DISCLAIMER :

Dalam cerita ini terkandung segala sesuatu yang berkaitan dengan hubungan seksual,
Penulis tidak bertanggung jawab akan apa yang terjadi setelah membaca cerita ini,. Dan juga tidak mau bertanggung jawab kalau ada apa-apa,.. orang cuma nulis doank masa mau ikut disalahin, ha ha ha

Cerita ini hanya Fiksi meski mungkin terjadi,..
Cerita ini Tidak realistis meski diusahakan serealistis mungkin,.. ( mudah-mudah-an suatu saat nanti bisa membuat cerita sekelas itu,. )

Cerita ini dibuat ramean ma anak-anak CBL, idenya mereka Cuma jadi tukang ketik aja,. Hehehe,. Semoga pada suka karya gado-gado ini,.. ( Kick Rasisme )
Regards
CHAD’s
—————————————–
Chapter 1 : Angel and Demon

” SAKIT !!! ” Pukulan itu bertubi-tubi menerpa wajah dan tubuh-ku, suara sorak sorai penonton yang begitu riuh, memadati Ruangan besar ini, lampu-lampu sorot yang menyala, menyorot kearah sebuah Ring Kotak yang berada tepat ditengah ruangan,.

Ring yang berisi, Aku , seorang wasit dengan Baju Biru-nya dan seorang Lelaki kulit putih berotot, dan terus bergerak maju,.. FootWork-nya begitu lincah meski kekuatan pukulan-nya tak seberapa,.. Pukulan demi pukulan-nya mendarat di tubuh-ku, aku berusaha menghindar dari sudut Ring itu,..

Aku menghindar ke kanan sambil sedikit mendorong tubuh-nya,. Namun Lelaki itu kembali mengejar-ku,. Ia terus memukul meski aku sesekali membalas memukul,.. Lagi-lagi ia menghindar dengan cerdik,.. Pukulan Straight kiri-ku kembali dihindari-nya,.. sementara pukulan-ku menerpa udara kosong,..

Baru aku mencari lelaki itu yang seolah menghilang dari sudut pandang-ku, yang sudah semakin kecil,.. sebuah pukulan kembali mendarat di wajah-ku, tepat di pipi kiri-ku.. Aku limbung setelah terkena pukulan itu,.. aku meraih Tali Ring sementara suara riuh penonton yang terlihat begitu bersemangat melihat seseorang limbung, Tak terdengar, tak terdengar lagi riuh suara yang dulu begitu mengelu-elukan nama-ku,..

Aku mencari, aku mencari sambil melepaskan pukulan-pukulan yang tak mengenai sasaran, aku mendapatkan-nya,. Aku melihat dengan pandangan-ku yang mulai kabur, seorang lelaki kulit putih yang mengenakan Boxer Biru itu kembali maju, aku melihat tulisan dicelana-nya,.. TEO …

####

” Pergi, pergi dari rumah sana !! ” , ” Cari makan-mu sendiri,.. ” Tendangan lelaki itu kembali mendarat ditubuh-ku yang sudah tertelungkup tak berdaya diatas lantai,. Aku menangis, aku berusaha bangkit namun baru setengah kaki-ku menopang tubuh-ku yang limbung menahan rasa sakit,. Sebuah pukulan-nya mendarat di perut-ku,..

” Ughhh,.. ” Aku kembali jatuh tertelungkup,. Aku menangis sejadinya menahan rasa sakit di tubuh-ku, aku mengigil menahan rasa sakit sebelum sebuah injakan kembali memberikan ku rasa peri yang tak tertahan-kan,..

” Dasar bajingan kecil “,.. Dia mencaci,..sementara kurasakan cudahan-nya di wajah-ku,.
” Hikzz , Hikzzzz ” Ia terus mencaci-ku dengan sumpah serapahan-nya, entah sejak kapan aku menjadi begitu benci dengan orang ini, benci, begitu benci membuat-ku bahkan ingin membunuh-nya,.. Aku benci orang ini,.. Pemabuk yang selalu memukuli aku dan Mamah, menghabiskan uang dan hanya bisa minum dan minum sampai berhutang di kedai-kedai daerah kumuh ini,..

” HIk, Hik,.. ” , ” Abis lagi,.. Cari duit bajingan kecil “
” Prang !! ” Ia melempar botol minuman keras yang sudah habis itu tak jauh dari-ku,. Aku sontak melindungi wajah dan mata-ku dari pecahan botol itu,.. untung pecahan botol itu tak sempat mengenai tubuh-ku,..

Aku berusaha bangkit berdiri, berusaha sedikit sambil berusaha menahan rasa sakit, memar yang kurasakan disekujur tubuh-ku, aku menghapus air mata-ku, aku melihat tubuh lelaki tua itu, lelaki yang sudah begitu menyengsarakan-ku, rambut beruban-nya, tubuh-nya yang hitam legam, tubuh yang tinggi besar dan perut yang membuncit karena alcohol,..

Aku melihatnya tertidur,.. bau alcohol dari mulut-nya begitu menyengat,. Menyengat menusuk hidung-ku, leher-nya menjulur sementara kepala-nya menegadah keatas bersender di jok kursi butut yang entah kami pungut dari mana,..

Entah dari mana niat jahat itu muncul, aku melihat pecahan kaca dari botol minuman keras yang tadi dilemparnya,.. sebuah pecahan besar yang terlihat begitu tajam, seolah langsung terbayang dalam pikiran-ku, lehernya yang berdarah oleh pecahan beling ditangan-ku,..

Aku meraih, aku memungut pecahan beling itu dari lantai,.. aku mendekat menghunuskan pecahan kaca itu hanya beberapa centi dari leher lelaki tua ini,.. aku menelan ludah-ku sementara dada-ku yang sakit oleh memar pukulan lelaki ini, ikut berdegub kencang,..

Aku menarik nafas panjang,.. satu tusukan dan semua selesai,. Aku menghunuskan beling itu, dekat begitu dekat dengan lehernya yang sesekali sesegukan karena alcohol,.. aku kembali menahan nafas panjang, menahan rasa takut yang menguasai diri-ku,..

Aku terdiam, aku melihat sepasang mata yang menatap kearah-ku, seolah menusuk langsung masuk dalam pikiran-ku.. Aku terdiam…

Kaca dalam gengaman-ku langsung kujatuh-kan,.. Aku berlari keluar menahan air mata-ku, aku takut, aku terus berlari,.. melewati puluhan gubuk pemukiman kumuh ini, bau sampah dimana-mana yang begitu menusuk, namun terasa biasa bagi-ku,..

Orang-orang yang sedang menghangatkan tubuhnya dengan selimut butut penuh lubang dan tambalan, berdiri mengelilingi sebuah Tong yang diisi dengan sampah-sampah, sedikit mengurangi rasa dingin yang begitu menusuk di pinggiran kota NewYork ini,..

Kelam-nya malam dengan orang-orang yang tak pernah peduli dengan sekelilingnya, seorang anak kecil berusia belasan tahunan yang berlari dengan sebuah baju lusuh berwarna biru yang sudah menjadi begitu coklat, celana panjang yang sudah tinggal selutut panjang dan sepasang Sepatu berlubang,.. dengan perut kosong yang begitu kelaparan, mereka tak perduli, karena mereka sama laparnya dengan-ku,..

Aku berlari melewati beberapa blok, sebelum menikung di sebuah gang kecil, aku masuk menyelesup, kesatu-satu-nya tempat yang masih mau perduli dengan keadaan-ku, tempat aku menangis, tempat aku merasakan sedikit kehangatan yang begitu jarang aku rasakan selama 14 tahun hidup-ku ini,..

Aku masuk melewati pintu belakang Tempat itu, sebuah Pub, sebuah Pub orang dewasa, sama begitu berbau alcohol seperti ‘rumah’-ku, aku mengendap masuk, karena pastinya mereka akan mengusir-ku bila mereka tahu ada seorang gembel di tempat ini,..

Aku melihat kekanan dan kiri-ku, sebelum aku membuka sebuah kamar di bagian pojok ruangan di lantai dua bangunan itu,..
” bibi Mery,.. ” Bisik-ku perlahan,..
Tak ada jawaban,.. ” bibi Mery,.. ” Panggil-ku lagi,..

” Hmmm, aughhhh,.. ” Hanya suara itu yang menyahut, aku tahu apa yang sedang terjadi sekarang, aku mengendap mengintip, dihadapan-ku ada seorang lelaki tua, mungkin berusia 50 tahun-an,.. rambut pirangnya yang sudah memutih dan begitu jarang, hingga membuat ubun-ubun kepalanya mengkilap,..

Aku bersembunyi ditempat biasa aku mengintip, disini juga tempat aku tahu, apa itu permainan orang dewasa,.. aku yakin benar tempat-ku bersembunyi ini sangat aman, sudah belasan kali aku mengintip dan tak ada yang pernah tahu ada sepasang mata lain yang ikut menyaksikan,..

Aku menarik nafas panjang menyaksikan Lelaki tua itu menghisap di payudara Kanan bibi Mary,..

Tangan-nya yang lain meremas payudara bibi Mary, tangan-nya memainkan puting payudara-nya itu,. Menariknya, memainkannya, sambil memilin-milin payudara-nya itu,..

Bibi Mary adalah seorang wanita berusia 30 tahunan, dia masih begitu cantik dengan rambut pirang panjang-nya, tubuhnya yang indah, dengan wajah teduh yang cantik membuatnya menjadi primadona di tempat ini,.. ya dia seorang Hosttess, Hosttess yang berhati sejernih malaikat, setidaknya seperti itu untuk-ku,.. Bukan hal yang aneh kalau anak seusia-ku sudah banyak tahu kehidupan seperti ini,..

Dimana aku hidup, sebuah daerah kumuh yang dekat dengan dunia-dunia malam, sedikit banyak, dan sebodoh-bodohnya aku, aku harus mulai belajar tentang kehidupan jauh lebih cepat dibanding anak-anaka yang tidur dengan selimut hangat, dan menggunakan Jaket tebal saat bepergian, ataupun sepatu boot yang hangat saat berjalan di antara tumpukan salju yang setinggi mata kaki-ku,..

Aku diam memperhatikan bagaimana Pria tua itu, mulai menggerakan Lidah-nya menyentuh seluruh permukaan payudara bibi Mary itu, perlahan lidahnya bermain membasahi permukaan payudaranya, lidahnya itu bergantian dengan kedua tangannya yang memainkan puting payudara bibi Mary..

Meremas perlahan, bersahutan dengan tangannya yang meremas-remas payudara itu, kudengar perlahan suara desahan bibi Mary. Tangan yang bergerak-erak meremas payudara itu sambil sesekali menarik puting payudaranya, sesekali terdengar suara desahan bibi Mary yang membuat si lelaki tua itu kian bersemangat mengerjainya, tangannya bergerak kian cepat, meremas menarik-narik payudara itu,..

Pria Tua ini mulai mencium bibi Mary, tanpa sedikit pun melawan bibi Mary menbalas ciuman itu, mencium-nya perlahan, aku tak dapat melihat jelas, yang pasti lidah mereka berpagutan liar diluar sana,..

Sementara sambil berpagutan, tangan lelaki itu mulai menyela diantara kedua betis bibi Mary, menuju selangkangannya yang ditumbuhi oleh bulu-bulu halus berwarna pirang, sama dengan warna rambutnya,.. Tubuh bibi Mary menggelinjang sesaat setelah merasakan sentuhan tangan Lelaki itu di tubuhnya,.. ia mengejang sementara ia memeluk lelaki tua itu,.. Ciuman lelaki tua itu memberondong leher bibi Mary, menyingkap rambut panjang pirangnya kesamping sambil terus menciumi dan menjilati leher itu,..

Jemari bibi Mary ikut bekerja, jemari-jemari itu menempel di dada Lelaki tua itu, dada yang menggantung seperti buah dada wanita, saking gendutnya, jemari perlahan memainkan puting di dada pria itu, kembali mencium Lelaki tua itu,..

Tak mau kalah, kuliah bagaimana tangan lelaki itu mulai bekerja lebih active dari sebelumnya, lengannya bergerak cepat, naik turun, seolah sedang bekerja merangsang kemaluan bibi Mary, yeah sedikit banyak aku mulai tahu yang namanya Seks diusia akli balik-ku sekarang, namun tak pernah sekalipun aku bernafsu melihat tubuh Indah bibi Mary, meski terkadang aku bernafsu ketika menyaksikan tubuh bugil Linda, tetangga samping rumah-ku yang jelek ( bila dibandingkan dengan Bibi Mary ) itu,..

Kulihat bagaimana Paha mulus bibi Mary bergerak-gerak, seiring dengan gerakan tangan Pria itu yang sedang merangsang bibi Mary, perlahan tangan itu bergerak makin cepat-makin cepat lagi, hingga bibi Mary mendesah,.. gerakan tangan Pria itu berubah, seolah sedang memasukan sesuatu dalam tubuh bibi Mary..

Seirama dengan gerakan tangan Lelaki itu, tubuh bibi Mary ikut bergoyang, bergetar-getar sementara desahannya kian sering terdengar,.. kulihat bibi Mary mulai memasukan tangannya di sela celana dalam Lelaki itu, menyibak turun celana dalamnya sehingga penis lelaki itu menyembul keluar,..

Perlahan tangannya mulai meremas dan memainkan penis itu, kulihat bagaimana bibi Mary menggerakan tangannya memijat batang kemaluannya yang sudah tegang berdiri,. Sementara tangan yang lainnya memainkan buah zakar penis itu,. Perlahan lelaki tua itu mulai mendesah-desah, sementara tangan bibi Mary bergerak kian cepat mengocok penis itu,..

Tangan lelaki itu juga mulai kembali bergerak setelah tadi sempat diam keenakan mungkin,. Perlahan tangannya bergerak kian cepat, kembali mendesak keluar masuk bibi Mary, aku tak dapat melihat dengan jelas dari posisi-ku bersembunyi ini, tapi yang pasti keduanya terlihat begitu bergairah,.

Keduanya berbisik-bisik, entah mengatakan apa,.. ingin tahu, tapi aku tak berani mendekat, apalagi hanya ini tempat yang paling aman di kamar sederhana hanya dengan sebuah kamar mandi, lemari , ranjang dan tumpukan barang-barang bekas ini,. Oh iya hanya ada satu buah cermin besar yang kini memantulkan adegan pergumulan bibi Mary dengan lelaki tua itu,..

Perlahan bibi Mary menundukan kepalanya, dengan tangan kanan yang menegakkan penis itu, perlahan ia mulai memasukan kepala penis itu dalam mulutnya, sedikit demi sedikit setelah sebelumnya menjilati kepala kemalua lelaki itu,.. batang penis yang sudah basah itu sedikit demi sedikit ditelannya,.. perlahan menelan penis itu masuk dalam mulut-nya,..
Setengah dari penis itu berada dalam kuluman bibi Mary, sementara tangan kanan-nya mengocok batang kemaluan itu,.. perlahan ia mengocok penis itu sementara masih mulutnya mengulum penis itu, mungkin menghisapnya kulihat bagaimana pipi Bibi Mary kembang kempis,..

Aku menelan ludah, menyaksikan ekspresi Lelaki itu yang seolah begitu menikmati bagaimana bibi Mary memainkan mulutnya membuat ia begitu melayang saat penisnya di service oleh bibi Mary,..

Lidahnya terkadang bermain di kepala penis lelaki itu, menghisap sebatas kepala penis-nya sementara tangannya bergerak begitu cepat mengocok penis lelaki itu, lelaki itu terus mendesah tak karuan, suara ceracauannya yang sedikit kasar dibalas dengan kuluman oleh bibi Mary,..

Tak mau kalah tangan lelaki tua itu ikut meremas payudara bibi Mary, remasannya kasar meninggalkan bekas merah di payudara bibi Mary, ya terlihat jelas meski dari temapt persembunyian-ku ini,.. sementara tiba-tiba pria tua itu mengejang dan melolong hebat,..

Aku tak mengerti apa yang terjadi,.. sementara bibi Mary kembali menaikan kepalanya,.. sejenis cairan putih yang terlihat cukup kental melumer dari penis itu,. Perlahan bibi Mary mulai menurunkan kepalanya setelah keduanya sempat tertawa-tawa sejenak, bibi Mary menggunakan lidahnya membersihkan penis itu, penis yang sudah mulai terkulai lemas tak sekeras tadi,. Aku tak pernah menyaksikan yang seperti ini sebelumnya,..

Setelah penis itu bersih, lelaki tua itu langsung menerkam bibi Mary, perlahan tangannya kembali menean masuk dalam selangkangan bibi Mary, perlahan tangannya bergerak masuk, menelingkup entah berapa jari yang menekan masuk, sementara ia begitu bernafsu mencium tengkuk bibi Mary,..

Menciumi dan sesekali melumat payudara bibi Mary, perlahan tangannya yang lain ikut membantu meremasi payudara itu, sementara bibi Mary tampak pasrah telelntang diatas kasur itu,. Perlahan tangan bibi Mary memainkan buah zakar lelaki tua itu,..

Tubuh bibi Mary terlihat sesekali menggelinjang seiringan dengan gerakan tangan lelaki tua itu, tak lagi memainkan buah zakarnya, bibi Mary mulai memeluk lelaki tua itu, sementara desahannya kian menggema, pinggulnya pun ikut bergerak-gerak tak karuan, pelukannya pun kian erat mendekap lelaki itu,..

Punggungnya terangkat-angkat, terlonjak-lonjak sementara desahannya kian cepat, bahkan seseklai terdengar suaran nafas panjang keduanya, hingga tiba-tiba tubuh bibi Mary bergetar hebat, dan iapun ikut melolong hebat,.. aku terperanjat menyaksikan bibi Mary menggelinjang seperti itu,..

Tangan bibi Mary menghentikan lelaki tua itu yang masih terlihat begitu terobsesi mengerjai bibi Mary,.. lelaki tua itu tersenyum dan melumat bibir bibi Mary,. Keduanya kembali berpagutan sementara jemari bibi Mary sudah kembali keselangkangan lelaki tua itu, peninya sudah kembali megar, mengeras…

Keduanya tampak kembali berbisik, sementara bibi Mary mulai merubah posisi tubuhnya,.. ia menungging membiarkan bokongnya teangkat keatas, sementara lelaki tua itu mulai merapikan rambut panjang bibi Mary, melumat bibirnya sebelum mulai mengarahkan penisnya itu dalam kemaluan bibi Mary,..

Perlahan, tak langsung dimasukan, dengan tangannya lelaki tua itu menggerakan penisnya bergerak-gerak di mulut kemaluan bibi Mary,. Perlahan sebelum akhirnya mulai menggoyangkan pinggulnya menekan masuk perlahan, sesekali ditariknya lagi, sebelum dibalas dengan sebuah hentakan yang lebih kuat dari sebelumnya,.. kudengar bibi Mary mendesah-desah setiap lelaki itu menggerakan pinggulnya membenamkan penisnya dalam kemaluan bibi Mary,,

Kian lama, kian cepat juga lelaki itu menggerakan pinggulnya, penisnya sesekali terliah begitu cepat keluar masuk dalam vagina bibi Mary, yan terlihat dari pantulan bayangan mereka di cermin sebelah ranjang itu,.. tangan lelaki itu sesekali menjambak rambut bibi Mary, khusus yang ini membuat darah-ku agak mendidih, aku mendengar desahan bibi Mary yang mungkin saja menahan rasa sakit karena jambakan lelaki itu,.

Penis Lelaki itu terlihat keluar masuk seiring dengan gerakan tubuhnya,.. pinggulnya bergerak cepat sambil mencengkram pinggul bibi Mary yang tertelungkup, dengan wajah yang terbenam dalam bantal-nya, kudengar desahan yang tertahan dari mulut bibi Mary,.. demikian juga suara desahan dari lelaki itu yang tampak begitu bernafsu membenamkan kemaluannya itu dalam vagina bibi Mary,..

Tangannya sesekali meremas-remas payudara bibi Mary yang menggantung, tangan itu meremasnya tanpa sedikit pun menggendurkan pacuan penisnya di dalam sana,..tangan yang meremas-remas sambil sesekali memilin-milit putingnya,.. masih menjambak rambut bibi Mary membuatnya ternegadah keatas, seolah mencari nafas, smeentara bibir bibi Mary buka tutup menceracau dalam desahan,..

Penis yang bergerak keluar masuk begitu cepat dalam vagian-nya membuat tubuh bibi Mary bergerak-gerak tak menentu, pinggulnya terus bergerak-gerak tak karuan, sepanjang penis yang masih menyentak masuk di dalam vagina-nya itu, penis itu kulihat seseklai tertelan begitu dalam, meski terkadang hanya setengahnya yang menusuk dalam..

Tubuh keduanya terlihat berpeluh begitu banyak, punggung lelaki tua itu yang basah oleh butir-butir keringatnya menetes turun, namun masih begitu bernafsu menggoyangkan penisnya keluar masuk, entah aku sudah mengintip berapa lama saat keduanya mulai bergerak, berganti posisi,..

Lelaki tua itu telentang diatas kasur, sementara bibi Mary naik diatasnya,.. mengangkangi terbalik lelaki itu, sementara ia mulai berjongkok dan membimbing penis itu di mulut vaginanya,.. perlahan ia mulai menurunkan pinggulnya, penis itu mulai menghilang dari pandangan-ku tertelan dalam vagina bibi Mary..

Beberapa kali ia menarik tubuhnya, sebelum kembali turun menelan penis itu lebih dalam lagi dalam vaginanya, lelaki tua itu mendesah demikian juga dengan bibi Mary saat penis itu tertelan lebih dalam lagi, hingga akhirnya amblas seluruhnya,.. bibi Mary mendiamkan sejenak penis itu dalam vagina-nya,.

Kaki bibi Mary bertumpu di samping pinggul lelaki itu, sementara tangannya menumpu di lutut-nya, perlahan ia mulai bergerak, menggerakan tubuhnya naik turun, yang membuat payudaranya terpental kesana-kemari, sementara tangan si lelaki itu menempel di bokong bibi Mary, membantu bibi Mary naik turun menggoyangkan tubuhnya,..

Tubuh bibi mary terus bergerak naik turun,. Penis itu timbul tenggelam didalamnya, suara desahan keduanya seolah saling bersahutan,. Tangan lelaki itu yang terus memainkan payudara bibi Mary, sementara bibi Mary pun menurut kantung zakar lelaki itu, kian lama kian cepat apalagi bibi mary berulang kali menggerakan pinggulnya memutar yang membuat lelaki itu melolong hebat, hingga akhirnya keduanya berhenti,..

Selesai ?? Bibi Mary turun daripelukan lelaki tua itu, perlahan ia turun di sebelah lelaki itu, berbaring sebelum memeluknya, sambil berpagutan keduanya berdiri dan berjalan menuju kamar mandi, keduanya membasuh tubuh masing-masing, bibi mary pun terlihat memandikan lelaki itu, menyabuni lelaki tua itu, sebelum menyabuni tubuhnya sendiri,

Di dalam kamar mandi dengan hanya sebuah tirai yang tak ditutup itu juga aku melihat bagaimana keduanya berciuman berpelukan, sebelum keduanya mulai melangkah keluar mengambil handuk yang digantung tadi, mengeringkan tubuh masing-masing dan kembali mengenakan pakaian-nya,..

Perlahan bibi Mary mengantar lelaki tua itu kearah pintu keluar, kembali keduanya berpagutan sebelum lelaki itu menyelipkan beberapa dolar kedalam bra yang dikenakan bibi Mary, bibi Mary hanya tersenyum membalasnya, sebelum menutup pintu itu,..

” John,.. Keluar,.. kamu ngintip ya tadi,.. ” Ucap bibi Mary setelah menutup pintu kamar-nya,..
Aku binggung dan kaget mendengarnya, aku tak tahu harus bagaimana, keluar dan berterus terang ??

” John,.. ” Panggil-nya lagi, suara itu tak terdengar sedang marah,..
” Bibi Mary,.. ” Jawab-ku sambil keluar dari tempat persembunyian-ku,.

” John,… Pasti Tua Bangka itu memukuli-mu lagi ya ?? ” Bibi Mary seolah lupa dengan kenakalan-ku, ia langsung memeluk-ku sambil mengusap rambut-ku,.. Ia hanya sedikit lebih pendek dari-ku,. Ia memeluk-ku erat sambil memeriksa luka memar disekujur tubuh-ku,..

” John, kasihan,.. perut-mu pasti lapar,.. ” , ” Biar-biar sebentar bibi ambilkan makanan buat kamu,.. ” Ia langsung keluar dan mengunci pintu dari luar, tentu ia khawatir bila ketahuan menyembunyikan ku disini,..

Aku berkaca di sebuah Kaca yang sengaja dipasang di sudut kamar tidur itu,.. Aku melihat tubuh-ku,.. wajah-ku,..

John Smith,.. hanya seorang anak berusia tanggung, kulit-ku tak hitam, juga tidak putih dan itulah sumber segala penderitaan-ku,.. aku bukan negro, tapi juga bukan orang kulit putih, dianggap rendah di Harlem kumuh tempat tinggal-ku, sementara tak juga diterima dikawasan kulit putih kumuh, aku hanya diangga barang gagal dari hubungan terlarang dua manusia rendah, dan itu sakit dan begitu perih, tatapan mata yang begitu merendah kan-ku, seolah tak memperdulikan kalau aku ini juga MANUSIA.,.

Tubuh-ku tegap namun tak berapa tinggi, terkadang aku ditakuti meski aku tak ingin seperti itu, kurasa aku juga cukup kuat, mungkin karena siksaan seseorang yang terus kurasakan setiap hari-nya,.. ya siksaan dari pemabuk yang aku sebut Papah,..

” John, ayo makan dulu,.. ” Bibi Mary membuka pintu sambil memberikan dua poting Roti Kering yang mulai keras dengan sebuah Sup Krim,..Hanya bibi mary yang masih begitu baik pada diri-ku yang barang gagal ini,..

” Thanx bibi Mary,.. ” Aku mengigit roti itu, rasanya menjadi begitu lembek,.. sementara sup krim hangat itu menjadi begitu nikmat, rasa-nya begitu enak, mengisi perut-ku yang sudah begitu lapar-nya,..

” Pelan makan-nya John,.. ” Pinta-nya melihat-ku yang makan begitu kesetan-an,..
Aku tersenyum membalas, sambil melanjut-kan makan-ku,..

” Sakit John,.. ?? ” Tanya-nya melihat luka ditubuh-ku yang bertambah setiap hari-nya,. Belum sembuh luka yang lama, luka yang baru sudah kembali muncul di sekujur tubuh-ku,..

Aku hanya mengganguk, menjawab,.. aku menggigit sekerat roti lagi, sambil menyendok sup-ku,.. matanya begitu kasih, begitu hangat menatap-ku, terkadang aku ingat bagaimana Bibi Mary menemukan-ku,.. menemukan-ku saat masih seorang bocah berusia 7 tahun,.. ya 5 tahun yang lalu, musim semi saat itu,.. aku terkapar di jalanan tak jauh dari rumah-ku,. Saat seorang Bibi berlinang air mata, menolong-ku, menggendong-ku membersihkan luka-ku dan memberikan-ku secangkir susu coklat hangat,..

Sejak saat itu John Smith ini merasakan yang namanya kasih sayang, yang sebelumnya tak pernah ia rasa-kan,.. hari-hari-ku kemudian selalu bersama bibi Mary,.. bibi Mary yang memberikan-ku makan malam, atau bisa juga dibilang makanan ku hari ini, dan sesekali juga memberikan-ku uang saku,.. hanya beberapa sen, tapi itu uang yang begitu berharga bagi-ku,..

Atau juga ulang tahun-ku, aku masih ingat kado yang diberikannya pada-ku,.. sebuah syal hangat yang masih kusimpan sampai saat ini,.. sejak hari itu aku tak pernah memakai uang pemberian-nya, aku ingin membalas kebaikan-nya, kusimpan Sen demi Sen uang yang diberikannya itu, hingga aku bisa memberikan-nya sebuah kado ulang tahun untuk-nya,.. sebuah pin rambut, harga-nya mahal, setidak-nya untuk ukuran-ku,.. 1,8 $, dan ia terus memakai-nya, pin rambut itu terus berada disela rambut-nya, seperti juga hari ini,..

Pin sederhana dengan sebuah hiasan permata imitasi,..

Aku mengangkat mangkuk sup itu dan meneguk habis sup yang tersisa didalam-nya,..
” Masih lapar John ?? ” Tanya bibi Mary,.. aku menggeleng meski perut ini masih terasa lapar,..aku tahu makanan ditempat ini dijatah, mengisi perut-ku lagi sama saja membiarkan perut bibi Mary kosong malam ini,..

” Thanx bi Mary,.. ” Aku tersenyum menatap-nya,. Entah sejak kapan ada kerutan sudut mata-nya,..
” It’s okay John,.. Pasti sakit ya,.. ” Bibi Mary memeluk-ku lagi, sama seperti yang biasa dilakukannya memeriksa luka-luka-ku,..
” Ga koq bibi Mary, aku sudah terbiasa,.. ” Aku menjawab, tentu dengan aksen yang kasar karena aku tak pernah mengenal bangku sekolah, satu-satunya yang kutahu hanya menulis nama-ku sendiri,.. John Smith,.. hanya itu,..

” Mary,… ” seseorang mengetuk pintu kamar
” Kamu ada tamu lagi,.. ” Lanjut suara itu lagi, suara yang terdengar parau dari Mr. Carsson pemilik tempat ini,..

” Okay,.. ” Jawab bibi Mary,..
” John,.. ” Ia menatap-ku, aku mengerti,.. aku harus keluar sekarang, aku mengendap keluar lewat pintu belakang yang tadi aku lewati untuk masuk kamar bibi Mary,..
” John,.. ” Bibi Mary memberikan-ku uang 1 $, sambil tersenyum pada-ku,..
” Sampai besok bibi Mary, ” Bisik-ku perlahan, sementara bibi Mary tersenyum hangat menatap-ku,.. ia membenarkan pakaian minim yang dikenakannya, yang memperlihatkan dengan begitu jelas lekuk tubuhnya yang indah,..

Bibi Mary membuka pintu kamar-nya begitu juga dengan-ku, seperti ini lah cara kami mengelabui Mr Carsson,.. sehingga dia tak pernah sadar ada seorang penyelusup ditempatnya,..

Aku kembali mengendap, menuruni tangga sebelum akhirnya kembali keluar menyambut dinginnya malam kota NewYork yang menusuk tulang,.. perlahan aku berjalan, sedikit demi sedikit menapak di jalan yang tadi kulalui,.. rasanya begitu dingin, sementara orang-orang yang mengumpul mengelilingi tong berisi sampah yang dibakar, sekedar menghangatkan tubuh mereka kian banyak,..

Aku berjalan perlahan melewati kumpulan orang-orang itu, hingga akhirnya aku berdiri di depan pintu rumah-ku, sebuah pintu kayu lapuk dengan dinding-dinding seng yang sedikit berlubang,.. perlahan aku menarik nafas panjang, ada rasa takut kalau si pemabuk tadi masih terjaga,.. aku tak ingin menerima pukulan-pukulannya lagi,..

Perlahan aku mendorong pintu rumah-ku,..