Pendatang Baru

Namanya Jonathan Bramantya, panggilannya di kampus Jo sedangkan keluarga dan saudaranya biasa memanggilnya San San (mungkin nama aslinya, soalnya dia keturunan Chinesse). Seorang yang sangat borju menurut penilaian anak-anak kost ditempatku. Dia barusan masuk kelingkungan kost kami. Dalam hitungan hari saja sudah bisa bergaul dengan akrab dengan seluruh anak kost, maklum tiap kali dia datang selalu bawa cemilan banyak jadi mau tidak mau kami menyambutnya dengan hangat meskipun tak jarang yang kami sambut sebenarnya cemilannya. Berkulit putih (iyalah…) rambut nyaris botak karena habis di plonco di kampusnya dan agak gemuk, untuk tinggi yah seukurankulah sekitar 177 cm. Tapi yang menonjol dari dirinya selain kekayaannya adalah sifatnya yang sok pamer. Tak jarang kami anak-anak kost yang lain dibuat keki oleh sikapnya yang cenderung menganggap dirinya serba bisa.
Sekitar 1 bulan setelah dia tinggal di kost kami, Jo datang kekamarku. Dia memang paling akrab denganku karena akulah yang paling setia mendengarkan bualan-bualannya tentang kekayaan dan apapun yang dia ceritakan walau tak pernah kuperhatikan sama sekali. “Bos, how are you my friend?” seperti biasa Jo menyapaku dengan bahasa inggris segala. “Apaan?” aku asal-asalan saja menjawabnya dan ternyata dia mengajakku untuk pergi nanti malam dengan mobilnya. “Mau kemana emang?” tanyaku penuh selidik. Dengan santai Jo hanya menjawab, “Ntar juga tau bos. Nyantai aja, dijamin asik. Jo gitu lho.” Lalu dia beranjak pergi sambil membawa sebungkus coklat dari kamarku. “Hoi coklat ku…” teriakku tapi dia sudah menghilang. “Sialan! Kaya-kaya kok clutak (rakus-bahasa Jawa;red)” umpatku dalam hati
Sekitar jam 7 malam kami akhirnya jadi pergi juga ketempat yang ditunjuk Jo waktu dijalan. “Kamu yakin ini tempatnya?” tanyaku padanya. Jo menjawab ringan, “Bener kok. Emang disini, asyik khan?”
“Setan! Asyik gundulmu (kepalamu-bahasa Jawa;red) ini khan kost-kostan cewek.” Umpatku kesal. Jo hanya tertawa dan ternyata aku hanya dijadikan sopir baginya karena SIM A nya sedang bermasalah. “Tenang bos! Ntar gua kenalin cewek cantik.” Timpalnya padaku. Dan benar saja, selang beberapa menit kemudian muncullah dua orang cewek cantik. Salah satunya adalah kekasih Jo yang bernama Zara, sementara temannya bernama Anggie. Zara ini berpostur cukup tinggi, tinggi badannya setinggi telingaku sementara badan luar biasa seksi dan padat, maklum hobinya renang. Sementara itu Anggie merupakan cewk yang tidak terlalu tinggi tetapi yang membuatku kagum adalah caranya berpakaian sangatlah seksi. Malam itu Anggie menggunakan tank top warna pink tanpa jacket dan rok mini warna putih bergaris merah muda. Saat kami berempat bercakap-cakap sesekali aku melirik kearah belahan dada Anggie dan nampaknya Jo sudah menyadarinya dan hanya berdehem pelan untuk menyadarkanku.
Kami akhirnya memboyong dua gadis itu kesebuah tempat karaoke dipusat kota. Sembari bernyanyi-nyanyi aku sesekali melirik Jo yang kelakuannya sudah mulai nakal. Tangannya sedari tadi sudah tidak bisa diam dan bermain-main didalam baju Zara. Zara sendiri rikuh karena sesekali payudaranya yang masih tertutup bra warna hitam itu terpampang karena tangan Jo menyingkap kaus tanpa lengannya secara tak sengaja. Namun apa daya tangan nakal Jo sudah menjadi-jadi apalagi ketika mereka mulai berciuman dengan dahsyatnya. “Jo…udah! Ada mas Adi disini, nggak enak.” Zara menukas Jo tapi kekasihnya itu tetap saja melanjutkan foreplaynya bahkan dengan berani dia membuka paksa kaus Zara, “Tenang aja Ra. Mas Adi sudah sangat berpengalaman dibidang ini kok. Heheheh…” sahut Jo sambil terkekeh.
Dalam hitungan menit seluruh baju kedua muda mudi itu sudah terlucuti. Aku dapat melihat payudara putih Zara yang ukurannya 34A itu dengan leluasa walaupun lampu dikamar karaoke ini remang-remang. Bagian vagina Zara tertutupi bulu lembut yang masih jarang, dan jelas sudah basah oleh cairan kewanitaan. Sembari berciuman, Zara mengocok penis kekasihnya itu sampai menegang. Ternyata diluar dugaanku, Jo orang yang sangat percaya diri sekali itu hanya mempunyai penis yang kecil. Astaga, pikirku. Penis milik Catur saja masih lebih besar dari ini, ini sih paling-paling sepuluh cm saja. Sementara itu Anggie yang dari tadi terpana akhirnya sadar juga ketika tiba-tiba aku mencium bibirnya. Gadis yang tadinya melawan ini lambat laun juga membalas ciumanku, nampaknya dia juga sudah terangsang oleh tingkah laku dua temannya itu. Bibir mungil Anggie nampaknya sudah mempunyai jam terbang tinggi, permainan lidahnya benar-benar membuatku semakin terbang dan jujur saja aku akui kalau tehnik ciumannya memang berada diatasku.
Sembari berpagutan dengan Anggie, aku mulai menyusupkan tanganku kedalam kaus dan bra milik gadis ini dan dalam hitungan menit nampaknya Anggie sudah terangsang sekali dan tidak peduli lagi dengan sekitarnya. Langsung saja dia buka kaus dan bra nya dan dibuang begitu saja kelantai sementara itu aku dengan sigap membuka seluruh pakaianku kecuali celana dalamku. Sembari meremas-remas payudaranya, aku sesekali memberikan ciuman dan kuluman kearah payudara Anggie. Tanganku yang bebas bergerak segera kususupkan langsung kedalam rok mininya dan jemariku langsung dapat menemukan liang kemaluan gadis cantik ini. Vagina Anggie sudah basah dan ternyata tercukur bersih tanpa bulu, berbeda dengan milik Zara. Beberapa saat kemudian berkat kelihaian tangankupun celana dalam Anggie lolos dan terlempar kelantai namun rok mini jeans masih dia pakai.
“Akhh…terus sayang…jangan malu-malu. Sedotan loe emang…paten abis..ohhh” suara tersebut membuatku berpaling dan kulihat Zara sedang melakukan oral seks dengan Jo. Dikulumnya penis Jo dan dikocoknya dengan perlahan menggunakan mulutnya. Pemandangan ini benar-benar luar biasa, seorang gadis secantik Zara mau mengulum penis seorang pria dan dilakukannya dengan cukup liar. Tak beberapa lama kemudian Jo menegang dan memuntahkan cairan spermanya kearah payudara Zara yang putih mulus itu. “Sayang…akhhh…” lenguhan Jo bercampur dengan suara desahan Anggie yang saat itu sudah dalam kondisi persengamaan denganku. Penisku sudah mulai menggenjot vagina gadis cantik ini dengan cepat. Zara berpaling kearah kami dan terkejut. Walaupun dalam kondisi remang-remang, tapi dengan jarak sedekat itu dia bisa melihat dengan cukup jelas vagina temannya tersebut sedang dibombardir dengan sodokan-sodokan batang kejantanan milikku. Entah bagian mana yang membuatnya tertegun tapi yang jelas setiap kali aku melakukan pompaan terhadap Anggie, Zara serasa enggan untuk mengalihkan penglihatannya dari liang kemaluan temannya tersebut.
“Okhhh…terus mas..!! Lebih keras lagi mas…!” Anggie nampaknya sudah hilang akal karena minuman keras tadi. Padahal sodokan penisku sudah terbilang brutal, karena biasanya aku tidak berani melakukannya kepada gadis-gadis lain karena pasti mereka mengeluh sakit, tapi Anggie beda, dia malah ingin lebih keras lagi. Aku lalu memindahkan posisiku agak keatas dan sembari aku kaitkan tungkai kaki Anggie kebahuku, aku mengambil nafas panjang dan lalu kuberikan sodokan terkerasku nan cepat yang membuat Anggie terpekik keras. Sodokan-sodokan berikutnya menjadi sebuah hardcore session karena terus terang saja aku baru pertama kali ini melakukan percintaan sebrutal ini. Namun jujur dalam hati aku sangat menikmatinya dan nampaknya Anggiepun menikmati hal ini juga. Terbukti dari desahan-desahannya tiap kali kontolku menyeruak masuk dan mengobrak-abrik vaginanya. “Akhh…terus mas! Anggie suka ****** punya mas Adi…akhh…” Anggie terus berceloteh.
Selang beberapa menit kemudian aku merasakan otot-otot vagina Anggie mulai menegang dan seolah mengikat batang kemaluanku. Dia telah mencapai orgasmenya, pikirku. Aku perlahankan genjotanku untuk memberikan dia peluang menikmati kepuasannya. Lalu kemudian aku kembai menghajar liang vagina gadis ini meskipun empunya telah lemas. Hanya beberapa saat kemudian aku merasakan penisku berdenyut-denyut dan, “Crott…crott…crottt…crottt…” menyemburlah cairan putih kental dari ujung penisku membasahi liang senggama gadis itu. “Anggie…aku keluar..” ucapku seraya menciumnya dalam-dalam dan diapun membalasnya dengan tak kalah mesranya, sementara itu tubuh kami saling merangkul erat terutama Anggie seolah-olah tak rela jika aku mencabut batang kejantananku dari vaginanya.
Tak selang berapa lama kemudian kami berdua terkulai lemas dengan kondisi bugil total sementara Anggie masih mengenakan rok mininya. Terlihat air maniku mulai menetes dari kemaluan Anggie yang memerah itu. “Mas Adi hebat yah. Kedua pararku aja cuman isa muasin diri sendiri, kalah jauh sama mas Adi.” Ucap Anggie disertai gelak tawa ringan. Dia menawariku untuk menjadi pacarnya yang itu berarti dia akan punya 3 pacar sekaligus, namun aku menolaknya karena aku sedang berhubungan dengan seseorang. Tapi aku menawarkan jika dia butuh kepuasan dan kebetulan aku lagi longgar, aku akan memberikan service terbaikku padanya dan diapun setuju.
Aku kembali menoleh kepada pasangan Jo. Pemuda itu malah lemas lunglai dan setengah ngantuk sementara Zara terduduk lemas, nampaknya barusan Jo memberikan mansturbasi pada Zara melalui remasan di payudara dan jilatan pada klitoris gadis ini. “Kenapa nggak ngentotan aja sekalian? Nanggung khan.” Kataku kepada Jo. Jo hanya tersenyum saja tak menjawab. Pada saat pulang baru aku diberitahu olehnya bahwa Zara masih perawan dan belum berani melakukannya. Setiap kali Jo memaksanya hasil akhirnya adalah berantem terus dan Zara mengancam untuk putus. Aku maklum kalau Jo hanya bisa mengalah karena Zara adalah gadis cantik yang lain dari yang lain, bisa dibilang kalau pandai membawa diri seperti Ranti, gadis yang pernah aku kenal di Bali. Jo sengaja mempertontonkan live show antara aku dengan Anggie hanya untuk memancing gairah Zara dengan harapan Zara mau dia setubuhi diruangan itu nantinya. Namun gagal total gara-gara Zara malah termangu melihat penisku yang jauh lebih besar dari pada Jo. Bahkan menurut pengakuan Jo, Zara disaat diantar kekost-nya sempat tanya kepadanya mengenai kehidupan seksku dan cara agar mempunyai penis sebesar itu. Malam itu aku pulang dengan senyum namun Jo pulang dengan kejengkelan akibat nafsu yang tertunda.

Anyssa yang Ternoda

Tiga hari sudah setelah aku memadu cinta dengan Anggie. Pagi itu tiba-tiba HP ku berbunyi dan ternyata nomor Anggie. Dia mengajak untuk ketemuan di kafe dekat kampusnya. Aku bergegas dan menemuinya disana.


“Halo mas Adi. Dah nggak lemes lagi?” candanya kemudian kami berdua tergelak dalam tawa. “Wah ada apa nih? Tumben ada cewek manggil aku pagi-pagi.” Tanyaku penuh selidik.
Anggie tersenyum dan seorang waitress menghampiriku untuk memberikan daftar menu. Setelah aku memesan, kembali aku bertanya pada Anggie, “Nah sekarang ada apa Gie?” tanyaku lagi. Gadis ini hanya tersenyum dan setelah agak lama dia baru mengatakan maksud tujuannya memanggilku kemari. Anggie ternyata tak bisa melupakan kejadian di ruang karaoke tersebut dan menginginkannya lagi. Dia juga mengatakan kalau selama ini baru akulah yang dapat membuatnya orgasme. Setelah ngobrol kesana kemari akhirnya aku bercerita kalau saat ini aku sedang dirundung masalah. Aku menceritakan mengenai penyelewengan pacarku Anyssa sebanyak dua kali (yang aku tahu) dan bingung apakah harus melanjutkan hubungan dengannya atau tidak. Aku juga tidak segan-segan menceritakan mengenai masa lalu hubungan kami yang bisa dibilang tidak lazim karena kami setidaknya sudah dua kali melakukan swing partner.

Namun diluar dugaan Anggie menanggapinya dengan serius dan diapun memahami apa yang kurasakan.
“Aku punya ide nih. Tapi nggak tau mas Adi suka atau tidak. Tapi sebelumnya aku mau tanya apakah mas Adi emang berniat menjadikan pacar sekarang menjadi istri?” tanya Anggie penasaran. Aku memandangnya dan menjawab, “Aku juga nggak tahu nih, aku inginnya dia jadi pacarku karena dah cukup lama juga kami berhubungan tetapi nasi sudah menjadi bubur gini, aku juga malas kalau dia ******* ma cowok lain dibelakangku terus.”
Anggie tersenyum, “Hahaha…dasar cowok. Bukannya mas Adi juga sering ******* ma cewek lain selama ini? Aku aja nggak dikasih ampun kemaren..hehehe…” Aku hanya bisa tersenyum saja, karena memang benar kalau akupun tak jauh beda engan Anyssa tapi persetanlah. Anggie lalu melanjutkan, “OK kalau gitu. Anggie punya usul nih. Gimana kalau mas Adi bawa rekaman itu dan menunjukkannya kepada Anyssa terus mas Adi tuntut dia untuk melakukan apa yang mas Adi mau. Itung-itung balas dendam gitu. Pernah nggak pengin bercinta dengan kakak beradik sekaligus? Katanya yang adiknya, si Lina lebih cantik.”
Kata-kata Anggie seperti petir yang menyambar kepalaku dan membakar otakku luar dalam. “Boleh juga usulmu. Tapi Lina mana mau bercinta denganku didepan kakaknya?” lanjutku lagi. Anggie hanya tersenyum, “Itulah masalahnya…heheheh.”
Tapi setelah kupikir-pikir aku jadi ingat kembali kalau Lina pernah mengatakan kalau dia pernah menyukaiku sebelum aku jadian dengan kakaknya. So…what the hell lah. Setelah aku selesai ngobrol-ngobrol dengan Anggie aku lalu pergi menelepon Anyssa dan mengajaknya ketemuan dikostku. Anyssa terkesiap ketika aku menunjukkan rekaman ketika dia bercinta dengan Edwin di kamar kostnya dan Kurnia waktu di villa. Lalu sambil sesenggukan menangis dia berkata bahwa hubungannya dengan Kurnia sudah berakhir ketika dia ribut dengan Decky karena telah bercinta dengan Salsa di villa tempo hari itu. Bahkan Anyssa juga berkata sembari memohon kalau dia akan melakukan apapun agar aku tidak memutuskannya.
“Bagaimana jika aku ingin kamu melayani aku dengan seorang cewek satu lagi?” tanyaku kepadanya dan Ani pun menyanggupinya. “Tetapi siapa ceweknya?” Anyssa bertanya kepadaku penasaran. Aku hanya tersenyum dan mengatakan kalau cewek kedua itu adalah adik kandungnya sendiri, Lina. Ani terkejut dan sempat marah kepadaku namun berangsur hilang emosinya ketika aku menceritakan bahwa aku pernah bercinta dengan adiknya sebanyak dua kali. Dengan berat hati Ani menyanggupi permintaanku.
Pada hari yang ditentukan aku menyewa hotel di Malioboro street (ceile…pake street segala..) yang dulu sempat terbelah dua gara-gara gempa. Dengan kamar kedap suara ukuran superior inilah aku akan bercinta seharian dengan dua dara cantik kakak beradik. Lina semula menolak tetapi aku rayu-rayu akhirnya mau juga datang. Nampaknya dia masih menyimpan rasa cintanya kepadaku.
Sekitar jam 4 sore Lina datang dan aku bersama Ani sudah menunggunya. Kami lalu langsung mandi bersama. Aku bisa melihat kerikuhan dimata kedua gadis ini ketika mencopot pakaiannya satu demi satu hingga bugil total. Payudara Ani dan Lina nampak begitu kontras dalam bentuk namun keduanya sama-sama menggemaskan. Sambil mandi dengan shower aku memeluk mereka berdua dan menciumi bibir mereka satu demi satu bergantian. Sambil saling menyabuni satu sama lain kami juga tak lupa untuk saling meraba-raba. Aku merekasan tangan mungil Lina menemukan penisku dan mulai mengocoknya perlahan. Tak lama kemudian Ani membungkuk dan membuka mulutnya mengoral penisku dengan tangan kanannya disentuhkan ke bibir vagina Lina, adiknya. Sesekali Ani menusuk-nusukkan jari telunjuk dan jari tengahnya kedalam liang senggama Ani dan merangsang klitoris gadis SMU ini.
Mendapat perlakuan seperti itu Lina mulai melenguh, mendesah sejadi-jadinya apalagi payudaranya sedang aku remas dan pilin dengan kedua tanganku sementara lehernya aku ciumi habis habisan.
Selesai dengan foreplay dikamar mandi selama 15 menitan itu kami bertiga mengeringkan diri dan beranjak ketempat tidur besar. Aku mulai menciumi Ani yang dalam posisi terlentang sementara Lina gantian merangsang kakaknya dengan meremas payudara kakaknya dan menciumi sembari menyedot payudara kakaknya seperti yang kusuruh. “Akhh…Lin, udah! Aku mau meledak nih rasanya…akhhh.” Ani mulai meracau ketika jemari lentik Lina juga bermain di liang senggamanya sementara itu aku menciumi leher Ani sembari meremas payudara Lina yang menggantung bebas. “Mas Adi, siapa yang duluan?” Lina nampaknya sudah sangat terangsang mengingat forplay di kamar mandi barusan cukup lama sementara vagina kedua gadis ini sudah basah kuyup.
Aku terus menyuruh Lina tengkurap diatas tubuh kakaknya dan berciuman dengan kakaknya sementara vagina kedua gadis ini seperti berpepetan satu dengan satunya. Sebelumnya kedua gadis ini merasa risih untuk berciuman namun lambat laun mereka mulai mengabaikan rasa itu. “Dari pada satu-satu mending dua-duanya sekalian ya?” kataku pada kedua kakak beradik ini. Tanpa menunggu aba-aba batang kejantananku yang sudah menegang dari tadi langsung menyeruak membuka bibir vagina Lina yang dalam posisi tengkurap diatas tubuh Anyssa yang terlentang. Dalam hitungan etik seluruh penisku sudah masuk kedalam vagina Lina dan disertai dengan sodokan kecil.
“Akhh…” Lina tersentak dan mengerang kecil namun kembali dia mnciumi bibir dan leher kakaknya sambil dengan satu tangan meremas payudara Ani. Aku mulai melakukan sodokan-sodokan perlahan namun dalam. Dalam posisi ini aku dapat melihat tiap kali aku menusukkan panisku kadalam vagina Lina, vagina Ani yang suda membuka kecil nampak berkedut kencang dan ikut bergoyang, mungkin karema ada bagian bibir vagina Ani yang terstimuli oleh gesekan dari buah zakarku (kantung pelir…atau apa ajalah namanya).
“Ohhh…kalian benar-benar seksi sekali. Lina aku agak keras yah mompanya?”
kataku pada Lina. Dia menjawab sembari mendesah tak karuan, “Mfhh…akhh…iya deh terserah mas Adi. Yang keras juga nggak papa kok.” Katanya sambil setengah menengadah seperti sedang terbuai dengan pompaan didalam vaginanya.
“Di! Jangan keras-keras! Kasihan dia ntar. Kontolmu khan gede, kalau memek adikku rusak gimana coba?” kata Ani protes namun segera dia ketika aku mencabut batang kemaluanku dari vagina Lina dan aku masukkan dengan cepat kedalam liang kewanitaan Anyssa desilingi dengan erangan Ani.

“Akhh…sakit..akhh…” erangan sakit itu hanya bertahan beberapa detik, selang beberapa lama kemudian desangan kenikmatanlah yang berkuasa. Sembari aku meremas payudara Lina dan Ani bergantian dari belakang, aku mempercepat intensitas sodokan penisku keliang kenikmatan mereka berdua bergantian.
Selang lima belas menitan kami dalam posisi ini nampaknya Ani sudah akan mencapai klimaks keduanya (yang pertama dikamar mandi waktu foreplay). Akupun lalu mempercepat goyanganku di vaginanya dan begitu dia mencapai klimaknya aku menusukkan sedalam-dalamnya batang kejantananku kedalam vaginanya dam mendiamkannya disitu untuk memberikan kesempatan Ani mencapai orgasmenya. “Di…aku keluar..akhh…Adi…akhh…” desahan kenikmatan itu cukup keras, untungnya kamar ini kedap suara. Spermakupun juga keluar ketika aku melakukan tusukan final itu karena sebenarnya aku sudah menahannya dari tadi. Cairan putih kental itu menyemprot di rahim Anyssa yang lalu aku cabut penisku dan aku masukkan kedalam vagina Lina dan menyemprotkan sisanya kedalam liang kewanitaan Lina.
“Akhhh…mas Adi..” Lina ambruk menindih tubuh kakaknya dan aku dapat melihat dari kedua bibir vagina baik dari Lina maupun Anyssa menetes cairan putih kental. Aku lalu merengkuh tubuh Lina dan mengajaknya bergeser kesisi tempat tidur yang lain agar Ani dapat beristirahat sebentar. Lalu dengan posisi Women in Top aku kembali bercinta dengan Lina. “Sekarang kamu diatas yah Lin. Kamu yang entotin kakak.” Kataku padanya. Wajah Lina agak merah mungkin ada rasa malu disana selain terangsang karena dia sudah berlaku begitu binal kepada kekasih kakak kandungnya dan didepan kakaknya pula. Ani yang masih lemas menoleh dan melihat bagaimana Lina, adiknya menindih tubuhku dan selangkangannya menggilas penisku tak bersisa hingga masuk kedalam semuanya dan terkadang memompanya dengan posisi vertikal yang membuat batang kejantananku berdenyut kencang lagi. “Lina, ternyata kamu bisa sebinal itu yah?” sindir Ani namun tak digubris oleh Lina, “Biarin aja, memekku kata mas Adi lebih sempit kok.” Balas Lina kepada kakaknya. Aku bisa melihat kecemburuan Ani kepada adiknya.
Lina lalu mencium bibirku dan meningkatkan genjotan vaginanya lebih liar lagi. Luar biasa, setelah orgasme di kamar mandi tadi dia masih punya kekuatan untuk bercinta selama ini. Tak berapa lama kemudian Lina terbelalak dan mengerang kesakitan. Ternyata Anyssa menusukkan dildo bergerigi yang dapat digunakan di pinggang seperti sabuk biasa. Sambil menyalakan dildo tersebut hingga berputar-putar, Anyssa juga melumurinya dengan lotion pelicin. Dengan desakan pinggul Anyssa, dia menusukkan dildo itu kedalam liang anus adiknya, Lina.
“Sakittt…mbak Ani…sakittt..” teriak Lina namun segera kubungkam dengan ciuman dahsyat dibibirnya. Dalam hati aku juga ingin tahu rasanya bagaimana bercinta dengan formasi seperti ini. Karena sudah dilumuri lotion pelicin, maka dildo getar bergerigi tersebut dapat dengan cepat masuk kedalam liang anus Lina lalu Anyssa menyodokkannya pelan-pelan. “Gimana? Enak? Adi yang rencanain ini bukan aku. Kalau mau marah ma dia saja sana.” Goda Anyssa, nampaknya ada rasa jengkel kepada adiknya satu ini karena telah ******* dengan pacarnya, buktinya selang beberapa lama kemudian Ani mulai mempercepat sodokan-sodokan dildo tersebut dengan sedikit brutal juga. Anyssa berubah bernafsu kepada adiknya seperti pria saja mengingat ada dildo yang menggantung di selangkangannya.
Mungkin karena sudah lelah, Lina hanya dapat menerima saja perlakuan seperti ini dan Lina hanya bisa menikmatinya. Sekitar lima menit kemudian Lina mencengkeram rambutku dan mendesah keras, ini adalah tanda dia sudah mencapai orgasmenya. Sambil berhenti bergoyang sejenak Lina memelukku erat-erat sementara Anyssa juga menghentikan sodokannya dan melepaskan dildo tersebut dari sabuknya sehingga dibiarkan menancap di liang anus Lina.
Setelah Lina selesai dengan orgasmenya, aku mencabut penisku dan kusuruh kedua gadis ini untuk mengoralnya bersamaan dan hanya tiga menitan sebelum dari batang kemaluanku menyemburkan cairan sperma kental kearah bibir dan muka kedua gadis ini. Wajah, bibir, leher dan dada juga perut Lina dan Anyssa berlumuran spermaku. Hari itu setidaknya kami melakukan threesome sebanyak 3 kali hingga tengah malam, paginya Lina kembali untuk sekolah sementara aku dan Lina ada jadwal kuliah siangnya jadi tidak sempat bercinta lagi pagi harinya.
Kupikir ini adalah akhir dari hubunganku dengan kedua gadis ini namun ternyata ini adalah sebuah awal yang baru dalam hubungan percintaanku yang kali ini dengan kakak beradik sekaligus.