2nd Chapter
The Slum
Daerah kumuh terbesar yannjualan produk-produk yang dihasilkan dari kota-kota disekitar Midgar. Namun begitu perusahaan besar Shin-Ra membangun reaktor Mako dan dengan semakin tergantungnya para penduduk Midgar dan sekitarnya dengan kemudahan hidup mereka denan adanya energi ini maka sangat mudah bagi Shin-Ra untuk menguasai seluruh kota Midgar, bahkan faktanya Shin-Ra Corporation telah menguasai nyaris seluruh Eastern Continent. Maka hilanglah kota Midgar yang dulunya ramah dan bersahabat. Kini wajah baru Midgar menjadi kota industi yang materialist dan mempunyai gap sosial ekonomi penduduk yang tertinggi di dunia.

The Slum, begitu para pejabat Shin-Ra dan para warga elite Midgar menyebutnya. Mungkin karena banyaknya orang miskin yang tingga di tempat ini atau bisa juga karena tempt ini merupakan tempat paling kotor di Midgar, setidaknya itulah anggapan mereka.
Di depan Cloud sekarang ini adalah salah satu bangunan tua yang masih bertahan dari perubahan jaman di Midgar. Bar Seventh Heaven, yang merupakan markas utama organisasi Avalanche setidaknya selama 6 tahun terakhir. Barret yang mendirikannya, setelah dia muak dengan sepak terjang Shin-Ra yang mengeksploitasi energi Mako yang jelas-jelas bisa merusak keseimbangan alam planet yang mereka huni.
“Wah, akhirnya datang juga. Kalian pasti capek yach.” Sapa seorang gadis cantik dari belakang meja bartender ketika Cloud dan yang lain masuk. Gadis cantik ini bernama Tifa Lockheart, teman akrab Cloud sedari masih kecil. Berasal dari Western Continent, tepatnya di kota Nibelheim, kota para hantu begitu banyak orang menyebutnya. Gadis cantik ini bertubuh padat berisi dengan tinggi hanya sedikit dibawah Cloud dan berambut panjang. Adapun yang mencolok dari gadis cantik ini selain rambutnya yang hitam panjang dan lurus adalah penampilannya yang seksi. Dengan tubuh sangat ideal dia dapat mengenakan segala macam pakaian dan pasti cocok dengan penampilannya. Hampir seluruh pakaiannya merupakan jenis yang sama, yaitu kaus tanpa lengan yang pendek sehingga memamerkan pusarnya dan perut datarnya yang indah juga payudaranya yang cukup besar, kira-kira berukuran 38B. Celana pendek dan sepatu boots yang membuat paha putih mulusnya terpampang jelas. Intinya jika Jessie diberi nilai 7 maka Tifa layak mendapatkan nilai 9.
“Yo, Cloud! Kita ada pertemuan dibawah. Cepat bergabung!” teriak Barret yang kemudian menuruni tangga rahasia keruangan bawah tanah, tempat para anggota Avalanche bersembunyi dari kejaran Shin-Ra.
Cloud tidak menghiraukannya dan memberikan bunga yang dia dapat dari penjual bunga waktu di sektor 6 kepada gadis kecil yang berada di samping Tifa. “Halo Marlene. Ini untukmu.” Kata Cloud sembari memberikan bunganya dan bocah cilik itupun dengan malu-malu menerimanya lalu kembali bersembunyi dibalik tubuh Tifa. Marlene adalah anak angkat Barret Wallace setelah pria ini kehilangan istrinya.
“Cloud, Marlene malu terhadapmu. Sifatmu yang perayu itu sudah membahana seantero Midgar sampai-sampai Marlene-pun takut dibuatnya hahaha…” canda Tifa yang lalu memberikan segelas Whiskey kepada Cloud Strife.

“Kau tambah cantik saja Tifa. Bagaimana harimu?” Cloud mulai meluncurkan taktik basa-basinya yang jelas sudah basi mengingat Tifa adalah temannya sejak kecil yang terang saja sudah tahu segala tindak-tanduk Cloud.

“Tchh…sudahlah Cloud. Kau berbicara kepadaku seperti kepada orang yang baru mengenalmu saja.” Balas Tifa cuek walaupun dia juga senang dipuji oleh cowok setampan Cloud.
Cloud tahu basa-basinya gagal langsung meluncur keruang basement untuk menutupi malunya terhadap Tifa dan hanya lima menit dia-pun keluar disusul dengan Barret yang marah-marah. “Dasar serangga materialist! Kau tak ubahnya dengan orang-orang Shin-Ra itu. 3000 Gil, terima atau tidak? Hanya sebanyak itu uang yang aku punya.” Bentak Barret sebelum dia duduk di kursi bar. Gil adalah mata uang yang digunakan hampir diseluruh kota didunia ini.
Tifa langsung menengahinya. Akhirnya dengan bujuk rayu Tifa, Cloud mau juga menerima 3000 Gil untuk pembayarannya sebagai penunjuk jalan ke reaktor berikutnya, reaktor 3.
“Cih! Membuatku geram saja kepala burung ini.” Seru Barret yang kemudian menghambur keluar bersama dengan Biggs dan Wedge, sementara Jessie entah pergi kemana sedari tadi.
“Maaf, kalau dia membuatmu kesal. Akhir-akhir ini memang Barret jadi mudah terbawa emosinya. Sepertinya ada hubungannya dengan rencana Shin-Ra untuk membangun Neo Midgar.” Tifa mencoba menjelaskan. Cloud sebenarnya tidak marah, bahkan ekstrimnya lagi pemuda ini sebenarnya tidak mempunyai emosi yang jelas. Kadang dia seperti perayu ulung tetapi seringkali juga dia bersikap seperti robot yang tak menunjukkan emosinya terhadap apapun.
“Sudahlah. Aku tidak kesal. Hanya saja sepertinya aku tak akan tidur didekatnya lagi nanti malam. Dia bersuara tiap kali tidur pulas atau setelah aktifitas berat seperti ini. Itu baru yang namanya menyebalkan Tifa.” Kata Cloud sambil minum tetes terakhir Wiskey-nya. Saat Tifa akan menuangkan yang baru dia menolak lalu beranjak dari kursi bar itu.
“Kalau kau tak nyaman tidur seruangan dengan yang lain, kau bisa tidur di penginapan yang baru saja dibuka oleh pemilik bengkel didekat toko obat. Aku akan menunggumu disana…tehehe…” bisik Tifa nakal tepat sebelum Cloud berdiri. Pemuda ini tersenyum mengiyakan ajakan Tifa. Lagipula pria manapun jika diajak oleh gadis secantik Tifa dipastikan akan bersedia apalagi jika ajakannya adalah untuk tidur bersama, siapa juga yang bisa menolak.
Malamnya, Cloud masih terjaga di tempat tidur dipenginapan. Dia menunggu Tifa yang tak datang-datang juga. Sempat terlintas dalam pikirannya kalau Tifa hanya ingin mengerjai dirinya. Tapi baru pikiran itu muncul, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. “Maaf menunggu. Tadi aku harus menemani Marlene tidur dulu.” Tifa muncul dengan pakaian yang seksi. Pusarnya terlihat menggairahkan ketika gadis cantik ini berjalan mendekati Cloud.

“Sekarang giliran untuk menidurkanku.” Balas Cloud yang lalu menarik tangan Tifa hingga dara cantik ini terjatuh di tempat tidur tepat diatas tubuh Cloud yang terlentang. Merekapun berciuman dengan mesra.
“Kau ini tak pernah berubah.” Rajuk Tifa sambil mencubit nakal pinggang Cloud. Kemudian mereka berciuman kembali tetapi kali ini Cloud sudah ditelanjangi oleh Tifa. “Hmmm…kau semakin berotot saja yah. Banyak bekas luka juga. Pasti di Soldier sangatlah berat.” Kata Tifa kepada Cloud.
“Kau tak akan bisa membayangkannya Tifa. Hmmm…tanganmu…” Cloud melirik kearah tangan Tifa yang sedang memegangi penis besarnya. Tangan nakal Tifa itu memaju mundurkan penis Cloud dengan berirama seperti seorang ahli dalam hal itu.
“Ahahaha…Cloud, mukamu memerah. Aku yakin ini bukan yang pertama bagimu khan. Sebentar…” Tifa lalu membuka kaus putih tanpa lengannya, yang ternyata kali ini dia tidak mengenakan bra-nya. “Spesial untukmu…” kata Tifa sambil tersenyum.
“Dan aku tebak juga, pasti ini bukan pertama kali bagimu Tifa. Akhh…pelan Tifa.” Ucapan Cloud dibalas dengan gigitan kecil mulut Tifa di batang kemaluannya. Dengan posisi terlentang di tempat tidur, Cloud hanya bisa pasrah saja ketika Tifa menindihnya dan sekarang mempermainkan penisnya dengan bibir seksinya juga kedua tangannya yang nakal itu. Berulang kali jilatan-jilatan sensual dilakukan Tifa sehingga sekarang batang kejantanan Cloud sudah penuh dengan air liur dan cairan pelumas yang keluar dari ujung kemaluannya. Cloud benar-benar sudah tak tahan lagi.
“Cloud, bagaimana rasanya?” kata Tifa yang lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Cloud dan mereka berciuman untuk yang kesekian kalinya. Hanya saja kali ini keduanya sudah bugil total. Tifa menggesek-gesekkan bibir vaginanya diatas batang kemaluan Cloud yang sudah tegak mengacung dengan keras.
“Dadamu semakin besar saja TIfa. Pasti banyak orang yang berebutan untuk meremasnya.” Kata Cloud yang kemudian meremas-remas payudara besar Tifa itu sehingga kedua putingnya mengeras dan mengacung kedepan. Walaupun buah dadanya besar tetapi milik Tifa ini tetaplah kencang dan tidak menggelantung lemas seperti kebanyakan orang, mungkin karena dia sering berolah raga.
“Banyak memang, terutama waktu aku masih di Nibelheim. Akhhh…Cloud…akhhh…” Tifa memutuskan ucapannya dan menesah-desah tak karuan ketika Cloud menjilati kedua puting payudaranya dengan penuh nafsu. Dalam sekejap vagina gadis cantik ini sudah basah karena terangsang berat. “Cloud, aku mulai yah.” Kata dara cantik ini yang lalu memasang badan diatas tubuh terlentang Cloud dan kemudian memposisikan penis Cloud secara vertikal yang lalu diarahkan ke bibir vaginanya yang sedikit menganga.
Blesshh. Amblas sudah seluruh batang kemaluan Cloud dengan beberapa kali goyangan dari Tifa. Tifa memang sudah tidak perawan lagi karena setelah pindah dari Nibelheim, dia sudah berpacaran dengan teman kecil Cloud yang bernama Johnny yang sekarang tinggal di kota lain. “Akhh…penismu besar sekali Cloud. Dengan penis sebesar ini pasti banyak gadis yang takluk kepadamu, kamu khan perayu.” Canda Tifa yang kemudian mulai menggoyangkan pantatnya maju mundur dan berputar dengan penis besar didalam liang kewanitaannya.
Cloud kembali meremas-remas buah dada Tifa yang sekal itu dan jemarinya memilin-milin puting susunya. Sesekali pemuda ini mengangkat tubuh Tifa dengan kekuatan pahanya yang lalu menghajar keras vagina gadis cantik itu dengan hunjaman-hunjaman cepat batang penisnya tanpa ampun sampai terkadang Tifa bukan hanya mendesah keenakan tapi juga berteriak kecil minta agar Cloud menyudahi hajarannya.
Rambut panjang Tifa kini sudah awut-awutan dan menjadi selimut dari persetubuhan dua orang ini. Lima belas menit kemudian Tifa mengejang dan menghentikan goyangannya. Tubuhnya menegang dan tangannya memeluk tubuh Cloud yang masih terbaring dibawahnya. “Cloud…aku…keluar…” kata Tifa terbata-bata ketika orgasmenya datang.
Hanya beberapa detik ketika orgasme Tifa mulai terasa, tiba-tiba dia merasakan kalau yang membanjiri liang senggamanya bukan hanya cairan orgasmenya tetapi juga cairan hangat lain. “Aku juga Tifa. Vaginamu memang lain. Permainan ranjangmu juga sangat hot.” Kata Cloud yang ternyata juga mencapai orgasmenya dan memeluk Tifa dengan erat. Payudara besar Tifa itu sekarang menempel erat menekan dada bidang Cloud Strife, teman kecilnya. Keduanya lalu terbuai dalam kenikmatan sebelum akhirnya tertidur.
Saat Cloud bangun pagi harinya, Tifa sudah menghilang yang ada hanya sepucuk surat diatas meja dekat tempat tidur. “Cloud, malam tadi benar-benar malam yang luar biasa. Sudah bertahun-tahun aku tidak merasakannya. Terima kasih Cloud. Oh iya, pagi ini kau ditunggu oleh Barret di dekat stasiun kereta. Berikutnya adalah reaktor sektor 3.” Begitulah bunyi dari surat Tifa itu yang lalu dirbek oleh Cloud. Dalam hati dia masih membayangkan percintaannya dengan Tifa semalam, membayangkan tubuh indah Tifa terutama buah dada Tifa yang besar itu.

“Kenapa lama sekali baru datang kepala burung?” Barret marah-marah ketika Cloud datang paling akhir dari rombongan. Cloud cuek saja dan melenggang menuju kearah kereta.
Tiba-tiba langkahnya terhenti, “Tifa? Kau ikut juga?” kata Cloud padanya. Tifa mengangguk dan mengajak Cloud masuk kedalam kereta. “Tetapi ini misi berbahaya Tifa.” Seru Cloud berusaha mencegah teman kecilnya dalam bahaya namun bukan Tifa jika menurut kata-kata Cloud. Dari kecil memang gadis cantik ini terkenal dengan kemampuan bela dirinya yang ditempat sedari masih berumur 7 tahun oleh seorang master bela diri di Nibelheim.

“Huh! Kalau kau merasa takut dia celaka, lebih baik kau menjaganya. Bukankah kau adalah anggota pasukan elite Shin-Ra Soldier dulunya?” kata Barret yang tak sabar lalu mendorong Biggs dan Wedge agar cepat masuk ke gerbong kereta.
Akhirnya mereka semua masuk kedalam kereta dan menuju ke sektor 3. Sektor 3 merupakan sektor dengan kawasan komersial terbanyak no 2 setelah sekor 10. banyak pejabat Shin-Ra yang tinggal dibagian atas sektor tersebut. Dengan hancurnya sektor ini Barret berharap agar dapat menjadi tekanan besar bagi Shin-Ra.
Tapi apa daya, ternyata dalam usaha penyusupan kali ini banyak sekali halangannya. Mulai dari tanda pengenal palsu buatan Jessie tidak berhasil mengelabui mesin sensor Shin-Ra sampai dengan munculnya presiden Shin-Ra ketika Barret, Cloud dan Tifa terkepung oleh pasukan bersenjata musuh. Ini semua jebakan yang disiapkan oleh presiden Shin-Ra. Operasi peledakan pun batal dan berganti dengan usaha melarikan diri dari kejaran puluhan tentara Shin-Ra. Dalam upaya pelarian ini Cloud terkena ledakan dari salah satu robot tempur organisasi Shin-Ra dan terjatuh dari lempeng lapisan kedua menuju ke bawah kearah lapisan terbawah kota Midgar. Semua terasa gelap bagi Cloud, hal terakhir yang diingatnya adalah ketika Tifa meneriakinya dari sisi lain jembatan yang roboh dan berusaha menggapainya.