DISCLAIMER :

Cerita ini hanyalah Fiksi, kesamaan nama,tokoh dan tempat hanyalah sebuah kebetulan belaka, dalam cerita ini terkandung segala yang berhubungan dengan hubungan seksual dan pemerkosaan, penulis tidak bertanggung jawab dengan segala efek yang timbul setelah membaca cerita ini, dan kami para penulis pun mengutuk segala bentuk pemerkosaan di dunia nyata,..

Cerita ini hanya untuk anda yang berusia 18 tahun keatas, atau anda yang sudah merasa cukup dewasa, pikiran kotor yang timbul setelah membaca cerita-cerita porno di internet adalah tanggung jawab anda sendiri,..

Chads In Collaboration with Vein, Thanx for lustfully romantic scene,.. ^^

Sory kalo jelek, pengen bikin setiap adegan lebih detail dan menarik, tapi mual bikinnya, .. capek dan puyeng kebanyakan, ha ha ha, takut makin panjang makin ilang arah,..he he

Regard, and hopefully you can enjoy it,

CHAD’s

Jennifer 4 : “I Know Nothing”

Tubuh-ku gemetar,aku takut,…Aku tak percaya dengan apa yang kulihat, aku ingin menyangkal apa yang kulihat, Mamah turun dari sebuah mobil, dari pintu pengemudi keluar seseorang yang kira-kira seumur-an dengan-ku, aku ingat wajah itu,.. ‘PETER’ belum habis rasa heran-ku, Mamah memeluk Peter dan mencium bibir lelaki itu, mencium-nya sama seperti saat mencium Papah, bibir mereka bertemu dan mereka berpagut-an layak-nya sepasang anak muda,..

Ryan yang memang sudah kenal cukup baik dengan kedua OrangTua-ku pun ikut terdiam, ia menatap-ku yang mulai menitik-kan air mata, wajah-nya tampak binggung, namun ia tak berusaha bertanya lebih banyak pada-ku, ia tahu aku pasti merasakan kekecewaan yang luar biasa, aku memeluk Ryan, sementara di luar sana Mamah memeluk dan mencium Peter,..

“ Jenn, “ Ryan memeluk-ku,.. “ Sabar dulu, jangan banyak tanya, kita keluar dulu dari rumah kamu sekarang,.. “,” Supaya kamu bisa berfikir jernih “

Aku mengangguk dalam pelukan-nya,.. Aku diam menahan tangis-ku, aku berusaha menguasai emosi-ku yang seolah ingin meledak sementara Ryan memeluk dan mengajak-ku kembali ke ruang tamu utama tadi,..

Ryan memeluk-ku, sambil terus berusaha menguatkan-ku, ia selalu baik, selalu baik, aku merasa begitu nyaman dalam pelukan-nya, sementara terkadang pun aku masih sering menyesali keputusan-ku dulu saat memutuskan hubungan kami..

“ Jenni,.. Ryan, ayo ada apa ini ?? “ Mamah tersenyum seperti biasanya, seperti ia tak memiliki ‘dosa’ apapun,..

“ Tante,.. sore Tante,.. “ Ryan berdiri sambil tersenyum, berusaha tampil wajar,..

Aku menyeka air mata-ku, sambil tersenyum ke Mamah,..

“ Jenni, kenapa nangis ?? “ Mamah menghampiri-ku, memeluk-ku wajar,..tapi tak seperti biasanya, ingin rasanya aku melepaskan diri dari pelukan Mamah,..

“ Kenapa sayang ?? “ Mamah memeluk-ku sambil mengusap rambut-ku, aku tak tahu harus menjawab apa,..

“ Itu Tante, Jenni ada ribut-ribut, ada masalah gitu dech sama temen-nya,.. Jadi tadi dia lagi curhat ke saya,.. bukan saya yang bikin nangis loh Tante,.. “ Ryan bercanda, mencairkan suasana,..

“ Ah kamu ini, dari dulu suka bercanda aja,.. Yawda kamu temenin Jenni dulu ya,.. Tante mau tukar pakaian dulu, kalian belum makan kan ?? Makan sini aja ya,..Nanti Tante suruh siapin makanan..”
” Aduh jangan repot-repot Tante,.. Kita mau jalan lagi nich, ditunggu temen,..” Ryan beralasan, ia tahu semakin lama aku berada disini, makin tak tahan aku untuk meledakan tangis-ku,..

“ Ya ampun Jenni, Jenni mau pergi lagi ?? Mamah kan masih kangen sayang,.. “

“ Bentar koq Mah, Jenni juga sebentar aja perginya,.. “ Aku menjawab terbata,.

“ Yawda, kalian hati-hati aja ya dijalan,.. “

“ Iya Tante, kita pergi dulu ya, sore Tante,.. “ Ryan buru-buru memangkas pembicaraan,..

“ Ati-ati loh kalian,.. “ Mamah mengingatkan lagi, entah basa-basi atau memang masih perhatian pada-ku,..

“ Pergi dulu Mah,.. “ Aku keluar dari pelukan Mamah,. Aku memeluk Ryan erat-erat, kami berjalan keluar rumah, mobil Ryan yang tak sengaja ditaruh di luar rumah, mungkin membuat Mamah tak menyadari kalau aku sudah pulang, dan berani melakukan kesalahan itu..begitu sampai di dalam mobil Toyota Rush Ryan aku menangis sejadi-nya,.. aku memukul lengan Ryan berulang-ulang, Ryan diam saja, ia mengerti kebiasaan buruk-ku yang tak pernah berubah ini,..

Setelah agak reda tangisan-ku itu,.. baru kemudian perlahan kami menjauh dari rumah-ku, dalam tangis-ku, aku mulai sadar tak ada yang sempurna di dunia ini, namun aku ta pernah tau,. Kalau semua ini hanyalah sedikit bagian dari ketidak sempurnaan itu,..

“ Jenn, mobil kamu gimana ?? Biarin di tempat Alvira aja ?? Kamu mau kemana ?? “ Ryan bertanya pada-ku,.. Aku menggeleng, aku benar-benar tak tahu, harus kemana..

“ Aku ketempat kamu aja Ry, boleh ya,.. “
Ryan terdiam sesaat… sebelum akhirnya mengganguk

“ Ok, yawda kamu ketempat aku aja,.. nanti mobil kamu aku ambil dari tempat Alvira ya,.. “

“ Gimana kamu aja Ry,.. “

Setengah jam dari rumah-ku, menuju komplek kampus kami, kampus Ryan juga dulunya, ia masih tinggal di kost-kostannya yang lama, padahal dia sudah bekerja sekarang namun karena letak tempat kerja-nya tak jauh dari kampus ia memilih tinggal di tempat lama,..

Kami berdua masuk ke dalam rumah kost itu, kamar-nya di lantai 3 kost-kostan itu, masih sama seperti dulu, berantakan dan penuh dengan barang-barang yang berserakan,

“ Ich jorok,.. “ Komentar-ku sedikit tersenyum, melihat baju-nya yang berserakan, ada juga celana dalam-nya yang sedikit keluar dari bucket tempat cuci baju-nya,..

“ Ha ha, sory kotor and berantakan, makanya aku bolehin kamu kesini, biar bisa rapih-in,.. he he “ Dia berusaha menghibur-ku,..

“ Lu tidur dulu dech, aku ambil mobil dulu di tempat Alvira, sekalian aku beli makanan buat kamu, mau makan apa ?? “ sambungnya lagi..
” Apa aja Ry, aku gimana kamu aja,.. “ aku mengambil kunci mobil-ku dari tas-ku,. Memberikan-nya pada Ryan,.. “ Jangan lama-lama ya Ry,.. “ entah sejak kapan kami malah menggunakan istilah Aku dan Kamu, entahlah,..

“ Yawda, tidur dulu sana,.. “ Ryan meninggalkan ku sendirian, Aku melihat kamar itu, tanpa sadar aku merapikan barang-barang di kamar itu,.. Aku menuju komputernya yang penuh dengan Tissue, entah bekas apa,. Meja belajar,..yang sekarang sudah naik pangkat jadi meja kerja-nya, ada foto seorang gadis, aku tahu gadis itu, Cheryl nama-nya,..

Ah entah kenapa aku begitu malas melihat foto-nya, aku masukan foto itu ke laci meja-nya, sebelum mulai merapikan barang-barang lain di kamar itu, bantal-nya yang berserakan, kukembalikan ke atas kasur, karpet merah berlambang klub bola-nya yang di taruh-nya tepat ditengah kamar yang lumayan besar itu, penuhdengan kertas-kertas berserakan, aku memungutinya dan membuangnya ketempat sampah..

Tak terasa sedikit demi sedikit, kamar itu jadi cukup rapih juga, aku membuka lemari pakaian-nya yang berantakan, mencari handuk untuk mandi, yang ada malah celana dalam, aku penasaran siapa tahu ada film porno di lemari itu, dulu sich sering dia sembunyikan di lemari, aku tersenyum-senyum sendiri tanpa sadar,

Aku membongkar beberapa lapisan pakaian-nya, namun aku tak berhasil menemukan ‘barang’ yang kucari, sudah tobat mungkin, he he he,. Akhirnya aku mengambil handuk cadangan-nya untuk mandi. Kembali ke rencana-ku semula.

Dikamar mandi aku malahan kembali mengingat kejadian di rumah tadi, aku mulai menangis lagi,.. air mata-ku menyatu dengan air yang mengalir membasahi tubuh telanjang-ku, aku menangis sejadi-nya, aku berulang memukul dinding kamar mandi itu, sampai tangan-ku mulai terluka,..

Bayangan Mamah memeluk erat Peter, mencium Peter mesra, sakit, sakit rasanya hati-ku mengingat kejadian itu lagi,.. Aku kembali menangis sejadinya, entah berapa lama aku sudah menangis di kamar mandi,. Hingga terdengar Ryan mengetuk pintu kamar mandi..

“ Jenn,.. “ Panggilnya berulang-ulang,..

“ I..Iya Ry,.. “ Aku menyahut,..

“ Kamu ga apa apa ?? Dari tadi koq gue panggil ga jawab,.. “ Aku baru sadar, entah berapa lama aku melamun tadi,.

“ Ga pa pa Ry, ga ada apa-apa.. aku dah beres koq,.. “ Aku mengambil handuk dan mengeringkan tubuh-ku, sebelum kembali mengenakan pakaian-ku,..

” Sory Ry, tadi aku ngelamun,.. “
” Ampir gue dobrak, takut ada apa-apa.. Kamu ga pa pa kan ?? “ Ia menyadari bekas tangisan-ku, sambil memeriksa kepalan-kuyang terluka..

“ Ga pa pa Ry,.. “ Aku berusaha tersenyum,..

“ Ya udah, ini tas pakaian kamu, tadi dikasih Alvira,.. “ Ia menyerahkan tas-ku,.. berusaha tak bertanya lebih jauh,..

Aku mengambil pakaian tidur-ku, dari dalam tas-ku tank top tak terlalu ketat dan celana pendek warna hitam, sebelum aku kembali masuk ke dalam kamar mandi dan berganti pakaian,..

Aku menatap pantulan tubuh-ku dicermin, Ah aku yakin, lelaki manapun tak akan bisa menahan diri kalau melihat-ku berbusana seperti ini, anugerah yang iberikan oleh Tuhan, sama dengan yang diberikan-Nya pada Mamah-ku, tapi kenapa ia seolah melupakan status-nya sebagai seorang wanita bersuami, dan melakukan kegilaan bodoh dengan Anak muda seperti Peter ??,.. aku pusing memikirkan jawaban segala pertanyaan-ku itu,..

Saat aku keluar dari kamar mandi Ryan melihat-ku tanpa berkedip, sebelum ia bisa menguasai dirinya lagi, dan memalingkan tatapan-nya dari-ku, jujur aku senang diperhatikan seperti itu, membuat-ku merasa begitu cantik, sedikit membuat-ku lupa akan kesedihan-ku, tak apalah sekedar menghibur hati-ku,..

“ Makan nich Jenn,.. “ sambil memberikan-ku sebuah kardus stereofoam,..

“ Kwetiaw siram ??, masih aja,.. “ komentar-ku sambil tersenyum, saat membuka dus stereofoam berisis Ryan pun tersenyum lebar,.. Ia membawakan-ku kwetiaw siram makanan kesukaan-nya, ya dari dulu dia suka banget makan beginian,..

Kami makan sambil berbincang-bincang ringan, Ryan tampaknya sengaja mengarahkan pembicaraan kami jauh dari topik yang terjadi sore tadi,.. entah kenapa aku menjadi sedikit iseng menanyakan hubungan-nya dengan cewek di foto tadi,.mungkin aku merasa sedikit cemburu,..

” Kamu pacaran ya sama Cheryl ?? “ Ryan langsung menghentikan suapan-nya

Wajah-nya memerah, membuat-ku sedikit sebal,..namun jawaban selanjutnya membuat-ku sedikit tersenyum lega,..

“ Ah gak, itu sich keisengan anak-anak aja, dia juga kan udah nikah lagi sama Ray,.. he he.. “ wajah-nya merah,..

“ Tapi kamu suka sama dia kan ?? “ Desak-ku,..

“ Hmm gimana ya ?? Dulu sich iya, sekarang gak lagi tuch,.. he he,.. “ Jawaban-nya yang terkesan mantap, entah kenapa membuat hati-ku berbunga-bunga mendengar-nya

“ Udah makan aja dech,.. “ Kata-nya

Aku pun diam, namun ucapan-nya tadi membuat-ku kembali sedikit merasakan kebahagiaan,..

Ryan masih tak mau mengutik-utik masalah tadi, aku pun diam saja, kami banyak bercerita kehidupan kami dulu, ngomongin orang lain, bergurau entah berapa banyak aku dibuatnya tertawa malam itu,. Sambil sesekali main PS2, kami berbincang, bercanda sampai lewat pukul 11 lebih, saat tiba-tiba ia membuka permasalahan tadi,..

“ Jenn, ada sesuatu yang bisa kita hindarin, tapi ada juga masalah yang harus kita hadapin,.. “ perkataanya perlahan, namun menusuk telinga-ku,..

Aku diam tak menjawab,..

“ Kamu harus kuat, aku ada koq, ada buat kamu, kamu pasti bisa ya,.. “ Ia memeluk-ku, aku pun memeluk-nya,..Air mata-ku menetes, namun aku merasa diberikan kekuatan yang besar oleh Ryan,..

“ Aku bisa ?? “ Tanya-ku,..

“ Kamu bisa, ya pasti bisa,.. “ Ryan, Ryan mencium kening-ku,..

Aku merapat-kan pelukan-ku beberapa saat,..

“ Udah-udah kamu tidur sana,.. “ Ryan tersenyum menatap-ku,..

Aku mengganguk, bersembunyi di selimut-nya yang nyaman..

“ Jenn, aku di tempat Jack ya,.. kamu tahu kan??, masih tempat yang lama juga dia kan belum lulus ha ha, telepon aku kalau ada apa-apa,.. “

Entah mengapa aku ingin sekali Ryan tetap berada disini, Aku nyaman bersama-nya,..

Ia berjalan menuju pintu, sebelum aku memanggilnya,..

“ Ry, Ry kamu disini aja ya, temenin aku,.. “

Ia diam tak menjawab,..

“ Ry… “ Aku memohon,..

Ia menatap-ku,.. sebelum menjawab

“ Yawda aku tidur dibawah aja, aku temenin kamu, lagi kamu dah beresin kamar aku, balas jasa dech, kasian ha ha ha,.. “ Ia tersenyum menatap-ku,..

Aku membalas senyuman-nya sambil bergeser ke sudut kasur-nya, memberikan ruang untuk-nya berbaring,..

“ Udah aku dibawah Jenn,.. “

“ Ich jangan donk,.. “ Aku tak enak hati,..
” Gak ah, tar kamu macem-macem lagi kalau tidur seranjang, ha ha,.. “ Canda-nya,..

“ Ich dasar,.. “ Aku mencubit perut-nya,..

Ryan mengambil selimut cadangan di lemari-nya, sebelum membaringkan tubuh-nya di atas karpet,..Aku memberinya bantal guling yang tak aku pakai,..

“ Matiin lampu-nya ?? “ Tanya Ryan, setelah mencari posisi yang nyaman,..

“ Iya matiin aja,.. “ Ia pun mematikan lampu kamar itu, masih dengan cara lama, menyambit sandal jepitnya kearah saklar di dinding..

Gelap meski ada sedikit cahaya dari luar, aku menatap punggung Ryan yang sedang tiduran di atas karpet,. Aku yakin dia belum tidur,..

“ Ry, pinjem HP-nya boleh ?? “

“ Hmm, ambil aja,.. “ pasti ia lelah sekali, buru-buru pulang dari tempat kerja-nya mengantar-ku, mengambil mobil-ku, kasihan,..

Aku mengambil ponselnya, di meja televise,..mengutak-atik ponsel N-95nya, ingin aku membuka inbox-nya, tapi belum berani, aku mengalihkan kursor membuka Gallery-nya ada 100an lebih photo di dalam memory ponsel itu, ada Jack, Edison, Vic di dalam-nya, Ray sahabat-nya, adik perempuan-nya yang beda Ibu, hasil pernikahan Papah-nya yang orang Jerman itu dengan sesama orang Jerman, cantik sekali, rambut-nya coklat sebahu,.. Ah foto orang yang entah kenapa jadi kubenci juga ada,.. si Cheryl itu,.. aku terus memundurkan foto-foto itu,..

Aku terdiam dan terpaku, saat aku melihat foto-foto ku tersimpan di HP-nya, sudah 4 tahun yang lalu saat kami memutuskan untuk mengakhiri hubungan cinta kami, tapi ia masih menyimpan foto-ku,.. 30-an lebih lembar foto, entah mengapa hati-ku langsung berbunga tak karuan, aku kembali menatap Ryan yang tertidur dibawah..

Aku.., tanpa sadar aku turun dari tempat tidur-ku, aku menatap wajah Ryan yang tertidur pulas, aku mengingat cerita cinta kami, dan kebodohan-ku meninggalkan-nya, demi sesuatu yang tak pasti,. cahaya remang yang mengintip dari lampu di luar kamar sedikit membuat wajah Ryan terlihat lebih jelas, aku menatap bibir-nya, aku, tanpa sadar aku mencium bibir-nya,..

Bibir-nya masih memberikan perasaan yang sama dengan yang dulu,. Aku mencium bibir itu terus, hingga Ryan terbangun,..

“ Jenn,.. “ Ryan terkejut,..

Aku memeluk-nya dan menangis,.. Ryan terkejut dengan apa yang kulakukan, aku memeluk-nya erat-erat..

“ Maapin aku ya Ry,.. “ Aku memeluk-nya erat-erat, air mata-ku mengucur deras,..

Ryan terdiam sejenak sebelum memeluk-ku,..

“ Udah-udah ya,.. Jangan nangis lagi,.. “ Ia memeluk-ku sambil mengusap-usap punggung-ku,..

“ Maapin aku “ Aku ingin mendengar kata maaf dari-nya.,..

“ Iya-iya aku maafin,.. “ entah mengerti atau tidak,..

Aku mencium-nya, aku kembali mencium Ryan lidah kami bertautan, perasaan yang berbeda dengan yang pernah aku rasakan dari lelaki lain, terlebih para ‘pemerkosa-ku’, bukan ciuman penuh nafsu, ciuman penuh rasa sayang yang hanya pernah kurasa-kan dari-nya,..

Namun sebuah kesadaran lain menyadarkan-ku, aku mengentikan ciuman-ku,..

Aku merasa diri-ku yang sekarang bukan-lah seseorang yang pantas untuk diri-nya, aku ragu dengan diri-ku, ‘aku kotor’, aku bukan lagi Jennifer 5-4 tahun yang lalu, Jennifer yang Ryan tahu, apa Ryan masih mau mencintai-ku bila tahu ‘seberapa kotornya’ Jennifer ini sekarang,..

“ Kenapa Jen ?? “ Tanya Ryan

“ Gapapa Ry,.. aku sayang kamu,.. “ Aku memeluk-nya erat-erat, membenamkan wajah-ku yang mulai menangis di dada-nya,..

“ Iya-iya, tapi kamu ga boleh nangis lagi ya,.. ayo tidur lagi,.. “ Ryan membawa-ku kembali naik ke atas ranjang-nya,..

“ Kamu di atas ya tidur-nya, peluk aku,.. pleaseee.. “ Pinta-ku, aku tak ingin lepas dari pelukan-nya

Ryan mengangguk,.. Ia berbaring disebelah-ku,..Aku mendekap tubuh-nya,.. hangat rasanya, nyaman…

Ryan masih belum menutup mata-nya, sepasang mata-nya yang coklat itu seolah masuk ke dalam diri-ku, memberikan sentuhan rasa sayang untuk-ku dan aku serba salah menangapinya, kami berdua bukan anak kecil lagi, We are not a virgin, aku juga sempat beberapa kali berhubungan seks dengan-nya dulu, Ryan bukan anak super baik dan alim, dia normal dan hanya seorang anak yang sedikit nakal tapi tahu bagaimana memberikan rasa sayang,..

Aku ingin mencium-nya, aku ingin merasakan ciumannya lagi, aku menutup mata-ku, menunggu Ryan bereaksi, perlahan kurasakan bibir-nya menyentuh bibir-ku sebelum lidah kami kembali bercumbu, tangan-ku menempel di dada-nya, perlahan aku merasakan tangannya yang memeluk-ku bergerak,..ku rasakan bau tubuh-nya yang masih sama dengan yang dulu,..

Perlahan ia berpindah menindih tubuh-ku,.. kami masih bertukar ciuman saat itu, aku menggantungkan lengan-ku di leher-nya, berciuman mesra sekali, sementara tangan Ryan mulai bergerak menyentuh bagian payudara-ku,..

“ Ughhh, “ Aku merintih perlahan, mendesah merasakan tangan-nya menyentuh payudara-ku itu, dari balik TankTop tanpa Bra-ku,. Bergerak seolah mencari bagian puting payudara-ku, aku menurunkan satu tangan-ku ke bagian selangkangan-nya, perlahan aku meremas-remas penis-nya yang sudah mengeras, perlahan aku meremas-remas penis-nya itu sambil memainkan lidah-ku,..

Tangan Ryan menyelip dari bawah TankTop-ku, menyentuh kulit-ku yang seketika merinding merasakan sentuhan tangan-nya, tubuh-ku terbakar oleh nafsu namun juga dipenuhi rasa bersalah atas kegilaan-ku selama ini, aku diam seribu bahasa, namun masih tak menghentikan ciuman-ku,..

Tangan Ryan menjepit dan meremas-remas puting-ku, perlahan namun sama nikmatnya dengan remasan-remasan kuat dan keras,. Memberikan rasa yang berbeda, bukan sensasi ketegangan atau perasaan di dominasi oleh orang-orang rendah yang selama ini memancing birahi-ku, tapi sejenis perasaan yang berbeda,.

Tak mau kalah, akupun menyelipkan jemari-ku ke dalam celana Ryan, aku menyentuh penis-nya yang sedikit basah, perlahan aku meremas penis itu, sebelum aku mulai mengocok penis itu perlahan, sesekali membuat gerakan memutar yang membuat Ryan menggelinjang nikmat,..

Aku menarik baju Ryan, sesaat Ryan berhenti meremas payudara-ku saat membuka pakaian-nya, namun sepertiny dia tak mau telanjang sendirian, perlahan membisik meminta-ku untuk membuka TankTop yang kukenakan , aku tersenyum menatap-nya sambil perlahan membuka TankTop-ku itu,.. kedua payudara-ku bersentuhan langsung dengan dada Ryan yang cukup berotot,. Jemari-ku menyentuh di dada-nya sementara perlahan Ryan kembali melumat bibir-ku,.

“ Kamu selalu cantik Jenn,.. “ Bisik-nya, aku tahu itu rayuan, namun tetap saja memberikan sebuah kebahagian tersendiri pada-ku saat mendengarnya,..

Aku membalas ciuman Ryan, sambil perlahan menyusupkan jemari-ku ke penisnya, kembali meremas-remas penis-nya itu,..

Ryan tak lagi mencium-ku, namun lidah-nya perlahan turun dari wajah-ku melewati leher-ku dan berhenti tepat di puting payudara kiri-ku, aku gemetar saat merasakan lidah-nya memainkan puting payudara-ku itu, perlahan lidah-nya yang sedikit basah memainkan puting payudara-ku, sementara telunjuk tangan kiri-nya perlahan menyapu turun, membelai tubuh-ku melewati perut-ku sebelum menyelusup ke celana pendek-ku,..

Aku merasakan bagaimana jemarinya itu membelai melewati bulu-bulu kemaluan-ku, sebelum berhenti dan membelah bibir vagina-ku,.. jemarinya bergerak-gerak di dalam sana membelah dan menyentuh-nyentuh titik rangsangan-ku, tak ada lagi mulut Ryan yang melumat bibir-ku, membuat-ku perlahan mulai mendesah-desah kenikmatan,.

“ Ughh, Ry.. “ aku mengocok penis-nya itu kian cepat, Ryan pun sesekali menggelinjang dan mendesah, sementara ia masih asyik melumat payudara-ku itu,.. perlahan kaki-ku mulai merenggang karena rangsangan dari jemari Ryan yang sedang memainkan Clitoris-ku, aku memejamkan mata-ku merasakan perlahan bagaimana jemari Ryan sedang bermain-main didalam sana,.

Jemari-nya masih hanya sekedar bermain di bibir vagina-ku, sama sekali belum menyeruak masuk, namun sentuhan tangan-nya itu membuat-ku begitu terlena oleh kenikmatan serjenis ini,.. romantisme yang mulai kulupakan ini, aku terlalu banyak bermain hanya karena nafsu dan kenakalan-ku, bukan menggunakan perasaan yang dalam seperti ini,..

Ryan menarik celana pendek yang kukenakan, kini jemari-nya lebih leluasa bermain diselangkangan-ku, aku pun tak mau kalah dan meminta-nya melucuti celana-nya sendiri,. Ia tersenyum menatap-ku, tanpa celana membuat-ku lebih mudah untuk mengocok penis itu,.. perlahan kocokan-ku bertambah cepat, sementara lidah Ryan kian mudah menari-nari di payudara-ku, dan merangsang Clitoris-ku dengan tangan-nya,..

Terasa bagaimana Vagina-ku mulai meneteskan cairan cinta,. Aku menutup mata-ku, merasakan, menikmati bagaimana sentuhan-sentuhan Ryan di sekujur tubuh-ku, perlahan lidahnya yang begitu terasa memutari di permukaan payudara-ku, meninggalkan bekas-bekas liur yang membuat–ku terasa begitu seksi,.

Aku menyusupkan lidah-ku ke telinga Ryan setelah menyibak rambut-nya yang lumayan panjang itu, ia menggelinjang geli saat lidah-ku menyentuh telinga-nya, sesekali kukulum telinga-nya yang membuat ia bergelinjang merinding,..

Entah sejak kapan aku sudah berada di atas pinggang Ryan, perlahan aku menggerakan pinggul-ku, penis Ryan berada tepat di mulut vagina-ku, tidak masuk hanya menyentuh sepanjang bibir vagina-ku, aku merapikan rambut sebelah kening-ku sambil menatap nakal,..

Perlahan kugerakan pinggul-ku, Ryan menutup mata-nya merasakan bibir vagina-ku sepajang batang penis-nya, aku pun mengigit bibir bawah-ku merasakan penis hangat yang sesekali berdenyut itu,.. jemari-ku bergerak-gerak di dada-nya sesekali memainkan putingnya baik dengan jemari-ku ataupun lidah-ku,..

Aku kembali mencium Ryan, memainkan lidah-ku menyedot-nyedot lidahnya didalam sana, apalagi cairan cinta-ku yang sedikit menetes keluar memberikan pelumas untuk-ku terus bergerak di batang penis-nya, kami terus berciuman sementara gerakan pinggul-ku kian lama kian cepat,..

Rasanya begitu dahsyat rangsangan penis yang berada di bibir vagina-ku, sesekali menyentuh clitoris-ku yang membuatku menggelinjang-gelinjang geli, merasakan sentuhan penis-nya,..

“ Ahmmm,.. “ aku mendesis sambil terus menggoyangkan pinggulku, lelehan cairan cinta-ku yang sesekali mengalir keluar, membasahi penis Ryan dan juga selangkangan-ku,.Perlahan aku bergerak turun, aku berada tepat di depan penis-nya, kugengam penis itu dengan tangan kanan-ku, sambil kukocok-kocok, perlahan kumasukan penis itu dalam mulut-ku,.. sambil masih memutar-mutar penis dalam gengaman-ku itu, kuraih penisnya dengan lidah-ku, kubelai perlahan kepala penisnya itu..

Aku mengocok lembut penisnya, ditambah lagi belaian lidah-ku yang membasahi batang penis itu,.. sesekali cairan pelumas keluar dari penis Ryan aku tak ragu untuk menjilati kepala penisnya membersihkan kepala penis itu,..

“ Oughhh,..Jennn “ Ryan menggelinjang hebat saat aku mulai menelan buah zakarnya,.

Kucium buah zakarnya sambil kutekan kepala kemaluannya yang sedang mekar berdiri itu,..

Terus kukulum buah zakar itu, sebelum kemudian kugerakan lidahku menyelisir batang kemaluan-nya dari atas sampai kebawah,.. Ryan melenguh-lenguh sambil merapikan rambut panjang-ku yang terurai, mungkin agar tak menyentuh kulitnya hingga membuat-nya bertambah geli,..

Aku terus mengulum penis itu, sampai Ryan tiba-tiba bangun dan mengangkat tubuh-ku,.. Masih aku berada di selangkangannya, namun kini vagina-ku berada tepat diwajahnya,.. Posisi 69,.. seperti kebiasaan kami dulu,.. sesaat kemudian aku hanya bisa mendesis tertahan saat kurasakan jemari Ryan menyentuh bibir vagina-ku,..

Rasanya wajah-ku langsung terbakar, aku malu saat Ryan menatap vagina-ku, aku takut ia merasa aneh dengan bentuk vagina-ku, bukan-bukan maksud-ku bentuk vagina-ku sudah jelek sekarang, masih..aku yakin masih seperti yang dulu, tapi dengan begitu banyak ‘dosa’ yang telah kulakukan jelas ada semacam rasa takut yang membuat-ku tak percaya diri,..

Namun kegundahan-ku tak berarti banyak, aku mendesis saat kurasakan lidah Ryan menyentuh clitoris-ku, kau mengigil sesaat, terlebih saat ia menyapu-nyapu-kan lidahnya itu kebibir kemaluan-ku terus berulang-ulang jempolnya tertahan di clitoris-ku sementara lidahnya menari-nari di bibir kemaluan-ku itu,..

“ Hmmm,.. “, “ Ughhhh “…Suara desahan kami saling bersahutan,,

Saat penisnya kuhisap keras, Ryan pun membalas dengan menyedot clit-ku, terus berulang seperti itu, membuat-ku terus melayang-layang. Apalagi lidahnya yang bergerak teratur menyapu seluruh permukaan vagina-ku, rasanya begitu nyaman,, aku pun membalas dengan mengocok penis Ryan sepenuh hati,..

Perlahan dengan remasan yang tak keras, sesekali ditambah dengan gerakan memutar penis itu yang membuat Ryan melenguh-lenguh nikmat, aku pun terus menggerakan lidah-ku menyapu-nyapu kepala kemaluan-nya sampai menghisap buah zakarnya,.. lucu sekali tiap kali buah zakarnya kusedot penis Ryan langsung bergetar-getar tak karuan, apalagi suara desahannya yang kian membuat-ku bernafsu..

Jemari-nya yang mulai menekan masuk, sempat membuat-ku terdiam sesaat, aku merasakan jemarinya yang membelah masuk, menyentuh permukaan dalam vagina-ku, aku mendesis tertahan, namun cairan cinta-ku yang memang sudah cukup membasai bagian dalam vagina-ku itu membuat Ryan lebih mudah menekan masukan jemarinya dalam vagina-ku itu,,,

“ Hmm Ry,.. awww,.. “ Ryan sempat menghentikan jemarinya, saat mendengar aku meringis tertahan tadi, aku memalingkan wajah-ku tersenyum padanya, kemudian kembali memasukan penisnya dalam mulut-ku, Ryan pun ikut menyapukan lidahnya kebibir vagina-ku, sementara jemari-nya kembali ditekan-nya masuk,..

Permainan lidahnya ditambah jemarinya yang keluar masuk dalam vagina-ku mulai membuat-ku kewalahan, apalagi sesekali jemarinya itu menyentuh G-Spot ku yang tiap kali tersentuh langsung membuatku gemetar tak tertahan,. Lidahnya yang sesekali menyedot di clitoris-ku kian membuat-ku berkeringat,..

Entah berapa lama kami dalam posisi demikian hingga akhirnya aku mencapai organsme kecil,.. tubuh-ku gemetaran beberapa saat sambil masih menelan penis Ryan di mulut-ku,..cairan cinta-ku meleleh keluar, aku menatap lirih ke Ryan yang hanya membalas-ku dengan senyuman manja-nya,..

Akupun memalingkan tubuh-ku memeluknya mesra, sambil menarik nafas sedikit beristirahat, payudara-ku yang menekan ke dada Ryan membuat-nya menggelinjang geli, kami terus berpagutan sementara tangan Ryan kembali meremas-remas payudara-ku, aku pun membalas-nya dengan meremas penisnya yang masih keras itu,..

Kucubit dada-nya sekedar iseng aja, ia membalasnya dengan menarik puting-ku,yang membuat-ku mengigil tertahan merasakan jemari-nya yang menarik puting payudara-ku itu, perih tapi enak juga, kembali aku mencium-nya sambil mengatur nafas-ku, perlahan kugesekan betis-ku ke paha-nya, nakal..

Aku mulai berpindah naik aku tersenyum nakal pada Ryan, sebelum mulai membimbing penis-nya masuk dalam vagina-ku, perlahan penis-nya melesak masuk dalam vagina-ku, aku mengigit bibir-ku merasakan penisnya yang kian dalam menusuk, perlahan tertahan membuat-ku kembali menaikan tubuh-ku sebelum kembali menekan masukan penis-nya dalam vagina-ku,..

Berulang kucoba hingga akhirnya seluruh penis Ryan tenggelam dalam vagina-ku, aku memeluk Ryan, sebelum mencium-nya,.. kurasakan penis-nya dalam vagina-ku sementara perlahan aku mulai menggerakan pinggulku,..

Naik turun, penis Ryan timbul tenggelam dalam vagina-ku,..

“ ehmmm,.. “ suara desahan kami saling bersahutan, meski sedikit menahan desahan takut tetangga sebelah kamar mendekat,..

Kian lama kian cepat aku menggerakan tubuh-ku, terlebih Ryan ikut mengerakan pinggulnya menyetubuhi-ku,.. lebih hebat, dia jauh lebih hebat di banding saat pacaran kami dulu, namun itu juga sedikit mendatangkan rasa cemburu, aku kesal memikirkan sudah berapa banyak gadis yang ditidurin-nya setelah putus dengan-ku,..

Egois ?? bisa saja, tapi rasa penasaran karena cemburu-ku membuat-ku melontarkan pertanyaan bodoh,..

“ Kamu sering ya begini ?? “ Pertanyaan bodoh itu terlontar disela desahan-ku,..

Ryan terhenti sesaat, bodohnya aku bertanya seperti itu sekarang,. Tapi aku penasaran dan ingin tahu,…

Ryan menatap-ku,.. sekarang aku malah takut sendiri, aku takut kalau ditanya balik “ bagimana dengan aku ?? “ aku harus menjawab apa ??,..
” Gak juga, selepas kuliah aku gak pernah,.. itu kegilaan jaman kuliah aja,.. “ Ia membisik pada-ku,.

“ Bener ?? “ lagi-lagi aku keceplosan,..

Ryan mengangguk, “ Aku udah dewasa, aku cuma mau sama orang yang aku sayang,.. “

Entah mengapa, padahal aku tak tahu dan tak mau perduli itu hanya kebohongan atau memang kenyataan, tapi yang pasti aku begitu gembira,..

Ryan mencium bibir-ku lagi,.. aku membalas ciuman-nya, sambil kembali menggoyangkan tubuh-ku, perlahan sambil saling bertukar ciuman aku terus memeluk-nya, tak ingin lepas dari pelukan-nya,..

####

“ Kamu yakin, kamu bisa sendiri ?? “ Ryan bertanya pada-ku yang sedang mengeringkan rambut-ku,..

“ Iya, kamu kerja aja ya sayang,.. “ Kalimat itu keluar begitu saja,..

Ryan diam sesaat sebelum menjawab pertanyaan-ku “ Yakin ?? “

Aku menahan wajah-ku yang merah padam, menatap Ryan yang sedang memasang kancing kemeja-nya,..

“ Sini,.. “ Aku memasangkan dasi-nya,.. “ Iya tenang aja, kan kamu yang bilang aku pasti bisa,.. “ Aku mencium Ryan di kening-nya,..

“ Yawda kamu mau jalan sekarang ?? “ Ryan mengambil tas kerja-nya,..

Aku mengangguk, kami keluar bersamaan, bukan hal yang aneh bila ada anak perempuan yang menginap di tempat ini, malah 50% diantara paara penghuni adalah pasangan kumpul kebo,. Jelas mereka tak risih dengan keberadaan-ku di kamar Ryan,..

Ryan mengantar-ku sampai pintu mobil-ku,..

“ Ati-ati, dan tenang aja, toh dia itu masih Mamah-mu sendiri,.. “ Ingat Ryan,.

“ Iya , iya tenang aja ya,.. “ Aku tersenyum, berusaha untuk tegar dengan senyuman-ku sambil mulai memanas-kan mesin mobil-ku,..” Kamu berangkat sana, udah jam 9 loh,.. “

“ Ya, bareng aja, ya,.. “ Ryan masuk ke mobil-nya menyalakan mesin mobil-nya juga, aku menutup pintu, dan berjalan lebih dahulu diikuti mobil-nya,..sebelum berpisah di perempatan lampu merah,.

Pikiran-ku menerawang selama perjalanan pulang kerumah, beberapa meter dari pintu rumah aku berhenti, air mata-ku entah mengapa mulai mengalir, aku takut, aku takut untuk mendengar penjelasan Mamah nanti-nya, aku berulang kali memikirkan jawaban yang terbaik, jawaban yang bisa membuat apa yang dilakukan Mamah bisa dikatakan benar oleh-ku,..Namun aku tak bisa, aku kecewa aku kecewa karena dalam pikiran-ku keluarga-ku begitu sempurna,..

Aku melihat HP-ku, ada SMS dari Ryan, sekedar memberikan-ku semangat, dan menyuruh-ku menelepon-nya begitu aku selesai bicara dengan Mamah,..Aku membalas SMS-nya, sebelum kembali mengendarai mobil Civic-ku menuju pintu Rumah,..

Pak Ramses, satpam rumah-ku bergegas membuka-kan pintu setelah melihat mobil-ku di depan pagar, seperti biasa ia menyambut-ku, aku menanyakan pada-nya apa Mamah di rumah,.. Ia mengganguk mengiyakan-nya, sedang didapur katanya,..

Aku menaruh Tas-ku di kamar sebelum aku turun kebawah, Mamah sedang mengajari Bik Inem memasak, karena Bok Inah sakit dan pulang kampung,..

“ Mah,.. “ Aku membisik-nya dari belakang,..

“ Jenni, udah pulang sayang ?? “ Mamah memeluk-ku,..

“ Masih repot mah ?? “ Tanya-ku,..jantung-ku berdegup kencang..

“ Gak koq, kenapa sayang ?? “ menaruh sendok, sehabis mencicipi sup buatan-nya,..

“ Jenni mau cerita, Jenni tunggu di ruang kerja Papah ya Mah ??
” Yawda, nanti Mamah kesana sebentar lagi ya,.. “ Aku meninggalkan Mamah, aku berusaha sebisa mungkin bersikap seperti biasanya, aku tak mau Mamah sempat berfikir kalau aku melihat apa yang dia lakukan kemarin, dan membuat-nya bisa membuat berjuta alasan untuk membenarkan apa yang dilakukannya kemarin,..Aku hanya ingin jawaban jujur dari-nya,..kejujuran..

Aku masuk ke ruang kerja Papah, Foto keluarga kami dipajang tepat dibelakang meja kerja-nya,., di foto itu, Papah duduk ditengah sementara aku dan Mamah mengapit-nya, rasanya aku ingin mengulang hari-hari itu, hari-hari indah itu, atau apa sebenarnya semua hari-hari itu juga hanya sebuah kepalsuan ??

Aku duduk di kursi Papah, aku menaruh kepala-ku diatas meja, dengan lengan-ku yang kujadikan bantalan, entah apa aku sanggup mengatakannya, aku tak ingin kehilangan semua rasa sayang yang selama ini aku rasakan, rasa sayang yang diberikan keluarga ini satu sama lain,.. Ingin rasanya menangis sekarang, namun aku berusaha bertahan,…

Ruangan yang cukup besar, dengan Meja Kerja dari kayu kelas 1, berwarna Mahogany, sebuah ruangan yang didominasi warna putih Cream dengan warna kayu dibawahnya satu set sofa mewah berwarna terang ukuran 3-2-1 ditengah ruangan dan beberapa lampu berdiri di pojok-pojok ruangan meski tak kunyalakan, Mewah, megah, dan berkelas sebagai perlambang berapa kekayaan keluarga-ku, namun semua terasa hampa sekarang, perasaan-ku benar-benar kacau tak menentu, aku terus membenamkan wajah-ku,..

“ Jenni, kenapa sayang ?? Koq dimatiin begini lampunya ?? “ Mamah menyalakan lampu ruangan itu, lalu berjalan mendekati-ku..

Ia membelai rambut-ku seperti biasanya, penuh dengan rasa sayang dari-nya,.. Aku menguatkan diri untuk mulai bertanya,..

“ Mah,.. “ tertahan,.. “ Jenni mau Tanya,.. “ Wajah-ku masih kulipat kebawah,.. “
” Kenapa sayang ?? “ , “ Ada apa sich ?? “ masih membelai-ku,..

“ Mah,.. Kemarin sebenernya Mamah kemana ?? “ Tanya-ku

Mamah terdiam mendengar pertanyaan-ku,..Perlahan dia duduk di sofa ruang kerja Papah,..

“ Jenni, kenapa sich sayang ?? “ Mamah balik bertanya,..

“ Jawab aja Mah, jawab pertanyaan aku,.. “ aku mulai menangis,.

“ Ya, kayak biasa Jenni, seperti biasa… “

“ Seperti biasa ?? Seperti biasa pergi sama Peter anak-nya Tante Mirna, mencium dia, meluk dia ??!! “ Aku tak tahan lagi, aku berdiri menatap Mamah, sementara air mata-ku terus berurai,.. aku menangis dihadapan Mamah, yang matanya mulai berkaca, aku menunggu jawaban darinya,..

“ Jenni, banyak yang kamu gak tahu sayang,.. “ Mamah, memalingkan wajah-nya tak berani menatap-ku,..

“ Apa Mah, kasih tau Jenni, Jenni berhak tau kan Mah,… “ Mohon-ku, sambil menunduk di hadapan Mamah,..

Mamah mulai bercerita, aku nyaris tak percaya dengan semua yang dikatakan-nya, hati-ku hancur mendengar semua kenyataan ini, rasanya semua yang aku tahu itu tak pernah ada, air mata kami berdua bercucuran, entah aku tak ingin dipeluk Mamah, aku tak lagi yakin pada siapa aku harus percaya,.. aku benar-benar tak tahu harus melakukan apa sekarang,..

“ Ah, lagi pertemuan keluarga ya ?? “ Seseorang menyela pembicaraan kami,.. Aku berpaling kearah sumber suara itu,.. Jarwo dan Arno,.. dibelakangnya ada Pak Ramses yang duduk di kursi Papah yang tadi aku duduki,..

“ Hey !! Apa-apaan kalian disini !! keluar !!,.. “ bentak-ku,..

“ Non Jenni, non Jenni, kasian ya, gak tahu apa-apa.. “ Jarwo mendekati-ku, berdiri di hadapan-ku, kontan aku bergerak menghindari-nya

“ Apa-apan Jarwo,.. “ Aku membentak, aku mengangkat tangan-ku, hendak menampar-nya,. Namun kalah cepat dengan tangan-nya yang menangkap tangan-ku, mencengkram-nya erat-erat,..

“ Awww,.. Aku meringis kesakitan dalam cengkraman Jarwo,..

“ Mahh,… “ Aku memohon pertolongan, namun Mamah hanya bisa diam, sementara Arno sudah berdiri di belakangnya,.. Tangannya membelai rambut Mamah, sebelum turun menuju daerah Dada-nya,.. Aku tak percaya melihat Mamah yang seolah sama sekali tak memberikan perlawanan,..

“ Non Jenni, Non Jenni, Non tuch gak tau apa-apa,. Non gak pernah tau apa-apa tentang keluarga ini,.. “ Jarwo berbisik pada-ku,..

Tangan Arno menyelip di pakaian berwarna merah tua Mamah yang sedikit ketat. Aku dapat melihat tangan Arno bergerak-gerak di dalam-nya, mulai meremas-remas payudara Mamah yang masih terlihat begitu kencang dan indah, Arno menatap kearah-ku seperti menghina-ku, sementara ia terkekeh-kekeh, Mamah menutup matanya seperti menikmati bagaimana Arno mengerjai diri-nya,..

Arno menjilati wajah Mamah, seperti ia menjilati-ku dulu,.. Jijik sekali aku melihat-nya, namun yang lebih menyakitkan melihat Mamah yang seolah tak memberikan perlawanan sedikit-pun atas apa yang dilakukan oleh Arno,..

“ Iya kan Non, terus kenapa masih menghindar,.. “ Tangan Jarwo menangkap-ku dan langsung meremas payudara-ku,.” Ughhhh,.. “ Aku merintih kesakitan, Jarwo dengan penuh nafsu langsung melumat bibir-ku, aku berusaha menolak namun cengkraman tangan-nya terus meremas-remas payudara-ku,..

Aku terus berusaha melawan, aku menunggu reaksi Mamah, namun yang kulihat sungguh mengecewakan, tak ada sedikit-pun reaksi perlawanan dari Mamah, Jarwo yang seperti mengerti keinginan-ku kembali berbisik,.. “ Bener kan non, Non gak tahu apa-apa.. “

Jarwo menyosorkan bibirnya yang tebal itu pada-ku, sontak aku menolak apa yang dilakukannya itu, aku mendorong wajahnya yang seperti orang gila itu, aku memicingkan mata-ku pada Mamah, kali ini membuat Mamah terdiam,..

Ia berusaha tak mendesah namun masih juga tak menolak sedikit pun tangan Arno yang sudah mengangkat kaus yang dipakainya itu sampai sebatas atas dada-nya, cup bra-nya yang sudah dilucuti kebawah, memperlihatkan sepasang payudara-nya yang besar namun tak jatuh kebawah itu,.

Masih begitu keras dan kenyal di usianya yang 40 tahun itu, Arno sendiri tampak begitu menggilai mengerjai payudara Mamah, kami bertukar tatapan Mata, keadaan kami hampir serupa, Mamah tampak begitu pasrah dikerjai Arno, sedangkan aku berada dalam cengkraman Jarwo yang begitu liar menggerjai payudara-ku dengan remasan-remasan tak beraturan yang mulai menaikan birahi-ku,..

“ Mah,… “ Penuh dengan nada kemarahan,..

“ Kamu gak tau apa-apa Jenn,.. “ Mamah menjawab, namun mengalihkan pandangannya dari-ku,..

“ Aku gak tahu ?? Jadi selama ini cuma kebohongan,.. “
Mamah diam tak menjawab,..

“ Jawab Mah jawab,.. “ Aku memohon, Jarwo mulai berani menaikan pakaian-ku yang cukup ketat itu,.Perut-ku yang rata mulai tersibak, aku tak perduli dengan apa yang dilakukan oleh Jarwo,. Aku malah melucuti pakaian-ku sendiri seolah protes dengan apa yang dilakukan Mamah,..Aku ingin melihat reaksi Mamah melihat aku dikerjai oleh para pembantu-nya,.namun…

Mamah masih diam, yang keluar dari mulut-nya malah lenguhan-lenguhan yang membuat darah-ku kian mendidih, yang kulihat hanya-lah sebuah pemandangan yang benar-benar menjijikan, Nyonya Edward Kalina isteri seorang Milliuner di kota ini yang cukup terpandang di mata masyarakat, tampak begitu menikmati, dilecehkan, begitu pasrah membiarkan pembantunya memainkan lidahnya di payudara-nya,..

Darah-ku benar-benar terbakar, namun tak seberapa dibanding rasa kecewa yang kurasakan di dalam hati-ku, aku menjerit dan menangis dalam hati-ku, ingin rasanya marah, aku ingin keluar dari sini sekarang,..

Cukup sudah cukup, aku ingin selekasnya angkat kaki dari rumah ini, Papah,.. aku harus mencari Papah sekarang, hanya itu yang terlintas dalam benak-ku,.. aku mengambil baju-ku yang dengan bodoh tadi kulempar,. Aku menampik tangan Jarwo yang sedang meremas-remas payudara-ku dari balik Bra-ku yang belum sempat dilucuti-nya,..

Jarwo seolah protes denagn apa yang kulakukan, ia menatap-ku tajam, namun dalam kemarahan-ku aku tak perduli lagi dengan apa yang Jarwo lakukan pada-ku, atau apa yang akan mereka lakukan pada Mamah, melihat kemarahan di wajah-ku Jarwo terdiam, aku mengambil HP-ku di meja, tepat di depan sofa tempat Mamah sedang dikerjai oleh Arno,.

Aku diam seolah tak ingin menatapnya, aku melihat HP-ku, ada satu SMS dari Ryan, aku melangkah keluar, ingin segera menghubunginya,.. hanya dia tempat aku menumpahkan kekecewaan dihati-ku sekarang,.. meski aku masih berharap Mamah akan memanggil-ku dengan suara yang begitu hangat seperti biasanya, menjelaskan semua kebohongan ini pada-ku,..

Hanya tinggal tiga langkah lagi, aku berjalan membelakangi Mamah menuju pintu keluar ruangan itu, tak ada suara desahan Mamah lagi, tapi juga tak ada suara yang begitu hangat memanggil nama-ku,..Air mata-ku mengalir perih rasanya,..

Aku mengengam Hand Grip pintu, terdiam masih menunggu Mamah beberapa detik, namun masih juga diam seribu bahasa,,. Aku menutup Mata-ku sambil menarik HandGrip pintu itu, tertahan,..

Tangan kekar Pak Ramses menahan pintu itu hingga tak bisa kubuka, aku tak percaya kini Pak Ramses turut ikut dalam kekacauan ini,. padahal selama ini aku selalu berfikir hanya Pak Ramses dan Bok Inem pegawai yang bisa kupercaya dirumah ini..

“ Pak !!! “ Bentak-ku,. Masih dengan mata yang merah dan air mata bercucuran,..

Namun ia tak menjawab dengan kata-kata, ia mengambil ponsel-ku dari gengaman-ku, merebutnya, kemudian memeluk tubuh-ku dengan tangan-tangannya yang kekar,.. bukan-bukan pelukan namun seperti menggendongku kembali ke arena pertempuran,..

Aku memberontak dengan apa yang dilakukan-nya,.. aku memukul-mukul punggung Pak Ramses yang begitu kekar berotot,.. namun pukulan-ku seperti menabrak karang dan tak membuat Pak Ramses melepaskan diri-ku,..

Ia menjatuhkan tubuh-ku keatas sofa,. Aku menatap dengan penuh kemarahan pada Satpam rumah-ku itu,..

“ Diem Non Jenni !! “ Bentaknya,..

Aku terdiam, baru kali ini aku melihat ia begitu marah,..

“ Sekarang diam dan liat aja non,.. “

Pak Ramses duduk disamping-ku, aku memalingkan wajah-ku, tak ingin melihat Mamah yang sedang dikerjai oleh kedua pembantu-ku itu, aku menutup mata-ku, namun tangan kuat Pak Ramses memaksa-ku kembali melihat kearah Mamah, Jarwo dan Arno,..

“ Buka Mata-nya Non, “ Bentaknya lagi,..

Aku masih menutup mata-kurapat-rapat,.. hingga sebuah tamparan mendarat di pipi-ku,,..

Aku terpaksa membuka mata-ku, sepertinya posisi telah menjadi terbalik, siapa majikan dan pembantu di rumah ini,..

Mamah membalas ciuman Jarwo yang baru saja berdiri disebelahnya,.. perlahan Arno yang duduk disebelahnya melepas celana lusuh yang dipakainya, tangan Mamah langsung meremat penis itu, perlahan jemari tangan-nya bergerak mengocok penis itu, meremas-remas sambil sesekali memainkan buah pelirnya,..

Jijik aku melihatnya, namun pak Ramses memaksa-ku untuk menyaksikan semua ini, aku terdiam menyaksikan Jarwo mencumbu Mamah, memainkan payudara-nya,, meremas dan menarik-narik putingnya itu, sesekali bergetar merasakan rangsangan ditubuhnya, mulutnya pun tak pernah berhenti mendesah,..

Lidah Mamah dan Jarwo saling bertautan diluar mulut mereka, sementara tangannya tak pernah absen mengocok penis Jarwo,..

“ Gimana Non, hampir setiap hari kaya gini loh Non,.. sayang Non ketinggalan selama ini,..” Ramses membisik, aku benar-benar terkejut mendengarnya, jadi itu alasanya kenapa Mamah begitu terlihat ‘biasa’ melayani mereka,..

“ Saya juga sebenarnya udah sejak lama mau ngerasain Non,.. “ pak Ramses melanjutkan, kata-kata yang terdengar begitu memuakan di telinga-ku,.. “ pertama waktu liat non lagi ‘main’ sama pacar non yang dulu itu di ruang tamu,.. Bapak liat dari ruang kamera,.. sejak itu bapak sadar, non yang dulu segitu lucunya sudah matang sekarang, siap untuk dipetik he he he,.. “ Ingin rasanya muntah mendengar ucapannya, yang seolah sama sekali tak memiliki rasa malu, tapi aku pun sadar dari ucapannya,.. ternyata yang merekam dan memberikan rekaman itu pada Jarwo dan Arno adalah orang ini,..

Pak Ramses memeluk-ku, aku berusaha melawan, aku tak sudi dipeluk orang ini, namun aku kalah tenaga, perlahan ia memluk tubuh-ku, membekap tubuh-ku erat-erat ditambah lagi .Ia berusaha melumat bibir-ku,. Lagi-lagi ia berhasil melumat bibir-ku tanpa bisa kucegah, aku sudah berusaha memalingkan wajahku berulang-ulang, namun gagal, aku memejamkan mata-ku, kurasakan lidahnya yang masuk dalam mulut-ku sebelum menyedot lidah-ku, aku tak sudi membalas ciuman-nya, aku tak percaya semua orang dirumah ini seperti menghianati-ku, meski tak sesakit apa yang dilakukan Mamah, namun aku selalu merasa Pak Ramses adalah pegawai rumah ini yang paling bisa dipercaya,..

Namun tiba-tiba pak Ramses memberikan-ku waktu istirahat sejenak, ya sejenak untuk menyaksikan sebuah adegan yang benar-benar menjijikan,.. Mamah sudah berdiri polos tanpa sedikit pun benang di tubuh-nya, perlahan ia menurunkan tubuhnya, tangannya membimbing penis Arno agar tetap tegak sementara bibir vagina-nya bergerak kian mendekat, menelan penis Arno perlahan, Sedikit demi sedikit penis itu mulai tertelan masuk,..

Masuk membelah vagina Mamah, “ ughhh “ Mamah merintih tertahan, namun ia kembali menghujamkan tubuhnya ke penis itu, perlahan kembali penis itu tertelan lebih dalam,.. Matanya setengah terpejam, namun sama sekali tak melihat kearah-ku, ia seperti sama sekali tak memiliki rasa malu, bersetubuh dengan orang rendah seperti mereka di depan anak-nya sendiri,..

Hingga perlahan penis itu amblas seluruhnya dalam vagina Mamah, perlahan juga Mamah bergerak naik turun sambil meremas payudara-nya sendiri meremas-remasnya sambil terus menyetubuhi Arno,.. ia mendesah hebat, sama seperti Arno yang terus mendesah dan terlihat kewalahan dengan permainan Mamah..

Aku benar-benar tak percaya dengan yang kulihat sekarang Mamah yang sedang menghujamkan tubuhnya, naik turun menyetubuhi Arno yang berada dibawahnya sementara Jarwo dibelakang Mamah,. Menciumi majikannya itu dengan penuh nafsu, jemari Mamah pun aktif mengocok penis Jarwo yang sengaja disodorkan padanya,.

Mamah tampak begitu kegilaan, sesekali ia menelan penis Jarwo, sebelum kembali mengocoknya, tak hanya mengerjai penis Jarwo, ia pun tampak begitu bergairah mengoyangkan tubuhnya, sepanjang penis Arno dibawahnya,. Sama seperti Jarwo, Arno pun tampak begitu kegilaan meremas payudara Mamah yang masih begitu ranum mereka memilin-milin puting payudaranya, sesekali meremas kasar payudara itu..

Pemandangan yang merangsang sekaligus menjijikan,.. andai itu adalah seorang wanita yang tak aku kenal dan sedang bergoyang-goyang begitu erotis, mengoyangkan tubuhnya, menyetubuhi dua orang lelaki buruk rupa yang ada di dekatnya, meliuk-liuk begitu mempesona, suara desahan yang memenuhi ruangan itu,..

Mulutnya yang terus bergerak, entah mendesah-desah nikmat ataupun mengoral penis Jarwo yang berdiri disebelahnya, aku begitu takjub dengan apa yang dilakukan wanita itu, ia tampak begitu menguasai keadaan, menikmati dan mengendalikan kedua orang itu,. Penis yang dilumatnya, hingga tubuhnya yang terus bergerak, memuaskan kedua orang itu, dan dirinya sendiri..

Sepasang penis Jarwo dan Arno yang pernah membuatku begitu melayang-layang kini malah menjadi semacam objek pelampiasan nafsu Mamah, ia dapat membuat sepasang penis itu tak lebih dari mainan-nya untuk mencapai puncak kenikmatan-nya,..

Kagum, Andai saja orang yang sedang menaiki dua penis itu bukan Mamah-ku sendiri aku pasti begitu takjub melihat teknik yang digunakan-nya, penis Arno seolah tertelan begitu saja, sementara Mamah bergerak-gerak Erotis sesekali memutar yang membuat Arno mendesah-desah nikmat tak karuan, ia mendesis-desis tak karuan, sama halnya dengan Jarwo yang sedang mendesah tak karuan saat Mamah menggerakan mulutnya memutari penis Jarwo dengan lidahnya, Jarwo mendesah tak karuan,..

Suara-suara yang jelas membuat birahi-ku kembali naik,.. sementara Pak Ramses disebelah-ku hanya tersenyum-senyum kecil, tangannya mulai diangkat merabai tubuh-ku, terasa permukaan telapak tangannya yang begitu kasar itu mulai menapak naik, aku hanya diam tak melawan,

Pak Ramses melucuti pakaian-ku, aku tak berani melawan, perlahan ia menanggalkan t-shirt putih yang kukenakan, sebelum mulai melepaskan cup bra-ku, aku sempat menahan tangan-nya yang ingin mencabut bra-ku, aku memicingkan mata kearahnya, mata merah akibat tangisan-ku tadi, namun tak satpam itu tak memperdulikan-ku,..

Menggunakan kekuatannya yang jelas mengungguli-ku, ia melepas bar-ku, sepasang payudara-ku menggantung lepas, sementara jemarinya langsung meremasi kedua payudara-ku itu, aku berusaha melawan, namun tangan-tangan itu terus meremasi-ku, meremas sepasang payudara-ku dengan kasar,..

“ Ughhhh “ Aku melenguh-lenguh, menahan desahan yang kutahan, agar tak keluar dari mulut-ku,..Pak Ramses menarik tubuhku, menapak ke dadanya yang kekar, ia memainkan puting payudara-ku dengan jemari-jemari tangannya,..sesekali menekannya, atau menjepit dengan jempol dan jari telunjuknya,..

Aku merintih merasakan rangsangan tangannya di payudara-ku, aku berusaha untuk tak mendesah semampu-ku, namun usaha Ramses yang terus menjamahi payudra-ku itu membuat aku tak kuasa untuk tak mendesah, aku mendelesir merasakan rangsangan hebatnya di sekujur tubuh-ku, Pak Ramses berupaya mencium-ku, namun aku menolaknya, tak sudi aku mencium orang ini,..

Tak lagi hanya tangannya yang bekerja, kini kepala Pak Ramses menyelinap di antara ketiak-ku, lidahnya bermain di permukaan payudara-ku, aku merinding merasakan lidahnya yang tebal itu mulai menyapu kulit payudara-ku, mulai dari permukaaan payudara-nya hingga memainkan puting-ku mementalkannya kesana-kemari dengan lidahnya yang lebar,..

Aku mendelesir hebat merasakan sentuhan lidahnya di payudara-ku, namun belum seberapa dibanding saat tangannya mulia melepas kancing celana pendek yang kupakai, jemari tangannya menelusup masuk dalam celana-ku itu dan mulai masuk lebih dalam, melewati celana dalam-ku, dan terhenti tepat dimuka bibir vagina-ku,..

“ Ughhhmmmm.. “ Aku mendesah tak tertahan saat kurasakan jemari tangannya mulai menyentuh bibir agina-ku, jemari kasar dengan kuku yang sedikit tajam, aku mengigit bibir bawah-ku saat kurasakan jemarinya mulai menstimulasi permukaan vagina-ku itu,..

Jemarinya membelah bibir vagina-ku, sementara telunjuknya menyentuh clitoris-ku jemari itu terus merangsang-ku, aku berusaha bertahan agar tak larut dalam birahi-ku, sementara suara desahan Mamah terdengar masuk dalam telinga-ku, sebelum lidah Pak Ramses mengganti masuk dalam telinga-ku,..

Aku merinding hebat merasakan rangsangan-rangsangan yang diberikan Pak Ramses pada tubuh-ku ini, pikiran-ku mulai buyar,.. pilinan dan remasan di payudara-ku ditambah lagi sentuhan-sentuhan jemarinya di clitoris-ku, aku mengigil hebat merasakan sentuhan tangannya yang begitu dahsyat pada tubuh-ku ini,..

“ ughh, hmmm.. “ aku tak lagi bisa bertahan untuk tak mendesah,..aku menutup mata-ku,.. terasa bagaimana titik-titik sensitive ditubuh-ku sudah dikuasainya semua,.. aku terbawa oleh kenikmatan birahi yang diberikan oleh Pak Ramses, perlahan cairan cinta-ku mulai meleleh, aku ingin menolak, namun tubuh-ku mengatakan hal yang berbeda,..

Sentuhan-sentuhan ditubuh-ku terus membuat-ku melayang dalam gelombang birahi, aku menyerahkan tubuh-ku sepenuhnya,.. aku tak lagi punya keninginan untuk melawan, hal ini yang kadang membuta-ku benci pada diri-ku sendiri, yang begitu mudah menyerah dalam kenikmatan birahi semacam ini, namun ada sesuatu didalam diri-ku yang ingin menyalakan Mamah, seolah birahi-ku yang begitu besar adalah kesalahannya,..

“ Ughhhh, Pak… “ Aku mengigil merasakan rangsangan di tubuh-ku, seluruh bulu kuduk-ku merinding,.namun aku tercekat saat ponsel yang tadi direbut oleh Pak Ramses disodorkan pada-ku,.. dengan satu tangannya ia menyuruh-ku menjawab telepon itu,..

Aku melihat layar ponsel itu, Ryan,..

Aku menggeleng, tak mau mengangkat telepon itu, terlebih jemari Pak Ramses masih berada dalam vagina-ku,.. aku tak ingin Ryan tau apa yang terjadi disini saat ini,..

“ Angkat,.. !! “ Bentak Pak Ramses, “ Nanti dia kesini !! “

Iya, benar bila Ryan sampai kesini pasti semuanya akan lebih kacau lagi,.. aku memberanikan diri mengangkat telepon itu,..

“ Halo,.. “ Aku menjawab,.. sambil mengigit bibir bawah-ku, benar apa yang ada dalam benak-ku, jemari Pak ramses makin menggila di vagina-ku, Jarwo tertawa kecil melihat reaksi-ku yang berusaha tak mendesah, dalam rangsangan yang dilakukan oleh Pak Ramses,..

“ Kamu lagi apa ?? Koq aku telepon gak angkat-angkat,.. “ Balas Ryan

“ A..Aku masih dirumah Ry, Mama baru pulang, jadi aku baru mau mulai ngomong,.. “

Aku menutup speaker bicara ponsel-ku, aku tak tahan untuk tak mendesah kecil saat jemari Pak Ramses ditekannya masuk,..

Aku menatap layu kearah Pak Ramses,.. dibalasnya dengan tawa kecil tanpa suara, sementara jemari kian gencar keluar masuk dalam kemaluan-ku itu,..

“ Yawda nanti aku telepon lagi ya,..kamu tenang aja ya, sabar,.. “

“ Iya, nanti beres semuanya aku telepon,,.. “ aku berusaha bertindak sewajarnya, aku berusaha semampu-ku untuk tak mendesah..

“ Ngomong terus,.. “ Ancam Pak Ramses,..

Aku tertegun menatapnya, namun matanya penuh kemarahan, aku terpaksa mengikuti apa yang dia ingin-kan,..

“ Aku takut Ry,.. Mamah juga belum keluar dari kamarnya,.. “ Kali ini aku lebih lancar berbohong, Pak Ramses melepaskan jemarinya dari selangkangan-ku,..

“ Kamu sabar ya, gak usah terlalu takut ya,.. “

Namun Pak Ramses membuka celana-nya disebelah-ku aku terbelalak menyaksikan penisnya yang begitu besar dan berurat,..

Dia memegang kepala-ku,.

“ Iya, aku tau,..tapi aku musti gimana ?? “ Baru aku selesai berbicara, ia melesakan penisnya dalam mulut-ku, aku berusaha menolak, namun ia menahan kepala-ku,.. aku terpaksa menelan penis itu dalam mulut-ku,..

” Ya kamu dengerin aja, apa kata Mamah-mu ya,.. toh gak akan ada apa-apa, yang pasti aku akan selalu ada dibelakang kamu, gak akan terjadi apa-apa koq sayang,.. “ Ryan menjawab tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi,.. ia tak pernah tau, kalau aku sedang mengoral penis lelaki lain saat ini, dan juga dia tak pernah tau kalau Mamh-ku sedang dikerjai oleh dua orang pembantu-nya,..

Pak Ramses melepaskan penisnya, memberikan-ku kesempatan berbicara,..

“ Iya, doain aku ya yang,.. “ Aku berfikir cepat menjawab Ryan,..sementara kembali penis Pak Ramses menekan masuk dalam mulut-ku,..

“ Iya aku pasti doain kamu,.. kamu juga berdoa dulu ya biar semua baik-baik aja,. “

Pak Ramses kembali mencabut penisnya dari mulut-ku,..

“ Iya Ry, yawda ya,..doain aku ya,.. “ Aku menjawab tergesa tak bisa seperti ini terus,..

“ Iya aku pasti doain kamu,.. “

“ CU,.. “

“ Telepon aku begitu selesai ya,. “ Ryan mengingatkan,.

“ Iya,.. “ Aku menjawab cepat, sementara Penis Pak Ramses kembali masuk ke mulut-ku,..

Kumatikan telepon itu, menatap protes ke Pak Ramses,. Aku berusaha menolak penis-nya yang berdenyut di mulut-ku, aku menarik kepala-ku, namun ia menahannya,..Ia menjengut rambut-ku, sementara ia mulai menggoyangkan pinggulnya menyetubuhi mulut-ku..

Aku menatap kearah Mamah yang sedang dikerjai oleh Jarwo dan Arno,..Jarwo menggantikan Arno, penianya mulai ditekan masuk dalam tubuh Mamah, Mamah merintih merasakan penis Jarwo yang panjang itu mulai ditekankan masuk dalam tubuhnya, namun perlahan ia mulai menguasai keadaan, malah ikut menggerakan tubuhnya menghujam penis Jarwo,..

Perlahan sedikit demi sedikit aku pun ikut terbakar menyaksikan adegan persetubuhan itu, kulihat Mamah yang sedang melumat penis Arno dengan begitu lapar, menjejalkan penis-nya dalam mulutnya, menghisap penis itu sambil menggerakan kepalanya maju mundur sepanjang penisnya, tangannya ikut naik membantu mengocok penis Arno sambil terus menyetubuhi Jarwo, penis Jarwo sampai terlihat sedikit mengkilat terkena cairan dari vagina Mamah,..

Namun Pak Ramses sudah menyergap-ku sekarang, ia memeluk tubuh-ku, menciumi tubuh-ku, sambil melumat payudara-ku, mengigit kecil putingnya,. Aku menggelinjang merasakan sentuhan tubuhnya di tubuh-ku, aku mengigil-gigil kecil, aku mendesah beberapa kali,.. sementara jemarinya pun ikut merangsang-ku,.. jemarinya kembali bermain di vagina-ku, merangsang clitorisnya sambil memainkannya, satu jemarinya ditekan masuk yang membuat-ku mendesis tak tertahan, merasakan sebuah benda asing menekan masuk,.

Jemarinya bergerak membelah vagina-ku, perlahan mulai keluar masuk dalam vagina-ku, aku mulai bersandar di dada-nya, sementara jemarinya pun kian cepat keluar masuk,.. aku mendesah tak karuan merasakan rangsangan di vagina-ku itu, Sesekali Pak Ramses melumat bibir-ku, aku masihtak sudi menciumnya, kubiarkan lidahnya yang bermain-main di mulut-ku, namun tak sekalipun aku mau membalas ciumannya,..

Aku mendesis hebat, saat jemari kedua bergerak masuk, aku memekik tertahan, ketika kedua jemari itu bergerak tak karuan, sesekali melakukan gerakan memutar yang membuat-ku kian mengigil,.. gerakan jemari yang kian lama kian menggila itu membuat-ku terus mendesah tak karuan,.. perlahan gelombang-gelombang organsme kian menumpuk,..

Entah berapa lama ini berlangsung, yang dapat kupastikan hanya cairan cita-ku sudah mulai membasahi lapisan jok sofa dibawah-ku,.. aku membenamkan wajah-ku lebih dalam ke dada Pak Ramses, aku masih terus melenguh sampai akhirnya seluruh otot di tubuh-ku mulai mengerat,. Perlahan seluruh tubuh-ku bagai terjalari oleh perasaan ingin meledak, tubuh-ku menggelinjang-gelinjang hebat,.. nafas-ku yang memburu seirama dengan desahan-ku yang kian cepat hingga akhirnya aku mencapai organsme-ku yang pertama,..beberapa detik tubuh-ku bergetar diudara sebelum akhirnya ambruk kembali keatas sofa,..

“ Wihhh gila keluarnya,.. he he he “ Celetuk Pak Ramses

Aku menarik nafas panjang, aku tahu tak mungkin semua selesai sampai disini,..

Dan benar saja Pak Ramses bergerak kebawah-ku, perlahan ia menarik satu kaki-ku keatas,.. menempel di dada-nya, sementara ia mulai mengarahkan penisnya kearah vagina-ku,..ia langsung menyodokan penisnya yang begitubesar dalam vagina-ku, aku mendesis tertahan,. Perih dan masih sedikit ngilu,..

Aku menahan perut Pak Ramses,.. perut yang benar-benar kekar Berotot,. Memintanya perlahan memasukan penisnya dalam liang vagina-ku, tampaknya ia mengerti dan kemudian mulai kepala penisnya mendesak masuk, benar-benar terasa menekan, mendobrak masuk dalam liang kewanitaan-ku itu,

Namun apa yang terjadi sekarang, penisnya yang begitu besar sudah menggeletar di depan bibir kemaluan-ku, perlahan aku menggelinjang merasakan penisnya dengan dibimbing tangan kirinya mulai menekan masuk,.. Aku menutup mata-ku, perlahan kurasakan penis itu mulai mendesak masuk,..

“ Ughh Pak,.. “ Aku mendesah menahan rasa perih-perih nikmat yang sedang melanda diri-ku, sementara disana kudengar suara desahan Mama yang sedang dikerjai Jarwo dan Arno, aku tak perduli aku menutup mata-ku, aku tak ingin menoleh melihat-nya, AKU TAK PERDULI dengan apa yang terjadi pada Mamah lagi, hati-ku terlanjur sakit..

“ Gila sempit banget non,.. cowo non payah ya ?? “ Celetuknya,.. Panas kuping-ku mendengarnya,.. bukan cuma masalah ukuran-nya yang memang besar, tapi hati-ku pun jelas tak menginginkan persetubuhan ini sehingga membuat vagina-ku sedikit merapat, namun apa peduli Pak Ramses selain berusaha menekankan penisnya lebih dalam lagi,..

“ Ahhh Pak,.. awww,.. “ penisnya terasa begitu penuh dalam vagina-ku, perih aku meringis sakit namun ada kenikmatan yang bersembunyi dibalik rasa sakit itu,..” Enak non, jepitannya mantap,.. “ Ia membisik,

“ Wo, No,. Bu gila anak ibu ini, sempit banget, bisa denyut-denyut lagi kayak Mamahnya,.. “ Ramses berkoar,..

Aku menahan malu mendengar ucapannya,..

“ Mang turunan Ram, ibu sama anak sama-sama hotnya,.. Ughhh…. “ Jarwo mendesis saat penisnya kembali hilang ditelan mulut Mamah,..

Aku tak melihat lebih jauh, aku sudah begitu sibuk dengan penis Pak Ramses yang mulai bergerak dalam vagina-ku, kurasakan penis yang begitu besar itu perlahan bergerak, meninggalkan mulut rahim-ku, menuju bibir vagina-ku sebelum kembali ditekan masuk yang membuat-ku kembali mendesah hebat,..

“ Ughhh,.. “ Belum habis desahan-ku, sebuah hentakan kembali membuat-ku kembali mendesah hebat,.. lemas rasanya disetubuhi penis sebesar ini,.. kian lama, kian cepat juga Pak Ramses menyetubuhi-ku,.. penisnya bergerak kian cepat dibantu vagina-ku yang mulai basah,.. ia melumat payudara-ku satau menggerakan lidahnya menjilati wajah-ku,..

Tangannya pun tak mau berhenti, sesekali malahan bermain di clitoris-ku, yang membuatku kian mendesah tak karuan,..aku menutup mata-ku,.. sambil berusaha menahan jemari yang sedang menyetubuhi-ku dengan tangan-ku,namun aku tak berdaya melawan keinginannya, kian lama jemari itu bergerak kian cepat merangsang clitoris-ku itu, aku mengigil hebat merasakan rangsangannya yang benar-benar membuat-ku melayang-layang,..

Namun semua itu belum seberapa, hentakan penisnya yang kian lama kian cepat menyetubuhi-ku, kian bertambah cepat saat sepasang tangannya mencengkram bahu-ku,..hentakannya kian bertambah cepat dan kuat, aku memalingkan wajah-ku kekanan-kekiri terus berulang-ulang, pelampiasan kenikmatan berlebih yang kurasakan,

AKu benar-benar kesetan dibuatnya, penisnya melaju keluar masuk begitu cepat, sementara tubuh-ku terasa dirobek-robek oleh penis yang melaju tanpa sedikit rasa kasihan padaku yang terus menggeletar seperti ayam yang dipotong, tubuhku terus bergeletar-geletar hebat,..

Aku mendesah ketika aku tak kuasa mencegah organsme yang kurasakan, aku masih gemetaran saat kembali sebuah organsme lain melanda tubuh-ku, tubuh-ku menggelinjang tanpa henti,..selama beberapa menit punggung-ku naik ke udara merasakan organsme yang begitu dahsyat 3 kali aku mencapai klimaks dalam waktu yang berdekatan,.. aku langsung ambruk begitu badai organsme itu mereda,..

Tubuh-ku penuh keringat sementara penis dalam vagina-ku masih terasa begitu keras,.aku malas melihat wajah Pak Ramse yang sedang sibuk terkekeh menyaksikan ekspresi wajah-ku yang sedang dilanda kenikmatan tadi,.

“ Enak non ?? “ dia bertanya,.. aku diam tak menjawab sementara dia pun masih sibuk menggoyangkan pinggulnya menyetubuhi-ku,..

“ Ganti gaya ya Non,.. “ Ia menggangkat tubuh-ku, memposisikan-ku menungging,.. aku membenamkan wajahku ke pegangan tangan sofa, lemas akibat rangkaian Organsme barusan,..

Aku memejamkan mata-ku, penis Pak Ramses mulai ditekannya masuk, sementara dalam posisi Doggy ini, tangannya dapat mencengkram erat pinggul-ku, dan penisnya bisa tenggelam lebih dalam lagi dari posisi sebelumnya..aku tak punya banyak pilihan selain pasrah menerima penisnya yang mulai ditekannya masuk,..

Kugigit bibir bawah-ku, sambil memejam-kan mata-ku erat-erat, kurasakan bagaimana penisnya mulai menyeruak masuk, aku mendesis tertahan, penisnya mulai masuk lebih dalam, lebih dalam lagi dari sebelumnya, berulang kali ia mencabut dan menekan masukan penisnya dalam vagina-ku, bisa dibilang ini kedua kalinya penis Pak Ramses masuk dalam tubuh-ku, namun masih terasa begitu besar,..perih tapi juga nikmat rasanya,..

Hentakan-hentakan bertenaga hingga membuat penisnya terpaku lebih dalam lagi, aku menatap lirih merasakan penisnya yang masuk begitu dalam,.. kurasakan jemarinya yang berulang kali menampar bokong-ku hingga kemerahan, aku hanya diam menahan rasa sakit itu,.. sebelum melolong panjang, saat satu hentakan kuat membuat penis Pak ramses masuk seluruhnya dalam vagina-ku,..

“ Uhhhhh “ aku melolong hebat, merasakan denyutan penisnya yang masuk begitu dalam di vagina-ku,..ia diam sesaat seolah merasakan himpitan otot-otot vagina-ku yang kembali menjepit penisnya,..

Belum sempat aku melihat lebih banyak, Pak Ramses sudah mengoyangkan pinggulnya menghajar vagina-ku dengan penisnya yang menggeletar-geletar hebat,. Aku mendesah panjang saat penisnya itu mulai bergerak menyetubuhi-ku, aku memejamkan mata-ku merasakan penisnya yang keluar masuk dalam vagina-ku,.. lemas rasanya meraskan penisnya yang begitu cepat keluar masuk dalam vagina-ku, membuat-ku terus melolong-lolong merasakan penisnya yang mengobrak-abrik tubuh-ku,..

Aku meremas apa-pun yang bisa kuremas, sementara kian lama kian cepat juga Pak Ramses mengerjai-ku, dahsyat sekali, aku mendesah tak karuan, sementara keringat bercucuran dari wajah dan tubuh-ku, jemarinya tak hanya sesekali menampar bokong-ku, namun sesekali juga meremas-remas payudara-ku, meremas-remasnya dan menarik-narik putingnya,..

“ Oughh, ughhh, ahhh,.. “ desahan-ku tak pernah berhenti meluncur keluar dari mulut-ku,

“ Ya, terus begitu non,.. “ Tanpa sadar aku mengikuti irama persetubuhan Pak Ramses

Kian lama kian cepat ia memacu-ku penisnya tertambat kian dalam, kian kuat, kian bertenaga, aku melayang-layang tak karuan, sementara penis dalam vagina-ku mulai bergeletar-geletar kurasakan penis itu mulai berdenyut-denyut, hentakan penis Pak Ramses pun kian cepat membuat-ku kian belingsatan,..

Benar apa yang kuperkirakan, akhirnya beberapa saat kemudian mencabut penisnya,. Masih sambil mengocoknya di depan wajah-ku, ia meminta-ku membuka mulut lebar-lebar, penisnya disodokan masuk, persis sesaat sebelum memuntahkan spemanya dalam mulut-ku,.. sperma itu meleleh masuk dalam tenggorokan-ku tanpa bisa kucegah, hingga akhirnya penis itu mulai layu dalam mulut-ku,..

Aku masih berjuang menelan sperma yang terasa begitu menjijikan itu dalam mulut-ku, aku menelannya perlahan, sambil menahan rasa mual-ku,.. hingga akhirnya aku berhasil menelan semua sperma itu,.. aku langsung menjatuhkan tubuh-ku ke karpet dibawah, aku menelentangkan tubuh-ku sambil menarik nafas mengistirahat-kan tubuh-ku yang benar-benar kelelahan,.. sementara Pak Ramses berjalan kerah Mamah yang sedang sibuk menyelesaikan urusannya dengan Jarwo,..

Tak ada waktu istirahat, Masih lemas akibat diperkosa Pak Ramses tadi, kembali Jarwo dan Arno mendekati tubuh-ku,.. perlahan mengangkat tubuh-ku yang tadi tergeletak diatas karpet,. Mereka memaksa-ku setengah berdiri, sementara tubuh-ku condong menakan kepala bantalan punggung sofa,.. bokong-ku terangkat naik keatas,..

Arno yang kegirangan langsung mendekati-ku dan mengoyangkan penisnya yang sudah kembali keras sehabis menumpahkan muatannya pada Mamah tadi, aku mendelesir saat penis Arno bergoyang di bibir vagina-ku,..aku memejamkan mata, menunggu detik-detik penis Arno menekan masuk dalam vagina-ku,..

Aku menundukan kepala-ku, lemas.. aku dapat melihat penis Arno yang begitu keras itu mulai menekan masuk, aku menutup mata-ku lagi, kurasakan penis Arno yang mulai masuk , ditarik kembali, kembali masuk berulang-ulang sebelum akhirnya berhasil tenggelam dalam vagina-ku,.. tak sampai sedetik setelah penisnya berhasil kutelan,..

“ Ughhh, awwww,.. “ Ia telah membuat-ku mendesah-desah hebat,..bergerak cepat pinggulnya menyetubuhi-ku, sementara penisnya meluncur begitu cepat keluar masuk dalam vagina-ku,

“ Oughhh,.. hmmm.. “ Aku terus mendesah dibuatnya, sepasang kaki-ku terasa begitu lemas akibat serangkaian organsme yang kurasakan sejak tadi, tak hanya itu, tubuh-ku sudah terasa begitu pegal dan lelah, aku beruntung Jarwo masih duduk disebelah-ku, menatap-ku sambil tersenyum-senyum kecil, dengan penisnya yang masih setengah ereksi itu,..

Arno mengangkat kaki kiri-ku ke atas jok sofa, membuatnya lebih mudah menaruh kuda-kuda kaki-ku, membuatnya dapat kian cepat menggoyangkan penisnya keluar masuk dalam vagina-ku, mulut-ku terus menceracau tak jelas,.. aku memalingkan wajah-ku kearah Mamah, yang sedang berpelukan begitu mesra dengan Pak Ramses,..

“ Nah itu non, non mau tau kan yang bisa kita lakuin kalo non gak ada,.. “ Jarwo terkekeh seolah mengerti apa yang sedang kupikirkan,..

Kulihat Mamah yang sedang mencium Pak Ramses, lidah mereka yang bertemu diudara, saling berpagutan, sementara penis Pak Ramses sedang dikocok-kocok oleh Mamah, jijik sekali bagi-ku melihat pemandangan itu,..

Jemari Pak Ramses bermain dibibir vagina Mamah, Mamah mendesis desis hebat sambil memainkan penis Pak Ramses dalam gengamannya, aku tak membayangkan saat Mamah sengaja menyodorkan vagina-nya ke kepala penis Pak Ramses, perlahan ia menggerakn batang penis itu menyelisir di bibir vagina-nya,.. ia menggelinjang-gelinjang merasakan penis yang menekan di mulut vagina-nya itu…

“ Ughhhmmm “ aku melolong hebat, kurasakan penis Arno yang kian cepat menyetubuhi-ku,..aku mencengkram betis-ku sendiri sebagai pegangan tubuh-ku,.. kian lama aku kian menunduk, sementara penis Arno kian cepat keluar masuk dalam vagina-ku,..Sama seperti yang dilakukan Pak Ramses tadi, tiba-tiba Arno menarik rambut-ku, membuat wajah-ku menegadah keatas sementara ia seperti seorang Joki yang sedang memacu kudanya,..

Aku menahan payudara-ku yang terguncang sejak tadi, sesekali aku meremasnya sekedar pelampiasan kenikmatan yang aku rasakan, aku mengigil hebat merasakan persetubuhan yang begitu dahsyat sejak tadi,..

Jarwo tertawa melihat apa yang kulakukan, memendam rasa malu-ku pun memindahkan tangan-ku yang tadi meremas-remas payudara-ku sendiri ke tangan Arno yang kekar,.

“ Ughh, hmm.. “ Aku terus mendesah tak karuan,..

Cengkaraman-ku kian kuat di tangan Arno, kuku-kuku-ku yang panjang mungkin sedikit menggores lengannya, namun ia tak perduli dan terus menghujamkan penisnya dalam vagina-ku terus-terus, membuat ku kian tak tahan untuk menahan gejolak birahi yang menguasai tubuh-ku,..

Sebelum akhirnya tubuh-ku bergetar hebat, seluruh tulangku berderik sementara penis Arno keluar masuk kian cepat menyetubuhi-ku, aku meremas jok Sofa itu kuat-kuat, sebelum melolong hebat, saat aku mencapai klimaks untuk kesekian kalinya,..

Aku sampai terjatuh membenamkan wajah-ku kelelahan,.. nafas-ku tersengal-sengal, sementara Arno yang nampak belum puas mengerjaiku, kembali mengangkat tubuh-ku, membimbing-ku turun dari sofa, sementara ia berbaring diatas karpet dekat meja sofa itu,.. aku duduk diatas perutnya, sebelum ia membimbing selangkangan-ku kearah penisnya,..

Jemarinya menegakan penisnya, sementara tangan yang satunya menekan tubuh-ku turun, menelan penisnya dalam vagina-ku,.. masih ngilu akibat organsme yang tadi, namun mana mungkin mereka perduli dengan apa yang kurasakan, perlahan aku mulai menurunkan pinggulku,. Sementara penisnya mulai tertelan dalam vagina-ku menusuk masuk kian dalam, hingga aku dapat mendaratkan bokong-ku ke pahanya,..

Aku bertumpu di dadanya, sementara sepasang tangan Arno mencengkram perut-ku, mengatur gerakan tubuh-ku maju mundur, penisnya mulai bergerak-gerak dalam vagina-ku searah dengan gerakan pinggul-ku yang maju mundur menyetubuhi-nya, aku mendesah merasakan gerakan penis di dalam vagina-ku sana

Kugerakan jemari-ku kearah puting Arno, perlahan aku melingkar-lingkarkan jemari-ku sebentuk puting dada-nya itu, sementara selain gerakan tangannya yang memaju mundurkan pinggang-ku, kini ia turut menghentakan tubuhnya hingga penisnya bisa masuk lebih dalam dan lebih cepat dibanding hanya dengan gerakan tangan-nya tadi..

Jelas aku tak lagi bisa dalam posisi seperti tadi, kini aku harus bertumpu dada tanganya, setengah berjongkok untuk ikut menggerakan pinggul-ku naik turun, kian lama kian cepat sementara aku hanya bisa menutup mata-ku sambil mendesah panjang, sepanjang gerakan naik turun yang dilakukan oleh Arno,..

Aku memegang telapak tangannya, sementara aku kian aktif mengerakan tubuh-ku naik turun menyetubuhi Arno, sisa-sisa organsme yang membuat ngilu tubuh-ku tadi mulai tak terasa, yang terasa hanya tinggal rasa lelah saja,.aku memalingkan wajahku, menatap Mamah yang kini sedang dikerjai oleh Pak Ramses,..

Mamah mengangkat betis kananya tinggi-tinggi sementara Pak Ramses begitu bernafsu menyetubuhi Mamah dari belakang, penisnya bergerak begitu cepat, tangannya meremas di payudara Mamah, sementara keduanya berciuman dengan begitu bernafsu,.

Sesekali aku membenarkan rambut-ku yang tersibak kesana-kemari, aku mendesah tak karuan merasakan desakan penisnya yang begitu keras menekan masuk, aku menggelinjang-gelinjang hebat,berushaa menahan desakan organsme yang kian kurasakan..

“ Geser Non “ tiba-tiba Arno menghentikan pacuannya,..

Ia menunggingkan tubuh-ku, sebelum kembali menekan masuk penisnya dalam vagina-ku, aku memejamkan mata-ku, merasakan penis yang kembali ditekan masuk itu,..

Tangannya mencengkram pinggul-ku erat-erat, sementara Kakinya segaris dengan pinggul-ku hingga membuatnya sekilas seperti seekor gorilla yang sedang menyetubuhi pasangannya,…

Pacuannya begitu cepat, sementara tangannya seseklai berpindah dari pinggul-ku ke payudara-ku, aku menggelinjang hebat merasakan remasan-remasan di payudara-ku ditambah lagi penisnya yang bergerak begitu cepat keluar masuk dalam vagina-ku,..

Jarwo berdiri didepan-ku sekarang, dengan penisnya yang sudah mengacung tegak,. Aku menunggu sesaat, menunggu ia menyuruh-ku mengoral penisnya itu, aku tak mau terlihat begitu murahan dihadapan mereka,.. “ Ayo non,.. isepin,.. “ Kata yang sudah kutunggu,..

Kuraih batang kemaluan itu, sebelum kubimbing masuk dalam mulut-ku, kujilati kelapa penisnya dengan lidah-ku sambil kukocok-kocok dengan tangan-ku, kujilati seluruh peemukaan batang penisnya, sebelum kusedot kuat-kuat hingga lesung pipit-ku kian memalung,..

Aku mengoral penis Jarwo, sebagai pelampiasan desahan-ku yang begitu kencang, aku tak mau kelihatan begitu murahan yang mendesah begitu kencang disetubuhi oleh Pak Ramses disebelah sana,..

Hingga akhirnya penis Arno menggelater-geletar di dalam vagina-ku, penis itu bertambah keras sambil menggejang,.. Arno langsung menarik lepas penisnya sambil menarik kepala-ku dari penis Jarwo,..

” Setan lu No,.. “ Jarwo terkekeh,..

Sementara Arno mengocok-ngocok penisnya sendiri, sambil mendesah-desah tak karuan, aku membuka mulut-ku lebar-lebar bersiap menerima muntahan lahar Arno,..

“ Crett,.. Crettt Crettt… “ Beberapa kali tembakan sperma Arno menelan masuk dalam mulut-ku, aku berusaha menelan sperma itu perlahan, kutelan sedikit demi sedikit sebelum kembali aku harus menjalankan ritual, membersihkan penis Arno yang penuh dengan lelehan sperma bercampur cairan cintaku sendiri itu,..

Aku menarik nafas panjang berusaha mengistirahatkan diriku semaksimal mungkin, aku tahu sebentar lagi giliran Jarwo menggarap-ku,.. aku mengatur nafas-ku dan berusaha menetralisir rasa letih yang begitu melanda diri-ku,..

Benar saja, belum berkurangbanyak rasa lelah-ku saat Jarwo membaringkan tubuh-ku diatas karpet,..” Sekarang saya ya non,, he he, kangen ma jepitan non,.. “ wajah-ku merah mendengar hinaan itu,.. aku menatap Mamah yang sedang dalam posisi WOT sementara bergerak begitu erotis mencium dan membiarkan Pak Ramses menyusu di payudara-nya,..

Jarwo menarik betis-ku, membimbing perlahan penisnya masuk dalam vagina-ku, aku merintih merasakan penisnya yang tak berpa besar tapi panjang itu menekan masuk,. Menyentuh bagian yang tadi belum digarap, rasanya pedih namun juga membuat tubuh-ku panas dan gatal,.. aku tak perlu menunggu lama, menunggu Jarwo mulai menggerakan pinggul-nya menggarap-ku,..

Kedua betis-ku diangkat kepundaknya, posisi kesukaannya saat menyetubuhi-ku, sementara sepasang payudara-ku terguncang-guncang karena Jarwo menggarap-ku begitu kesetanan,.. gerakan-nya begitu cepat sambil terus menyetubuhi-ku, sesekali ia menghisap payudara-ku dan memainkan putingnya, membuat-ku tambah menggelinjang merasakan permainan lidahnya di payudara-ku,..

Aku hanya bisa melenguh-lenguh saja, kurasakan penis dalam vagina-ku itu kian lama kian cepat memacu-ku, gerakannya tak beraturan kadang cepat kadang perlahan, terkadang ditambah lagi sodokan-sodokan kuat seperti kebiasaanya yang membuat-ku kian tenggelam,..

Namun aku sudah begitu kelelahan,..aku mendesis menahan rasa nyaman, birahi yang mulai menumpuk kembali dalam benak-ku, aku yakin wajah-ku sudah kuyu, dengan keringat disekujur tubuh-ku, aku terus mendesah sementaraArno ikut-ikutan memainkan payudara-ku,..

Terus meremasnya seperti barang milik pribadinya sendiri, payudara-ku terus dimainkannya, sementara penis Jarwo masih terus memacu-ku, aku tersentak saat sebuah Organsme kembali menghajar-ku,..

“ Ughhhh,.. “ Aku mendesah dalam sela-sela tenggorokan-ku yang sudah kering, haus dan lelah, tubuh-ku serasa patah saat aku kembali bergetar-getar,.. pikiran-ku mulai kacau entah berapa lama berlalu, aku pun tak sadar sempat pingsan selama beberapa menit kelelahan, hingga akhirnya sperma Jarwo meleleh dalam vagina-ku, kurasakan semburan hangat spermanya dalam vagina-ku, aku mendesis tertahan, suara tawa dan ejekan-ejekan mereka tak lagi sanggup kudengar,.. desahan Mamah yang masih digarap oleh Pak Ramses mulai memudar, aku menutup mata-ku, tak lama hingga aku mulai tertidur..

Entah berapa lama waktu berlalu hingga akhirnya aku tersadar,namun masih ku-tutup mata-ku, menahan air mata yang mengalir, cahaya matahari senja mengintip dari balik tirai jendela ruang kerja Papah,.. Mamah pergi entah kemana, aku terbangun dengan sebuah surat pemintaan maaf dari-nya, entah ia pergi kemana, yang pasti Jarwo, Arno dan Ramses ikut lenyap dari rumah ini,..

Aku menghubungi Sari sekretaris Papah meminta dicarikan petunjuk sesuai yang Mamah katakan dalam suratnya, tak lama ia balik menghubungi-ku, aku hanya mengikuti saja petunjuk Mamah disuratnya untuk menghubungi Sari, beberapa kalimat dalam surat Mamah menyiratkan Papah telah berulang kali membohongi keluarga ini, SMS Sari menguatkan apa yang dituangkan Mamah melalui surat-nya,..

Papah berulang kali pergi ke satu kota yang sama, Surabaya 2-3 kali dalam satu bulan ini, padahal setahu-ku Papah tak pernah mengatakan pergi ke Surabaya beberapa bulan terakhir, ada apa ini sebenarnya,.. berbagai pikiran buruk kembali menghantui pikiran-ku, aku kian tak mengerti di dunia seperti apa sebenarnya aku hidup,..

Apa aku harus menyusul ?? Apa aku harus kembali ke kota tempat aku dibesarkan itu ??

Ponsel-ku berdering, Ryan…

Aku ragu mengangkat teleponnya, sudah berulang kali ia menelepon-ku sejak terakhir dia menelepon-ku tadi,.. kali ini aku benar-benar tak berani mengangkatnya,.. 23 SMS dikirimnya aku pun tak berani membalas,.. aku mendiamkan panggilan itu, aku tak berani bertemu dengannya sekarang, aku tak tahu apa reaksinya bila tahu siapa aku sebenarnya, aku,. aku bisa saja berbohong lagi padanya,,.

Tapi kalau aku terus membohongi,.. harus sampai kapan aku terus membohonginya,.. dan kalau aku mengatakan yang sebenarnya apa dia masih tetap melihat-ku seperti kemarin, dan hari-hari yang lalu ?? Aku takut kalau lagi-lagi harus kehilangan, bukan sekedar kehilangan apa yang aku sayangi saja, tapi juga kehilangan harga diri-ku di mata orang lain,.. aku takut,..

Aku berfikir beberapa saat, kubulatkan tekad-ku, aku ingin mengakhiri semuanya, apapun resiko terburuk yang mungkin akan kuterima, sekarang atau nanti sama saja, suatu saat pun aku harus menghadapinya,.. aku mengambil ponsel-ku, kucari nama Eliza di ponsel-ku, aku menarik nafas panjang sebelum menekan tombol call,..

Terhubung,..

Aku berbicara beberapa saat dengan-nya,..

Sebelum akhirnya aku bangkit berdiri, aku menuju kamar-ku,. membenahi pakaian-ku, setelah mengecek jadwal pemberangkatan pesawat menuju Surabaya, yang aku tahu./aku harus ke Surabaya sekarang, menyusul Papah, mencari kebenaran dari semua ini,…

._=+=_.

Next Chapter, the last episode of Jennifer

“THE TRUTH “

Ready for the first