Sasa Diantara Dendam dan Nafsu

Masih ingat khan saat aku bercerita mengenai Edwin yang menyetubuhi pacarku Ani di kamar kostnya? Nah cerita kali ini mengenai kekasih si Edwin yang bernama Sasa (nama panggilan).
Suatu sore ketika penghuni kost tempat Ani tinggal sudah banyak yang pulang ke asalnya masing-masing (karena di akhir minggu biasanya mereka semua pulang kecuali Anyssa dan temannya Lola, karena yang lain rumahnya cukup dekat dengan Jogja) aku bertandang ke kost pacarku itu. Aku tahu benar kalau saat ini tepat jadwalnya pulang kerumah, seperti biasa terjadwal 1 bulan sekali. Sebelumnya aku sudah memberitahu kepada Sasa untuk tidak pulang terlebih dahulu karena ada yang harus aku beritahukan kepadanya.
Begitu kami bertemu dikamarnya, segera aku memberikan foto digital dimana Edwin sedang memaksakan nafsunya kepada Ani. Pada detik-detik awal aku dapat melihat keterkejutan yang amat sangat disertai dengan gelegak amarah diwajah Sasa namun semakin lama raut itu semakin hilang dan pecahlah tangisan dara manis ini.
“Edwin keparat! Apa kurangnya aku. Selama ini dah aku bela-belain untuk kuliah di Jogja supaya dekat dengan kamu. Kamunya malah tidur ma cewek lain…Edwin brengsek..!!!” umpat Sasa tak karuan, untung saja waktu itu Lola sedang pergi juga jadi tak ada yang mendengarnya.
Aku yang semula duduk di tempat tidurnya agak jauh sekarang mulai mendekat perlahan dan aku belai halus rambutnya yang sebahu itu. “Sebenarnya aku gak tega sama kamu Sa, tapi mau gimana lagi. Daripada nanti kamu ngerasain sakit hati belakangan pas semuanya sudah terlampau jauh. Aku cuman nggak mau kamu jadi korban seperti yang aku alami atas Ani.” Aku mulai menebar umpan untuk menarik simpati dari gadis manis ini.
Sasa mendongak mencegah airmatanya mengalir lagi sembari berusaha tersenyum walaupun aku tahu senyuman itu dipaksakan. Sepertinya dara manis ini benar-benar sangat mencintai kekasihnya tersebut, mungkin karena mereka sudah berpacaran sejak SMU kelas 2. Sasa lalu menoleh kearahku dan saat itu aku baru sadar kalau bulu matanya sangat lentik dan matanya benar-benar bening dan indah. Mata yang sempurna, pikirku dalam hati. Dia tersenyum lalu berkata, “Makasih ya mas. Udah mau nolongin aku dari sebuah kesalahan yang aku pertahankan selama ini.” Lalu kembali dia mengambil tissue yang kesekian kalinya untuk menghapus airmata plus ingus nya.
“That’s OK sweetheart…aku juga nggak tega sama kamu kalau kamu gak tahu apa-apa waktu dikhianati pacarmu.” Aku memegang tangannya sembari terus memberikan penghiburan. Setelah beberapa saat baru tanganku dibalas dengan genggaman oleh tangan Sasa. Umpan termakan, pikirku. Sekarang bagaimana cara penyelesaian akhirnya.
“Sa, gimana kalau supaya kamu bisa melupakan kesedihan kamu, kita jalan-jalan aja. Mumpung malam minggu, khan nggak enak kalau kamu disini sendirian trus bengong gak ngapa-ngapain.” Rayuku kepadanya dan tanpa pikir panjang lagi dia menyetujuinya.
Singkatnya kami melakukan dinner di sebuah café yang cukup terkenal di Jogja soalnya dulu sering dipake musisi untuk manggung (sebut saja Sheila on 7, Padi dan masih banyak lagi.)
Suasana malam itu cukup mendukung dengan angin yang dingin membuat sepanjang malam itu Sasa terus berdekatan denganku, mungkin pengaruh suasana juga. “Sering kemari? Sama mbak Ani?” tanya Sasa sambil memainkan sedotan didalam gelas juicenya yang sudah berkurang separuh itu.
Aku hanya tersenyum kecil menanggapi pertanyaannya, “Sering juga. Tapi sendirian.” Kataku sambil memakan potongan terakhir Strawberry Pancake milikku. Sasa semakin semangat saja bertanya, “Lho kok sendirian?”
Sembari meletakkan garpu dan pisau ditangan aku melihat menerawang seolah-olah melihat tembus ke atap menembusi langit malam itu, “Mau bagaimana lagi. Anyssa berselingkuh bukan hanya pertama kali ini. Dia sebelumnya pernah berselingkuh dengan pria-pria lain sehingga kadang membuatku tidak tahan lalu disini deh aku terdampar tiap malamnya, hehehe…” candaku kepada Sasa. Ternyata Sasa menganggap serius bualanku tadi dan mulai muncul lagi rasa simpatinya kepadaku.
“Aku nggak habis pikir, karena selama ini aku merasa mbak Ani itu orangnya alim ternyata bisa berbuat semengerikan itu. Kenapa tidak diputusin aja mas?” tanya Sasa lagi kali ini terlihat secarik emosi di raut mukanya setelah mendengar penuturanku. Pertanyannya kali ini tak aku jawab dengan sengaja agar menimbulkan tanda tanya dibatinnya, lalu dengan memasang ekspresi muka sedih aku diam. Sasa cukup peka juga sehingga dia tidak mencecarku dengan pertanyaan yang lainnya.
Tiba-tiba kedua tanganku merasakan sesuatu yang hangat. Ternyata Sasa menggenggam tanganku dengan lembut pula. Sambil tersenyum, sekarang gantian dialah yang menghiburku malam itu.
Saat kami pulang dengan menaiki motorku dan sudah separuh jalan, tiba-tiba hujan deras. Sesampainya kami di kost Sasa semua pakaian kami sudah basah kuyup. “Masuk mas! Hujannya deras ntar masuk angin.” Katanya padaku.
“Udah malam. Aku nggak enak kalau nanti kamu kena teguran dari bapak kost.” Kataku membuat alasan karena waktu itu memang sudah jam 10 malam. Tetapi Sasa ngotot dengan mengatakan pemilik kost rumahnya dilain tempat dan Lola saat itu juga belum pulang sehingga didalam kost hanya ada kami sementara dengan suasana hujan selebat ini membuat Sasa takut kalau harus sendirian di kostnya yang lumayan besar itu.
“Ya udah deh. Aku mampir dulu.” Kataku sambil pura-pura mengalah padahal dalam hati bersorak sorai gembira. “Nah gitu dong.” Sasa menampilkan senyumannya lagi dan bergegas mengambil handuk bersih dari almari pakaiannya.
“Aduh aku nggak punya pakaian cowok tuh gimana? Ntar kalau mas Adi masih pake baju itu ntar masuk angin lagi, khan basah. Dingin pula malam ini…” gadis ini mulai bingung sampai akhirnya dia menyalakan hair dryer milik Lola yang dia pinjam. “Keringkan dulu yah?” katanya sambil menyuruhku melepaskan bajuku.
Sasa bergegas kekamar mandi untuk berganti pakaian yang kering sementara aku mengeringkan pakaian menggunakan hair dryer ini. Mau tak mau harus mencopoti seluruh pakaianku sehingga tinggal bertutupkan handuk saja. Begitu Sasa muncul dari kamar mandi, dia kaget dengan kostum baruku yang hanya bertutupkan handuk dibagian bawah tubuhku. Sembari tertawa cekikikan dia menawarkan coklat hangat.
Sasa waktu itu berganti pakaian dengan daster terusan tanpa lengan yang bewarna pink dengan bertaburan icon-icon Keropi dimana-mana. “Wah, kalau tahu kamu kalau malam pake pakaian seksi gini mending aku gak perlu nongkrong di kafe…” candaku kepada Sasa.
Sasa mencibir ringan, “Sudah mulai nakal yah? Ntar tak pelorotin handuknya baru tahu rasa…hahaha…” gadis ini sudah mulai berani ternyata. Sekalian saja aku tantang, “Coba aja kalau memang berani, paling kamunya yang ketakutan.” balasku berharap dia akan menimpalinya dengan yang lebih hot namun ternyata harapanku pupus karena dia malah mengelak dari topik itu dan menyodorkan coklat hangat kepadaku.
Sembari minum kami bercerita mengenai diri kami masing-masing, mulai dari keluarga, kegiatan kampus, hobby sampai hal-hal yang privat. Dari pengakuannya aku baru tahu kalau selama ini Edwin belum pernah menodainya. Paling banter hanya ciuman bibir. Dia juga mengatakan kalau selama ini Edwin sering memintanya berhubungan intim tetapi selalu ditolak dan bahkan mereka sempat putus selama 2 minggu gara-gara Edwin memaksa dan berhasil meremas payudara Sasa. “Namun sekarang sudah sirna semua itu mas. Ternyata dia sudah dapat yang dia mau dari perempuan lain. Aku sih nggak menyalahkan dia sepenuhnya karena aku sendiri juga tidak bisa memberikan apa yang dia mau tapi tetap saja hati ini sakit.” Katanya lirih lalu meminum coklat hangatnya pada tegukan terakhir.
Sembari meletakkan cangkir kosong tersebut diatas meja belajarnya, dia kembali bertanya padaku, “Kalau mas Adi sendiri sudah pernah ngapain sama mbak Nisa? (Sasa memanggil Anyssa dengan sebutan Nisa, beda dengan temannya yang lain)
“Yah paling ciuman bibir saja. Kalau lebih belum berani karena dia selalu menghindar tiap kali kami akan memasuki tahap yang lebih dalam daripada ciuman bibir.” Kataku dan saat itu pula aku bersyukur karena aku manusia dan bukan Pinokio, kalau tidak hidungku pasti tambah panjang sepanjang-panjangnya karena berbohong besar.
Sasa tertawa dan mengejekku lagi, “Hahahah…nggak dapat sama mas Adi eh malah dapat dari cowok lain. Udah mas, ceraikan saja…buat apa memelihara bekas orang. Mas Adi pantas dapat yang jauh lebih baik, lagipula masa cowok secakep dan sebaik mas Adi nggak bisa dapat cewek baik-baik sih.” Sasa mulai mengomporiku, namun dia tidak tahu kalau dia salah terhadap dua hal. Pertama, aku tidak cakep (wajah diantara jelek dan cakep, orang bilang sedengan/sedang-sedang saja). Kedua, aku juga bukan orang baik-baik.
Saat aku akan menjawab perkataannya tanpa bisa aku tahan, tiba-tiba aku bersin- bersin sendiri. Hal tersebut membuat Sasa mendekatiku dan memberikan jaketnya kepadaku untuk dipakai, “Tuh khan sudah mulai pilek. Nih pake jaketnya! Eh…aduh…” saat Sasa akan memberikan jaket tersebut padaku tiba-tiba kakinya tersandung kabel hair dryer dan jatuh terjerembab. Aku yang reflek segera menangkapnya namun hasilnya kami jatuh berdua. Yang lebih fatalnya lagi saat jatuh handukku terlepas lilitannya dan jatuh kelantai ditambah dengan posisi jatuh yang tidak sempurna sehingga tangan dari Sasa tanpa sengaja menyenggol penisku yang sedang tidur.
“Hah…itu…sorry…nggak sengaja…” Sasa tergagap-gagap melihat tangannya memegang penisku. Aku sendiri walaupun malu harus aku sembunyikan dan berlagak kalau tidak terjadi apapun barusan. Singkatnya kami kembali duduk seolah-olah tidak terjadi apa-apa walaupun Sasa masih sedikit shock.
Aku memberanikan diri untuk angkat bicara mengingat sudah agak lama kami berdua terdiam, “Wah,kamar kamu rapi yah..” kataku padanya. Well, aku tahu ini merupakan pick up line yang sangat garing tapi hanya kata-kata itulah yang sempat mampir ke otakku. Sesuai dengan tebakanku kalau pick up line yang jelek nan buruk itu hanya mendapat satu buah kata sebagai jawaban, “Thanks…” kata Sasa dengan klisenya.
“Apa semua cowok seperti itu?” Sasamulai berkata padaku. Aku bingung dengan pertanyaannya dan mencoba untuk memperjelas perkataannya, “Maksud kamu…?” tanyaku penuh kebingungan.

Muka Sasa memerah dan melanjutkan kata-katanya, “Punya cowok yang itu…Apa semua seperti itu?” katanya lagi sambil melirik kearah penisku yang sudah ditutupi handuk. Aku hanya tertawa mendengar pertanyaannya.
“Seperti itu bagaimana Sa? Item and jelek gitu?” godaku padanya. Dia sekarang sudah bisa tersenyum lagi dan kegugupannya sudah berangsur hilang. “Item sih iya tapi kalo jelek yah biasa-biasa aja, nggak jelek-jelek amat kok.” Katanya sekarang sudah mulai berani untuk balas menggodaku.
Melihat situasi yang sudah agak panas aku langsung saja membuat umpan baru, “Sebenarnya ada bentuk kedua dari barangku yang satu ini. Kamu mau tahu? Ntar bisa aku perlihatkan, lebih chubby lho..hahaha…” godaku padanya. Namun jawaban yang keluar dari mulut gadis ini diluar perkiraanku sebelumnya, “Mau pamer pas ereksi?” sahutnya cuek.
Mendengar jawaban dari Sasa membuatku sangat kaget, tapi belum sempat aku membalas perkataannya dia sudah lebih dulu menimpali dengan ucapan baru, ”Walaupun aku belum pernah ML ma cowok tapi kalau hal begituan aku tahu lah mas…gini-gini aku khan seorang calon apoteker.” Katanya padaku. Perkataan terakhirnya membuatku sadar kalau aku sangatlah bodoh bertanya hal tersebut kepadanya karena Sasa sebenarnya adalah mahasiswa di program farmasi disalah satu perguruan tinggi terkenal di Jogja dan pastinya dia mempunyai dasar ilmu kedokteran, biologi dan kimia yang lumayan (jika dibandingkan dengan aku tentu saja).
Selama kurang lebih 5 menitan kami ngobrol kesana kemari akhirnya terdiam selama beberapa saat hingga saat aku mengatakan sesuatu yang membuatnya terkejut, “Sa, boleh nggak aku gantian lihat punya kamu? Tadi khan kamu dah liat punyaku. Biar adil gitu.” Kataku penuh harap namun Sasa tak segera menjawab. Lalu dia memalingkan mukanya kearahku dan menatapku sangat tajam dengan kedua matanya yang bening itu. Takut dia akan marah aku segera mengkoreksi kata-kataku barusan, “Aku cuman bercanda kok Sa…jangan ditanggapin serius yah…” sambil tertawa aku mencoba untuk menutupi rasa maluku ditatap oleh Sasa.

Sembari memutar posisi duduknya gingga menghadapku dia berkata, “Memang benar cuman becanda?” sahutnya dan serentak seluruh bulu kudukku berdiri karena takut gadis ini marah nantinya dan semua usahaku jadi sia-sia.
Sambil menenangkan diri aku menjawabnya, “Yah…begitulah. Tapi kalau dikasih juga nggak bakalan nolak…khan yang ngasih cantik kaya bidadari gini…hehehe…” selorohku pada Sasa.
Beberapa detik dalam keheningan tiba-tiba kedua tangan Sasa mulai bergerak, kedua tangannya mempreteli kancing baju tidurnya sehingga aku dapat melihat buah dadanya yang masih tertutup oleh bra warna coklat muda. Belum cukup dengan itu saja dia lalu melepaskan bajunya dan gantian sekarang dia meloloskan bra miliknya kebawah hingga sekarang kedua gunung kembar itu tidak lagi tertutup apapun. Indah, sangat indah sampai membuatku terpana. Kedua payudara gadis ini mulus bewarna putih dan bukan hanya itu saja tapi juga bentuknya sangat indah.
“Sa…kamu…” aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku. Sasa tersenyum, “Bukannya ini yang mas Adi mau?” katanya sambil mendekatiku.
Seolah mendapatkan lampu hijau, aku segera menyentuh payudara gadis ini mulai meremasnya lembut dan membelai dari pangkal hingga ujung puting susunya. Belum cukup dengan itu saja, melihat mukanya sudah memerah dan terlihat ada setetes nafsu dimatanya, aku segera melumat habis payudara gadis ini. Sasa melenguh keras ketika putingnya aku permainkan ujungnya dengan lidahku. Desahan kenikmatan Sasa seolah berlomba dengan kerasnya suara rintik hujan malam itu.
“Akhhh….mas Adi…akhhh…” Sasa kembali mendesah saat ciumanku merembet keleher jenjangnya sementara payudaranya sudah basah terkena air liurku. “Sa…kamu cantik sekali malam ini…kamu sempurna. Gadis sebaik dirimu pantas mendapatkan yang terbaik…jangan bersedih lagi yah…” kataku padanya sambil tersenyum kecil. Dan umpan terakhirpun termakan oleh sang gadis. Melihat rasa simpatikku padanya membuat dirinya semakin menyerahkan dirinya padaku. Sasa yang dari tadi pasif menjadi bergerak lebih aktif dan berani untuk mencium bibirku. Akhirnya kami berpagutan cukup lama sambil kedua tanganku menjelajah seluruh tubuhnya dan sedikit-demi sedikit aku meloloskan celana tidur sekaligus celana dalamnya hingga Sasa bugil total.
Diantara sadar dan tidak, gadis itu tetap menciumi bibirku dengan penuh nafsu dan saat aku raba vaginanya aku dapat merasakan kalau gadis ini sudah sangat terangsang, vagina Sasa sudah basah dengan cairan kewanitaannya. Ciuman aku arahkan ke leher milik gadis ini dan kembali dia mendesah, “Akhh…mas Adi…aku nggak kuat kalau gini terus mas…akhhh…” desahnya dengan suara seksinya itu membuat penisku semakin berontak.
Sasa nampaknya sadar kalau ada tonjolan yang semakin membesar dibagian bawah tubuhku dan diapun memberanikan diri untuk merabanya dan melepaskan handukku. “Akhh…mas…gede banget…” pekiknya tertahan saat melihat penisku dalam kondisi tegak sempurna. “Cuman 18 cm kok sayang…sedikit diatas rata-rata aja kok…” jawabku sambil tersenyum.
“Aaahhh…mas…tanganmu nakal…” Sasa mencoba berontak ketika jari-jari tanganku mulai mencari klitorisnya. Walaupun dengan penolokan yang setengah-setengah dari Sasa tapi akhirnya aku berhasil juga mendapatkan letak klitoris gadis ini. Cukup besar jika dibandingkan dengan milik kekasihku.
Sasa menggelinjang-gelinjang ketika aku mempermainkan klitorisnya dengan satu tangan sementara tangan lain tetap memainkan payudaranya. Dengan posisi tidur disampingnya, aku bisa dengan leluasa menggunakan kedua tanganku sembari tetap berciuman dengannya. Entah karena insting atau apa, tangan Sasa yang tadi menyentuh penisku sudah berani menggenggamnya erat dan memaju mundurkan dengan perlahan.
“Sa…jangan erat-erat entar sakit…yang lembut aja yah sayang…” kataku padanya lagi dan dia hanya tersenyum dan berkata, “Sorry…abis gemes sih…hehehe…” belum sempat dia berkata lagi aku sudah menutup mulutnya dengan kecupan bibirku.
Setelah kurasa vaginanya sudah cukup basah, aku baringkan Sasa terlentang dan aku buka pahanya sehingga area selangkangannya dapat aku lihat semua. Pertama dia risih dan malu tapi pada akhirnya dia pasrah juga apalagi dengan kedua tanganku yang terus menstimuli payudara miliknya.
“Akhh…mas Adi…aku…” Aku dapat melihat sebersit keragu-raguan dimata Sasa saat aku membimbing penisku kebibir vagina miliknya. “Kenapa sayang? Malam ini lupakan semua kesedihanmu dan lepaskan sja bebanmu. Toh Edwin juga sering selingkuh dibelakangmu, jadi tak ada yang perlu kau sesali Sa…” bujukku kepadanya.
“Kamu cantik…baik pula. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik…dan biarkan dirimu hidup bebas tanpa kekangan masa lalu lagi…I love you Sa…” perkataan penutup sebelum kami bersetubuh akhirnya manjur juga. Sasa mulai melepaskan pegangan kedua tangannya di pinggangku dan merangkul leherku lalu meminta ciuman hangat dariku lagi.
Sembari berciuman, aku mengarahkan lagi batang kemaluanku kearah bibir vagina Sasa. Aku bisa merasakan bibir kemaluan gadis ini mulai terbuka ketika kepala penisku mulai memasuki labia mayora miliknya. “Arghh…sakit mas.” Rintih Sasa dan akupun menghentikan penetrasiku. Begitu dia sudah mengambil nafas aku kembali melanjutkan penetrasiku lagi.
Perlu sekitar 20 kali dorongan hingga batang kejantananku bisa terbenam seluruhnya didalam liang kewanitaan Sasa. Gadis ini melelehkan air mata namun dalam hitungan detik dia sudah mulai bisa merasakan kenikmatan cumbuanku yang tak henti-henti di bibir, leher, telinga dan payudaranya. Nafas Sasa mulai memburu ketika ciumanku menjelajahi leher dan telinganya sementara tanganku dengan liarnya memainkan putingnya sekaligus pusarnya. “Mas…akhhh…aku…akhh…mas..” Sasa kali ini sudah tidak dapat berkata apa-apa lagi karena sekarang kesadarannya sudah diambil alih oleh gairah yang membara.
Setelah aku menstimuli Sasa dan mendiamkan penisku beberapa menit didalam liang vagina gadis ini, sekarang aku mulai melakukan gerakan menusuk pelan-pelan. Sodokan-sodokan penisku terasa sangat berat, maklum karena liang kemaluan Sasa belum pernah dimasuki benda sebesar ini. “Akhh…vaginamu sempit sekali sayang…luar biasa. Benar-benar luar biasa say.” Kataku pada Sasa. Sementara Sasa sendiri masih mendesah-desah tak karuan karena sodokan-sodokan penisku di vagina miliknya.
Walaupun sesekali dia meringis menahan sakit atau menggigit bibir bawahnya, tapi aku tahu kalau dia juga tidak ingin persetubuhan ini berhenti begitu saja. Itu bisa aku lihat dari gerakan pinggulnya yang mengikuti irama sodokan batang penisku bahkan seolah-olah menyiratkan kalau dia ingin lebih.
Melihat Sasa sudah mulai bisa menikmati, aku lalu mempercepat goyanganku sehingga sekarang kami bercinta selayaknya normal. Sembari menindihnya dan tetap menciumi leher dan bibirnya, sekarang tanganku mulai meremas-remas pantatnya yang ternyata padat berisi sementara tangan satunya menindih salah satu tangannya kekasur. Entah kenapa tapi hal itu membuatku semakin bernafsu saja dan sepertinya sensasi seperti itu bukan hanya terjadi padaku melainkan juga pada diri Sasa. Gadis ini semakin bisa meracau tak karuan, “Mas…terus…tusuk yang dalam…”
Melihat gelagat ini aku lalu menaikkan kedua tungkai kakinya keatas bahuku dan sekarang berat tubuhku aku tumpukan kepaha bawahku. Dengan sekali tusukan aku bisa melesakkan batang kemaluanku menjadi lebih dalam kelobang kemaluan Sasa. “Akhhh…” pekik Sasa ketika dinding rahimnya tersentuh oleh ujung penisku. Dalam sepuluh menit kedepan kami bercinta dengan gaya itu. Kedua tangan Sasa memegangi pantatku dan menariknya seolah-olah menginginkan sodokan yang lebih pada vaginanya. Aku memelankan pompaan batang kemaluanku sembari mengambil nafas namun tetap melakukan stimuli pada payudara gadis ini hingga sekarang bewarna semu merah, juga putingnya sekarang sudah membesar seperti bengkak saja.
Merasakan pompaan penisku semakin pelan, Sasa berinisiatif menggerakkan pinggulnya. Namun ketika dia akan mempercepat gerakan pinggulnya, aku memberikan sebuah sodokan cepat dan keras sedalam-dalamnya lalu aku percepat pompaan penisku. Sasa menjerit menahan sakit namun dilain sisi dia juga menikmati perlakuanku ini, “Akhh…mas…sakit…akhhh…”
Diiringi suara hujan deras aku mempercepat goyanganku ditubuh Sasa yang sudah lemas, dan dengan beberapa kali sodokan keras sembari aku mengangkat pinggul gadis ini agak keatas aku menyemprotkan spermaku kedalam liang kewanitaan gadis ini. “Sa…aku keluar…akhhh…” seruku sesaat lalu aku telungkup di atas tubuh gadis ini. Sasa yang sudah lemas kembali mengatur nafasnya.
“Mas nanti kalau aku hamil gimana?” Dia nampaknya sudah mengumpulkan kesadarannya sedikit demi sedikit. Dia lalu duduk dan melihat bibir vaginanya yang berlumuran darah perawannya dan cairan bewarna putih kental yang keluar dari dalam vagina miliknya.
Aku meyakinkan Sasa untuk menggunakan pil KB apalagi dia sendiri anak fakultas farmasi, obat semacam itu pasti tidak sulit untuk memperolehnya. Setelah ketakutanya hilang, kami lalu berpelukan sembari tidur dimana malam itu hujan bertahan hingga hampir pagi. Sekarang kedudukanku dengan Edwin satu sama, tetapi sebentar lagi akulah yang akan jadi pemenangnya karena Sasa berjanji untuk tidak mengatakan apapun pada orang lain termasuk perselingkuhan Ani dibelakangku.