6th Chapter
Fallen of Avalanche

“Aaaaakkhhh…!” teriak Tifa ketika melihat dari belakang Cloud muncul secara tiba-tiba seekor ular raksasa. Ular yang panjangnya kurang lebih 30 meter ini langsung menyerang kearah mereka bertiga.
“Sialan! Don Corneo tidak main-main. Dia memelihara monster disini.” Umpat Cloud sambil mencabut pedangnya. Tapi kibasan ekor ular raksasa itu telah melemparkan pedang Cloud ke belakang. “Ugh. Tamat sekarang riwayatku.” Desah Cloud sambil bersiap-siap menghindari serangan berikutnya.
“Tidak secepat itu.” Kata Aeris yang kemudian dari tangannya mengeluarkan seberkas sinar bewarna merah yang kemudian ditembakkan beberapa kali kearah ular monster itu. Beberapa bagian tubuh ular raksasa itu terbakar karena tenaga aneh yang dikeluarkan Aeris.
“Hei. Kau tak bilang kalau kau pengguna sihir sebelumnya.” Protes Cloud. “Kenapa tidak dikeluarkan dari tadi-tadi.” Protesnya lagi.
Aeris merengut tongkat besi yang ada disitu dan digunakannya sebagai perantara sihirnya. “Kau ini anggota Soldier tetapi banyak protes yah Cloud. Kau sendiri kenapa tidak pernah bertanya tentang kebisaanku ini. Lagipula bukankah para Soldier juga sering menggunakan materia?” sahut Aeris yang kemudian kembali mengeluarkan bola-bola api tapi kali ini dari ujung tongkat besinya yang kemudian menghajar ular tersebut sampai akhirnya mati hangus.
“Errr…materia-ku hilang jadi aku tak menggunakannya.” Sahut Cloud malu. Materia adalah semacam kristal warna warni transparan yang didalamnya terdapat esensi dari pengetahuan planet ini. Dengan benda ini maka seseorang yang berbakat akan dapat memanipulasi kekuatan alam sekitarnya untuk kepentingan pribadinya, tentu saja dengan latihan yang tekun. Materia terbentuk dari tetesan esensi kehidupan yang biasa disebut Life Stream yang merupakan energi yang menjaga keseimbangan kehidupan di planet ini. Jenis kekuatan alam yang bisa dimanipulasi berbeda-beda tergantung dari jenis esensi pengetahuan yang ada didalam materia tersebut, bisa saja element pembentuk planet seperti: api, udara, air, tanah atau bisa juga berbentuk kekuatan alam lainnya semisal saja cahaya, kegelapan, gravitasi, racun dan lainnya.
“Sudahlah! Jangan rebut lagi kalian! Yang penting ularnya sudah mati berkat Aeris. Terima kasih Aeris. Kau hebat.” Puji Tifa dan Aeris hanya tersenyum tersipu malu. Sekilas gadis ini melirik Cloud dan ada rasa bangga didirinya dapat menunjukkan kemampuannya didepan pria yang dia sukai.
Satu jam perjalanan sudah mereka lalui dan sekarang mereka di sebuah tempat yang bernama kuburan kereta. Disebut kuburan kereta karena memang tempat ini adalah tempat kereta api rongsokan dibuang setelah rusak atau ketinggalan mode. Tempat yang berdebu dan tak terurus. Terkadang muncul hantu disini, begitu menurut rumor yang beredar. Setelah melewati stasiun kereta di sektor 4, akhirnya mereka berhasil kembali ke daerah slum.
“Lihat di reaktor! Ada suara peperangan!” seru Aeris sambil menunjuk kearah Reaktor Mako di sektor 4.
“Aneh. Reaktor ini khan sudah tak berfungsi lagi. Jangan-jangan….Barret dan yang lain…” Tifa tak dapat melanjutkan kata-katanya dan berharap dugaannya salah. Tetapi begitu melihat tubuh seseorang terjatuh kebawah dia baru sadar kalau dugaannya sangatlah benar. Mayat Wedge tergeletak didepannya. Dia jatuh dari tingkat atas reaktor setelah tertembak dengan cukup fatal. “Aeris! Pergilah ke bar bernama Seventh Heaven dan bawa pergi gadis yang bernama Marlene dari tempat ini! Kumohon.” Kata Tifa yang kemudian diiyakan oleh Aeris.
Cloud dan Tifa lalu menaiki reaktor setinggi 100 meter itu dan menemukan Barret disana sedang berjuang melawan sekumpulan pasukan Shin-Ra. Biggs sekarat tertembak sementara kondisi Jessie juga tidak lebih baik dari Biggs. Anggota lainnya sudah berguguran. Dan di saat yang kritis, seorang utusan Shin-Ra muncul. Dia adalah Reno anggota dari Turks, organisasi hitam yang bertugas menyelesaikan pekerjaan kotor Shin-Ra. Tanpa pikir panjang, pria keji ini lalu memasang bom waktu di inti reaktor dan dalam hitungan menit saja reaktor itu meledak sehingga menghancurkan penyangga tingkat atas sektor 4.

Bagaikan gunung yang kehilangan penyangga, level atas sektor 4 yang berupa perkantoran mewah itu ambruk kebawah menimpa tingkat dua sektor 4 yang merupakan lokasi inti reaktor dan pabrik-pabrik kecil yang lalu ambruk bersama menimpa lokasi terbawah, tingkat terbawah sektor 4 yang berupa tempat pemukiman kumuh terbesar di Midgar, The Slum. Ratusan orang tak berdosa mati mengenaskan, termasuk diantaranya Wedge, Biggs dan Jessie. Cloud, Barret dan Tifa selamat. Aeris dan Marlene juga selamat. Tapi keselamatan mereka terutama Barret menjadi semacam kutukan bagi perasaan mereka. Barret menyalahkan dirinya sendiri atas kematian teman-temannya.
Beberapa jam kemudian setelah ledakan, Barret menjemput Marlene anak angkatnya yang disembunyikan Aeris di rumahnya di sektor lain. Aeris tertangkap oleh para Turks dan setelah mendengar cerita dari Elmyra ibunya, mereka jadi tahu kalau penyebab Aeris ditangkap adalah karena Aeris merupakan satu-satunya kaum Ancient yang tersisa di planet ini. Ancient adalah ras yang tertua di planet ini.

Mereka mempunyai kelebihan bisa menggunakan pengetahuan mereka untuk memanipulasi kekuatan alam. Walaupun begitu, mereka tidak pernah menggunakannya untuk kejahatan dan pengrusakan tetapi lebih untuk menjaga keseimbangan planet ini. Materia tercipta juga karena pengetahuan para Ancient yang tertinggal pada Life Stream setelah mereka mati. Keistimewaan lainnya adalah karena ras ini dapat berkomunikasi dengan alam melalui indera ke enam mereka. Shin-Ra ingin menggunakan indera ke-enam Aeris untuk menemukan sumber energi Mako yang baru yang mereka sebut sebagai Tanah Terjanji. Tentu saja semua demi uang, karena sumber energi Mako yang baru pasti akan mendatangkan keuntungan bagi industrialisasi Shin-Ra.
“Aku berjanji akan menyelamatkan anakmu nyonya.” Kata Barret menenangkan Elmyra. Perempuan yang kini berusia 50 tahunan ini hanya bisa mengangguk lemah mengingat putri angkatnya yang tidak tahu rimbanya. Sementara itu Marlene kembali dititipkan di rumah Aeris sampai keadaan kondusif.
Di dalam gedung utama Shin-Ra di tengah kota Midgar. Terlihat tiga orang mendekati dua orang penjaga yang menjaga ruang keamanan dan langsung melumpuhkan penjaga-penjaga itu. Mereka adalah Cloud cs. Shin-Ra mengira mereka telah mati dalam ledakan sehingga penjagaan jadi longgar.
“Aeris pasti ada diruangan atas. Salah satu ruangan dari seluruh ruangan di 4 lantai teratas gedung ini. Ayo kita periksa!” kata Cloud yang kemudian diikuti langkahnya oleh yang lain.
“Hmm…lantai pusat penelitian? Hojo department? Sialan ini pasti tempat kerja professor sinting itu.” Kata Cloud pelan.
Tifa mengernyitkan dahinya. “Kau kenal professor Hojo? Dia khan orang penting di Shin-Ra.” Tanya Tifa tapi sepertinya Cloud enggan menjawabnya dan berlalu. Tifa-pun tak berani bertanya lebih lanjut.
“Penjaga. Ada penjaga. Tifa kau ada ide? Karena tak mungkin kita mengendap-endap seperti tadi. Butuh kartu elektrik khusus untuk dapat masuk.” Kata Barret sambil merunduk.
Tifa maju kedepan. Barret dan Cloud terkejut dan mencoba mencegah tindakan bunuh diri Tifa itu.
“Hai tampan. Kau yang disana kemarilah!” goda Tifa dari ujung lorong. Tifa yang masih mengenakan kostum tentara Shin-Ra itu sengaja membuka 3 kancing bajunya yang teratas sehingga mempertontonkan payudaranya yang besar dan montok itu.
Prajurit penjaga itupun dibuatnya menjadi ngiler. Matanya tertuju ke wajah cantik Tifa yang kemudian turun ke belahan dadanya. Perempuan cantik ini tak memakai bra sehingga ada sedikit bagian puting susunya yang tersembul keluar. Penjaga ini menjadi semakin horny saja dibuatnya. Pria ini mendekat untuk menjamah dada Tifa namun saat dalam jarak dekat, lutut Tifa beraksi menghajar perut pria itu dan lengannya langsung membantingnya hingga pingsan. Cara pintar untuk mendobrak masuk.
“Wow. Walaupun sudah bertahun-tahun aku bersamamu teapi baru kali ini aku melihat kemontokan payudaramu Tifa. Luar biasa besar dan indah, masih kencang pula.” Goda Barret yang iseng-iseng meremasnya gemas. Puting susu Tifa-pun jadi seluruhnya keluar karena remasan itu membuat bajunya menjadi tersibak.
“Barret! Ingat rencana kita! Kita sedang di markas musuh. Jika ingin bersenang-senang, cari waktu lain!” bentak Tifa setengah berbisik.
Sebenarnya Cloud juga tak sabar ingin mencicipi tubuh Tifa lagi tetapi apa daya karena kondisi tak memungkinkan. Lalu mereka melanjutkan langkahnya ke ruangan inti. “Itu Aeris. Dan itu juga Hojo. Tangkap dia!” seru Cloud sambil mencabut pedangnya lagi.
Hojo yang sudah siap langsung menghadang mereka. “Kalian mau menangkapku? Hahahaha…jangan mimpi! Lihat teman kalian itu! Dia akan menjadi bulan-bulanan bagi kelinci percobaanku. Hahaha…” kata Hojo sambil tertawa penuh kemenangan.
Aeris ditahan diruangan berbentuk tabung dari kaca tebal transparan. Di dalam tabung percobaan itu Aeris panik karena dari lantai tabung itu keluar seekor serigala merah besar. Makhluk inilah yang menjadi kelinci percobaan Hojo. Professor sinting itu-pun semakin tertawa lebar ketika serigala merah itu mendekati Aeris dan mulai mencabik-cabik pakaiannya satu persatu. “Hahahah…mahluk itu sudah kuberi hormon untuk meningkatkan gairahnya dan aktivitas seksualnya. Aku ingin tahu bagaimana ras Cosmo jika dikawinkan dengan ras Ancient. Pasti hasilnya akan sangat mengejutkan.” Seru Hojo. Ternyata serigala itu adalah ras Cosmo yang sudah lama lenyap.
“Aeris bukan binatang professor gila. Lepaskan dia!” seru Cloud yang kemudian berniat menghabisi Hojo namun professor itu menghindar dengan berlari kencang dan menggunakan alat kabur daruratnya berupa lift khusus.
Saat Cloud berpaling melihat Aeris, ternyata sudah terlambat karena pakaian Aeris sudah robek semua dan sekarang gadis cantik berkepang itupun sudah bugil total.
“Prang!!!” Barret menembakkan senapan tangannya kearah tabung raksasa itu yang lalu pecah berantakan. Aeris keluar dengan tubuh telanjang tetapi tidak terluka sementara serigala itu mendekat juga kearah Barret. “Tunggu! Aku bukan musuhmu. Tadi aku hanya berpura-pura didepan Hojo. Jangan tembak!” seru serigala merah itu.
“Serigala dapat berbicara? Ini tak mungkin.” Seru Tifa nyaris pingsan dibuatnya.
“Aku bisa berbicara seperti apapun yang kau minta nona. Namaku Red XIII dan aku dari ras Cosmo yang berada di lembah Cosmo di benua barat. Aku ditangkap oleh Hojo dan dijadikan bahan percobaan. Nama asliku dulu adalah….akh sudahlah, tak ada gunanya. Sekarang kalian berhati-hati karena akan ada mahluk aneh yang keluar dari tabung itu. Hojo melepaskan satu specimen-nya paling berbahaya untuk membunuh kalian.” Kata Red XIII, serigala merah itu.
Belum sampai Red berkata lagi, tiba-tiba lengan Barret dan Cloud dibelenggu oleh tentakel besar bewarna hijau. Tentakel ini adalah milik monster berbentuk tumbuhan pemakan daging yang barusaja muncul dari tabung percobaan yang lainnya. Barret dan Cloud dibantingnya kearah tembok kaca hingga kaca itu pecah berantakan dan mereka berdua membentur dinding lalu pingsan. Sementara Red XIII mencoba menyerang tapi kandas setelah terpelanting akibat serangan 8 tentakel panjang lainnya. Tentakel itu lebih mirip tentakel cumi-cumi yang halus dari pada sulur tumbuhan.
“Hati-hati! Hojo salah memasukkan serbuk perangsang pada specimen itu. Serbuk yang seharusnya diberikannya padaku telah keliru mengenai monster tumbuhan itu. Lari!” seru Red sebelum akhirnya pingsan juga akibat benturan keras.
Monster tumbuhan ini tingginya 2 meter dan mempunyai tentakel bewarna hijau seperti warna tubuhnya dan panjang tentakelnya sekitar 8 hingga 10 meter dan mahluk ini juga memiliki banyak tentakel. Di bagian atasnya terdapat bunga kecil warna merah muda yang didalam kuncup bunganya terdapat gerigi kecil yang siap mengunyah makanan apapun yang mendekat. Tetapi kali ini lain, karena Hojo menaruhkan bubuk perangsang yang membuatnya menjadi horny dan mengira sudah berada di musim kawin. Mahluk tumbuhan setengah hewan ini bereproduksi dengan cara seperti hewan, yaitu pembuahan.
Tifa mencoba menghindar bersama Aeris tetapi apa daya karena mereka berdua langsung ditangkap oleh mahluk ini dan kedua kaki mereka terikat oleh tentakel mahluk ini.
Rok Tifa yang super pendek itu langsung tersingkap dengan mudahnya dan hanya dalam beberapa gerakan tentankel saja maka mahluk hijau aneh itu sudah berhasil menyibakkan kaus putih Tifa yang tanpa lengan itu dan membuat payudara Tifa terpampang keluar. Buah dadanya yang sangat besar itu menggantung-gantung dan langsung dililit oleh tentakel besar itu dan diremas dengan gerakan memelintir sehingga buah dada Tifa seolah sedang diikat oleh tentakel tersebut. Hal ini terang saja membuat buah dadanya menjadi lebih mencuat kedepan seolah akan loncat dari tempatnya menempel sekarang ini.
Tidak puas hanya dengan itu saja maka tentakel yang lain langsung menyerbu kearah puting susu TIfa dan bergerak menggesek lembut tetapi cepat dengan ujungnya sehingga membuat puting susu Tifa tambah mengeras dibuatnya. “Ughh…akhhh.” Desah Tifa tak kuasa lagi menahan rasa risih yang menghinggapinya.

Sepertinya monster bertentakel itu seolah mengerti perubahan pada diri Tifa. Tentakel yang lainnya langsung diarahkan kearah selangkangan Tifa yang kakinya terbuka lebar akibat tarikan dua tentakel lainnya. Kemudian monster tumbuhan itu mengarahkan dua tentakel yang dia miliki kearah selangkangan Tifa meleawati rok mininya yang sudah tersingkap. Menyusup kedalam celana dalam Tifa yang bewarna putih itu dan berkarya dengan gesekan dan sodokan kecil di liang vagina juga anus Tifa. Perempuan berambut panjang ini semakin tak kuasa lagi membendung hawa nafsunya. Liang kemaluannya-pun sudah semakin basah dan menyebarkan aroma yang disukai monster ini, aroma bagi para betina yang siap untuk dibuahi. Sementara Aeris sendiri yang dari tadi sudah bugil, tubuhnya terangkat diudara karena kedua tangan dan kakinya diikat oleh empat tentakel monster ini dan ditarik ke keempat arah yang berbeda sehingga seluruh lekuk tubuh Aeris terpampang jelas. Buah dadanya yang sekal dan padat berisi itu terlihat mencuat keatas karena tubuh Aeris yang dalam posisi telentang diudara.
“Lepaskan! Ughhh…” mulut Aeris tersedak ketika sebuah tentakel bewarna hijau itu menyesakkan nafasnya, melesak masuk kedalam bibirnya yang mungil dan seolah-olah ingin mencumbu bibir mungilnya. Mati-matian Aeris berusaha untuk melepaskan diri namun sia-sia karena cekalan monster itu kepada tubuhnya jauh lebih kuat.
Tentakel-tentakel yang lain langsung menyusul dengan meremas-remas payudara Aeris dan mempermainkan putingnya dengan menggunakan ujung tentakel tersebut. Kontan saja Aeris menjadi tak tahan lama-lama karena stimuli di payudaranya merupakan kunci utama bagi gadis ini untuk membuka pintu gerbang gairahnya. Memang puting susunya merupakan titik rangsang utama bagi Aeris selain di bagian tengkuk-nya.
“Aghhh…akhhh…hentikan monster sialan! Akhhh….” Desah Aeris dan Tifa bersamaan ketika monster itu semakin giat saja menggunakan puluhan tentakelnya untuk merangsang Tifa dan Aeris. Kedua gadis cantik ini pun menjadi tak berdaya dibuatnya. Walaupun sebenarnya jijik tetapi tubuh mereka mengatakan lain, cairan kewanitaan yang keluar dari lubang kemaluan mereka berdua-lah yang menjadi saksi bagaimana seekor monster bertentakel ini dapat membuat Tifa dan Aeris bertekuk lutut pada nafsu mereka. Seumur hidup mereka belum pernah berhadapan dengan rangsangan sehebat ini karena memang selama ini mereka hanya bercinta dengan pria yang tak mungkin dapat merangsang seluruh genital spot (titik rangsangan) mereka secara bersamaan, dalam waktu lama pula.
Selang sepuluh menit kemudian, dari bagian bawah tubuh monster itu yang sejatinya adalah bakal bunga (dalam kondisi normal) tiba-tiba terbuka dan keluarlah 4 tentakel yang lebih besar. Tentakel yang berdiameter 6 sampai 7 cm itu berbentuk lain dibandingkan tentakel yang berada di bagian atas monster ini. Jika tentakel atasnya berbentuk sedikit pipih dan berujung mirip dengan ujung tentakel cumi-cumi maka tentakel yang keluar dari bagian bawah monster ini berbentuk lonjong dan ujungnya berbentuk seperti bola kecil yang ditengahnya terdapat beberapa lubang kecil…lebih mirip seperti penis monster ini dibandingkan tentakel. Tentu saja penis yang panjang karena panjangnya hampir 15 meter, jauh lebih panjang dari pada tentakelnya.
Tifa dan Aeris tidak menyangka kalau hari itu mereka akan diperkosa oleh monster saparuh tumbuhan separuh mutant ini. Penis raksasa mahluk ini langsung menyerbu Tifa dan Aeris. Dari 4 penisnya, dua menuju kearah selangkangan Tifa sementara dua yang lain menuju kearah Aeris.
Dua batang penis raksasa itu menyusup kedalam lipatan celan dalam Tifa dan dalam hitungan detik terdengar suara teriakan Tifa. “Akhhh…sakittt! Sakittt! Lepaskan…!!!” jeritnya ketika monster tak berperasaan itu menusukkan kedua penisnya kedalam liang kemaluan Tifa dan anusnya secara bersamaan.

Sekarang tubuh Tifa yang setengah berdiri diudara itu terguncang-guncang. Bagaimana tidak karena baik lubang vaginanya maupun lubang anusnya sedang dihajar oleh pompaan batang tentakel penis raksasa milik sang monster. “Akhhh…akhhh…” Tifa hanya bisa mendesah ketika tubuhnya semakin terangkat keatas karena lilitan tentakel monster itu di tangannya sementara itu selangkangannya disangga penis monster tersebut.
“Akhhhh….sakit!!!” jerit Aeris ketika dalam posisi terlentang di udara dia merasakan liang vaginanya diterobos oleh benda asing secara paksa dan langsung memompanya tanpa ampun. “Hentikan! Bedebah! Sakit! Akkhhhh…..” jeritnya lagi namun tak berdaya melawan kuasa monster itu akan dirinya.
Belum selesai penderitaan Aeris, tiba-tiba penis keempat dari monster ini langsung melesak kearah lubang anusnya. Terang saja lubang anus Aeris yang masih perawan ini langsung berdarah karena desakan kuat penis monster itu untuk masuk kedalamnya. Dalam hitungan detik, penisnya sudah mengobrak-abrik kedua lubang pribadi Aeris tanpa ampun. Gadis cantik ini nyaris pingsan dibuatnya karena menahan rasa sakit yang teramat sangat di vagina maupun di anusnya.
Beda lagi dengan kondisi sang monster yang kali ini sedang bersemangat memompa 2 vagina dan 2 lubang anus dari 2 orang gadis cantik secara bersamaan. Dari batang penisnya terlihat cairan pelumas mulai bermunculan. Dan setelah memutar-mutar posisi kedua korbannya itu, sang monster mengerang aneh yang kemudian diikuti dengan munculnya semacam gelombang/ gundukan aneh sebesar bola tennis yang kemudian menjalar dari pangkal tubuhnya menuju ke ujung dari masing-masing penisnya. Lalu berubah menjadi semburan cairan hangat kedalam liang kemaluan dan anus masing-masing gadis. Cairan bewarna hijau keputihan ini sepertinya adalah semacam sperma yang dimiliki oleh monster sial ini. Cairan ini berbau sedikit wangi seperti wangi bunga yang ada di bagian atas monster tumbuhan hasil mutasi ini. Untungnya cairan itu tidak lengket sehingga tidak terus melekat di dinding rahim kedua gadis cantik ini namun langsung menggelontor keluar dari bibir kemaluan mereka berdua.
Monster inipun lemas tak berdaya setelah dirinya memompa cairan spermanya keluar dalam jumlah besar. Tiba-tiba disaat monster ini sedang merasakan kenikmatannya, sebuah pedang menembus perutnya dari belakang. Cloud sudah siuman dan telah menghunjamkan pedang besarnya menembus tubuh mutant itu dan membelahnya menjadi dua. Monster itu mati tepat setelah merasakan kenikmatan manusiawi dari perkosaannya kepada Tifa dan Aeris.
“Maaf aku terlambat menolong.” Kata Cloud sambil membantu Tifa dan Aeris untuk berdiri. Kedua gadis cantik ini sudah tidak mempunyai tenaga lagi karena tubuh mereka sudah lemas akibat rontaan mereka dari lilitan tentakel monster barusan ditambah lagi mereka juga lemas akibat terlalu banyak menerima rangsangan dari sang monster.
Setelah mereka semua sudah kembali menghimpun tenaga, Red XIII menenangkan Aeris bahwa dia tidak akan hamil karena bentuk sel monster tersebut tidak seperti milik manusia. Aeris-pun tenang dibuatnya walaupun masih tersisa rasa jijik didirinya jika mengingat cairan hijau monster tadi pernah disemprotkan didalam lubang senggaman miliknya. Sementara itu Tifa malah sudah berusaha melupakannya dan yang teringat tinggallah rasa nikmat saat seluruh G-spotnya tersentuh oleh sang monster dan itu sejujurnya merupakan pengalaman seks paling hebat yang dia pernah alami sampai saat ini.
Berlima, mereka lalu menaiki lift yang digunakan Hojo untuk kabur. Mereka tidak tahu kalau dilantai atas mereka sudah ditunggu oleh Reno dan Rude, anggota senior dari Turks. Tanpa perlawanan yang berarti akhirnya mereka harus tertangkap oleh Shin-Ra. Pasukan Shin-Ra membawa ke lima orang ini ke ruang kepresidenan. Disana presiden Shin-Ra sedang menunggu dan memutuskan hukuman mati bagi semuanya kecuali Aeris karena masih dibutuhkan.