Vampire , The UnTold Story (Episode 7)
BAHAYA MULAI MENGANCAM

Sancaka menunggangi kudanya dengan perlahan sambil memeriksa perkebunan yang menjadi tanggung jawabnya, tubuhnya masih terasa lemah, agak sedikit kurang tenaga, hanya saja pemuda itu belum menyadari betapa dia cukup banyak kehilangan darah akibat gigitan Rianti semalam.

“Tuan Muda … Tuan Muda Sancaka!”, terdengar teriakan seseorang.

Sancaka menahan laju kudanya dan menoleh kearah sumber suara itu, ternyata Pak Udin yang memanggil-mangil namanya sambil memacu kudanya, “Selamat siang Tuan Muda … saya mendapat tugas dari Tuan Besar untuk menyampaikan beberapa hal kepada Tuan”, kata orang tua itu setelah menghentikan kudanya disisi Sancaka.

“Ya silahkan Pak udin … sambil jalan saja ya Pak”, kata Sancaka sambil menyentakkan tali kekang ditangannya, kudanya pun mulai berjalan lagi dengan langkah pelan.

“Baik Tuan Muda”, sahut orang tua itu sambil mengimbangi langkah kuda Sancaka.

Pak Udin mulai menyampaikan pengarahan-pengarahan dari Tuan Frantzheof de Van Pierre untuk Sancaka mengenai masalah-masalah perkebunan yang perlu mendapat perhatian khusus dari Sancaka.
Sancaka hanya mendengarkan dan sesekali mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Saya rasa hanya itu pesan-pesan dari Tuan Besar untuk Tuan Muda … kalau rasanya ada yang kurang jelas saya menyampaikannya mohon Tuan Muda menanyakannya langsung kepada Tuan Besar”, kata orang tua itu.

“Cukup jelas kok Pak Udin … yang disampaikan Pak Udin sudah cukup jelas … kalau Pak Udin tidak ada pekerjaan lain tolong temani saya memeriksa perkebunan hari ini”, kata Sancaka sambil tersenyum.

“Baik Tuan Muda”, sahut orang tua itu.

Demikianlah Pak Udin menemani Sancaka memeriksa perkebunan hari itu, karena para mandor lapangan telah mengerjakan pengarahan yang diberikan Sancaka hari sebelumnya, dan dilihat oleh pemuda itu semuanya sudah berjalan dengan cukup baik maka Sancaka tidak memberikan pengarahan tambahan hari itu kepada para mandor lapangan, dia hanya berkeliling dan mengawasi saja.
“Sudah siang nampaknya … sebaiknya kita istirahat dulu Pak Udin”, kata pemuda itu sambil membuka syal miliknya.

“Ya Tuan Muda … mungkin makan siang telah disiapkan di pondok istirah…ASTAGA!”, orang tua itu terdengar menjerit tertahan dan terjatuh dari kudanya karena tanpa sadar orang tua itu telah meloncat saking kagetnya.

“Ada apa Pak?”, tanya Sancaka kaget sambil menoleh kesana-kemari, dia tidak menemukan binatang buas atau ular atau sesuatu yang aneh yang dapat membuat orang tua itu menjadi kaget seperti itu.

“Tidak ada apa-apa Tuan Muda … Tidak ada apa-apa”, sahut orang tua itu dengan gugup sambil berusaha menaiki kudanya kembali.

Sancaka melihat betapa tangan orang tua itu sedikit gemetar dan raut mukanya menunjukkan ketakutan yang sangat.
Akan tetapi pemuda itu tidak berkomentar lebih jauh, akan kutanyakan nanti setelah istirahat dan makan siang pikir pemuda itu.

****

Sore itu Sancaka begitu sampai di Villa tempatnya tinggal langsung terduduk melamun di teras depan.
Begitu dalamnya pemuda itu tenggelam dalam lamunannya sendiri, sehingga tak menyadari seorang gadis telah berdiri cukup lama mengamati dibelakangnya, seorang gadis manis berkulit dengan postur tubuh tinggi semampai, mata sipit gadis itu memandang kasihan kearah Sancaka.

Gadis itu bernama Sari, selir ke-2 dari Tuan Frantzheof de Van Pierre, kulit putih dan mata sipitnya menegaskan daerah asalnya, sekuntum bunga dari Borneo yang telah berhasil dipetik oleh si Tuan Londo.

Gadis itu tadinya sedang membereskan kamar Sancaka, setelah mendengar kedatangan pemuda itu dan karena hari telah larut senja dan matahari sudah hampir tenggelam, dia pun keluar membawakan kimono untuk Sancaka, melihat Sancaka terduduk melamun diapun hanya terdiam memeluk kimono itu.

“Ehem…”, gadis itu berdehem kecil untuk menarik perhatian sancaka, karena sudah cukup lama dia berdiri disana dan agaknya pemuda itu sedikitpun tidak menyadari kehadirannya.
Buyarlah lamunan pemuda itu, ditolehnya kebelakang dan segera terlihat olehnya Sari yang tersenyum manis kearahnya.

Gadis itu melangkah ke hadapan Sancaka, kemudian berjongkok didepan pemuda itu sambil meletakkan kimono yang tadi dibawanya keatas pangkuan Sancaka dan mulai membuka sepatu Sancaka, “Apa sih yang dipikirkan Tuan … kok sejauh itu lamunannya … sampai-sampai nggak menyadari kehadiran gadis secantik Sari ini”, godanya sambil sesekali melirik kearah wajah pemuda itu.

“Nggak ada kok … cuma istirahat dan menikmati rokok”, jawab Sancaka sekenanya sambil tersenyum, diulurkannya tangannya membelai rambut gadis itu, “Ooo … Nggak ada apa-apa yach”, terdengar suara gadis itu bergumam sambil meletakkan sepatu Sancaka di bawah kursi teras itu.

“Kalo nggak ada apa-apa … berarti Sari boleh ngapa-ngapin nich”, kedua tangannya mengambil kimono dipangkuan Sancaka, membeberkan dan menyelimutkannya ke tubuh pemuda itu. Kemudian dia pun menyelinap kedalam dan mulai mengelus-elus batang penis yang masih tersimpan didalam celana pemuda itu.
Sancaka hanya tersenyum membiarkan.

Sari mulai membuka celana pemuda itu dan berusaha mengeluarkan batang penis yang telah mulai tegang itu. Sancaka menoleh kekanan-kekiri takut ada orang lain yang melihat keisengan gadis itu.
“Sari ini masih diteras … nanti dilihat orang”, bisik Sancaka setengah mendesis ketika Sari mulai mengulum dan menyedot kepala penisnya.
Sancaka hanya bisa terdongak dengan mata terpejam, tak bisa protes lagi ketika kuluman dan jilatan gadis itu semakin aktif.

Melihat usahanya membangkitkan kehidupan di dunia bawah pemuda itu telah berhasil, Sari segera melepaskan kulumannya dari kepala penis pemuda itu, “Males ach … Sari mau bobok di kamar aja .. terusin sendiri aja yach”, katanya bangkit berdiri dan melihat muka Sancaka yang sedikit bingung, gadis berlari ke arah kamar tidur sambil tertawa geli.

Sancaka segera mengejar gadis itu kedalam, gadis sialan pikirnya gemas, masak udah dikasih pemanasan terus ditinggal.

Diatas tempat tidur tampak Sari masih cekikian geli sambil terbaring terlentang dengan tangan terbuka lebar memberi sambutan. Sancaka segera menerkam gadis itu. Dilumatnya dengan ganas bibir gadis itu dan kedua tangannya segera membukai seluruh pakaiannya dan pakaian gadis itu.

Dipegang dan diangkatnya kedua lutut gadis itu dan dipentangkan kekiri dan kekanan, batang penisnya yang sudah tegak menantang sejak tadi segera mencari sasaran, kepala dan batang penisnya segera masuk dan tenggelam kedalam liang vagina gadis itu.

Sancaka mulai memompa dan menghentakkan pinggulnya, hunjaman yang cepat dan dalam dari batang penis Sancaka membuat gadis itu mendesah-desah dengan kuat, gadis itu berusaha menarik kepala Sancaka mengharapkan ciuman, akan tetapi Sancaka tidak mengindahkan dan terus memompa.
Sambil mempercepat gerakan pinggulnya Sancaka mulai melumat buah dada gadis itu, mulutnya mengulum da menyedot putting susu gadis itu dengan kuat.
“Auch .. Sari nggak kuat nahan enaknya” bisik gadis itu berulang-ulang sambil sesekali menjilat atau menggigit telinga Sancaka.

Sancaka pun sudah mendekati puncaknya, gerakan pinggulnya semakin cepat tak beraturan lagi, suara erangan dan desahan dari keduanya semakin kuat.
“Auch … dikit lagi … dikit lagi”, desahan dan rintihan Sari membuat gerakan pinggul Sancaka semakin cepat dan kuat, akhirnya dengan satu sentakan kuat Sancaka menghunjamkan seluruh batang penisnya ke dalam liang vagina gadis itu.
Keduanya saling berpelukan erat dan sama-sama menggeram nikmat, terlihat tubuh keduanya sesekali mengejang, menghabiskan sisa orgasme yang telah mereka capai disaat bersamaan tadi.

Sari mengulurkan tangannya kebawah, mengeluarkan batang penis pemuda itu dari liang vaginanya, dan mengurut batang penis itu dari bawah keatas, jari telunjuknya segera menumpulkan sisa cairan kenikmatan pemuda itu, untuk kemudian dengan nikmatnya dia mengulum jarinya itu.
Sancaka tersenyum geli dan mencubit hidung gadis itu, “Diantara selir-selir yang lainnya … kamu memang yang paling nakal”.
“Tapi suka khan?”, balas gadis itu sambil memeluk dan mengecup pipi Sancaka, “Capek dan gerah nich … mandi yuk” bisiknya lagi.

Sancaka mengangguk dan bangkit berdiri. Keduanya segera menuju tempat pemandian sambil terus bercanda.

****

Malam harinya, setelah sebelumnya memastikan bahwa Sari telah benar-benar tertidur pulas, Sancaka segera memacu kudanya kearah Villa Darah, malam ini bukanlah malam Bulan Purnama jadi pemuda itu dapat leluasa memacu kudanya tanpa takut ketahuan Tuan Frantzheof de Van Pierre.

Keterangan dari Pak Udin tadi siang masih membebani pikirannya, menurut Pak Udin gigitan di lehernya bukanlah gigitan sembarangan, gigitan yang dapat saja menimbulkan kematian, akan tetapi orang tua itu langsung bungkam tidak mau memberi keterangan lebih jauh.
Memang Sancaka tidak mau memberitahukan kepada Pak udin siapa yang telah menggigitnya ketika orang tua itu bertanya tadi siang.
Ditambatkannya kudanya agak jauh dibelakang Villa Darah.

Tanpa kesulitan Sancaka telah berada di pintu masuk ruang bawah tanah di Villa Darah, setelah meraih salah satu obor di dinding pemuda itu langung melangkah menuruni tangga kebawah.

Baru turun tiga anak tangga pemuda itu langsung tersenyum kagum ketika mendengar gema suara Rianti bertanya, “Ada apa kau kemari lagi Sancaka … Apa belum cukup tiga kepuasan yang kuberikan kemarin?”.

“Darimana kau tahu bahwa ini aku Rianti?”, tanya pemuda itu sambil terus berjalan menuruni tangga.

“Bau tubuhmu Sancaka … bau tubuhmu telah tercium olehku sejak saat kau membuka jalan masuk tadi … bau tubuh yang tercampur bau khas sisa-sisa bertempur memuaskan nafsu”, terdengar suara Rianti yang diiringi tawa geli wanita itu.

“Jangan bilang bahwa kau cemburu Rianti”, goda pemuda itu sambil terus menuruni tangga. Tidak terdengar jawaban wanita itu. Sancaka telah sampai di anak tangga terakhir, tidak terlihat Rianti disekitar tempat itu, pemuda itu langsung melangkah menuju ujung ruang bawah tanah itu.

“Jangan mempermainkan aku Rianti … ada sesuatu yang ingin kutanyakan”, kata pemuda itu sambil terus melangkah.

Setelah sampai dibagian ruangan dimana dia dan Rianti kemarin mengumbar nafsu birahi, barulah Sancaka menemukan sosok Rianti yang ternyata berbaring terlentang diatas altar ditengah ruangan itu dengan mata terpejam seperti orang tidur, Sancaka tertegun sejenak, bukan karena tubuh terlentang Rianti yang menggairahkan, tetapi karena kejanggalan yang tidak masuk logikanya, kalau wanita itu sejak tadi terbaring dialtar ini, bagaimana dia dapat mencium bau tubuh Sancaka dan bahkan bau sisa pertempurannya tadi dengan Sari sejak saat ia masuk ruang bawah tanah ini.

Melihat tidak ada reaksi dari Rianti, Sancaka segera mendekat dan duduk disamping tubuh terlentang yang memang menggairahkan itu, wanita itu mengenakan kimono sutera tipis warna ungu. Tangan Sancaka segera terulur menyingkap belahan baju didada wanita itu, tak tertahan pemuda itu langsung membungkuk dan menetek disana dengan penuh nafsu.
Ketika Sancaka mengangkat mukanya dilihatnya Rianti hanya memandangnya dengan tersenyum.

“Bagaimana maumu malam ini Sancaka … bertarung dulu baru bertanya ataukah bertanya dulu baru bertarung”, tanya Rianti sambil membelai pipi Sancaka dengan mesra.

Baru saja pemuda itu hendak membuka mulutnya menjawab, Rianti langsung menutup mulut Sancaka, “Ssst … aku ingin memberikan kepuasan buat kamu … anggap saja balasan untuk kepuasanku dalam pertarungan kemarin”, bisiknya.

Rianti bangkit duduk dan mendorong tubuh Sancaka hingga rebah terlentang, kemudian wanita cantik itu berdiri tegak diatas tubuh pemua itu dengan kaki terpentang lebar, setelah melempar senyum nakal kepada Sancaka, diapun mulai menggerakkan tubuhnya, meliuk-liuk dengan gerakan tari yang sangat erotis, kedua tangannya mulai menanggalkan kimono tipisnya.

Sambil menari itu setiap Rianti kali meliuk-liuk sambil berjongkok diatas tubuh Sancaka akan ada satu bagian pakaian pemuda itu yang terbuka, Sancaka hanya dapat diam dan membiarkan satu-persatu pakaiannya terlepas sambil menikmati suguhan tarian erotis yang dimainkan Rianti.

Sesekali pula Rianti meliuk-liuk sangat rendah, menggesekkan buah dada ke pipi dan dada Sancaka, dan setiap kali itu pula Rianti tersenyum genit melihat reaksi Sancaka, dia tak membiarkan mulut pemuda itu melahap buah dadanya.
Membuat Sancaka semakin konak saja.

Setelah puas menari Rianti melangkah mundur dan duduk bersimpuh diantara kedua kaki pemuda itu, sambil terus tersenyum genit diangkatnya kaki kanan Sancaka, lidahnya mulai merambat dari ujung kaki pemuda itu, dengan perlahan terus merambat ke betis dan paha pemuda itu, sampai di pangkal paha pemuda itu lidahnya segera menyapu habis kedua buah zakar pemuda itu, jilatannya merambat naik ke batang dan kepala penis pemuda itu, cukup lama jilatan gadis itu naik-turun disana, untuk kemudian melakukan hal yang sama dengan kaki kiri pemuda itu.
Sancaka hanya dapat menahan nafas menikmati perbuatan Rianti.

Mulut Rianti dengan lahap mulai menjilat dan menyedot kepala penis pemuda itu, sesekali dengan perlahan kepala dan batang penis pemuda itu masuk seluruhnya ke dalam mulut dan tenggorokan Rianti.
Rianti baru berhenti setelah dirasakannya betapa kepala dan batang penis pemuda itu mulai berdenyut kencang, dia tak ingin pemuda itu sampai di puncak sendirian.
Jilatannya merambat naik ke perut dan terus ke dada pemuda itu, lidahnya dengan lincah bermain di putting Sancaka, membiarkan Sancaka yang sedikit terengah-engah nafasnya karena pencapaiannya ke puncak yang tinggal selangkah lagi itu diputus oleh Rianti.

Rianti baru mengangkat mukanya dan memandang kearah pemuda itu setelah dirasanya nafas pemuda itu mulai teratur lagi, Rianti merayap lebih tinggi dan segera menyambar bibir pemuda itu, Sancaka segera membalas dan memeluk tubuh wanita itu dengan ketat.

Sambil membalas ciuman ganas Sancaka itu Rianti menjulurkan tangannya ke bawah, dipegang dan diarahkannya kepala penis pemuda itu ke celah bibir vaginanya.
Tawa Rianti meledak dan ciuman keduanya pun terlepas, melihat reaksi Sancaka yang begitu penisnya menempel dibelahan vagina wanita itu langsung menyentakkan pantatnya keatas sekuatnnya, membenamkan seluruh batang penisnya dan menggeram nikmat, “Kasihan banget … udah nggak tahan lagi yach sayang?” bisik Rianti setelah tawanya reda.

“Aku antar ke puncak yach”, bisik Rianti sambil kedua lengannya merengkuh kepala pemuda itu, ditekan dan dibenamkannya lagi seluruh batang penis pemuda itu kedalam liang vaginanya, dilumatnya bibir pemuda itu dengan ganas, pipinya ditekankan menempel ketat dengan hidung pemuda itu, membuat Sancaka kesulitan bernafas, kemudian Rianti menggoyang pinggulnya dengan cepat sambil terus mempertahankan posisi seluruh batang penis pemuda itu terbenam diliang vaginanya sedalam mungkin.
Sancaka hanya dapat megap-megap dan meremas-remas pantat Rianti, tubuhnya mengejang dengan kuat, sensasi yang dirasanya menjadi berlipat-ganda dari biasanya.

Dibawah serangan ganas Rianti pemuda itu tak dapat bertahan lama, dipeluknya dengan kuat pinggang wanita itu dan tubuh Sancaka tersentak mengejang berusaha mengangkat pantatnya setinggi mungkin. Batang penisnya berdenyut beberapa kali memberikan semburan kuat kedalam vagina wanita itu.
Rianti melepaskan pagutan bibirnya dan tersenyum, membiarkan Sancaka yang terengah-engah dengan mata terpejam rapat.

Rianti melepaskan rangkulannya dan merebahkan kepalanya ke dada bidang pemuda itu, melihat kepuasan pemuda itu tadi membuat dia berusaha menahan rasa haus darahnya walaupun bunyi degup jantung pemuda itu terdengar begitu menarik selera sebagai seorang vampire.

Keduanya sama-sama tak mengeluarkan sepatah kata pun, Sancaka membelai-belai kepala wanita itu, sementara Rianti tetap diam tak bergerak membiarkan sampai batang penis pemuda itu mengecil dan tercabut dengan sendirinya dari dalam liang vaginanya.
Tak lama kemudian kedua insan itu akhirnya pun tertidur masih dalam posisi yang sama.

****

Keluar dari ruang bawah tanah itu, Sancaka merasa ada seseorang yang mengawasinya, pemuda itu
berjalan kearah tempat dimana kudanya ditambatkan sambil melirik kesana-kemari, sudah cukup berjalan akan tetapi dia tidak menemukan sosok orang tersebut.

Setelah dekat tempat kudanya Sancaka melihat kudanya mulai meringkik dan gelisah seperti ketakutan, Sancaka segera berlari dan menenangkan kudanya.

Baru saja Sancaka duduk dipunggung kudanya, tampak sesosok bayangan hitam berkelebat diantara dahan-dahan pepohonan yang berada tidak jauh didepannya, sosok bayangan hitam itu tampak berhenti dan melemparkan sesuatu kerah Sancaka, tampak kelebatan sinar putih dengan suara berdesing.
Sancaka tidak mau mengambil resiko, pemuda itu mengelak dengan merebahkan diri di atas pungung kudanya, kelebatan sinar putih itu lewat diatasnya, Sancaka langsung pucat, pemuda itu segera berdiri dan menoleh kebelakang, tidak salah penglihtannya tadi, memang benda itu sebatang tombak, di pohon dibelakangnya menancap sebatang tombak panjang dengan mata tombak putih berkilauan.

Tanpa pikir panjang lagi digebraknya kudanya, tidak dihiraukannya lagi ada dimana dan siapa sosok bayangan hitam, merasa nyawanya terancam Sancaka membalapkan kudanya seperti orang dikejar setan.

Pemuda itu baru dapat bernafas lega setelah berada di dalam Villa tempat tinggalnya.

****

Pagi itu walaupun Sancaka duduk diatas kudanya dan tampak berkeliling memeriksa perkebunan, akan tetapi pikirannya melayang kesana-kemari. Rasanya masih terdengar jelas suara Rianti yang menjawab semua pertanyaannya semalam.

Dari mulut Rianti kini Sancaka tahu bahwa Tuan Frantzheof de Van Pierre adalah seorang Vampire, mahkluk terkutuk yang hidup dari menghisap darah, seseorang yang telah menjual jiwanya kepada Iblis dengan imbalan hidup abadi dengan kekuatan-kekuatan khusus diluar nalar manusia biasa.

Tuan Frantzheof de Van Pierre jugalah yang telah memperkosa Rianti dan mengubah wanita itu menjadi Vampire, Rianti yang tadinya hidup penuh kesucian sebagai seorang biarawati yang tinggal di Biara Katholik di Tanjung Sakti sekitar 30 kilometer dari lokasi perkebunan ini, kecantikannya telah membuat mabuk Tuan Frantzheof de Van Pierre, kecantikan yang membawa petaka bagi dirinya.

Karena selalu gagal walaupun Tuan Frantzheof de Van Pierre telah menggunakan segala daya dan upaya untuk mendapatkan hati dan cinta Rianti, mengakibatkan dia menjadi sedemikian murkanya sehingga menjalankan rencana licik untuk menghancurkan hidup wanita itu selamanya.
Tuan Frantzheof de Van Pierre menculik Rianti dari Biara dan membawanya ke Villa Darah, di malam terkutuk itu Tuan Frantzheof de Van Pierre mengikat tangan dan kaki Rianti ke empat sudut ranjang yang ada di Villa Darah, dan mencabik-cabik pakaian biarawati yang dikenakan Rianti.
Yang menyiksa Rianti adalah Tuan Frantzheof de Van Pierre memperkosanya dengan penuh kelembutan, menggunakan seluruh kemampuan dan keahliannya dalam bercumbu untuk memberikan kenikmatan bagi wanita itu, membuat Rianti menjadi hancur lahir bathin, hancur secara lahir karena tubuhnya telah ternoda, hancur secara bathin karena betapapun keras penolakan hati Rianti atas pemerkosaan itu Rianti mulai mengenal dan menikmati semua cumbuan yang diberikan Tuan Frantzheof de Van Pierre.
Semalam suntuk Tuan Frantzheof de Van Pierre memperkosanya beberapa kali, semalam suntuk pula Rianti berulang kali terhempas dalam kenikmatan, airmatanya terus mengalir akan tetapi bibirnya dengan terkutuk terus-menerus merintih nikmat.
Saat Fajar menyingsing Tuan Frantzheof de Van Pierre disaat Rianti mencapai orgasmenya langsung membenamkan taringnya ke leher wanita itu, menghisap hampir seluruh darah di tubuh Rianti, pada saat wanita itu berada diambang hidup dan mati, Tuan Frantzheof de Van Pierre meutus semua ikatan wanita itu dan melukai nadi ditangannya, menawarkan kesempatan kepada Rianti bahwa wanita itu akan tetap hidup hanya jika Rianti balas menghisap dan meminum darahnya.
Rianti yang telah labil lahir bathin itu mengambil keputusan yang salah, diraihnya tangan itu dan dengan cepat seakan takut mati dia menghisap darah yang keluar dari luka itu. Tuan Frantzheof de Van Pierre dengan senyum sumringah membiarkan Rianti menghisap darahnya sepuasnya sampai tubuhnya sendiri terasa lemas.
Direngkuhnya tubuh Rianti yang terkulai pingsan.
Rianti tersadar dengan tangan dan kaki terbelengu rantai panjang yang terbuat dari campuran emas, perak dan tembaga. Setelah beberapa lama barulah Rianti tahu bahwa dia kini disekap di Ruang Bawah Tanah di Villa Darah tempatnya diperkosa dulu.
Namun nasi telah menjadi bubur, dia bukanlah Rianti yang dulu lagi. Kebutuhannya akan darah membuat dia tidak mempunyai pilihan lain selain menjadi tempat pelampiasan nafsu birahi dan menuruti semua perintah Tuan Frantzheof de Van Pierre.

Tuan Frantzheof de Van Pierre memberikan tugas khusus bagi Rianti untuk menjaga kolam berterali di ruang bawah tanah itu.
Kolam yang merupakan tempat Tuan Frantzheof de Van Pierre menyiksa sekaligus menghabisi semua Vampire yang menentangnya.
Kolam itu sengaja didesain khusus untuk mencegah pelarian dari Vampire yang terhukum, walaupun kemungkinan untuk melarikan diri sangat kecil sekali.

Dari keterangan Rianti pula Sancaka mengetahui bahwa banyak sekali mitos tentang Vampire yang ternyata tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya, diantaranya adalah seorang Vampire tidak akan mati jika terpapar di sinar matahari, juga tusukan pasak kayu di jantung tidak akan serta-merta membunuh seorang Vampire.
Cara paling efektif membunuh seorang Vampire hanyalah dengan jalan mutilasi dan kemudian setiap bagian tubuhnya dibakar terpisah sampai hancur menjadi abu.

****

Sancaka membiarkan saja kudanya melangkah seenaknya, dia hanya mengarahkan saja, bahkan dalam perjalanan pulang dia masih melamun, pikirannya masih juga melayang kesana-kemari.

“siing … slep .. jeb”, Sancaka menahan laju kudanya dan menoleh kekanan serta langsung terpaku dengan muka pucat pasi, betapa tidak dia hanya mendengar bunyi suara berdesing dan sesuatu menghantam topinya kearah kanan untuk kemudian disadarinya bahwa topi lebarnya telah terpanggang sebatang anak panah dan menancap ditanah dipinggir jalan setapak ini.

Belum hilang kaget dan takut pemuda itu kembali terdengar suara berdesing dan sebatang anak panah lainnya telah menancap ditopinya itu, tepat dimana anak pertama menembus topinya.

“Hahaha … bagaimana Sancaka, tidakkah itu membuktikan kemahiranku memanah yang sangat sempurna” terdengar suara dari atas tebing disisi kiri jalan, Sancaka menoleh dan mukanya semakin pucat, disana berdiri Tuan Frantzheof de Van Pierre dengan busur terpentang hanya saja kini membidik kearahnya.
Mata itu, mata itu membidik dengan penuh kebencian kearah diriku, ada apakah, apakah ada hubungannya dengan perbuatannya di Villa Darah bersama Tantri, atau malah karena pertemuannya dengan Rianti semalam, pikiran pemuda itu menjadi tambah kalut dan rasa takut mulai meliputinya.

“Hahaha … sayang tidak kutemukan sasaran yang cukup menantang di tubuhmu itu … selain topimu tadi”, kata Tuan Frantzheof de Van Pierre sambil menurunkan busur panahnya.

Tuan Frantzheof de Van Pierre turun dari tebing itu ke arah Sancaka sambil terus tertawa, satu hal yang cukup memberi kelegaan kepada Sancaka, walaupun dia menyadari sepenuhnya bahwa jika londo terkutuk itu menginginkan tentu dengan mudah dapat membunuhnya dengan sekali bidik saja.
Sancaka turun dari kudanya dan berdiri menunggu.

“Hahahaha … kau tahu Sancaka kemahiranku memanah telah sangat tersohor didaerah ini dan daerah-daerah sekitar … makanya tidak ada yang berani macam-macam di perkebunanku ini”, katanya sambil merangkul bahu Sancaka dan menarik pemuda itu untuk berjalan beriringan pulang.

Sepanjang jalan sampai ke Villa dimana Sancaka tinggal, Sancaka hanya mendengarkan semua celoteh Tuan Frantzheof de Van Pierre pemuda sambil sesekali berkomentar seadanya.

****

Sancaka berdiri didepan lemari pakaiannya sambil memandangi kotak ditangannya, kotak yang kemarin malam dititipkan oleh Rianti, kotak itu tertutup rapat tak dapat dibuka akan tetapi tidak terlihat dimana letak kuncinya, pemuda itu tidak tahu apakah isi kotak itu, Rianti meminta agar kotak itu diantarkan ke Biara dimana dulu Rianti mejalani hidup sucinya.
Biar kuantarkan sebelum aku cuti ke Palembang jumat lusa pikir pemuda itu dan menyimpan kembali kotak itu di belakang tumpukan pakaiannya.

Sejenak dipandanginya tubuh molek Wulan yang sudah tertidur lelap setelah pertarungan tadi, pemuda itu tersenyum sendiri menyadari bahwa ternyata sebanyak apapun beban pikirannya tidak membuatnya kehilangan selera untuk bercinta.
Sancaka segera menyusul tidur berbaring disisi Wulan.