Cerita ini merupakan fiksi belaka. Segala nama tokoh dan tempat hanyalah karangan penulis saja. Jika ada kesamaan nama….salah sendiri kenapa punya nama kok pasaran
Dilarang keras mencontek (copy paste) cerita ini tanpa ijin penulis aslinya, setidaknya itu adalah bentuk penghargaan tertinggi untuk penulis (dihargai). Bagi yang berkenan memberikan komentar dipersilakan tetapi penulis tidak menerima comment berbentuk cibiran/makian/atau perkataan yang bersifat menggurui atau mengatur (sudah sering yang seperti ini soalnya) jika memang suka silakan baca, jika tidak suka yah silakan tidak membacanya
Akhir kata jika ada kesalahan tulis, penulis mohon maaf dan pengertiannya berhubung penulis sendiri masih amatiran
Cerita dibawah ini mengandung unsur perselingkuhan
Akhir kata silakan menikmati…

__________

Sequel dari Buku harian Anita

Tak terasa sudah satu tahun aku menjalin hubungan gelapku dengan pria bernama Agus ini. Dimataku dia semakin beharga saja dibanding sebelumnya. Cintaku pada Frans perlahan mulai berkurang dikarenakan jarangnya kami bertemu. Sebulan sekali kadang malah dua bulan sekali kami baru bisa bertemu karena sekarang dia sudah berada di luar pulau Jawa tepatnya bekerja di Riau di sebuah perusahaan pengolahan kayu.
Malam itu Agus datang dengan sepeda motornya menjemputku untuk melewatkan malam berdua. Kami biasa makan malam bersama kemudian dilanjutkan dengan mencari tempat untuk nongkrong berduaan. Kadang nonton film, ataupun sekedar hang out di luar, melihat pertunjukan musik di kafe di kota tempat kami bekerja itu, pergi ke mall dan tentu saja tak jarang kami melewatkan malam berdua di sebuah kamar, kamar kost milik mas Agus. Aktivitas didalam sudah dapat ditebak, mulai dari sekedar ciuman hingga petting dan berlanjut ke bermain cinta.
“Malam ini kita kemana mas?” tanyaku pada mas Agus. Dia hanya senyum-senyum saja lalu mengajakku pergi tanpa memberi tahu tempat tujuan kami. Kami terus menyusuri lorong kota hingga akhirnya sampai di sebuah rumah yang agak besar di daerah elit di kawasan dalam kota. “Lho kok kesini? Memangnya ada apaan di sini?” tanyaku penuh selidik.
Mas Agus lalu menggandengku memasuki rumah tersebut dan ternyata di rumah tersebut sudah ada beberapa pasang muda-mudi yang sedang asyik mengobrol. “Udah lama nungguin?” sapa mas Agus kepada mereka.
“Yah lumayan lah. Eh ini cewekmu Gus?” tanya seseorang pria berwajah lumayan ganteng dan berambut sedikit gondrong. Namanya Ridwan yang ternyata teman dari mas Agus. Didekatnya terdapat beberapa orang lagi dan yang membuatku terkejut adalah diantaranya terdapat beberapa orang yang kukenal. Metty salah seorang rekanku di perusahaan tempatku bekerja dan Mulyadi yang biasa disebut Mul yang merupakan bawahanku di kantor.

“Wah akhirnya Nita jadian juga sama mas Agus yah….hahaha…” canda mereka berdua. Aku hanya tersipu malu karena mereka tahu kalau aku sebenarnya sudah mempunyai kekasih sah, yaitu Frans.

Kamipun mengobrol panjang lebar didalam dan sekitar satu jam kemudian muncul seseorang membawa kue ulang tahun yang dihiasi lilinnya. Ini adalah perayaan ulang tahun Metty teman sekantorku yang ke 29 dan special buatnya karena kue tersebut dibuat oleh suaminya langsung. Suaminya seorang chef di sebuah rumah makan skala internasional di Jakarta. Bagi beberapa orang mungkin perayaan ulang tahun dengan kue ultah sepertinya kekanak-kanakan atau terkesan old fashioned tapi tidak berlaku bagi pasangan yang sedang dimabuk cinta ini. Memang mereka baru menikah dua tahun lamanya dan belum dikaruniai seorang anakpun.
Perayaan berlangsung cukup meriah walaupun Cuma ada beberapa pasangan disana. Sekitar jam 10 malam banyak yang pamit pulang kecuali dua pasang orang yaitu aku dengan mas Agus dan Mulyadi dengan pacarnya Erni. Mereka berdua tinggal dikota lain dan terlalu malam untuk pulang jadi disuruh menginap oleh Metty dan suaminya, sementara itu motor mas Agus kebetulan sedang sial (mogok) jadi terpaksa kami harus menginap karena tidak mungkin ada bengkel yang buka di jam 10 malam seperti ini.
“Berhubung kamar kosong hanya ada dua maka kalian atur sendiri lah ya. Toh udah pada gede-gede, gak perlu malu-malu lagi hehehe…” canda Metty sambil melirik kearahku.

Saat aku akan mengajak Erni untuk sekamar denganku ternyata Mulyadi sudah mendahuluiku dan mengajak Erni sekamar dengannya. Sekarang tinggal aku dengan mas Agus seorang. Metty tambah tertawa ngakak dengan melihatku yang salah tingkah. Aku tahu kalau sebenarnya bukan masalah besar jika aku tidur sekamar dengan mas Agus karena memang pada dasarnya aku sudah pernah berhubungan intim dengannya dan bahkan sering kali tetapi berhubung ini adalah rumah Metty yang notabene adalah teman sekantorku maka aku jadi sungkan juga dibuatnya.
Saat aku menoleh kearah mas Agus untuk minta pendapat ternyata dia sudah masuk kekamar, mau tak mau aku juga masuk kekamarnya juga. “Aduh si Metty itu benar-benar pengin ngerjain kita yah mas….brppp…!!!” belum selesai aku bicara, mulutku sudah disumpal dengan ciuman dahsyat dari bibir mas Agus. Ciuman yang bertubi-tubi itu seolah tak memberikan kesempatan bagiku untuk menarik nafas dan berhenti.
Tubuhku dibekapnya dipeluknya dengan erat sehingga buah dadaku seolah terhimpit oleh dadanya yang hangat. Waktu itu memang aku mengenakan baju terusan warna ungu tanpa kerah dan dengan panjang pakaian sampai 5cm dibawah lutut dengan bagian pinggang yang diikat dengan sabuk yang merupakan satu stel dengan pakaian yang kukenakan itu. Sepintas terlihat seperti daster tetapi lebih modis sehingga sangat layak untuk dikenakan diluar rumah.
Ditariknya sabukku hingga lepas dan tanpa menunggu lama lagi kedua tangannya sudah menyusup kebagian bawah pakaianku yang kemudian merembet keatas kearah pantatku. Aku yang waktu itu mengenakan celana dalam tipis warna hitam dapat merasakan remasan kedua tangan mas Agus pada kedua bongkahan pantatku. Sesekali jari tengahnya diarahkan untuk menggesek dan menusuk-nusuk vaginaku yang masih berbalutkan celana dalam.
Mas Agus tidak hanya berhenti disitu saja, dengan penuh nafsu kedua tangannya menyibak gaun terusanku hingga sekarang kedua tangan nakalnya sudah berhasil mencengkeram payudaraku ini. “Mas, ntar kalau Metty kesini…” aku berusaha mencegah keganasan nafsu mas Agus namun sepertinya dia sudah tidak peduli lagi dan lagi dia tahu kalau aku sebenarnya sudah terangsang. Celana dalamku sudah basah akibat remasan tangannya pada pantat dan dadaku. Aku tak tahan lagi dan menutup pintu kamar yang tadinya baru separuh tertutup.
Mas Agus tersenyum melihatku akhirnya menutup pintu kamar, “Takut kalau Metty lihat kita? Atau takut kalau dia ntar pengen ikutan?” candanya sambil menciumi leherku.
“Nggak lucu ah mas. Nanti kalau dia lihat bisa ramai sekantor. Dia khan bisa ngomong ke anak-anak lain nanti, aku bisa malu mas.” Tegurku namun mas Agus hanya ngakak kecil, sepertinya dia tidak khawatir sama sekali. Memang hubunganku dengan mas Agus sudah menjadi bahan gossip di kantorku akhir-akhir ini karena keakraban kami tentu saja.
“Nita…Nita. Gitu aja kok takut. Toh semua orang juga sudah tahu kalau kita berhubungan. Santai aja lah Nit.” Dia berusaha menenangkanku dari pikiranku yang tidak-tidak.
Berikutnya giliran kedua tangannya yang berbicara dengan memilin-milin puting susuku. Aku mendesah menggelinjang seiring dengan putaran jemari nakal mas Agus.
Untuk yang kesekian kalinya aku tidak dapat berpikir rasional lagi dan nafsuku terlepas bebas tak terkendali. Aku menikmati tiap jengkal kenikmatan yang diberikan oleh mas Agus kepadaku. Tanganku juga mulai turun mengarah ke celana panjangnya. Dengan cekatan aku melepaskan sabuk dan resleuting celana jeansnya itu sehingga celana itu terjun bebas. Yang tersisa tinggal celana dalam putih yang membungkus batang kejantanan pria ini.
Aku mengelus celana dalam tersebut dan dalam hitungan detik batang kemaluan mas Agus sudah membesar dalam keadaan siap tempur. Lalu kubuka celana dalamnya dan kujatuhkan kebawah kakinya. Walaupun bukan pertama kalinya aku melihat kejantanan pria ini tetapi tetap saja aku tertegun dibuatnya. “Nit…” mas Agus memandangku dan aku tahu apa yang dia minta.
Aku berjongkok didepannya dan dengan perlahan aku genggam penis besarnya itu untuk kukocok perlahan dengan tanganku sementara tanganku yang lain mempermainkan buah pelirnya dari arah belakang. Mas Agus menggelinjang tidak karuan mendapat perlakuan special dariku ini.
Perlahan-lahan ujung kemaluannya sudah mulai basah dan kejantanannya pun mulai memerah tanda sudah ereksi maksimal plus dengan terangsang berat. Kedua tangan mas Agus mendorong kepalaku untuk maju, aku tahu apa yang dia mau. Biasanya hal ini hanya aku berikan kepada kekasihku saja (Frans) namun untuk kali ini mas Agus memintanya.
Bibirku terbuka sedikit demi sedikit dan dengan perlahan batang kemaluan mas Agus mulai masuk kedalam rongga mulutku. Perlahan-lahan dia memaju-mundurkan penisnya seolah-olah sedang bercinta dengan mulutku.
Entah berapa lama aku melakukan oral seks kepada pria ini, selanjutnya dia membopongku ketempat tidur dan mulai melucuti seluruh pakaianku. Sekarang kami benar-benar telanjang bulat berdua di kamar ini.
Dia menciumi bibirku lagi dan turun keleher selanjutnya ke buah dadaku yang tak lama kemudian penuh dengan tanda cupang merah. “Nit, aku masukin sekarang yah?” katanya padaku.
Aku hanya mengangguk pelan, lalu dia melebarkan kedua pahaku dan dengan dua jarinya dia membuka bibir vaginaku yang sudah basah itu. Dengan lembut dia mengarahkan batang kejantanannya kearah bibir vaginaku yang sudah membuka itu. Perlahan aku merasakan tusukan benda hangat yang keras di liang kemaluanku. Mas Agus terlihat berusaha memasukkan tonggak kebesarannya itu semakin dalam menembus rongga liang kewanitaanku.
“Mas…akhhh…” desahku tak karuan ketika seluruh penis mas Agus berhasil masuk kedalam liang vaginaku dengan sempurna. ”Mas sodok aku mas! Aku pengen penisnya mas Agus nusuk-nusuk didalam punyaku…” pintaku sambil mendesah tiap kali ciuman pria ini mendarat di leher atau payudaraku yang tak lepas dari jamahan tangannya. Dulu aku tidak pernah membayangkan bahwa suatu saat nanti aku bakal meminta pria lain untuk meniduriku bahkan memintanya untuk menjarah vaginaku dengan penis miliknya.
Mas Agus lalu mulai memompa batang kejantanannya didalam kemaluanku. Perlahan-lahan hingga liang vaginaku yang masih sempit itu dapat menerima ukuran penis mas Agus yang besar. “Aku cepetin sekarang yah?” ucapnya sambil mempercepat sodokan penisnya. Sekarang cairan kemaluan kami berdua yang sudah bercampur menjadi satu di liang senggamaku itu mengalir keluar dan meninggalkan sedikit busa putih akibat sodokan-sodokan penis mas Agus yang cepat ditambah lagi dengan variasi gerakan penisnya yang kadang memutari rongga vaginaku membuatku semakin kalang kabut saja menahan hawa nikmat.
Dalam posisi konvensional ini mas Agus membawaku ke jurang orgasmeku yang paling dalam. Entah mengapa aku dapat merasakan orgasme yang lebih berkualitas dibanding saat aku bersama dengan pacarku, Frans. Kedua tungkai kakiku diangkat oleh mas Agus dan sekarang dia memompa penisnya secara vertikal sehingga membuat tusukannya semakin dalam. Kedua lututku sampai menyentuh payudaraku seiring dengan semakin buasnya sodokan tonggak kejantanan mas Agus di kemaluanku. Desahan demi desahan menghiasi percintaan kami ini seolah meniadakan kesan malu berselingkuh di rumah teman sendiri. Bercinta dia tempat tidur mereka dan bahkan sudah tidak peduli lagi jika ada yang melihat perselingkuhan kami ini.
“Nita, kamu benar-benar menggairahkan…aku saying kamu Nit.” Ucapnya sambil terus mempercepat genjotannya atas tubuhku. Aku tidak tahu apakah yang diucapkannya itu betul atau tidak tetapi yang jelas ucapan mas Agus itu telah meningkatkan birahiku lagi ke titik puncak. Sekali lagi aku mencapai orgasme dan hanya selang sedetik kemudian, mas Agus medekapku erat dan menusukkan penisnya sedalam-dalamnya lalu menegangkan ototnya. Dia mencapai orgasmenya di dalam kemaluanku.

“Nit…akhhh…” racaunya ketika sperma miliknya memancar dari ujung penis yang dia bangga-banggakan itu membasahi rongga vaginaku dan meluber di dalam vaginaku. Walaupun ini bukan masa suburku tetapi selalu saja ada rasa khawatir jikalau nanti aku hamil, pastilah Frans tidak akan mau bertanggung jawab karena setiap kali kami berhubungan intim selalu menggunakan kondom.
Mas Agus lalu mencabut kemaluannya dari vaginaku dan rebah disampingku sambil mencium keningku dengan lembut. “Makasih Nit.” Ucapnya pelan. Terima kasih untuk apa? Apakah karena pelayanan ‘kamar’ yang kuberikan atau karena rasa sayangku kepadanya? Sampai hari itu aku masih belum mengerti.