Vampire , The UnTold Story (Episode 8)
BAHAYA MASIH MENGANCAM DAN MUNCULNYA BALA BANTUAN

Pagi itu Sancaka sedang sarapan pagi setelah selesai menyiapkan pakaian yang akan dibawanya ke Palembang, tak lama kemudian terdengar ringkik kuda di teras depan, pemuda itu cepat-cepat menyelesaikan sarapannya.

“Selamat pagi Tuan Muda”, sapa Pak Udin melihat kemunculan Sancaka di teras.

“Selamat pagi Pak Udin … kita berangkat sekarang saja ya Pak, mumpung masih pagi”, balas Sancaka sambil tersenyum, dan langsung menaiki kudanya.

“Baik Tuan Muda”, sahut Pak Udin sopan, orang tua itu menaiki kudanya dan mengikuti kuda Sancaka dari belakang.

Tak lama kemudian atas permintaan Sancaka maka kuda Pak Udin berada didepan, Sancaka memang tidak tahu jalan karena belum pernah ke arah Tanjung Sakti untuk alasan itu pulalah pemuda itu meminta bantuan Pak Udin untuk mengantarkannya.

****

Sancaka dan Pak udin berhenti sejenak dan mengamati Biara diatas sana, tampak beberapa bangunan terpisah, dikelilingi pagar yang cukup tinggi dengan gerbang terbuat dari kayu yang kelihatan kokoh, Pak Udin turun dari kudanya dan mengetuk pintu gerbang biara itu.

Setelah Pak Udin mengetuk beberapa kali dengan agak kuat tampak bagian kecil dari gerbang itu terbuka, kiranya ada semacam jendela kecil di sisi kiri gerbang itu, sepasang mata tampak mengawasi keadaan diluar dari sana, Sancaka mengangguk hormat dan berkata, “Selamat pagi … saya ingin bertemu Kepala Biara”.

“Sebentar Tuan”, sahut orang itu dari dalam, jendela kecil itu tertutup kembali, dan terdengar bunyi derit panjang yang nyaring ketika pintu gerbang itu mulai terbuka, seorang biarawan muda melangkah keluar mendekati Sancaka, “Maaf Tuan … Kepala Biara sedang tidak ada ditempat … Kalau boleh tau Tuan siapakah? … Dan ada keperluan apa dengan Kepala Biara?”, biarawan muda itu bertanya dengan sopan setelah membungkuk hormat.

Sancaka menganggukkan kepalanya membalas penghormatan itu dan segera meloncat turun dari kudanya, “Nama saya adalah Sancaka … saya bekerja di perkebunan milik Tuan Frantzheof de Van Pierre … saya hanya bermaksud mengantarkan titipan seseorang … mohon disampaikan kalau Kepala Biara telah kembali lagi nanti”, karena Sancaka menjelaskan keperluannya sambil membuka kantung di pelana untuk mengambil kotak titipan Rianti, pemuda itu tidak melihat betapa biarawan muda itu tampak berusaha menutupi keterkejutannya.

Sancaka menyerahkan kotak itu, “kotak ini … kotak ini”, terdengar suara si biarawan muda menerima kotak itu dengan terbata-bata, “Anda siapa tuan? Dimana pemilik kotak ini? Bagaimana kotak ini bisa dititipkan kepada Anda?”, biarawan muda itu mencecar Sancaka dengan pandang penuh selidik dan sarat rasa curiga.

Sancaka sendiri memandang tajam kearah biarawan muda itu, wajah biarawan muda itu dirasa tidak asing baginya, “Aku tak dapat memberikan keterangan itu kepada saudara”, jawab Sancaka sambil tersenyum, “Aku hanya akan memberikan keterangan kepada Kepala Biara saja … dan tolong sampaikan juga bahwa aku akan berada di Palembang selama dua minggu kedepan … kalau memang mendesak Beliau dapat mencariku di alamat ini”, lanjut pemuda itu menyodorkan secarik kertas terlipat kepada si biarawan muda itu.

Sejenak tampak mata biarawan muda itu berkilat penuh amarah, akan tetapi dia tampaknya dapat menahan diri, setelah mendongak dan menghela nafas panjang biarawan muda itu menyambut kertas itu dan membungkuk hormat, “Baiklah Tuan … nanti akan saya sampaikan”, sahutnya lirih.

Sancaka mengangguk hormat dan segera menaiki kudanya, setelah mengangguk hormat kembali pemuda itu segera menarik tali kekang memutar kudanya dan meninggalkan si Biarawan Muda yang masih terus memandang kearah kotak kecil yang dititipkan oleh Sancaka barusan.

Sungguh sangat disayangkan Sancaka tidak menoleh ke belakang lagi sehingga tak dapat menyaksikan betapa biarawan muda itu jatuh terduduk lemas ditanah, tanganya yang memegang kotak itu nampak bergetar, dipeluknya kotak kecil itu dengan erat, isak tangisnya pun pecah, “Rianti … Rianti … dimana kau berada adikku”, ratap biarawan muda itu.

Biarawan muda itu bernama Rianto, dan dia adalah saudara kembar Rianti, baru dua bulan dia berada di biara ini, setelah mendengar khabar bahwa Rianti menghilang tanpa jejak, dan walaupun dia setiap hari tidak pernah lelah mencari tetap saja dia tidak menemukan sedikitpun petunjuk tentang keberadaan Rianti, seakan gadis itu hilang lenyap ditelan bumi.

****

Sancaka tiba di depan Stasiun kereta api di Lubuk Linggau pukul tujuh malam, suasana stasiun sudah sangat sepi, Sancaka mengamati sejenak suasana di sekitar Stasiun itu, selesai makan di rumah makan disebelah stasiun itu Sancaka kemudian melangkahkan kakinya menuju penginapan diseberang jalan.

Sancaka memesan salah satu kamar tebaik yang ada di penginapan itu, pemuda itu melangkah dengan santai dan membuka kunci kamarnya, tidak menyadari ada sepasang mata yang memandang tajam dan mengamati gerak-geriknya dari balik pintu yang terkuak sedikit, yaitu dari kamar yang persis bersebarangan dengan kamarnya.

Pemuda tidak langsung menutup pintu kamarnya, setelah meletakkan tas bawaanya Sancaka berjalan menuju jendela dan membuka tirai, menyalakan rokok untuk kemudian mengamati keadaan di jalanan dan di seputaran stasiun.

Terdengar ketukan di pintu, Sancaka menoleh dan melihat seorang wanita berdarah belanda sedang berdiri dan tersenyum manis kearahnya, “Maaf kalau mengganggu … bisa pinjam pemantik apinya?” tanya wanita itu sambil menempelkan sebatang rokok kebibirnya, suaranya terdengar sedikit genit.

Sancaka hanya mengangguk dan melangkah mendekat, mengeluarkan pemantik apinya dan menyalakan rokok wanita itu, “Terima kasih … nama saya Yosephina”, katanya setelah menghembuskan asap rokoknya sambil mengulurkan tangan kanannya kearah Sancaka.
“Sancaka”, sahut pemuda itu sambil balas menyalami.

“Menunggu kereta besok pagi kan? … aku juga”, wanita itu melangkah masuk tanpa dipersilahkan, Sancaka hanya tersenyum dan membiarkan, “Pemandangan dari kamarku lebih baik daripada disini … nggak enak sendirian di kamar … yuk main ke kamarku … aku punya sebotol scotch yang bagus”, kata wanita itu menarik tangan Sancaka.
“Tapi …”, Sancaka tak sempat protes karena wanita itu menarik tangannya dengan kuat, “cepat kunci kamarmu dan ikut aku”, perintah wanita itu, Sancaka hanya angkat bahu dan mengikuti perintah, toh dia juga belum mengantuk pikirnya.

Sancaka dan wanita belanda itu duduk dan mengobrol sambil menikmati sebotol Scotch yang dibawa wanita itu dikamarnya yang persis bersebelahan dengan kamar Sancaka, Yosephina adalah anak seorang pemilik mesin penggilingan padi dan kopi di Lubuk Linggau dengan beberapa gudang penyimpanan yang cukup besar. Ayahnya membeli dan mengolah hasil perkebunan padi dan kopi didaerah Lubuk Linggau dan dan daerah-daerah lain disekitarnya. Dia dan ayahnya juga mengenal Tuan Tuan Frantzheof de Van Pierre.
Hari semakin larut dan pengaruh alkohol yang diminum keduanya mulai terasa, menambah lancar obrolan mereka.

Keduanya sudah mulai mabuk agaknya. Yosphina bangkit dari duduknya dan merebahkan dirinya dipangkuan Sancaka, “Sanca … jangan memandangku rendah dan murahan ya … malam ini aku minta kau menemaniku tidur disini … tapi hanya menemani tidur … tidak kurang tidak lebih … mau ya”, Sancaka terpaku sejenak, Yosephina mengangkat mukanya dan memandang kerah Sancaka, matanya memandang sayu dan penuh harap.

Sancaka menghela nafas dan mengangguk.

Setelah menghabiskan minuman masing-masing, Yosephina segera naik keatas tempat tidur, sementara Sancaka menuju kearah kamarnya guna memastikan bahwa kamarnya telah benar-benar terkunci.
Ketika pemuda itu masuk kembali ke kamar Yosephina dan menutupkan pintu, dilihatnya Yosephina tersenyum dan menggeser tubuhnya memberi tempat buat Sancaka.
Sancaka membaringkan tubuhnya di samping Yosephina, keduanya terlibat obrolan sambil berbaring terlentang berdampingan.

Akhirnya Yosephina yang entah karena pengaruh alkohol yang tadi diminumnya atau memang tadinya hanya ingin menguji pemuda itu tampaknya kini sudah tak dapat menahan diri lagi, tangannya bergerak ke arah selangkangan pemuda itu, wanita itu menoleh kearah Sancaka hampir bersamaan dengan Sancaka yang juga menoleh kearah Yosephina, keduanya sama-sama tersenyum.

Yosephina bangun dan merangkak keatas tubuh pemuda itu, Sancaka segera menyambut dan merangkul wanita itu. Keduanya langsung terlibat dalam ciuman yang panas. Tangan Yosephina dengan segera bergerak membuka ikat pinggang dan menurunkan celana berikut celana dalam pemuda itu dan langsung digenggamnya batang penis yang sudah tegang itu.

Yosephina melepaskan rangkulan Sancaka, menegakkan tubuhnya dan memposisikan diri diatas pemuda itu, diarahkannya kepala penis pemuda itu kearah belahan vaginanya, kiranya dibalik gaun malamnya itu Yosephina tidak mengenakan apa-apa lagi.
Kepalanya terdongak ketika dengan perlahan dia menurunkan tubuhnya, menikmati masuknya kepala dan batang penis Sancaka kedalam liang vaginannya.

Setelah seluruh batang penis pemuda itu tertancap seluruhnya barulah Yosephina melihat ke arah Sancaka dan tersenyum, dengan tangan bertumpu di dada pemuda itu Yosephina mulai menggerakkan pinggulnya naik-turun dengan gerakan perlahan, matanya terpejam dengan mulut mendesis-desis nikmat.

Sancaka mengarahkan tangannya ke arah buah dada wanita itu, kiranya dibalik gaun malam itupun Yosephina tidak mengenakan apa-apa lagi, diremas-remasnya buah dada dibalik gaun malam yang tipis dan licin itu.

Yosephina mulai mempercepat gerakannya, tangannya mencengkeram baju dibagian dada Sancaka dengan kuat, matanya makin terpejam rapat dengan kening berkerut.
Bercinta dengan keadaan berpakaian lengkap seperti ini memang baru dialami oleh Sancaka, dia pun ikut memejamkan matanya dan tanpa sadar meremas-remas dengan kuat buah dada wanita itu.

Agaknya alkohol yang mereka minum sebelumnya cukup berpengaruh pada peningkatan sensasi kenikmatan yang dirasakan, hentakan dan hempasan pinggul Yosephina makin cepat dan kuat, wanita itu agaknya telah mendekati puncak, dibukanya matanya dan dilihatnya Sancakapun agaknya telah pula mendekati puncak.
Yosephina mempercepat gerakan pinggulnya sambil berusaha bertahan sekuat mungkin, senyum puas menghiasi bibirnya melihat Sancaka yang tersentak-sentak mengejang dibawahnya.
Ketika dirasakannya batang penis pemuda itu semakin tegang dan mulai berdenyut-denyut dengan kuat, diapun melepaskan pertahanannya sambil memberikan hentakan dan hempasan yang lebih kuat.

Tak lama kemudian hampir bersamaan keduanya menggeram hebat dengan tubuh mengejang, keduanya telah mencapai puncak kepuasan masing-masing.

Setelah memakaikan kembali celana Sancaka dan merapikannya Yosephina segera menjatuhkan diri kedalam pelukan pemuda itu. Malam itu keduanya tertidur sambil berpelukan dengan masih tetap berpakaian lengkap.

****

Pagi dini harinya Sancaka tunggang langgang jatuh dari tempat tidur, berusaha menahan jerit ngeri dengan muka pucat tak berdarah, diatas tempat tidur itu tubuh Yosephina yang pucat membiru terlentang dengan mata mendelik dan mulut terbuka lebar, leher gadis itu terkoyak penuh noda darah yang telah mengering.
Tubuh gadis itu nyaris telanjang penuh dengan luka bekas cakaran, pakaian gadis itu habis tercabik-cabik.

Sancaka berusaha bangkit dan keluar dari kamar itu, dan setengah berlari menuju kamarnya sendiri, pakaiannya pun penuh dengan noda darah yang telah mengering, segera dibukanya pakaiannya dan masuk ke kamar mandi.
Saat tengah mandi itulah dia mendengar jeritan dikamar sebelah dan tak lama kemudihan terdengar kegaduhan diluar kamarnya.
Agaknya tamu-tamu dipenginapan ini telah mengetahui kejadian itu.

Setelah mandi dan mencuci pakaiannya semalam, Sancaka segera berganti pakaian. Pakaiannya semalam berusaha diperas sekering mungkin dan dimasukkan kedalam tas bawaannya. Setelah menenangkan diri pemuda itu membuka pintu kamarnya.
Keadaan diluar kamarnya masih ramai, Sancaka pura-pura ikut terkejut, setelah mengobrol sebentar dengan tamu lain di penginapan itu, pemuda itu melangkah menuju tempat pengelola penginapan di meja depan, membayar biaya sewa kamarnya dan melangkah menuju stasiun.
Pengelola penginapan hanya meminta data dirinya, karena mungkin pihak keamanan memerlukan keterangan dari pemuda itu sehubungan dengan terbunuhnya wanita disebelah kamarnya.

Untungnya semalam Yosephina telah mencuci gelas yang mereka pergunakan sebelum tidur, dan Sancaka yakin tidak ada barang miliknya yang tertinggal di kamar Yosephina semalam yang dapat dikaitkan dengan dirinya berkenaan dengan pembunuhan itu.

Sepanjang perjalanan hati pemuda itu tidak pernah bisa tenang.
Pembunuhan itu bukan pembunuhan biasa, dan melihat tubuh Yosephina yang pucat membiru kehabisan darah maka pembunuhan sadis itu hanya dapat dilakukan oleh seorang Vampire.
Yang membuat pemuda itu semakin cemas adalah pembunuhan itu agaknya sengaja dirancang untuk menjebak dan menjadikannya sebagai kambing hitam.

****

“Penjemputan Khusus Bagi Tuan Muda Sancaka”, begitu yang tertulis di kertas lebar yang dipegang seorang lelaki tua di pintu keluar stasiun, Sancaka yang memang baru tiba dan yang sebenarnya sudah ingin cepat sampai dirumahnya karena tinggal berjalan kaki saja kerumahnya itu terdiam berdiri mematung, siapa lelaki tua ini pikirnya, setelah memastikan bahwa lelaki tua berpakaian rapi itu bukan seorang polisi, diapun melangkah mendekati orang itu.

“Saya bernama Sancaka … apakah saya yang bapak maksud?”, tanya pemuda itu setelah sampai dihadapan orang tua itu.
“Apakah Tuan Muda bekerja di perkebunan Tuan Frantzheof de Van Pierre?”, orang itu balik bertanya sambil mengamati pemuda itu dari bawah keatas.

Sancaka tersenyum mengangguk, “Atas perintah siapa bapak menjemput saya? Dijemput untuk kemana kah?”, tanya pemuda itu berusaha untuk lebih ramah.

Melihat anggukan Sancaka orang tua itu langsung membungkuk hormat, “Nama saya Dadang … Saya tidak dapat menjelaskan hanya menjemput saja”, tangannya mengangsurkan sebuah amplop putih kearah Sancaka, “Mungkin akan jelas semuanya setelah Tuan Muda membaca surat ini”, lanjutnya.

“Jangan terlalu banyak bertanya … cukup minta antarkan saja kepada pembawa surat ini … dia orang kepercayaan kita … dan jangan pulang dahulu ke rumah langsung saja kemari … ditunggu secepatnya”, Sancaka hanya tersenyum membaca surat itu, ditilik dari tulisannya pastilah pengirim surat ini seorang wanita, akan tetapi penulis surat ini pelit sekali dengan kata-kata, semuanya ditulis singkat sehingga lebih mirip telegram daripada surat.

“Ya sudah … tolong bapak segera mengantarkan saya kesana”, kata pemuda pelan, orang tua itu segera menyambut dan membawa tas bawaan Sancaka itu melangkah kearah luar Stasiun. Sancaka hanya mengikuti dari belakang.

****

Setelah menyeberangi Jembatan Ampera kendaraan yang ditumpangi Sancaka berbelok ke kiri, dan akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar tidak jauh dari Menara Air, Sancaka melangkah turun, “Tas bawaan Tuan Muda akan saya letakkan di kamar tamu bagian depan … Tuan Muda dipersilahkan masuk karena sudah ditunggu sejak tadi di Kamar Utama … nanti si mbok yang akan menunjukkan jalannya”, kata orang tua yang menjemputnya tadi memberikan penjelasan sambil menunjuk seorang perempuan tua yang telah berdiri diteras depan setengah membungkuk.

Sancaka melangkah masuk ke rumah besar itu, si mbok yang tadi menunggu di teras segera membungkuk hormat, dengan isyarat tangannya dia mempersilahkan Sancaka masuk.
Sancaka melangkah masuk ke rumah besar itu, mengikuti petunjuk si mbok yang mengiringinya akhirnya pemuda itu sampai di sebuah pintu yang cukup besar, “Ini Kamar Utamanya … Tuan Muda diminta segera masuk … saya permisi ke belakang” terdengar perempuan tua itu berkata sambil membungkuk hormat.
Sancaka menoleh dan mengangguk, “Terima kasih mbok”. Si Mbok lalu tergopoh-gopoh ke belakang.

Setelah perempuan tua itu hilang ke belakang Sancaka mendekati pintu besar itu dan mendorongnya, pintu itu terbuka lebar, seketika Sancaka berdiri terlongong dengan mulut terbuka lebar.
Diatas pembaringan besar itu bergelimpangan selir-selir Tuan Frantzheof de Van Pierre dalam keadaan bugil, bukan cuma dua atau tiga orang, melainkan keenam selir Londo itu semuanya ada disana.
Tantri, Yuni, Wulan, Diah, Ratna dan Sari, keenam orang selir itu tertawa cekikikan melihat reaksi Sancaka.

Yuni, Wulan dan Sari segera berebut bangun dan berlari kearah Sancaka, Wulan dan Sari membimbing Sancaka kearah pembaringan, sementara Yuni hanya tersenyum geli dan segera menutupkan pintu Kamar Utama itu.

Sampai didepan tempat tidur, sambil terus cekikikan geli Yuni, Wulan dan Sari segera menanggalkan seluruh pakaian yang dikenakan pemuda itu, membiarkan Sancaka yang terpana melihat pertunjukan yang sudah dimulai diatas pembaringan itu.

Tantri duduk bersandar dikepala pembaringan itu dengan kaki terpentang lebar, gadis itu dengan panas membalas lumatan bibir Ratna disebelah kirinya, sementara Diah yang berada disebelah kanan tampak menggigit bibirnya sendiri sambil meremas-remas buah dada Tantri dengan gemas.
Ketika Diah mulai menetek disana Tantri segera melepaskan pagutan bibir Ratna, dibelainya kepala gadis itu, Ratna seakan tak mau kalah ikut pula menetek seperti Diah.
Sambil mendesah keenakan Tantri menoleh kearah Sancaka, tangannya merambat ke bawah dan dengan jari tengahnya diapun mulai memainkan klitorisnya sendiri.

Sancaka hanya dapat menelan ludah saking pengennya.

Yuni berjongkok dan mengusapkan sejenis cairan bening ke kepala dan batang penis pemuda itu. Setelah dilumasi oleh cairan itu Sancaka merasa ada rasa hangat menjalari kepala dan batang penisnya.

Tanpa menunggu undangan, pemuda itu langsung merayap ke arah Tantri, ditariknya pinggul gadis itu kearahnya, dibalikkannya tubuh gadis itu ke posisi menungging, Diah segera menyambar batang penis Sancaka dan mengarahkannya ke liang vagina Tantri sementara Ratna mengambil kesempatan untuk menarik muka Sancaka kearahnya dan melumat bibir pemuda itu dengan ganas.
Sancaka mulai menggerakkan pinggulnya maju-mundur sambil meremas-remas bongkahan pantat Tantri, dengan tangan kirinya Ratna mulai meremas-remas buah dada Tantri tanpa melepaskan pagutannya dibibir pemuda itu, Diah tersenyum dan beringsut ke arah kepala Tantri, ditariknya muka gadis itu kearahnya dan keduanyapun segera terlibata ciuman bibir yang panas, tangan kanan Diah juga dengan aktif meremas-remas buah dada kanan Tantri.

Yuni, Wulan dan Sari yang belum mendapat giliran membuat acara sendiri, ketiganya duduk menonton disisi tempat tidur sambil memainkan klitoris masing-masing.

Tantri tak mampu bertahan lama, dengan jeritan kuat tubuhnya mengejang dan bergetar hebat, gadis itu telah sampai dipuncak kepuasannya.
Sancaka membiarkan batang penisnya terbenam disana beberapa saat, sampai Tantri mencabutnya dan berbalik serta mulai mengulum dan menjilat kepala dan batang penis pemuda itu, seakan ingin membersihkannya dari sisa-sisa orgasmenya tadi, Sancaka hanya tersenyum membiarkan.

Tantri bangkit dan turun dari pembaringan setelah memberikan kecupan di kening Sancaka, Diah langsung terlentang dihadapan pemuda itu menggantikan posisi Tantri, ditariknya tangan pemuda itu kearah buah dadanya.
Yuni memberi isyarat kepada Sari untuk masuk ke gelanggang pertempuran, Ratna dan Sari segera segera memegangi dan merentangkan kedua kaki Diah selebar mungkin.
Setelah Sancaka mulai menggerakkan penisnya keluar masuk liang vagina Diah sambil mencengkeram buah dada gadis itu, jari tangan Ratna dan Sari dengan lincah dan cepat mulai memainkan bagian klitoris gadis itu bergantian.

Sebagaimana Tantri yang mendapat giliran pertama tadi Diah pun tak mampu bertahan lama, sambil menjerit panjang tubuh gadis itu melenting dan kakinya menjepit pinggul Sancaka dengan kuat.
Gadis itu telah samapai di puncak kepuasannya.

Merasa kali ini adalah gilirannya, tanpa membuang waktu lagi Ratna langsung naik ke atas tubuh Diah yang masih terengah-engah itu, sementara Sari segera bangkit dan memberikan hisapan serta jilatan ke puting Sancaka.
Kali ini giliran Wulan yang masuk ke gelanggang pertempuran, tangannya membimbing kepala penis Sancaka ke arah belahan vagina Ratna, Ratna mendesah menikmati masuknya penis Sancaka ke dalam liang vaginannya, Diah pun mengerti kini gilirannya pula membantu Ratna mencapai puncak.
Bersamaan dengan gerakan pinggul Sancaka yang mulai memompa gadis itu, tangan kirinya merengkuh kepala Ratna dan bibirnya segera menyambar bibir gadis itu, sedangkan tangan kanannya tak ketinggalan langsung meremas-remas buah dada kiri Ratna.
Melihat Sancaka yang sambil menggoyang Ratna sedang asyik berpelukan dan berciuman dengan Sari, Wulan pun mengambil inisiatif membantu dengan menggerakkan pinggul Ratna mengimbangi ayunan pinggul Sancaka.
Sesekali tampak Wulan meludahi batang penis Sancaka yang keluar-masuk vagina Ratna itu untuk memberikan pelumas tambahan.

Kali ini giliran Ratna yang juga tak mampu bertahan lama, gadis inipun menjerit panjang dengan tubuh mengejang, puncak kepuasannya telah sampai.

Ratna dan Diah bergulingan ke pinggir pembaringan itu, keduanya terkapar dengan nafas memburu, kini giliran Sari dan Wulan yang menguasasi medan pertempuran, keduanya sama-sama menungging dihadapan Sancaka.
Kedua gadis itu ingin menguji kemampuan Sancaka agaknya, keduanya menungging berdampingan dengan rapat sambil bertumpu satu tangan sementara tangan yang satu lagi mempermainkan klitoris masing-masing.
Terpaksalah Sancaka melakukan olah raga tambahan akibat posisi kedua kedua gadis itu, pertama diposisikan dan diarahkannya kepala penisnya ke bibir vagina Sari, setelah seluruh penisnya tenggelam kedalam liang vagina gadis itu diapun mulai menggoyangkan pinggulnya sementara jari tengah tangan kanannya bermain diliang vagina Wulan, setelah satu-dua menit penisnya keluar-masuk liang vagina Sari Sancakapun bergerser dan mengarahkan kepala penisnya ke bibir vagina Wulan, sambil menggoyangkan pinggulnya kali ini giliran jari tengah tangan kirinya yang bermain di liang vagina Sari, setelah satu-dua menit pemuda itu kembali bergeser lagi, begitu seterusnya, Sancaka berusaha memuaskan kedua gadis itu.
Ketika Sari mulai menggeram, Sancakapun semakin mempercepat dan memperkuat goyangan pinggulnya sambil memegangi pinggul gadis itu. Tak lama kemudian gadis itu menjerit dan mengejang.
Sancaka segera mencabut keluar penisnya dari vagina gadis itu, dibiarkannya Sari terengah-engah sendiri, dia langsung bergeser untuk menuntaskan tugas berikutnya yaitu mengantarkan Wulan ke puncak kepuasannya seperti Sari barusan.
Sancaka langsung memegang pinggul Wulan dengan erat, penisnya dengan mudah masuk kedalam liang vagina gadis itu, dan Sancaka langsung menggerakkan pinggulnya dengan cepat dan kuat.
Tak lama kemudian Wulan pun menjerit tertahan dengan tubuh mengejang.

Setelah mengatur nafas sebentar Sancaka menarik tangan Yuni yang sedari tadi dilihatnya sangat sabar menunggu giliran.
Keduanya berpelukan dan berciuman sejenak, Sancaka kemudian membaringkan gadis itu.
Diah dan Ratna mendekat dan memegangi kedua tangan gadis itu, sementara Wulan dan Ratna meletakkan beberapa bantal dibawah pantat gadis itu dan kemudian memegangi kedua kaki gadis itu.
Ini adalah babak terakhir pertempuran, tetntunya Sancaka akan habis-habis menggoyang gadis itu kali ini.

Sancaka mengarahkan kepala penisnya ke belahan vagina gadis itu dan mulai mendorong dengan perlahan, setelah penisnya terbenam seluruhnya kedalam liang vagina gadis itu, dia mulai menggerakkan pinggulnya maju-mudur dengan perlahan sambil jempol tangan kanannya dia mulai menggesek-gesek klitoris gadis itu.
Desahan Yuni semakin kuat ketika Sancaka mulai mempercepat dan memperkuat goyangan pinggulnya ditambah lagi Diah dan Ratna mulai meremas dan sesekali memelintir puting buah dada gadis itu.
Tak lama kemudian Yuni menjerit tertahan dan tubuhnya mengejang hebat karena Sancaka tidak sedikitpun menghentikan ayunannya, Sancaka pun telah mendekati puncak agaknya.
Beberapa saat kemudian Sancaka mencabut keluar penisnya dari liang vagina gadis itu, dan dengan tangannya dia mengarahkan semburannya ke perut dan dada gadis itu.
Diah, Ratna, Wulan dan Sari segera berebutan menjilat dan menelan sperma yang disemburkan Sancaka keatas tubuh Yuni.

Sancaka hanya tersenyum mengamati tingkah laku mereka sambil mengatur nafasnya, tubuh pemuda itu tampak berkilat dipenuhi keringat.
Agaknya cairan yang diusapkan oleh Yuni tadi yang membuatnya mampu memenangkan pertempuran ini.

****

Tiga hari tiga malam kemarin Sancaka seakan lupa diri dan terlena menikmati surga yang ditawarkan oleh selir-selir Tuan Frantzheof de Van Pierre itu, kerjanya hanya makan, tidur, bercengkerama dan bercinta siang malam.

Memang Tantri cuma sore hari pertama itu saja ikut pesta umbar nafsu di Kamar Utama itu, sampai malam harinya pun Tantri tak nampak lagi batang hidungnya, entah kapan gadis itu menyelinap pergi, akan tetapi pelayanan kelima orang selir Londo itu membuat Sancaka tidak terlalu mengacuhkan ketidakhadiran gadis itu.

Pagi itu setelah mengucapkan terima kasih dan mengangguk membalas penghormatan Pak Dadang yang mengantarkannya pulang, Sancaka segera melangkah kearah rumahnya untuk kemudian pemuda itu terduduk lesu di teras rumah orang tuanya itu.
Suasana rumahnya tampak sepi, dia telah mengetahui bahwa kedua orang tuanya sedang ke luar kota selama seminggu, dan agaknya kedua orang tuanya mungkin besok baru kembali dari Prabumulih.
Tubuhnya terasa lemas lunglai, seakan seluruh energi ditubuhnya telah terkuras habis selama tiga hari penuh kenikmatan kemarin.

Sancaka baru teringat kalau sudah tiga hari di Palembang tanpa sempat menjenguk Gayatri kakasih hatinya, padahal dia sengaja mengambil cuti sekarang ini karena sang kekasih pun sedang mengambil cuti istirahat dan telah beberapa hari lebih dahulu pulang ke Palembang, apa khabar gadis tunanngannya itu pemuda itu membathin.
Sebaiknya aku tidur dulu dan nanti sore saja main ke rumah Gayatri pikir pemuda itu sambil bangkit berdiri dan melangkah masuk ke rumahnya.

Didepan kamar mandi terdengar suara Ratih sedang mandi sambil bersenandung kecil, Sancaka tersenyum kecut mengingat betapa gadis itu telah memberikan miliknya yang paling berharga kepada Sancaka tanpa tuntutan apapun, “Ratih … Ini Mas Sanca … Mas mau istirahat di kamar … nanti jam dua siang mas tolong dibangunin yach”, teriaknya.
Suara senandung Ratih terhenti.

“Mas Sanca!”, terdengar teriakan kesenangan dari Ratih memanggilnya, Sancaka yang baru saja akan masuk kekamarnya menoleh dan tersenyum, Ratih yang buru-buru menyelesaikan mandinya dan hanya berbalut handuk itu segera menghambur ke pelukan Sancaka.

“Apa khabarnya adik manis”, bisik Sancaka membalas pelukan gadis itu. “Ratih kangen”, bisik gadis itu sambil menyembunyikan wajahnya ke leher Sancaka.

“Mas juga kangen … Mas capek banget nich … Mas mau bobok dulu yach”, katanya tersenyum sambil mengelus kepala gadis itu.
Melihat wajah pemuda yang dikasihinya itu tampak sangat letih, Ratih cepat-cepat mengangguk, “Nanti jam dua Ratih bangunin”, bisik gadis itu sambil mencium pipi Sancaka dengan cepat.

Sancaka mencium kening gadis itu dan melangkah masuk kekamarnya.
Ratih segera berlari ke kamarnya, senyum riang menghias bibir gadis itu.

****

Jam satu siang gedoran di pintu membuat pemuda itu meloncat dari tempat tidurnya, mimpi buruk tentang Yosephina membuat pemuda itu tadi tidur dengan gelisah, sesaat pemuda itu mengira ia masih di kamar hotel di Lubuk Linggau dan kini polisi sedang menggedor-gedor pintu untuk menangkapnya, setelah menyadari bahwa dia berada di kamarnya sendiri di rumah orangtuanya barulah pemuda itu dapat bernafas lega, diluar terdengar suara Ratih yang memanggil-manggil namanya, dibukanya pintu kamarnya sedikit, “Ada apa Ratih?”, tanyanya singkat.
“Sudah jam satu siang … Mas Sanca nggak lapar?”, tanya gadis itu.
“Siapin aja di meja ya … Mas mau mandi dulu”, jawab Sancaka sambil menutup pintu.

Ratih duduk diseberang meja itu dengan mata nyaris tak berkedip memandang Sancaka yang tampaknya makan sambil melamun itu, ada apa dengan kekasih hatinya ini bisik hatinya, sejak keluar kamar tadi dan sampai dengan duduk makan barusan pemuda itu hanya menyapanya seadanya dan senyumnya pun hanya terlihat sekilas saja, tidak seperti kemarin-kemarin kalau pemuda itu pulang, biasanya Sancaka akan berusaha mencuri kesempatan mencium bibirnya dengan ganas dan berusaha menyusup kekamarnya untuk mengajaknya mengarungi lautan kenikmatan, tapi tidak hari ini, walaupun suasana rumah sangat mendukung tapi pemuda itu seakan kehilangan gairahnya seperti saat ini pun sedang kehilangan selera makannya.

“Permisi … Permisi”, suara orang diteras depan membuyarkan lamunan Ratih, gadis itu segera bangkit dan berlari menuju ke ruang depan, “Ya … Ada apa Pak?”, tanya gadis itu dengan mata penuh selidik kearah empat orang tamu yang ada diteras depan.
Wajar saja gadis itu memandang penuh selidik, tidak pernah rumahnya kedatangan tamu seperti empat orang itu.
Orang pertama adalah seorang Londo yang sudah cukup tua, mengenakan semacam pakaian yang tidak dikenalnya, dilehernya tergantung sebuah salib terbuat dari emas, sementara dipinggangnya terlilit rantai kecil juga dengan hiasan Salib emas tergantung dibagian ujungnya.
Orang kedua juga seorang Londo akan tetapi sedikit lebih muda dengan perawakan tinggi besar dan bertopi lebar, wajahnya tampak tegas dan tidak tersenyum sedikitpun, dipinggangnya tampak dua buah ikat pinggang yang saling melintang dengan dua pistol putih mengkilat seperti terbuat dari perak, dipunggungnya tampak tergantung sebuah senapan panjang. Penampilan orang kedua ini cukup membuat Ratih sedikit takut dan gugup.
Orang ketiga adalah orang pribumi dengan pakaian yang mirip dengan orang pertama, hanya saja dia tidak mengenakan kalung, pinggangnya juga terlilit rantai kecil dengan hiasan salib yang berwarna putih, agaknya terbuat dari perak tidak seperti orang pertama yang salibnya terbuat dari emas. Ratih tidak dapat melihat jelas wajahnya karena orang itu menunduk dan tak mengangkat mukanya sedikitpun.
Orang keempat berpakaian setelan jas lengkap berwarna putih, wajahnya cukup tampan dan ramah ketika tersenyum dan mengangguk ke arah Ratih. Tangannya tampak memegang sebuah tas hitam yang terbuat dari kulit.

“Mohon maaf sebelumnya … Apakah disini benar rumahnya Sancaka?”, orang pertama berusaha menyapa dan bertanya dengan ramah dan sopan.

“Benar … Ada perlu apakah bapak dengan Mas Sanca?”, gadis itu membenarkan dan balik bertanya dengan pandang penuh curiga. Gadis itu kaget sendiri ketika ada tangan menepuk bahunya, ia pun menjadi tenang setelah mengetahui bahwa Sancaka lah yang menepuk bahunya barusan.

“Ratih … Sopan sedikit kenapa … Baiknya tamunya dipersilahkan masuk dulu baru bertanya”, terdengar suara pemuda itu sambil tangannya mempersilahkan tamu-tamu itu masuk, mendengar ucapan Sancaka gadis itu tertunduk malu, dengan muka bersemu merah diapun ikut mempersilahkan keempat orang tamu itu masuk.

“Perkenalkan nama saya adalah Padre Gabriel … saya adalah kepala biara di Tanjung Sakti … dan ini adalah Tuan Van Helsing Junior yang kebetulan sedang berada di Palembang menjadi tamu Uskup disini … Biarawan muda ini adalah asisten saya Ignatius Rianto … sedangkan anak muda ini adalah seorang dokter yang juga asisten Tuan Van Helsing Junior”, orang pertama yang ternyata adalah kepala biara yang dicari Sancaka sesuai pesanan Rianti mulai pembicaraan dengan memperkenalkan satu per satu orang-orang yang datang bersamanya.

“Kedatangan kami kesini ingin mendapatkan keterangan dari Tuan Sancaka mengenai kotak ini”, katanya sambil memberi isyarat kepada asistennya, si biarawan muda dengan segera mengeluarkan dan meletakkan sebuah kotak diatas meja, kotak yang dititipkan oleh Rianti dan telah diantarkan oleh Sancaka ke Biara tempo hari.

“Kotak itu memang benar saya yang mengantarkan ke Biara sesuai permintaan Rianti … Keterangan apakah yang ingin anda ketahui Padre”, ucap pemuda itu tersenyum, “Rianti juga memberi pesan bahwa saya hanya boleh memberikan keterangan hanya kepada anda seorang … hanya kepada anda seorang”, lanjutnya.

“Mari Padre … Sebaiknya kita berdua bicara didalam saja sesuai permintaan Rianti”, Sancaka berdiri sambil memberi isyarat mempersilahkan Padre Gabriel ke ruang dalam, si biarawan muda langsung berdiri dengan raut muka jengkel, akan tetapi dia langsung duduk kembali ketika melihat isyarat dari Padre Gabriel.

“Ratih bantu Mas siapin minuman buat tamu-tamu yang lain ya”, katanya sambil membelai rambut Ratih, gadis itu mengangguk dan segera berlalu ke dalam.
“Mohon yang lain sabar menunggu disini”, ujar pemuda itu sambil mengangguk hormat.

Kemudian Sancaka dan Padre Gabriel berlalu kedalam. Sancaka menjawab semua pertanyaan yang diajukan Padre Gabriel selama itu tidak menyangkut dimana keberadaan wanita itu dan siapa yang membawanya pergi ataupun mengenai keadaannya yang telah menjadi seorang Vampire, Sancaka selalu menghindar dari pertanyaan yang menjurus kearah itu dengan memberikan alasan bahwa sesuai pesan Rianti, wanita itu berpesan bahwa ada hal-hal tertentu yang belum saatnya untuk diketahui oleh orang lain.
Cukup lama keduanya baru keluar ke ruang tamu, setelah Padre Gabriel merasa telah cukup mendapat keterangan dari Sancaka.

Sampe sekitar jam tiga sore Sancaka menemani keempat tamunya mengobrol sebelum mereka pamit pulang, “Saya masih beberapa hari lagi di Palembang, jika tuan memerlukan bantuan saya silahkan mencari saya di Keuskupan Palembang”, hanya itu pesan Padre Gabriel sebelum keempat orang itu berlalu dari rumah Sancaka.

Setelah berpakaian rapi Sancaka segera bergegas menuju rumah Gayatri sang tunangan, sudah cukup lama keduanya tak bertemu.

****

Sudah hampir jam empat ketika Sancaka melangkahkan kakinya memasuki halaman rumah tunangannya, halaman rumah Gayatri memang luas dan terpelihara baik. Semua tanaman hias yang ada dihalaman itu tertata rapi.

“Eh … Nak Sanca … Kapan datangnya”, sapa Bu Puji ramah sambil mengulurkan tangannya, Sancaka segera menyambut dan mencium tangan ibunda tunangannya itu, “Gayatri ada Bu?”, tanya pemuda itu sambil matanya melirik ke dalam.

“Waduh … Gayatri pergi dengan temennya sejak tadi pagi … temen kuliahnya dulu”, sahut calon mertuanya, “Masuklah dulu … biasanya menjelang gelap mereka sudah pulang kok”, lanjut Bu Puji sambil membimbing Sancaka masuk ke dalam.

“Bapak kemana Bu?”, tanya Sancaka sekedar basa-basi.

“Bapak sedang ke Lampung … Sudah dua hari, katanya mau memeriksa cabang usahanya yang ada disana … duduk dula ya … Ibu bikinin kopi dulu”, jawab mertuanya sebelum berlalu ke dalam, “Makasih Bu”, sahut Sancaka sambil duduk.

“Lain lho Sancaka sekarang ini … Tambah rapi dan tambah ganteng saja”, goda calon mertuanya sambil meletakkan secangkir kopi ke meja tamu, “Ibu bisa saja … Perasaan nggak ada yang berubah”, jawab Sancaka tersipu.

Diangkatnya gelas kopinya, diseruputnya dua kali dan diletakkannya kembali cangkir kopi itu ke meja, Sancaka meraba tengkuknya yang meremang, dia merasa walaupun cuma sesaat betapa tadi mata Bu Puji memandang tajam dan berkilat penuh nafsu kearahnya sambil sekilas menjilat bibirnya sendiri sebelum berlalu kedalam.
Tapi tak mungkin rasanya calon ibu mertuanya itu berbuat seperti itu, calon mertuanya itu selama ini selalu bersikap anggun bahkan cenderung terkesan angkuh dan selalu memandang tinggi derajat keningratannya.
Pasti semua itu tadi hanya perasaannya saja pikir pemuda itu.

Memang sebenarnya Bu Puji adalah bibi sekaligus ibu tiri bagi Gayatri, seorang wanita yang ayu menawan, dengan kulit kuning langsat yang menambah keanggunannya. Usianya dengan usia Gayatri paling hanya terpaut sekitar tujuh atau delapan tahun.
Ibunda Gayatri meninggal dunia ketika Gayatri berusia sepuluh tahun, dan kemudian posisi ibunya digantikan oleh adik bungsu ibunya yang ketika itu masih berusia tujuh belasan.
Di Sumatera kejadian demikian disebut dengan istilah “turun ranjang”.

Setelah Bu Puji datang kembali membawa sepiring makanan kecil keduanya pun akhirnya terlibat obrolan ngalor-ngidul sambil menunggu kembalinya Gayatri, dan Sancaka tidak menangkap adanya keanehan pada diri calon ibu mertuanya itu.
Akhirnya pemuda itu menyimpulkan bahwa pandangan penuh nafsu calon mertuanya itu tadi benar-benar hanya perasaannya saja.

Bu Puji ternyata bisa jadi teman ngobrol yang baik bagi Sancaka, membuat pemuda itu betah menunggu sang calon tunangan pulang.