The Journey to the North 2

Angin laut bertiup lebih bersahabat hari ini, setelah tiga hari lalu kapal Jack Sparrow dihantam amukan badai hingga rusak cukup parah. Tapi lebih dari itu sekarang Jack telah berhasil mendapatkan artifak langka yaitu Golden Mask yang membuatnya dapat merubah bentuk wajahnya menyerupai siapapun yang dilihatnya waktu memakai topeng tersebut.


Pengalaman yang didapatkan dari kaum Aztec bukanlah hanya sebatas artifak kuno melainkan juga sebuah kisah seru mengenai percintaan Jack Sparrow dengan ketiga gadis cantik dari suku Aztec yang masih perawan itu. Mereka menganggap Jack adalah titisan dewa mereka dan mereka menginginkan Jack untuk memberikan benihnya kepada ketiga gadis cantik Aztec tersebut untuk mendapatkan keturunan dari para dewa. Tentu saja Jack tidak keberatan, walaupun dia bukanlah dewa.
Masih terngiang dalam benaknya ketika bagaimana saat-saat batang kejantanannya merobek selaput dara gadis Aztec yang bernama Thiel tersebut, gadis yang berambut ikal yang dikelabang kecil-kecil sepanjang rambutnya yang sepinggang bewarna hitam. Gadis cantik ini menjerit cukup keras ketika bibir vaginanya terbuka paksa oleh dorongan batang kejantanan sang kapten sehingga beberapa kali Jack harus menghentikan pompaan penisnya dari vagina gadis cantik ini.
Darah segar mengalir dari bibir vagina gadis cantik ini. Jack Sparrow telah mengerjainya dengan cukup kasar. Batang kemaluannya yang besar itu telah menjebol paksa selaput dara Thiel dan langsung menggenjotnya tanpa memberikan kesempatan bagi Thiel untuk menyesuaikan dirinya dengan penis Jack.
Sekitar lima menit kemudian sperma Jack Sparrow sudah mengisi liang kemaluan Thiel. Gadis cantik ini terkulai lemas tak berdaya setelah liang kemaluannya beserta kesuciannya digarap oleh Jack.
Giliran selanjutnya adalah Evriel yang juga seorang perawan cantik dari Aztec. Dara cantik ini berambut pendek hitam legam dengan tubuh sedikit lebih pendek dari Thiel. Tubuhnya sintal dan berisi. Jack tertegun sejenak ketika melihat buah dada Evriel yang sekal itu. Walaupun tidak begitu besar tetapi padat berisi. Sambil menelan ludahnya sendiri, Jack meremas kedua payudara Evriel. Gadis cantik ini terpancing gairahnya apalagi sebelumnya dia telah melihat pertunjukan panas langsung didepannya antara Thiel dengan Jack. Dia jelas melihat bagaimana bibir kemaluan Thiel yang ikut terdesak masuk ketika penis bangkok Jack melesak masuk kedalamnya.
“Akhhh…” jerit Evriel ketika kemaluannya tersodok oleh penis Jack. Berulang-ulang sampai darah segar mengalir lagi di tempat tidur sederhana itu. Sperma Jack sekali lagi telah menodai vagina cewek Aztec. Ketiga perawan yang lain juga tak lepas dari serangan penis besar kapten sinting ini. Dengan sedikit paksaan akhirnya Jack berhasil menggagahi mereka semua dan menyemprotkan cairan spermanya menodai kesucian kelima gadis cantik itu.
Gadis terakhir mencoba kabur ketika melihat penderitaan keempat temannya. Lalu dia mencoba berlari keluar tenda tetapi dari belakang tangannya sudah dicekal oleh Jack dan akhirnya gadis Aztec ini diperawani diluar tenda dari arah belakang. Disaksikan kepala suku yang tak mau mengganggu ritual suci dewa palsu –nya. Kepala suku itu menjadi saksi detik-detik bagaimana sang gadis kehilangan keperawanannya dengan paksa. Bibir vagina cewek itu langsung rusak ketika ditinggal Jack pergi tentu saja setelah menyemprotkan spermanya kedalam liang kemaluan gadis cantik ini. Bagaimana tidak karena liang kemaluannya sangat sempit dan tiap kali Jack menarik keluar pompaan penisnya, vagina gadis Aztec itu ikut mencengkeram kepala penis Jack hingga gelambir vaginanya ikut keluar dan tak mau masuk lagi ketika Jack mencabut batang kejantanannya.
“Hari yang cerah Cap.” Sapa Smith kepada Jack digalangan kapal. Jack tersenyum dan membuyarkan lamunan indahnya mengenai peristiwa tadi malam.
“Tuan Smith. Bagaimana para awak? Apakah kalian semua puas tadi malam?” tanya Jack. Lalu Smith menceritakan bagaimana dia dan yang lainnya mengerjai perempuan Aztec yang disediakan oleh kepala suku untuk menghibur mereka. Smith bercerita saat-saat yang penuh gairah itu terutama saat dia dan seorang anak buah kapal lainnya menggilir seorang gadis Aztec yang masih tergolong belia jika di negeri asal mereka. Gadis itu sesekali meronta dan sampai menangis karena tak biasa menahan laju pompaan penis sebesar milik orang Eropa. Bahkan walaupun sudah tidak perawan lagi tetapi tetap saja perempuan itu memperoleh pendarahan di liang kemaluannya.
“Captain! Cepat kemari!” seru seseorang yang merupakan anak buah kapal yang bertugas di buritan. Jack berlari menuju kearahnya dan mengambil teropong yang digunakan anak buahnya itu. “Ada kapal asing Cap. Mendekati kita dengan kecepatan penuh.” Katanya lagi
Jack mengernyitkan dahinya. ‘Sialan! Mereka dari kesatuan kerajaan Belanda. Cepat putar arah kapal membelakangi mereka! Nanti kita tipu mereka saat kita melewati dua gugusan pulau kembar didepan. Cepat!” seru Jack yang kemudian diikuti oleh gerakan gesit anak buah kapalnya.
“Tapi Cap, apakah perlu kita menjauh? Bukankah kita hanya berurusan dengan armada Inggris bukannya Belanda?” tanya Smith lalu mendapatkan pelototan dari Jack.
“Well tuan Smith. Mungkin kau lupa kalau kita ini bajak laut. Semua armada dari kerajaan manapun adalah musuh kita, entah itu Inggris, Belanda, Spanyol atau bahkan Persia sekalipun. Lagipula kepalaku dicari di beberapa negeri selain Inggris.” Sahutnya sambil memutar haluan kapal mereka.
Akhirnya mereka melewati gugusan sepasang pulau yang dikellingi oleh tebing karang yang curam. Mereka melewati bagian tengah pulau tersebut dan langsung memutar arah dengan tajam kearah kanan dan kembali ke utara.
“Kita berhasil Cap.” Smith sepertinya girang sekali setelah melengok kebelakang dan tak ada tanda-tanda mereka disusul oleh kapal itu.
“Tentu saja kita berhasil. Memangnya orang-orang kerajaan itu bisa mengemudikan kapal dengan baik apa. Hehehe…” gelak Sparrow lalu diikuti oleh yang lain.
Tiga minggu mereka berlayar ke utara dan selama itu pula mereka tak menemukan daratan. “Akhhh…membosankan. Tidak ada daratan untuk disinggahi.” Kata Jack sambil menaikkan kakinya di meja kapten.
“Bruakkk!!!” sebuah suara sangat keras terdengar dari luar. Jack langsung menuju kesana dan tercengang ketika mendapati sebuah karang nyaris merobek buritan kapalnya.
“Tolol! Bagaimana kalian bisa menyebut diri kalian bajak laut kalau kalian bisa menabrak karang sebesar ini hah? Bego!” Jack marah bukan main karena didepannya jelas-jelas ada sebuah karang besar dan lebih terkejutnya lagi bahwa karang itu adalah bagian dari sebuah pulau besar.
Seluruh anak buah tak ada yang berani membantah Jack ketika mereka dimarahi dan dimaki gila-gilaan oleh Jack. Semua kecuali Smith. “Cap, sebentar! Bukannya kami mau membela diri tetapi tadinya pulau itu tidak ada. Tiba-tiba saja ada kabut tebal didepan kami terus setelah itu kami menabrak karang. Kalau dipikir mustahil juga karena pulau sebesar ini sebelumnya juga harus sudah terlihat dari jauh.” Smith mencoba membela diri tetapi alih-alih dimaafkan, dia malah kena damprat paling parah dari yang lain.
“Aku tidak menyuruh kalian berpikir karena memang kalian tak punya otak. Tapi kalau kalian katakan pulau ini terlalu besar untuk tidak terlihat aku setuju saja dan itu artinya kalian juga tidak punya mata semuaaaaa….!!!” Teriak Jack lagi dengan emosi meledak-ledak. “Sekarang kalian perbaiki kapal ini! Cepat!” bentaknya lagi dan anak buahnya dengan rasa takut akhirnya turun kapal dan mencari celah yang rusak di kapal itu.
Malam datang tetapi kapal Jack masih tersangkut di karang besar. “Sial! Harusnya aku mengemudikan kapal ini sendiri. Aku benar-benar tak percaya ini. Kalau sampai Barbarosa tahu pasti aku bakalan menjadi bahan ejekan diantara para bajak laut dunia.” Gerutu Jack sambil melempari bibir pantai dengan kerikil kecil.
“Cap! Kita harus menghancurkan karangnya dulu jika ingin membebaskan kapal Cap. Kita tidak bisa begitu saja menariknya.” Smith mendekati Jack dengan sedikit takut karena masih trauma ketika dimaki habis-habisan tadi siang.
Jack sepertinya tak menggubris omongan Smith karena kepalanya sekarang sudah penuh dengan segala macam umpatan untuk ditembakkan kesiapapun yang mengganggu keheningannya malam itu, kecuali saat dia mendengar sesuatu dari kejauhan. Sebuah suara merdu dari seorang perempuan. Suara yang berasal dari rimbunnya hutan sub tropis di pulau itu. Sebuah suara yang bisa membuat Jack penasaran sehingga memutuskan untuk masuk kedalam hutan itu.
“Cap! Tunggu aku!” seru Smith sambil mengekor dibelakang Jack. Dia juga mendengar suara merdu itu bernyanyi. Lebih dari rasa penasaran, Smith malah merasa bulu kuduknya merinding. Bagaimana tidak karena di pulau terpencil seperti ini mana mungkin ada manusia tinggal disitu apalagi seorang perempuan. Tetapi karena sudah sering melihat hal-hal aneh (zombie, naga laut, kraken, undead, monster pemakan arwah, dan lainnya) selama dia mengikuti Jack 4 tahun terakhir ini maka dia seolah dapat memendam rasa takutnya dan menghambur mengikuti Jack ke hutan.
“Arghh…dimana ini? Mana suara tadi?” Jack mulai kelimpungan sendiri mencari asal suara yang tiba-tiba menghilang. Smith berhenti dibelakangnya dan mengangkat cuping telinganya untuk mencari asal suara yang hilang ini.
“Cap! Liat! Disana ada bangunan dari batu. Besar sekali.” Seru Smith sambil menarik lengan Jack. Mereka berdua terpana cukup lama sampai akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam bangunan tua itu.
Bangunan ini walaupun tua tetapi terlihat terawatt dan cukup elegan di masanya. Sebuah taman kecil diluar ruangan dapat ditemukan setelah melewati lorong utama tepat sebelum bangunan inti didalam bangunan tua tadi. Lebih mirip sebuah mansion atau rumah seorang bangsawan Eropa.
“Akhh…dia…” mulut Jack tercekat ketika melihat seorang gadis cantik sedang duduk di atas kursi batu dengan posisi setengah bersandar. “Siapa ….kau…?” Jack tergagap tapi akhirnya dapat menguasai dirinya lagi.
Perempuan itu menoleh kearah Jack. Wajahnya yang oval dan cantik berkulit putih bersih membuat Jack berdebar jantungnya. Terlebih ketika pandangannya beradu dengan perempuan itu. Matanya begitu jernih seolah tak pernah bersedih, begitu dalam tatapannya dengan bulu mata yang lentik. Bibirnya menyungging senyum, senyum yang tak dapat diartikan oleh Jack walaupun dia sudah sering berurusan dengan wanita.
Perempuan itu bangkit dan berjalan kearah Jack tanpa rasa takut. “Justru aku yang harusnya menanyakan siapa kalian dan ada urusan apa kalian datang ke rumahku.” Balasnya sambil tersenyum. Jack dan Smith tak bisa menjawab pertanyaan mudah ini lalu perempuan itu sepertinya paham betul akan situasi lalu dia mengajak mereka untuk duduk. Baru setelah itu suasana menjadi sedikit cair dan Jack dapat kembali menjadi Jack yang normal, pria hidung belang yang banyak bicara.
“Hmmm…jadi kapal kalian terdampar. Sayang sekali karena disini tidak ada pria yang bisa membantu kalian. Aku sendiri tidak mengetahui mengenai kapal.” Ucap perempuan yang setelah memperkenalkan diri ternyata bernama Serena ini. Pakaiannya tertiup angina dan menyebarkan hawa harum yang menenangkan. Dari pakaiannya Jack dapat menebak kalau gadis ini memang dari Eropa, Eropa barat.
“Kau sendirian ditempat ini?” tanya Jack. Dia penasaran juga dengan asal usul perempuan cantik ini. “Dari mana asalmu? Kenapa bisa berada dipulau ini? Dilihat dari pakaianmu, kau seorang gadis Eropa khan?” tanya Jack lagi.
Serena tersenyum geli, kali ini senyumannya lebih manusiawi dari yang tadi. “Hahaha..sabar tuan Jack! Satu persatu pertanyaannya tuan! Aku tidak sendirian karena aku bersama dengan seorang adik perempuanku disini. Aku berasal dari tanah Eropa tetapi aku ditangkap oleh orang-orang dari koloni Inggris di Karibia saat mereka menyerbu Denmark dan akhirnya disinilah kami. Kami diasingkan ditempat ini. Sepertinya tak jauh beda yah cerita kita.” Canda gadis ini lagi.
“Kakak. Kau berbicara dengan siapa?” kata seseorang yang baru saja muncul dari balik ruangan didekat taman itu. Seorang gadis cantik yang berambut panjang warna kekuningan. Wajahnya oval dan sangat mirip dengan Serena kecuali rambutnya karena rambut Serena bewarna hitam kecoklatan. Serena lalu memperkenalkan perempuan ini sebagai Rhea, adiknya. Berempat akhirnya mereka bercakap-cakap dengan asyiknya. Lalu Serena mengundang kedua tamunya untuk bersantap malam dan kemudian menginap di rumah mereka.
Jack dan Smith tentu saja semangat sekali diajak menginap seorang gadis cantik seperti Serena. Malamnya ketika Jack akan tidur, Smith datang menghampirinya di kamar. “Cap! Aku tak bisa tidur. Kupikir kau juga tidak, makanya aku kemari mengajakmu minum.” Kata Smith yang kemudian mengulurkan sebotol minuman anggur yang diperoleh dari perjamuan tadi.
Saat mereka sedang asyik minum tiba-tiba seseorang masuk keruangan itu. Ternyata adalah Serena. Bedanya sekarang dia tidak mengenakan selembar benangpun ditubuhnya. Dengan santai, tubuh telanjangnya mendekati Jack Sparrow yang nyaris tersedak karena kemunculan tiba-tiba perempuan cantik itu.
“Serena. Kau mabuk?” tanya Jack spontan ketika wajah wanita cantik itu sudah tepat didepannya, cukup dekat untuk diraih.
Serena tersenyum. “Sudah lama aku sendirian disini bersama adikku. Aku tidak pernah merasakan sentuhan pria sangat lama. Sekarang wajah tampanmu berada didepanku, tak akan aku lepaskan.” Kata Serena sambil mencium bibir Jack. Jack-pun membalasnya. Bagaimana tidak karena melihat wajah cantik Serena beserta bonus tubuh indahnya membuat pria manapun lupa daratan. Tangan jahilnya yang biasa menggerayangi tubuh perempuan nakal sekarang menggerayangi tubuh Serena.
Gadis itupun terbuai dalam gairahnya ketika payudaranya dimainkan oleh Jack. Buah dada Serena memang tidak begitu besar, sekitar 34C tetapi dengan kondisi tubuh mulus putihnya membuat dia seperti patung yang dipahat dari batu pualam, tanpa cela. “Akhhh….” Desahnya ketika vaginanya mulai dijelajahi oleh jemari Sparrow. Sementara itu Smith masih terbengong melihat kaptennya yang sekarang sudah bugil dan menindih tubuh Serena di ranjang. Saat Smith akan beranjak dari tempat itu, tiba-tiba perutnya dilingkari lengan seseorang. Betapa kagetnya dia setelah mengetahui bahwa yang merangkulnya adalah Rhea, adik Serena. Dalam kondisi bugil pula.
Seperti yang bisa di prediksi sebelumnya, mereka berempat terlibat adegan ranjang yang sangat panas. Jack terlihat menindih tubuh Serena yang tinggi semampai itu dan memompa batang kejantanannya didalam kemaluan gadis cantik tersebut sementara Smith dengan posisi doggy style disamping Jack menggenjot tubuh mungil Rhea denan penuh nafsu.
Sangat kontras sekali ketika melihat vagina Rhea yang putih mulus tanpa bulu itu di sodok oleh batang kemaluan Smith yang bewarna kehitaman dan penuh dengan bulu-bulu liar bewarna hitam keputihan. Dari ukurannya yang sangat besar terang saja melihat Rhea kewalahan dibuatnya. Entah sudah berapa kali gadis mungil ini meringis menahan sakit ketika bibir vaginanya berulang-ulang seperti terbelah ketika batang kejantanan Smith memasuki vaginanya.
Sementara itu Serena tidak malu-malu lagi untuk aktif dalam bercumbu. Walaupun vaginanya sudah dihajar habis-habisan oleh penis Jack, tetapi dengan kedua tangannya yang masih bebas dia masih sempat-sempatnya mempermainkan buah pelir Jack dan bahkan setelah beberapa lama dia sudah berani mengurut batang kemaluan Smith yang ada disampingnya sedang mengerjai Rhea.
Setengah jam kemudian. Serena dan Rhea saling berhadapan dengan posisi merangkak dan berciuman satu dengan yang lain sementara itu Jack dan Smith menggenjot vagina mereka dari belakang. Kali ini Jack dan Smith bertukar posisi. Jack memompa vagina Rhea sementara vagina Serena digenjot oleh Smith. Selama kurang lebih satu jam mereka bercinta dengan berbagai macam gaya dan saling bertukar pasangan. Akhirnya diselesaikan dengan semprotan sperma Jack di perut Serena dan Smith juga berejakulasi di mulut Rhea.
Sesaat sebelum Jack tertidur disamping Serena dia sempat bertanya, “Apakah suara tadi itu adalah suara nyanyianmu?” tanyanya.
Serena tersenyum sambil mencium bibir Jack dengan mesra. “Terkadang memang nyanyianku dapat menarik perhatian pria…hehehehe…” candanya sambil menurunkan kepalanya kearah selangkangan Jack yang sedang terlentang itu. Kemudian dengan lembut Serena memasukkan batang penis Jack kedalam mulutnya dan mengoralnya seolah sedang berkaraoke saja. Lidah seksinya berjingkat di ujung penis Jack dan terkadang memutari pinggirn kepala penis Jack ketika masih didalam mulutnya. Pertahanan Jack jebol lagi diperlakukan seperti itu. Spermanya kembali menyembur keluar, kali ini di mulut Serena.
Paginya dia dan Smith terbangun di atas geladak kapal mereka dan dengan pakaian utuh. “Apa-apaan ini?” seru Jack sambil melihat dirinya berada di geladak kapal bangun dari tidurnya. Smith yang terbangun juga menjadi seperti orang ling-lung. Awak kapal yang lain juga kebingungan. “Kalian berlayar tanpa perintahku? Beraninya!!!” bentak Jack kepada anak buahnya.
Stu seorang anak buah Jack memberanikan diri menjawab, “Maaf Cap. Tetapi kami juga barusaja bangun tidur. Entah kenapa aku yang sebelumnya tertidur dipantai bisa berada disini. Begitu juga dengan anak buah kapal yang lainnya. Dan yang lebih anehnya lagi adalah pulau beserta karang besar itu lenyap Captain.” Katanya menjelaskan.

Serentak bulu kuduk Jack Sparrow dan yang lainnya berdiri. “Tunggu dulu! Aku sepertinya merasakan ada yang ganjil disini.” Katanya lagi.
“Cap. Jangan-jangan nyanyian itu adalah nyanyian putri duyung Captain.” Kata Smith kepada Jack.
“Tak mungkin Smith. Putri duyung hanya ada di Eropa, di daerah Kopenhagen saja. Tak ada disini.” Seru Jack yang kemudian kembali mengernyitkan dahinya. “Tunggu dulu! Kopenhagen khan terletak di negeri Denmark. Serena mengatakan kalau dia dan adiknya berasal dari negeri itu juga. Serena…..siren…mirip. Nama Serena terdengarnya seperti Siren.” Kata Jack lagi. Siren adalah sebutan di Denmark untuk putri duyung.
Entah apa yang sebenarnya terjadi tetapi mereka sepakat untuk tidak membicarakan itu lagi. Lalu rombongan Jack Sparrow kembali berlayar ke utara. Tanpa mereka sadari kalau di saku celana Jack terdapat sebuah kotak kecil kenang-kenangan dari sang putri duyung yang cantik yang bernama Serena. Jack tidak tahu kalau sebenarnya Serena dan Rhea adalah putri dari Triton sang raja siren terakhir yang ada di negeri seribu dongeng, Denmark. Mereka tersesat ketika tergoda untuk mengikuti rombongan kapal perang Inggris yang menuju ke Karibia setelah berhasil mengalahkan armada Denmark di Kopenhagen.
Laut kembali senyap dan segala ilusi yang ditebarkan oleh kedua duyung cantik lewat nyanyiannya ini juga sudah lenyap. Mereka sudah terpuaskan dahaganya akan pria. Menunggu pria lainnya yang menarik hati mereka untuk mereka rayu dengan nyanyian merdu mereka.