8th Chapter
The Journey is Begin

“Sialan! Kenapa mereka tidak menyerah juga sih. Mengejar kita hingga ke perbatasan Midgar. Dasar Shin-Ra sinting.” Barret kembali mengumpat entah untuk yang keberapa kali. Dibelakangnya terdapat bangkai panzer khusus buatan Shin-Ra bernama ‘Motorball’ yang telah hancur berantakan akibat tembakan Barret yang beruntun mengenainya.
Cloud dan kawan-kawan telah berhasil menerobos kepungan polisi dan tentara Shin-Ra yang ada diluar gedung menghadang mereka. Sebuah panzer terus mengejar mereka hingga kedaerah perbatasan Midgar. Walaupun akhirnya panzer tersebut hancur tetapi mobil yang ditumpangi Cloud dan kawan-kawan juga mengalami kerusakan parah.
“Nampaknya setelah dari sini kita harus berjalan kaki. Mobil kita rusak dan tak mungkin jalan lagi. Kita kearah timur. Ke kota kecil bernama Kalm, semoga mereka tidak mencari kita sampai kesana.” Kata Cloud yang kemudian diikuti oleh para rombongan. Barret bersungut-sungut karena baik Tifa, Aeris maupun Red XIII menganggap Cloud sebagai pemimpin perjalanan ini dan bukan Barret.
Setelah satu hari perjalanan akhirnya mereka berlima sampai juga di kota kecil sebelah timur Midgar bernama Kalm. Kalm adalah kota pertanian dan peternakan walaupun ada beberapa orang yang menjadi penambang di sebuah pertambangan mithril di dekat pegunungan Midgar.
“Akhh…akhirnya sampai juga. Sepertinya prajurit Shin-Ra belum sampai tempat ini.” Kata Tifa sambil mengamati keadaan.
Cloud menunjuk kesebuah penginapan di tengah kota. “Kita menginap dulu disini. Lagipula sejak dua hari yang lalu kita kurang istirahat.” Katanya.
Barret dan yang lain setuju, “Oh ya…aku juga ingin tahu banyak mengenai Sephiroth dan hubungan kalian berdua. Semua ini masih membingungkanku.” Kata Barret sambil menuju ke penginapan.
Sesampainya di dalam penginapan, semua mengelilingi Cloud dan ingin mendengar cerita mengenai Sephiroth yang telah membunuh pimpinan Shin-Ra. “Baik-baik jika kalian memaksa. Tapi ini akan jadi malam yang panjang karena ceritaku ini bakalan memakan banyak waktu.” Kata Cloud yang lalu duduk mengingat masa lalunya.
“Cerita dimulai ketika aku bersama Sephiroth dan 4 tentara elite Shin-Ra mendapat tugas untuk menyelidiki reaktor Mako di kota kecil di benua barat bernama Nibelheim. Nibelheim merupakan kota pertanian yang terletak di kaki gunung Nibel, gunung tertinggi di daratan barat. Ada laporan bahwa ada kebocoran gas Mako disana dan banyak penduduk yang hilang yang konon kabarnya di bunuh oleh monster. Entah bagaimana tiba-tiba saja isu mengenai monster berkembang di Nibelheim dan mulai berkembang menjadi isu yang mengatakan bahwa Shin-Ra memproduksi monster di gunung Nibel dan itu membuat para petinggi Shin-Ra gerah. Akhrinya kamilah yang ditugaskan menjadi penyelidik kesana. Selain Sephiroth, hanya aku yang menjadi anggota Soldier tingkat 1 di tim itu. 4 prajurit elite yang lain hanyalah prajurit yang dilatih militer Midgar.”
Cloud mengambil nafas panjang lalu melanjutkan ceritanya. “Aku mulai merasakan ada yang tidak beres ketika ditengah perjalanan kami dicegat oleh seekor monster naga raksasa. Reptil langka ini seharusnya hanya hidup di daerah gunung yang sangat tinggi atau daerah dalam yang tidak terjangkau manusia. Entah kenapa monster ini bisa muncul dan menghadang mobil kami.

Tapi yang membuatku lebih terkejut lagi adalah saat Sephiroth menghabisi naga itu. Sephiroth hanya membutuhkan dua kali tebasan untuk membinasakan naga ganas itu. Aku masih teringat ketika pedang Masamune miliknya membelah api semburan naga itu dan memberikan luka yang sangat dalam pada leher naga itu sebelum tusukan kedua menembus jantung monster raksasa tersebut.”
Barret berdiri dan berteriak protes, “Mustahil. Hei…hei! Mana mungkin ada manusia bisa membunuh naga raksasa dalam dua serangan? Memangnya dia monster hah?!” tapi Barret lalu duduk ketika Tifa menyuruhnya diam dan meminta Cloud melanjutkan kata-katanya.
“Sorenya kami sampai di kota Nibelheim. Para penduduk menyambut gembira kami dan mempersilahkan kami untuk menginap gratis di penginapan termewah disana. Namun Sephiroth pribadi lebih suka tidur di bangunan besar yang sudah tua di utara kota. Bangunan itu dulunya adalah milik pejabat Shin-Ra yang bekerja di bawah kepemimpinan Profesor Gast, salah satu ilmuwan terbaik Shin-Ra selain Hojo. Pagi harinya kami kembali berkumpul dan kali ini kami di kenalkan kepada seorang pemandu perjalanan yang akan memberitahu rute kami nantinya, dia adalah Tifa. Hanya saja waktu itu aku tidak tahu alasan mengapa Tifa begitu dingin kepadaku.” Cloud kembali menghentikan ceritanya lalu memandang Tifa.
“Akhirnya kami bertujuh menempuh perjalanan bersama. Dalam perjalanan itu jembatan gantung yang menghubungkan kedua tebing curam di gunung Nibel putus dan kami kehilangan satu anggota kami.

Sesampainya di reaktor, aku dan Sephiroth menemukan kejanggalan pada tabung-tabung reaktor dan setelah kami periksa ternyata reaktor itu tidak bocor tetapi tabung-tabung reaktor itulah yang terlepas dan terbuka dan yang mengejutkan adalah ternyata didalam tabung tersebut berisi manusia yang dijadikan eksperimen dengan cara mengalirkan kekuatan radiasi energi Mako pada tubuh mereka. Mereka berubah menjadi…menjadi monster. Hal itulah yang membuatku sadar kalau selama ini Shin-Ra memproduksi pasukan monster di Nibelheim. Yang lebih mengerikannya lagi adalah para anggota Soldier juga menjalani tes yang sama dengan monster-monster itu yaitu dengan energi Mako. Itu berarti aku dan Sephiroth juga terkena radiasi. Tetapi yang membuatku bingung adalah mengapa aku tidak berubah seperti mereka. Memang tenagaku bertambah besar tetapi kenapa fisikku masih manusia, begitu juga dengan Sephiroth.


“Sejak saat itulah Sephiroth menjadi pendiam dan dia terus menyebut kata ‘Jenova’ yang merupakan nama ibunya yang sudah mati. Sephiroth lalu mengurung dirinya didalam perpustakaan gedung tua milik Shin-Ra itu dan saat aku menjemputnya pada malam hari dia malah tertawa seperti orang gila dan menyebut kami semua sebagai pengkhianat. Dia mengatakan mengenai informasi dari bahan penelitian Profesor Ghast yang menyatakan bahwa Sephiroth merupakan anak dari Jenova, sebuah spesies asing dari luar planet ini yang membawa wabah kematian bagi banyak orang tempo dulu dan Sephiroth juga hasil rekayasa genetika berasal dari sel hidup Jenova yang ditanamkan di rahim seorang perempuah oleh ilmuwan gila bernama Hojo.”

“Sephiroth yang gila waktu itu mengamuk dan membakar seluruh isi kota dan membunuh hampir semua orang. Guru Tifa, Master Zangan menyelamatkan nyawaku ketika Sephiroth mengamuk. Saat aku menyusulnya ke dalam reaktor di gunung Nibel, aku menemukan Tifa sedang sekarat setelah tertusuk pedang Sephiroth. Kukira dia akan mati tetapi untunglah Tifa selamat. Aku masuk dengan pedang terhunus dan bertarung dengan Sephiroth dan cerita selesai.” Cloud lalu berdiri dari duduknya.
“Wo..woo…wooo…tunggu dulu teman! Apa yang terjadi setelah itu? Siapa yang menang?” Barret mengejar Cloud dengan pertanyaan.
Cloud kembali duduk, “Aku masih hidup berarti seharusnya Sephiroth yang tewas karena tidak mungkin orang gila itu akan melepaskanku kalau aku sampai kalah. Tetapi setelah kemunculannya di Midgar membuatku kembali bertanya-tanya apa yang terjadi sebenarnya.”
Aeris mendekat, “Setidaknya kau masih hidup. Lagipula belum tentu yang dilihat Palmer itu benar-benar Sephiroth. Bisa saja ada orang yang menyamar sebagai dirinya untuk membuat semacam kehebohan.” Katanya menghibur.
Cloud melirik kearah Aeris.” Mungkin saja itu terjadi.” Lalu pemuda ini membuka almari pakaian di kamar itu dan menemukan sebotol minuman yang tertinggal disitu, sepertinya milik penghuni sebelumnya yang lupa membawanya. “Megalixir, hmmm mahal juga minuman ini.”
Barret lalu menuju pintu kamar, “Cerita yang aneh. Endingnya tidak jelas. Hei kalian sebaiknya tidur yang banyak karena besok kita harus pergi kearah selatan untuk menghindari kejaran pasukan Shin-Ra. Karena cepat atau lambat kota ini akan didatangi setelah kota-kota yang lain.” Katanya yang kemudian menghilang ke balik pintu.
Setelah Tifa dan Red XIII pergi keluar kamar, Aeris mendekati Cloud. “Ceritamu sangat menarik Cloud. Kenapa kau tidak pernah bilang sebelumnya kalau masa lalumu ternyata sekelam itu?” Aeris duduk disamping Cloud yang duduk di pinggir tempat tidur.
Cloud menatap langit-langit lalu mengalihkan pandangannya kepada Aeris. “Tak ada yang patut untuk diceritakan. Lagipula aku tidak suka mengumbar masa laluku. Merepotkan.”
Mereka berdua saling berpandangan sebelum akhirnya bibir halus Aeris bersentuhan dengan bibir Cloud. ”Aeris…kau…” Cloud tak dapat melanjutkan perkataannya karena detik berikutnya di dan Aeris telah terbuai dalam ciuman dahsyat mereka. Kedua bibir sepasang manusia ini saling memagut tanpa henti. Lidah Cloud bertautan dengan lidah Aeris saat kedua mulut mereka bertemu.
“Cloud. Aku menginginkanmu sekarang juga.” Aeris lalu membuka jaket mininya dan diikuti dengan membuka gaunnya. Sekarang Aeris telah setengah bugil, hanya tinggal celana dalamnya saja yang masih melekat ditubuh dara cantik ini. Branya sudah robek saat dia dipenjara di gedung Shin-Ra tempo hari.
Cloud-pun membuka pakaiannya dan saat celananya terbuka, batang kemaluannya sudah menegang sedari tadi. Penis besar Cloud yang sudah berliur itu disodorkan empunya kepada Aeris. Aeris-pun tau apa yang Cloud inginkan. Dia berjongkok didepan Cloud yang sedang duduk dan membuka mulutnya untuk memasukkan batang kejantanan pria pujaan hatinya itu kedalam mulutnya.
“Akhh…Aeris…” Cloud hanya bisa mendesah menahan gejolak sensasi yang diberikan mulut dara cantik ini dan permainan lidahnya sudah berhasil membuat Cloud nyaris dilanda orgasme. Batang kejantanan Cloud keluar masuk mulut kecil Aeris dan Cloud sendiri menggerakkan pinggulnya seolah memompa penisnya kedalam rongga mulut Aeris. Sementara Aeris sendiri nampaknya juga mulai menikmati hal tersebut dan mulai berani menyedot-nyedot penis Cloud sehingga sensasinya berlipat ganda, bahkan ada kalanya rasanya melebihi saat Cloud meniduri Aeris.
Tak tahan dengan perlakuan Aeris pada kemaluannya, Cloud menarik tubuh gadis cantik itu keatas kasur dan melucuti celana dalam warna putih yang dia pakai. Batang kejantanan Cloud lalu diarahkan kebibir vagina Aeris yang telah basah itu.
“Cloud. Masukkan sekarang yach…” rajuk Aeris tak tahan. Cloud sendiri hanya menggesek-gesekkan batang kemaluannya di bibir vagina dara cantik ini sementara mulut dan tangannya tak henti-hentinya mempermainkan kedua payudara Aeris beserta putingnya hingga mengeras terangsang hebat. Sesekali mulut Cloud menghisap kencang puting payudara Aeris sehingga Aeris menggelinjang hebat dan dalam lima menit Aeris telah memperoleh orgasmenya yang pertama. Payudaranya yang merupakan titik G-Spot paling kuat telah dikerjai Cloud habis-habisan sehingga dara cantik ini tak mampu membendung luapan gairahnya yang sudah membeludak. Liang vagina cewek cantik ini-pun mengeluarkan cairan bening hasil orgasmenya. Cloud yang sadar kalau Aeris sudah mencapai orgasmenya berhenti menstimuli payudara lawan mainnya tersebut.
Lalu sambil mencium Aeris yang masih terpejam matanya, Cloud melesakkan batang kemaluannya melewati bibir vagina Aeris dan mulai menjarah liang kewanitaan dara cantik itu. Cairan kewanitaan Aeris sudah membanjiri vaginanya dan sudah bercampur dengan cairan pelumas yang keluar dari batang kemaluan Cloud. Bunyi berkecipak terdengar dari benturan antar dua kelamin ini. Bibir kemaluan Aeris memerah dan terbelah besar tiap kali tonggak kejantanan Cloud yang berukuran besar itu melesak masuk dan memompa kemaluannya. Aeris yang ditindih Cloud tidak dapat melihat bagaimana lubang kenikmatannya dijarah oleh tonggak perkasa milik Cloud dan dia hanya dapat melihat keganasan Cloud yang mencumbu bibir, leher, telinga dan payudaranya dengan ciuman, jilatan atau bahkan dengan gigitan mesra. Buah dadanya ikut berguncang ketika Cloud menggenjot Aeris dengan penuh semangat. Kedua insan ini saling berlomba mencapai kepuasan sebagai garis finish mereka.
“Akh…penismu masih terlalu besar Cloud.” Aeris mengaduh tiap kali Cloud menyodokkan batang kejantanannya itu dengan kecepatan tinggi sehingga terkadang bibir vagina Aeris ikut melesak kedalam bersama dengan batang kemaluan Cloud.
“Bagaimana dengan penis para prajurit Shin-Ra itu? Mana yang lebih enak?” goda Cloud sambil mempercepat gerakan sodokannya. Aeris menggeleng-gelengkan kepalanya tak tahan merasakan vaginanya seolah sedang dipompa oleh dua penis normal sekaligus.
“Kamu lebih enak Cloud. Lebih besar lebih panjang…lebih puas…akhhh…”Aeris menjerit sambil menggelinjang hebat. Dia telah mencapai orgasmenya yang kedua. Sementara Cloud terus melesakkan batang kemaluannya dan dipercepat gerakannya sehingga Aeris kewalahan lalu disaat Aeris nyaris kehilangan kesadaran, Cloud mencabut penisnya dan menyemburkan cairan spermanya di wajah Aeris. “Cloud…akkhhh…” Aeris hanya bisa mendesah pelan menerima cairan putih kental yang berjumlah banyak itu.
Cloud lalu memasukkan paksa batang kejantananya itu kembali ke mulut Aeris yang ternganga. Aeris berusaha menolak cara kasar Cloud itu tapi dirinya sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk berontak. Dia hanya bisa pasrah ketika tubuhnya yang telentang lemas itu sekarang digarap Cloud secara kasar. Cloud seolah memperkosa mulut Aeris dengan sodokan penisnya yang sudah kembali tegang itu walaupun belum sempurna. Tepat saat Cloud akan memperoleh orgasme keduanya dimulut Aeris, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dan Barret muncul dari balik pintu. Pria ini menyaksikan detik-detik ketika Cloud mencabut batang kejantanannya dari mulut Aeris dan menyemburkan spermanya ke atas payudara dan perut dara cantik ini.
“Shit! Mengapa hanya kau terus yang beruntung?” gerutu Barret yang lalu ngeloyor pergi dari kamar itu dan meninggalkan kamar dengan pintu terbuka. Beberapa orang sempat lewat dan menyaksikan kejadian tersebut termasuk Tifa yang kemudian seolah tak melihat dan berlalu.
“Kamu memang beda Aeris. Vaginamu sangat unik, mampu mencengkeram erat dan seolah memijat batang penisku dengan ahlinya walaupun kamu belum begitu ahli dalam seks.” Puji Cloud yang kemudian menutup pintu dan kembali menyodokkan batang kejantanannya kedalam liang kewanitaan dara cantik itu yang saat ini sudah lemas. Hingga malam hari, setidaknya Cloud sudah mengerjai tubuh Aeris sebanyak 5 kali dan berejakulasi di seluruh bagian tubuh cewek cantik berkepang ini.