Liburan Bersama Veti 2

Saat kembali dari acara nyasar tadi kami mendapati kalau semua orang di villa kecuali sopir mini bus yang sedang ngopi di warung dekat villa sudah tidak ada. Setelah kami bertanya ternyata mereka mengadakan acara api unggun bersama rekan-rekan dari universitas lain di tempat yang tidak jauh dari sini. Mengingat mereka sudah pergi sekitar satu setengah jam kami berdua memutuskan untuk tidak menyusul. Kami lalu mandi dan mandi berdua bersama di satu kamar mandi. Aku merayu Lena agar mau walaupun dia ketakutan kalau sewaktu-waktu ada yang datang dan dia kepergok sedang mandi bersamaku. Tapi karena suasana malam itu cukup dingin ditambah dengan air yang sangat dingin, mau tak mau akhirnya Lena mau juga mandi denganku.

Bisa ditebak kalau didalam kamar mandi kami melakukan apa saja. Dengan menyandarkan tubuhnya membelakangiku dan bertumpu pada bak kamar mandi aku menghajar vaginanya lagi dari belakang. Tak urung lagi, desahan kenikmatan keluar juga dari mulut dara satu ini dan lagi-lagi kali ini aku berejakulasi didalam liang kewanitaannya. Selesai dengan bercinta, kami berdua mandi dan saling menyabuni satu sama lain. Hal ini membuat suasana dingin menjadi sedikit terlupakan.

Sekitar 20 menit sudah kami mandi dan setelah berpakaian aku beranjak keluar dari rumah tempat kamar kami berada. Aku mengajak Lena mencari makanan karena jujur saja setelah perjalanan jauh dan ditambah aktivitas tambahan tadi membuat kami benar-benar kehabisan energi.

“Permisi Bu. Disini jual nasi nggak bu?” Tanyaku ketika masuk kesebuah warung remang-remang kecil. “Waduh mboten mas (waduh tidak mas –bahasa Jawa/red.). Sing sade ten cedhak-cedhak mriku (yang jual didekat-dekat sana –bahasa Jawa/red.).” kata wanita tua itu sambil menunjuk sebuah arah. Aku dapat melihat juga kalau sopir-sopir mini bus kami hanya minum kopi dan jahe disitu. Merka bingung juga karena mereka sudah mendapatkan jatah makan malam sementara kami belum dapat. Bahkan ada yang menawarkan untuk mengantar namun aku tolak karena aku tahu kalau mereka sejak tadi pagi sudah capek mengurusi pengantaran konsumsi dan menjemput rombongan out bond lainnya kloter kedua dari universitas lain tengah malam tadi. Ternyata sial juga aku dan Lena karena ternyata jatah makan malam sudah dibagikan sementara saat itu kami masih nyasar.

“Kita cari aja ditempat yang ditunjukkan ibu-ibu tadi. Yuk.” Ajak Lena sambil menggandeng tanganku. Aku senang-senang saja kalau ada teman ceweknya.

Begitu sampai di tempat yang dituju giliran kami bingung lagi karena ada persimpangan disitu. Dimana letak warungnya kami juga tidak tahu. “Kita lewat jalan ini saja. Lebih meyakinkan, toh disana ada jajaran rumah banyak. Pasti ada warung makannya.” Ajak Lena. Gadis ini sepertinya selalu positive thinking saja.

Sampai juga akhirnya kami disebuah kumpulan bangunan disitu. Terlihat beberapa warung buka dan diserbu beberapa wisatawan yang berkunjung di villa-villa dekat sini. Usai makan kami berdua bergegas kembali ke villa dengan harapan yang lain belum pulang sehingga kami bisa mengulang percintaan untuk ketiga kalinya. Setidaknya itulah harapanku, entah dengan Lena.

Didekat villa kami terdapat jajaran villa-villa lain yang kebetulan beberapa ada yang kosong. Lena mengajakku untuk melihat-lihat villa yang ada didekat situ dan karena dia setengah memaksa aku akhirnya bersedia juga tentu saja dalam pemikiranku, bercinta ditempat baru akan lebih menegangkan rasanya.

Kami memasuki pekarangan villa yang terdiri dari dua bangunan besar bertingkat dua dan satu gudang berupa bangunan kecil dibagian belakang kompleks villa. Villa ini disewa oleh rombongan mahasiswa dari kota Solo. Ternyata mereka sedang keluar semua entah kemana karena aku tahu kalau mereka bukan anggota peserta out bound. Saat aku dan Lena akan pergi dari lokasi, kami mendengar suara-suara aneh dan memutuskan untuk melihat dari mana suara itu berasal.

Betapa terkejutnya kami ketika kami tiba, terlihat sepasang muda-mudi sedang bermesraan dan saling meraba. Yang membuat aku kaget adalah mereka mahasiswa dari universitas yang mengedepankan agama sebagai simbolnya tetapi malah melakukan hubungan terlarang ditempat sepi seperti ini. Muda-mudi ini sepertinya tidak menyadari kehadiran kami yang bersembunyi di dekat mereka.
Karena aku tidak tahu nama mereka berdua maka kita anggap saja nama mereka Budi dan Ani (nama paling pasaran di Indonesia, ingat khan pelajaran bahasa Indonesia waktu SD, nama kedua orang ini selalu dijadikan contoh dalam merangkai kosa kata).

Budi cowok bertubuh agak tinggi tapi kurus dengan jenggot sedikit menempel pada dagunya, sementara Ani kulitnya putih dan jujur saja dia cukup cantik jika dibandingkan dengan Veti, namun tetap kalah jika bersanding dengan pacarku. Aku tidak mengetahui rambutnya panjang atau pendek karena tertutup kerudung rapat. Yang aku perhatikan adalah bagaimana tangan si Budi menggerayangi buah dada Ani yang sudah keluar dari kurungan bra nya dengan kancing baju sudah separuh terbuka. Tidak puas dengan itu saja, Budi lalu menyibakkan rok panjang Ani sembari menciumi bibir pacarnya itu (mungkin pacarnya, mungkin juga tidak…but who care). Lepas sudah celana dalam sang gadis yang bewarna kuning muda itu sementara tangan sang gadis secara inisiatif meraba selangkangan Budi yang masih tertutup celana panjang. Lalu dengan sigap diplorotkan celana panjang kolor tersebut sampai jatuh ketanah sekalian dengan celana dalamnya sehingga batang kemaluannya menggantung bebas.

“Hebat juga cewek ini. Pengalamannya tinggi.” Kataku dalam hati dan nampaknya Lena juga berpikiran sama denganku. Tubuhnya mulai memanas akibat menonton live show percintaan sepasang remaja ini.

Buah dada Ani yang ukurannya sekitar 34B itu mendapatkan servis dari tangan Budi sementara tangan lainnya menusuk-nusuk vagina sang gadis. Terang saja aku sudah tahu benar kalau gadis ini sudah tidak perawan lagi karena tidak merasa sakit dan malah menikmati tusukan-tusukan kecil dari tangan Budi yang mendarat di bibir kemaluannya. “Akhh…lagi…agak cepet dong say…” Ucap sang gadis sembari dirinya juga mempercepat kocokan tangannya ke penis Budi hingga membuat penis tersebut menjadi basah karena cairan pelumas yang keluar dari ujungnya.

Saat sedang asyik-asyiknya mereka melakukan foreplay, tiba-tiba terdengar suara gaduh. Kedua sejoli ini kaget bukan kepalang karena dari balik pintu utama ruangan itu muncul tiga orang pemuda. Sepertinya mereka bukan mahasiswa melainkan penduduk lokal atau pendatang (aku tak begitu bisa memastikan).

Yang jelas mereka bertiga berusia sekitar 40an tahun dengan tubuh gempal dan seseorang diantaranya ber tato sangar. Suara mereka menggelegar memenuhi ruangan. “Bangsat! Mau apa kalian malam-malam begini malah kenthu (bercinta –bahasa Jawa/red.). Malu-maluin aja pake kerudung kok kelakuan bejat.” Umpat salah seorang dari mereka yang berpakaian serba hitam dengan tutup kepala khas daerah pegunungan, sebut saja dia si Item (kok jadi kaya nama hamster gua).

Budi langsung tergagap dan juga Ani bergegas merapikan pakaian mereka namun langsung dicergah oleh si pria bertato, sebut saja namanya Tato (simple khan). “Enak aja langsung mau kabur.” Bentak Tato kepada mereka. Mereka berdua panik dan memohon ampun kepada ketiga bapak-bapak ini dengan harapan mereka dilepaskan karena celana dalam dan bra milik Ani sudah jatuh ketangan Tato.

Sementara celana panjang dan celana dalam milik Budi sudah ditendang jauh oleh seorang yang bertubuh paling kekar, sebut saja Kingkong (maaf kalau namanya asal, soalnya di diary juga tidak disebut nama and saya sendiri tidak ada niat sama sekali untuk berkenalan dengan monster-monster ini).
Melihat situasi yang tidak menguntungkan ini aku segera mengajak Lena untuk pergi menjauh agar tidak terlibat permasalahan, karena walaupun aku sudah punya peringkat sabuk di taekwondo tapi kalau disuruh melawan 3 monyet segede mereka juga nggak bakalan menang. Kecuali kalau ada keajaiban terjadi.

Namun sepertinya Lena enggan pergi dari tempat kami mengintip diluar ruangan. Dia malah terlihat asyik menikmatinya.

Sekarang terdengar suara keras yang diiringi dengan aduhan dan erangan laki-laki. Budi terkena bogem mentah beberapa kali dari si Kingkong. Bisa dipastikan mukanya bakalan memar berat dihajar orang yang kepalan tangannya tiga kali lebih besar dari kepalan tangannya sendiri. Ani berusaha melindungi kekasihnya namun langsung ditangkap oleh si Tato. “Sebenarnya kita-kita kesini cuman mau cari udara segar, eh taunya dapat hal ginian.” Ucapnya sembari mendenguskan nafasnya di tengkuk Ani. Ani menggigil ketakutan begitu sadar apa yang dimaui oleh ketiga orang ini. Belum sempat dia berpikir lagi, baju lengan panjangnya langsung terbuka secara paksa dari belakang hingga beberapa kancing bajunya tanggal. Begitu baju Ani copot, Tato langsung membuangnya jauh-jauh dan merengut kerudung gadis ini, “Kamu nggak perlu pakai ginian. Nggak pantes dengan kelakuan bejat kamu.” Umpat si Tato sembari membuang kerudung tersebut.

Sesaat aku ingin pergi dan melaporkan kejadian ini kepada orang-orang. Namun orang terdekat dari lokasi kami berdiri sekarang adalah di warung tempat kami bertanya arah kepada ibu-ibu tadi dan itu sangatlah jauh sementara begitu bantuan sampai juga belum tentu ketiga monyet ini da disini. Dan jika mereka lolos tentunya kami berdua yang bakalan kena bulan-bulanan oleh mereka. “Kalau kamu berani teriak bakalan aku bunuh. Kalau kamu lapor, juga aku bunuh kalian berdua.” Bentak si Tato kepada Budi dan Ani. Genap sudah hambatan untuk melapor. Lena sendiri malah menikmati dengan khusyuk kejadian ini, membuatku semakin heran saja terhadap kelakuan gadis ini.
Singkatnya, Budi didudukkan dilantai bersandarkan dinding sembari melihat pacarnya, Ani dikerjai oleh dua pria sementara dirinya tak bisa berkutik karena lehernya ditekan oleh telapak kaki si Kingkong.

Ani dibuat berdiri setengah telungkup, badannya dicondongkan kearah meja kecil dan dibuat bersandar disana sementara dari belakang roknya disibak oleh si Item sementara kedua payudaranya yang menempel meja dipermainkan oleh Tato yang juga menciumi paksa bibir gadis manis ini. “Ampun pak…ampun…” rintih Ani ketakutan. Tato balas membentak, “Tadi waktu kamu kenthu (bercinta –bahasa Jawa/red.) dengan pacarmu apa juga mikir kayak gini hah!!! Udah kamu diem aja dari pada aku gorok ntar lehermu.” Seru Tato sambil menjulurkan parang yang dia pakai. Melihat kilatan cahaya yang terpantul di bilah parang tersebut membuat Ani tak berani membantah atau melawan lagi. Begitu juga ketika kedua bongkahan pantatnya dibuka secara kasar oleh si Item dan merasakan bahwa bibir vaginanya sedang digesek-gesek oleh penis lawan jenisnya kala itu.

“Jangan pak…” Rengek Ani namun langsung terdiam ketika parang tersebut diarahkan ke depan wajahnya yang menengadah. Ketakutan membuat tubuh Ani yang menggigil menjadi semakin menggigil lagi.

“Akhhh…seret tempek (vagina –bahasa Jawa/red.) cewek satu ini. Enak…” Racau si Item ketika batang kejantanannya yang panjang hitam berurat itu menerobos liang senggama Ani, menyibak rangkaian bulu-bulu kemaluan yang lembut nan jarang itu. Terlihat bibir vagina yang bewarna merah tersebut sedikit ikut melesak masuk ketika penis hitam si Item menerobok masuk kedalam liang kemaluannya.

“Akhh…aduh…sakit…” seru Ani namun tak dihiraukan oleh si Item, malah mereka bertiga semakin bersemangat memperolok Ani dengan kata-kata yang tak jelas.

Tubuh Ani berguncang-guncang diatas meja kecil dari kayu itu akibat sodokan-sodokan dari penis si Item yang menjarah liang kewanitaan miliknya. “Akhh…akh…akhhh…ampun…udah mas…udah…” Pinta Ani dengan memelas namun membuat si Item malah menjadi dan mempercepat sodokan penisnya kedalam vagina gadis ini. Aku bisa membayangkan kalau Ani sedang menderita kala itu, mengingatkan ku saat pertama kali kekasihku yang kebetulan bernama Ani juga (Anyssa) pernah aku kerjai dengan cara sekasar itu dan mengeluh kesakitan selama 2 hari.

Tato mendekati Ani dan memerintahkan Ani untuk mengoral penisnya yang sudah basah oleh cairan pelumas, nampaknya pria ini juga sangat terangsang melihat perlakuan temannya itu kepada sang gadis.

Ani menolak namun apa daya karena parang sudah diarahkan lagi kewajahnya membuat dia harus membuka mulutnya mau tak mau, “Nah gitu…sedot yang keras. Awas kalau aku nggak puas, aku bunuh kamu sama pacarmu.”

Dengan vagina masih dipompa secara brutal, kini mulut Ani pun sudah tak bisa merintih atau mengaduh lagi karena sudah disumpal oleh penis Tato yang cukup gede jika dibandingkan dengan milik si Item, mungkin seukuran dengan milikku. Selang beberapa menit, si Item mempercepat gerakan sodokannya dan mencabut penisnya lalu mengarahkannya kepunggung Ani yang putih mulus itu. Cairan sperma langsung memancar bebas membasahi punggung gadis itu yang putih mulus. Belum sempat Ani mengistirahatkan vaginanya yang sudah memerah itu Tato langsung mengambil posisi dan tanpa aba-aba lagi dia melesakkan penisnya masuk kedalam vagina sang gadis.

“Akhh….sakittt…akhh…ampun…sudah mas…sakit…akhhh…” Namun rintihan sang gadis tak membuat

Tato diam malah semakin menjadi. Sodokan-sodokannya lebih brutal lagi dibandingkan dengan si Item. Kontan saja penis yang lebih besar membuat Ani meronta tak karuan berusaha melepaskan diri sementara si Kingkong datang mendekat dan menyumpalkan penisnya yang ternyata lebih kecil dari milik si Item kedalam mulut Ani hingga dia nyaris tersedak. “Ayo emut! Awas kalau sampe kegigit, aku potong ntar putingmu. Ngerti!” bentaknya dan meluncurlah penisnya kedalam vagina gadis malang ini.

Batang kejantanan Tato nampak memenuhi liang kewanitaan Ani. Bibir vaginanya seolah ikut keluar masuk tiap kali Tato melesakkan dan menarik penisnya dari liang vagina Ani. Sekitar lima menit kemudian Tato mengeluarkan seluruh spermanya didalam liang kemaluan gadis ini. Air mata Ani nampak sudah habis dan mengering karena sedari awal dia sudah menangis. Dengan sesenggukan dia terduduk lemas dilantai meraba vaginanya yang sudah dijarah dua pria bergiliran. Cairan putih lengket keluar dari dalam liang kemaluan gadis ini dan mengalir membasahi lantai beserta dengan beberapa bercak darah, sepertinya dia mengalami pendarahan.

Sekarang si Kingkong mengubah posisinya. Kedua kaki Ani di angkatnya tinggi-tinggi berhadapan dengannya dengan posisi tubuh bersandar pada dada pria ini. Dibukanya paha sang gadis dan dengan cepat dia menghunjamkan penisnya yang menegang sedari tadi kedalam liang senggama Ani yang masih meneteskan sperma si Tato dengan posisi berdiri.

Sekarang si Kingkong menyetubuhi Ani dengan berjalan mengelilingi ruangan sambil membopong tubuh mungil Ani. Kedua temannya hanya tertawa terbahak bahak melihat perlakuan temannya itu kepada Ani. Beberapa kali si Kingkong menghentikan langkahnya dan memperlihatkan vagina Ani yang sedang diaduk-aduk oleh penisnya dihadapan Budi, pacarnya. Tato dan Item tambah tertawa lagi melihat tingkah Budi yang memalingkan wajahnya namun sesekali melirik kearah vagina pacarnya yang sedang dijarah pria lain.

Setelah lebih dari 15 menit akhirnya si Kingkong mengejang dan memuntahkan sperma dari batang penisnya kedalam vagina Ani yang sudah mulai memar akibat perlakuan ketiga pria ini. Puas dengan ini semua akhirnya ketiga pria ini bergegas pergi setelah mengambil beberapa barang berharga seperti handphone dan kamera dari tangan kedua orang ini setelah menggeledah tas-tas mahasiswa lain tapi tak menemukan apapun. Aku dan Lena juga langsung kabur dari situ.

Nampaknya kejadian ini dirahasiakan oleh Budi dan Ani karena aku tak melihat adanya kegaduhan atau polisi mendatangi villa mereka di hari-hari berikutnya. Mungkin mereka malu kalau sampai kejadian ini tersebar keluar mengingat universitas mereka cukup terkenal sehingga sudah pasti kedua orang itu akan dikeluarkan jika terbukti bermesum ria karena mencemarkan nama kampus mereka.

Fact:
Ketiga pemerkosa itu kemungkinan besar adalah pekerja bangunan dan bukan penduduk lokal karena disekitar tempat itu ada dua villa dan satu rumah sedang direnovasi. Sampai sekarang aku tidak penah melihat kedua sejoli itu lagi bahkan ketika aku mengunjungi kampus mereka karena kebetulan teman SMU ku ada yang kuliah disana. Mungkin mereka sudah pindah atau …..(whatever lah).