3rd Chapter

Flower That’s Always Grow

Keberhasilan dalam mencegah upaya Avalanche untuk meledakkan reaktor ini membuat para petinggi Shin-Ra menjadi tambah percaya diri. Malam itu juga Presiden Shin-Ra mengadakan rapat mendadak yang mengundang beberapa wakilnya yang duduk di posisi strategis. Wakil pertamanya adalah Heideggar, Jenderal Angkatan Bersenjata Shin-Ra yang dulunya merupakan pemimpin angkatan bersenjata dari salah satu region di benua ini yang akhirnya tunduk dibawah iming-iming kekuasaan dan uang dari organisasi Shin-Ra. Kedua adalah Scarlet, sekretaris presiden untuk hal-hal tertentu, kebanyakan untuk pengadaan energi Mako.

Perempuan ambisius yang juga cantik ini merangkap sebagai menteri dibidang energi dan sumber daya alam. Ketiga adalah Reeve, seorang birokrat dari masa pemerintahan terdahulu sebelum Shin-Ra berkuasa di Midgar.

Dia satu-satunya orang di Shin-Ra yang peduli terhadap nasib warga miskin. Tugasnya sebagai menteri kesejahteraan sepertinya tak banyak berguna bagi kepentingan Presiden Shin-Ra sehingga dia menjadi orang yang tidak diperhitungkan disana.

Keempat adalah Palmer yang membawahi bidang transportasi termasuk proyek luar angkasa organisasi jahat ini. Badannya yang lebih gendut dari Heideggar membuatnya terlihat sebagai orang tak berguna walaupun sebenarnya dia sangat cerdik. Kelima juga terakhir adalah Profesor Hojo, ilmuwan sinting yang tergila-gila pada rekayasa genetika. Berkat penemuan gilanya pula sekarang ini para anggota elite Soldier menjadi manusia setengah monster akibat rekayasa atas DNA mereka oleh Hojo.

“Well, kerja baik untuk intel yang kau miliki Scalet. Dengan amannya sektor 3 maka kita bisa menaikkan tarif untuk pemakaian energi Mako sebesar 100% hahaha…” Presiden Shin-Ra membuka pertemuan itu dengan tawa liciknya. Scarlet yang mendengar pujian itu tersenyum bangga atas kinerjanya.

“Tapi kita masih belum berhasil menghancurkan Avalanche.” Protes Palmer kepada presiden. Lalu muncullah sebuah skema yang menggambarkan peta kota Midgar dalam skala kecil. “Kita bisa menghancurkan markas mereka di sektor 4 dengan meledakkan reaktor di sektor itu. Lagi pula reaktor itu sudah lama mati bukan.” Heideggar mengusulkan cara itu yang langsung ditepis oleh Reeve. “Jika kita meledakkannya maka reaktor itu akan runtuh. Bisa banyak jatuh korban.

Dibawah reaktor itu terdapat penduduk miskin paling banyak. Kita tidak bisa melakukan itu pak presiden.” Seru Reeve, satu-satunya orang yang masih memiliki hati nurani di ruangan ini. “Hahaha…Reeve. Dengan runtuhnya reaktor itu maka kita bisa memiliki banyak keuntungan. Membuang reaktor usang itu, menyingkirkan kemiskinan terbesar dikota ini, melenyapkan Avalanche dan nantinya kita bia menuduh Avalanche yang melakukan ledakan itu maka seluruh rakyat akan membenci mereka. Hahahaha….

” Ucap Presiden Shin-Ra kepada Reeve yang masih ngotot tidak ingin hal itu terjadi. Mendengar pengakuan presiden, Reeve langsung walk out dari ruangan. Seluruh yang hadir disitu tidak senang termasuk presiden tapi mereka sudah tahu sifat Reeve jadi mendiamkannya. Satu jam setelah itu pertemuan selesai. Presiden mendekati Scarlet dan mengajaknya keruangan pribadinya.

“Sekarang aku ingin tahu apa yang kau inginkan untuk proyekmu.” Kata presiden yang sudah berumur itu kepada sekretarisnya yang mulai bertingkah nakal di ruangannya. Scarlet duduk di meja presiden dan mengangkat paha mulusnya sehingga pangkal pahanya terlihat jelas oleh tua bangka ini karena saat itu Scarlet hanya menggunakan gaun dan bagian bawahnya mempunyai belahan yang cukup tinggi. Presiden tua ini tahu benar jika Scarlet ingin memancingnya dengan menggunakan cara nakal ini untuk memuluskan proyek yang akan dia ajukan nanti. Semacam suap dengan tubuhnya yang seksi. “Ehm, aku hanya ingin meminta akses untuk menggunakan laboratorium yang dulunya dimiliki oleh Profesor Gast di daerah utara. Kuharap kau mau mengabulkannya untukku.” Rajuk Scarlet sambil memainkan kancing jas Presiden Shin-Ra dengan jemari lentiknya.

“Hemmm…Laboratorium itu sudah lama ditinggalkan. Lagipula daerah itu diluar kekuasaan Shin-Ra. Aku tak mau ambil resiko, tetapi jika kau mau menggunakannya, kau bisa mendapatkan kartu aksesnya dari Palmer. Aku akan memerintahkannya untuk memberikannya kepadamu.” Jawab sang presiden yang lalu memeluk Scarlet dan menciuminya. Bibir kedua lawan jenis yang berbeda jauh usianya itu berpadu dan saling melumat. Sebenarnya dalam hati Scarlet dia jijik berciuman dengan orang setua presiden yang usianya setidaknya 30 tahun lebih tua dari dirinya.

Tapi karena kekuasaan yang dimiliki sang presiden maka Scarlet mau tak mau harus melayani nafsu bejat pria tua ini jika ingin proyeknya berjalan dengan lancar. Hal itu yang membuatnya tetap menahan diri ketika presiden itu menanggalkan gaun merahnya sehingga sekarang dimata presiden itu terlihat tubuh seksi Scarlet yang putih mulus tanpa cela.

Tubuhnya ramping dan putih kemerahan sementara lekuk tubuhnya dapat membuat semua pria menjadi menelan ludah karena membayangkan menggagahinya. Payudaranya yang berukuran 36C itu benar-benar membuat sang presiden tak kuasa mengontrol tangannya lagi untuk menggerayanginya. Remasan demi remasan diikuti dengan kuluman presiden atas payudara Scarlet membuat vagina perempuan cantik ini basah. Walaupun dia tidak menyukai presiden tua itu tetapi rangsangannya mau tak mau membuat gairahnya muncul walaupun matanya tertutup dan membayangkan orang lain, seseorang yang lebih muda. Setelah puas mengerjai buah dada Scarlet, Presiden Shin-Ra lalu mengarahkan tangannya kearah vagina perempuan cantik ini. Jemari tangannya mulai bergerilya membelah bibir vagina Scarlet dan menusuk-nusuk liang kemaluannya tanpa ampun.

Lalu pria tua ini mengangkat kedua kaki Scarlet keatas saat perempuan ini masih dalam posisi duduk di meja kerjanya. Terlihat oleh pria tua ini bibir vagina Scarlet yang putih mulus ditumbuhi dengan bulu kemaluan yang sedikit lebat. Walaupun gelambir vaginanya ada yang sebagian kecil yang keluar tetapi tidak mengurangi keseksian kemaluan cewek satu ini. “Kau benar-benar seksi Scarlet. Walaupun melihatmu berulang kali tetapi tetap saja tidak membuatku bosan.

” Kata Presiden Shin-Ra kepada Scarlet yang kemudian mengarahkan mulutnya kearah bibir vagina perempuan ini. Lidahnya mulai menari-nari di liang kemaluan cewek nakal satu ini ditambah lagi dengan permainan lidahnya di klitoris Scarlet membuai perempuan ini hingga seakan membuatnya lupa bahwa sekarang ini yang mencumbunya adalah seorang laki-laki tua. “Akhh…akhh…” desah Scarlet yang keluar dari bibir seksinya. Rambutnya acak-acakkan dan kepalanya menoleh kekiri dan kekanan karena menahan sensasi kenikmatan bercampur geli yang dia dapatkan dari presiden tua itu. Lima menit berlalu dan laki-laki tua ini sepertinya belum berniat menyudahi permainannya.

Tiba-tiba tubuh Scarlet menegang dan kedua tangannya mencengkeram rambut lelaki tua itu sambil membusungkan dadanya kedepan. Scarlet mencapai orgasmenya yang pertama. Presiden Shin-Ra nampaknya senang dengan keadaan ini dan menjilati cairan orgasme Scarlet dengan rakusnya hingga keluar bunyi berkecipak keras.

Lalu lelaki tua ini membalikkan tubuh Scarlet sehingga sekarang perempuan ini membelakangi Presiden Shin-Ra dan kedua tangannya berpegangan bersandar ke meja kerja sang presiden. Kedua kaki Scarlet lalu dilebarkan oleh presiden tua ini dan saat itu juga Scarlet sadar kalau sebentar lagi dirinya akan mulai dikerjai oleh lelaki tua ini.

“Akhh…nikmat sekali vaginamu Scarlet.” Ucap sang presiden ketika batang kemaluannya membelah vagina Scarlet yang sudah basah kuyup itu. Scarlet memejamkan matanya, seolah ingin mengusir bayangan buruk itu dari otaknya. Sebenarnya perempuan ini tidak peduli kalau yang menidurinya adalah pria lain asalkan masih muda atau tidak setua Presiden Shin-Ra ini. Karena bagaimanapun juga melihat tubuh tua sang presiden membuatnya merasa mual apalagi harus membayangkan batang kejantanan pria tua itu menjajah liang kewanitaannya dengan brutal seperti ini.

“Akhh…akhh…terus…penis anda benar-benar nikmat…akhhh.” Racau Scarlet ketika presiden tua itu mulai memompa batang kemaluannya di vagina Scarlet. Ucapan yang dibuat-buat hanya untuk menyenangkan hati pak presiden. Sebenarnya perempuan ini tidak merasakan apapun karena penis presiden itu sudah tidak lagi perkasa dan sudah mengendur walaupun ereksi.

Sembari terus menyodok liang kemaluan Scarlet dengan penisnya, Presiden Shin-Ra mengarahkan kedua tangannya untuk meremas-remas payudara Scarlet yang sekarang menggantung bebas sehingga terlihat semakin besar saja dari aslinya. Presiden Shin-Ra mempercepat gerakannya secara spontan dan mencengkeram payudara Scarlet yang besar itu hingga memerah. Scarlet sebenarnya kesakitan tetapi tidak berani protes karena dia ingin proyeknya berhasil tembus.

“Scarlet…akhhh…” seru Presiden Shin-Ra sembari menusukkan batang penisnya sedalam-dalamnya ke vagina sekretarisnya itu dan menyemburkan spermanya bertubi-tubi kedalam liang kemaluan Scarlet. Diusianya yang tua ini, sang presiden masih dapat berejakulasi sebanyak ini walaupun dia tidak dapat bertahan lama dalam bercinta. Pria tua ini memeluk tubuh telanjang Scarlet yang masih ambruk diatas meja kerjanya dari belakang sembari menikmati sisa-sisa orgasmenya barusan. Batang kemaluannya berdenyut-denyut dan mulai mengecil sedikit demi sedikit.

Saat itu juga cairan putih kental nampak meleleh dari bibir kemaluan Scarlet dan mengalir melalui tungkai kakinya yang mulus itu. Sementara itu di tempat lain, disisi lain kota Midgar. Mata Cloud perlahan-lahan mulai terbuka. Dihadapannya terdapat wajah seorang gadis cantik berambut kepang warna cokelat. Mata hijau gadis cantik ini terlihat berbinar ketika melihat Cloud siuman dari pingsannya. “Dimana aku?” kata Cloud ketika kesadarannya mulai membaik dan mulai bangkit dari tidurnya untuk duduk. “Fiuhhh…kupikir kau sudah mati tadi. Kau berada di sebuah gereja tua.

Jangan khawatir akan dirimu, lukamu sepertinya tidak parah karena taman bunga yang lebat ini telah melindungimu dari benturan.” Kata gadis berkepang itu kepada Cloud. Cloud baru sadar kalau dia sekarang sedang berada ditengah-tengah taman bunga yang sangat lebat didalam sebuh gereja tua yang sudah tak dipakai lagi. “Ups. Maaf. Aku tidak bermaksud merusak bungamu.” Kata Cloud yang langsung loncat kepinggir taman agar tidak merusak bunga-bunga itu lagi.

Gadis berkepang itu tertawa dan memetik beberapa bunga, “Hmmm..jangan khawatir, bunga-bunga inisepertinya tumbuh memang untuk menyelamatkan orang lain. Lagipula merupakan keajaiban bunga bisa tumbuh subur di Midgar apalagi didaerah slum.” Kata gadis itu lagi. Cloud mengernyitkan dahinya, “Slum? Maksudmu kita didaerah slum?” Tanya Cloud memastikan keadaannya. Gadis berkepang itu mengangguk.

“Omong-omong, namaku Aeris Gainsborough, kau bisa memanggilku Aeris. Kita pernah bertemu sebelumnya saat ledakan di sektor 6.” Kata gadis berkepang itu kepada Cloud yang mulai ingat bahwa dia pernah menabrak gadis cantik ini ketika dia berjualan bunga di kawasan komersial di distrik 6. “Terima kasih yah telah membeli bungaku.” Kata Aeris kepada Cloud setelah pemuda pirang ini memperkenalkan diri kepada Aeris. “Brak!!!” tiba-tiba terdengar suara pintu didobrak. Terlihat sepasukan tentara Shin-Ra menghambur masuk bersama seseorang pria berbaju jas resmi warna hitam dengan tongkat panjang ditangan. “Menyebalkan mereka itu. Selalu menggangguku.

” Gumam Aeris yang kemudian meletakkan keranjang bunganya. Cloud berniat menghampiri orang-orang itu tetapi langsung dicegah oleh Aeris. “Jangan! Berbahaya! Orang-orang itu adalah suruhan organisasi Shin-Ra. Sebaiknya kita pergi saja, lagipula aku tidak mau rebut lagi dengan mereka.” Kata Aeris lagi. “Mereka sering mengganggumu? Aneh sekali kenapa mereka mengganggu anak kecil.” Kata Cloud sembari bersiap untuk mencabut pedangnya. Aeris berkacak pinggang, “Siapa yang kau sebut anak kecil. Begini-begini umurku sudah 22 tahun tau.” Kata Aeris dengan nada tinggi.

“Hei Cloud. Kau mau melakukan sesuatu untukku? Jadilah bodyguard-ku sampai aku selamat sampai dirumah.” Kata Aeris yang lalu menyambar lengan Cloud dan mengajaknya untuk lari lewat pintu belakang bangunan tua itu. “Wow…tunggu dulu! Aku tidak mau ikut campur dengan urusan kalian. Lagipula aku selalu mendapatkan bayaran dari tiap pekerjaanku.” Sahut Cloud tetapi secara spontan tetap mengikuti langkah Aeris. “Akan kuberi kau bayaran atas kerjamu. Aku akan berkencan denganmu sekali. Itulah bayarannya menjadi bodyguardku.

Sekarang ayo cepat!” seru Aeris sambil mempercepat langkah kakinya. Setelah satu jam bermain kucing-kucingan dengan para tentara Shin-Ra itu akhirnya mereka sampai juga di daerah slum pinggiran di sektor 3. Rumah Aeris berada didekat aliran sungai kecil yang merupakan satu-satunya sungai di Midgar yang belum dihancurkan seluruhnya oleh Shin-Ra.

Rumah sederhana dan gadis cantik ini hanya tinggal bersama dengan ibunya yang bernama Elmyra.