Disclaimer
Semua cerita ini bukan berasal dari kisah nyata, mengenai segala bentuk tulisan didalamnya tidak dimaksudkan untuk melecehkan, mengejek, merendahkan ataupun menyinggung pihak tertentu melainkan hanya bersifat informasi narasi dari peristiwa yang terjadi. Sekali lagi segala bentuk tulisan yang menyinggung suku, etnis, golongan, ras, agama atau pihak tertentu bukan bermaksud untuk menyudutkan atau memberikan penilaian tetapi hanya untuk kepentingan penceritaan dan penulisan agar sesuai dengan jalan cerita yang orisinil.
Akhir kata saya ucapkan terima kasih karena telah membaca thread ini dan jika ada kesalahan penulisan, penceritaan, analogi ataupun kesalahan lain, penulis mengucapkan permintaan maaf dan terima kasih.

================================================== =====

Kejadian ini berlangsung 2 tahun yang lalu. Namaku Adi, saat itu aku berdomisili di kota Semarang. Umurku 22 tahun sekarang dan aku seorang pria dengan rambut berombak dan kulitku lumayan putih.
Kejadiannya berlangsung saat aku sedang habis broken sama pacarku. Setelah 4 bulan kami putus dan akhirnya dia memilih teman satu kostku yang juga teman kuliahku untuk menjadi penggantiku. Sore itu, aku sedang enak-enaknya tidur di kamar kostku dan tiba-tiba ada suara ketukan pintu. Kubuka dan aku terkejut bahwa yang datang adalah Wati mantan pacarku.
“Wati….ngapain kamu kesini? Maksudku, ada keperluan apa?” aku sedikit gugup dibuatnya. “Ehm..emang tidak boleh yah aku kesini?” tanyanya sambil senyum-senyum. Gadis yang tingginya sebahuku itu benar-benar lain dari biasanya. Wajahnya selain tambah putih juga buah dadanya terlihat semakin besar atau memang bajunya yang kelewat seksi hingga lekuk tubuhnya terlihat.
Setelah kami ngobrol panjang lebar, akhirnya aku baru tahu kalau dia telah putus dengan pacarnya sebulan yang lalu dan sekarang di ingin agar bisa balik lagi denganku. Setelah kupikir-pikir, tidak ada salahnya juga menerimanya kembali, toh dulu yang minta putus duluan juga aku.
Selang satu minggu kemudian, aku dan Wati berdua di kamar. Entah setan mana yang merasukiku, saat itu juga aku mengunci pintu kamar dan mendekapnya erat kemudian menindihnya di kasur. Seperti harimau menerkam mangsanya, aku langsung mencumbui Wati seraya tanganku melucuti seluruh pakaiannya. “Wati, aku benar-benar tidak tahan lagi. Jangan menolakku yach…” seraya tanganku melepas kancing bajunya. Herannya dia tidak melakukan perlawanan sama sekali, berbeda dengan yang dulu. Terus terang saja selama aku pacaran dengan dia hanya sebatas mencium bibirnya saja. Tak lama kemudian terlihat payudaranya yang putih dibalik branya yang bewarna pink. Ukurannya 34 B memang tidak besar tetapi cukup membuatku sangat terangsang karena selama ini aku tidak pernah melihatnya, jangankan melihat melirik saja belum pernah kulakukan. Lalu kusingkapkan roknya dan terlihat paha putihnya yang dibalut dengan celana dalam warna pink keunguan.
Sembari mulut kami berpagutan, kubuka juga bajuku dan celana pendekku. Sekarang kami berdua hanya mengenakan pakaian dalam. Dengan penuh nafsu kuremas buah dadanya dan saat itupula dia menggelinjang keenakan. Lalu kubuka cd dan bra nya hingga terlihat payudaranya yang mencuat tanpa halangan lagi dan kurasakan belahan pahanya sudah mulai sedikit basah. Bulu-bulu halus berderet dengan rapi menghiasi vagina milik Wati. Ciumanku langsung kuarahkan kebuah dadanya dan tanganku memainkan payudaranya yang lain dan juga liang vaginanya. Wati pun melenguh keenakan dan digerakkan pahanya mengikuti irama permainan jariku. Aku sendiri heran kenapa dia sampai bisa seliar itu, padahal sebelumnya dia termasuk orang yang pendiam sekali dan cukup alim menurutku.
“Wat. Aku sudah nggak tahan lagi nih.” Kataku pelan dan diapun menjawabnya dengan anggukan, “Aku juga Di.” Lalu dia memelorotkan celana dalamku dan dimintanya aku berdiri lalu diciuminya penisku yang sudah mulai membesar. Selang satu menit kemudian dikulumnya seluruh bagian penisku tanpa sisa sembari dimaju mundurkan dengan mulutnya seraya lidahnya bermain diujung penisku. Sensasi ini sangatlah luar biasa tetapi juga membuatku menjadi bingung, dari mana dia dapat trik ini. “Wati. Dari mana kamu belajar seperti ini?” kataku padanya. Dia terdiam dan melepaskan kulumannya dari penisku, sebenarnya aku tidak rela kenikmatan itu terhenti tetapi aku juga ingin mendengar jawaban darinya. Lalu dia bercerita bahwa setelah putus denganku dan berpacaran dengan teman kostku, setelah 1 bulan pacaran dia dan pacar barunya telah melakukan hubungan intim. Dan setelah dia sudah tidak perawan lagi, dia dipaksa untuk belajar gaya-gaya dalam berhubungan sex. “Jadi kamu sudah pernah main sama dia?” tanyaku dengan nada geram campur kecewa. Wati hanya tertunduk diam, “Maafkan aku Di, tapi mau bagaimana lagi toh sudah terlanjur. Aku janji kasih kamu apapun yang kamu mau termasuk tubuhku.”, katanya sendu. Cih kamu kan sudah tidak perawan lagi jadi buat apa persembahan tubuh segala, umpatku dalam hati. Ternyata aku adalah korban rayuannya selama ini.
Aku pendam rasa marah dan kecewaku lalu aku rebahkan tubuh Wati di kasur dan langsung kuarahkan penisku memasuki vaginanya yang sudah mulai basah oleh cairan cintanya. Sembari tangan kiriku membimbing penisku masuk vagina milik Wati, mulutkupun mencumbu leher dan bibirnya. Dalam hitungan detik kepala penisku sudah memasuki bibir vaginanya. Dia melenguh dan matanya terpejam dan seluruh wajahnya memanas. Sepertinya dia sudah sangat terangsang. Lalu kusodokkan lagi penisku dan lagi hingga seluruhnya amblas kedalam vaginanya, tetapi anehnya sekalipun dia sudah tidak perawan lagi tetapi penisku mengalami sedikit gangguan saat memasuki liang vaginanya. Sembari kugenjot liang vaginanya dengan penisku, aku mencumbu bibir dan lehernya, sementara kedua tanganku bergerilya di payudaranya. “Wat. Besar mana penisku sama punya Ando mantanmu itu?”, tanyaku iseng. Tak kusangka dia menjawab, “Besar milikmu say, punyamu besar sekali.” Sekarang aku paham mengapa penis mengalami gangguan pada saat masuk tadi. Selang lima menit, aku membalik tubuhnya dengan posisi nungging dan sekarang kami bercinta dengan posisi doggy style. “Di, terus Di…….aku dah pasrah nih….aku sudah gak tahan mau keluar..!!!”, dia melenguh keenakan sembari matanya setengah terpejam sayu.
Kupercepat genjotanku lalu kubalik lagi posisinya agar terlentang dibawah dan kedua kakinya aku angkat dan kutahan dengan bahuku. Lalu kuturunkan tubuhku hingga lutut milik Wati menempel dengan payudaranya. Kupompa vaginanya sekeras mungkin lalu diapun berseru lirih, “Di aku keluar …!!!”, tetapi tak kupedulikan seruannya dan aku semakin keras mengentot dia dan akhirnya kubenamkan penisku sedalam-dalamnya dalam liang vaginanya dan akhirnya keluar juga spermaku didalam vaginanya. “Ahh…Wat aku keluar…!” aku mengejang lalu telungkup lemas diatas tubuhnya.

“Aku gak nyangka ternyata pelajaran yang kamu dapat dari Ando cukup hebat juga.”, kataku padanya. Dia tersenyum kecil dan saat aku mulai mencabut batang kemaluanku, dia memegangnya sembari terus memainkannya. “Ternyata kalau pas lagi lemes gak gede-gede amat yah.”, senyumnya yang nakal segera mengembang dan sedetik kemudian dia memasukkan penisku kedalam mulutnya dan mulai mengulumnya dengan liar. Sembari memaju mundurkan penisku dimulutnya, lidahnya ikut bermain di ujung batang kemaluanku. Dan akhirnya peniskupun bangkit berdiri lagi. “Masih bisa ereksi? Hebat punyamu Di. Punya Ando cuman sekali pakai aja.”, katanya manja.

Tanpa pikir panjang lagi segera aku memasukkan penisku lagi kedalam liang senggamanya dan kali ini aku lakukan dengan cepat. “Akhhh…pelan-pelan Di.”, serunya lirih. Kugenjot batang kemaluanku dengan kecepatan penuh dan 15 menit kemudian aku merasa sperma ku akan keluar dan kucabut dari vagina milik Wati. “Wat….kulum nih!”, perintahku padanya dan diapun menurutinya dan akhirnya spermakupun tumpah di mulut kecil itu.
“Achh…”suara lenguhanku disertai dengan semprotan cairan air mani yang akhirnya tumpah di mulut Wati. Cairan putih lengket itu menyiram mulut , lidah dan sebagian wajahnya. Lidahnyapun menyapu penisku hingga bersih.

Dua hari berikutnya, temanku dari Jogja datang dan menginap di kostku. Aku bercerita tentang pengalamanku kepadanya. Dia kaget dan juga menjadi tertarik, bahkan dia mulai bertanya-tanya padaku apa cewek bernama Wati itu memang bisa ‘dipakai’. Spontan timbul ide nakal dalam benakku untuk mengadakan pembalasan atas perlakuan Wati yang pernah menipuku dan menjadikan teman kostku menjadi pacarnya. Akhirnya kubuat rencana untuk mengerjai cewek liar tersebut. Aku telepon hp nya dan menyuruhnya datang ke kostku saat itu juga.
Aku mengajaknya minum-minum, sejujurnya aku sendiri juga jarang sekali menenggak minuman keras. Setelah kondisinya sudah setengah tiang, segera kucumbu dia habis-habisan dan diapun membalasnya dengan tidak kalah hotnya. Setelah dia setengah telanjang, tinggal bra dan cd nya saja yang masih melekat ditubuhnya, temanku yang sebelumnya sembunyi didalam lemari bajuku mulai keluar dan ikut menggerayangi tubuh Wati.
“Apa-apaan ini Di?” Wati berontak keras tapi apa daya, dia sudah kondisi setengah mabuk sehingga tenaga buat melawanpun sudah tidak ada lagi. Meskipun pukulan-pukulan dan dorongan ringan mendarat di tubuh temanku itu, dia tidak menyerah dan bahkan semakin bernapsu untuk mengerjai gadis ini. “Di aku khan pacarmu, kenapa kau biarin temen mu pegang-pegang aku?”, serunya lirih. Dengan mendengus ku menjawabnya, ”Bukankah Ando juga dulunya temen kostku, tapi lo biarin buat nyentuh tubuh lo. Ini temen aku yang pengin ngerasain keliaran lo.” Sahutku sambil melucuti bra nya sedangkan temanku nampaknya berhasil memelorotkan celana dalamnya.
Sejurus kemudian, temanku mulai mencopot seluruh pakaiannya, sementara aku sendiri memang sudah tinggal bercelana dalam saja dan sedang menggeluti Wati. “Di, gw duluan yah cobain?” seru temanku itu sambil membuka kedua paha Wati. Nampaknya dia sudah tidak tahan lagi. Aku mengangguk setuju dan tak lama kemudian penis temanku yang cukup panjang itu mulai menerobos liang kenikmatan yang dimiliki oleh Wati. “Jangan Di…please…jangan!!!” tapi temanku tidak peduli dengan rintihan Wati tersebut.
Bless…akhirnya penis temanku tertanam semua di liang senggama milik Wati dan nampak juga Wati meneteskan air matanya. “Bah…pakai acara nangis segala, bukannya lo emang sering tidur ma cowok laen.” Seruku kepadanya dan saat itu juga temanku mulai menyodok-nyodokan penisnya kedalam vagina Wati yang sudah mulai basah karena cumbuanku sebelumnya. Nampaknya temanku benar-benar sudah kesetanan, maklum ini pertama kalinya dia bercinta dengan perempuan.
“Di…..”, seruan Wati tenggelam dalam deru nafasnya yang semakin menggebu. Entah perasaan apa saja yang hinggap di benaknya sekarang. Sementara temanku mengangkat kedua paha Wati dan tumit Wati disandarkan pada pundaknya. Semakin ganas dia menindih ‘pacar sementara’ ku itu. Penisnya naik turun seirama dengan desah nafasnya yang aku yakin dikarenakan karena sensasi yang selama ini belum pernah dia alami. Mata Wati berkaca-kaca tetapi tetap saja dia tidak bisa menyembunyikan rasa nikmatnya dari sodokan demi sodokan yang dilakukan batang kejantanan temanku itu. Lima menit kemudian Wati mulai menandakan bahwa dia sudah mencapai klimaks sementara temanku masih bertahan.
Mata Wati terpejam dan dia melenguh pelan,” ahhh…..Di..”. Kedua kakinya mengapit paha temanku dan beberapa saat kemudian tubuhnya melengkung kebelakang sambil kedua tangannya memegang lengan temanku itu dengan kencang. “Bos, pacar lo ini bener-bener seksi kalo pas dikerjain yah. Gw lepasin diluar pa didalam neh?” tanya temanku sambil mempercepat genjotannya. Nampaknya dia sudah akan mencapai klimaks juga, “ Serah lo mau dikeluarin dimana.”, seruku padanya. Tak lama kemudian temanku mencabut penisnya dan menyemprotkan cairan maninya keatas payudara Wati. Sperma yang sangat banyak itu menutupi hampir separuh dari payudara kanan milik Wati.
Melihat Wati tak berdaya seperti itu benar-benar membuatku terangsang hebat. Kucopoti seluruh pakaianku dan mulai kuarahkan penisku kearah vaginanya yang masih basah akibat cairan cintanya yang keluar tadi. Matanya masih terpejam seolah-olah masih mengingat apa saja yang baru dia lakukan barusan dengan temanku. Setelah separuh penisku masuk baru dia membuka matanya.
“Di, udah…aku dah capek. Di, please.”, rintihnya kepadaku namun tak kupedulikan dan kuperdalam tusukanku hingga seluruh batang kejantananku masuk ke liang senggamanya. Dia kembali melenguh pelan dan kembali dia merasakan sodokan-sodokan penis pria didalam kemaluannya.
“Ohh….Achh.”, lenguhannya semakin lama semakin aku terkendali. Wati kukerjai dengan berbagai macam gaya sembari aku pamerkan kebolehanku menggarap gadis ini kepada temanku yang masih memperhatikan ulah kami di sampingku. Setelah 20 menit lamanya aku tumpahkan seluruh spermaku kedalam vaginanya saat kami dalam posisi doggy style.
Nampaknya gairah temanku kembali naik dan kembali dia mengerjai Wati untuk 15 menit kedepan. Setidaknya hingga jam 10 malam, kami berdua sudah mengerjai perempuan itu sampai dengan 7 kali atau 8 kali, maklum aku sudah tidak begitu ingat berapa tepatnya.