Sambil mengobrol dengan Bu Puji, sempat terlintas dipikirannya bahwa perkataan calon mertuanya tadi ada benarnya, dia memang sudah berubah, berubah menjadi pemuda cabul, bahkan tadi dia sempat menganggap bahwa calon mertuanya itu telah memandangnya dengan penuh nafsu birahi.
Sesaat pemuda itu tersenyum kecut merasa betapa mudahnya pikiran kotor hinggap dikepalanya, bahkan terhadap calon mertuanya sendiri.

Hari telah mulai gelap dan matahari nyaris tenggelam, Sancaka masih mengobrol dengan Bu Puji ketika dihalaman terdengar dua orang wanita berjalan ke arah rumah Gayatri sambil bersenda gurau, “Itu mereka pulang”, Bu Puji yang kebetulan duduknya menghadap ke arah luar berkata sambil bangkit berdiri.

Sancaka bangkit berdiri dan meloncat ke bawah jendela, “Jangan bilang kalau saya ada disini ya Bu … Saya ingin buat kejutan buat Gayatri”, bisiknya agak keras, “Saya sembunyi di kamar tamu depan ya Bu”, lanjutnya lagi, pemuda itu tersenyum senang dan segera menyelinap ke dalam kamar tamu di sebelah ruang depan setelah melihat anggukan kepala Bu Puji. Calon mertuanya itu hanya tersenyum geli sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dari celah pintu yang dibiarkannya terbuka sedikit Sancaka dapat dengan bebas mengamati keadaan diluar, ditambah lagi keadaan ruang tamu depan yang cukup gelap semakin menyempurnakan persembunyiannya.

Ketika Gayatri dan temannya melangkah masuk keruang depan itu Sancaka nyaris jatuh terjengkang ke belakang saking terkejutnya, mukanya pucat pasi dan nafasnya nyaris putus, teman yang melangkah masuk bersama Gayatri itu tak lain adalan Tantri, selir utama Tuan Frantzheof de Van Pierre, yang tiga hari lalu menenggelamkan dirinya dalam pesta seks bersama kelima selir Tuan Frantzheof de Van Pierre lainnya.

Sancaka menjadi kebingungan sendiri karena situasi yang tak terduga ini, alih-alih memberi kejutan pada tunangannya, dirinya sendiri baru saja nyaris mati terkejut sendiri.
Sambil tersandar lemas masih didengarnya ketiga orang diruang depan itu asyik ngobrol, pemuda itu masih belum dapat memutuskan harus berbuat apa, tak lama kemudian didengarnya Gayatri dan Tantri pamit ke Bu Puji dan cekikikan berlomba cepat masuk ke kamar Gayatri.

Sancaka masih tersandar lemas didinding disebelah pintu kamar tamu depan itu ketika Bu Puji dari celah pintu itu berbisik memanggilnya, “Nak Sanca … Nak Sanca masih didalam?”.
“Iya Bu … saya masih disini”, jawab Sancaka pelan.
“Kenapa tidak keluar tadi … tunggu sebentar ya”, terdengar kembali bisikan calon mertuanya itu, pemuda yang masih kebingungan itu tak memberi jawaban.

Terdengar calon mertuanya melangkah menjauh dari kamar tamu itu dan setelah itu terdengar teriakannya, “Gayatri … Ibu mau ke Toko Asiong sebentar … Ada yang mau dibeli”, lalu terdengar suara tunangannya menyahut dari dalam kamarnya, “Iya Bu”.

Kemudian terdengar suara pintu depan ditutup dan tak lama kemudian Bu Puji sudah menyelinap ke dalam kamar tamu depan dimana Sancaka berada.
“Kamu kenapa Sancaka? … Sakit?” tanya Bu Puji melihat pemuda itu tersandar didinding didekat pintu.
Tangannya langsung meraba kening pemuda itu, “Kamu seperti habis melihat hantu saja … memangnya wajahku segitu menyeramkan sampai kamu keringatan dingin begini … ayo duduk dan istrirahat disana”, lanjutnya lagi sambil menuntun Sancaka ke tempat tidur setelah menutup pintu dan menyalakan lampu.

“Kenapa tidak keluar tadi? … Kamu kaget waktu ibu menyelinap masuk tadi ya? … Masak bisa ketakutan begitu melihat ibu seperti melihat hantu?”, tanya calon mertuanya sambil membelai kepala pemuda itu.

“Bukan kok Bu .. saya bukan kaget melihat ibu masuk tadi … saya masih bersembunyi karena masih berusaha mengingat siapa kawannya Gayatri tadi”, jawab pemuda itu mencoba berbohong.

Posisinya yang duduk di tempat tidur sementara Bu Puji berdiri di hadapannya mau tak mau membuat muka pemuda itu persis berhadapan dengan buah dada wanita itu, sepasang buah dada dibalik kebaya itu tegak menantang karena Bu Puji memang belum pernah melahirkan, jadi payudaranya tentu masih kencang dan bagus bentuknya.

“Masak kamu nggak kenal sama Tantri .. katanya dulu kalian bertiga khan satu kampus bahkan sama tempat mondoknya … dia saja masih ingat kok sama kamu Sanca”, sahut calon mertuanya sambil masih membelai kepala pemuda itu.

“Itulah Bu … saya masih berusaha mengingat hal itu”, jawab pemuda itu pelan. Sancaka mendongak keatas dilihatnya mertuanya menahan tawanya sambil menutup mulut dengan tangan kirinya. “Kok Ibu tertawa begitu?” tanyanya bingung.

“Kamu itu tadi saja waktu sendirian di kamar ini masih juga tidak bisa mengingat siapa Tantri … apalagi sekarang … wong dari tadi matamu itu nggak pernah lepas dari sini”, sahut Bu Puji gemas menunjuk kearah dadanya dan menjiwir hidung pemuda itu.
Sancaka hanya nyengir malu dengan muka merah.

“Sini biar lebih cepet inget … daripada cuma dilihat terus”, kata Bu Puji melangkah maju dan memeluk kepala pemuda itu kedadanya, diciumnya ubun-ubun pemuda itu, Sancaka merasakan betapa empuknya dada calon mertuanya itu, membuat jantungnya berdegap-degup tak keruan.
Wangi tubuh mertuanya itu makin mempercepat nafsunya naik ke ubun-ubun.

“Enak?” tanya mertuanya berbisik, Sancaka mengangguk dan memberanikan diri memeluk pinggang Bu Puji.
Sancaka mendongakkan kepalanya ingin melihat ekspresi muka calon mertuanya itu, Bu Puji langsung menunduk dan menyambar bibir pemuda itu, Sancaka semula agak kaget juga melihat keganasan calon mertuanya itu, akan tetapi dia langsung bereaksi tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, keduanya segera terlibat dalam ciuman yang panas.

Ketika ciuman keduanya terlepas jemari Sancaka langsung bekerja membuka kebaya yang dikenakan Bu Puji, berikutnya melepas stagen dan kemben yang dikenakan wanita itu, terakhir kain batik calon mertuanya yang jatuh kelantai.

Kini Bu Puji berdiri dihadapan Sancaka dalam keadaan nyaris telanjang, hanya tinggal celana yang berwarna putih itu saja yang menutupi bagian terpenting dari tubuh wanita itu.
Sancaka menelan ludah, tubuh calon mertuanya itu memang masih bagus dan menggairahkan, buah dadanya masih indah dan kencang. Pantas untuk diebut sebagai tubuh gadis yang sudah matang, bukankah calon mertuanya ini belum pernah melahirkan apalagi menyusui.

Sambil tersenyum genit perempuan itu mulai membukai seluruh pakaian Sancaka, pemuda itu tetap dalam posisi duduk dan membiarkan semua perbuatan Bu Puji.
Setelah itu Bu Puji kembali berdiri dan melepaskan penutup terakhir tubuhnya.
Bu Puji kembali menarik dan memeluk kepala pemuda itu kedadanya, “Namaku Puji Astuti … kamu boleh memanggilku Tuti kalau kamu mau”, bisiknya lembut.

Tanpa ragu lagi Sancaka segera menarik tubuh telanjang itu, dibalikkan dan disandarkannya di kepala pembaringan itu.
Puji Astuti terkikik geli melihat keganasan pemuda itu.

Sancaka dengan ganas langsung menciumi bibir, leher dan buah dada Puji Astuti bergantian, diselingi remasan dan pelintiran jarinya di kedua buah dada perempuan itu, “Iya … Sanca … Jadikan aku objek kebuasanmu”, desah perempuan itu dengan tubuh meliuk-liuk keenakan.

Sancaka tiba-tiba menghentikan gerakannya, “Sesuai permintaanmu … Hari ini kau akan merasakan kebuasanku”, katanya gemas, ditariknya tubuh Puji Astuti ke tengah pembaringan itu.
Dibukanya kedua paha Puji Astuti, pemuda itu berjongkok diantara kedua paha itu, setelah itu diarahkan dan digesek-gesekannya kepala penisnya ke belahan vagina perempuan itu.
Puji Astuti memejamkan mata, menunggu, sambil meremas-remas buah dadanya sendiri.
Tiba-tiba Sancaka menekan dan mendorong dengan cepat dan kuat, batang penis pemuda itu masuk seluruhnya dalam satu kali hentakan, “Auchh”, jerit Puji Astuti terkejut.
Belum habis rasa kaget kaget perempuan itu, Sancaka dengan cepat menyelipkan kedua tangannya melalui bawah paha Puji Astuti dan menangkap kedua pergelangan tangan perempuan itu yang tadi sedang meremas-remas buah dadanya sendiri, kemudian ditariknya kedua tangan perempuan itu sambil mulai menggerakkan pinggulnya.
Dengan berpegang pada kedua tangan Puji Astuti seperti itu Sancaka dapat menghentakkan pinggul dengan bebas, memberikan hentakan-hentakan cepat dan kuat, “Auchh … Gila kau Sanca …“, Puji Astuti hanya dapat menjerit lirih, kepalanya terdongak dengan tubuh mengejang menerima setiap hunjaman penis Sancaka yang dengan mantap menerobos liang vaginannya.

Tak lama kemudian tubuh Puji Astuti tampat tersentak-sentak kuat, agaknya perempuan itu telah mencapai puncak kepuasannya, akan tetapi Sancaka tidak sedikitpun mengendurkan gerakan pinggulnya, “Aduh … Mati aku…”, Puji Astuti mendesah dan menggeram, tubuhnya meliuk-liuk liar.
Beberapa saat kemudian tubuh Puji Astuti kembali tersentak kuat, begitu kuatnya sentakan itu sampai pengangan Sancaka terlepas, kedua tangan perempuan itu langsung menahan gerakan pinggul Sancaka, “Ampun Sanca … ampun”, desahnya dengan suara dan tubuh bergetar seperti orang menggigil kedinginan.

Sancaka menghentikan serangannya, membiarkan penisnya terbenam dalam liang vagina perempuan itu, menikmati remasan-remasan kuat dinding vagina itu di batang penisnya.
Selama ini Puji Astuti memang jarang sekali mendapat kepuasan dari suaminya yang lebih tua, dan kini dalam tempo singkat dia telah mendapatkan itu dua kali berturut-turut.

Setelah Puji Astuti kembali membuka matanya, Sancaka langsung menindih tubuh perempuan itu, Puji Astuti langsung merangkul kepala Sancaka sambil membuka dan melingkarkan kedua paha di pinggang pemuda itu.
Bibir mereka bertemu dan langsung saling melumat dengan ganas.

Tak membuang waktu lagi Sancaka langsung mencengkeram bahu perempuan itu dan mulai mengayunkan pinggulnya maju-mundur dengan cepat, tak kuat menahan kenikmatan yang kembali mendera membuat Puji Astuti bukan lagi memeluk melainkan mulai mencakar-cakar punggung pemuda itu.
Sancaka tampaknya juga ingin menuntaskan pertempuran kali pertama ini, ketika sudah mendekati puncaknya Puji Astuti melepaskan ciumannya di bibir pemuda itu, “Aduh … Aku nggak kuat lagi Sanca …”, desahnya dengan nafas memburu.
Pemuda itu mempercepat goyangan pinggulnya.
Sancaka sudah mendekati puncak ketika tubuh Puji Astuti kembali tersentak mengejang, desahan puncak kenikmatan perempuan itu langsung tertahan karena Sancaka langsung membekap mulut dan hidung perempuan itu.
Puji Astuti meronta-ronta dibuatnya, liang vagina perempuan itu terasa mencengkeram dengan kuat.
Sancaka semakin mempercepat goyangannya dan dengan hempasan kuat batang penisnya menghunjam sedalam-dalamnya ke liang vagina perempuan itu, menyemburkan cairan kenikmatannya.

Sancaka melepaskan bekapan tangannya dari mulut dan hidung Puji Astuti, perempuan itu terengah-engah mengatur nafasnya, “Gila kamu Sanca … Gila kamu ya … Bisa mati aku tadi”, sungutnya sambil memukuli punggung pemuda itu dengan tangan gemetaran.

Sancaka hanya tertawa-tawa saja sambil sesekali mencium dan melumat puting susu calon mertuanya itu.
“Tadi enak khan? … Mau lagi nggak? … Ngga mau yach? …”, goda Sancaka sambil menjawil dagu perempuan itu setelah dilihatnya nafas Puji Astuti telah mulai teratur.
“Sialan kamu ya …”, jerit perempuan itu malu sambil mencubit pinggang calon mantunya itu.

Sancaka menggulingkan dirinya ke samping perempuan itu. Puji Astuti segera memeluk dan meletakkan kepalanya didada pemuda itu.
Betapa bahagianya kalau dia yang menjadi istri Sancaka batinnya.

****

Puji Astuti dan Sancaka yang masih beristirahat sambil berpelukan itu sempat tegang sejenak ketika mendengar suara Gayatri dan Tantri di ruang depan diluar kamar tempat mereka memadu kasih barusan.

“Ayo kita pergi … nampaknya Ibu sedang keluar juga … aku sudah lapar nich”, terdengar Gayatri berkata, dan tak lama kemudian terdengar pintu depan dibuka dan ditutup kembali.
Puji Astuti dan Sancaka menghela nafas lega, untung gadis itu tidak mencari Ibunya sampai ke kamar tamu depan ini, apa jadinya kalau gadis itu memergoki mereka.

Baru saja Puji Astuti merebahkan kembali kepalanya di dada Sancaka, keduanya langsung terlonjak kaget.
Tiba-tiba saja pintu kamar itu terkuak sedikit, ada seseorang disana yang mengintip mereka.

Sancaka meloncat kearah pintu untuk melihat siapakah orang itu, akan tetapi orang itu langsung berlari kearah pintu keluar, orang itu sempat menoleh dan ternyum genit kearah Sancaka, orang itu tak lain adalah Tantri.
Entah kapan gadis itu masuk kembali kerumah ini, baik Puji Astusti maupun Sancaka tidak mendengar suara apapun, bahkan mereka tadi tidak sempat menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang mereka.

Sancaka menutupkan kembali pintu kamar itu, “Orang yang tadi mengintip adalah Tantri”, bisiknya sambil naik kembali ke atas pembaringan.

Melihat wajah Puji Astuti yang masih juga pucat karena takut dan cemas, Sancaka langsung membelai wajah calon mertuanya itu dan mencium keningnya, “Tenanglah … aku yakin Tantri tidak akan menceritakan masalah ini kepada orang lain”, bisiknya menghibur.
Puji Astuti mengangguk lemah dan berusaha tersenyum.
Keduanya berciuman kembali.

“Malam ini kamu harus tidur disini … Aku akan menyiapkan makan malam untukmu”, bisik Puji Astuti sambil bangkit berdiri dan kemudian mengenakan kembali pakaiannya.
Sancaka hanya tersenyum memperhatikan.

Puji Astuti menyelinap keluar kamar setelah mencium kening Sancaka.

Tak lama kemudian terdengar kembali suara Gayatri dan Tantri yang agaknya baru pulang dan kini masuk kedalam sambil terus memperbincangkan tentang sesuatu yang tak terlalu jelas terdengar oleh Sancaka.

****

Malam itu hampir jam sembilan barulah Puji Astuti masuk kembali ke kamar tamu depan itu, tangannya membawa nampan berisikan beberapa buah piring besar dan kecil yang terisi dan nasi, lauk, sayur dan sambal. Sancaka saat itu sedang duduk di sisi pembaringan menikmati rokoknya.
“Maaf ya … habisnya harus menunggu Gayatri dan Tantri masuk ke kamar dulu baru berani menyelinap kesini”, katanya sambil meletakkan nampan itu keatas tempat tidur disebalah Sancaka, “Sudah lapar ya sayang?”, tanyanya sambil duduk disebelah pemuda itu, dipeluknya dan diciuminya leher pemuda itu, “Cepat habiskan rokoknya terus makan … kalau nggak makan nanti nggak ada tenaga buat pertempuran nanti malam”, bisiknya genit.

Sancaka cepat-cepat menghabiskan rokoknya dan mulai makan dengan lahap, perutnya memang sudah teriak-teriak minta diisi sejak tadi.
Puji Astuti tersenyum senang melihat pemuda itu makan dengan lahapnya.

“Aku bikinkan kopi ya”, bisiknya dan segera beranjak keluar meninggalkan Sancaka yang sedang makan.

Sancaka telah selesai makan dan kembali menyulut rokoknya ketika Puji Astuti kembali masuk kamar itu dengan secangkir kopi ditangannya.
Keduanya terlibat obrolan sambil bisik-bisik karena takut kedengaran oleh Gayatri, agaknya Puji Astuti masih mencemaskan soal Tantri yang tadi sempat memergoki mereka.
Sancaka terus berusaha meyakinkan dan menenangkan Puji Astuti sampai wanita itu tenang dan mulai ceria kembali.

Tangan Puji Astuti mulai nakal dan ketika merasakan bahwa penis pemuda itu mulai bangun kembali, wanita itu langsung mengendurkan gulungan ikatan kain sarung yang dikenakan Sancaka, memang pemuda itu saat ini mengenakan kaim sarung yang tadi diambilnya dari dalam lemari pakaian yang ada di kamar itu.
Melihat wanita itu sudah memulai serangan, Sancaka pun tak mau kalah, tangannya mulai membuka pakaian yang dikenakan wanita itu.

Tak lama kemudian Sancaka telah kembali menindih tubuh bugil Puji Astuti, pemuda itu dengan buas mulai menetek sambil menggesek-gesekkan kepala penisnya ke belahan vagina calon mertuanya itu.
Puji Astuti mendesah dan mendesis keenakan sambil meremas-remas rambut pemuda itu.

“IBUUU…!!!”, terdengar jerit panjang Gayatri yang histeris, entah kapan gadis itu bisa berdiri didepan pintu kamar yang kini terpentang lebar itu.
Puji Astuti dan Sancaka terloncat bangun karenanya, keduanya sibuk menutupi tubuh telanjang mereka dengan selimut.

Gayatri berdiri disana dengan muka pucat dan tubur gemetar, air mata gadis itu mulai mengalir, “Kalian … Apa yang … Kalian memang Keji !!! … “, jeritnya lagi, tangannya yang gemetar menahan emosi itu menuding kearah Puji Astuti dan Sancaka bergantian.
Puji Astuti hanya terdiam, menyembunyikan mukanya dan mulai menagis.
Begitu juga dengan Sancaka, pemuda itu hanya terdiam dengan muka pucat, lidahnya tiba-tiba menjadi kelu tak dapat bersuara.

“Mas Sanca kau …. Kau … Kejam!”, Gayatri menjerit lirih dan ambruk ke lantai, gadis itu akhirnya jatuh pingsan karena tak kuat menahan emosinya lagi, hatinya hancur melihat perbuatan Ibu dan tunangannya barusan.
Disana kini berdiri Tantri yang tersenyum sinis, rupanya gadis itu sejak tadi berdiri di belakang Gayatri.

Puji Astuti menghambur kearah tubuh Gayatri yang tergolek dilantai, wanita itu langsung menangis dan meratap sambil menciumi kening gadis itu, “Maafkan Ibu Gayatri … Maafkan Ibu”, bisiknya berulang-ulang dengan suara parau.

Tantri masih berdiri disana dan terus menatap kearah sancaka dengan pandangan mengejek dan senyum sinis, tak sedikitpun mengacuhkan keadaan Puji Astuti dan Gayatri.

“Setan kau Tantri … “, desisnya marah melihat keadaan tunangannya yang kini tergolek pingsan dilantai, dengan cepat dia mengenakan kembali celananya, setelah itu pemuda itu menerjang kedepan dan pukulannya melayang dan menghantam pelipis kiri gadis itu.
Tantri terjajar kebelakang dan menghantam kursi dan meja di ruang depan, dengan perlahan gadis itu berdiri kembali tanpa terluka sedikitpun.
Gadis itu kembali menatap tajam kearah Sancaka dan senyum sinis masih menghias bibirnya.

Tiba-tiba Tantri mendengus dan tubuhnya Tantri melayang dengan cepat kearah Sancaka dan hanya dengan satu kibasan saja gadis itu telah melemparkan tubuh pemuda itu ke belakang. Tubuh Sancaka terlempar kebelakang menghantam jendela dan terlempar keluar, pemuda itu jatuh terhempas ke halaman samping.

Sancaka mengeluh lirih, berusaha bangun walaupun tulang punggungnya terasa remuk dan nyeri bukan main.

Tantri kembali mendengus dan tubuhnya melayang menerobos jendela dengan cepat kearah Sancaka, tamparan keras menghantam pipi pemuda itu, tubuh Sancaka kembali terhempas ke atas tanah.
Sancaka mengeluh lirih dan sekuat tenaga masih berusaha bangun walaupun pandangannya kini nanar berkunang-kunang dengan kepala serasa berputar-putar.

Tantri tertawa puas, dicengkeram dan ditariknya rambut Sancaka dengan kuat, “Sudah ingatkah kau padaku sekarang Sancaka!”, bentaknya sambil tersenyum sinis.

“Jangan kau sentuh dia Tantri”, terdengar suara wanita menegur dengan halus.

Tidak jauh dari mereka telah berdiri sesosok wanita yang tidak lain adalah Rianti, Tantri mendengus kesal dan berkelebat menyerang Rianti, akan tetapi tubuh Rianti berkelebat lebih cepat dan dengan satu tamparan tubuh Tantri langsung terlempar balik dan terhempas ke atas tanah beberapa meter dari tubuh Sancaka.

Mata Tantri berkilat penuh amarah, gadis itu memandang wajah Rianti dengan penuh kebencian, lingkaran hitam mata gadis itu lalu berubah kuning kemerahan dan mulutnya menyeringai ganas memperlihatkan dua taring yang kini menyembul keluar.

Rianti hanya diam berdiri bertolak pinggang dan memperhatikan perubahan diri Tantri sambil tersenyum mengejek dan berkata, “Belum cukupkah teguranku tadi Tantri? Ingat-ingat akan tugasmu!”.

“Persetan dengan semua itu! … Aku bebas berbuat sesuka hatiku!”, jerit Tantri sambil merunduk, posisi tubuhnya seperti orang yang bersiap-siap dalam sebuah perlombaan lomba lari.
Terdengar gadis itu menggeram diikuti suara tulang-tulang ditubuh gadis itu berkeretekan.
Terjadi perubahan hebat terhadap fisik gadis itu dimulai dari kepalanya, kemudian bahu dan tangannya dan terakhir bagian kakinya, setiap bagian yang berubah membesar itu diikuti oleh tumbuhnya bulu-bulu yang cukup panjang dan terlihat kaku.
Suara robeknya pakaian yang dikenakan Tantri disana-sini menambah seram proses perubahan itu.
Kini tubuh gadis itu menjelma menjadi monster bertubuh lebih mirip serigala raksasa daripada tubuh manusia, dengan ukuran dua kali lipat ukuran tubuh manusia normal.

Sancaka melihat semua perubahan itu dengan muka pucat pasi, tubuhnya terduduk lemas tak bertenaga, hilang semua kecantikan Tantri yang selama ini membuat Sancaka kagum padanya.

Monster jelmaan Tantri menyeringai memperlihatkan deretan giginya yang tajam dengan dua buah taring besar lalu mendongak kelangit mengeluarkan lolongan yang menyeramkan, setelah lolongannya habis monster itu melesat cepat ke arah Rianti.
Kedua tangan terbuka siap dengan serangan cakar-cakarnya yang besar dan berwarna hitam.
Rianti tak bergeming sedikitpun gadis itu malah tersenyum sinis sekali.

Sinisnya senyum Rianti dikarenakan melihat Tantri yang dalam kemarahannya melupakan bahwa darah vampire yang mengalir ditubuh gadis itu tidak semurni seperti yang dimilikinya, yang tentu saja berarti kekuatan gadis itu bukanlah tandingannya pula.

Rianti sudah memutuskan akan memberikan pelajaran keras pada gadis itu kali ini.

“DORRR!!!”, terdengar letusan keras dan monster jelmaan Tantri yang sedang melesat kearah Rianti itu meraung keras, langkahnya terhenti dan tangannya kirinya menekap ke arah dada sebelah kanan.
“DORRRR!!!”, letusan keras kembali terdengar ketika monster jelmaan Tantri itu masih meneruskan langkahnya kearah Rianti itu, kali kedua pula monster itu mengeluarkan raung kesakitan, langkahnya terhenti dan monster itu jatuh terduduk ditanah dengan kedua tangan menekap ke arah dada kirinya.

“Tantri…!!!”, Rianti menjerit pilu dan langsung melesat cepat kearah monster itu, dipeluk dan direbahkannya kepala monster itu kedadanya, sambil terisak-isak menangis Rianti terus membelai dan menciumi kepala monster itu.

Perlahan tubuh monster itu kembali ke bentuk aslinya, kembali menjelma menjadi Tantri yang cantik jelita, darah segar masih terus mengalir dari dua buah lubang yang cukup besar di kedua dada gadis itu.

“Kau memang keras kepala”, bisik Rianti dengan tangis semakin keras melihat begitu banyak darah yang mengalir dari luka di dada kiri gadis itu, Rianti berusaha menutup luka itu dengan telapak tangan kanannya, agaknya tembakan kedua tadi tepat mengenai jantung.

Muka Tantri semakin pucat kehabisan darah, dengan tangan gemetaran gadis itu meremas tangan Rianti, keningnya berkerut-kerut menahan sakit, “Maafkan aku ya Mbakyu … Aku memang keras kepala dan tak pernah mau menuruti nasehatmu”, bisiknya lirih. Air mata gadis itu pun mengalir dengan deras.

“Tantri … Tantri…”, Rianti meratap pilu dan memeluk gadis itu dengan erat, nafas gadis itu tingal satu-satu sampai akhirnya berhenti sama sekali, tangannya yang tadi balas memeluk Rianti telah jatuh terkulai.

Cukup lama Rianti menangis dan meratap sambil memeluk tubuh Tantri yang sudah tak bergerak lagi itu, sampai ia merasakan ada tangan yang memegang dan menepuk-nepuk bahunya dari belakang, Rianti membiarkan saja karena semula ia mengira orang yang berdiri dibelakangnya itu adalah Sancaka.

Ketika tangisnya sudah reda dia pun menoleh kearah orang yang memegang bahunya itu, gadis itu langsung tercekat kaget, “Mas Totok…!!!”, bibirnya refleks menyebut nama orang itu.

Orang itu memanglah Rianto adanya, kakak sekaligus kembaran Rianti.
Dibelakang sang kakak berdiri seorang lelaki londo tinggi besar yang tak lain adalah Van Helsing Junior, orang yang telah melepaskan tembakan ke arah Tantri ketika gadis itu bermaksud menyerang Rianti tadi.

Rianto membantu adiknya bangun dan memapahnya meninggalkan tempat itu, sempat ditolehnya sebentar ke arah Sancaka dan berkata, “Tak ada lagi yang bisa kau lakukan disini Sancaka … masuk dan lihatlah keadaan tunanganmu”.

Dengan lunglai Sancaka mengangguk dan berajak bangun untuk masuk kedalam rumah tunangannya itu.

Sempat dilihatnya Van Helsing Junior berjongkok disamping tubuh Tantri sambil mengeluarkan dua buah pasak logam kekuningan yang berujung tajam dan sebuah palu godam dari tas yang disandangnya.
Pasak yang besar ditancapkan dan dipakukan dibagian jantung sementara pasak yang kecil di tancapkan dan dipakukan tepat diantara kedua alis.
Kemudian londo itu memangul tubuh Tantri dan membawanya pergi menghilang di kegelapan malam.

****

Sancaka membaringkan tubuh Gayatri ke tempat tidur dikamar gadis itu, gadis itu masih dalam keadaan pingsan tadi ketika Sancaka masuk ke dalam rumah.
Puji Astuti sudah reda tangisnya tinggal sesekali terisak-isak kecil saja, wanita itu duduk di ujung pembaringan itu memijat-mijat kaki Gayatri sambil memandang penuh kasihan ke arah putrinya.

Kemudian Sancaka pergi kembali ke kamar tamu depan untuk mandi dan mengenakan kembali pakaiannya, karena sedari tadi pemuda itu hanya mengenakan celana panjang dan bertelanjang dada dengan tubuh penuh debu tanah akibat dilempar keluar oleh Tantri..

“Keluar ! … Keluar ! …”, terdengar teriakan Gayatri diikuti oleh suara-suara barang pecah, Sancaka langsung berlari ke arah kamar gadis itu.
Dilihatnya Puji Astuti berdiri menangis di pintu kamar Gayatri, gadis itu masih berteriak-teriak histeris sambil sesekali melemparkan benda-benda yang ada didekatnya.

Ketika Sancaka melangkah masuk ke kamar itu Gayatri pun langsung meloncat dari tempat tidurnya, tangannya melayang ke pipi Sancaka, pemuda itu yang memang sudah merasa bersalah hanya diam membiarkan.
“PLAK!”, tamparan keras gadis itu tak urung membuat pandangan Sancaka berkunang-kunang karena tamparan itu selain menghantam pipinya dengan kuat juga tepat mengenai telinganya membuat gendang telinganya seperti mau pecah rasanya.
Serangan Gayatri tidak hanya berhenti disitu, gadis itu langsung memukuli dada Sancaka bertubi-tubi, melihat airmata gadis itu yang mengalir deras Sancaka membiarkan gadis itu terus memukuli dadanya untuk melampiaskan semua emosinya.

Setelah pukulan-pukulan gadis itu melemah, Sancaka menangkap kedua tangan gadis itu, kemudian dipeluknya tubuh tunangannya itu, pemuda itu berusaha menenangkan gadis itu seraya berulang kali meminta maaf atas kejadian tadi.
Cukup lama Gayatri menangis di dada pemuda itu, sampai akhirnya kesadarannya pulih kembali dan segera ditolakkannya tubuh pemuda itu ke belakang.

Dengan gontai Gayatri melangkah menuju ke pembaringan, “Keluar lah kalian … aku tak ingin melihat muka kalian berdua”, jeritnya dengan suara parau sambil menyembunyikan diri didalam selimut.

Mendengar itu Puji Astuti langsung berlari sambil menangis ke kamar tidurnya, Sancaka tercenung sejenak sebelum akhirnya menghela nafas panjang dan beranjak keluar dan menutupkan pintu kamar tunangannya itu.

Sancaka terduduk lesu di kursi tamu di ruang depan dengan pikiran dan perasaan kalut, sampai akhirnya diapun tertidur disana.

****

Saat itu sudah mendekati jam empat dini hari ketika Sancaka terlonjak bangun, bayangan seseorang yang baru saja melintas disebelahnya yang membuat pemuda itu refleks bereaksi.
Mata pemuda itu sempat melihat bayangan seseorang masuk ke ruang dalam.

Dengan mengatur nafas dan langkahnya, Sancaka mulai menyelinap ke ruang belakang, pemuda itu ingin tahu siapa sosok bayangan tadi, apalagi mengingat saat itu yang baru mendekati jam empat pagi membuat kecurigaan pemuda itu semakin besar.

Terdengar suara keletak-keletuk diikuti suara curahan air dari halaman belakang, ketika pemuda itu mengintip kesana dilihatnya seorang perempuan yang sedang memompa air dari pompa besi merek Dragon yang dipasang dipinggir sumur belakang, perempuan itu mengenakan baju kaos berwarna hijau muda dengan kaki terbalut kain batik selutut.

Walaupun cuma terlihat dari belakang tapi Sancaka dapat menilai bahwa perempuan itu agaknya masih cukup muda, bentuk tubuhnya juga cukup bagus, dan dari kulit betisnya juga dapat diduga bahwa kulitnya pastilah pula putih mulus.
Tinggal lagi yang belum dapat diduga adalah masalah kecantikannya karena wajahnya tidak terlihat dari belakang.

Sancaka terus mengawasi gerak-gerik perempuan itu yang agaknya tak mengetahui ada seseorang mengawasinya, setelah tempat air yang disinya itu penuh perempuan itu bergeser ke samping lalu berjongkok dan duduk diatas dingklik (sejenis bangku kecil dari kayu) dan mulai mencuci pakaian yang bertumpuk didepannya.
Karena kini perempuan itu duduknya menyamping barulah Sancak dapat melihat wajahnya, wajahnya ternyata memang cantik, Sancaka mengenali perempuan itu sekarang, dia adalah Rodiah seorang janda beranak satu, janda dari seorang pegawai kantor pos yang katanya meninggal akibat kecelakaan dinas beberapa tahun lalu.
Lama-lama melihat wajah cantik dan bentuk tubuh yang bagus dengan dada yang cukup besar, ditambah lagi kaos dan kain yang dikenakan peremuan itu sudah basah dan melekat ketat ke tubuhnya, membuat Sancaka mulai tergugah kelelakiannya.

Sedang asyiknya Sancaka memperhatikan dan membayangkan lekak-lekuk tubuh Rodiah, tiba-tiba perempuan itu menjerit ketakutan, bahkan sampai terjengkang ke belakang, Sancaka melihat didekat tumpukan pakaian yang sedang dicuci Rodiah itu terdapat seekor ular cobra yang sudah berdiri tegak dalam posisi siap menyerang.
Sancaka langsung berlari ke arah sumur itu, disambarnya sebatang sapu ijuk bertangkai rotan disamping pintu belakang, dan pemuda itu langsung mengayunkan sapu ijuk itu kearah ular cobra itu. Ayunan pukulan Sancaka yang tepat mengenai bagian kepala dan badan ular itu membuat ular itu terlempar cukup jauh.
Sancaka hendak maju dan memberi pukulan tambahan kepada ular itu akan tetapi karena sudah merasa sakit ular itu dengan cepat langsung merayap pergi.

Sancaka menoleh ke arah Rodiah yang masih terduduk menggigil ketakutan, tak menyadari bahwa kini kain yang dikenakannya telah tersingkap seluruhnya memperlihatkan pahanya yang putih mulus berikut celana dalamnya yang berwarna merah muda.
Pemandangan yang membuat batang penis pemuda itu langsung bereaksi, yang kalau tidak ditutupi celana pastilah sudah berdiri tegak seperti ular cobra yang baru saja dipukulnya tadi.

Sancaka mendekat dan berjongkok di samping perempuan itu, dipeluknya bahu perempuan itu sambil membisikkan kata-kata yang mungkin dapat meredakan rasa takut perempuan itu, Rodiah yang ketakutan itu refleks menyembunyikan dirinya kedalam pelukan Sancaka.
Sancaka mengangkat dagu Rodiah dan mata keduanya saling bertatapan, Sancaka harus mengakui bahwa perempuan ini memang benar-benar cantik, pantas saja sering menjadi bahan obrolan hampir seluruh laki-laki dewasa dikampungnya.
Mata adalah jendela hati, dan Rodiah bukanlah gadis yang belum mengenal lelaki, dari pandangan mata Sancaka dia tahu bahwa selain rasa kasihan ada sebersit birahi disana, kalau laki-laki lain mungkin sudah dari tadi didorongnya tubuh Sancaka, akan tetapi entah kenapa dia menyukai pemuda ini sehingga dia tidak segera melepaskan diri dai pelukan Sancaka.

Ketika Rodiah kemudian memejamkan matanya, Sancaka langsung membungkuk dikecupnya dengan perlahan bibir perempuan itu.
Rodiah membalas kecupan pemuda itu, sebentar saja keduanya sudah terlibat dalam ciuman yang cukup panas, dan tangan Sancaka dengan segera bergerak meraba dan mengelus paha mulus perempuan itu.

Ketika tangan Sancaka mulai berusaha menyelinap kedalam kaos yang dikenakannya, Rodiah langsung menangkap tangan nakal pemuda itu dan melepaskan ciumannya, “Jangan disini … sebentar lagi hari terang dan orang mulai ramai”, bisiknya.

Sancaka mengerti dan segera bangun sambil membopong tubuh Rodiah, tadinya dia hendak membawa perempuan itu ke kamar tamu depan, akan tetapi Rodiah menunjuk ke kamar tamu lainnya yang terletak di sebelah ruang makan.

Ketika Sancaka membaringkan tubuh rodiah keatas pembaringan itu, tanpa malu-malu lagi Rodiah langsung menarik kepala Sancaka dan menyambar bibir pemuda itu, kali ini perempuan itu tak memprotes lagi ketika tangan kiri Sancaka mulai menyelinap kedalam kaosnya.
Rodiah melentingkan tubuhnya keatas saat tangan kanan pemuda itu yang tertindih dibawah punggungnya berusaha membuka kaitan BH nya.
Kedua tangan Sancaka langsung menyingkapkan kaos dan BH perempuan itu keatas.
Buah dada Rodiah yang besar dan masih kencang itu membuat Sancaka tak tahan lagi dan langsung menetek disana.
Rodiah mendesah-desah keenakan, perempuan itu segera melepas kaos dan BH nya yang basah itu lalu melemparkannya ke samping tempat tidur.

Tangan kiri Sancaka mulai menyingkapkan kain yang dikenakan perempuan itu, setelah puas meraba paha Rodiah yang putih mulus itu, tangan Sancaka mulai bergerak menyelinap ke dalam celana dalam perempuan itu.
Belahan vagina perempuan itu sudah mulai basah, desahan Rodiah bertambah kuat ketika jari tengah Sancaka mulai bermain disana.

Sancaka kembali melumat dan menyedot puting susu Rodiah, “Ahhh.. Diapain itu saya mas … diapain …” desah perempuan itu dengan mata terpejam, ketika jari tengah Sancaka mulai dikocokkan keluar-masuk liang vagina perempuan itu.
Agaknya pengetahuan seks perempuan ini masih kurang pikir Sancaka.

Tak lama kemudian kedua paha Rodiah menutup dan menjepit tangan Sancaka dengan kuat, perempuan yang sudah lama tak menikmati seks itu dengan cepat telah mencapai puncak kepuasan.

Sancaka turun dari pembaringan dan mulai melepaskan seluruh pakaiannya.
Kemudian ditariknya tangan Rodiah hingga perempuan itu terduduk di tepi pembaringan.
Diarahkannya tangan Rodiah untuk menggenggam dan mengocok-ngocokkan batang penisnya.
Setelah itu ditariknya kepala Rodiah diarahkannya mulut perempuan kearah penisnya, Rodiah selalu menghindar.
Sancaka gemas juga dibuatnya.
“Pernah makan gulo palu?”, tanya Sancaka.
Rodiah mengangguk pelan.
(“gulo palu” itu semacam permen tradisonal, kalau di jawa sejenis “gulali”).
“Anggap ini gulo palu … ngerti?”, tanya sancaka lagi sambil menunjuk penisnya.
Rodiah mengangguk ragu.

Sancaka kembali menyodorkan penisnya ke muka perempuan itu, dengan ragu Rodiah membuka mulutnya dan mulai mengulum kepala penis Sancaka.
Setelah beberapa saat tampak Rodiah mulai menyukai permainan baru ini, kepala penis yang hangat dan kenyal itu cukup menggemaskannya.
Perempuan itu mulai asyik mengulum, menjilat dan menyedot-nyedot kepala penis Sancaka, matanya berbinar melihat Sancaka tersenyum senang.

Cukup lama Sancaka membiarkan perempuan itu menikmati permainan barunya, kemudian dengan pelan pemuda itu menarik lepas penisnya dari mulut Rodiah.

Ditariknya perempuan itu bangun, kemudian disuruhnya Rodiah berputar dan membungkuk kearah pembaringan.
Diangkatnya satu kaki perempuan itu keatas pembaringan.
Ketika Sancaka mulai menggesek-gesekkan kepala penisnya ke belahan vagina perempuan itu, Rodiah menoleh kebelakang kearah Sancaka, “Pelan-pelan ya mas … Saya sudah lama nggak beginian”, bisiknya pelan.
Sancaka hanya mengangguk.

Sancaka mendorong sedikit penisnya, kepala penisnya mulai menyelinap diantara bibir vagina Rodiah yang mulai terbuka.
Sancaka mulai mendorong dengan perlahan, Rodiah langsung mendesah lirih, dan Sancaka pun ikut mendesah karena liang vagina itu memang terasa sempit. Memang sudah lama tidak dilalui penis tampaknya.

Sancaka mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur dengan perlahan, setiap dorongan penis Sancaka diiringi desahan Rodiah yang semakin lama semakin keras.
Sancaka merubah menggoyangkan pinggulnya, penisnya ditariknya dengan pelan dan kemudian dengan cepat didorong kembali dengan sedikit hentakan, “auhh … enak banget mas …”, desah Rodiah.
Setelah dirasa Sancaka liang vagina perempuan itu mulai banjir, sambil meremas-remas buah dada perempuan itu dengan tangan kirinya, Sancaka pun semakin mempercepat goyangan pinggulnya, semakin lama semakin cepat
Rodiah tak terdengar lagi suaranya, mulut perempuan itu terkatup rapat, kepalanya tampak menggeleng-geleng dengan kuat.
Tak lama kemudian Rodiah menjerit tertahan, tubuhnya mengejang dan bergetar hebat, Sancaka menahan pinggul perempuan itu mempertahankan penisnya tetap terbenam sedalam mungkin.

Setelah puncak kenikmatan perempuan itu mereda, Sancaka dengan pelan menggulingkan tubuh Rodiah. Kini perempuan itu terlentang lemas dengan nafas masih memburu.

Ditariknya perempuan itu sampai pantatnya persis di bibir pembaringan, Sancaka mengangkat kaki kanan perempuan itu keatas sementara kaki kirinya dibiarkan menginjak lantai.
Sancaka meletakkan kaki kanan Rodiah ke bahunya dan membungkuk kedepan, diarahkannya kembali penisnya ke liang vagina perempuan itu.
Rodiah tersentak kaget karena Sancaka langsung menghunjamkan penisnya dengan kuat, “Auhhh … bisa robek itu ku masss … tapi enak … terusin masss”, ceracau perempuan itu karena keenakan karena Sancaka tidak lagi menahan gerakan pinggulnya, pemuda itu kini memberikan hentakan dan hunjaman yang cepat dan kuat.

Kedua tangan yang tadinya bertumpu di pembaringan kini berpindah ke dada Rodiah, kedua tangan Sancaka mencengkeram buah dada perempuan itu.
Gerakan pinggul Sancaka semakin lama semakin cepat, Rodiah tampak menggigit bibirnya menahankan kenikmatan di liang vaginanya.
Tak lama kemudian tampak Rodiah telah hampir tak kuat lagi menahan diri, tubuhnya mengejang dan tangannya mencengkeram lengan Sancaka dengan kuat.
Sancaka menggeram dan menghunjam-hunjamkan penisnya sekuat-kuatnya, Rodiah menjerit tertahan tubuhnya melenting dan hampir bersamaan Sancaka mencengkeram kuat buah dada perempuan itu sambil menghunjamkan penisnya sedalam mungkin, keduanya sama-sama terhempas dipuncak kepuasan.

Tak lama kemudian Sancaka yang memang kurang tidurnya semalam sebentar saja sudah tertidur lelap di pelukan Rodiah.
Rodiah tampak meneteskan air mata, perempuan itu menyadari bahwa laki-laki yang dipeluknya ini tidak mungkin menjadi milikinya.
Perempuan itu menyadari betapa perbuatannya barusan dengan lelaki ini sangat salah dan melanggar norma kesusilaan, akan tetapi dia pun tidak memungkiri bahwa seandainya esok lusa pemuda ini kembali menghampirinya dia pun pasti tak akan menolaknya, dia akan dengan sukarela memberikan tubuhnya kepada pemuda ini lagi, lagi dan lagi.

Rodiah menyelimuti dan mengecup kening Sancaka sebelum meninggalkan pemuda itu tertidur sendirian.
Untung dia dalam masa tidak subur sehingga dia tak perlu mengkhawatirkan dampak buruk kenikmatan yang baru saja dikecapnya.

****

Sancaka yang tertidur kelelahan dalam keadaan telanjang itu terbangun karena terkejut mendengar keributan di luar kamar, segera dipakainya kembali pakaiannya yang berserakan, walaupun pakaiannya itu masih lembab akibat berpelukan dan membopong Rodiah yang pakaiannya basah dini hari tadi.

“Ada apa Bu?”, tanyanya ketika melihat Bu Puji terduduk menangis di meja makan, disampingnya tampak Rodiah yang berusaha menengkan majikannya.

“Gayatri … Gayatri pergi dari rumah Sanca”, jawabnya dengan suara lemah sambil menyodorkan sehelai kertas ke arah Sancaka.

“Ibu … Gayatri pergi dan akan tinggal sementara ini di rumah Tantri di dekat Menara Air … Gayatri harap ibu jangan coba-coba mencari ataupun menyusul apalagi coba membujuk Gayatri pulang … Gayatri akan pulang sendiri nanti setelah hati Gayatri tenang … Satu hal lagi .. Semoga Ibu dapat puas berbuat mesum dengan Sancaka terkutuk itu dengan kepergian Gayatri”, hanya itu pesan yang ditinggalkan oleh Gayatri, seluruh tubuh Sancaka menjadi lemas, pemuda itu merasakan rasa nyeri yang menusuk jantungnya, dia telah menyakiti dan menghancurkan hati tunangannya.

“Bagaimana ini Sanca … Apa yang harus kita lakukan … Apa Sanca?” tanya Bu Puji lirih sambil menutupkan kedua tangannya kemukanya.

Sancaka melirik kearah Rodiah, perempuan itu balas menatap ke arah Sancaka, agaknya Rodiah tadi ikut menangis juga, tapi dari raut muka dan pandang matanya Sancaka yakin bahwa Rodiah tidak tahu akan isi surat Gayatri ini. Pemuda itu menjadi sedikit lebih tenang.

Yang menjadi beban pikiran Sancaka adalah Gayatri pergi ke rumah yang didekat Menara Air, itu artinya rumah yang dianggap oleh Gayatri sebagai rumah Tantri adalah rumah dimana dia melakukan pertempuran mesum dengan selir-selir Tuan Frantzheof de Van Pierre kemarin dulu.

“Tenanglah Bu … Saya tahu dimana Gayatri berada … Biar saya saja yang menyusul Gayatri ke sana … mudah-mudahan saya dapat membujuknya pulang”, jawab Sancaka.
Mendengar jawaban Sancaka itu Bu Puji membuka kedua tangan yang tadi menutupi mukanya, “Terima kasih Sanca … Jemputlah dia pulang Sanca”, sahutnya lirih dan berusaha tersenyum. Sancaka hanya membalas dengan anggukan kepala.

Hanya satu nama yang saat ini memenuhi kepala Sancaka …
Tantri …
Cukup lama pemuda itu terduduk di teras rumah tunangannya dan berusaha keras mengais serpihan-serpihan memori di kepalanya …
ah …
Dia ingat sekarang …
Dia Ingat siapa Tantri

****

Dulu … ketika Sancaka baru akan memasuki masa kuliahnya dulu di Pulau Jawa, ketika sedang mencari tempat mondok disekitar kampus dia bertemu dengan Tantri yang saat itu sedang duduk di teras rumah pemondokannya.
Tantri yang merasa pernah dibantu Sancaka memunguti berkas-berkas pendaftarannya ketika gadis terjatuh akibat ditabrak oleh seseorang di dekat kantor TU kampusnya segera menawarkan kepada Sancaka untuk mondok di tempatnya sekarang tinggal, katanya masih ada tiga lagi kamarnya yang masih kosong.
Waktu itu Sancaka benar-benar tidak ingat bahwa dia pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnnya.

Karena melihat bahwa tempat mondok yang ditawarkan gadis itu cukup dekat dengan kampus, ditambah lagi setelah mengetahui bahwa Tantri juga berasal dari Sumatera, Sancaka langsung memutuskan untuk tinggal di pemondokan itu.
Sancaka merasa kerasan sekali tinggal di pemondokan itu, kedua Ibu dan Bapak pemilik pemondokan itu sangat baik dan memperlakukan Sancaka seperti anaknya sendiri. Selain itu ada Tantri, gadis yang periang itu selalu dapat menyenangkan hati Sancaka.

Sancaka tidak sedikitpun menyadari bahwa kedekatan mereka berdua rupanya membawa arti lain bagi Tantri, gadis itu diam-diam memendam rasa terhadap Sancaka, naifnya Sancaka menganggap bahwa kedekatan dan kemanjaan gadis itu karena gadis itu menganggapnya sebagai seorang kakak, tidak lebih dari itu.

Suatu ketika di awal-awal Semester Kedua masa perkuliahan, gadis itu jatuh sakit, dan malamnya Sancaka menjagai gadis itu dikamarnya, itupun setelah diijinkan oleh Ibu dan Bapak pemilik pemondokan karena mereka melihat bahwa Sancaka adalah pemuda yang wataknya baik dan cukup bisa dipercaya.
Gadis itu mengalami demam tinggi, tubuhnya sangat panas akan tetapi gadis itu malah meringkuk dengan tubuh menggigil kedinginan dibalik selimutnya.
Atas permintaan gadis itu Sancaka yang walaupun ragu-ragu dan berat hati terpaksa memenuhi permintaan Tantri untuk naik ke pembaringan dan memeluk tubuh gadis itu dari belakang, mencoba memberi kehangatan pada tubuh yang menggigil kedinginan itu.
Sebentar kemudian gadis itu berbalik dan balas memeluk pemuda itu, membuat jantung Sancaka berdebar tak menentu.
Entah siapa yang memulai, yang jelas kedua bibir mereka telah saling melumat, bahkan tangan Sancaka dengan perlahan mulai masuk kedalam kaos gadis itu dan mulai meremas-remas buah dada Tantri.
Kemudian keduanya saling membukai seluruh pakaian yang menutupi tubuh bagian atas mereka.
Tantri mendesah lirih ketika pemuda itu mulai melumat dan menghisap buah dada gadis itu.
Saat itulah bayangan Gayatri terlintas dipikiran Sancaka … gadis kolot kekasihnya itu tidak akan pernah mengijinkannya berbuat seperti ini … bayangan Gayatri membuat pemuda itu tersadar.
Dengan perlahan Sancaka melepaskan diri dari pelukan Tantri, membuat gadis itu menjadi malu dan mulai menangis.
Cukup lama Sancaka membujuk dan menjelaskan semuanya kepada gadis itu sampai akhirnya gadis itu mau mengerti dan berhenti menangis.

Walaupun setelah kejadian itu gadis itu masih tetap riang dan manja, akan tetapi Sancaka menyadari bahwa gadis itu telah terluka, terluka hatinya setelah mengetahui bahwa ada seorang Gayatri yang telah lebih dahulu mememiliki hati Sancaka.

Beberapa hari sebelum masa ujian Semester Dua, Sancaka yang baru saja pulang kuliah dan memasuki kamarnya siang itu mendapati Tantri tampak terlelap pulas diatas tempat tidurnya.
Sancaka hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala, dibetulkannya selimut gadis itu dan kemudian membereskan meja belajarnya, disusunnya bahan-bahan yang akan dipelajarinya malam nanti.
Tantri tidaklah tertidur pulas sebagaimana dugaan Sancaka, gadis itu sejak tadi telah beberapa kali membuka matanya dan memperhatikan kesibukan pemuda itu, ketika Sancaka setelah selesai membereskan meja belajarnya keluar dari kamar itu, gadis itu pun bangun dan duduk dipinggir pembaringan. Gadis itu kembali ke kamarnya sendiri setelah meletakkan sepucuk surat diatas meja belajar Sancaka.

Malam itu semangat belajar Sancaka menguap habis, pemuda itu terbaring gelisah diatas tempat tidurnya, pikirannya dipenuhi isi surat yang ditinggalkan Tantri diatas meja belajarnya sore tadi, dalam suratnya yang panjang lebar itu Tantri menjelaskan bahwa dia mungkin tidak dapat melanjutkan pendidikannya karena diminta segera pulang oleh orangtuanya di Sumatera, gadis itu akan segera dikawinkan dengan pria pilihan orang tuanya, dalam suratnya gadis itu menjelaskan bahwa dia benar-benar sangat mencintai Sancaka dan memohon dengan sangat agar Sancaka dapat memenuhi permintaan terakhirnya, permintaan yang benar-benar tak terbayangkan oleh Sancaka, gadis itu ingin menyerahkan mahkota miliknya hanya kepada Sancaka seorang. Dalam suratnya gadis itu menunggu Sancaka dikamarnya malam ini, gadis itu tak merelakan hati dan tubuhnya dimiliki oleh pria pilihan orang tuanya.

Sampai pagi hari pemuda itu tak dapat tidur, namun pemuda itu pun tak berani menyelinap ke kamar Tantri, rasa kasihannya terhadap gadis itu masih kalah oleh rasa takutnya, pemuda itu takut kalau dia menemui Tantri nantinya dia tak dapat menguasai diri sebagaimana kejadian ketika gadis itu sakit beberapa bulan lalu.
Yang tidak diketahui Sancaka adalah betapa Tantri terpukul hancur hatinya malam itu, gadis itu terduduk memeluk lututnya disudut tempat tidur sambil terus terisak menangis, meratapi cintanya yang bertepuk sebelah tangan, walaupun dalam hatinya gadis itu mengerti bahwa Sancaka adalah pemuda yang baik yang tak mungkin tega merusak diri dan kehormatannya.

Sore esoknya Sancaka terduduk lesu dimeja belajarnya, dari Ibu dan Bapak pemilik pemondokan baru diketahuinya Tantri telah pergi kembali ke Sumatera pagi tadi, memang dia tak bertemu gadis itu ketika sarapan tadi pagi namun dia tak sedikitpun menduga kalau hari ini adalah hari kepergian gadis itu.
Dia merasa sangat kasihan kepada gadis itu.

****

Dengan kehadiran Gayatri yang menyusul ke Pulau Jawa mulai Semester Ketiga membuat Sancaka mulai melupakan Tantri.

Nama Tantri sebenarnya adalah Eka Triantri.

Hal inilah yang membuat Sancaka selama ini tidak teringat sedikitpun dengan gadis itu, dulu hanya Sancaka yang memanggil nama panggilan gadis itu dengan benar yaitu Triantri, sementara orang-orang di kampus dan di sekitar tempat pemondokan mereka biasanya memanggil gadis itu Tantri karena mungkin lebih mudah untuk disebutkan.