5th Chapter
Corneo Passion

“Pergi kalian! Don hanya menerima tamu wanita bukan pria. Sekarang pergilah kecuali kau membawa teman wanita kemari nona berkepang.” Seru salah seorang penjaga pintu gerbang di Corneo Mansion, rumah dari Don Corneo.
“Itu akan jadi masalah besar Cloud. Kita tidak bisa masuk dengan dirimu. Karena kau pria.” Kata Aeris kepada Cloud. Setelah lama mereka berpikir akhirnya Aeris mendapatkan ide untuk membuat Cloud menyamar sebagai perempuan. Tentu saja Cloud menolak ide gila ini habis-habisan tetapi ketika Aeris mengingatkan bahaya yang mungkin menimpa Tifa, Clud jadi luluh juga akhirnya dan menerima usulan dara cantik ini.
“Maaf, aku tidak punya pakaian yang cocok untuk temanmu nona. Karena badan temanmu terlalu besar.” Kata seorang penjual pakaian di tempat itu. “Kecuali jika kau memesannya dan kami akan membuatkan yang pas untuk temanmu yang…errr….pria ini. Tetapi kami butuh waktu sehari, besok siang mungkin akan selesai.” Ucap penjual ini lagi yang ternyata juga seorang designer pakaian.
“Terima kasih tuan. Oh iya, buatkan yang dapat membuatnya cantik yah, dari satin atau sutera. Uang tak jadi masalah.” Kata Aeris sambil menyerahkan uang sebesar 500 Gil kepada penjual itu.
“Wow. Dengan uang sebanyak ini kau bisa memperoleh pakaian semahal pakaian seorang Don nona.” Sahut penjual itu terpana ketika melihat besaran uang yang diserahkan Aeris.
Setelah keluar dari toko pakaian itu, Cloud menarik tangan Aeris, “Memang dari mana kau dapat uang itu?” Cloud sepertinya penasaran dengan gadis cantik ini.
“Hehehe…aku berhasil memperolehnya dari para pemuda di luar Honey Bee Inn setelah mereka termakan rayuanku.” Sahut Aeris sambil mengibaskan sisa uang yang tak kalah banyaknya dari yang tadi dihadapan Cloud.

“Malam ini kita menginap disini Cloud.” Kata Aeris sambil memesankan kamar untuk mereka berdua di hotel dekat toko baju tadi. Berhubung kamar kosong tinggal satu maka Cloud dan Aeris terpaksa tidur satu kamar dan satu tempat tidur pula.
“Hmmm…kau tidak berganti pakaian?” tanya Cloud pada gadis cantik ini. Berhubung kamar mandi pintunya berupa plastik transparan membuat Aeris tak nyaman dibuatnya.
“Itu khan yang kamu tunggu dari tadi. Memang aku gerah tapi kamar mandipun bisa dilihat dari luar. Sangat tak nyaman.” Sahut dara berkepang ini kepada Cloud yang sekarang sudah tiduran di tempat tidur besar di kamar itu.
“Jangan khawatir. Aku tak akan mengintipmu Aeris.” Kata pemuda pirang ini sambil membalikkan tubuhnya yang rebah itu membelakangi Aeris.
“Jangan mengintip!” Ancam Aeris yang kemudian membuka pakaiannya satu persatu dibelakang Cloud. Mulai dari jaket mini yang dipakainya hingga gaun terusan warna pink yang ia pakai sepanjang hari ini.
Dalam hati Cloud membayangkan seperti apa tubuh seorang Aeris. Dengan hati-hati dia menoleh sedikit kearah Aeris yang juga membelakanginya. Pemuda ini terkesiap ketika melihat pantat sekal padat milik Aeris yang putih mulus itu. Aeris benar-benar sedang telanjang sekarang. Saat Aeris sedikit menengok untuk mengambil celana dalam dan bra-nya, terlihat sepintas buah dada Aeris yang berputing pink itu dimata Cloud. Buah dadanya memang tidak sebesar milik Tifa yang besar sekali itu tetapi terlihat padat dan lebih mancung dari milik Tifa. Seperti buah pear, kata Cloud dalam hati.
Saat celana dalam Aeris nyaris mencapai puncaknya, tiba-tiba ada sepasang tangan mendekap tubuhnya dari belakang. “Cloud! Apa-apaan ini?” seru Aeris dengan nada tinggi. Tetapi sepertinya gadis cantik ini sudah tak berdaya lagi ketika tangan nakal Cloud sudah berkarya dengan kedua buah dadanya yang ranum itu dengan liarnya. Memang Cloud sangat ahli dalam merangsang perempuan terutama dari dada mereka. Remasan dari pemuda dibelakangnya itu membuat Aeris mau tak mau terangsang juga. Entah bagaimana tadinya, tiba-tiba dia sadar kalau celana dalamnya sudah lenyap dari kedua pahanya. Aeris terlalu terlena untuk sadar terhadap sesuatu yang menimpanya sekarang.
“Aeris. Kau cantik sekali. Aku menyukaimu cantik.” Kata Cloud mesra dari belakang telinga Aeris membuat bulu kuduk gadis ini seluruhnya berdiri. Seketika telinga dan wajahnya menjadi panas dan memerah karena malu sekaligus risih dengan perlakuan Cloud. “Kau juga seksi sekali.” Ucap pemuda pirang ini lagi sambil meningkatkan intensitas remasan tangannya.
“Cloud…kenapa jadi be..gi..ni…akhhh…” tanpa sadar Aeris mendesah karena tak kuat lagi menahan rasa nikmat yang mendera tubuhnya. Matanya menjadi semakin sayu seolah pasrah terhadap perbuatan Cloud pada dirinya. Namun mata sayu itu tiba-tiba saja berubah sesaat ketika jemari Cloud menyentuh kemaluannya. Lubang suci yang belum pernah disentuh orang lain sebelumnya. Sekarang jemari Cloud dengan nakalnya menggesek-gesek bibir vagina Aeris denan jemarinya sambil beberapa kali menstimuli klitoris gadis cantik ini dengan cara yang pandai.
Tubuh telanjang Aeris menegang dan menggelinjang hebat ketika Cloud memadukan ciumannya di leher dan bibir Aeris dengan remasan dan sentuhan pada buah dada maupun vagina gadis cantik ini. Aeris tanpa sudah mencapai orgasmenya secara cepat dengan kepiawaian Cloud dalam foreplay. “Akhhh….Cloud…” desah Aeris yang kemudian nyaris ambruk kebelakang jika saja Cloud tidak berada dibelakangnya menahan beban tubuhnya. Saat itu juga Aeris merasakan benda tumpul menempel di pantatnya. Dia baru sadar kalau Cloud sedari tadi sudah telanjang bulat.
Aeris yang berusaha melepaskan diri dari Cloud akhirnya lemas juga karena tubuhnya kini sudah diselimuti oleh hawa nafsunya sendiri yang tak kalah buasnya dengan milik Cloud. Dalam pangkuan Cloud yang duduk di pinggiran tempat tidur, Aeris menggeliat-geliat karena tak tahan lagi dengan rangsangan yang diberikan Cloud kepadanya. Entah sudah berapa ciuman, sedotan dan remasan yang hinggap di sekujur tubuhnya sehingga dibagian paha, perut, leher dan buah dadanya terdapat tanda cupang dimana-mana. Tanda bewarna merah ini menjadi saksi bagaimana ciuman maut Cloud membuat gadis se-innocent Aeris bisa berubah menjadi seliar perempuan seperti Tara.
Kemudian Cloud membalikkan tubuh Aeris hingga menghadapnya sekarang. Lalu diputarnya posisi duduknya dan sekarang Aeris telah rebah di atas kasur sementara kedua kakinya masih menjuntai kebawah karena tidak disangga apapun. Cloud lalu mengangkat dan melebarkan kedua paha Aeris lalu kepalanya menjulur kedalam selangkangan Aeris.
“Akhh…Cloud…jangan disitu…akhh…” desah Aeris ketika dia merasakan lidah Cloud menari-nari di bibir vaginanya dan selang beberapa detik kemudian Aeris mendesah lebih keras lagi ketika klitoris-nya di jilati oleh Cloud dan dipermainkan dengan lidahnya yang panjang itu. “Cloud…akhh…awww…” jeritnya tertahan ketika lidah nakal Cloud sudah menembus lipatan kedua bibir vaginanya dan terus merangsek kearah dalam liang kemaluan dara cantik ini. Sesekali ditusuk-tusukkan lidahnya itu kedalam vagina Aeris sehingga terkadang menyentuh selaput dara Aeris yang membuat gadis cantik ini menjerit kesakitan.
“Aeris. Vaginamu benar-benar wangi sekali Aeris. Seperti milik seorang dewi saja.” Puji Cloud yang membuat wajah Aeris tambah merah padam karena malu dan risih karena itu kali pertamanya dia menunjukkan tubuh bugilnya kepada seorang pria apalagi pria tersebut sekarang sudah menjamah seluruh tubuhnya tanpa sisa.
“Akhh..Cloud…aku…akhhh…” desah Aeris sembari menegangkan tubuhnya menggeliat seperti cacing kepanasan. Kepalanya menggeleng liar kekiri dan kekanan. Aeris mencapai orgasmenya yang kedua. Cloud menghentikan oral seks-nya dan memandang Aeris dengan senyuman penuh kemenangan. Lalu dengan perlahan dia mengangkat lagi kedua tungkai kaki Aeris dan disandarkannya dibahu miliknya. Bisa ditebak gerakan apa selanjutnya yang dilakukan pemuda pirang ini kepada Aeris. Pinggulnya maju kearah selangkangan Aeris yang terbuka lebar dan ditumbuhi bulu-bulu halus warna cokelat itu.
“Akhh…sakit…!!!” jerit Aeris ketika merasakan kemaluannya sedang dimasuki oleh benda asing yang sangat besar. Penis Cloud sekarang sedang berusaha mendesak masuk membelah bibir vagina Aeris yang putih bersih itu. Aeris yang masih perawan terang saja menjerit kesakitan. Namun Cloud tidak mengurungkan niatnya dan terus memaksa agar batang penisnya dapat masuk seluruhnya kedalam liang senggama Aeris yang masih sempit itu. “Akhhh…Cloud…sakitt…!!!” jerit Aeris lagi entah untuk yang keberapa kalinya. “Arrghhhh…!!!” kali ini Cloud berhasil menusukkan batang kejantanannya secara keseluruhan kedalam liang kemaluan Aeris. Seketika darah perawan Aeris mengalir dan membasahi selangkangannya dan juga batang penis Cloud yang putih kemerahan itu.
“Aeris. Kamu masih perawan yah ternyata. Aku bakalan lembut kepadamu sayang. Aku mulai goyangannya yah?” ucap Cloud kemudian mulai memaju mundurkan penisnya yang sudah terpancang kuat di liang kemaluan Aeris itu.
“Akhh…akhhh…pelan-pelan…akhhh…” rintih Aeris disela-sela sodokan-sodokan Cloud yang penuh nafsu itu. Tak jarang sesekali Cloud memutar-mutar penisnya untuk memberikan sensasi lebih pada batang kebanggaannya itu dan itu membuat vagina Aeris memperoleh tekanan lebih kuat yang membuat dara cantik ini terkadang kembali menjerit kecil menahan perih.
Puas dengan mengerjai Aeris dari luar tempat tidur, Cloud merubah posisinya. Sekarang dia mengangkat Aeris dan memangkunya diatas pinggiran kasur sementara Aeris membelakanginya. Dari sela-sela ketiak dari belakang Cloud meremas-remas kedua payudara Aeris yang sekarang sudah bertambah kencang akibat rangsangan bertubi-tubi tadi, sementara itu pinggulnya masih menagngkat tubuh Aeris dengan bantuan daya tolak pada per di pinggiran tempat tidur yang membuat tubuh Aeris dapat naik turun dengan leluasa.
Selama kurang lebih sepuluh menit vagina Aeris memompa penis Cloud, gadis ini sudah mulai lemas mungkin karena terlalu banyak orgasme karena setidaknya dia sudah 3 kali orgasme sampai detik ini. Darah perawan Aeris sudah habis dari sumbernya sementara bekas darah yang tadi menodai sprei kasur dan lantai juga beberapa tempat lainnya karena sedari tadi Cloud mengerjai Aeris dengan posisi yang berpindah tempat terus.
“Akhhh…Aeris sayang….” Desah Cloud sambil menggelinjang yang lalu menghunjamkan batang kejantanannya dengan keras sedalam-dalamnya pada liang kemaluan Aeris. Pemuda pirang ini menggelinjang hebat dan berejakulasi didalam vagina Aeris yang tadinya masih perawan itu. “Oh, kamu benar-benar luar biasa sayangku Aeris.” Puji Cloud yang lalu membaringkan Aeris yang telah letih itu keatas kasur sambil mencabut kemaluannya yang masih berada didalam kemaluan Aeris. Saat Cloud mencabut batang kejantanannya dari liang kewanitaan Aeris, terlihat cairan sperma Cloud mengalir dari dalam kemaluan gadis itu yang kemudian membajiri selangkangannya yang putih mulus itu.
Cloud lalu ambruk dan tidur memeluk Aeris yang sempat menitikkan air matanya melihat keperawanannya telah hilang malam itu. Anehnya walaupun Aeris menangis tetapi saat tengah malam Cloud bangun dan menyetubuhinya lagi dia tidak melawan sama sekali malah terlihat berusaha menikmati.
Cloud yang dengan giatnya memompa Aeris yang telah ditindihnya di atas kasur itu akhirnya harus berejakulasi lagi setelah setengah jam lamanya. Kali ini dia mengeluarkan sperma kloter keduanya diatas perut dan pusar Aeris yang putih mulus itu. Tak puas hanya dengan itu, Cloud kembali menyetubuhinya dengan gaya doggy style dan kembali berejakulasi didalam rahim Aeris. Terus berulang hingga menjelang pagi. Setidaknya Cloud sudah menumpahkan spermanya 7 kali berturut-turut ditubuh Aeris. Sekarang seluruh tubuh molek dara cantik ini sudah belepotan sperma yang lengket dan putih kental. Vagina, payudara, pusar, perut, pantat, punggung dan bahkan wajahnya juga telah dinodai oleh sperma Cloud.
Esok harinya mereka berkemas dan kembali ke toko pakaian. “Kau sakit nona? Kok sepertinya pucat.” Tanya sang penjual pakaian setelah melihat raut muka Aeris.
“Tadi malam di hotel banyak tikus nakal yang menyebalkan membuatku tak dapat tidur nyenyak. Tikus bewarna pirang….benar-benar menyebalkan.” Ucap gadis ini sambil membuka baju yang disusun rapi oleh sang penjual itu.
“Tikus warna pirang? Memangnya ada yah? Tapi kalau tikus memang di Midgar menjadi surga bagi tikus.” Balasnya tanpa tahu kalau ucapan Aeris tadi adalah sindiran bagi Cloud. Sementara Cloud sendiri tidak berkomentar karena masih sedikit merasa bersalah telah memerawani Aeris.
“Nah ini pakaian yang kupersiapkan tadi malam. Khusus untukmu nona…eh tuan….errr…maksudku…sudahlah. Ini untukmu.” Kata penjual itu kepada Cloud sambil menyerahkan pakaian berupa ‘gaun’ khusus untuk Cloud.
“Nah cocok bagimu nona Cloud. Hahahaha…” ejek Aeris. Dalam hati dia senang setidaknya sedikit kejengkelannya kepada Cloud telah hilang, walaupun sedikit.
Akhirnya mereka berdua berhasil masuk kedalam kediaman Don Corneo dan langsung disambut oleh pengurus rumah. “Kalian tunggulah disini! Malam ini Don akan memilih salah satu dari kalian bertiga untuk menjadi pasangannya nanti malam. Sebentar lagi akan dimulai kontesnya. Semoga beruntung.” Kata pengurus rumah itu yang lalu pergi meninggalkan Cloud bersama dengan Aeris sendirian.
“Semoga beruntung? Enak saja. Don itu hidupnya benar-benar mewah dan enak sampai-sampai tiap beberapa hari sekali mendapatkan jatah dari para perempuan yang ingin bekerja di Honey Bee Inn miliknya itu.” Gerutu Cloud seolah membayangkan dirinya di posisi Don.
“Huhu…jangan katakan kalau kau iri kepadanya Cloud. Karena tadi malam kau sudah mendapatkan tubuh perawanku.” Aeris sepertinya menangkap apa yang ada dibenak Cloud saat ini.
“Shhh…jangan keras-keras! Tadi orang itu mengatakan kita bertiga, berarti Tifa memang ada disini. Sekarang kita cari saja!” Cloud lalu mulai bergerak menyusuri tiap ruangan di mansion itu bersama Aeris dibelakangnya dan akhirnya mereka menemukan ruangan bawah tanah tempat Don biasa mengurung dan menyiksa musuh-musuhnya. Tifa berada disana dengan gaun warna biru yang aduhai.
“Hai Tifa! Maaf aku terlambat.” Kata Cloud yang kemudian membuat Tifa terbengong-bengong. Tak lama kemudian Tifa berteriak terkejut setelah tahu bahwa perempuan didepannya adalah Cloud.
“Kyaaa….Cloud! Kenapa denganmu? Apa kepalamu terantuk batu jadi hilang ingatan atau apa…?” Tifa panik namun Aeris dengan cepat menjelaskan semuanya termasuk bagaimana pertemuan mereka berdua.

“Oww…jadi kau adalah gadis yang bersamanya di taman itu. Hai namaku Tifa. Maaf kalau sudah membuatmu repot.” Kata Tifa kepada Aeris yang kemudian menjabat tangannya. “Sebenarnya aku kemari untuk mencari akses ke sektor 4 yang ditutup saat ini. Entah karena apa tetapi aku merasa ada yang tak beres. Seolah-olah Shin-Ra ingin mengisolasi sektor tersebut dari sektor lain manapun. Sekarang ini yang aku tahu Don Corneo adalah satu-satunya orang yang memiliki akses ke sektor tersebut lewat jalan rahasianya. Aku curiga kalau dia orang kepercayaan Shin-Ra. Itu sebabnya aku menyamar agar dapat masuk ketempat ini.” Kata Tifa menjelaskan alasannya ditempat Don Corneo sekarang.
“Sekarang kita keluar! Don sudah menunggu diruangannya.” Seru seseorang dari atas yang merupakan kepala pengurus rumah di mansion ini. “Keruangan ini!” perintahnya ketika mereka berjalan melewati sebuah ruangan besar ditengah koridor.
“Hohoho…akhirnya datang juga para calon pengantinku malam ini. Wow cantik-cantik semuaaa….huhuhu…” Don Corneo yang bertubuh tambun ini benar-benar mata keranjang sekali. Tiap kali ada gadis yang ingin bekerja dengannya maka harus ditiduri dulu dan jika ada lebih dari satu gadis maka harus diseleksi terlebih dulu sebelum diajak tidur bersama.
“Wow! Gadis ini terlihat sangat tangguh dan juga cantik. Aku bisa tebak kalau di ranjang dia bakalan menghajarku habis-habisan dengan payudaranya yang besar ini hahaha…” gelak Don Corneo ketika melihat Tifa yang kemudian menjulurkan tangannya untuk meremas buah dada gadis cantik ini. Tifa hanya bisa diam karena ingin penyamarannya tak terbongkar.
“Hmmm…yang ini sepertinya sangat cantik dan juga terlihat tidak berdosa. Bakalan laku keras jika ditaruh di Honey Bee Inn milikku. Matanya besar dan bening, aku suka sekali…huhuhu…” nafsunya semakin terpompa saja ketika melihat Aeris dengan seksama.
“Err….ini seperti seorang perempuan tangguh. Pemalu namun penuh nafsu. Hahaha…aku suka yang berambut pirang ini. Seperti gadis tomboy saja hehehe…” kembali Don Corneo bergairah hebat ketika melihat….Cloud??? Ternyata dandanan Cloud dengan gaun specialnya ditambah dengan lingerie yang dia dapatkan dari Tara membuatnya menjadi ‘cantik’ dimata para pria hidung belang ini. Krja bagus sang desainer baju.
“Aku malam ini memilih….errrr….kau yang berambut cokelat. Dua yang lain bisa kalian miliki.” Seru Don yang kemudian disambut dengan suka cita para anak buahnya yang membayangkan dapatkan pelayanan istimewa malam ini.
Aeris lalu masuk kedalam kamar Don Corneo bersama dengan sang Don sementara Cloud dan Tifa digiring keluar oleh anak buah Don yang sudah berbinar-binar berharap dapatkan tubuh molek dua gadis cantik.
“Hmmm…kau sekarang sendirian diantara kami cantik. Gaya seperti apa yang kau mau? Hehehe…” anak buah Don Corneo yang bernama Ben ini tertawa menyeringai. Dikamar yang lumayan luas itu, Tifa berada didalamnya bersama dengan Ben dan 4 rekannya yang merupakan pengawal pribadi Don.
“Ughh…maaf tapi aku tak tertarik dengan kalian. Aku ingin bertemu Don. Minggir!” seru Tifa dengan posisi siap tempur tetapi dia lengah hingga salah satu anak buah Don Corneo yang bertubuh paling besar berhasil mendekapnya dari belakang dan membuatnya tak dapat bergerak.
“Oh…jadi kamu suka yang bersifat keras seperti itu cantik. Baiklah. Kami akan memenuhi permintaanmu. Kalian dengarkan! Dia ingin adanya kekerasan, sepertinya gadis cantik ini suka kekerasan. Perkosa dia!!!” seru Ben memberi perintah.
“Tidak! Lepaskan aku!” Tifa mencoba berontak tetapi kini tubuhnya sudah terpasung di atas karpet tebal dilantai. Kedua tangan dan kakinya dicekal oleh keempat anak buah Don Corneo.
“Huhu…gaun biru ini sebaiknya aku lepaskan saja. Hehehe…kau bakalan mendapatkan malam yang penuh dengan kenikmatan disini.” Ucap Ben sambil merengut gaun Tifa hingga robek dan melucuti seluruh pakaian Tifa hingga dara cantik berambut panjang ini akhirnya telanjang bulat didepan Ben.
Buah dada besar Tifa tertutupi separuh oleh rambut hitam panjangnya yang terurai lepas. Sementara tubuh bugilnya sudah membuat para pria diruangan itu menjadi bak seorang Momotaro yang menemukan buah pear pertamanya aau bagaikan manusia gua yang kejatuhan seorang dewi yang super molek. Bagaimana tidak, Tifa yang cantik ini walaupun pernah berhubungan intim dengan pria tetapi tubuhnya tidak berubah selayaknya wanita pada umumnya. Kulitnya masih kencang begitu juga dengan payudaranya yang besar tetap saja kencang seolah baru berusia belasan tahun saja. Perutnya yang datar dan pinggangnya yang ramping ditambah lagi dengan kulitnya yang mulus putih mau tak mau membuat pertahanan semua pria jebol juga. Cloud yang biasanya dingin saja bisa terayu oleh bentuk tubuh Tifa dan kecantikannya apalagi para buaya darat ini.
“Ahhh. Mimpi apa aku semalam bisa mendapatkan gadis secantik dirimu nona. Sekarang akan aku ajarkan kau menjadi seorang pelayan para pria yang baik. Nanti setelah kau bekerja di Honey Bee Inn pasti aku akan setiap hari menjengukmu untuk menidurimu hahaha…” gelak Ben yang kemudian membuka ikatan dicelananya dan seketika dari dalam keluarlah secara perlahan batang kemaluan Ben yang cukup besar itu. Penis yang bewarna coklat tua itu sudah tegak dan berliur seperti tak sabar untuk menerkam Tifa.
Tifa mencoba berteriak, menjerit dan meronta tetapi pegangan dari 4 orang anak buah senior Don Corneo tidak dapat dia kalahkan juga. Sementara itu buah dadanya yang besar itu menjadi bulan-bulanan bagi keempat anak buah yang mencekal tangan dan kakinya. Mereka bergantian meremas dan menjilati payudara cewek cantik ini. Puting susu Tifa mengeras dan mengacung seolah mengisyaratkan bahwa gadis cantik ini sudah siap untuk ditiduri.
“Akhh…lepas…jangan! Akhh….” Seru Tifa ketika dia merasakan bibir vaginanya terasa didesak oleh sesuatu yang besar dan panjang. Benda asing it uterus masuk dan membelah kedua bibir vagina Tifa yang tadinya mengatup rapat. Bukan hanya itu saja karena berikutnya Ben menyodokkan batang penisnya sedalam-dalamnya diliang kemaluan Tifa yang membuat gadis cantik ini berteriak menahan sakit.
“Wow! Kamu masih sempit. Luar biasa gadis manis.” Kata Ben yang kemudian menggoyangkan pantatnya menyodok-nyodok vagina gadis cantik ini. “Luar biasa! Kalian harus mencoba vagina nona cantik ini. Luar biasa!” kata Ben berulang-ulang sambil mempercepat laju pompaan batang kejantanannya atas diri Tifa.
Dalam posisi terlentang tak berdaya, Tifa mau tak mau harus menahan penghinaan ini. Dia menggigit bibir bawahnya berharap ini cepat selesai. Dan memang cepat selesai karena baru tiga menit menggenjot tubuh Tifa, Ben sudah berejakulasi didalam liang kemaluan gadis cantik ini.
Tifa yang sedari tadi mencoba melawan seolah tak berdaya lagi. Tenaganya sudah habis sementara itu tubuhnya sudah merasa sakit karena cekalan dari keempat pria lainnya yang terlampau kuat hingga menyakiti tangan dan kakinya. Tubuh dara cantik ini lalu dibalik dengan posisi tengkurap di atas permadani besar.
Seorang anak buah Don Corneo yang bernama Chad lalu berbaring terlentang dengan telanjang dan penis menghadap keatas. Lalu tubuh Tifa diarahkan oleh pria-pria yang lain untuk menindih tubuh Chad terutama bagian penisnya. Vagina Tifa yang masih belum kering dari semprotan sperma itu kembali dijarah oleh penis anak buah Don Corneo tapi kali ini dihajar dari bawah.
“Akhh…” Tifa yang lemas hanya bisa menesh-desah saja berusaha menikmati perkosaan itu ketika tubuhnya terdorong-dorong keatas mengikuti irama sodokan batang kemaluan Chad yang saat ini masih bercokol di vaginanya yang indah itu. Tifa seperti mesin penggilas saja hanya saja kali ini pantatnya menggilas penis Chad yang ukurannya lebih besar sedikit dari milik Ben dan lebih hitam seperti warna kulit Chad.
“Kemari sayang!” Chad lalu memeluk Tifa yang berada diatas tubuhnya hingga buah dada dara cantik ini menempel dengan dada Chad yang bidang dan berbulu agak lebat ini. “Sekarang Bruno!” kata Chad lagi.
Bruno adalah salah satu dari kelima pria dikamar ini. “Baik. Sekarang giliran lubang lainnya yang dikerjai hahaha…” tawa Bruno menghiasi jeritan Tifa ketika batang penis Bruno yang sebesar milik Chad itu menyeruak masuk menembus lubang anus Tifa yang selama ini belum pernah menerima penetrasi penis siapapun. Seketika darah segar membasahi penis Bruno karena lubang anus Tifa menjadi sedikit lecet dan robek sementara itu Bruno malah menggenjotnya dengan sangat kasar.
“Akhhh….sakit! Lepaskan aku….!” Seru Tifa sambil berusaha memukul-mukul mereka tetapi sia-sia saja karena tenaganya sudah habis. “Akhh…!” pekik gadis ini lagi ketika Bruno dan Chad menggenjot kedua lubang miliknya secara bersamaan dan sama-sama kasar. Penis kedua pria ini seolah saling berlomba untuk merusak lubang-lubang pribadi Tifa itu dengan sodokan-sodokan keras mereka. Belum lagi tiap kali mereka melakukan penetrasi bersamaan maka dinding pemisah antara kedua lubang milik Tifa menjadi sangat tipis dan menorehkan gesekan yang cukup perih. Tak jarang buah pelir Chad dan Bruno beradu karena irama tusukan mereka yang sama.
“Okhh…nikmat sekali pelacur ini. Akhhh…” seru Bruno yang lalu menyemprotkan spermanya didalam anus Tifa. Sementara itu Chad juga tak beda tipis dengan Bruno, dia mencapai orgasmenya dengan berejakulasi didalam liang vagina Tifa.
Tepat saat kedua pria itu sedang menikmati orgasme mereka, tiba-tiba pintu didobrak dan muncullah Cloud yang sudah berganti pakaian dengan pakaian pria yang biasa dia pakai lengkap dengan pedang ditangan. Karena kurang sigap maka Ben dan kawan-kawan langsung kalah dengan sangat memilukan yaitu tubuh tertebas pedang hingga tewas.
Tifa masih dijejali oleh dua penis Chad dan Bruno yang telah mati ini. Lalu dengan bantuan Cloud, akhirnya dara cantik ini bebas juga. “Wow! Aku malah belum pernah mencoba lubangmu yang satu itu Tifa.” Canda Cloud.
“Sialan kau Cloud! Kenapa lama sekali? Kau ingin aku digilir 5 pria hah?” TIfa berang melihat Cloud terlambat menolongnya.
“Hehehehe. Sebenarnya aku jadi horny juga ketika melihat dirimu diperkosa ramai-ramai tetapi karena waktu mendesak maka pertunjukan cukup sampai disini saja hehe…” canda Cloud. Tifa menganggapnya itu bercanda padahal Cloud benar-benar sempat menonton perkosaan atas diri gadis itu walaupun hanya sesaat terakhirnya.
“Kita cari Aeris!” kata Cloud sambil menghambur keluar ruangan dan menghajar dua penjaga yang lain.
Tifa jengkel melihat Cloud sepertinya hanya peduli dengan Aeris itu. “Huh. Setidaknya berikan aku pakaian pengganti gaunku ini.” Gerutu Tifa sambil berlalu.
“Brakkk!!!” Pintu kamar Don Corneo didobrak oleh Cloud dan Tifa. Mereka melihat Corneo sedang menindih Aeris yang bagian atas gaunnya sudah tersingkap dan payudara mulusnya sudah didalam remasan tangan Don Corneo. “Mau apa kalian? Penjaga! Ada penyusup disini. Tangkap mereka! Penjaga…!!!” Don mulai panik tapi tak ada satupun penjaga yang datang. Aeris menggunakan kesempatan ini untuk kabur dan berdiri dibelakang Cloud.
“Jangan khawatir! Para penjaga sudah habis ditangan kami. Sekarang kita selesaikan urusan kita.” Kata Tifa sambil mengenakan sarung tangannya yang terbuat dari serat kulit Adamantoise, seekor kura-kura raksasa yang kulitnya konon sekeras besi tetapi ringan, hidup di daerah perairan Wutai. “Sarung tangan ini bernama Kaiser Knuckle. Konon bisa menghancurkan batu cadas dalam sekali pukul. Kamu tentu tak mau kalau kepalamu yang menjadi seperti batu cadas itu bukan?” seru Tifa membentak.
Don Corneo yang nyalinya langsung ciut itu mundur dan dengan tergagap dia berkata, “Apa ma…mau ka..lian…? Kalau uang kalian..bisa…am..bil…tapi jangan sakiti a…ku.” Pria gendut ini berusaha membeli hidupnya dengan uang haramnya.
Tifa naik keatas ranjang besar Don. “Aku tak ingin uangmu. Aku ingin kartu masuk untuk ke sektor 4 dan aku juga ingin bertanya beberapa hal mengenai Shin-Ra.”
“Jangan! Apapun silakan tetapi jangan Shin-Ra! Aku tidak mau berurusan dengan mereka. Berbahaya. Kumohon!” pinta Don Corneo memelas. Sejenak dia membayangkan siksaan yang bakal dia terima jika berkhianat kepada Shin-Ra. Karena terakhir kali dia melihat para pembunuh bayaran Shin-Ra yang tergabung dalam organisasi hitam The Turks telah menghabisi seorang pengkhianat didepan matanya dengan sadis.
Namun akhirnya Don menyerah juga setelah lehernya bersentuhan dengan ujung pedang Cloud. Don menceritakan seluruh operasi Shin-Ra termasuk rencana mereka menghancurkan kawasan sektor 4 terutama daerah Slum dan reaktor bekasnya karena dianggap tidak menguntungkan sekaligus sebagai upaya menghancurkan kelompok perlawanan Avalanche. Tifa yang terkejut akan hal itu ingin menghabisi Corneo tetapi Cloud mencegahnya. “Jangan! Tanganmu tak pantas dikotori oleh darah orang bejat ini. Nanti juga biarkan Shin-Ra yang menyiksanya sampai mati.” Kata Cloud meredakan emosi Tifa.
Saat Cloud dan kawan-kawan akan pergi Don Corneo memanggil mereka. “Hei tunggu! Aku ingin tanya kepada kalian semua.”

“Apa maumu? Cepat katakan!” seru Cloud sembari mengacungkan lagi pedangnya.
“Hei, hei. Sabar! Aku tidak berniat melukai. Aku ingin tanya saja mengenai suatu hal.

Menurut kalian mengapa seorang pria berumur sepertiku masih gemar bermain perempuan? Pilihan jawabannya: a, karena ingin merasa berguna; b, karena nafsuku yang besar; c, karena gadis muda masih mempunyai daya tarik sendiri; d, karena itu satu-satunya cara menjaga kewibawaanku sebagai playboy di Midgar ini. Pilih salah satu!” kata Don Corneo.
“Pertanyaan apa ini? Aneh.” Seru Aeris. Cloud lalu mendekat, “Aku tak peduli jawabannya tetapi jawaban pribadiku adalah karena kau hanya ingin merasa berguna. Sebab diluar bermain perempuan, kau tak bisa apa-apa tanpa pengawalmu.” Sahut Cloud ketus.
“Hmmm…nyaris benar. Sayang kurang sedikit.” Kata Don Corneo yang kemudian menarik tuas rahasia disitu dan tiba-tiba terbuka sebuah lubang besar dilantai dimana Cloud dan yang lain berpijak. Otomatis ketiga orang ini langsung terjun bebas kebawah. “Selamat bersenang-senang dibawah sana. Oh iya aku lupa memberitahu kalian kalau dibawah sana ada hewan peliharaanku yang lupa kuberi makan.

Maaf yach…huhuhuhu.” Akhirnya Cloud, Tifa dan Aeris masuk perangkap licik Don Corneo dan terjatuh kedalam lubang perangkap yang kemudian melemparkan mereka keterowongan bawah tanah yang berakhir di selokan besar dibagian bawah lapisan ketiga kota Midgar. Sebuah tempat yang kotor dan menjijikkan tetapi lebih dari itu, sebuah bayangan besar mengintai dengan mata yang bersinar tajam seolah ingin menerkam Cloud dan dua gadis yang baru saja sadar dari pingsan mereka.