(Episode 10)
TERJEBAKNYA SANG TUNANGAN

Waktu saat itu sekitaran pukul sembilan pagi, Sancaka telah sampai dirumah dimana dia pernah tiga hari berkubang keringat dan kenikmatan bersama selir-selir Tuan Frantzheof de Van Pierre.
Akan tetapi pemuda itu mendapati rumah itu sangat sepi dan pintu besi besar yang merupakan gerbang rumah itu terkunci rapat, entah sudah berapa kali pemuda itu menggedor-gedor pintu itu dengan keras, akan tetapi belum ada tanda-tanda ada orang yang muncul dari rumah itu.

Setelah beberapa lama pemuda itu tanpa bosan terus menggedor, pintu depan rumah itu terkuak, disana muncul kepala si mbok tua yang dulu menyambut Sancaka, melihat ada seseorang berdiri di gerbang, simbok pun melangkah ke arah pintu gerbang itu.

“Oh kiranya Tuan Muda … Rumah sedang sepi tidak ada orang Tuan”, ujar si mbok sopan, setelah mengetahui bahwa yang dari tadi menggedor pintu gerbang adalah Sancaka.

“Boleh saya masuk mbok?”, tanya Sancaka tak sabar.

“Waduh … Saya Nggak ditinggalin kunci gimana mau mbukain gerbangnya”, kata si Mbok itu bingung, “Tuan Muda datang saja lagi nanti malam …. Mereka pasti sudah pulang semua”, lanjutnya lagi.

Sancaka tercenung sejenak, “Nggak apa-apa mbok … Apa tadi pagi-pagi ada seorang gadis bernama Gayatri yang datang kesini?”, tanya Sancaka, pemuda itu ingin memastikan bahwa benar rumah ini yang dimaksud Gayatri.

“Iya .. Benar Tuan … Tadi pagi-pagi memang ada seorang gadis yang datang kemari … katanya dia mencari Non Tantri …. Tapi karena Non Tantri belum pulang sejak kemarin dan Non Yuni agaknya mengenal gadis itu maka gadis itu diajak ke dalam oleh Non Yuni … Non Yuni, Non Wulan, Non Diah, Non Ratna dan Non Sari termasuk gadis itu semuanya pergi bersama-sama tadi … saya tidak tahu kemana mereka pergi”, jawaban si mbok membenarkan dugaan Sancaka bahwa memang rumah inilah yang dimaksudkan oleh Gayatri.

“Ya sudah mbok … Nanti malam saja saya datang lagi”, sahut Sancaka.

Kemudian Sancaka langsung berjalan meninggalkan rumah itu, pemuda itu tidak mengetahui bahwa dari balik tirai jendela di lantai dua rumah itu ada enam pasang mata yang mengawasinya sejak tadi.

****

Keenam pasang mata tentunya berarti ada enam orang yang mengawasi Sancaka dari kamar dilantai atas rumah itu, dan keenam orang itu adalah Yuni, Wulan, Diah, Ratna dan Sari serta Gayatri, keenam gadis itu tertawa-tawa geli melihat Sancaka terus-menerus menggedor-gedor pintu gerbang depan.

“Kamu tidak kasihan dengan tunanganmu itu Gayatri? … Benar-benar tidak mau turun menemui dia?” goda Yuni kearah Gayatri.
“Aku tidak sudi bicara lagi dengannya!”, balas Gayatri sengit.
Sengitnya balasan gadis itu membuat kelima gadis lainnya semakin gencar menggoda gadis itu.

Akhirnya Yuni memerintahkan si mbok untuk menemui tamu di pagar depan dan diwanti-wanti untuk tidak mengijinkan orang itu masuk, si mbok hanya diperintahkan untuk mengatakan bahwa mereka semua sedang pergi dan malam nanti baru pulang kerumah.

Ada senyum puas tersungging dibibir Gayatri melihat pemuda itu terlihat pergi meninggalkan pintu gerbang itu dengan langkah lesu dan kepala tertunduk.

****

Keenam gadis itu dan seluruh penghuni lain di rumah besar itu tak ada yang mengetahui kalau dini hari tadi diruang bawah tanah dari rumah besar itu tampak Tuan Frantzheof de Van Pierre menuruni tangga kebawah sambil membopong tubuh seorang wanita cantik yang terkulai lemas dan tampak pucat membiru.
Kemudian Tuan Frantzheof de Van Pierre membaringkan tubuh wanita itu ke atas pembaringan besi setinggi pinggang yang berada ditengah ruang bawah tanah itu, pembaringan yang sepintas sangat mirip dengan meja operasi di rumah sakit.
Setelah Tuan Frantzheof de Van Pierre menyalakan penerangan di ruang bawah tanah itu ternyata wanita cantik yang nyaris telanjang itu adalah Tantri.

Tuan Frantzheof de Van Pierre segera mencabut lepas dua buah pasak besi yang tertanam di jantung dan kening wanita itu.
Sambil mendengus marah Tuan Frantzheof de Van Pierre meremas patah kedua pasak itu.
Kemudian Tuan Frantzheof de Van Pierre meraih sebuah belati yang sejak tadi tergeletak dibagian atas pembaringan itu dan mencongkel keluar beberapa pecahan granat yang sempat mampir di tubuh perempuan itu.
Dengan muka sedih Tuan Frantzheof de Van Pierre tampak mulai membelai dan menciumi kening Tantri, tangan kirinya kemudian menggenggam mata belati itu dan dengan sekali sentakan Tuan Frantzheof de Van Pierre melukai dan membelah telapak tangan kirinya sendiri.

Darah yang mulai mengalir keluar dari telapak tangan kirinya itu mulai diteteskannya kedalam lubang luka akibat pasak besi di bagian jantung Tantri.
Setelah beberapa saat jantung Tantri mulai bereaksi menerima asupan darah Tuan Frantzheof de Van Pierre, perlahan tubuh Tantri mulai meregenerasi semua bagian tubuhnya yang tadinya terluka.
Melihat luka-luka di tubuh gadis itu mulai menutup dan berangsur pulih, Tuan Frantzheof de Van Pierre menghentikan asupan darahnya, dengan cepat bekas luka ditelapak tangan kiri londo itu segera pulih tanpa meninggalkan bekas, setelah membelai rambut Tantri diapun beranjak keluar dari ruang bawah tanah itu.

Setengah jam kemudian tampak Tuan Frantzheof de Van Pierre kembali masuk ke ruang bawah tanah itu, hanya saja kini tampak londo itu menggandeng tangan seorang gadis.
Seorang gadis berkulit kuning langsat dan tampaknya masih cukup belia, yang mengikuti langkah-langkah Tuan Frantzheof de Van Pierre dengan perlahan selangkah-selangkah karena kedua matanya tampak tertutup kain hitam.

Gadis itu diculik dari kamarnya setelah dengan kekuatan hipnotisnya Tuan Frantzheof de Van Pierre membuat gadis itu seakan lupa diri dan menjadi begitu penurut, melarikan gadis itu tanpa sepengetahuan keluarganya bukanlah hal yang sulit bagi Tuan Frantzheof de Van Pierre.

Gadis itu adalah Seorang gadis yang baru dua hari lalu melangsungkan pernikahannya, yang ketika berada di kursi pelaminan waktu itu kecantikannya sempat menarik perhatian Tuan Frantzheof de Van Pierre yang kebetulan lewat.
Dan karena tempat tinggal gadis itu cukup dekat maka dengan cepat Tuan Frantzheof de Van Pierre menetapkan gadis itu menjadi sasarannya, dia butuh korban secepatnya untuk pemulihan Tantri.

Tuan Frantzheof de Van Pierre membimbing gadis yang dibawanya hingga tersandar di pembaringan dimana Tantri yang kini telah pulih luka-lukanya itu tampak terbaring lemas.
Tantri yang masih tampak pucat hanya tersenyum sambil mengawasi semua perbuatan Tuan Frantzheof de Van Pierre.
Setelah tersenyum sekilas kearah Tantri, Tuan Frantzheof de Van Pierre mulai menanggalkan satu persatu pakaian yang dikenakan gadis yang agaknya baru berusia delapan belasan itu, kemudian Tuan Frantzheof de Van Pierre pun mulai menanggalkan pakaiannya sambi mengamati tubuh indah gadis yang kini berdiri telanjang dihadapannya.
Tuan Frantzheof de Van Pierre melangkah mendekat menghampiri gadis itu, diangkatnya dan didudukkannya gadis itu di pinggir pembaringan, dengan perlahan dibukanya kedua paha gadis itu, tampak bagian kemaluan gadis itu hanya tertutup bulu tipis, benar-benar daun muda yang masih segar, Tuan Frantzheof de Van Pierre mulai mengelus dan meremas buah dada gadis itu, ketika melihat bahwa gadis itu mulai terangsang dan mendesah lirih diapun langsung membungkuk dan mengecup dan menjiliati puting susu sebelah kiri sementara tangan masih terus meremas buah dada sebelah kanan gadis itu.

Ketika gadis itu mulai merintih, Tuan Frantzheof de Van Pierre mulai meningkatkan serangannya, dibaringkannya tubuh gadis itu, dan kembali londo itu mengecup dan menjilati puting susu gadis itu bergantian sambil tangannya menggenggam batang kemaluannya dan digesek-gesekkan ke belahan vagina gadis itu.

Tantri segera merengkuh kepala gadis yang kini terbaring menindih tubuhnya itu, gadis itu segera membalas lumatan bibir Tantri, tak mengetahui kalau yang melumat bibirnya adalah seorang perempuan.

Setelah merasakan liang vagina gadis itu sudah basah terangsang, Tuan Frantzheof de Van Pierre dengan tiba-tiba menghentakkan pinggulnya, kemaluannya dengan kuat dan cepat menusuk kedalam liang vagina gadis itu.
Gadis itu tersentak mengejang, pahanya menjepit pinggul Tuan Frantzheof de Van Pierre dengan kuat, akan tetapi jeritannya tak keluar karena lumatan bibir Tantri dengan ketat membekap mulut gadis itu.
Air mata gadis itu tampak mengalir ke pipinya, kemaluannya terasa sakit.
Liang vaginanya yang baru dua hari mengenal seks itu kini harus menerima sodokan batang penis Tuan Frantzheof de Van Pierre yang lumayan besar.
Ditambah lagi dua hari ini vaginanya baru tiga kali dimasuki oleh batang penis bandot tua suaminya yang berukuran kecil, itupun hanya sebentar.
Bandot tua itu hanya mengejar kepuasannya sendiri, seorang bandot tua yang doyan kawin yang memuaskan para istri-istrinya hanya dengan gelimang kekayaan bukan dengan kenikmatan dari kejantanannya.

Tuan Frantzheof de Van Pierre mendiamkan dan menahan gerakannya sebentar, dan setelah jepitan paha gadis itu dipinggulnya mulai mengendur, Tuan Frantzheof de Van Pierre mulai menggerakkan pinggulnya dengan perlahan.
Sampai beberapa kali sodokan kemaluan Tuan Frantzheof de Van Pierre masih diikuti oleh sentakan dan jepitan paha gadis itu. Liang vagina masih menjepit ketat sebagai reaksi rasa sakit yang masih dirasakan gadis itu.

Tak lama kemudian gadis itu sudah mulai dapat menikmati sodokan kemaluan Tuan Frantzheof de Van Pierre.
Tuan Frantzheof de Van Pierre meletakkan tangannya diatas kedua dengkul gadis itu untuk kemudian melebarkan kedua paha gadis itu, goyangan pinggulnya semakin dipercepat, jepitan liang vagina gadis yang masih pengantin baru itu membuat mata Tuan Frantzheof de Van Pierre merem-melek keenakan.
Gadis itu kini dengan buas membalas lumatan bibir Tantri, sementara kedua tangan Tantri dengan gemas meremas-remas buah dada gadis itu.

Tuan Frantzheof de Van Pierre semakin lama semakin mempercepat gerakan pinggulnya, batang penisnya masuk keluar liang vagina gadis itu dengan cepat dan kuat, menimbulkan suara plak-plok ketika pinggulnya menghempas di pangkal paha gadis itu.
Tubuh gadis itu meliuk-liuk keenakan, kedua tanggannya menggenggam pergelangan tangan Tuan Frantzheof de Van Pierre dengan kuat.
Tuan Frantzheof de Van Pierre semakin bersemangat memompa liang vagina gadis itu.

Setelah berkelojotan sebentar tubuh gadis itu tampak mengejang, gadis itu telah sampai dipuncak kepuasannya.
Saat itu pula Tantri melepaskan lumatan bibirnya, tangan kirinya segera menangkap dagu gadis itu dan tangan kanannya membekap erat mulut gadis itu, diikuti gigitan yang membenamkan taringnya ke pangkal leher gadis itu.
Hampir bersamaan dengan itu Tuan Frantzheof de Van Pierre segera menangkap dan memegang kedua tangan gadis itu dengan kuat, londo itu mendaratkan gigitan dan membenamkan taringnya di buah dada kiri gadis itu.

Gadis itu tampak berkelojotan dan meronta-ronta dengan kuat, darahnya yang dengan cepat terhisap oleh kedua vampire itu membuatnya menggelepar seperti ikan dikeluarkan dari air, semakin lama gerakan gadis itu semakin lemah sampai akhirnya diam tak bergerak lagi.
Kenikmatan gadis itu berujung kematian, benar-benar gadis yang malang.

Setelah Tuan Frantzheof de Van Pierre dan Tantri selesai menghisap habis darah gadis itu, Tuan Frantzheof de Van Pierre langsung melemparkan tubuh gadis itu dari atas pembaringan itu, kini pembaringan itu menjadi tempat keduanya mengumbar nafsu berahi mereka.
Tantri dengan senang hati melayani Tuan Frantzheof de Van Pierre menuntaskan nafsunya yang tadi tertunda.

“Beristirahatlah sayangku … jangan keluar keatas sampai engkau telah pulih benar”, bisik Tuan Frantzheof de Van Pierre mengecup kening Tantri yang ampak masih terengah-engah setelah sama-sama terhempas dipuncak kepuasan barusan.
Tuan Frantzheof de Van Pierre bangkit dan mengenakan kembali pakaiannya dan meninggalkan ruang bawah tanah itu.

****

Bagaimana ceritanya Tuan Frantzheof de Van Pierre dapat membawa Tantri ke ruang bawah tanah rumah besar itu?

****

Ketika Sancaka tiba kembali di depan rumah Gayatri, terdengar suara beberapa orang yang sedang bercakap-cakap didalam, merasa penasaran dengan cepat Sancaka melangkah masuk, ternyata yang sedang bercakap-cakap diruang tamu itu adalah Puji Astuti, Ignatius Rianto, Rianti dan si londo Van Helsing Jr.

“Eh Sanca … kebetulan kamu sudah pulang … ketiga orang ini sengaja datang kemari untuk menemui kamu”, terdengar suara Bu Puji yang langsung berdiri dan menarik tangan pemuda itu untuk duduk disampingnya, “Bagaimana Sanca? Mana Gayatri? Masih marahkah dia? Apa dia tidak mau pulang? Apa masih di rumah Tantri?”, tanya perempuan itu beruntun setelah Sancaka duduk disampingnya.

Sancaka tidak cepat menjawab pertanyaan Puji Astuti, matanya tertuju penuh pada Tuan Van Helsing Jr, londo itu terlihat memangku tangan kanan yang berbalut perban, padahal semalam londo ini seingatnya sehat-sehat saja ketika memanggul tubuh Tantri dan membawanya pergi semalam, “Apa yang terjadi dengan anda Tuan?”, tanya pemuda itu penasaran.

“Sanca!”, bentak Puji Astuti jengkel pertanyaanya diacuhkan Sancaka, “Bagaimana Gayatri?”, tanyanya lagi sambil mencubit lengan pemuda itu dengan kuat.
“Maaf Bu … saya tidak berhasil menemui Gayatri tadi … dia sedang pergi keluar dengan teman-teman barunya”, jawab pemuda itu meringis, “Tapi nanti malam saya akan ke sana lagi … Ibu tenang saja”, lanjutnya sambil mengelus lengannya yang terasa nyeri.
Mendengar jawaban Sancaka itu Puji Astuti terdiam sejenak, perempuan itu kemudian berdiri, “Ya sudah Ibu mau ke belakang … kamu layani tamu-tamu ini ya”, katanya lirih sambil menepuk bahu Sancaka, setelah mengangguk hormat ke arah tamu-tamu itu diapun melangkah ke dalam.

Setelah Puji Astuti berlalu kedalam, sejenak mata Sancaka dan mata Rianti bertemu, pemuda itu dapat merasakan betapa sinar mata gadis itu menyiratkan kerinduan padanya.
Sancaka mengalihkan pandangannya dan bertanya ke arah Ignatius Rianto, “Apakah Bu Puji ada menceritakan sesuatu tadi?”.

“Bu Puji tidak bercerita banyak kepada kami tadi … Cuma memberitahukan bahwa tuan pergi ke rumah Tantri untuk menyusul Gayatri … gadis itu apa benar pergi ke rumah Tantri?”, tanya Rianto.

“Benar … Gayatri pergi ke rumah Tantri tadi pagi … ada sedikit salah pengertian antara dia dan ibunya … makanya dia melarikan ke rumah Tantri pagi tadi … Tantri adalah temannya semasa kuliah dulu hanya sayangnya dia tidak tahu kalau Tantri sudah tiada”, jelas pemuda itu berusaha menutupi kejadian yang sebenarnya.
“Kembali ke pertanyaan saya tadi Tuan … Tuan terluka agaknya? Apa yang terjadi?”, tanya Sancaka ke arah Van Helsing Jr.

Van Helsing Jr menoleh kearah Ignatius Rianto, “Itulah yang membuat kami khawatir tadi”, terdengar suara Rianto menjawab, “Tantri kemungkinan besar juga berada di rumah itu … karena Tuan Frantzheof de Van Pierre telah merampas gadis itu dari tangan Tuan Van Helsing Jr”.

Melihat wajah Sancaka terlihat bingung dengan kening berkerut, Rianto segera bersuara, “Mungkin sebaiknya saya ceritakan kembali kejadian semalam sebagimana yang diceritakan oleh Tuan Van Helsing Jr kepada saya”.
Sancakapun segera mengalihkan pandangannya ke arah Ignatius Rianto untuk mendengarkan cerita apa yang akan dituturkan oleh biarawan muda itu.

Malam itu setelah menancapkan dan memakukan pasak dibagian jantung dan didahi tepat diantara kedua alis Tantri, serta melihat Sancaka sudah melangkah masuk kerumah Gayatri, Van Helsing Jr segera memangul tubuh Tantri dan membawanya pergi menyusul Rianto dan Rianti yang telah pergi lebih dulu.
Untungnya suasana malam itu cukup sepi akan tetapi untuk menghindari kecurigaan akhirnya tubuh Tantri dibalut dengan jubah panjangnya dan londo itu berusaha menghindari berpapasan dengan orang sambil berusaha secepatnya mencapai tepi sungai di dekat Stasiun Kertapati.

Mendekati Stasiun Kertapati suasana bertambah ramai, membuat Van Helsing Jr mengambil jalan memutar agak jauh di belakang stasiun, kemudian menyusup dalam kegelapan diantara rangkaian gerbong-gerbong kereta yang terparkir di sana.

Tiba-tiba terdengar suara membentak keras, “Berhenti!”, membuat langkah Van Helsing Jr terhenti, dan dari atas salah satu gerbong didepan meleseat seberkas cahaya putih dengan diiringi suara berdesing kearah Van Helsing Jr, dengan sigap londo itu melompat ke belakang, tampak percikan api di batu-batu yang tersebar diantara rel-rel kereta ditempat dimana Van Helsing Jr tadi berdiri, terlihat sebatang anak panah menancap disana.

Van Helsing Jr yang langsung memfokuskan seluruh inderanya untuk menghadapi serangan susulan dari depan dikagetkan dengan lesatan bayangan yang berkelebat cepat dari atas gerbong disampingnya, “PLAK!”, Van Helsing Jr hanya sempat menoleh sedikit kebelakang ketika sebuah hantaman keras hinggap tepat dibelakan kepalanya, membuat londo itu tersungkur ke depan, tubuh Tantri yang tadi dipanggulnya tersentak lepas.
Dengan sigap Van Helsing Jr meloncat berdiri dan membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang telah menyerangnya, akan tetapi tubuh londo itu langsung terhuyung dua-tiga langkah ke belakang, pandangannya terasa gelap dan berkunang-kunang, rasa pusing yang sangat membuat perutnya terasa mual.

Sosok bayangan yang menyerang dan merampas tubuh Tantri itu tak lain adalah Tuan Frantzheof de Van Pierre, dengan mimik muka sedih Tuan Frantzheof de Van Pierre tampak berjongkok memangku dan memeluk tubuh Tantri.
Dengan lembut Tuan Frantzheof de Van Pierre membelai dan merapikan rambut Tantri selir kesayangannya itu.
Setelah mengecup kening Tantri yang terlihat pucat tak berdarah itu dengan raut muka marah Tuan Frantzheof de Van Pierre mengalihkan pandangannya kearah Van Helsing Jr yang tampak masih menggeleng-gelengkan kepala berusaha menghilangkan rasa pusing yang menderanya.
Seluruh bola mata Tuan Frantzheof de Van Pierre tampak berubah menjadi hitam pekat, dengan pelan dan lembut diapun segera memanggul tubuh Tantri di bahu kirinya.
Tuan Frantzheof de Van Pierre berdiri menghadap kearah Van Helsing Jr, kuku tangan di tangan kanannya yang terjuntai kebawah mulai memanjang dan menghitam.

“Siapakah engkau yang begitu tak tahu diri telah berani melukai kekasihku?”, tanya Tuan Frantzheof de Van Pierre kepada Van Helsing Jr yang kini agaknya telah mulai dapat berdiri teguh di depan sana.

“Van Helsing”, jawab Van Helsing Jr, tangan kanannya langsung meraba pistol dipingganggya setelah kini pandangannya telah mulai jelas kembali itu melihat betapa kedua bola mata Tuan Frantzheof de Van Pierre berubah menjadi hitam pekat, “Dengan siapa saya berhadapan?”.

Mendengar jawaban Van Helsing Jr terlihat kening Tuan Frantzheof de Van Pierre berkerut, matanya mengamati seluruh tubuh Van Helsing Jr dari atas sampai ke bawah, senyum sinis langsung menghias bibirnya ketika melihat cincin yang dikenakan oleh Van Helsing Jr, “Agaknya engkau tidak membual … Kau memang keturunan si Abraham keparat itu … dari garis sulung keturunan si Arthur bukan?”, ujarnya dengan suara mengejek.

Van Helsing Jr tampak cukup terkejut mendengar ejekan Tuan Frantzheof de Van Pierre, agaknya vampire dihadapannya ini bukan vampire sembarangan, tubuhnya menegang, agaknya dia tidak akan dapat mengalahkan vampire satu ini semudah vampire-vampire lain yang pernah dimusnahkannya.

Tuan Frantzheof de Van Pierre mengangkat tangan kanannya dan menunjuk kearah Van Helsing Jr, “Dengar! … hampir seratus tahun yang lalu Abraham Van Helsing tak mampu mengalahkan aku … Apakah kau berpikir bahwa sekarang keturunannya dapat membuat perubahan? … Jangan membuatku tertawa anak muda!”, bentaknya.

Tak ingin membuang waktu dan ingin cepat menuntaskan semuanya, membuat Van Helsing Jr dengan cepat menggerakkan tangan kanannya menarik pistolnya, bermaksud menembus kepala Tuan Frantzheof de Van Pierre dengan peluru yang akan ditembakkannya.
Betapapun cepatnya gerakannya, belum sampai Van Helsing Jr dapat mengarahkan pistolnya ke arah kepala lawannya, Tuan Frantzheof de Van Pierre telah berkelebat cepat ke samping kanan Van Helsing Jr, “Crak!”, tangan kanan Tuan Frantzheof de Van Pierre menyambar dan mencengkeram dengan kuku hitamnya tertancap kuat ke bahu Van Helsing Jr, membuat pistolnya langsung terlepas dari genggaman Van Helsing Jr, “Breeet”, ketika Tuan Frantzheof de Van Pierre menarik cengkeraman tangannya dengan kuat, kuku-kuku hitam itu merobek pakaian berikut kulit dan daging mulai dari bahu sampai ke pergelangan tangan Van Helsing Jr.
Belum sempat terdengar jerit kesakitan dari mulut Van Helsing Jr, tangan kanan Tuan Frantzheof de Van Pierre langsung menangkap dan memutar pergelangan tangan Van Helsing Jr, “Krekk!”, putiran cepat dan kuat itu membuat patah persendian siku tangan Van Helsing Jr.
Tubuh Tuan Frantzheof de Van Pierre kembali bergeser berkelebat cepat kedepan Van Helsing Jr, tangan kanan Tuan Frantzheof de Van Pierre kembali menyambar, “Bukk!”, sebuah pukulan keras menghantam dada Van Helsing Jr membuatnya kehilangan nafas dengan dada serasa mau remuk.
Kuatnya pukulan diikuti dorongan Tuan Frantzheof de Van Pierre membuat tubuh Van Helsing Jr terlempar beberapa meter ke belakang.

Tak ingin menjadi bulan-bulanan serangan Tuan Frantzheof de Van Pierre, masih dalam keadaan terlempar kebelakang, tangan kiri Van Helsing Jr segera menyambar dan melemparkan salah satu dari dua granat yang tergantung di belakang pinggangnya.
Sambil mendengus kesal Tuan Frantzheof de Van Pierre segera menangkis dan menepiskan granat itu keatas, granat itu melesat dan meledak cukup tinggi di udara.
Beberapa pecahan granat itu terdengar berdenting ketika menghantam dan menembus atap gerbong kereta.

Van Helsing Jr segera bangkit berdiri, dadanya masih terasa sesak, tangan kirinya telah menggenggam dan siap melemparkan sebuah granat lagi, rupanya tadi sebelum tubuhnya jatuh terhempas diatas bebatuan disekitar rel tangan kirinya masih sempat menyambar granat terakhir dari belakang pinggangnya.
Akan tetapi sosok tubuh Tuan Frantzheof de Van Pierre maupun Tantri sudah tak terlihat lagi, agaknya vampire itu telah berkelebat pergi dari tempat itu.
Van Helsing Jr jatuh terduduk dan memuntahkan darah segar.

Tak lama kemudian terdengar suara orang ramai menuju tempat itu, agaknya kerasnya ledakan granat tadi telah menarik perhatian orang-orang yang berada di sekitar stasiun.
Tak ingin menarik perhatian orang banyak, Van Helsing Jr memaksakan diri bangkit dan dengan tertatih menyelinap meninggalkan tempat itu.

Ketika telah mendekati kapal motor dimana Rianto dan Rianti tampak berdiri menunggu dengan wajah cemas, langkah kaki Van Helsing Jr sudah gontai, darah segar masih terus menetes dari luka-luka ditangan kanannya, londo itu telah kehilangan cukup banyak darah agaknya.
Rianto yang terlebih dahulu melihat kedatangan Van Helsing Jr sambil terhuyung-huyung itu segera meloncat turun dan berlari menyongsong londo itu.

“Rianti cepat panggil si Karman!”, Rianto berteriak ke arah Rianti sambil memapah Van Helsing Jr ke arah perahu.
Rianti segera berlari ke dalam bilik kecil di atas kapal itu, tak lama kemudian tampak Sukarman, dokter muda asisten Van Helsing Jr meloncat keluar dan segera membantu Rianto memapah Van Helsing Jr naik ke kapal.

Didalam bilik, Sukarman segera memberikan pertolongan pertama kepada Van Helsing Jr, sebelum mendapat perawatan penuh di Rumah Sakit di pusat kota Palembang.

****

“Begitulah ceritanya … itulah sebabnya kami yakin bahwa Tantri saat ini juga berada di rumah itu”, ujar Rianto mengakhiri ceritanya, “Bahkan kami juga yakin bahwa Tantri saat ini sedang atau malah sudah dipulihkan kembali dari luka-lukanya oleh Tuan Frantzheof de Van Pierre”.

“Sudah diipulihkan? … Mengingat hal-hal yang tidak masuk akal yang dulu pernah diceritakan Rianti padaku … Mungkin dugaan tersebut benar adanya”, sahut Sancaka sambil melirik ke arah Rianti, “Hanya saja yang mengherankan adalah bagaimana Tuan Frantzheof de Van Pierre dapat dengan tepat datang untuk menyelamatkan Tantri?”.

“Agaknya suara lolongan panjang dari monster jelmaan Tantri waktu itu yang membuat Tuan Frantzheof de Van Pierre datang”, jawab Rianti, “Tuan Frantzheof de Van Pierre tentunya menduga bahwa ada bahaya besar yang mengancam Tantri sehingga sampai harus berubah wujud seperti itu”.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?”, tanya Sancaka, dia tentu saja mengharapkan bantuan ketiga orang tamunya ini.

“Kita semua harus bekerja sama untuk mengalahkan Tuan Frantzheof de Van Pierre dan semua antek-anteknya”, akhirnya Van Helsing Jr yang sejak tadi diam angkat bicara juga.

“Yang terpenting adalah jangan gegabah … Tuan Frantzheof de Van Pierre sudah hidup dan malang melintang di dunia ini lebih dari seratus tahun … Jangan sekali-kali meremehkan kepandaiannnya”, Rianti menambahkan.

Sampai menjelang magrib keempat orang itu sibuk membicarakan dan membahas rencana untuk memusnahkan Tuan Frantzheof de Van Pierre.

Setelah itu ketiga tamu itupun pamit pulang kepada Sancaka, “Ingat Sancaka … Kami akan selalu membayangi langkahmu … Semoga kita belum terlambat untuk menyelamatkan tunanganmu”, Rianto memberi pesan sambil menepuk bahu pemuda itu.

****

Bagaimana dengan Gayatri apakah benar bahwa Sancaka tidak akan terlambat untuk menyelamatkan gadis itu nanti malam?

****

Setelah meninggalkan Tantri yang setelah menghisap habis darah gadis yang dibawa Tuan Frantzheof de Van Pierre tentunya akan segera pulih total di ruang bawah tanah itu, Tuan Frantzheof de Van Pierre segera masuk kekamar tidurnya.
Kamar tidur yang khusus diperuntukkan bagi Tuan Frantzheof de Van Pierre beristirahat, tak seorangpun berani masuk ke kamar itu.

Kamar itu berada disebelah kamar tidur besar lainnya dimana dulu Sancaka pernah menikmati pesta nafsu bersama keenam selir Tuan Frantzheof de Van Pierre, kamar tidur dimana Gayatri saat itu berada.

Tuan Frantzheof de Van Pierre tadinya juga ikut terganggu istirahatnya oleh gedoran-gedoran Sancaka di pintu gerbang depan. Tetapi dia lebih tertarik ketika mendengar suara-suara tawa dikamar sebelah.

Terdapat celah khusus di kamar tidur itu yang membuat Tuan Frantzheof de Van Pierre dapat mengamati semua kejadian di kamar tidur disebelahnya.
Ketika Tuan Frantzheof de Van Pierre mengintai ke dalam kamar itu, dilihatnya Seorang gadis duduk menyandar di kepala pembaringan itu, gadis itu duduk memeluk guling dengan muka merah dan cemberut, agaknya sedang di goda oleh kelima orang selirnya yang tertawa cekikikan didekat jendela memperhatikan ulah Sancaka yang terus-menerus menggedor-gedor gerbang depan.
Gadis yang cantik dan anggun yang agaknya belum terjamah oleh laki-laki, membuat Tuan Frantzheof de Van Pierre meneguk ludahnya sendiri.
Dari percakapan mereka Tuan Frantzheof de Van Pierre akhirnya dapat mengetahui bahwa gadis cantik itu adalah Gayatri, tunangan dari Sancaka.

Sedang asyik Tuan Frantzheof de Van Pierre mengamati kejadian di kamar itu, terdengar ketukan halus di pintu kamarnya, dengan penuh amarah diapun beranjak ke pintu, agaknya ada yang berani mati melakukan pelanggaran dengan mengetuk pintu kamarnya.

Dengan tangan kanannya dibukanya pintu kamarnya dengan perlahan, sementara tangan kirinya bersiap dengan cengkeraman maut, agaknya Tuan Frantzheof de Van Pierre berniat mencengkeram pecah kepala orang yang berani mati menggedor kamarnya itu.
Akan tetapi londo itu terkesima dan mengurungkan niatnya, yang mengetuk pintu itu adalah Tantri yang telah berdandan sangat cantik dan ternyata telah pulih sepenuhnya dari luka-lukanya semalam.
“Jangan marah sayang … Aku tahu harumnya bunga disebelah telah menarik perhatiannmu”, terdengar gadis itu berkata sambil tersenyum genit, didorongnya masuk Tuan Frantzheof de Van Pierre yang kini tersenyum lebar itu, setelah menutup pintu kembali didorongnya ke arah celah dimana tadi londo itu mengamati kamar sebelah, “Bagaimana sayangku? Tidakkah bunga itu sangat elok rupawan? Tidakkah serbuk sarinya menebar aroma semerbak menawan?”, bisiknya sambil mengecup dan menciumi tengkuk Tuan Frantzheof de Van Pierre yang kembali asyik mengamati kecantikan Gayatri dikamar sebelah itu yang tampak sedang mengobrol diatas pembaringan sambil cekikikan bersama kelima orang selirnya.
Tangan Tantri yang meraba ke bawah merasakan bahwa ada sesuatu bangkit dengan cepat disana, “Aku akan membantumu memetik bunga itu … akan tetapi sebaiknya tenangkan dulu yang dibawah ini”, bisiknya dan segera keluar dari kamar itu menuju kamar sebelah.

Tantri masuk ke kamar dimana Gayatri berada sambil tersenyum manis, “Tantri … Kemana saja kau … Aku sudah sejak pagi berada disini”, Gayatri dengan riang menyambut kedatangan gadis itu, “Kau cantik sekali hari ini”, puji Gayatri sambil menggenggam kedua tangan gadis itu.

“Ibumu dan Sancaka mengusir aku pergi dengan kasar ketika kau pingsan semalam … “, sahut Tantri memasang muka sedih.
Gayatri langsung memeluk gadis itu, “Maafkan aku yah Tantri … Mereka berdua memang terkutuk! … Untung kau cepat memberitahukan perbuatan bejad mereka kepadaku … Kau menyelamatkan aku dari jeratan asmara Sancaka yang cabul itu … Terima kasih”, bisiknya sambil terisak.
Tantri balas memeluk dan membelai kepala gadis itu sambil tersenyum kearah kelima selir Frantzheof de Van Pierre yang lain.

Kelima orang selir itu merasakan seluruh bulu kuduk masing-masing meremang, mereka dapat merasakan bahwa Tantri yang berada dihadapan mereka ini bukanlah Tantri yang mereka kenal dulu.
Kalau dulu mereka segan kepada Tantri hanya karena gadis itu adalah selir keasayangan Frantzheof de Van Pierre, maka kini mereka membalas senyum Tantri dan mengangguk hormat dengan perasaan sedikit takut, sosok Tantri kini menyiratkan kekuatan yang jauh berada diatas mereka.

“Kau jangan menyalahkan ibumu Gayatri … Dia hanyalah perempuan lemah sebagaimana kita semua … Tak heran kalau dia jatuh kedalam bujuk rayu lelaki keparat itu”, bisiknya menenenangkan gayatri, “Aku yakin kau sendiripun tak akan kuat menahan diri kalu sudah masuk dalam jebakan godaan kemanjaan dan bujuk rayu laki-laki”.

“Tidak! … Aku tidak akan jatuh hanya karena godaan dan bujuk rayu semata!”, balas Gayatri sengit sambil melepaskan pelukannya pada tantri.
Tantri tertawa lepas, “Kau mau bukti nona manis? … Bagaimana kalau kita adakan semacam permainan kecil untuk mengujinya?”, bisiknya sambil mencubit dagu Gayatri.
“Permainan? …. Permainan apa? …. Ayo kalau memang harus dibuktikan …. Aku tidak takut!”, kembali gayatri membalas sengit.
“Hmm … Baiklah kalau begitu … Aku jelaskan permainan yang akan kita lakukan ini”, bisiknya sambil tersenyum manis dan membimbing gayatri kembali ke pembarigan.

Tantri membisikkan sesuatu kepada Yuni, dan gadis itu tampak mengangguk-angguk sambil tersenyum geli menatap kearah Gayatri dan segera berlari keluar kamar itu.
“Permainan ini cukup sederhana … Kau harus membuktikan ucapanmu tadi”, jelas Tantri, “Kami akan mengikatmu dan menutup matamu … buktikan bahwa kau dapat menahan godaan nafsu yang akan kami simulasikan pada tubuhmu”.
Gayatri sudah akan menyahut, “Tenang kami tidak akan merusak dirimu”, lanjut Tantri sambil menutup mulut gadis itu dengan jari tangannya, “Kecuali kalau kau sendiri yang jatuh dalam godaan permainan ini”.

Yuni kembali masuk kekamar itu sambil tersenyum lebar, ditangannya tampak beberapa bahan yang biasa ditemui di dapur, mentimun dan terong ungu, telah dipilih yang sedang besarnya dan bentuknya bagus saja.
“Jangan takut … Ini hanya alat tambahan simulasi …. kami akan melakukan simulasi terbaik yang dapat kami lakukan … bergantian tentunya”, jelas Tantri sambil tersenyum geli melihat wajah bingung Gayatri, “Karena disini kita adalah perempuan semua … Kau tentu tidak keberatan kalau kami membuka seluruh pakaianmu … Bagaimana masih berani melanjutkan?”.

Gayatri adalah gadis yang keras hati, dia tak mungkin sudi menjilat ludahnya sendiri, dengan mantap diapun menganggukkan kepalanya.
Tantri segera mengambil selendang hitam dari dalam lemari pakaian, dan kemudian menutup mata Gayatri dengan ikatan yang cukup kuat.
Selanjutnya kelima orang selir yang lain segera mengikat gayatri dalam posisi berdiri ke dinding.
Memang didinding itu telah tersedia anting-anting yang biasa dipergunakan oleh keenam selir Tuan Frantzheof de Van Pierre untuk mengikat dan mempermainkan para lelaki korban mereka.
Alat pengikat yang biasa dipergunakan adalah empat buah selendang sutera merah, sehingga tidak menimbulkan rasa sakit terhadap korban yang diikat dibandingkan jika menggunakan tambang atau rantai.
Setelah selesai ditutup matanya dan diikat kedinding, Gayatri mencoba menggerak-gerakkan tubuhnya, kaki dan tangannya masih dapatbergerak walaupun tidak terlalu leluasa, gadis itu mengira-ngira paling hanya setengah meter gerak bebasnya kini.

Ketika kelima orang selir itu sedang mengikat Gayatri, pintu kamar itu dengan perlahan terbuka dan Tuan Frantzheof de Van Pierre melangkah masuk dengan senyum puas, kiranya setelah mengikat mata Gayatri tadi Tantri segera memberi isyarat kepada Tuan Frantzheof de Van Pierre yang mengawasi dari celah khusus di dinding.
Tantri segera menyambut dan membantu menanggalkan seluruh pakaian Tuan Frantzheof de Van Pierre.
Kemudian digandengnya tangan Tuan Frantzheof de Van Pierre dan dibawanya kehadapan Gayatri, didekatinya wajah Gayatri, “Persiapkan dirimu gadis manis … Permainan akan segera dimulai gadis manis”, bisiknya lirih.

Keempat selir lainnya berkumpul di pembaringan. Kini didepan keenam orang itu tampak Tuan Frantzheof de Van Pierre Tantri dan Gayatri berdiri berhadapan dalam keadaan telanjang bulat tanpa gadis itu menydari sedikitpun bahaya yang mengancam dirinya.

Tuan Frantzheof de Van Pierre meneguk liurnya sendiri melihat betapa mulus dan terawatnya tubuh Gayatri, dengan pinggang yang ramping dan buah dada yang bulat tegak kencang menantang.

Yuni datang mendekat bersimpuh disamping kiri Tuan Frantzheof de Van Pierre, tangannya memegang gelas kristal berisikan anggur merah setengahnya, dan Tuan Frantzheof de Van Pierre segera mengerat urat nadi dipergelangan kirinya dengan kukunya, darah yang mengalir keluar itu ditampung oleh Yuni kedalam gelas sampai campuran darah dan anggur merah itu hampir memenuhi gelas.

Tantri memeluk Gayatri dari belakang, diciuminya belakang telinga leher dan tengkuk gadis itu sambil kedua tangannya mulai membelai dan mengelus kedua buah dada gadis itu, “mmhh”, tubuh Gayatri meliuk sedikit berusaha menahan desahannya.
Ketika ciuman Tantri semakin ganas dan tangan itu mulai meremas-remas buah dadanya, Gayatri mulai lepas kendali, “Achh Tantri … Geli”, desahnya ketika remasan tangan itu diikuti pelintiran lembut dikedua puting susunya.

Tuan Frantzheof de Van Pierre yang dengan cepat telah memulihkan kembali luka di pergelangan tangannya segera mendekati Gayatri, diciuminya leher gadis itu dengan buas, “mmmhhh … Kalian mengeroyokku yah … Sshh Siapa ini … Achh Awas kalian nanti”, Gayatri kembali meliuk dan mendesah ketika merasakan ada benda hangat masuk menyelip diantara pangkal pahanya, benda hangat yang dengan lembut menggesek-gesek belahan vaginanya.
Rangsangan yang dirasakannya dengan cepat membuat belahan vagina gadis itu menjadi basah.

Tuan Frantzheof de Van Pierre mengalihkan sasaran ciumannya, kini dengan buas dia mencium dan menetek dikedua buah dada Gayatri, “Auww … Anak siapa ini … Gila kamu yah … Auwww geli tahu“, Gayatri jadi tersentak dan menjerit sambil tertawa geli, “Tapi enak juga”, lanjutnya cekikikan.

Aroma yang keluar dari kemaluan Gayatri yang mulai banjir yang tercium dihidungnya yang sensitif itu, dan karena ingin menikmati gurihnya cairan kenikmatan gadis perawan ini, Tuan Frantzheof de Van Pierre segera menurunkan ciuman dan jilatannya kebawah, merambat turun sampai ke pangkal paha gadis itu.

Gayatri berusaha merapatkan kedua pahanya ketika merasa ada yang berusaha membuka kedua pahanya dan menjilat belahan vaginanya, “Ichh … Jangan …”, katanya cekikikan dan berusaha menghindar.
“Kau takut gadis manis?”, bisik Tantri yang memeluk Gyatri dari belakngan dan masih terus menciumi leher dan tengkuk serta meremas-remas buah dada gadis itu.
“Aku tidak takut … Tapi apa tidak jijik berbuat begitu?”, balas Gayatri sengit, “Yach sudah silahkan saja kalau mau”, lanjutnya mengalah.

Tuan Frantzheof de Van Pierre tersenyum menyeringai, dibukanya kedua paha Gayatri melebar, kini dengan leluasa Tuan Frantzheof de Van Pierre dapat menjilati belahan vagina gadis itu.
Tubuh Gayatri tampak bergetar dan mengejang, gerakan lidah Tuan Frantzheof de Van Pierre menimbulkan sensasi yang luar biasa bagi gadis itu, “Ucchhh Gilaa … “, rintih gadis itu dengan kepala terdongak.

Sambil meremas kedua pantat Gayatri, bibir Tuan Frantzheof de Van Pierre menempel ketat di belahan vagina gadis itu, kini lidahnya mulai menerobos kedalam liang vagina gadis itu, Gayatri seperti disetrum listrik tegangan tinggi dibuatnya, tubuh gadis itu tampak bergetar hebat, kedua lututnya terasa goyah, “Uchh … Uchh”, rintihan gadis itu semakin kuat terdengar.

“Achh hentikan … Hentikan … Acchhh aku … aku mau …”, tak lama kemudian terdengar gadis itu menjerit-jerit lirih dengan tubuh terkejang-kejang, Tuan Frantzheof de Van Pierre bukannya menghentikan malahan makin mempercepat permainan lidahnya, “Aku … Aku mau pipis …”, rintihnya putus asa.
Dengan satu sentakan keras gadis itu menjerit panjang, “Acchhhh….”, Gayatri telah merasakan orgasmenya yang pertama, Tuan Frantzheof de Van Pierre dengan buas menyedot liang vagina gadis itu berusaha mendapatkan cairan kepuasan gadis itu, “Sudah … Sudah dulu …”, rintih Gayatri dengan lutut yang tampak gemetar kehabisan tenaga.

“Minum lah dulu gadis manis … Permainan kita baru sampai babak pertama”, bisik Tantri mengelus dan membelai rambut Gayatri sambil memberi isyarat kepada Yuni untuk datang mendekat.
Yuni segera menyodorkan gelas berisi campuran anggur merah dan darah Tuan Frantzheof de Van Pierre ke bibir Gayatri, dengan pasrah gadis itu menerima minuman itu, walaupun tidak sekaligus tapi akhinya Gayatri menghabiskan juga minuman itu.

Minuman itu terasa hangat di tenggorokan dan diperutnya, dan dengan cepat Gayatri sudah merasa segar kembali.
“Mmmh … Anak nakal …”, desahnya ketika merasa ada yang kembali menetek dengan buas di dadanya.
Tapi kini Gayatri sudah berubah, dia sudah menetapkan akan mengikuti permainan ini sepenuhnya, dia ingin menikmati semua rangsangan yang akan diberikan oleh Tantri dan yang lainnya.
Gadis itu tak menyadari bahwa permainan ini tidak dimainkan oleh Tantri ataupun kelima selir lainnya, melainkan lebih didominasi oleh Tuan Frantzheof de Van Pierre.

Tuan Frantzheof de Van Pierre menggenggam batang penisnya dan mengarahkannya ke belahan vagina Gayatri, Gayatri membiarkan dan menikmati gesekan-gesekan benda hangat itu.
Kemudian Tuan Frantzheof de Van Pierre mulai sedikit menekan kepala penisnya menggesek dan menerobos belahan vagina gadis itu.
“Achhhh”, desah Gayatri ketika gesekan kepala penis itu mulai diikuti gerakan menerobos masuk ke liang vaginanya.
Tantri memegang bongkahan pantat Gayatri dan menggoyangkan pinggul gadis itu mengikuti irama gesekan penis Tuan Frantzheof de Van Pierre.
Semakin lama kepala penis Tuan Frantzheof de Van Pierre mulai masuk semakin dalam, sementara Gayatri kini tampaknya sudah pintar menggoyangkan pinggulnya sendiri.

“Mau dimasukkan semua gadis manis? … Jangan takut … Sakitnya dikit tapi enaknya banyak”, tanya Tantri, Gayatri membalas dengan gelengan kepala, “ Jangan Tantri … Cukup segitu saja”, desahnya.
Semakin lama Gayatri semakin keenakan dan mulai lupa diri, dan karena Tantri terus menerus mengulangi pertanyaan itu, akhirnya Gayatri menyerah juga, “Terserah … Terserahh …”, desahnya pasrah.
“Tahan sedikit ya gadis manis …”, katanya sambil memberi isyarat kepada Tuan Frantzheof de Van Pierre.

Tuan Frantzheof de Van Pierre dengan kuat menyentakkan pinggulnya keatas, karena liang vagina Gayatri sudah sangat basah maka penisnya dengan cepat menerobos masuk sampai kepangkalnya.
Gayatri menjerit panjang, rasa sakit mendera kemaluannya. Tubuh gadis itu mengejang, dia berusaha melangkah mundur dan melepaskan diri akan tetapi karena dirinya dipeluk dari belakang oleh Tantri maka gadis itu tak dapat berbuat banyak.
Tantri terus membujuk gadis itu supaya tenang.

Setelah Gayatri tenang kembali, gadis itu heran sendiri karena rasa sakit yang dirasakannya tadi dengan cepat menghilang, padahal dia masih merasakan bahwa benda hangat itu masih tertancap di dalam kemaluannya..
Gayatri kembali mendesah lirih ketika Tuan Frantzheof de Van Pierre mulai dengan perlahan menggoyangkan pinggulnya.

Semakin lama gerakan pinggul Tuan Frantzheof de Van Pierre semakin cepat, “Achhh … Enak Tantri enak …”, desah Gayatri yang mulai ikut menggoyangkan pinggulnya mengikuti irama keluar masuknya batang penis Tuan Frantzheof de Van Pierre.

Tuan Frantzheof de Van Pierre dengan ganas menggoyang-goyangkan pinggulnya, sambil menciumi leher dan dada gadis itu yang sudah basah oleh keringat.

Tek beberapa lama kemudian tubuh Gayatri tampak mulai tersentak-sentak, “Aku mau pipis Tantri … Aku mau pipis lagi”, rintihnya.
Mendengar ceracauan mulut gadis itu, Tuan Frantzheof de Van Pierre semakin mempercepat gerakannya, sampai ketika tubuh Gayatri benar-benar mengejang dan gadis itu menjerit, Tuan Frantzheof de Van Pierre baru menghentikan gerakannya sambil menghentakkan pinggulnya berusaha membenamkan batang penisnya sedalam mungkin kedalam liang vagina Gayatri.

Tuan Frantzheof de Van Pierre merasakan dalam orgasmenya liang vagina gadis itu dengan kuat meremas-remas batang penisnya.

Tuan Frantzheof de Van Pierre melangkah mundur dan mencabut batang penisnya, Gayatri mendesah tak rela dan tampak tergantung lemas.

Atas isyarat Tantri, Wulan segera mendekat dan membantu Tantri melepaskan ikatan Gayatri, Yuni memegangi tangan kiri gadis itu, sementara Wulan memegangi tangan sebelah kanan, sedangkan Tantri melumat bibir gadis itu sambil jari tengah tangan kanannya bermain di belahan bibir vagina Gayatri, “Babak kedua permainan sudah selesai gadis manis”, bisiknya.

Setelah melepaskan ciumannya dan untuk memberikan kesempatan Gayatri mengatur nafasnya, Tantri berjongkok dan menggenggam batang penis Tuan Frantzheof de Van Pierre yang kini telah berbaring terlentang di lantai diantara kedua kaki Gayatri, dikulum dan disedot-sedotnya kepala penis Tuan Frantzheof de Van Pierre sebelum memberi isyarat kepada Yuni dan Wulan.
Yuni dan Wulan membimbing Gayatri dengan perlahan turun berjongkok ke arah batang penis Tuan Frantzheof de Van Pierre yang berada dalam genggaman Tantri.
“Aacchh”, desah Gayatri ketika batang penis itu dengan mantap menerobos liang vaginanya.

Yuni dan Wulan yang ikut pula berjongkok kemudian mengalungkan tangan Gayatri ke bahu masing-masing, mereka kini menjadi tempat Gayatri bergantung.
Keduanya mulai mengangkat dan menurunkan tubuh Gayatri, memberikan petunjuk apa yang harus dilakukan gadis itu, “Sekarang kau memegang kendali gadis manis … Kau dapat mengatur arah dan kecepatan benda hangat ini masuk-keluar lubang vaginanmu”, bisik Tantri sambil meremas-remas buah dada Gayatri.

Gayatri dengan cepat menyerap pelajaran itu, gadis itu dengan bergantung pada Yuni dan Wulan mulai pintar menaik-turunkan tubuhnya, “Achh Tantri … Auchhh ini lebih enak dari yang tadi” ceracau gadis itu.

Desahan dan erangan kenikmatan yang dikeluarkan oleh Gayatri ditambah gerakan tubuh gadis itu yang naik-turun dengan cepat dan terkadang diselingi dengan goyangan-goyangan itu, membuat Tuan Frantzheof de Van Pierre harus berjuang mati-matian mempertahankan diri, londo itu berusaha menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak ikut mengeluarkan desahan atau geraman, keningnya tampak berkerut dengan mata terpejam rapat menahan kenikmatan.

Semakin lama gerakan Gayatri semakin ganas tak beraturan, membuat Tuan Frantzheof de Van Pierre merasa tak dapat mempertahankan diri lebih lama lagi, batang penisnya sudah berdenyut-denyut dengan kuat.

“mmh … mmhh … mmmhhh … aaaacchhhhh!”, Gayatri menghempaskan tubuhnya dengan kuat ke bawah, gadis itu telah mencapai orgasmenya yang kedua, dengan tubuh bergetar gadis itu mengoyang-goyangkan pantatnya dengan cepat dan kuat berusaha mempertahankan sensasi kenikmatan yang baru saja diperolehnya.
Goyangan yang membuat Tuan Frantzheof de Van Pierre tak dapat bertahan lagi, sambil menggigit bibir, londo itu mengejang dan memuntahkan cairan kenikmatannya ke dalam liang vagina Gayatri.

“Gila kau Tantri … Kau dan permainan gilamu ini bisa benar-benar membuatku gila dan membuat aku takut … Takut ketagihan nanti”, kata Gayatri dengan nafas terengah-engah.

“Kapanpun kau mau gadis manis … Kapanpun kau mau … kami siap melayanimu”, bisik Tantri mengecup bibir gadis itu sambil mengedipkan mata kearah Tuan Frantzheof de Van Pierre.

Keenam orang selir Tuan Frantzheof de Van Pierre itu kemudian mengangkat dan menggotong Gayatri yang terengah-engah lemas itu keatas pembaringan, setelah melepaskan ikatan penutup mata dan menyelimuti Gayatri kemudian mereka meninggalkan gadis itu untuk beristirahat.

Tuan Frantzheof de Van Pierre dengan dipapah oleh seluruh selirnya kembali ke kamar tidurnya, senyum puas menghias bibirnya.

Matahari sudah mulai terbenam ketika Gayatri terbangun, gadis itu mendapati dirinya telanjang bulat dibalik selimut, sesaat gadis itu tampak panik kakan tetapi setelah menenangkan diri barulah dia teringat akan kejadian siang tadi, dengan segera gadis itu turun dari pembaringan.

Diatas meja disamping pembaringan itu tersusun handuk dan pakaian lengkap yang tampak masih baru, ada kertas catatan diatasnya, “Mandi dan segera berdandan gadis manis … kami tunggu di kolam belakang … Tantri”.
Gayatri segera meraih handuk itu dan bergegas masuk ke kamar mandi yang memang tersedia di kamar itu.

Ketika menyabuni diri, Gayatri sempat meraba bagian kemaluannya, wajahnya tampak murung sejenak, dia telah kehilangan mahkota kebanggaannya.
Akan tetapi merasa bahwa mungkin itu lebih baik daripada direnggut oleh Sancaka keparat itu, gadis itu kembali mengeraskan hatinya dan segera melupakan hal itu.
Hanya saja yang membuat heran adalah dia tidak sedikitpun merasakan sisa rasa sakit di kemaluannya, bahkan ketika tadi ditekan-tekan dan dicobanya memasukkan jarinya sedikit kedalam lubang vaginannya, tidak sedikitpun ada sisa rasa sakit disana.

Akan tetapi akhirnya Gayatri tidak ambil pusing lagi mengenai hal itu, toh bagus juga dia tidak lagi merasakan sakit akibat kejadian siang tadi.
Gadis itu segera menyelesaikan mandinya kemudian berdandan dan mematut diri dengan pakaian baru yang disediakan untuknya, untuk kemudian menyusul yang lainnya ke kolam belakang.

Gayatri tidak menyadari bahwa dia sudah mulai mengalami perubahan akibat darah Tuan Frantzheof de Van Pierre yang diminumnya siang tadi, darah yang dengan cepat menyembuhkan sisa luka-luka akibat terobeknya selaput dara miliknya siang tadi.

****

Sancaka kembali mengeluarkan jam kantongnya, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit, berarti sudah hampir lima belas menit dia menggedor-gedor pintu gerbang ini tanpa hasil.
Apakah Gayatri dan teman-teman barunya belum kembali ke rumah? Pemuda itu kemudian mengeluarkan rokok dan menyulutnya sebatang, biarlah aku akan menunggu sebentar lagi pikirnya, kemudian mencari tempat yang dapat diduduki disekitar pintu gerbang itu menunggu.
Sancaka tak mengetahui bahwa Gayatri saat itu jatuh semakin dalam ke dalam perangkap Tuan Frantzheof de Van Pierre.

Gayatri yang setelah selesai mandi bergegas menyusul ke kolam belakang mendapati persiapan makan malam disana, sebuah meja besar telah disiapkan ditepi kolam, lengkap dengan segala perlengkapannya termasuk beberapa batang lilin yang telah dinyalakan, semuanya tertata rapi.
Didekatnya juga terlihat meja yang agak kecil, dengan botol-botol kristal diatasnya, berisikan beberapa macam minuman berwarna.

Yuni yang bersama keempat orang selir Tuan Frantzheof de Van Pierre yang tadinya berdiri mengobrol di dekat meja itu sambil menikmati minuman yang ada, segera menyongsong kedatangan Gaytri.
“Kamu cantik sekali dalam pakaian ini Gayatri”, katanya sambil merangkul gadis itu, “Bagaimana rasanya siang tadi? Apa sudah mulai ketagihan nikmatnya?”, bisiknya sambil senyam-senyum.
Gayatri tidak menyahut, hanya mencubit lengan Yuni berkali-kali dengan muka merah menahan malu, membuat Yuni sibuk menangkis cubitan itu sambil cekikikan geli.

“Mana Tantri”, tanya Gayatri karena tidak melihat keberadaan gadis itu.
“Sebentar lagi dia juga datang … Tadi katanya mau menjemput Tuan Frantzheof de Van Pierre di kamarnya”, sahut Yuni sambil memberi isyarat kepada selir-selir yang lain untuk segera duduk, “Kamu duduk disini bersamamaku”, lanjutnya sambil menunjuk bangku paling kanan dari sisi kiri meja itu.
Kemudian Yuni mengambilkan minuman untuk Gayatri dan segera duduk disamping gadis itu, kini disisi kiri meja itu duduk Gayatri, Yuni dan Diah, sementara disisi lain duduk pula Wulan, Sari dan Ratna.

Tak lama kemudian Tantri muncul sambil menggandengan tangan Tuan Frantzheof de Van Pierre, kemudian Tantri langsung mengambil tempat duduk di ujung meja yang lain, sehingga menempatkan Tuan Frantzheof de Van Pierre duduk diujung meja yang lain, yakni di sebelah Gayatri.
Tadinya Gayatri akan protes meminta Tantri yang duduk di dekatnya, akan tetapi menyadari bahwa dia hanyalah tamu dirumah ini, diapun lebih baik memilih diam.

Setelah duduk disebelahnya, Tuan Frantzheof de Van Pierre tersenyum dan mengangguk hormat ke arah Gayatri, gadis itu yang menganggap bahwa dia baru pertama kali itu bertemu dengan pemilik rumah segera membalas dengan sopan, kini dia dapat mengamati londo itu secara aslinya, jika dibandingkannya dengan potret diri londo itu di lukisan yang ada di ruang depan dan di kamar tidur, ternyata aslinya jauh lebih tampan dan lebih gagah.

Tak lama kemudian tampak beberapa orang pemuda berpakaian rapi mulai mengantar dan menyajikan bebagai macam hidangan, didahului sangat Tuan Frantzheof de Van Pierre acara makan malam pun dimulai, selama acara makan suasana cukup akrab dan beberapa kali Tuan Frantzheof de Van Pierre merekomendasikan hidangan tertentu kepada Gayatri sambil menjelaskan bahan dan cara membuat hidangan tersebut, bahkan kalau letak hidangan itu terjangkau olehnya maka Tuan Frantzheof de Van Pierre akan langsung mengambilkan hidangan tersebut dan meletakkannya di piring Gayatri, membuat gadis itu senang dan sesekali mukanya bersemu merah.

Setelah semuanya tampak berhenti makan, rombongan pemuda tadi dengan sigap segera membereskan meja dan menghidangkan makanan penutup, setelah mencicipi hidangan penutup itu dari reaksinya tampak jelas bahwa Gayatri belum pernah menikmati makanan seenak itu.
Gayatri pun dengan cepat terlibat dalam obrolan dan canda tawa bersama Tuan Frantzheof de Van Pierre dan keenam selirnya itu.

“Hmm … Sebaiknya kita berenam segera ke belakang membantu pemuda-pemuda ganteng tadi berberes …. Bagaimana?”, terdengar Tantri menggoda kelima selir Tuan Frantzheof de Van Pierre lainnya yang langsung tertawa cekikikan, “Kecuali engkau Gayatri … Sebagai tamu sebaiknya engkau disini saja menemani tuan rumah kita yang gagah ini”, lanjutnya sambil mengedipkan mata ke arah Gayatri.

Kemudian Tantri memanggil salah seorang pemuda itu membisikkan sesuatu, pemuda itu mengangguk-angguk dan segera berlalu kedalam.
Bersama beberapa orang temannya, pemuda itu segera bekerja membersihkan dan mempersiapkan pondok-pondokan kecil yang agak jauh dari kolam itu menjadi tempat kencan buat Tuan Frantzheof de Van Pierre dan Gayatri, karpet tebal dan beberapa bantal bulat besar sebagai alas duduk sudah digelar disana supaya kedua orang itu dapat mengobrol dengan santai nantinya.

Setelah semua siap, Tantri segera mengajak kelima selir Tuan Frantzheof de Van Pierre lainnya kedalam, sementara Tuan Frantzheof de Van Pierre segera mengajak Gayatri untuk pindah duduk ke pondok kecil itu, tak lupa londo itu juga membawa botol kristal berisi anggur merah bersamanya.
Kembali semua pemuda tadi membereskan dan membersihkan meja besar itu.

Tuan Frantzheof de Van Pierre dan Gayatri tampak mulai mengobrol dengan akrab, sementara diluar didekat pintu gerbang itu Sancaka masih mencoba bersabar menunggu, walaupun pemuda itu tampak gelisah dan sudah mulai habis kesabarannya.

Gayatri tidak menyadari bahwa ada perubahan besar didalam dirinya, ketika sambil mengobrol itu Tuan Frantzheof de Van Pierre sesekali memuji dan tampak memandang dengan penuh nafsu kearahnya, gadis itu malah senang dan bangga.
Gayatri agaknya mulai terpikat oleh londo itu dan bahkan lama-kelamaan diapun dengan sadar membiarkan tangan Tuan Frantzheof de Van Pierre menggenggam dan membelai tangannya.

Tuan Frantzheof de Van Pierre setiap kali menambahkan minuman ke gelas gadis itu setiap itu pula mulai merapatkan duduknya kearah Gayatri.
Gayatri tahu itu akan tetapi sengaja pura-pura tidak tahu.
Dan ketika Tuan Frantzheof de Van Pierre mulai mendekatkan wajahnya dan mengecup bibirnya, Gayatri segera membalas.
Tuan Frantzheof de Van Pierre tahu benar bahwa dia tidak boleh terburu-buru kalau ingin mendapatkan hati gadis ini, dia berusaha memperlakukan Gayatri dengan lembut, semuanya dilakukan bertahap, sampai Gayatri mulai menikmati dan membiarkan saja perlakuan londo itu.

Terdengar suara berdebuk diikuti bentakan, “Lepaskan dia!!!”, bentakan keras itu mengejutkan Tuan Frantzheof de Van Pierre dan Gayatri, kiranya sudut pagar telah berdiri Sancaka dengan muka merah padam menahan amarah, pemuda itu telah habis sabar dan menyusup dan meloncat masuk lewat pagar belakang yang tingginya sekitar 3 meter dengan ketebalan sekitar lima puluhan centimeneter..
Ketika berada diatas pagar tadi pemuda itu mendapati tunangannya berada dalam pelukan Tuan Frantzheof de Van Pierre, pakaian gadis itu telah mulai terbuka, Gayatri tampak memejamkan mata menikmati ciuman-ciuman Tuan Frantzheof de Van Pierre di leher dan buah dadanya.

Gayatri hanya sebentar terkejut, kemudian dengan senyum sisnis gadis itu kembali merengkuh kepala Tuan Frantzheof de Van Pierre ke dadanya, membiarkan Sancaka yang menggeram marah menyaksikan kehadirannya tak diangap sedikitpun oleh Gayatri dan Tuan Frantzheof de Van Pierre yang langsung kembali menciumi dada gadis itu dengan penuh nafsu.

“Ibis keparat!!!”, jerit pemuda itu sambil berlari dan menerjang kedalam pondok itu.
Tuan Frantzheof de Van Pierre mendengus kesal dan segera berkelebat cepat menyambut serangan pemuda itu, tinju kirinya bersarang ke perut Sancaka dan kemudian ditangkapnya pinggang pemuda itu dan dilemparkan ke arah meja besar yang tadi dipergunakan untuk acara makan malam.

Tubuh Sancaka melayang terhempas ke atas meja besar itu dengan keras, “BRAKKK!”, meja itupun roboh terkena hempasan tubuh pemuda itu.
Sancaka tampak berusaha bangkit walaupun seluruh tubuhnya terasa sakit dan nafasnya sempat hilang tadi akibat pukulan Tuan Frantzheof de Van Pierre.

Kerasnya suara itu juga ikut mengagetkan keenam selir Tuan Frantzheof de Van Pierre yang sedang bemesum ria dengan pemuda-pemuda yang tadi melayani acara makan malam.

Yang pertama muncul adalah Sari, karena gadis itu memilih dapur untuk tempatnya melampiaskan nafsu dengan pemuda pilihannya.
Gadis itu tertegun melihat Sancaka yang berusaha bangkit berdiri itu, akan tetapi melihat isyarat Tuan Frantzheof de Van Pierre, diapun segera berkelebat menyambar ke arah Sancaka. Tangannya terayun kearah tengkuk pemuda itu.

Sancaka terkesiap dan hanya sempat melirik sekilas, “DORR!!”, terdengar letusan keras dan tubuh Sari yang sedang melayang itu tersentak dan jatuh terhempas keatas permukaan kolam.
Tubuh gadis itu tampak menggelepar didalam air kolam dengan dahi kepalanya pecah, warna merah dengan cepat menyebar dipermukaan kolam itu.

Tuan Frantzheof de Van Pierre menggeram marah dan membalikkan tubuh kearah asal tembakan, “DUARR”, letusan yang lebih keras terdengar diikuti suara berdesing, tubuh londo itu langsung terjengkang dan terhempas dengan keras ke tanah.
Kelengahannya yang cuma sedetik itu harus dibayar mahal oleh vampire tua itu, tampak sebatang harpun dengan sirip-sirip tajam menancap di dadanya, tepat dibagian jantung.
Darah vampire tua itu menyembur dengan kuat melalui lubang ditengah harpun itu, Tuan Frantzheof de Van Pierre yang sempat dengan sigap meloncat bangkit berdiri itu segera terhuyung-huyung kebelakang, darahnya yang dengan cepat mulai terkuras itu melemahkan dirinya.
Untung Gayatri segera menyambut tubuh londo itu dan membantunya duduk diatas tanah.

Tuan Frantzheof de Van Pierre berusaha mencabut harpun itu akan tetapi gagal karena tenaganya mulai melemah dan sirip-sirip harpun itu telah dirancang khusus menyulitkan usahanya.

Sancaka juga memandang kearah asal tembakan-tembakan itu, Van Helsing Jr tampak berdiri diatas pagar belakang itu dan tetap membidikkan senjatanya ke arah Tuan Frantzheof de Van Pierre, akan tetapi tidak meneruskan serangannya karena takut mengenai Gayatri.

“Sari!!!”, jerit Ratna yang baru saja keluar, gadis itu tadinya sedang panas-panasnya bercumbu di ruang makan ketika mendengar keributan di belakang.
“Kau harus membayar lunas kematiannya Sanca!!!”, jeritnya sambil berjongkok dan dengan cepat tubuhnya berubah wujud seperti Tantri dulu ketika akan menyerang Rianti malam itu.

Baru saja monster srigala jelmaan Ratna itu akan meloncat menyerang Sancaka, sesosok bayang berkelebat cepat memapas gerakannya, terdengar suara berdesing dan tampak kilatan sinar putih.
Sancaka merinding melihat monster itu tak jadi meloncat dan tampak berkelojotan, darah menyembur deras dari lehernya yang putus itu, kepalanya tampak menggelinding ditanah.
Disana berdiri Rianti yang telah kembali menyarungkan pedang samurai yang tadi dipergunakannya menebas kepala monster itu.

Keempat selir yang lain muncul keluar hampir bersamaan, terdengar Tantri membisikkan perintah kepada tiga selir yang lain, kemudian gadis itu melangkah maju kearah Rianti, kira-kira tiga meter dari Rianti gadis itu berhenti dan berdiri sambil memandang tajam ke arah Rianti.
Rianti balas memandang dan dapat merasakan bahwa Tantri yang ini bukanlah Tantri yang dulu. Diapun bersiaga.
Keduanya saling memandang tajam tanpa berkata sepatahpun.

Sama seperti Tantri, Wulan pun melangkah kearah Sancaka dan berhenti kira-kira tiga meter dari pemuda itu sambil memandang tajam mengawasi ke arah pemua itu.

Yuni dan Diah dengan cepat menuju kearah Tuan Frantzheof de Van Pierre dan Gayatri, Yuni berdiri dan mengawasi gerak-gerik Van Helsing Jr.
Ketika Van Helsing yang merasakah ancaman serangan dari Yuni segera mengalihkan bidikannya ke arah gadis itu, sementara Diah segera mengajak Gayatri untuk memapah Tuan Frantzheof de Van Pierre kembali kedalam rumah.

Melihat itu Rianti menyadari bahwa Sancaka berada dalam posisi yang paling lemah, diapun dengan perlahan mulai menggeser mendekat kearah Sancaka.
Tantri dengan waspada dan juga dengan pelan mengikuti gerak Rianti.
Wulan yang mendapat isyarat dari Tantri segera membantu Diah dan Gayatri supaya dapat lebih cepat membawa Tuan Frantzheof de Van Pierre kembali ke dalam rumah.
Setelah sampai didepan pintu, Wulan segera melangkah cepat tapi kali ini kearah Yuni, setelah Wulan berdiri samping Yuni terdengar kedua gadis itu saling berbisik, dengan berbarengan kedua gadis itu lari berpencar dan hampir bersamaan keduanya meloncat keatas menyerang ke arah Van helsing Jr.

Van Helsing Jr terkejut juga melihat kedua gadis itu nekat menyerang, tak punya pilihan lain dia harus memilih salah satu, diapun melepaskan tembakannya kearah Yuni, gadis itu berusaha memutar tubuhnya mengelak, tapi tak urung tembakan itu tetap mengenai bahunya.
Yuni segera berkelebat mundur dengan cepat ke arah Tantri.

Sementara Wulan dengan leluasa meneruskan serangannya, gadis itu segera mencengkeram kedua bahu Van Helsing Jr dan bermaksud menghempaskannya keatas tembok pagar itu, supaya mudah untuk menggigit dan menghisab darahnya.
Namun tiba-tiba sebuah tombak mencuat dari balik tembok itu dan menusuk memanggang tubuh gadis itu mulai dari pinggang kanan menembus dibawah ketiak kirinya.
Wulan menjerit kesakitan, akan tetapi jeritannya langsung terbungkam oleh sumpalan granat yang dibenamkan Van Helsing Jr ke mulutnya.
Van Helsing Jr segera menendang tubuh Wulan, tubuh gadis itu terhempas jatuh ke bawah, diikuti ledakan keras yang menghancurkan kepala gadis itu.

Van Helsing Jr berdiri kembali dan mengucapkan terimakaasih kepada Rianto, kiranya Van Helsing Jr naik keatas tembok itu menggunakan tangga dengan dibantu oleh Rianto, yang kemudian berjaga dibalik tembok diatas tangga itu.

Tantri dan Yuni yang melihat situasi mulai tidak menguntungkan mereka segera berkelebat mundur dan masuk kedalam rumah.

Setelah Rianto, Van helsing Jr, Rianti dan Sancaka berkumpul didepan pitu belakang itu, keempatnya dengan waspada dan berhati-hati mulai masuk guna mencari dan kalau dapat segera menghabisi Tuan Frantzheof de Van Pierre.

Akan tetapi sampai pagi keempat orang itu tidak dapat menemukan Tuan Frantzheof de Van Pierre, Gayatri dan ketiga orang selir londo itu.
Pagar depan masih terkunci dan tergembok rapat, tanda bahwa belum ada seorangpun yang keluar dari rumah itu.
Mereka hanya menemukan mayat lima orang pemuda yang telah menjadi korban keenam selir Tuan Frantzheof de Van Pierre semalam.
Sedangkan si mbok dan tukang kereta berhasil mereka temukan terkurung di kamar belakang yang terletak di dekat dapur.

Semuanya meyakini bahwa Tuan Frantzheof de Van Pierre dan Gayatri serta ketiga selir itu telah berhasil meloloskan diri melalui jalan rahasia, dan agaknya akan berusaha kembali ke perkebunan dimana Sancaka bekerja.

Akhirnya diputuskan bahwa mereka akan segera menyusul ke perkebunan itu, walaupun tak mungkin rasanya dapat mendahului musuh mereka itu, harapan mereka vampire tua itu belum pulih sepenuhnya ketika mereka menyerang nanti.

Yang masih membebani pikiran Sancaka adalah tadi sebelum masuk kedalam rumah, Gayatri sempat memandang tajam ke arahnya, gadis itu terlihat semakin benci melihat dirinya.
Sancaka menyesalkan terlibatnya Gayatri dalam permasalahan ini, tunangannya itu agaknya telah terseret semakin dalam tanpa mengetahui pokok persoalan yang sebenarnya.

****

Keempatnya tidak mengetahui bahwa Tuan Frantzheof de Van Pierre dan Gayatri serta ketiga selir itu bersembunyi diruang khusus melalui jalan rahasia di ruang bawah tanah, bahkan Tantri telah berhasil mencabut harpun yang ditembakkan oleh Van Helsing Jr, dan untuk mempercepat pemulihan Tuan Frantzheof de Van Pierre, ketiga orang selir itu telah memberi diri dihisap darahnya oleh Tuan Frantzheof de Van Pierre.