7th Chapter
Sephiroth

Berlima mereka akhirnya dimasukkan kedalam penjara khusus yang berada dimarkas besar Shin-Ra ini dengan tujuan mudah jika ingin di interogasi. Barret dan Red XIII dikurung di ruangan paling ujung dalam satu ruangan. Cloud dan Tifa dikurung bersama dalam ruangan yang lainnya sementara Aeris yang spesial dikurung sendirian.
“Ughh. Seharusnya aku tahu kalau bakal seperti ini. Sialan!” seru Barret sambil mencoba mendobrak pintu besi ruangan itu. Namun Red XIII mencegahnya.
“Sudahlah tuan Barret. Percuma. Karena aku sendiri telah mencobanya berkali-kali dan hasilnya hanyalah ini.” Kata Red sambil menunjukkan benjolan diatas kepalanya yang dipenuhi bulu itu. “Lebih baik menyimpan tenaga buat nanti.” Katanya lagi lalu Barret menggerutu dan menyumpah entah untuk yang keberapa kalinya lalu terduduk di ranjang logam diruangan itu.
“Hei Cloud! Kau masih punya hutang menjadi bodyguard-ku khan? Kau harus mengeluarkanku dari tempat terkutuk ini. Ayolah Cloud berusaha.” Kata Aeris dari ruangan sebelah.
“Ya…ya…ya. Asal kau tahu saja pengawal ditempat ini jauh lebih banyak dibandingkan di reaktor. Lagipula kau juga punya hutang padaku sebagai bayarannya.” Sahut Cloud yang membuat Tifa yang seruangan dengan dirinya menjadi semakin ingin tahu ada apa dengan kedua orang ini. Sekilas ada api cemburu pada dirinya.
“Hehehe…satu kali kencan khan? Tapi kau khan pernah meniduriku sekali di Wallmarket. Itu sudah termasuk bukan?” kata Aeris membela diri lalu dia terkejut dengan munculnya sebuah suara dari ruangan tempat Cloud ditahan.
“Ohhh…jadi begitu. Sekarang aku tahu kalau ternyata kalian berdua sudh pernah berkencan dan bahkan bercinta. Itu menjelaskan kenapa kalian selalu berdua.” Kata Tifa sedikit jengkel karena Cloud telah menambatkan penisnya ke wanita lain selain dirinya.
Aeris kaget dan mengubah topik pembicaraan. Untungnya Tifa mau mengerti dan akhirnya mereka mencari cara bersama agar bisa kabur dari tempat itu.
“Bruak!” pintu ruangan penjara tempat Aeris ditahan terbuka lebar. Dua orang penjaga muncul dengan wajah menyeringai.
“Mau apa kalian?” seru Aeris sambil mundur tetapi karena ruangan sempit dia tidak dapat lari kemana-mana. “Lepaskan! Pergi kalian! Pergi! Lepaskan aku! Cloud tolong…!” jerit Aeris ketika tubuhnya direbahkan paksa oleh kedua penjaga itu dan salah satu penjaga mencekal tangannya keatas agar tak berontak lagi.
“Lepaskan dia keparat! Kemari, akan aku hajar kalian.” Seru Cloud berang. Tifa juga lama-lama terpancing emosinya dan mencoba mendobrak pintu namun hasilnya sia-sia belaka.
“Akhhh….lepas..akhh..” desah Aeris kewalahan ketika pakaiannya dirobek paksa oleh salah satu penjaga sementara penjaga yang lain masih mencekal tangannya dengan erat agar tidak memberontak. Hanya membutuhkan waktu relative singkat bagi kedua penjaga itu untuk merobek-robek pakaian Aeris hingga sekarang dari bajunya yang robek, payudara gadis cantik itu dapat terlihat dengan jelas sementara celana dalamnya sudah melorot dan nyaris putus dan tinggal menggelantung di pergelangan salah satu kakinya saja.
Penjaga yang menunduh tubuh bawah Aeris berebutan dengan penjaga yang mencekal tangan gadis ini untuk meremas dan menciumi payudara serta perut seksi Aeris. “Akhhh…Lepaskan aku!” rintih Aeris. “Kumohon jangan perkosa aku! Lepaskan…!’ jeritnya lagi namun tak berguna karena bibirnya langsung disumbat oleh ciuman salah satu penjaga.
“Heh. Sekarang kamu bakal merasakan kenikmatan bercinta dengan para prajurit gagah seperti kami. Rasanya bakalan lain dibandingkan dengan pacar kamu hahaha…nih rasakan punyaku!” seru penjaga itu sambil meneroboskan batang kemaluannya melesak mmbelah himpitan bibir vagina Aeris yang sudah agak becek itu. Aeris menjerit kesakitan akibat perlakuan kasar penjaga tersebut. Namun pria ini tidak peduli lagi dan langsung menggenjot tubuh Aeris dengan brutal dengan penisnya yang besar. “Dasar pelacur pemberontak. Nantinya kamu juga bakalan senang. Lihat saja nanti. Sekarang saja sudah becek seperti ini, artinya kamu menikmatinya juga khan?” ejek penjaga itu sambil terus memompakan batang kemaluannya menjarah seluruh sudut di dalam vagina Aeris.
Penjaga yang lain tak mau kalah. “Nih penisku. Hisap! Kalau tidak akan kuajak teman-temanku yang lain untuk kemari dan menikmati tubuhmu. Asal kamu tahu kalau jumlah mereka lebih dari tiga puluh orang. Bagaimana? Cepat hisap!” perintah penjaga itu sambil mengacungkan batang kejantanannya kedepan bibir Aeris yang mungil ini.
Mau tak mau karena takut ancaman akan digilir ramai-ramai, Aeris terpaksa membuka mulutnya dan hanya pasrah ketika penjaga tersebut melesakkan dan memompa batang kemaluannya didalam mulut Aeris yang sedang terlentang itu. Sudah beberapa kali gadis cantik ini nyaris tersedak karena sodokan brutal penis penjaga tersebut.
“Wah, nikmatnya penisku. Ternyata mulut seorang Ancient pandai juga dalam menghisap kemaluan pria hahaha…” ejek penjaga tersebut dan ditimpali dengan ejekan penjaga lainnya, “Benar. Vaginanya juga sempit dan berdenyut membuat penisku seperti diurut saja…ahahahaha…nikmat sekali kemaluan gadis cantik ini. Setelah ini kita tukar posisi! Aku juga ingin merasakan hangatnya bibir perempuan ini.” Kata penjaga yang lain.
Dari kamar sebelah, Cloud dan Tifa hanya bisa mendengar ejekan-ejekan para penjaga tersebut yang kadang diiringi dengan desahan atau rintihan Aeris saat mereka perkosa dengan posisi yang terus berganti.
“Tifa….kau kenapa?” tanya Cloud ketika Tifa mulai memerah mukanya dan tangannya memegangi selangkangannya juga payudaranya. Tifa sedang melakukan masturbasi karena tidak tahan dengan suara desahan Aeris yang menggairahkan itu.
“Cloud….” Tifa tak dapat melanjutkan kata-katanya. Namun pemuda pirang itu sudah mengerti dan langsung membuka resleuting celananya dan mengeluarkan batang kemaluannya dari bilik pribadinya itu. Tifa yang sudah terlentang diatas ranjang logam sudah tidak peduli dengan kondisi sekitar lagi. Kedua kakinya sudah mengangkang dan tangannya mengarahkan batang kenjantanan Cloud untuk menembus bibir kemaluannya. “Akhhh…” Tifa mendesah hebat ketika penis Cloud menyeruak masuk dan semakin menggila dengan sodokan-sodokannya yang penuh nafsu.
Seolah ingin bersaing dengan desahan dan rintihan Aeris, Tifa mendesah dan merintih tak kalah kerasnya. Dua gadis ini seolah berlomba untuk mengeluarkan nyanyian gairah yang bersahut-sahutan. Tak lama kemudian terdengar suara pintu sel tempat Aeris diperkosa tertutup dan terkunci. Dua penjaga itu sudah puas mengerjai Aeris. Gadis malang ini sekarang sedang terkulai tak berdaya di lantai dingin penjara.

Tubuhnya yang nyaris telanjang itu belepotan sperma di vagina, perut dan juga wajah. Kedua penjaga yang memperkosanya itu masing-masing berejakulasi dua kali. Sperma haram itu di semprotkan kedalam vagina Aeris dan diatas perutnya sementara penjaga yang lain mengeluarkan cairan maninya itu membasahi buah dada Aeris dan disemprotkan didalam bibir gadis cantik ini. Lalu meninggalkannya dalam kesendirian dan dalam kondisi lemas lunglai. Seluruh engsel persendiannya seolah telah copot karena dalam sehari Aeris telah diperkosa berulang-ulang dan itu membuat dia kehilangan banyak cairan. Anehnya walaupun diperkosa tetapi dia sempat merasakan orgasme melanda tubuhnya ketika kedua penjaga tadi membombardir vaginanya dengan sodokan penis mereka bergantian tanpa jeda. Aeris yang masih kurang pengalaman ini terang saja langsung menggelinjang tak karuan.
Sementara itu, dikamar yang lain. Cloud sedang mengurut batang penisnya yang sebelumnya telah menembakkan sperma dalam jumlah besar kedalam liang kemaluan Tifa. Perempuan berambut panjang nan cantik itu-pun sekarang sedang sibuk menjilati penis Cloud yang masih belepotan sperma dan sesekali mengoralnya. “Akhhh…Tifa….” Pekik Cloud dan kembali menyemburkan sperma kearah Tifa. Kali ini cairan putih kental itu memenuhi mulut Tifa yang kemudian menelannya tanpa sisa.
Saat kedua muda mudi ini sedang berangkulan hangat, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan membukanya pintu sel penjara mereka. Cloud berlari keluar dan menemukan para penjaga telah tewas dengan tubuh bergelimang darah. Lalu dia dan Tifa mengambil kunci sel dari tangan salah satu penjaga yang tewas dan membuka pintu sel yang lain untuk membebaskan tiga rekan mereka yang lain.
“Wowww. Kalian tadi benar-benar panas. Aku jadi ingin menggagahi kalian hehehe. Desahan kalian terlalu menggairahkan.” Kata Barret ketika keluar dan menemui Tifa sedang membantu Aeris mengenakan pakaian baru yang sebelumnya milik salah seorang penjaga yang terbunuh. “Ugh Tifa…kamu…” Barret sedikit kaget ketika Tifa dengan nakalnya meremas penis Barret yang sedang tegang dibalik celananya itu. Seolah mengatakan kalau dia memang suka menggoda Barret.
Kelima orang ini lalu menuju ke lantai dimana kantor presiden Shin-Ra berada dengan harapan dapat menemui presiden itu dan menyanderanya untuk membeli jalan keluar bagi mereka dari kepungan prajurit Shin-Ra di luar gedung.
“Astaga! Siapa yang melakukan ini? Presiden Shin-Ra tewas dengan pedang menancap dipunggungnya? Memangnya siapa orang gila yang melakukan ini?” kata Barret terkejut walaupun dia sebenarnya senang musuh besarnya sudah mati namun ada rasa begidik merinding juga ketika melihat mayat-mayat para penjaga dan pekerja Shin-Ra bergelimpangan dengan kondisi mengenaskan. Lantai tersebut seperti neraka hidup yang dindingnya berhiaskan darah manusia.
“Siapa kamu? Berhenti atau kutembak!” seru Barret ketika melihat sesosok bayangan berlari keluar menuju ke heli pad (tempat pendaratan helikopter) yang berada di atap gedung.
Pria gendut itu tertangkap oleh Cloud dan setelah diperhatikan, dia adalah Palmer, salah satu petinggi Shin-Ra. “Ampuni aku! Aku tidak melakukan apapun. Kumohon lepaskan aku!” kata pria gendut itu memohon.
Cloud menghunus pedangnya kearah leher Palmer, “Katakan! Siapa yang melakukan ini!” seru Cloud denan nada tinggi mengancam.
Pria gendut bernama Palmer itu nyaris saja pingsan karena ketakutan. “Hiks….semua karena Sephiroth. Dia datang dan membunuh semua orang. Aku bersembunyi ketika dia menusuk pak presiden dengan pedangnya. Dia juga mengatakan kalau tanah terjanji adalah miliknya seorang lalu membunuh presiden. Lepaskan aku! Dia mungkin masih ada disini.” Seru Palmer yang kemudian lari setelah dilepaskan oleh Cloud.
“Huh! Sephiroth? Siapa dia? Apakah dia teman kita juga?” kata Barret bertanya-tanya. “Sungguh hebat dapat mengalahkan para prajurit Shin-Ra dengan secepat ini.” Lanjutnya lagi.
“Percayalah! Dia bukan teman. Dia punya alasan dan tujuannya sendiri melakukan ini semua. Padahal seharusnya dia sudah mati.” Kata Cloud. Semua orang bertanya-tanya kenapa Cloud bisa tahu mengenai Sephiroth. “Nanti akan kuceritakan semuanya setelah keadaan aman.” Sahutnya lalu menuju ke heli pad setelah mendengar suara helikopter mendekat.
Di atap gedung, sebuah helikopter telah mendarat dan terlihat Palmer langsung naik keatasnya sementara itu seorang pria ber jas putih nampak sedang berdiri disamping helikopter itu. “Hmmm….para pemberontak. Biar kutebak, kalian bisa kabur dari tahanan?” ucapnya sambil memanggil seekor Anjing besar dengan siulan.
“Dia adalah anak presiden, namanya Rufus. Kedudukannya adalah sebagai Vice President dari Shin-Ra. Kalian cepat turun! Nanti aku menyusul. Akan kuselesaikan permasalahan ini sendirian.” Kata Cloud sambil mencabut pedangnya.
“Cloud, berjanjilah kau akan selamat.” Kata Aeris sebelum dia bersama yang lain kembali kebawah. Cloud hanya mengangguk ringan.
“Hmmm…namamu Cloud yah rambut pirang. Menarik. Sangat menarik. Sepertinya tempat ini menjadi lokasi reuni bagi para minion dari Jenova. Hahhahaha…” Rufus tertawa sambil menyuruh Anjing penjaganya untuk bersiap dalam posisi menyerang.
“Terserah apa maumu Rufus. Yang jelas akan kubuat kau terkapar dibawah pedangku. Shin-Ra harus dihentikan.” Seru Cloud sambil merangsek maju dengan pedang terhunus.
Rufus menghindar kebelakang dan anjingnya yang berwarna hitam itu langsung maju menahan langkah Cloud. Anjing ini bukan anjing biasa karena kulitnya sangat keras sekeras besi baja. Hasil dari mutasi yang dilakukan orgnisasi Shin-Ra. “Sayang, padahal kita bisa menjadi teman.” Kata Rufus sambil menembakkan sebuah peluru kearah Cloud.
Tiga peluru mengarah ke kepala dan dada Cloud namun tertahan oleh pedang besar yang dia bawa. “Tak semudah itu.” Kata Cloud sembari mengayunkan pedangnya dengan kekuatan tinggi. Di pusatkannya kekuatan pedang tersebut di gagang/pangkal pedang dan dengan kekuatan luar biasa dia menggunakan energi aneh tersebut untuk menggerakkan pedangnya dengan kecepatan nyaris menyamai kecepatan suara, membelah tiap peluru yang mengarah ke tubuhnya bersamaan dengan membacok bertubi-tubi anjing mutasi tersebut, “Cross Slash!”

Anjing hitam itu terkapar. “Dark Nation! Hmmm…padahal Anjing itu kupesan khusus dari Hojo. Kau harus bayar kerugian ini…nanti…” kata Rufus yang lalu kabur dengan helikopternya. Cloud mencoba menyusul tetapi kalah cepat.