4th Chapter
Wallmarket

Selesai makan malam, Cloud mengatakan kalau dia akan pergi ke sektor 4 dan Aeris langsung menawarkan diri untuk mengantarnya. Elmyra berusaha mencegah keinginan anak semata wayangnya tetapi harus menyerah atas kekeras kepalaan Aeris. Saat Aeris mempersiapkan kamar untuk Cloud, Elmyra memohon agar Cloud pergi sendiri karena Elmyra takut kalau Aeris pergi keluar karena organisasi Shin-Ra sedang berjaga-jaga dengan ketat diseluruh sektor untuk memburu para gerilyawan Avalanche. Cloud sadar kalau dirinya tidak dapat memberikan beban kepada Aeris kemudian dia menyelinap ketika Aeris tertidur.


“Hmm…pintu masuk menuju ke distrik perdagangan terbesar di Midgar, Wallmarket. Aeris bilang kalau ingin ke sektor 4 harus melewati tempat ini. Yah berarti harus memutar, tetapi lebih baik dari pada bertemu dengan pos pemeriksaan para tentara Shin-Ra.” Kata Cloud dalam hati.
Saat Cloud akan melanjutkan langkahnya, dia terkejut karena didepannya sudah ada Aeris yang sedang duduk di puing-puing mesin penggali yang sudah rusak. “Hmm…bangun lebih pagi Cloud?” sindir Aeris.
Cloud jadi salah tingkah dibuatnya. “Hei, aku hanya tak ingin kau terluka jika aku nanti bertemu dengan para prajurit Shin-Ra.” Cloud mencoba membela diri.
“Sudah selesai kata-katamu? Sekarang ayo kita pergi, temanmu pasti menunggumu.” Kata Aeris yang kemudian berlari kearah terowongan penghubung antara sektor 3 dengan wallmarket. “Ayo Cloud! Apa yang kau tunggu?” teriaknya begitu sudah sampai jauh. Cloud hanya bengong dan mau tak mau dia mengikuti langkah gadis cantik itu.
“Bruakkk!!!” sebuah robot jatuh berhamburan. Bagian-bagian tubuhnya terlepas satu sama lain. “Robot rongsokan milik Shin-Ra. Mereka sering membuang robot-robot penjaga mereka yang tidak mereka gunakan lagi disini. Tempat ini berbahaya bagi orang luar yang tidak berhati-hati. Untung saja ada aku yang memandumu.” Kata Aeris sembari mendaki tumpukan logam rongsokan yang menggunung untuk mempersingkat waktu.
“Ya…ya..ya…terserah apa katamu saja.” Sahut Cloud dingin sambil menyarungkan pedangnya kembali. “Asal jangan lupa kalau aku yang menebas robot sial itu jadi tiga bagian.”
“Huhuu…tak kusangka benda ini masih berada disini.” Seru Aeris sambil bermain ayunan di lokasi mirip taman bermain. “Dulu waktu aku masih kecil, tempat ini adalah taman bermain dan dulunya banyak sekali anak-anak yang bermain disini dengan gembira diantaranya adalah aku. Ayunan dan patung kucing untuk perosotan itu juga sudah ada sejak aku kecil. Dulu kami sering berebut dengn anak lain untuk menggunakannya….sekarang sudah tak ada yang ceria lagi. Semua gara-gara Shin-Ra yang membangun reaktor Mako. Midgar tak ubahnya seperti kuburan sekarang.” Aeris menerawang ke angkasa. Dulu waktu dia melihat kelangit dia bisa menatap bintang dan awan cerah, sekarang yang bisa dilihat hanyalah tembok dan susunan bangunan pencakar langit dan belum lagi lapisan bertingkat yang digunakan untuk memisahkan tiap level di kota Midgar ini.
Cloud mendekati Aeris yang kala itu masih duduk santai meluruskan kakinya diatas perosotan besar berbentuk kucing. “Pasti berat untukmu yah. Aku ikut sedih untukmu.” Kata Cloud menghibur Aeris. Pemuda pirang ini memegang bahu Aeris dengan tangannya yang hangat.
Aeris sedikit kaget dan memandang dalam-dalam Cloud. “Kau ini memang unik. Sesaat kamu seperti tidak peduli tetapi terkadang bisa begitu manis.” Kata Aeris yang lalu membuat Cloud kembali salah tingkah.
“Akhh…sudahlah. Maaf kalau membuatmu kecewa.” Cloud mengangkat tangannya dari bahu Aeris dan disusul dengan tawa Aeris.
“Hahaha…kau benar-benar lucu Cloud, kau tahu itu? Omong-omong, apakah kau anggota Soldier?” Tanya Aeris tiba-tiba dan membuat Cloud yang mendengarnya terkesiap.

“Dari mana kau tahu?” tanyanya penuh rasa penasaran. Dalam hati dia was-was takut kalau Aeris merupakan salah satu mata-mata Shin-Ra. Tapi itu semua hilang ketika mendengar jawaban Aeris.

“Dulu aku mempunyai kekasih. Dia juga seorang anggota Soldier kelas 1. Matamu sama seperti matanya. Kalian memiliki mata yang sama, mata yang memancarkan kesepian.” Kata Aeris pelan.
“Oh…begitu. Kebetulan karena aku juga kelas 1. Siapa nama kekasihmu itu? Siapa tahu aku kenal.” Tanya Cloud kepada Aeris tetapi gadis cantik ini mengelak.
“Maaf aku tak ingin membicarakannya. Lagipula itu adalah masa lalu. Aku mencoba untuk melupakan pria itu. Entah kenapa melihatmu menjadi membuatku kembali teringat padanya.” Lanjut dara cantik ini yang kemudian memandang Cloud lagi. Entah dorongan apa yang membuat mereka begitu dekat dan nyaris berciuman seandainya saja tidak ada suara mendadak yang mengagetkan mereka.
Pintu besar pembatas antara tingkat atas sektor 3 dengan Wallmarket terbuka dan muncullah kereta yang ditarik oleh seekor Chocobo melintasi jalan itu. Kereta itu menuju kearah Wallmarket. Chocobo adalah seekor hewan berbentuk mirip ayam tetapi bentuknya sangat besar dan setinggi kuda. Selain itu hewan ini cukup cerdas dibandingkan dengan kuda dan cukup cepat. Kebanyakan Chocobo adalah hewan yang hanya bisa berjalan didarat namun menurut rumor yang beredar, ada yang pernah melihat hewan ini melintasi sungai dengan menyelam dan bahkan terbang seperti burung.
Dibagian belakang kereta itu Cloud dapat melihat seorang gadis berpakaian serba biru terikat didalam kereta. “Astaga. Itu Tifa.” Pekik Cloud tak percaya. “Tifaaa…Tifaa….” Seru Cloud dan gadis berpakaian biru itupun menoleh dan sadar kalau temannya masih hidup.
“Cloud!” Itulah satu-satunya teriakan yang sempat dilakukan Tifa sebelum kereta itu berlalu terlalu jauh dari Cloud.
“Hemmm…jadi itu gadis yang kau katakan sebagai temanmu? Cantik juga. Pasti pacarmu.” Tebak Aeris penuh curiga.
“Arghh…tak mungkin. Kami hanya teman sejak kecil. Tak lebih.” Cloud membela diri dan kembali Aeris tertawa kecil melihat tingkah Cloud ini. “Tak perlu sekecewa itu Cloud. Lagipula masih banyak harapan menemukan gadis cantik lainnya.” Kata Aeris sambil menggandeng lengan Cloud. “Ayo sekarang kita susul temanmu! Aku tahu jalan kesana.” Lanjut Aeris dan akhirnya mereka berdua berlari menuju ke daerah Wallmarket.

“Wow. Tempat yang sangat ramai. Jadi ini pusat perdagangan bawah tanah kota Midgar. Cukup hebat mengingat tempat ini berada di lapisan bawah Midgar.” Cloud terkagum-kagum melihat bangunan-bangunan pertokoan bertebaran di Wallmarket dan tempat ini dipenuhi oleh lalu lalang orang-orang yang saling bersaing mengais uang sebanyak-banyaknya disini.
“Heheheh…kau sepertinya baru pertama kemari. Oh iya, kita bisa cari informasi mengenai Tifa disekitar tempat ini. Biasanya di jalan merupakan tempat terbaik mencari informasi asalkan kau punya uang tentu saja.” Kata Aeris kepada Cloud yang masih memandangi aktifitas orang-orang ditempat ini.
“Well, ayo sekarang kita cari Tifa.” Ucap Cloud kepada Aeris yang kemudian pergi menuju kearah utara.
Aeris berkacak pinggang, “Cloud! Kau tidak dengar kata-kataku tadi? Kita harus mencari informasi terlebih dahulu mengenai keberadaan Tifa. I-N-F-O-R-M-A-S-I. Paham?” seru Aeris kepada si pemuda pirang itu.
“Oh. Aku lupa. Dengan banyaknya orang disini apa perlu kita tanya satu persatu mengenai Tifa?” sahut Cloud santai.

“Ughhh…untuk seorang Soldier, ingatanmu benar-benar payah Cloud. Bukankah di kereta itu terdapat tulisan berbunyi Corneo. Kita bisa mulai dari situ.” Seru Aeris yang sudah agak jengkel dengan sikap Cloud yang masa bodoh.
“Hmmm…terus…?” pemuda ini tetap tak mengerti sampai Aeris menunjukkan tangannya kearah sebuah papan penunjuk arah yang berbunyi ‘Honey Bee Inn, Milik pribadi Don Corneo. 100 meter lagi.’
“Kurasa itu bisa membantumu.” Kata Aeris yang lalu pergi kearah yang ditunjukkan papan nama itu. “Hei tunggu aku!” Cloud menyusul dengan berlari dibelakang Aeris.
Honey Bee Inn ternyata adalah sebuah rumah bordil/ tempat pelacuran. Satu-satunya tempat pelacuran di Wallmarket. “Wow. Sepertinya kita berada ditempat yang salah.” Kata Aeris ketika sesampai disana dia sadar seperti apa tempat yang mereka tuju itu.
“Hai cantik. Kau sendirian?” sapa seseorang berjaket hitam yang berdiri didekat neon papan nama tempat pelacuran itu. “Sepertinya kau ingin menjadi bagian dari pesta Don. Hehehe.” Lanjut seseorang yang lainnya.
“Aku tidak seperti yang kalian bayangkan. Aku ingin tanya pada kalian sesuatu.” Balas Aeris tetapi pria-pria hidung belang ini sepertinya tidak mau dengar kata-kata Aeris lagi dan mereka merangsek maju untuk menggoda dara cantik ini.
“Cloud! Tolong aku! Cloud dimana kau?” seru Aeris panik. Tanpa sepengetahuan gadis cantik ini, Cloud sudah menyelinap menuju kedalam Honey Bee Inn. Didalam tempat pelacuran ini dia mencari-cari informasi mengenai Tifa.
“Ada yang bisa kubantu?” tanya seorang gadis dari belakang Cloud. Sepertinya dia adalah penyambut tamu disini.
“Aku ingin bertanya mengenai temanku yang bernama Tifa. Apakah kau menge…..” ucapan Cloud terputus ketika melihat pakaian super seksi yang dikenakan oleh gadis pramuria itu. Cewek ini berpakaian dengan hanya mengenakan bikini berwarna kuning berloreng hitam mirip dengan lebah. Cantik dan montok padat berisi. Payudaranya yang putih mulus itu seperti akan loncat dari himpitan bikininya yang sangat ketat dan tipis. “Hai namaku Cloud. Dan namamu adalah…” Cloud seperti lupa akan tujuannya kemari setelah melihat kecantikan dan keseksian gadis ini.
“Tara. Tara Honey tapi kau bisa memanggilku Tara. Nah ruangan mana yang kau akan gunakan tuan Cloud. Tiap ruangan terdapat pasangan yang bisa kau pilih.” Sahut gadis cantik ini.
“Hmmm…ruangan manapun deh asalkan gadisnya adalah kau hehehe. Oh iya, jangan pakai tuan, panggil saja Cloud.” Balas Cloud. Gadis ini sepertinya mulai tertarik dengan gaya Cloud walaupun sebenarnya itu karena dibuat-buat saja, lagipula ini adalah pekerjaannya, berpura-pura senang.
“Ruangan ini?” tanya sang gadis namun dijawab dengan pelukan Cloud yang erat yang kemudian menyeretnya kedalam kamar itu. Kamar yang ber-jacuzzi dan mempunya tempat tidur yang berukuran king size. Belum lagi dengan harumnya ruangan itu karena memang itu adalah ruangan termahal.
“Tunggu! Aku bukan pelacur yang bekerja disini. Aku hanyalah penyambut tamu. Tuan Cloud hentikan!” seru gadis cantik ini berontak namun Cloud telah menindihnya diatas tempat tidur.
“Ya…ya…ya. Dan aku adalah tukang sapu disini. Kau pikir aku percaya? Kau berada disini dengan pakaian nyaris telanjang itu pasti memang untuk menggodaku dan kau telah berhasil nona Tara.” Balas Cloud sembari melucuti pakaiannya sendiri. Sekarang Tara dapat melihat tubuh kekar Cloud yang dihiasi dengan beberapa luka akibat perang.
“Kau salah sangka tuan. Tunggu! Tungg….ermpfff…” Tara tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba mulutnya tersumpal ciuman Cloud. Cloud yang sudah tak dapat menguasai nafsunya lagi.
Dalam sekali betot saja seluruh bikini yang dipakai oleh Tara langsung lepas dan terlempar dari tempatnya.

Kontan saja payudara Tara terbuka di udara bebas. Sekarang menjadi pemandangan bagi sepasang mata Cloud yang kemudian dengan liarnya meremas-remas payudara gadis cantik itu dan sesekali menjilati putingnya hingga mengeras. “Aku tak tahu permainan apa yang kalian lakukan disini tetapi aku sangat suka dan menikmatinya. Pura-pura menolak tapi mau juga….seperti memperkosa saja nih. Kalian memang pandai bermain sandiwara bagi para pelanggan kalian…aku salut.” Kata Cloud yang masih mengira kalau semua perlawanan Tara hanyalah permainan kinky yang diciptakan oleh pemilik rumah pelacuran ini.
“Akhh…jangan…” seru Tara berteriak ketika dia merasakan bibir vaginanya dibelah oleh himpitan benda panjang dan keras. Ternyata Cloud sudah melakukan penetrasinya kepada Tara dan batang kejantanannya yang sudah mengeras itu tanpa tunggu waktu lagi langsung ditusukkan kedalam kemaluan Tara.
“Ohhh…nikmat sekali Tara. Kalian memang pandai menghibur tamu.” Ucap Cloud yang tanpa peduli terus menusuk-nusukkan penisnya kedalam vagina Tara yang sekarang nyaris berhasil ditembusnya itu.
“Arghh…hentikan….akhhh!!!” pekik Tara ketika kemaluan Cloud yang besar itu berhasil masuk seluruhnya kedalam liang kemaluan Tara yang masih sempit itu. Selama ini Tara hanya pernah berhubungan badan dengan kekasihnya saja yang nota bene dia baru berpacaran dengan 2 orang, itupun dia hanya beberapa kali saja bercinta dengan mereka. Dengan usia yang masih semuda ini dan pengalaman minim itu membuat bibir kemaluan Tara masih sempit dan membuat Cloud tertantang untuk menjebolnya kembali.
“Ohhh…walaupun susah tetapi ternyata nikmat juga setelah didalam. Membuatku teringat akan Jessie yang kuperawani waktu di gerbong kereta. Kau seperti dewi Tara.” Ucap Cloud setelah mantap membenamkan batang kejantanannya didalam liang senggama dara cantik itu. Lalu perlahan tapi pasti, Cloud mulai menggoyang-goyangkan batang penisnya untuk menyodoki kemaluan Tara yang sudah mulai basah itu. Yak benar, Tara sudah horny sekarang dan membuat goyangan Cloud menjadi lebih mudah dari sebelumnya karena sudah penuh dengan pelumas.
“Kenapa kau memperkosaku?…Hiks….” isak Tara ketika tubuhnya bergoyang-goyang di guncang oleh pompaan penis Cloud pada vaginanya yang sempit itu. “Akhh…” pekik gadis itu lagi ketika Cloud sengaja dengan kasar menusukkan batang penisnya dengan cepat langsung kedalam vagina Tara. Kemaluan Cloud yang berukuran 22cm itu terang saja membuat dara cantik ini menggelinjang hebat. Klitorisnya terangsang habis-habisan akibat sodokan itu.
“Arghh…sakit…akhhh…” rintih Tara. Tapi dalam hati dia harus mengakui bahwa Cloud lebih ahli bercinta dibandingkan kedua kekasihnya. Dia tambah terangsang ketika Cloud membalikkan tubuh moleknya sehingga sekarang mereka bercinta dengan posisi doggy style. Batang kemaluan Cloud dengan leluasa keluar masuk menggoyang dan mendobrak seluruh sel-sel didalam vagina dan bibir kemaluan Tara cantik itu.
Sembari meremas-remas payudara Tara yang mungil dan menggelantung bebas kebawah, Cloud terus menggoda Tara dengan ucapan-ucapan mesumnya tiada henti. “Ternyata kamu jago bercinta juga yah Tara. Begitu kok tadi bilang tidak mau. Jujur saja, permainan pemerkosaan ini benar-benar membuatku tambah bergairah. Kalian para pelacur memang hebat.” Goda Cloud yang lalu menarik kedua tangan Tara kebelakang dan menyodokkan batang kejantanannya dengan cepat dan sedalam-dalamnya saat tubuh Tara sedikit mendongak akibat ditarik.
Hal tersebut membuat Tara merasakan rasa sakit di kemaluannya tetapi disaat yang sama dia juga merasakan sensasi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya dalam hidupnya. Selama lima belas menit lebih dia dikerjai Cloud dengan gaya ini. Tiba-tiba Cloud menggelinjang hebat dan merasakan batang kemaluannya berdenyut-denyut kencang. Lalu pemuda pirang ini mencabut batang kemaluannya dan mengocoknya diatas pantat Tara. “Akhh…Tara…” seru Cloud sambil menembakkan sperma sebanyak 7 kali semprotan keatas pantat sekal nan mulus Tara dari ujung kemaluannya yang besar dan memerah itu.
Tara hanya bisa menutup mata setelah ambruk dalam posisi tengkurap. Dia merasakan orgasme juga tadi tepat sebelum Cloud berejakulasi, sesuatu yang dia tidak pernah dapatkan dari kekasihnya terdahulu.

Sekarang dara cantik itu merasakan cairan hangat dan lengket membasahi kedua pantatnya dan beberapa ada yang mengalir turun membasahi lubang anus dan bibir vaginanya lewat bulu kemaluannya yang tipis itu.
Cloud lalu merapikan dirinya. “Kau benar-benar hebat Tara. Kalau tahu disini ada permainan kinky sepeti pemerkosaan seperti ini, aku bakalan sering kemari dulu-dulu. Terima kasih cantik, ini tips untukmu.” Kata Cloud sambil meletakkan beberapa lembar uang diatas meja kecil dekat tempat tidur. Pemuda pirang ini masih mengira kalau Tara hanya pura-pura diperkosa padahal sebenarnya Tara memang bukan pelacur tetapi hanya penerima tamu saja.
Tara tidak protes lagi. Tubuhnya belepotan peluh dan sperma. Dalam kondisi masih bugil dia menutup matanya seolah merenungkan kejadian barusan. Hati berontak tetapi hasratnya menginginkan lagi…dan lagi. Ada sebagian dari hatinya menginginkan Cloud datang kembali dengan penis perkasanya itu untuk memberinya kenikmatan berulang-ulang tanpa henti.
“Sudah puas Cloud?” teriak Aeris dengan nada emosi ketika melihat pemuda pirang itu keluar dari Honey Bee Inn.
Cloud hanya tersenyum. “Maaf tapi aku harus mencari informasi disini. Kalau saja mereka tahu dimana Tifa, sayangnya tidak.” Balas Cloud mencoba membela diri, seolah-olah tak ada yang terjadi barusan.
“Oh ya? Aku meragukan itu Cloud. Tetapi syukurlah ada aku disini. Aku berhasil mendapatkan info mengenai Tifa setelah aku merayu beberapa dari mereka. Tifa ada di rumah besar kediaman Don Corneo, orang terkaya di Wallmarket.” Aeris berkata kepada Cloud seolah tak percaya kalau Cloud hanya mencari informasi saja didalam sana dan tidak melakukan apapun. “Lain kali kalau mau mencari informasi tak perlu membawa pakaian dalam perempuan juga Cloud.” Ejek Aeris sambil melirik kearah saku celananya yang dari luar terlihat celana dalam seksi cewek menyembul keluar. Pemuda ini tak tahu kalau Tara diam-diam menyelipkan lingerie itu dengan harapan Cloud nanti datang kembali.
“Ughh…anu…itu tak seperti dugaanmu Aeris. Itu…” Cloud tak dapat melanjutkan kata-katanya. Sementara itu Aeris dengan cuek melenggang dan menuju kearah lokasi rumah Don Corneo di bagian utara Wallmarket.