he Journey to the North 1

Hari ketiga dalam pelayaran ke utara dalam rangka mencari Air Mancur Keabadian. Malam itu badai datang dan kapal Jack Sparrow dihantam ombak setinggi 6 meter setidaknya empat kali beruntun. Akhirnya mereka harus merapat ke daratan untuk memperbaiki tiang utama kapal mereka yang roboh diterjang ombak malam hari sebelumnya.


“Di mana kita sekarang Cap? Tempat ini sepertinya belum pernah terjamah oleh koloni sebelumnya.” Smith mulai mencari tanda-tanda adanya kehidupan didaratan baru yang mereka singgahi darurat itu. Jack Sparrow diam saja dan berlalu tanpa menggubris perkataan Smith. Smith tahu benar kalau Jack sedang menganalisa keadaan dengan caranya sendiri dan memilih untuk tidak bicara lagi agar tidak mengganggu konsentrasi kaptennya itu.
Jack lalu berdiri diam dan memandang kesebuah karang besar setelah sekian lama mondar mandir tanpa arah yang jelas. “Tuan Smith!” katanya memanggil Smith agar mendekat sembari melambaikan jarinya memberi kode. “Menurutmu, karang itu berbentuk seperti apa?”
Smith merengut sebentar berpikir sehingga dapat terlihat kerutan-kerutan kasar terasa menyembul dari dahinya yang tua itu. “Seperti wajah seseorang…hanya saja…” Smith mulai ragu-ragu dengan pandangannya lalu balik bertanya kepada Sparrow, “Sebenarnya apa yang kau maksudkan Cap (Captain)?” imbuhnya lagi.
“Lanjutkan saja analisamu Tuan Smith!” kata Sparrow memberi jalan untuk Smith meneruskan analisanya.
“Errr…karang itu seperti wajah nenek sihir berhidung besar dan panjang…kalau boleh jujur Cap.” Sahut Smith sambil menggaruk-garuk rambutnya yang acak-acakkan tertiup angin laut yang kencang. Jack hanya tertawa dan memberikan peta kuno kepada Smith dan mengarahkan jari telunjuknya kesebuah titik dipeta itu yang bertuliskan ‘si hidung bengkok’.
“Sepertinya pendapatmu tidak jauh beda dengan pendapat orang yang membuat peta ini Tuan Smith. Dan kalau aku tidak salah didekat tempat ini seharusnya ada sebuah harta yang bisa digali.” Senyum licik Jack Sparrow kembali mengembang. “Kumpulkan 4 orang yang terbaik Tuan Smith dan suruh mereka untuk mengikutiku sementara yang lain tetap memperbaiki kapal kita yang rusak!” perintah Jack sembari mengambil kembali peta kuno tersebut dari tangan Smith yang masih melongo bingung mencerna perkataan Sparrow tersebut.
“Maksudmu ada harta yang harus kita gali Cap?” Tanya Smith tapi langsung bungkam mulutnya ketika pandangan Sparrow yang tajam mengarah ke dirinya seolah-olah jengkel atas kebodohan anak buahnya. Walaupun Smith masih belum mengerti tetapi dia begitu percaya kepada Jack yang sudah diikutinya selama lima tahun itu dan langsung mengumpulkan 4 orang yang menurutnya bisa membantu dalam pencarian harta.
“Saatnya kita berburu teman-teman…hahaha.” Kata Jack penuh dengan keyakinan bahwa dia akan berhasil membawa pulang harta karun yang satu ini. “Apa harta karunnya kapten? Apakah tumpukan emas, berlian atau batu ruby dari Asia Timur?” Tanya salah seorang anak buah kapal kepada Jack.
Jack menjawab beberapa saat kemudian sembari melihat kompas ajaib miliknya, “Topeng Emas.” Setelah menjawabnya dia langsung mempercepat langkahnya seolah sudah tahu tempat yang harus ditujunya kali ini.
Dua jam kemudian mereka tiba disebuah kuil pemujaan kuno dan begitu mereka masuk kedalam kompleks kuil, mereka langsung disergap oleh sekelompok orang. Mereka telah salah menginjakkan kakinya kedalam lingkungan kuil bangsa Aztec. Kuil tersebut adalah kuil pemujaan bagi dewa tertinggi mereka, dewa Quatzecotl (di legenda Yunani kuno itu kedudukannya seperti Zeus, atau Toth di Mesir kuno). Hal tersebut sangat terlarang karena mereka adalah pendatang asing dan belum disucikan. Kabar buruk kedua adalah kompas ajaib Jack Sparrow menunjukkan bahwa Topeng Emas tersebut berada didalam kuil keramat itu.
“Orang asing. Beraninya kalian memasuki tanah suci kami. Kalian pembawa bencana si kulit pucat. Tangkap mereka dan rebus hidup-hidup untuk persembahan kepada dewa kita. Semoga dewa mengampuni dosa kalian wahai orang asing.” Seru salah seorang dari suku Aztec tersebut yang kemungkinan adalah dukun ritual ditempat itu.
“Sialan! Aku tidak menyangka kalau ada mahluk kanibal disini.” Umpat Jack Sparrow sembari bersiap dengan pistol panjangnya. “Padahal aku yakin Topeng Emas itu berada didalam bangunan itu.”
Smith yang sudah berkeringat dingin mendekati Jack, “Yang kanibal itu dewanya Cap, karena dia yang ingin korban persembahan seorang manusia. Sekarang bagaimana Cap?” tanpa dia sadari, dirinya sudah gemetaran. Walaupun sudah lama Smith menjadi bajak laut tetapi tetap saja gentar menghadapi puluhan orang yang bersenjata tombak panjang yang siap dihunuskan kepadanya.
“Aku tidak peduli siapa yang kanibal, yang jelas aku harus masuk dan mendapatkan topeng sialan itu. Bagaimanapun caranya.” Jack mulai tidak sabar lalu ditembakkannya pistol panjangnya dan mengenai pedang dari salah satu penyerang mereka yang ternyata adalah kepala suku. Pedang tersebut patah dan karena kaget kepala suku tesebut melepaskan pegangan pedangnya. Sontak seluruh anggota suku Aztec yang ada disitu langsung bengong melihat tembakan itu yang menurut mereka ajaib karena seumur hidup mereka tidak pernah mengetahui tentang bubuk mesiu.
“Hah? Kenapa mereka ini?” seru Smith panik. Seluruh orang yang ada disitu berlutut dan menyembah Jack seolah-oleh Jack adalah dewa mereka yang turun ke bumi.
“Oh dewa ku. Maafkan kami yang tidak tahu akan kehadiranmu dalam bentuk manusia dan menghalangimu untuk masuk kedalam rumahmu sendiri. Mohon maafkan kmi wahai dewa…” ucap dukun ritual tersebut yang kemudian penduduk lain ikut-ikutan menyembah Jack termasuk dengan kepala sukunya setelah sadar dari keterkejutannya.
“Sudahlah Tuan Smith. Jangan diperpanjang. Kita langsung masuk dan ambil topengnya. Ayo sekarang!” perintah Jack kepada Smith dan empat orang yang lain. Merekapun masuk dan berhasil menemukan sebuah topeng usang yang terbuat dari emas dan membawanya keluar.
“Hanya satu kapten? Kukira ada banyak. Walaupun berharga tetapi masih kurang berharga jika dibandingkan penghasilan kita dari merompak dilaut.” Protes salah seorang anak buah kapal yang ikut dengannya.
Jack tanpa menjawab langsung mengenakan topeng tersebut dan tiba-tiba sebuah keajaiban terjadi. Jack langsung merubah wajahnya menjadi orang lain, wajah dari sang kepala suku. Seluruh orang kaget bahkan para anggota suku Aztec karena selama ini topeng itu terlalu sakral untuk mereka pegang sehingga mereka tidak tahu kalau topeng tersebut mempunyai kegunaan yang istimewa. “Satu topeng yang sangat berharga. Bukankah begitu Tuan Smith?” ucap Jack Sparrow menanggapi keluhan anak buahnya. Smith hanya mengangguk pelan, dalam hati dia kaget juga dengan peristiwa aneh itu walaupun sepanjang petualangannya dengan Jack Sparrow dia sudah menjumpai hal-hal aneh.
“Dengarkan aku wahai pemujaku yang setia! Aku bersama pasukanku disini membutuhkan tempat untuk beristirahat dan makanan karena kami telah menempuh perjalanan yang panjang dari langit.” Kata Jack berlagak seolah-olah dewa mereka dan menunjuk kearah langit. Sesaat kemudian, kepala suku memerintahkan orang-orangnya untuk mempersiapkan sebuah tempat bagi Jack dan anak buahnya untuk beristirahat dan menyuguhkan kepada mereka seekor javelina panggang. Javelina adalah sejenis babi hutan tetapi lebih besar dari ukuran babi hutan di Asia dan pemakan segala (omnivora).
“Ternyata topeng itu banyak gunanya hahaha…” gelak Smith disela-sela makannya. Namun dia nyaris tersedak ketika serombongan wanita cantik Aztec datang dan mengerubuti Jack. Kepala suku itu mendekat, “Mereka adalah para perawan yang menginginkan keturunan darimu wahai dewa yang agung.” Kata kepala suku itu sembari mengantar ketiga gadis itu kepada Jack.
“Bagaimana dengan mereka?” kata Jack sambil menunjuk kearah Smith dan kawan-kawannya. “Jangan khawatir yang mulia. Kami sudah persiapkan wanita-wanita lain untuk melayani prajurit langitmu.” Kata kepala suku itu lagi lalu bertepuk tangan dua kali dan muncullah 8 orang gadis yang tak kalah cantiknya dari tiga gadis perawan jatah Jack.
“Memang topeng ini banyak gunanya Tuan Smith.” Kata Jack sebelum menghilang dibalik kelambu bangunan kecil rumah suku Aztec.