Disclaimer
Semua cerita ini 70% berasal dari kisah nyata, mengenai segala bentuk tulisan didalamnya tidak dimaksudkan untuk melecehkan, mengejek, merendahkan ataupun menyinggung pihak tertentu melainkan sesuai dengan keadaan dan kondisi pada waktu itu dan hanya bersifat informasi narasi dari peristiwa yang terjadi. Sekali lagi segala bentuk tulisan yang menyinggung suku, etnis, golongan, ras, agama atau pihak tertentu bukan bermaksud untuk menyudutkan atau memberikan penilaian tetapi hanya untuk kepentingan penceritaan dan penulisan agar sesuai dengan jalan cerita yang orisinil.
Akhir kata saya ucapkan terima kasih karena telah membaca thread ini dan jika ada kesalahan penulisan, penceritaan, analogi ataupun kesalahan lain, penulis mengucapkan permintaan maaf dan terima kasih.

================================================
Campus on Fire (last chapter)

Besok harinya seusai kelas kuliahku, aku segera menuju ke alamat yang diberikan Ratna kepadaku dengan mengendarai mobilku. Tepatnya disebuah bilangan jalan yang tertata apik dimana dikanan kirinya terdapat kompleks perumahan yang bisa dibilang cukup elite. Aku menghentikan laju mobilku tepat didepan rumah nomer 43. “Wow.” Gumamku ketika melihat rumah tersebut.
Rumah besar dengan dua lantai dibagian depan dan satu lantai pada bagian depan ditambah dengan halaman rumah yang cukup lebar, yang dapat menampung 6-7 buah mobil tipe kijang capsule. “pasti pemiliknya orang kaya, sampai sempet-sempetnya menata tamannya seeksentrik itu.” Aku kembali bergumam sendiri sambil melirik kearah taman disebelah kiri bangunan utama rumah tersebut.
Belum sempat aku membunyikan bel di pagar rumah, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu tua membuka pagar dan mempersilakan aku masuk. Bahkan pembantunya sesigap ini, berbeda dengan pembantu kebanyakan. Begitu masuk aku cukup kaget juga melihat ternyata arsitektur rumah ini dilihat dari dekat benar-benar berbeda, suasananya lain dengan saat dilihat dari jauh. Hal ini menguatkan keyakinanku bahwa pemiliknya seorang jutawan. Namun seolah-olah semua itu mendadak terbakar dan hangus menjadi abu dan terbawa angin malam pergi terburai jauh-jauh saat aku melihat dari balik pintu ada dua orang gadis cantik menghampiriku. “Kukira kamu nggak mau datang. Sudah ditunggu nih. Ayo masuk, anggap aja rumah sendiri!” ucap seorang gadis yang aku sadari beberapa saat kemudian bahwa dia adalah Ratna namun nampak berbeda dengan kepang yang dilepas dan tanpa kacamata.
Didalam rumah sudah menunggu 3 orang gadis dan seorang pemuda. Entah hanya perasaanku saja atau memang saat itu suasana mendadak aneh. Serasa dadaku berdesir bertanya-tanya apa yang sedang mereka lakukan disini. Lamunanku terbuyar saat Ratna mengenalkan teman-temannya satu persatu.
Dhea Anastasia, seorang gadis SMU kelas 3 yang sebentar lagi lulus dan merayakan ultah nya yang ke 17. Tepatnya 2 hari lagi. Badan cukup tinggi, kulit putih dan berambut lurus sepusar dengan cat rambut menghiasi beberapa lembar rambutnya. Warna merah campur oranye.
Saskia Rukmana, seorang lulusan akademi keperawatan, berusia 26 tahun dan sekarang sedang bekerja di sebuah rumah sakit swasta. Tubuh tinggi juga, lebih tinggi sedikit dari Dhea, berkulit sawo matang dan rambut berombak sebahu. Yang menarik dari dirinya adalah bibirnya yang sensual, tipis dan sedikit lebar.
Endrawati Galuh Chandra, seorang mahasiswi dari jurusan akuntasi di sebuah universitas swasta. Kejutannya adalah dia satu angkatan denganku. Badan tidak terlalu tinggi, sedangkan tubuh ideal sih walau dibeberapa tempat kelihatan sedikit gemuk, mungkin karena pipinya yang agak tembem itulah penyebabnya. Rambut lurus (hasil karya rebonding :P) sedikit dibawah bahu dan ciri khasnya adalah menggunakan anting bewarna mencolok dan besar. Kulit sih sawo matang, diluar dari pada itu ternyata orangnya sangat pintar ngomong. Tidak heran kalau Ratna memperkenalkan dirinya sebagai radio berjalan.
Sulis Hardani, seorang gadis teman kuliah Ratna. Tubuhnya kecil membuat orang sering mengira dia masih kelas 1 SMU. Putih dan berambut pendek. Cenderung pendiam. Sebenarnya jikalau dia lebih tinggi atau setidaknya setinggi Ratna, mungkin akan banyak cowok yang naksir kedia, karena jujur saja wajahnya cukup lumayan dibandingkan dengan Ratna.
Yang terakhir adalah pemuda yang bernama Catur. Sebenarnya aku paling malas menceritakan perihal pria, namun karena nanti dia juga berperan dibab berikutnya maka aku ceritakan saja mengenainya. Pemuda ini setinggi diriku dan walaupun berat kuakui kalau dia lebih cakep dari aku (sigh….). Hanya satu kekurangannya, yaitu badannya yang kelewat langsing. Yah setidaknya bisa sedikit mententramkan hatiku bahwa dalam hal tubuh aku sedikit lebih baik darinya.

Sudah sekitar satu jam aku duduk bersama mereka berenam dan ngobrol ini itu tanpa arah. Jam sudah menunjukkan jam 7 malam dan aku berniat untuk mohon diri karena aku sendiri cukup bosan dengan acara ngobrol seperti ini. Nampaknya Ratna sudah mengetahui gelagat ini dan segera mulai angkat bicara, “Jangan pulang dulu Di! Acara aja blom mulai kok.” Lalu dia berjalan menjauh dan hilang dibaling gorden yang memisahkan ruang santai keluarga dengan ruangan lain. Ruangan santai ini terdiri dari sofa yang menghadap televisi besar dan didepannya terdapat karpet membentang dan sejenis kasur tipis yang bergelombang. Nampaknya sang pemilik rumah sering tiduran didepan televisi juga, pikirku.
Sementara itu aku melihat tingkah polah kelima orang yang lain, nampaknya hanya Catur dan Dhea yang masih gugup dan ‘seperti orang asing’ diruangan ini. Saat aku akan menanyakan suatu hal kepada Dhea, tiba-tiba Ratna datang dan membawa sebuah kue tart besar dengan lilin berbentuk angka 17 diatasnya. “Met ultah yah Sya.” kata Ratna kepada Dhea. Terlihat senyuman mengembang diwajah Dhea. “Ini kejutan buat kamu. And adalagi kejutan dari kami buat kamu.” Ratna lalu duduk disebelah gadis cantik itu.
Dhea lalu bertanya, “Kejutan apaan mbak? Jadi penasaran. Pengin tau dong….” rajuknya manja. Lalu Ratna menyuruhku dan Catur mendekatinya.
Disaat Dhea masih bingung, Ratna lalu berkata sesuatu yang membuat Dhea, ah tidak…bukan hanya Dhea, namun aku pun dibuatnya kaget setengah mati. “Kamu masih inget dua bulan lalu kamu ngomong ke aku kalau pengin tau gimana rasanya ML? Nah, kali ini mbak sudah nyiapin dua orang cowok buat kamu. Terserah kamu mau pilih yang mana, dua-duanya juga boleh.” Ratna kemudian melanjutkan perkataannya ditengah kegugupan Dhea. “Umurmu khan dah 17. Masa ga ingin nyobain? Lagipula kamu khan dah gede Sya.” Katanya lagi.
“Tapi mbak. Dhea khan masih perawan. Takut ntar kalau kenapa-napa. Nggak ah!” tapi nampaknya penolakan Dhea tidak digubris sama sekali oleh Ratna. Dia lalu memutar film blue di DVD playernya. Sesaat kemudian, suara desahan dan erangan tak beraturan keluar dari speaker home theater-nya.
Tidak cukup dengan itu saja, Saskia yang dari tadi diam mendekati Dhea dari belakang dan memegangi kedua tangannya dengan setengah memaksa. “Mbak Saskia! Mbak mau apa?” Dhea setengah berteriak namun dia langsung kembali memandangi Ratna yang sudah mendekatinya dari depan dan mempreteli kancing bajunya satu persatu.
Demikian hingga akhirnya Dhea benar-benar telanjang bulat didepan kami semua. Tak berselang lama kemudian, Saskia, Ratna dan Sulis lalu melucuti pakaian mereka satu persatu hingga ketiganya bugil total dihadapanku. “Nah sekarang khan kamu nggak sendirian Sya. Kami semua juga ikut buka-bukaan kaya kamu khan.” Saskia berseloroh sambil tertawa diikuti dengan tawa canda kedua gadis yang lain. Keempat gadis manis ini berbugil ria dihadapanku membuatku menjadi benar-benar lupa diri. Namun ketika aku beranjak maju untuk mencicipi tubuh gadis-gadis ini tiba-tiba Ratna menghalauku, “Nggak boleh! Kali ini cara kerjanya lain. Karena Dhea yang ultah maka di yang berhak menentukan mau diapain kalian…heheheheh…” Ratna tertawa kecil.
Sulis lalu angkat bicara sambil menutupi payudaranya yang mungil, “Sya! Kamu pilih yang mana? Kamu boleh pilih yang mana aja buat merawanin kamu, tapi kamu lucuti sendiri yah pakaiannya…hihihihi..” tawa Sulis kembali memecah.
Pertama aku melihat Dhea walau masih risih dengan perlakuan ketiganya (dia terpaksa karena semua pakaiannya disembunyikan Ratna) akhirnya mendekati salah seorang dari kami berdua, yaitu Catur. Sial, pikirku. Tapi wajarlah karena pemuda itu dilihat dari tampang emang lebih baik. Kemudian dia melucuti seluruh pakaian Catur sementara pemuda itu sama sekali tidak diperbolehkan untuk melakukan gerakan aktive apapun oleh Ratna dan konco-konconya.
Tak lama kemudian adalah giliran celana dalam Catur yang dibuka dan mencuatlah batang kemaluannya yang ternyata cukup kecil. Soal panjang sih aku tebak sekitar 12 sentimeter-an namun diameternya kurang dari separuh diameter penisku. “Ya ampun, kirain ****** kamu gede Tur. Wah Mbak Saskia bo’ongin kita neh.” Ratna sedikit kecewa juga. Namun Saskia langsung menjawab, “Biar segitu tapi sevice nya ditanggung halal…eh nikmat..hihihi..” dia kembali bergelak. Payudaranya yang besar sedikit berguncang ketika dia tertawa.
Pemandangan selanjutnya adalah dimana Dhea belajar melakukan oral seks seperti yang ada di tayangan DVD disampingnya dengan obyek percobaan batang penis milik Catur. Catur yang agak pemalu itu akhirnya melenguh dan mendesah tidak karuan ketika penisnya dikulum habis-habisan oleh Dhea dan sering sekali Dhea melahap habis batang kejantanan pemuda itu kedalam mulutnya. Setelah sekitar 5 menit Dhea melakukan blow job kepada Catur, dia berdiri dan mendekatiku yang masih dalam posisi berdiri. Seluruh pakaianku pun dia lucuti hingga akhirnya mencuat juga batang kemaluanku dan terpampang jelas didepan semua orang.
“Wow, gila. Gede amat terpedonya. Wah Ratna bener-bener pencari bibit unggul yang hebat.” Sulis terpana juga liat penisku. Dhea yang tadi sempat bermain-main dengan batang kejantanan milik Catur menjadi sedikit deg-degan juga melihat batang kemaluanku ini. Sementara tiga gadis yang lain malah mendekatiku terutama Sulis dan Siska. Kedua gadis ini berebut untuk memegang batang terpedo ku tersebut dan mengocoknya dengan cepat.
“Hoi! Sabar dong, satu-satu! Setelah Dhea aku masih sanggup ngelayanin kalian bertiga kok.” Kataku sambil senyum-senyum kearah mereka. “Bo’ong banget! Cowok mah sekali udah crut paling langsung lemes.” Saskia membantah ucapanku namun Ratna menukas dengan cepat, “Nggak kok, dia lain. Yang ada juga kalian-kalian ini yang dibuat kelenger ma kontolnya.”
Dhea nampaknya kesusahan saat mencoba melumat batang kemaluanku. “Kegedean mas, Dhea ga isa nelan semua.” Gadis ini tersipu malu saat berkata padaku. Aku hanya tersenyum, “Nggak apa-apa kok. Selama ini juga belum pernah ada cewek yang sanggup menelan semuanya…..alasannya sama kaya kamu Sya..” kembali wajah gadis ini merona merah.
Setelah sekitar 5 menit dia mengoral batang kemaluanku, aku segera merebahkan dirinya yang sudah telanjang bulat itu. Kedua tungkai kaki Dhea aku lebarkan dan sekarang dia dalam posisi telentang dan juga mengangkang. Aku dapat melihat vaginanya yang merah muda dan basah kuyup oleh cairan kewanitaannya itu. Kutindih dara cantik ini dengan tubuhku dan peniskupun aku bimbing kearah bibir vaginanya. “Eh, Dhea khan belum mutusin sapa yang boleh nyodok duluan.” Saskia nampaknya berusaha mencegahku melakukan penetrasi.
“Dhea nggak keberatan khan kalau aku yang mulai duluan? Lagipula Dhea kelihatannya dah horny berat yah…” sindirku pada Dhea sekaligus menjawab perkataan Saskia. Kali ini Saskia tidak bisa menjawab apa-apa saat kedua tangan Dhea memegang pinggulku dan menariknya kearah pinggulnya, seolah-olah mengatakan ‘silakan mulai’ kepadaku.
Dalam hitungan detik, batang penisku sudah menempel ujungnya dibibir luar vagina milik Dhea ini. Gadis ini sempat membelalak dan menjerit kecil ketika penisku menyeruak masuk kedalam liang senggama miliknya. “Ach…sakit……pelan-pelan mas!” ucapan Dhea diiringi dengan rintihan ini sangat seksi menurutku, mengingatkanku pada Ranti di Bali.
Setelah 2 menit berusaha akhirnya penisku berhasil masuk dengan sempurna. Dhea sempat menjerit agak keras ketika sodokan terakhirku menuntaskan keperawanannya dan disaat yang sama mengalirlah darah segar membasahi dinding vaginanya yang kemudian mengalir turun membuat sprei warna pink tempat kami bersenggama menjadi ternoda merah darah. Aku mengambil nafas sebentar sebelum akhirnya aku melanjutkan sodokanku yang pelan namun mantap.
Sementara 4 orang yang lain melihatku dengan tampang yang tidak dapat dilukiskan ekspresinya, Dhea nampak sudah dapat menikmati persenggamaan ini, hal ini dapat terlihat dari desahan-desahan yang dikeluarkannya saat batang kejantananku mengobrak-abrik liang kewanitaan miliknya.
Sesaat aku menengok kearah samping dan aku melihat Ratna membawa handycam merekam adegan syur kami berdua. Aku mencoba mencegah dan merebut handycam tersebut namun Ratna mengelak. “Jangan khawatir, ntar kita semua juga bakalan kena rekam kok. Ini koleksi pribadi dan bukan untuk konsumsi orang lain. Liat neh, gue ma temen-temen ku semua kena syut.” Ratna kemudian memutarkan handycamnya dan merekam seluruh tubuh teman-temannya yang telanjang termasuk tubuhnya sendiri.
Aku memutuskan tidak menggubrisnya dan berkonsentrasi pada perempuan molek didepanku ini yang kemaluannya tertancap oleh batang kemaluanku. Seiring dengan desahan-desahan Dhea yang semakin membabi buta, aku segera meningkatkan intensitas sodokanku menjadi lebih liar lagi. Aku percepat pompaanku kepada tubuh dara cantik ini hingga Dhea menjadi semakin liar gerakannya. Kedua buah dadanya kuremas-remas dan puting susunya aku jilati sambil sesekali aku pelintir dan aku hisap dalam-dalam. Akhirnya setelah sekitar sepuluh menitan aku dan Dhea bercinta dengan gaya yang sama, Dhea mendapatkan orgasmenya yang pertama sepanjang hidupnya. Matanya berubah sayu dan kedua tangannya mencengkeram pinggangku dengan sangat erat bahkan hingga membekaskan luka cakaran tipis dikulit pinggangku. Kedua tungkai kaki Dhea yang semula mengangkang bebas kini menjadi mendekap kepinggulku seolah-olah tidak menginginkan diriku untuk mencabut batang terpedoku yang telah memberikannya kenikmatan tiada tara.
Kemudian tak lama setelah Dhea mengalami orgasmenya Siska menyentuh buah pelirku dengan jemari tangannya yang lentik. Sembali memainkan buah pelirku dia menciumi leher dan punggungku sesembari salah satu jarinya ditusuk-tusukkan ke arah anus milik Dhea. Sesaat aku agak grogi tentang apa yang akan terjadi nanti namun akhirnya aku paham juga ketika Sulis mendekati kami bertiga sambil membawa dildo kecil warna merah jambu yang sudah diberi pelumas.
Disaat aku mulai kembali memompa liang kemaluan Dhea dengan penisku, Sulis dengan sigap menggesek-gesekkan dildo tersebut dibagian luar anus Dhea yang sesekali merembet kearah liang vaginanya yang sedang penuh kuhajar. Selang beberapa menit kemudian aku melihat Dhea melotot dan menahan sakit. Aku melihat ternyata dildo tersebut telat ditusukkan kearah dalam anus Dhea. Sebelum Dhea menjerit, aku segera memberikannya ciuman dalam-dalam dan menstimulsi seluruh bagian tubuhnya yang sensitif, mulai dari putting payudara hingga klitorisnya. Sementara itu aku melihat Catur sedang mengocok batang kemaluannya dengan sesekali memegang-megang payudara Ratna yang sedang asyik merekam ulah kami berempat.
“Achh….sakittt!!!” Dhea menjerit agak keras namun segera lenyap karena kututup dengan ciuman yang dahsyat.
Sulis hanya tersenyum, “Sabar sayang, kalo mau jebolin perawan kamu, jangan cuman di memek kamu doang tapi pintu belakang juga.” Lalu diselingi dengan tawa Siska dan Ratna. Sementara batang kejantananku masih menghajar liang yang sempit itu, liang belakang milik Dhea disaat yang sama juga sedang dimasuki dildo yang kemudian dimaju mundurkan secara manual oleh tangan Siska. Tak sampai lima menit kemudian, Dhea mencapai orgasmenya yang kedua. Kali ini dia berani meracau berteriak tanpa kendali. “Ahhh…ohhh…kak…entotin Dhea lagi….jangan berhenti…!!!” serunya ditengah desahan yang bergairah tersebut. Ratna tak kuasa menahan tawanya dan mengatakan bahwa sekarang Dhea sudah menjadi pecandu ****** walaupun baru sekali coba. Ejekan demi ejekan dikeluarkan oleh Ratna dan Siska namun tak digubris oleh Dhea. Melupakan rasa perih yang ditanggung liang kemaluannya dan anusnya, sekarang dia mulai berani menggoyangkan pinggulnya untuk melakukan inisiatif gerakan ML.
Sesaat setelah orgasme kedua Dhea, aku merasa bahwa kemaluaku mulai berdenyut-denyut kencang itu tandanya bahwa sebentar lagi aku akan mencapai klimaksku. “Dhea, aku keluarin dimana sayang?” aku mencoba untuk meminta pendapatnya namun Dhea sedang diambang ilusi seksnya sendiri dan tidak memberikan jawaban. Siska langsung menukas, “Diluar aja, ntar khan masih ada ronde berikutnya. Soalnya kita-kita nanti masih belum puas ngerjain adek kecil ini. Heheheheheh.” Seloroh Siska dan diamini oleh Ratna dan Sulis.
Lalu aku cabut batang penisku dari liang vagina yang sempit tersebut dan aku kocok tepat diatas wajah Dhea. Sesaat kemudian, keluarlah seluruh cairan kental bewarna putih menyembur keluar membasahi sebagian besar wajah dan payudara Dhea. Sekitar 7 – 8 kali semburan sperma yang kental mengarah ke wajah gadis belia tersebut.
Saat aku beranjak menjauh, tiba-tiba batang penisku langsung ditangkap oleh Siska dan dengan lahapnya di membuka mulutnya dan melahap batang kejantananku yang masih belepotan sperma dan darah perawan Dhea. “Darah perawan campur sperma memang rasanya lain.” Siska berkomentar sambil mengoral batang penisku yang masih tegak mengacung itu yang kemudian diikuti oleh Sulis yang menciumi mulutku yang merembet keseluruh bagian tubuh yang lain dan berakhir dengan melakukan duet oral bersama temannya itu.
Sembari mengocok penisku, kedua gadis ini tak henti-hentinya membuat gerakan-gerakan menggoda birahi begitu juga dengan perkataan yang terlontar dari mulut mereka. Saat aku menoleh kesamping, ternyata Dhea sudah didekati oleh Catur. Pemuda ini lalu mengangkat kedua tungkai kaki Dhea yang sudah lemas karena mencapai orgasme beruntun barusan. Dilebarkannya kedua paha gadis itu dan mengangkang. Lalu diarahkan batang kejantanan milik pemuda itu kearah bibir vagina Dhea yang masih basah karena darah dan cairan cinta kami berdua. Dengan sesekali membuat tusukan kearah klitoris milik gadis belia ini, Catur akhirnya melakukan penetrasinya yang pertama kali kedalam liang senggama Dhea.
“Achhh….ahhh…” rintih Dhea kecil ketika torpedo milik Catur menerobos masuk melewati bibir vaginanya. “Akhh….” Serunya lagi saat Catur mulai memaju mundurkan penisnya yang sekarang sudah amblas semuanya kedalam liang vagina Dhea imut itu. Bibir kemaluan Dhea nampak memerah, yang semua bewarna pink cerah menjadi bewarna merah kusam seperti sudah bengkak. Cairan-cairan kentalpun meluber hingga keluar dari liang kemaluan gadis tersebut.
Belum sempat aku menengok kembali, ternyata Ratna sudah tidak sabar. Siska disuruhnya rebah dilantai sementara Sulis diposisikan menindih Siska dengan posisi tengkurap. Lalu aku disuruh Ratna agar mengerjai mereka dari belakang keduanya sekaligus. Mengingat vagina dua gadis ini tumpang tindih dan berdekatan maka hal tersebut mudah kulakukan, mirip saat aku bercinta dengan dara kembar di Bali tempo hari. Sementara aku mulai memompa vagina dua gadis ini secara bergantian, Sulis dan Siska menstimulsi payudara rekan mereka satu sama lain. Siska dan Sulis berciuman dahsyat dan sembari kedua tangan mereka begerilya di seluruh tubuh temannya termasuk bagian payudara, apalagi Siska yang kedua tangannya tidak digunakan untuk menopang tubuh seperti Sulis dia dengan leluasa meremas-remas payudara dan memilin puting buah dada Sulis yang kecil itu.
Sekita sepuluh menit kemudian aku melihat Catur ambruk lemas disamping Dhea dan kulihat ada cairan kental membasahi liang vagina gadis ini. Nampaknya ejakulasi Catur dilakukan didalam liang cinta itu. Beberapa tetes air mani tersebut ada yang sempat keluar mengalir di paha sang gadis. “Lah, cuman segitu dah kelar Tur?” ejek Ratna tapi Catur hanya menjawab dengan senyuman malu malu lalu dia rebahan di karpet.
“Achh…aku keluar Di…..” teriakan dari Siska membuatku kaget, dan selang beberapa detik kemudian Siska mencengkeram dan memeluk tubuh Sulis erat-erat hingga seluruh tubuh Sulis ambruk menempel tubuh Siska, begitu juga dengan kedua tungkai kakinya langsung mengapit erat kedua pinggang Sulis. Orgasme pertamanya telah selesai, lalu aku cabut batang kemaluanku dan kuberikan lagi kedalam vagina Sulis.
“Achh……cepetan yah say…aku dah ga tahan…” Sulis meracau tak karuan ketika genjotanku aku percepat. Goyangan maupun sodokan batang kejantananku sudah mengobrak-abrik seluruh isi dalam liang vagina Sulis. Desahan dan racauan datang silih berganti mengiringi pompaan penisku. Selang 5 menitan akhirnya Sulis mengejang dan giliran dia sekarang yang memeluk Siska erat-erat. Disaat yang sama aku mempercepat goyanganku setelah tahu fase orgasme Sulis telah lewat. Dan dalam beberapa sodokan keras terakhir aku memuntahkan seluruh cairan sperma kloter keduaku di dalam vagina Siska dan Sulis meskipun ada beberapa yang tercecer keluar dan aku akhiri dengan sebuah sodokan keras kedalam vagina Siska. Siska yang masih lemas karena mencapai klimaks pertamanya terang saja tersentak namun tak ada lagi tenaga darinya untuk protes ketika sisa spermaku menyembur membasahi rongga vagina miliknya.
Selanjutnya adalah malam yang panjang, karena Ratna tak mau hanya jadi penonton saja. Kini aku seolah menjadi barang rebutan bagi keempat gadis ini untuk memuaskan nafsu mereka. Tapi berhubung Dhea yang berulang tahun maka dia lah yang kami kerjai habis-habisan. Setelah gadis ini mandi dan mencuci sisa sperma yang menempel ditubuhnya kembali dia menghampiri kami. Kali ini dia dikerjai oleh dua penis sekaligus. Batang kemaluanku kembali menghajar vagina gadis cantik ini sementara mulutnya tersumpal oleh batang kemaluan milik Catur. Setiap beberapa menit sekali kami berganti posisi dengan giliranku yang menjarah mulutnya sementara vagina Dhea aku pindah tangankan ke Catur begitu seterusnya hingga sekitar satu setengah jam dengan berbagai gaya yang kami bisa praktekkan. Setidaknya sudah 4-5 kali Dhea mencapai orgasmenya dengan cara ini. Terakhir kalinya aku menyemprotkan cairan spermaku kedalam vaginanya sementara Catur langsung main tancap di lubang anus Dhea dan berejakulasi disana.