Aku merasa ada sesuatu yang menggelitiki tubuhku, rasa itu terus bertambah sehingga menarikku dari alam bawah sadar. Perlahan, seiring dengan pulihnya kesadaranku, aku merasa ada yang mengusap usap payudaraku, di tambah dengan ulasan basah menyentuh putingku yang satunya. Ku buka mataku, ku lihat Lena sedang mencumbu putingku. “Hai sayang, udah bangun “ Lena bangkit dari tubuhku, di kecupnya bibirku, ada sensasi aneh yang menjalari tubuhku. Sekarang aku sudah dapat mengingat apa yang telah terjadi, di mana kami ( Aku, Lena dan Iwan ) telah melakukan threesome. Ku lihat Iwan sudah tidak ada, ku pandang Lena, yang kini berbaring di sampingku.
Kami masih dalam keadaan bugil, tubuh kami berdempetan, sementara tangan Lena melingkar di leherku sedangkan tangan yang satu terus membelaiku. Aku terbuai dalam pelukan sahabatku, “Len…” jari Lena langsung menutup bibirku yang terbuka “Sstt…it’s oke” sahutnya, lalu diciumnya lagi bibirku. Aku kini mulai tidak asing dengan ciuman yang dilakukan sahabatku, ku pejamkan mataku, ku nikmati sensasi yang kudapat. Ku balas ciumannya, lidah kamipun saling meliuk saling menelusuri rongga mulut kami. Ku peluk Lena, tangan kami saling meraba, ku rasakan halusnya tubuh sahabatku. Lena mengendorkan ciumannya, dia beralih menelusuri leherku, sejenak dia mainkan lidahnya di leherku. Akupun mendongak sambil mendesah geli bercampur nikmat, Akh…Len… kujambak rambut Lena, kujauhkan dari leherku “Jangan di situ Len, aku gak tahan” dia tersenyum padaku, lalu diserbunya payudaraku sembari tangannya merabai pahaku. Dijamahnya daerah kewanitaanku, dielusnya jembutku yang tipis dan tercukur rapi, lalu jarinya meluncur turun ke liang vaginaku. Vaginaku sudah basah oleh karena gairah yang dicurahkan oleh sahabatku. Diangkatnya jari yang basah oleh cairan kewanitaanku, sambil memandang ke arahku di jilatnya perlahan jari itu. Oohhh… pemandangan ini membuatku memanas, aku bangkit lalu ku cium bibir Lena.
Dalam posisi setengah berdiri di atas ranjang, kuciumi Lena dengan ganas dan liar, kuremasi pantatnya yang halus dan montok itu, diapun tak kalah serunya membalas lumatanku. Kupegang rambut sahabatku, lalu kuhempaskan tubuhnya ke belakang, ku ciumi leher dan teteknya, diapun mengerang sambil meremasi rambutku. Ku susurkan lidahku ke perutnya yang putih mulus itu, dia pun menggelinjang, ku cupangi perutnya. Lalu aku bergeser lebih ke bawah lagi, ku elus jembutnya yang halus, ku sibakkan kedua belah pahanya. Lena menatapku sambil tangannya yang satu memegang rambutku, ku pandang wajahnya sambil perlahan ku turunkan bibirku menyentuh memeknya. Memeknya pun sudah basah, kujulurkan lidahku menyentuh bibir vaginanya, ku sapukan lidahku sambil menghisap cairan yang ada. Lena mendesis sambil memegang kencang kepalaku. Kujulurkan lidah ku semakin ke dalam, lalu ku jilat ke atas sehingga mengenai clit nya. Lena pun terdongak sambil kedua tangannya mencengkeram kepalaku dan menarik kepalaku untuk membenamkan lebih dalam lagi ke dalam meqinya. Ku serbu memeknya sehingga Lena terus mengerang dan menggoyangkan pinggulnya.
Tiba-tiba ditariknya kepalaku, “tunggu bentar Vin…” katanya sambil bangkit dari ranjang. Dengan setengah berlari dan dalam keadaan telanjang Lena keluar kamar. Tak lama berselang dia datang dengan membawa sesuatu seperti selang. Ternyata ‘selang’ itu adalah dildo atau sex toy dengan kedua ujung yang berkepala seperti penis. Dengan segera dipasangkannya ujung yang satu ke dalam memeknya dan ujung yang satu langsung diarahkan ke pada memekku. Bless.. kurasakan ujung yang masuk ke dalam meqiku, mirip dengan penis yang sebenarnya tapi yang satu ini agak lembek dan kenyal. Apabila di suruh memilih, aku lebih suka yang aslinya, tapi untuk keadaan darurat seperti sekarang ini, ya boleh lah. Kami dalam posisi duduk saling berhadapan, kakinya yang satu berada di atas pahaku sedangkan yang satu di bawah pahaku yang lain. Kakipun sama hanya dalam posisi yang berlawanan. Aku agak canggung karena belum pernah menggunakan sex toy. Lena mulai memainkan clitorisnya, dia pun mendesah sambil menggerakkan pinggulnya.

Ku ikuti gerakannya, aku mulai merasakan kenikmatan, rasanya seperti saat saat masturbasi plus dengan keberadaan penis buatan itu ditambah dengan Lena dengan desahannya yang membuat gairah kami berdua makin lama makin memuncak. Lena memelukku, badannya yang bergoyang meliuk terlihat seksi dan menggairahkan. Akupun tak mau kalah, ku goyangkan pinggulku mengiring irama goyangan Lena. Kupeluk tubuhnya yang mulai basah dengan keringat, ku lumat bibirnya yang langsung dibalasnya dengan lumatan yang tak kalah membara. Ku ciumi lehernya di bagian samping, di bawah telinga, di mana terdapat bulu bulu halus. Dia pun mendesah sambil menggigit bibir bawahnya. Kurasakan tubuhnya mulai bergetar, kurasakan kukunya ketika Lena mencengkeram pundakku. Aku tahu Lena sedang memasuki masa masa puncak untuk mendapatkan orgasme. “Tunggu aku Len…” aku pun mulai menggoyangkan pinggulku lebih cepat lagi.

Goyangan kami semakin cepat dan liar sehingga meqiku serasa diaduk aduk. G-spot yang ada di dalam liang vaginaku terobrak abrik oleh dildo yang keluar masuk seiring dengan goyangan kami. Akupun merasa ada sesuatu yang mendesak keluar dari dalam memekku. Ku cengkeram pantat Lena, ku tarik agar dildo itu semakin membenam kedalam meqi kami berdua. Lena pun tak kalah seru, dia menggigit pundakku, sehingga aku pun semakin kesetanan. Lalu kamipun melepas orgasme kami bersamaan….. erangan panjang mewarnai orgasme kami. Inilah orgasme pertamaku pada saat aku melakukan hubungan sejenis, apalagi hubungan itu aku lakukan bersama sahabat yang sudah aku anggap seperti saudara sendiri. Ada perasaan aneh yang berbaur menjadi satu, melebur dalam kenikmatan sex yang baru saja aku lakukan.
Seiring dengan letupan letupan orgasme yang kian mereda, kami pun rebah ke samping. Dengan tubuh masih saling berhimpitan, dildo yang basah oleh cairan kami berdua bahkan saking banyaknya cairan kami, cairan itu meleleh membasahi sprei yang sudah acak acakan gak karuan. Ku tatap Lena, yang wajahnya kini agak terlihat lemas, pipinya yang putih merona kemerahan karena kelelahan setelah mendaki puncak kenikmatan bersamaku, sahabatku itu terlihat semakin cantik. Kukecup bibirnya, diapun membalas meski sudah tidak sepanas dan seliar tadi. Kurasakan nikmat seperti saat jatuh cinta. Ah…ku tepis pikiranku, apakah aku mulai menyukai sahabatku ? mungkin ya. Aku yang tadinya kesepian tiba tiba diberikan kehangatan dan kenikmatan yang belum pernah aku dapatkan. Tapi ada pertanyaan yang mengganjal dalam hatiku, ada apa dengan semua ini ? bahkan aku belum pernah mengenal Lena yang seperti ini.
Lena memelukku sambil matanya terpejam “Len…” kataku sambil membelai rambutnya. “hm..ada apa ?” “Gue mo nanya sesuatu ama loe, jawab yang jujur ya. Koq loe gak seperti Lena yang gue kenal. Loe punya supir yang macho, bahkan berhubungan dengan sesama cewek. Apa William tau ?” Lena membuka matanya ”Ya jelas enggak lah. Gue lakuin semua ini di belakangnya.” “Apa loe gak ngerasa berdosa udah ngehianatin William, ngehianatin perkawinan yang udah kalian jalanin ?“ “Pernah sih gue ngerasa dosa, tapi daripada gue stress kayak yang loe alamin sekarang ini. Trus akibat stress yang berkepanjangan rumah tangga gue jadi ancur. Mendingan gue ‘backstreet’ aja, yang penting rumah tangga gue baek baek. Gue dulu juga ngalamin yang sekarang loe alamin, trus ama temen gue, gue dikenalin ama dunia seperti ini.

Akhirnya gue sekarang punya dua kehidupan, kalo laki gue ada di rumah, ya gue jadi bini yang baek. Kalo dia gak ada, ya gue jalanin hidup gue yang satunya. Gue tau, dalam hal ini loe ma gue punya kesamaan, kita kehilangan kasih sayang yang seharusnya kita dapatin. Nah, karena kasih sayang itu gak ada, so kita cari aja sendiri.” Aku termenung oleh jawaban yang diberikan oleh sahabatku. “udah, gak usah dipikirin. Sekarang kita bersih bersih dulu, mandi biar seger. Ntar malem aku ajak kamu jalan jalan, oke.” Spontan ku anggukkan kepalaku.