FINAL FANTASY 7
(XXX Stories)

Disclaimer:
Segala macam cerita yang berada disini disadur dari Final Fantasy 7 ®. Walaupun demikian, cerita ini tidak sama dengan cerita orisinil Final Fantay 7 ® jadi jika ada pembaca yang menjadi fans atau penggemar Final Fantasy 7 ® harap jangan marah ya…karena semuanya akan ditulis ala hentai menurut daya kreatif penulis yang masih harus banyak belajar ini. Akhir kata silakan menikmati dan jika ada salah kata penulis mohon maaf dan bagi yang sudah membaca silakan memberikan comment jika ada waktu. Segala macam comment yang membangun diterima, apalagi jika ada yang mau memberi thanks.

Sincerely.
de Squall

1st Chapter
Sector 6 Reactor

Midgar, sebuah kota yang penuh dengan mesin. Sebuah kota dengan tenaga Mako sebagai penggeraknya.dan Shin-Ra sebagai penguasanya. Midgar, nama kota yang diambil dari sebuah legenda kuno mengenai sebuah daratan yang penuh dengan kemakmuran karena selalu dijaga oleh para dewa dilangit.

Kota Midgar merupakan kota terbesar di di Eastern Continent, benua bagian timur dari planet Gaia. Kota berbentuk seperti piring raksasa dari besi ini berdiri kokoh berkat kekuatan perekonomiannya yang mendominasi seluruh Estern Continent. Kota ini terbagi menjadi tiga lapisan. Lapisan teratas merupakan tempat para penduduk kelas atas tinggal di apartemen-apartemen mewah mereka dan salah satunya adalah para pejabat Shin-Ra.
Lapisan kedua merupakan tempat dimana reactor-reaktor dibangun dan juga merupakan daerah industri dan militer dengan tingkat polusi tertinggi, di sini juga dibangun sambungan rel kereta api yang dibangun mengelilingi kota Midgar dan menghubungkan tiap distrik di Midgar. Lapisan ketiga yang paling bawah urutannya adalah tempat yang jarang mendapatkan sinar matahari dan berpolusi terburuk karena mendapatkan efek polusi dari kedua lapisan diatasnya. Di lapisan terbawah ini adalah tempat para warga yang kurang beruntung, mereka yang hidup di rumah-rumah dikawasan kumuh yang disebut The Slum oleh para pejabat Shin-Ra.
Tidak seperti biasanya, di sektor 6 terdapat keributan. Terlihat dipintu masuk reaktor energi Mako di sektor ini terdapat dua mayat prajurit Shin-Ra tergeletak diseberang rel kereta api yang dibangun di samping reaktor.

Dari dalam reaktor tiba-tiba muncul sebuah bunga api yang sangat besar dan diikuti dengan ledakan dahsyat dari reaktor tersebut yang akhirnya meluluh lantakkan separuh lebih reaktor Mako di sektor 6.
Di distrik yang sama di daerah komersial terlihat seseorang pemuda berambut pirang sedang berlari kencang dan tanpa sengaja menabrak seorang gadis pembawa bunga. “Ups…maaf.” Kata gadis itu walaupun itu bukan salahnya.
Pemuda itu menengok, “Aku yang salah. Sudahlah.” Katanya kepada gadis itu sembari membantunya bangun dari jatuhnya.
Gadis itu menatap dalam kearah mata pemuda itu dan bertanya, “Ada apa yang terjadi disini? Kenapa banyak orang yang berlarian?” tanyanya yang lalu mengalihkan pandangan matanya kearah bangunan yang terbakar atapnya.
Pemuda berambut pirang ini memberikan keranjang bunga yang tadi ikut jatuh kepada sang gadis dan berlalu begitu saja. “Sebaiknya kau cepat pergi dari tempat ini karena situasi saat ini berbahaya.” Serunya sebelum dia menghilang dari pandangan gadis itu.
Sepuluh menit kemudian di sebuah gerbong barang di kereta yang sedang melaju kencang terlihat 4 orang sedang bercakap-cakap serius.
“Sial! Dia tidak berhasil lolos.” Seru seorang pria bertubuh kekar dan berkulit hitam. Pria ini sangat mencolok karena bukan hanya tubuhnya yang besar dan hitam tetapi juga karena tangan kanannya buntung dan diganti dengan sepucuk senapan kaliber tinggi, atau lebih tepatnya gatling gun bukan senapan. Rambut lurus dan dipotong cepak ala tentara ditambah dengan tato yang menghiasi lengannya membuat pria ini semakin seram saja.
“Hei Barret. Mungkin saja dia akan menunggu kita di slum.” Sahut salah seorang pria bertubuh agak gemuk dan bertopi. Pria ini memanggil pria bertangan senapan itu dengan sebutan Barret. Dialah Barret Wallace, pemimpin dari anggota pemberontakan terhadap Shin-Ra yang bernama Avalanche. Sementara pria gemuk itu bernama Biggs. Adapun dua orang yang lain disana adalah satu pria dan satu gadis berusia 19 tahun. Pria itu bernama Wedge, bertubuh agak kurus dan jarang berbicara namun sangat setia kawan sementara sang gadis bernama Jessie, seorang gadis manus ahli mesin dan alat-alat mekanikal lainnya termasuk komputer dan detektor keamanan.
“Bagaimana kalau dia mati tertembak atau tertangkap? Akhh…aku masih berhutang budi padanya ketika dia menyelamatkanku dari ledakan di reaktor itu.” Jessie menimpali omongan Biggs barusan. Sementara itu Wedge hanya diam seperti biasa.
“Shit! Aku tak percaya seorang anggota Soldier kelas 1 bisa mati semudah itu. Sepertinya Shin-Ra terlalu melebih-lebihkan promosi mereka mengenai anggota Soldier yang mereka latih.” Seru Barret geram sembari memukul dinding gerbong.
“Maaf mengecewakanmu Barret. Tetapi memang aku tidak mudah mati, Soldier maupun bukan. Lagipula aku tak akan mati sebelum kau memberikan uang pembayaran terhadap jasaku.” Seru seseorang yang tiba-tiba melompat masuk kedalam gerbong. Yups, orang itu adalah seseorang yang ditunggu mereka berempat. Pemuda berambut pirang yang tadi sempat menabrak gadis penjual bunga. Dialah Cloud Strife, anggota Soldier kelas satu di Shin-Ra, atau lebih tepatnya mantan. Sekarang dia sudah keluar dari kesatuan dan menjadi buronan di beberapa tempat di Eastern Continent.
“Sialan! Kadang aku berharap kau mati saja. Semua yang kau bicarakan hanya mengenai uang tak ada yang lain. Apa kau tak sadar planet ini sekarat tolol.” Seru Barret yang lalu berpindah menuju ke gerbong penumpang. Wedge dan Biggs kemudian mengikutinya sementara itu Jessie masih diam disana dan setelah kedua rekannya yang lain menghilang dibalik pintu, dia mendekati Cloud yang masih berdiri didekat pintu barang dan menutup pintu itu.
“Aku masih belum mengucapkan terima kasih kepadamu.” Kata Jessie kepada Cloud. Pemuda ini mendekati Jessie yang kala itu masih menggunakan seragam teknisinya.
“Well, apa yang akan kau lakukan untukku Jessie? Tentu saja karena aku telah menyelamatkan nyawamu. Jika tidak mungkin kau masih terjepit di jeruji escalator di reaktor dan ikut dalam ledakan besar itu.” Sahut Cloud sambil mempermainkan rambut ikal Jessie yang bewarna coklat tua itu.
Saat Jessie masih dalam kegalauan, bibir Cloud tiba-tiba mengecup bibir Jessie. Gadis manis ini terkejut. “Cloud…kau…” dia tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
“Anggap saja ini adalah kencan kita. Anggap saja ini pembayaran dari usaha penyelamatanku. Menyenangkan kedua belah pihak bukan Jess…” potong Cloud sebelum Jessie sempat melanjutkan kata-katanya.
Bibir Cloud kembali mencium Jessie, hanya saja kali ini pemuda ini sudah berani lebih jauh. Tangannya menurunkan resleuting baju teknisi Jessie dan tangan satunya lagi membuai tengkuk Jessie dengan belaian lembut dan mesra. Dimata Jessie, Cloud adalah seorang pemuda yang tampan. Apalagi di daerah slum tempat dia tinggal bersama para pejuang Avalanche yang lainnya dia tidak menemukan pemuda yang lebih tampan dari seorang Cloud Strife.
Saat Jessie sedang terbuai oleh permainan bibir Cloud, dia tidak sadar kalau hampir seluruh pakaiannya sudah tanggal, kecuali bra-nya yang masih menempel ditubuhnya walau pengaitnya sudah lepas.
Saat Jessie membuka matanya dia melihat tubuh telanjangnya dengan terkejut dan berusaha untuk mendorong Cloud tetapi tenaganya tiba-tiba lemas karena gairah yang mengalahkan segala macam rasio Jessie.

“Pernahkan ada orang mengatakan kalau kau ini cantik? Karena kau memang cantik.” Rayu Cloud kepada Jessie sampai membuat wajah dara cantik ini memerah. Ditambah lagi dengan remasan mesra Cloud di kedua payudaranya yang berukuran 34C itu.
Belum cukup dengan itu, Cloud mengarahkan batang kemaluannya yang sedari tadi sudah berdiri tegak. Diarahkannya penisnya kearah bibir vagina Jessie yang sudah tidak tertutup apapun lagi. Bibir vagina Jessie sudah mulai ditumbuhi oleh bulu-bulu lembut dan jarang. Tubuh moleknya yang putih mulus sepertinya membuat Cloud tak tahan lagi menahan gejolak nafsunya terhadap gadis manis ini.
“Akhh…sakit…” jerit Jessie ketika batang kejantanan Cloud berhasil mengoyak selaput daranya. Selama ini walaupun Cloud sering merayunya, tetapi paling jauh hanya sebatas menciumnya dan tak pernah lebih seperti ini. Namun dalam hati Jessie menyukainya juga karena Cloud tampan dan juga tangguh.
Penis besar Cloud terus menerobos tanpa ampun kedalam liang kemaluan Jessie. Bibir vagina Jessie terlalu sempit sehingga tiap kali penis Cloud akan menerobos masuk kedalam liang kemaluannya, bibir vaginanya ikut melesak masuk dan mempersempit ruang terobos bagi penis Cloud yang sangat besar itu.
“Akhh…akhhhh…..akhh…sakit Cloud…akhhh…” Jerit Jessie lagi untuk yang kesekian kalinya tetapi jeritan itu langsung menghilang. Tubuh Jessie menegang, wajahnya mendongak keatas dengan raut muka menahan rasa sakit. Cloud telah memaksakan batang kemaluannya untuk menerobos paksa vagina Jessie yang masih perawan itu. Dalam sekali hentakan keras, seluruh batang kejantanan pemuda ini berhasil masuk seluruhnya kedalam lubang senggama Jessie. Selaput dara milik gadis cantik ini rusak parah seketika. Darah segar mengalir dari dalam dinding vaginanya dan mengalir keluar membasahi selangkangan kedua insan berlain jenis ini.
Dengan posisi berdiri dan menyandarkan tubuh Jessie di salah satu dinding gerbong barang, Cloud telah memerawani salah satu anggota Avalanche termuda yang juga salah satu dari yang tercantik.

“Cloud kau jahat. Sakit. Akhh…” Seru Jessie sembari berusaha mendorong tubuh Cloud. Sekarang dia merasakan selangkangannya sakit akibat desakan penis Cloud pada vaginanya. Dia bisa merasakan liang kemaluannya sudah penuh sesak oleh batang kemaluan Cloud yang sangat besar itu yang sekarang sedang menyodok-nyodok rahimnya.
“Akhh….akhhh…Cloud…” hanya berselang sebentar setelah gadis cantik ini protes, sekarang desahannya sudah mengandung raut kenikmatan didalamnya. Cloud tersenyum melihat tingkah Jessie yang sedang dia gagahi saat ini.

Kedua tangan Jessie sekarang tidak lagi berusaha mendorong Cloud untuk mundur tetapi malah mengaitkan keduanya di tengkuk Cloud dan begitu juga dengan kakinya yang sekarang mengapit pinggang Cloud. Cloud sendiri dengan bernafsunya masih memompakan batang penisnya ke vagina Jessie sekarang dengan intensitas yang lebih tinggi lebih cepat. Buah pelirnya sampai membentur-bentur bibir vagina Jessie karena Cloud menanamkan penisnya sedalam mungkin dalam tiap sodokannya.
Sepuluh menit kemudian Cloud menegang dan kedua tangannya yang sedari tadi memegangi paha dan pantat Jessie meremas kuat pantat dara cantik itu sampai memerah. “Arghh…Jessie….akhh…” Dan sperma Cloud-pun tumpah berhamburan didalam liang kemaluan Jessie. Saking banyaknya sperma yang Cloud semprotkan sampai-sampai cairan putih kental itu banyak yang meluber keluar. Cloud lalu mencium bibir Jessie sekali lagi, kali ini ciuman penuh dengan kemesraan karena nafsunya sudah tersalurkan.
Lima menit kemudian kereta berhenti di pemberhentian terakhir, sektor 4 distrik slum (daerah terbuang/kumuh).

Barret dan anggota Avalanche lainnya turun, begitu juga dengan Cloud. “Hei kau! Kita kembali ke markas. Ingat, jangan mengacau dan lekas ke markas! Aku tak mau menunggumu untuk kedua kalinya.” Seru Barret kepada Cloud yang nampaknya tak peduli dengan ucapan pria garang ini dan malah sibuk menggoda seorang gadis yang sedang menunggu kekasihnya di stasiun kecil itu. “Hei! Kau dengar aku kepala ayam?” Bentak Barret yang sudah kehilangan kesabarannya kepada Cloud. Cloud lalu berpaling padanya dan memberikan kode kalau dia akan segera kesana. Sekali lagi Barret mengumpatinya entah untuk yang keberapa kali dalam hari ini.
“Hei Jessie! Ada apa dengan kakimu? Apa kakimu masih sakit karena terjepit tadi? Kenapa langkahmu aneh begitu?” Tanya Barret kepada Jessie yang sejak turun dari kereta tidak dapat jalan dengan lurus.

Dara cantik itu tersipu malu dan menjawab sekenanya, “Iya, tadi belum sakit tetapi sekarang sakit.” Sahutnya sambil melirik kearah Cloud yang tak sadar dirinya diperhatikan.
Selain Cloud dan Jessie, tak ada yang tahu kalau sebab Jessie tidak dapat berjalan lurus bukan karena kakinya terkilir akibat terjepit di reaktor tadi tetapi karena waktu di gerbong barang dia telah diperawani oleh Cloud dengan penis besarnya itu. Bahkan beberapa kali sperma Cloud menetes dan mengalir dari dalam bibir vagina Jessie karena luber akibat Cloud terlampau banyak berejakulasi disana.
Lima belas menit kemudian setelah mereka berjalan kaki kearah barat dari stasiun kereta, tiba juga mereka di sektor 4 slum.
“Akhirnya sampai juga di rumah. Tak ada yang lebih nyaman daripada rumah sendiri. Benarkan Biggs?” kata Barret sambil menepuk pundak Biggs.
“Errr…yaa… begitulah.” Sahut Biggs gagap. Dalam hati, pemuda gemuk ini membayangkan sebuah kota yang lebih baik dari Midgar. Kota yang mendapatkan sinar matahari cukup dan udara bebas polusi tidak seperti daerah kumuh (slum) ini. Sebuah kota yang bernama Costa Del Sol.
Cloud datang belakangan bersama dengan Jessie. Di tengah perjalanan tadi, Cloud dan Jessie sempat bercumbu lagi didekat kaki reaktor sektor 4. Sekali lagi sperma Cloud membasahi vagina Jessie yang masih belum pulih dari hajaran penis Cloud saat di gerbong barang barusan.
Cloud menatap sektor 4 distrik slum dengan pandangan aneh. “Aku tak tahu bagaimana kau bis menghabiskan waktumu selama 5 tahun disini Jessie.” Kata Cloud kepada Jessie, tetapi dara cantik ini sudah berlalu didepannya sedari tadi dan tidak mendengar ucapan Cloud. Tepat didepannya adalah sebuah bar bernama Seventh Heaven (Surga Ketujuh) yang merupakan satu-satunya bar yang ada di daerah Slum ini.