Vampire The Untold Story I

“Anyone can become a vampire’s victim/slave simply by being in the wrong place at the wrong time, befriending the wrong person, choosing the wrong lover, offering hospitality on a cold night to the wrong houseguest (or being offered hospitality by the wrong host). Because anyone can become a vampire’s victim/slave, the threat is that much more terrifying. No one … Yes No One is safe.”

Itulah kata-kata penutup yang mampu dituliskan oleh Padre Gabriel di dalam kereta api yang akan membawanya kembali ke Kota Palembang.

Dibangku di hadapannya duduk sepasang kekasih yang baru saja mengalami kejadian teraneh dalam hidup mereka, kejadian yang akan menjadi cerita paling menegangkan bagi anak cucu mereka nanti.

Mungkin sebaiknya aku yang menjadi orang pertama yang akan menceritakan cerita itu, karena aku adalah orang ketiga yang paling mengetahui cerita itu.

Cerita ini mengambil tempat di belahan selatan pulau Sumatera, tempat yang paling kukenal dalam hidupku.

Ah … sudah cukuplah itu … bukan saatnya bercerita tentang aku.

Simpanlah pertanyaan tentang siapa aku ….

Inilah cerita yang akan kuceritakan itu ….

(Episode 1)
SEORANG PEMUDA DAN KESEMPATAN EMASNYA

Sancaka belum satu bulan kembali dari perantauan. Selama merantau untuk melanjutkan pendidikan ke Pulau Jawa, Sancaka memang belum pernah pulang kampung. Lingkungan dimana ia tumbuh besar tidak ada yang berubah menurutnya.

Perubahan kecil hanya pada papan nama di Stasiun tempat bapaknya bekerja, baru kemudian dia mendapat penjelasan dari bapaknya bahwa memang sejak tanggal 15 September 1971, bentuk perusahaan PNKA mengalami perubahan menjadi “Perusahaan Jawatan Kereta Api” (PJKA).
Hanya sedikit yang diketahui Sancaka tentang perusahaan tempat bapaknya bekerja. seingatnya perusahaan swasta milik belanda yaitu “Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indishe Spoorweg Maatschappij” (NV. NISM) yang menbangun jalan kereta api di Sumatera Selatan mulai tahun 1914.

Perubahan yang besar malah terjadi di rumahnya yang terlihak semakin “semarak” dengan perabot-perabot yang bagus, Sancaka tidak tahu apakah perubahan itu disebabkan karena perubahan PNKA ke PJKA itu atau karena meroketnya karir bapaknya yang menyebabkan perubahan penghasilan bapaknya atau karena hal-hal lain yang tidak diketahuinya. Pak Dewono orang tua Sancaka saat ini telah menjadi Kepala Stasiun Kereta Api yang ada di Kertapati, di tepian Sungai Musi di kota Palembang.

Sancaka adalah seorang Insinyur Perkebunan yang baru pulang setelah menyelesaikan pendidikannya di tanah jawa. Bahkan ia adalah lulusan terbaik di jurusan perkebunan.

Sebenarnya cukup berat bagi Sancaka untuk cepat-cepat kembali ke Palembang, karena kekasih belahan hatinya masih berada di tanah jawa, masih satu tahun lagi bagi Gayatri sang kekasih untuk menyelesaikan pendidikannya sebagai calon dokter. Hanya saja dia tidak kuat untuk terus-terusan mendiamkan surat panggilan pulang dari kedua orang tuanya.

Gayatri telah dikenalnya sejak masih kanak-kanak, rumah orang tuanya dan rumah orang tua sang kekasih cukup dekat. Dan kedua orang tua masing-masing sudah sejak lama mengetahui hubungan khusus keduanya, merekapun tampaknya tidak berkeberatan mengenai hal itu.

Suatu siang, hujan turun dengan derasnya, saat itu Sancaka sedang duduk di ruang tengah menikmati kopi buatannya sendiri. Kopi di Palembang memang jauh lebih nikmat daripada kopi yang ada di Jawa. Apalagi kalau kopi itu dari daerah Muara enim-Lahat-Pagar Alam.

Kedua orangtuanya sedang pergi keluar kota, sebenarnya ayahnya yang keluar kota untuk keperluan dinas karena ditugaskan untuk melakukan investigasi anjloknya beberapa bagian rel di daerah Saung Naga, ibunya hanya ikut untuk mendampingi bapaknya. Itupun tidak sering dilakukan ibunya. Katanya sih mungkin tiga hari lagi baru pulang.

Baru saja Sancaka akan menyulut rokoknya, ian melihat Ratih masuk keberanda rumah dalam kondisi basah kuyup, baju seragamnya sekolahnya yang basah menyebabkab lekak-lekuk tubuhnya tercetak jelas dimata Sancaka.

Ratih tampak telah tumbuh menjadi wanita dewasa padahal saat ini usia baru mencapai 17 Tahun, sebenarnya dia adalah pembantu di rumah Sancaka, sementara Sancaka adalah anak tunggal dari Bapak Dewono dan ibu Sri. Akan tetapi Ratih sudah dianggap anak sendiri oleh kedua orang tua Sancaka.

Ratih dibawa oleh kedua orang tua Sancaka ke Palembang semasih berusia 7 Tahun. Sancaka dan ratih berbeda usia sekitar 6 tahunan. Karena langsung dianggap sebagai anak sendiri itulah yang menyebabkan Ratih bisa bersekolah sambil membantu-bantu pekerjaan rumah ibunya Sancaka tentunya.
Hal itu sebagai tanda balas budi orang tua Sancaka kepada orang tua Ratih, apalagi saat itu usaha orang tua Ratih jatuh bangkrut dan seluruh kekayaanya hampir ludes terjual guna menutupi banyaknya hutang. Seperti Sancaka, Ratih juga merupakan anak tunggal di keluarganya.

Cukup lama Sancaka dapat menikmati pemandangan indah itu karena Ratih harus menggoyang-goyang badannya sampai air dari baju dan rok sekolahnya tidak menetes lagi. Baru gadis itu melangkah masuk setengah berlari menuju kamarnya.
Gadis itu tak lupa melempar senyum manisnya kearah Sancaka yang terlihat bengong terpesona.

Dikamarnya Ratih langsung berlari kedepan cermin dan senyam-senyum sendiri mengingat tingkah laku Sancaka tadi. Dia tahu bahwa baru tadilah perhatian Sancaka Sancaka benar-benar terpaut pada dirinya, walapun dia juga tahu bahwa Sancaka sering juga mencuri pandang padanya setelah kepulangan pemuda itu ke rumah ini.

Sementara diluar kamar itu Sancaka baru menyadari keadaan dirinya. Tidak bisa disalahkan memang karena Ratih telah tumbuh menjadi gadis yang cantik dengan bentuk tubuh yang memang indah dipandang. Apalagi dengan kulit Ratih yang Kuning Langsat itu.

Kalau dibuat ukuran, versi Sancaka tentunya, jika Gayatri mendapat point sembilan maka Ratih pantasnya mendapat point delapan. Sedikit yang aneh adalah orang akan dengan gampang percaya kalau Ratih mengaku sebagai adiknya Gayatri karena ada kemiripan wajah diantara keduanya.

Sejak dia pulang, memang Sancaka sering mencuri pandang kepada Ratih, dia sering tidak habis pikir kenapa anak itu sekarang begitu sangat menggoda dimatanya. Hal itu pula yang membuatnya sedikit dapat melupakan kerinduannya kepada Gayatri.

Tak lama kemudian Ratih keluar dari kamarnya dengan mengenakan kaos yang cukup ketat tanpa mengganti rok sekolahnya, dan matanya langsung bertemu dengan mata Sancaka yang memang sedari tadi belum mengalihkan pandangannya dari pintu kamar gadis itu, dan langsung menatap tajam kearah dada gadis itu.

“Mas Sanca! Kok melotot gitu … emang ada yang salah dengan pakaianku?”, tegur gadis itu sambil sibuk memeriksa apa ada yang aneh dengan baju kaosnya. Mungkin terbalik pikirnya.

“Ada apa sih … awas lho ntar ketenggoran antu banyu musi”, teriak gadis itu sambil menuding kearah timur dimana sungai musi berada, dia tidak merasa ada keanehan pada dirinya yang dapat membuat Sancaka terbengong-bengong seperti itu.
(“ketenggoran antu banyu musi” adalah kerasukan Hantu Air yang katanya suka menyeret orang tenggelam di suangi Musi, yang menurut legenda di daerah itu bentuknya seperti monyet besar dengan bulu-bulu yang sangat panjang).

“Kamu tadi terlihat cantik sekali”, gumam Sancaka lirih tanpa sadar. Sesaat kemudian mukanya langsung merah padam.

Ratih langsung menutup mulutnya mencegah keluarnya suara tawanya yang langsung pecah, dia tidak ingin pemuda itu semakin merasa malu. Pemuda yang diam-diam sangat dikasihinya sejak lama.
Walaupun dia tahu bahwa dia tak akan mungkin menang melawan Gayatri dalam hal memperebutkan hati pemuda itu.

“Mas Sanca sudah makan?”, tanya gadis itu untuk mencairkan suasana.

“Belum kok … kayaknya lagi nggak nafsu makan”, sahut Sancaka sekenanya.

“Kok gitu … emangnya lagi nggak enak badan ya? apa perlu Ratih suapin?”, tanya gadis itu kembali tanpa pikir lagi. Dan hatinya langsung berdebar kencang karena dia terlihat begitu mengkhawatirkan kesehatan pemuda itu.

“Iya … emang lagi panas-dingin nih … boleh juga kalo Ratih mau”, jawab Sancaka tanpa sadar. Walaupun dia tidaklah berbohong, memang badannya jadi panas-dingin disuguhi pemandangan tadi.

“Ya udah … Mas Sanca berenti ngerokoknya … baring dikamar aja dulu …Ratih mau nyiapin makannya”, kata gadis itu mencabut rokok yang memang sejak tadi menempel di bibir pemuda itu tanpa sempat disulutnya. Untuk kemudian setengah berlari ke ruang makan. Untungnya ibu sudah menyiapkan makanan yang cukup untuk mereka berdua hari itu.

Sancaka terdiam beberapa saat, dia meangkap perhatian lebih dari gadis itu kepadanya, tentu akan mudah sekali baginya untuk jatuh cinta kepada gadis cantik anak angkat orang tuanya itu seandainya tidak ada Gayatri. Toh gadis itu tidak ada hubungan darah dengan dirinya, tidak ada halangan baginya untuk menikahinya kalau dia mau.

Dia kemudian bangkit dan melangkah menuju kamarnya, sebaiknya dia jangan mengecewakan gadis itu. Disusunnya bantal dan diapun duduk santai bersandar ke dinding tempat tidur menunggu Ratih.

Tak lama kemudian Ratih masuk ke kamar Sancaka dengan senyum manisnya. Tangan kanan memegang oiring beris nasi dan lauk-pauknya, sementara tangan kiri memegang gelas yang cukup besar terisi air putih hangat.

Setelah menaruh gelas air itu keatas meja kecil disisi tempat tidur, Ratih langsung duduk disisi tempat tidur berhadapan dengan Sancaka. Akan tetapi karena Sancaka duduknya tidak terlalu ketengah maka pinggul Ratih dan sebahagian pahanya bersentuhan langsung dengan cukup rapat ke paha Sancaka.

Sancakapun kembali panas dingin dibuatnya. Rasanya berbeda sekali bersentuhan dengan gadis itu dibandingkan saat mereka kecil dulu, dulu mereka sering bersenda gurau bahkan sering sancaka memeluk gadis itu, tapi tidak ada perasaan apa-apa.

Melihat Sancaka yang menatapnya lekat-lekat, dada Ratihpun jadi berdebar-debar dibuatnya, menyebakan ia sedikit tertunduk dan mukanya agak bersemu merah. Untuk mengurangi kegugupannya Ratih mulai menyuapi Sancaka sambil berkata, “Makan yang banyak ya mas … biar cepat sembuh .. biar muka mas Sanca nggak terlihat agak pucat seperti ini”.

Sancaka tak berniat membantah dan langsung membuka mulunya. Keduanya saling berdiam diri sampai dengan Sanca selesai makan. Selama itu pula Ratih berusaha menghindari bertemu pandang dengan tatapan Sancaka yang seakan terasa menelanjanginya itu.

“Ternyata mas Sanca banyak juga makannya kalau disuapin”, canda gadis itu sambil menyodorkan gelas air minum kepada Sancaka. Sesaat tangan mereka bersentuhan ketika Sancaka menyambut gelas itu. Sesaat pula terasa jantung Ratih berhenti berdenyut.

Tangan mereka kembali bersentuhan ketika Sancaka menyerahkan gelas itu kembali selesai minum. Sesaat pula terasa jantung Ratih kembali berhenti berdenyut, “Makasih ya … mas nggak nyangka kalau Ratih bisa menjadi begini cantik manis”, kata Sancaka berusaha membuka pembicaraan.

“Udah punya pacar belum?”, lanjutnya lagi.

“Belum mas”, jawab Ratih semakin tertunduk.

“Masak belum punya … apa mata cowok se palembang ini sudah buta semua … kok nggak ada yang mau jadi pacar gadis secantik Ratih”, Sancaka langsung menyambar dengan nada suara tak percaya.

“Itulah mas … orang suka Ratih nggak mau … Ratih suka orang nggak tahu”, sahut gadis itu lirih.

“Orang yang ratih suka itu dekat-dekat sini tinggalnya?”, tanya Sancaka. Ratih hanya menjawab dengan anggukan saja sambil menunduk.

“Satu sekolah?”

Ratih menggeleng.

“Ganteng?”

Ratih mengangguk.

“Dia nggak tahu Ratih suka padanya?”

Ratih mengangguk.

“Mas kenal nggak dengan orang itu?”

Ratih mengangguk.

“Tinggalnya diarah timur dari rumah kita?”, Sancaka mencoba memancing karena dia ingin dapat menebak siapa orang itu. Dia mengenal semua pemuda dilingkungan rumahnya.

Ratih menggeleng.

“Tinggalnya diarah barat dari rumah kita?”

Ratih menggeleng.

“Tinggalnya diarah utara dari rumah kita?”

Ratih menggeleng.

“Tinggalnya diarah selatan dari rumah kita?”

Ratih menggeleng.

“Apa tinggalnya dibawah tanah dari rumah kita? … Atau malah tinggalnya tinggi dilangit diatas rumah kita?”, tanya Sancaka bingung.

Ratih menggeleng kuat-kuat sambil melirik kearah muka Sancaka.

Tiba-tiba jantung Sancaka berhenti berdenyut, mukanya pucat tak berdarah ketika terlintas satu pikiran dikepalanya. Pikiran yang membuatnya sesak nafas.

“Apa orangnya ada disini?”, tanya Sancaka, suaranya bergetar dengan nafas yang hampir putus.

Ratih terdiam semakin menunduk mukanya merah menahan malu. Hati Sancaka terasa nyeri seperti tertusuk sembilu.

“Apa orangnya ada dihadapan Ratih?”, tanya Sancaka lirih.

Ratih semakin menundukkan mukanya, bahunya tergetar menahan isak, dan Sancaka bukanlah pemuda tanpa hati dan perasaan, dia dapat merasakan beban perasaan yang dirasakan Ratih.

Dengan tangan bergetar Sancaka mengangkat dagu gadis itu. Tak tertahan lagi air mata gadis itupun luruh dari matanya yang terpejam, rahasia hatinya selama ini tersimpan rapi telah terbuka.

Dengan penuh haru dan tanpa tertahan lagi Sancaka langsung menarik gadis itu kedalam pelukannya, tangis Ratihpun pecah seketika.
Cukup lama Sancaka membiarkan gadis itu menangis melepaskan beban perasaannya, dia hanya membelai rambut Ratih dengan sepenuh sayang, sampai bahu gadis itu terlihat hanya naik turun perlahan pertanda tinggal sisa isak tangis saja.

Sancaka kemudian memindahkan belaiannya ke punggung gadis itu. Sebenarnya saat itu Ratih telah pulih kesadarannya, ia menyadari bahwa saat ini ia berada dalam pelukan orang yang sangat dikasihinya, tanpa dapat mengambil keputusan apakah akan terus membiarkan dirinya atau segera merenggutkan diri lepas dari pelukan dan belaian pemuda itu.

Karena kepalanya tersandar didada Sancaka, Ratih setelah kesadarannya pulih kini dapat dengan jelas mendengar betapa cepat degup jantung pemuda itu. Dia mencoba mendongakkan kepalanya sedikit untuk melihat wajah pemuda itu.

Matanya langsung bertemu dengan mata Sancaka. Betapa ia ingin dia dapat berlama-lama menikmati keadaan ini. Tiba-tiba jantungnya berhenti berdenyut dan seluruh otot ditubuhnya menjadi tegang, bukan karena Ratih melihat hantu di siang bolong, melainkan karena Sancaka perlahan-lahan semakin mendekatkan mukanya kearah mukanya dan bibir pemuda itu mengarah ke bibirnya.

Kedua bibirpun bertaut, nyawa gadis itu serasa terlepas dari raganya, ia hanya dapat memejamkan matanya. Dia dapat merasakan Sancaka mulai melumat bibirnya dengan penuh kelembutan. Setelah sesaat terdiam, hanya dengan memperturutkan nalurinya saja dia mulai membalas lumatan bibir pemuda itu.

Seluruh bulu ditubuhnya meremang merasakan betapa tangan pemuda itu mulai membelai hampir diseluruh bagian atas tubuhnya. Lepas sudah rasio dari hati dan pikirannya, dia akan membiarkan apapun perbuatan pemuda itu, dia hanya ingin menikmati semuanya.

Tangan Sancaka mulai meremas lembut payudara kiri gadis itu. Ratih hanya dapat menggumam tak jelas, hanya dapat meremas lengan pemuda itu dengan gemas.
Sancaka menyingkapkan kaos yang dipakai gadis itu keatas, berusaha melepaskan penghalang pertama sambil menghentikan pagutannya.
Ratih tetap memejamkan matanya, tetapi dengan perlahan menaikkan kedua tangganya menyetujui tindakan pemuda itu, mengijinkan Sancaka membuka kaosnya, penghalang pertama melayang ke samping ranjang.
Sejenak mata Sancaka terpaku pada kedua bukit didada gadis itu, pahudara yang tertutup BH hitam yang sangat kontras dengan kulit kuning langsatnya.
Dengan jari bergetar Sancaka menurunkan kedua tali BH itu kesamping, tersibaknya sang penutup membuat Sancaka terpaksa meneguk liurnya. Terpampang dua bukit yang bulat tegak menantang dengan puncaknya yang bersemu merah jambu.

Kembali disambarnya bibir gadis itu dengan pagutan, dengan lembut dia membaringkan Ratih yang kali ini langsung memeluk leher Sancaka seakan tak ingin terpisah lagi. Sebagian tubuh Sancaka telah berada diatas tubuh telanjang gadis itu, paha kananya diselipkan diantara kedua paha gadis itu, dilepasnya pagutan dibibir Ratih yang terlentang pasrah, ciumannya segera merambat ke pipi, ke leher dan belakang telinga gadis itu, untuk kemudian terus merambat turun kearah kedua bukit indah itu.

Ratih tergetar dan mendesah panjang ketika mulut Sancaka mulai menghisap-hisap puncak buah dadanya dengan disertai jilatan-jilatan lidah yang lincah memainkan putingnya.
Ratih membuka matanya, meraih bantal untuk menyangga kepalanya, dengan demikian dia dapat dengan jelas mengamati semua perbuatan pemuda itu.
Dibelainya kepala Sancaka yang seperti bayi kehausan yang menetek pada ibunya itu, sebentar di dada kanan sebentar di dada kiri, senyum manis tersungging di bibir Ratih, hatinya terasa penuh dengan luapan rasa bahagia. Sesekali kepalanya kembali terdongak disertai desahan panjang jika Sancaka mempermainkan buah dadanya dengan sedikit ganas.

Ratih kembali mengejang dan menggigit bibirnya sendiri, ia dapat merasakan bahwa tangan kanan pemuda itu mulai turun kearah perutnya, dan terus bergerak perlahan ke bawah, ia tahu inilah saat baginya untuk mengambil keputusan, sanggupkah ia menghentikan gerakan tangan pemuda itu, atau relakah ia membiarkan semuanya berlanjut.
Ratih tidak dapat memutuskan.

Akhirnya tangan Sancaka berhasil hinggap diatas lembah kenikmatan gadis itu, masih ada penghalang kedua bathin Sancaka. Dengan jari tengahnya pemuda itu memberikan sentuhan sentuhan lembut di belahan lembah itu. Sancaka dapat merasakan bahwa celana Ratih telah basah dibagian itu. Gadis itu rupanya telah mulai terbakar nafsu.

“Mas Sanca …”, desah Ratih lirih sekali.

Sancaka tidak sedikitpun menghentikan kegiatannya, mulut dan lidahnya terus bermain di kedua puncak buah dada gadis itu, sementara jemarinya terus menjelajahi lembah basah itu dengan lembut.

Kali ini Ratih benar-benar menggigit bibirnya, ketika ia merasakan jemari Sancaka mulai mengait pinggiran celana dalamnya dan berusaha menarik penghalang kedua itu ke bawah.
Dia tidak lagi memiliki kemauan untuk menghentikan ulah pemuda itu, dia bahkan mengangkat sedikit pinggulnya untuk memberikan keleluasaan bagi pemuda itu, menekuk kakinya keatas mengikuti tarikan Sancaka, penghalang kedua pun juga terbang ke samping ranjang Sancaka.

Telapak tangan Sancaka mulai merambat dari ujung kaki gadis itu, terus bergerak keatas kebetis, merambat ke paha bagian dalam untuk kemudian kembali hinggap diatas lembah itu, terasa bulu-bulu halus mulai menghiasi bagian atas lembah itu.
Jarinya kini dengan bebas dapat menjelajahi belahan lembah itu, lembah yang telah basah dengan dinding tebingnya yang lembut.
Sancaka tetap melakukan semuanya dengan penuh kelembutan, membuat gadis itu kadang terkejang-kejang dengan kedua paha gadis itu merapat menjepit paha Sancaka.

Sancaka mulai bergerak turun, jilatannya ikut merambat turun, lidah itu mengincar belahan lembah basah, bau harum menyeruak kedalam hidung Sancaka, agaknya sebagai seorang yang berdarah biru gadis itu sudah pandai merawat tubuhnya, pada saat lidah itu mulai menari di dalam lembah Ratih pun langsung terdongak ketas, mulutnya terkatup rapat berusaha menahan lenguhannya, kedua tanganya tanpa sadar telah meremas-remas rambut pemuda itu.
Ratih sudah sampai pada tahap pasrah, ia akan membiarkan apapun perbuatan Sancaka. Seluruh badannya makin mengejang, ia hanya dapat merintih menyebut nama Sancaka terkadang hanya terdengar lenguhan bercampur gumaman yang tak jelas, nafasnya semakin cepat memburu.

Suatu saat tak tertahankan lagi tubuh gadis itu tersentak keras, kedua tangannya berusaha menutupi jeritan dari mulutnya, kedua pahanya menjepit erat kepala Sancaka. Ratih telah mendapatkan puncak kenikmatannya.

Nafasnya masih tersengal-sengal, ketika Ratih merasakan pergerakan tubuh Sancaka yang mulai merayap diatas tubuhnya. Pemuda itu dengan mudahnya memposisikan diri diantara kedua paha gadis itu.
Wajah keduanya kembali berhadapan dengan begitu dekatnya, tetapi bukan itu yang membuat Ratih mendadak mengeluarkan keringat dingin.
Jauh dibawah sana, dilembah basah miliknya, sesuatu yang hangat terasa menyentuh dan sedikit menekan belahan bibir lembahnya, itu yang membuat gadis itu seperti terserang demam.
Dan Ratih sudah cukup besar untuk mengetahui apa dan mau apa benda itu berada dilembahnya.
Ratih tidak tahu kapan Sancaka melepas penghalang ketiga yang melekat ditubuh pemuda itu, begitu terlenakah dirinya sehingga tidak menyadari gerakan Sancaka.

Sancaka menatap Ratih lekat-lekat, “Ratih … Boleh mas minta yang satu itu?”, bisik Sancaka dengan nafas yang agak memburu.

Mata gadis itu hanya membalas tatapan Sancaka dengan sendu,sedikit berkilau, ada genangan air mata disana.

“Apapun jawaban Ratih … percayalah mas nggak akan marah”, bisik Sancaka dan mulai mendekatkan bibirnya ke bibir gadis itu.

Kedua tangan gadis itu menahan gerakan Sancaka, kedua bibir itu hanya bersentuhan sesaat. Ratih balas menatap lekat-lekat kepada Sancaka, “Ratih akan persembahkan semuanya … Ratih rela mas … tetapi Ratih punya satu permintaan”, bisik gadis itu lirih.

Ratih menarik kepala Sancaka dan mendekatkan bibirnya ke telinga pemuda itu, “Ratih Cuma minta sedikit masa saja … cintai dan kasihilah Ratih sepenuh hati mas Sanca sampai dengan mbak Gayatri kembali”, bisik gadis itu dengan suara bergetar, “setelah mbak Gayatri kembali nati … Ratih akan mundur menjauh dan tak akan menggangu hubungan mas Sanca dan mbak Gayatri”.

Sancaka memejamkan kedua matanya, setulus itukah gadis ini mencintainya.

“Kalau mas mau memenuhi permintaan Ratih ini … ciumlah Ratih dengan sepenuh rasa … mas boleh memiliki Ratih seutuhnya … Ratih akan menyerahkan semuanya dengan rela” bisik parau gadis itu terdengar sangat lirih.

Sancaka menciun leher Ratih, hatinya bertekat membalas ketulusan gadis itu, “Mas akan memenuhi permintaan Ratih … Ratih akan menjadi orang kedua yang mas cintai sepenuh hati”, bisik Sancaka menjawab pertanyaan gadis itu.

“Terima kasih mas Sanca … ambil dan milikilah Ratih seutuhnya”, bisik gadis itu dan tanganya beralih memeluk leher Sancaka dan menyembunyikan mukanya ke leher pemuda itu.

Bisikan itu merupakan perintah bagi Sancaka, dan pemuda itupun segera mulai melancarkan serangan-serangannya.

Sancaka mulai menciumi leher Ratih, terus bergerak ke arah bibir gadis itu, kali ini Ratih membalas pagutan Sancaka dengan gairah penuh, dibawah sana pinggul Sancaka mulai bergerak memainkan penisnya, berusaha mencari celah diantara bibir vagina gadis itu.

Gesekan kepala dan batang penis Sancaka makin membuat celah itu semakin basah, kenikmatan yang ditimbulkannya membuat Ratih ikut menggerak-menggerakkan pingulnya membantu percepatan kepala penis itu menemukan dan masuk gerbang nirwana miliknya. Tetapi kurangnya pengalaman membuat upaya keduanya masih belum membuahkan hasil.

“Mas … biar Ratih bantu ngarahin itunya ke anunya Ratih … Ratih udah nggak tahan pengen ngerasain itunya mas masuk anunya Ratih”, bisik gadis itu terengah-engah.

Sancaka mengangkat tubuhnya dan bertumpu pada kedua tangannya, sementara Ratih langsung menngulurkan tangan kanannya kebawah, digenggamnya batang penis pemuda itu. Sancaka kembali terpesona akan keindahan tubuh bagian atas gadis itu.
Sejenak Ratih terkejut dan berpikir apakah benda sebesar itu dapat masuk ke dalam lubang vaginanya. Memang dia pernah meraba-raba kemaluannya sendiri dan rasanya celah diantara bibir vaginanya pun tidak sebesar batang penis pemuda itu.
Tapi Ratih tak mau banyak pikir lagi, dibimbing dan diarahkannya kepala penis Sancaka kearah belahan vaginanya. Sancaka ikut memperhatikan perbuatan gadis itu. Ratih menarik sedikit batang penis Sancaka dan Sancaka mengikuti tarikan itu, mulai terasa kepala penisnya membelah bibir vagina Ratih.

“Sekarang mas … tekan sekarang”, desis gadis itu.

Sancaka mulai mendorong pinggulnya perlahan-lahan, kepala penisnya menekan dan menguak bibir vagina Ratih, terasa kepala penisnya mulai masuk sedikit demi sedikit, terasa kepala penisnya diremas-remas oleh vagina gadis itu, sensasi yang ditimbulkannya membuat Sancaka mendongakkan kepalanya melenguh pelan.
Ketika seperempat penisnya masuk kedalam vagina gadis itu, Sancaka terpaksa menghentikan gerakan mendorongnya, penisnya terasa ngilu akibat kuatnya cengkeraman liang vagina gadis itu, Sancaka menundukkan kepalanya dan membuka matanya.

Barulah pemuda itu melihat betapa dahi gadis itu berkerut-kerut dengan mata dan mulut terkatup rapat menahan perih. Air mata gadis itu pun mengalir tak tertahankan.

Sancaka bergerak hendak mencabut penisnya, “Jangan mas … jangan dicabut dulu … maafkan Ratih tadi tak kuat nahan sakitnya … biarkan itunya mas dalam anunya Ratih … jangan dicabut … Ratih mohon jangan dicabut”, ceracau gadis itu sambil tangannya menahan gerakan pinggul Sancaka.

“Maafkan mas ya … mas nggak tahu kalau Ratih kesakitan … mas egois sekali” kata Sancaka, ditahannya kedudukan penisnya dalam vagina gadis itu. Diturunkannya tubuhnya keatas tubuh Ratih, dipeluknya dan kembali dilumatnya bibir gadis itu, ratih membalas dengan ganas, Sancaka menurunkan sasarannya ke bawah, dilumatnya habis kedua buah dada gadis itu, kenikmatan itu mulai menghilangkan perih yang dirasakan Ratih sedikit-demi sedikit.

“Masukkan semuanya mas … masukkan semuanya sekarang”, kata gadis itu setelah dirasakannya rasa perih divaginanya telah jauh berkurang.

Sancaka menatap gadis itu sejenak, disambarnya bibir gadis itu, pada saat itu juga dia mendorong maju pinggulnya, gerakan penisnya terhenti, ada sesuatu yang menahan gerakan penisnya, mata Ratih tampak mendelik sebentar, kepalanya ikut terdongak, Sancaka pun tidak mau berpikir panjang lagi dia harus segera menghentikan penderitaan gadis itu.

Sambil mengambil ancang-ancang, disumbatnya mulut gadis itu dengan mulutnya, dia pun mendorong sekuatnya, mendorong habis seluruh batang penis kedalam liang vagina Ratih.
Jeritan Ratih pun pecah, merasakan ada sesuatu dalam liang vaginannya yang terobek perih. Tubuhnya mengejang hebat.
Sancaka sendiri menggeram dengan kening berkerut, ia merasakan nikmat saat kepala dan batang penisnya bergesekan dengan ketatnya liang vagina gadis itu, tetapi disaat itu juga ia merasakan ngilu karena kuatnya cengkeraman vagina gadis itu kali ini.

Ratih langsung menangis, dipeluknya Sancaka erat-erat, Sancaka balas memeluk gadis itu, “Maafkan mas … maafkan mas”, bisik pemuda itu berulang kali. Cukup lama keduanya dalam keadaan berpelukan seperti itu. Penis Sancaka masih terbenam dengan gagahnya didalam liang vagina Ratih, keduanya merasakan bahwa diantara kedutan vagina Ratih ada cairan hangat yang mengalir keluar, dan keduanya tahu bahwa cairan itu adalah darah keperawanan Ratih yang telah dipetik oleh Sancaka.

Ratih menggeleng-gelengkan kepalanya, “Jangan bicara begitu … Ratih tidak menyesal sedikitpun … Ratih bahagia bahwa kesucian Ratih telah Ratih persembahkan buat mas Sancaka”, bisik gadis itu sambil menciumi muka Sancaka.

“Sakitnya dah mulai hilang kok mas … maafin Ratih yah … Ratih kok jadi nangis kayak gini … ternyata Ratih ini masih belum gede yah”, kata gadis itu mulai tersenyum.

“Tapi hari ini Ratih akan menjadi wanita yang sempurna … mas .. buat Ratih menjadi wanita yang sempurna”, bisik gadis itu, “ratih mohon”.

“Ratih”, Cuma itu bisikan Sancaka, dia tidak boleh mengecewakan gadis itu. Dia pun mulai menciumi gadis itu dengan ganas. Pingulnya mulai bergerak perlahan, menarik dan mendorong penisnya. Sesekali masih terasa liang vagina gadis itu mencengkeram kuat ke batang penisnya, hanya saja kali ini semuanya semakin menambah kenikmatan bagi Sancaka.

Semakin lama terasa bahwa liang vagina gadis itu semakin basah, tanda bahwa rasa perih perih yang dirasakan Ratih telah mulai hilang, ini terlihat dari mulai terdengarnya mulut gadis itu menggumam tak jelas.

Sancaka mulai sedikit lebih cepat menarik-sorongkan penisnya, reaksinya sugguh dahsyat Sancaka kembali menggeram nikmat dibuatnya, pinggul Ratih pun terasa mulai bergerak mengimbangi, “Mas Sanca”, bisik gadis itu, “Enak mas”.

Semangat Sancaka mulai terbakar, dipeluknya kuat-kuat gadis itu dan dia mulai lebih mempercepat gerkan pinggulnya. Tubuh Ratih menggeliat-geliat dibawahnya, erangan demi erangan gadis itu semakin memacu gerakan Sancaka.

Gesekan kelamin itu membuat keduanya benar-benar melupakan segalanya, kenikmatan yang dirasakan sudah membuat keduanya seakan tuli tak mendengar betapa suara erangan kuat mereka dapat saja terdengar oleh orang lain, belum lagi suara derat-derit ranjang kayu yang menjadi arena pertarungan nafsu mereka itu.
Ratih merasa seluruh liang vaginanya penuh disesaki oleh batang penis pemuda itu, ditarik ataupun didorong kenikmatan pergesekan batang penis dan dinding vaginaya tidak dapat lagi dilukiskan.
Sementara kepala Sancaka sudah beberapa saat yang lalu terhenti diatas buah dada kiri gadis itu, ia dengan buas menetek disana sambil memeluk erat gadis itu, hampir seluruh indranya terpusat pada kenikmatan yang dirasakan ketika kepala dan batang penisnya keluar masuk di lubang surga itu.

Nafas kedua insan itu terdengar semakin memburu.

Ratih menjerit lirih merasakan kepala penis Sancaka semakin lama semakin membesar saja ukurannya dan ditambah gerakan keluarmasuknya yang semakin cepat tak beraturan membuat kenikmatan yang dirasakannya bertambah berkali lipat.
Sancaka semakin tak terkendali, dia terus menggerakkan pinggulnya dengan cepat, dia merasakan bahwa liang vagina gadi itu berdenyut-denyut kuat tak beraturan, nikmatnya bukan kepalang, ada sesuatu yang juga berdenyut dipangkal batang penisnya.

Tubuh gadis itu bergetar, “Ratih nggak kuat …Ratih nggak kuat”, ceracau gadis itu sambil mencengkeram kuat bantal dibawah kepalanya.

“Ratih”, geram Sancaka.

Hampir bersamaan keduanya saling peluk dengan kuatnya.

Sancaka menekankan pinggulnya kebawah dengan sekuat tenaganya, terasa ada sesuatu yang menyembur dari batang penisnya, dihisapnya puting susu gadis itu dengan kuat, iapun menggeram keras. Nikmatnya tak terlukiskan.
Disaat bersamaan Ratih menjepit pinggul pemuda itu dengan kedua pahanya kuat-kuat, puncak kenikmatannya yang dibarengi siraman hangat dari penis Sancaka benar-benar tak dapat dilukiskan.

Keduanya saling bertatapan mesra, Ratih membelai-belai rambut Sancaka, nafas keduanya masih saling memburu, sisa denyutan-denyutan penis dan vagina yang masih bersatu itu masih tetap menimbulkan kenikmatan tersendiri bagi keduanya.

“Ratih sayang mas Sanca”, bisik gadis itu sambil mencium kening pemuda itu, dan kembali airmatanya mengalir jatuh.

Sanca segera memeluk gadis itu, diciumnya kedua mata yang basah itu. Ratih pun kembali tersenyum bahagia.

Tubuh keduanya mendadak kembali tegang, untuk kemudian keduanya tertawa lepas, hal itu dikarenakan sensasi terlepasnya penis Sancaka yang mulai mengecil sehingga terdesak keluar dari vagina Ratih dengan sendirinya, sensasi geli-geli-nikmat.

Kembali keduanya berciuman dengan mesra, “Mas … malam ini Ratih tidurnya minta dikeloni … boleh nggak?”, tanya gadis itu.

Direngkuhnya kepala gadis itu, “Boleh aja … itupun kalau Ratih bisa tidur … mas akan buat Ratih kayak tadi sampe pagi”, bisik Sancaka mesra.

“Ihh …”, jerit gadis itu menarik kepalanya, “Enaknya selangit gitu kenapa musti takut … Kalo gitu sepakat yah … kita lihat siapa yang nggak kuat kayak tadi sampe pagi … yang kalah harus membalas setelah makan siang … hehehe”, Ratih mengacungkan jari kelingkingnya.

Sancaka mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking gadis itu, ditariknya gadis itu kedalam pelukannya. Tak lama kemudian terlihat keduanya telah tertidur berpelukan masih dalam keadaan telanjang.

Diluar hujan masih turun dengan derasnya, hal yang menguntungkan bagi mereka berdua, suara hujan menyembunyikan suara gaduh pertempuran nafsu mereka tadi.

****

Demikianlah tiga hari kepergian kedua orang tua Sancaka itu benar-benar dimanfaatkan oleh kedua insan itu untuk mereguk segala kenikmatan yang ada, tanpa pandang tempat dan waktu keduanya tampak selalu berpacu ke puncak kenikmatan, hanya diselingi oleh waktu makan dan mandi serta sedikit istiharat.

Tiga hari itu menjadi Tiga Hari Bulan Madu bagi Ratih dan Sancaka.

Setelah orang tua Sancaka kembali, keduanya harus ekstra hati-hati dalam mencari kesempatan untuk berduaan, setiap hari bila ada celah kesempatan segera mereka manfaatkan untuk mereguk kembali kenikmatan itu.

****

Hari itu entah kenapa, Sancaka tiba-tiba sangat merindukan kehadiran Gayatri, diambilnya foto gadis itu dan dipandangnya lekat-lekat.

“Tok … Tok … Tok”, bunyi ketukan pintu mengejutkan Sancaka.

“Sanca … buka pintunya nak … “, terdengar suara ibunya menyusuli ketukan di pintu.

Sancaka segera melompat dari tempat tidurnya dan menggantung kembali foto Gayatri yang tadi terus menerus dipeluk-peluk dan diciuminya ke dinding kamar.

“Ada apa to Bu?”, tanya Sancaka setelah membuka pintu dan melihat sang ibu berdiri disana.

“Itu Pak Broto mau ketemu … katanya ada yang perlu dibicarakan dengan kamu”, sahut ibunya sambil berjalan ke belakang. “Ibu mau bikin kopi dulu … kebetulan Ibu sedang bikin goreng pisang kesukaanmu”.

“Ayo cepat ditemui … jangan lupa pake bajumu dulu”, kata ibunya sambil menoleh kearah Sancaka.

Sancaka secepat kilat berganti baju dan keluar ke ruang tamu untuk menemui sang tamu, yang tak lain adalah bapaknya Gayatri sang kekaksih. Hatinya berdebar kencang, entah masalah apa yang akan dibicarakan oleh calon mertuanya itu.

****

“Selamat sore Pak … katanya Bapak ada perlu dengan saya”, sapa Sancaka sambil mengulurkan tangan untuk menyalami sang calon mertua.

Pak Broto pun berdiri dan mengulurkan tangannya, “Iya nak Sanca … Bapak mau membicarakan sesuatu dengan nak Sanca”, jawab orang tua itu saat Sancaka menyalami dan mencium tangannya.

“Nak Sanca kan lulusan terbaik di bidang perkebunan … kemarin Bapak bertemu dengan Tuan Frantzheof de Van Pierre”, lanjutnya setelah mereka duduk. “Sayang kan kalau tidak dipergunakan ilmunya”.

“Tuan Frantzheof de Van Pierre memiliki kebun Teh dan Kebun Kopi yang sangat luas di Pagar Alam … dan setelah mendengar tentang nak Sanca serta melihat foto nak Sanca … Beliau menanyakan tanggal lahir naka Sanca … mendengar nak Sanca lahir pada tanggal 6 Juni … Beliau juga menanyakan apakah nak Sanca memiliki ciri-ciri fisik yang khusus .. Beliau sangat tertarik serta langsung menawarkan nak Sanca untuk bekerja mengelola perkebunannya”, kata orang tua itu panjang lebar.

Sancaka memang seorang pria ganteng (sedikit terkesan kemayu malah), rambut panjang sebahu, memiliki postur tubuh yang atletis dengan tinggi 175 cm, maklum menilik silsilah ketrunannya dia masih termasuk berdarah biru.
Ciri-ciri fisik yang khusus yang dimaksudkan Pak Broto tentunya adalah tanda lahir yang ada dibawah pelipis didepan telinga kirinya.
Hal yang membuat Sancaka memanjangkan rambutnya adalah untuk menyembunyikan tanda lahirnya itu.

Sancaka masih berdiam diri menunggu kelanjutan penjelasan orang tua itu.

“Tuan Frantzheof de Van Pierre juga menjanjikan akan memberikan salah satu rumah besarnya untuk tempat tinggal nak Sanca nantinya berikut penghasilan yang sangat memadai tentunya … selama ini pengelolaan kebunya hanya diserahkan pada beberapa mandor lokal yang masih harus terus-menerus diawasi oleh Tuan Frantzheof de Van Pierre”, lanjut orang tua itu.

“Bahkan setiap enam minggu … Tuan Frantzheof de Van Pierre memberikan ijin kepada nak Sanca untuk libur selama seminggu penuh … Bagaimana nak Sanca … apakah nak Sanca bersedia? bukankah ini merupakan kesempatan emas bagi nak Sanca … kebetulan minggu depan Bapak akan ke Pagar Alam dan kebetulan pula Bapak akan mengantarkan bahan-bahan kebutuhan pokok pesanan Tuan Frantzheof de Van Pierre … biar saya sampaikan kepada Beliau”, demikian orang tua itu menutup penjelasannya.

“Menurut Ibu … sebaiknya kau terima tawaran Tuan Londo itu Sanca … betul itu kata Pak Broto … kapan lagi ada tawaran sebaik itu”, kata ibunya sambil meletakkan kopi dan pisang goreng di meja tamu, rupanya dari tadi ibunya ikut mendengarkan penjelasan Pak Broto dari balik pembatas ruang tamu dan ruang tengah.

“Silahkan dinikmati Mas Broto … Cuma ini yang kebetulan dapat kami hidangkan”, lanjut ibunya lagi.

“Terima kasih dik Sri … ini saya malah ngerepoti”, balas Pak Broto dengan sopan.

“Iyalah Bu … kalau menurut Ibu itu adalah hal yang baik … tentu saya akan bersedia menerima tawaran Tuan Londo itu”, akhirnya Sancaka berkata tanpa banyak berpikir lagi.

Lagipula memang tawaran itu cukup menggiurkan, dan merupakan kesempatan emas bagi Sancaka untuk menerapkan ilmu-ilmu perkebunan yang didapatnya.
Hanya saja dia masih berat memikirkan masalah hubungannya dengan Gayatri, bukankah beberapa bulan lagi kekasihnya itu akan segera kembali ke Palembang, sementara dia akan terikat pekerjaan di Pagar Alam yang cukup jauh dari Palembang.

“Mengenai Gayatri … nak Sanca tidak usah khawatir … dia tidak akan saya jodohkan dengan orang lain … bahkan kalau perlu nanti dia akan Bapak ajak kesana untuk menjenguk nak Sanca … pokonya Bapak jamin … hehehe”, kata Pak Broto seakan dapat membaca pikiran Sancaka.

“ Iya Sanca … takkan lari gunung di kejar”, sahut ibunya sambil tertawa geli melihat Sancaka yang sedang menyulut rokok itu menjadi merah padam mukanya karena malu rahasia hatinya dapat ditebak kedua orang tua itu.

“Ingat llho … nak Sanca harus segera mempersiapkan segala sesuatunya dalam minggu ini … saya yakin begitu mendengar nak Sanca bersedia tentu Tuan Frantzheof de Van Pierre akan segera memerintahkan salah satu mandornya untuk segera menjemput nak Sanca”, kata Pak Broto sebelum orang tua itu berpamitan untuk pulang.

Setelah itu merekapun terlibat obrolan ringan sambil menikmati kopi dan pisang goreng yang dibuat ibunya.

Seminggu itu Sancakapun sibuk sendiri mempersiapkan segala sesuatu yang dirasa perlu untuk dibawa ke Pagar Alam nantinya.