotan liang vagina wanita itu membuat Sancaka mengejang keenakan, ingin sekali dia meremas-remas buah dada yang menggantung dihadapannya tetapi kedua tangannya harus dipergunakan bergantung pada ayunan sialan ini, membuat pemuda itu hanya dapat menggeram keenakan.

Rianti tampaknya benar-benar ingin menaklukkan pemuda itu, gerakan pinggulnya cepat dan terkontrol baik, Sancaka benar benar tak dapat bertahan lagi. Mata pemuda itu terpejam rapat dan tarikan nafasnya nafasnya mulai tersendat-sendat. Sancaka mendongakkan kepalanya mencoba bertahan dari deraan kenikmatan yang diberikan Rianti.

Pemuda itu tak melihat betapa mata Rianti berkilat melihat urat nadi di leher Sancaka yang membesar dan berdenyut kencang.

Tepat ketika Sancaka telah mendekati detik-detik akhir pertahanannya, Rianti membungkuk dan membenamkan mukanya keleher pemuda itu, gerakan pinggulnya menjadi liar tak terkendali, dan tepat ketika Sancaka mengeram kuat dan sedang terhempas di puncak kenikmatan, pemuda itu memeluk erat tubuh Rianti dan tak sedikitpun merasakan ketika Rianti segera menancapkan taringnya ke urat nadi dileher pemuda itu.

Kenikmatan yang amat sangat ditambah terputusnya sebagian aliran darah keotaknya membuat pemuda itu terkulai pingsan dalam pelukan wanita itu
Rianti melepas pagutannya, dia tidak ingin membunuh pemuda itu, dahaganya telah terpenuhi sudah.
Tanganya menyeka bibirnya yang sedikit berlepotan darah, bibir itu tersenyum manis sekali, dikecupnya kening Sancaka dan berbisik, “Kepuasan ketiga”, dengan sekali kelebatan saja Rianti sudah menghilang dari tempat itu.

****

Sancaka terbangun dengan kepala yang terasa berat, dia mencoba memandang ke sekelilingnya, akan tetapi pandangannya terasa berkunang-kunang, tubuhnya terasa lemah sekali.
Rupanya dia masih terbaring diatas altar yang sama.
Sancaka berusaha turun dari altar itu, akan tetapi seluruh persendiannya terasa goyah, diapun kembali tersandar di altar itu.

“Duduk dan beristirahatlah dulu … kau tak akan dapat keluar dengan tubuh lemah seperti itu”, terdengar suara Rianti menegurnya, dan tampak gadis itu melayang mendekat dengan nampan besar ditangannya.

“Makanlah agar tenagamu segera pulih”, lanjut gadis itu sambil menyusun makanan diatas altar itu dari nampan yang dibawanya.

Sancakapun tidak mau membantah, pemuda itu makan dengan lahapnya. Rianti hanya diam dan duduk diatas ayunannya memperhatikan sambil tersenyum.

Setelah makan Sancaka merasa lebih baik. Dan baru pemuda itu menyadari lehernya sebelah kiri terasa nyeri, dirabanya dan terasa ada dua bekas luka kecil yang telah mengering disana. Akan tetapi dia tidak tahu bekas luka apa itu.

“Itu luka bekas gigitanku … masih sakitkah?” terdengar suara Rianti menjelaskan.

“Tidak … lain kali kalau mau gigit pelan-pelan yah”, jawab Sancaka tertawa. Tidak menyadari bahwa gigitan Rianti bukanlah gigitan sembarangan.

Rianti hanya tersenyum manis, dan tidak memberikan penjelasan lebih jauh.

****

Akhirnya dengan bantuan Rianti Sancaka dapat keluar dari ruang bawah tanah itu dan kembali ke Villa tempatnya tinggal, ketika ia keluar dari ruang bawah tanah itu hari sudah mulai siang. Sancakapun langsung mengambil kuda dan melaksanakan tugas hariannya, memeriksa perkebunan.