Sex Data: Zara

Kisah ini berlangsung sekitar satu setengah bulan setelah Zara, mantan kekasih Jo yang dulu teman kost ku aku tiduri. Kami bertemu secara tidak sengaja disebuah mall yang cukup besar di kawasan Malioboro street (street? Plz dech)….OK jalan Malioboro.

Pertemuan itu dilanjukan dengan makan siang berdua karena kedua teman belanja Zara mohon diri, sepertinya mereka mahfum benar kalau Zara dan aku sedang ingin berdua. Sembari menyantap paket hemat di McD kami bercerita mengenai kehidupan maing-masing selama satu setengah bulan terakhir ini.

Zara menceritakan kalau setelah dia tidur denganku, Jo mengamuk tak karuan di kostnya sehingga membuat Zara malu karena semua temannya menjadi tahu kalau Zara tidur dengan pria lain bukan Jo walaupun mereka tidak tahu duduk persoalan yang sebenarnya sehingga Zara yang sebelumnya dikenal alim menjadi mendapatkan predikat baru dikostnya yaitu sebagai cewek yang bisa ditiduri.
Setelah putus dengan Jo akibat insiden tersebut, Zara sekarang lebih sering berkumpul dengan teman-temannya dan belum memperoleh pengganti Jo walaupun ada beberapa cowok yang mulai mendekatinya, sebagian karena memang suka sejak lama tetapi sebagian karena berharap bisa meniduri gadis cantik ini.

Aku hanya dapat memberinya saran untuk berhati-hati dalam mencari cowok karena dalam hati aku juga sadar kalau aku bersalah terhadapnya namun tidak bisa melakukan apapun karena aku sudah berpacaran dengan Anyssa yang tentunya tak bakalan mau aku putuskan begitu saja.

“Hahahah….lucu juga mendengar hal itu dari mas Adi.” Katanya padaku sembari meminum Coke-nya. Aku hanya nyengir saja karena sindiran itu memang pantas diberikan padaku, “Iya…iya. Kalau aku belum pacaran pasti kamu sudah aku pacarin Za.” Kataku menghiburnya.

“Sapa juga yang nolak dapat cewek secantik kamu. Kayak dapat durian runtuh.” Sahutku lagi dan langsung ditukas oleh Zara, “Sakit dong dapat durian runtuh. Kena kepala benjol..hehehe…” candanya. Sepertinya kekhawatiranku tidak begitu pas karena pada kenyataannya Zara dapat bercanda bebas denganku dan sudah dapat menerima hal terjadi pada dirinya.

Semua obrolan itu yang sebelumnya hanya ringan mendadak menjadi sangat berat ketika sebuah kalimat keluar dari mulut Zara, “Kalau aku mau yang kaya dulu lagi, mas Adi mau nggak?” tanyanya padaku. Tentu saja yang dia maksud adalah bercinta denganku.

Aku hanya bisa bengong saja mendengar kata-kata itu keluar dari bibir seksi gadis cantik ini. “Tentu saja aku mau. Gila aja kalau nolak cewek secantik kamu.” Sahutku mengatasi kegugupan.

Zara setuju untuk check in disebuah hotel melati yang biasa digunakan pasangan muda untuk quicky atau sex after lunch. Setelah mendapat kamar kami bergegas masuk. Seperti tak ada hari esok lagi kau segera melucuti seluruh pakaian Zara. Payudara ukuran 34A miliknya terasa menjadi semakin besar saja bagiku. Sementara dia juga tak kalah agresif mencopoti seluruh pakaianku hingga kami berdua bugil total.

Nampaknya aku tak dapat menutupi nafsuku yang sudah menusuk-nusuk. Zara dengan jelas dapat melihat batang kejantananku udah tegang ereksi penuh. Sesaat dia terbelalak bahwa ukuran penisku ternyata sangat besar dan penis inilah yang telah memerawani dirinya. Ada sebersit keraguan dimatanya dan aku bisa dengan jelas melihat itu.

“Jangan khawatir say. Sakitnya kalau pas kamu diperawanin aja kok. Sekarang udah ga bakalan sakit, aku juga bakalan pelan-pelan biar kamu menikmatinya.” Ucapku padanya sembari membelai rambutnya yang sekarang sudah dicat warna biru dan oranye. Sebuah kecupan manis hinggap dibibirnya dan tanpa menungg aba-aba lagi, Zara langsung menyambut ciuman itu dengan pagutan bibirnya yang seksi dan kamipun berciuman dengan mesranya.

Zara mulai rebah ditempat tidur dan tanpa pikir panjang lagi aku langsung menindihnya melihat vaginanya sudah basah kuyup akibat ciuman mesranya tadi maka aku langsung mempersiapkan penetrasiku. Sembari menggesek-gesekkan penisku yang ternyata masih susah menembus vagina sempit miliknya, aku membombardir bibir, leher, payudara dan putingnya dengan ciuman dan jilatan.

“Akhh…mas Adi…aku ngerasa terbakar mas…akhhh..” Desah Zara saat payudaranya beserta putingnya aku pilin, remas dan hisap dengan sesekali lidahku menyapu pelan ujung putingnya dengan gerakan melingkar. Mata Zara kontan saja menjadi sayup karena menahan gejolak nafsu yang terpendam selama ini. Tanpa dia sadari kedua tangannya merangkul pantatku dan seolah mendoong pantatku masuk semakin mendekat dengannya dan itu jelas membuat batang penisku yang ready didepan bibir vagina gadis ini menjadi menusuk masuk kedalam liang vaginanya. Sedikit demi sedikit namun pasti, bibir vagina Zara terbelah terbuka saat dilewati kepala penisku. Hingga separuh tenggelam didalamnya.

“Akhhh…mas Adi…ohhh…udah masuk mas? Vaginaku panas mas…akhhh..” Zara meracau lagi tak karuan kali ini tubuhnya menggelinjang hebat lalu menegang sembari tangan dan kakinya merangkul erat tubuhku. Luar biasa, pikirku. Zara telah mencapai orgasmenya hanya dengan cara seperti ini. Ternyata klitoris gadis ini super sensitif hingga mudah terangsang saat bergesekan dengan penisku ini.

Aku merasakan adanya cairan hangat membasahi kepala penisku yang sebagian sudah tenggelam didalam liang kemalaun gadis ini. “Dah keluar yah say?” Kataku sambil meneruskan penetrasiku dan akhirnya kepala penisku berhasil mendobrak masuk sementara pangkalnya masih tertinggal diluar karena otot vagina Zara kembali menegang, sepertinya dia masih merasakan sisa sensasi orgasme pertamanya tadi. “Aku masukin lebih dalam ya say?”

Zara hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaanku barusan. Dan dalam beberapa hentakan cepat akhirnya seluruh batang kemaluanku berhasil masuk secara sempurna kedalam liang senggama gadis ini. “Akhh…mas…akhhh…” Desah Zara ketika liang kemaluannya kembali dijarah batang kejantananku untuk kedua kalinya. Bedanya kali ini dia sudah mulai bisa menikmati. “Sudah masuk?” tanyanya sembari meremas-remas pantatku.

Aku tersenyum kepadanya, “Sudah sayang. Bagaimana rasanya?” ucapku sembari meremas-remas payudaranya yang seksi itu. Putting susunya sudah mengeras dan membesar dari ukuran normalnya dan buah dadanya yang putih itu sudah mulai memerah karena terangsang dan bukan hanya buah dadanya saja melainkan perut, leher, muka dan hampir seluruh bagian tubuhnya.

“Enak. Nggak seperti yang pertama, sakit. Terasa penuh mas.” Lanjutnya lagi sembari menggoyangkan pantatnya perlahan. Aku tahu benar mau dari gadis ini dan akan segera aku penuhi. “Sekarang kamu akan kubuat menjadi wanita dewasa Za.” Kataku sembari mulai memaju mundurkan penisku yang sudah terbenam seluruhnya didalam vagina gadis ini.

Sembari mengangkat kedua tungkai kakinya dan menumpangkannya dikedua pundakku, aku menindih tubuhnya lebih erat lagi sehingga buah dadanya dapat bersentuhan denganku begitu juga dengan putingnya bergesekan dengan milikku. Zara tambah menggelinjang tak karuan mendapatkan perlakuan semacam ini. Entah berapa kali dia mendesah tak karuan sembari menyebut namaku berulang-ulang.

Lima menit sudah kira-kira aku mengerjainya dengan posisi seperti ini sehingga sekarang vaginanya sudah mulai terbiasa dengan sodokan dengan gaya ini. Aku lalu memindahkan tungkai kaki kanannya agar bertumpu di pundak kananku sehingga kedua kaki tersebut sekarang berada dipundak kananku. Dengan demikian maka bibir vagina Zara menjadi menyempit karena kedua kakinya otomatis menjadi lebih mengatup dibandingkan yang tadi dan itu membuat vaginanya menjadi semakin seret saja.

Kenikmatan yang lebih aku dapatkan darinya. “Memekmu benar-benar nikmat Za. Sempit dan peret.” Kataku padanya dan muka Zara bertambah merah karena malu mendengar kata-kataku. “Kamu suka ma kontolku nggak? Mau di entotin lebih keras?” tanyaku padanya lagi setelah aku kerjai dia dengan posisi ini selama lima menitan dan sengaja aku menggunakan kata-kata jorok untuk melihat reaksinya.
Zara memerah mukanya dan tangannya membelai wajah dan dadaku, “Zara suka dientotin ma mas Adi. Suka ma kontolnya mas Adi juga.” Sahutnya sembari memalingkan pandangannya kearah vaginanya yang sedang aku jarah habis-habisan. Aku tahu dalam hati dia malu berkata jorok semacam itu namun dia sudah tak peduli lagi karena nafsunya sudah setinggi langit.

“Boleh dong aku entotin kamu lebih keras.” Aku mulai memancingnya dengan tetap memberikan stimuli ke kedua buah dadanya. Zara membuka mulutnya dan mendesah lagi, “Akhh…terus mas…akhhh…boleh diapain juga…akhhh…” Zara nampaknya sudah tak peduli lagi dengan imagenya selama ini dan berubah menjadi binal sebinal-binalnya.

“Boleh diapain sayang? Apanya yang diterusin sayang…?” Godaku kepada Zara. Gadis ini mencengkeram sprei tempat tidur itu hingga acak-acakan dan kusut. “Entotin Zara mas. Entotin Zara sampai mas Adi puas…akhh…achhh….ochhh…masukin kontolnya mas Adi kedalam memeknya Zara mas…terus…keras juga ga..akhhh….apa..akkhh…apa…” Sahut Zara terbata-bata menahan sensasi kenikmatan ketika sodokan penisku menyentuh rahimnya dan dipercepat pompaannya.

Kali ini aku menggunakan gaya doggy style dimana Zara dalam posisi merangkak dan vaginanya aku hajar dari belakang. Sembari memilin-milin puting susunya dari belakang dan meremas payudaranya aku mempercepat sodokanku dan semakin lama semakin brutal saja. Aku menunggu protes dari Zara namun tak kunjung keluar malahan sepertinya dia menikmatinya bahkan sempat mencapai orgasme dengan posisi ini. “Mas. Zara keluar…entotin lagi mas…” Serunya kepadaku.

Beberapa detik setelah orgasme Zara selesai langsng tubuhnya aku balik dengan posisi terlentang menyamping dengan kaki kiri terangkat dan ditumpangkan dibahuku. Tentu saja penisku tetap bersangkar didalam liang vaginanya ketika dia aku balik posisi. Dengan posisi ini aku menyodokkan penisku denan posisi kaki menyilang seperti gunting. Dengan mencengkeram paha atas kaki kirinya aku lalu melesakkan penisku dengan sedalam-dalamnya sehingga kembali menyentuh dinding rahimnya.
“Akhhh…mas Adi…akhh…sakit…” Nampaknya vagina Zara belum dapat menerima sodokan penis dalam posisi ini namun aku tetap tak memberinya ampun lagipula nanti dia juga bakalan menikmatinya cepat atau lambat.

Aku menciumi bibirnya dan meremas payudaranya yang sudah berbasuh keringat. Batang kejantananku terasa berkedut dan serasa ada yang akan keluar dari dalam penisku. Aku memberikan Zara ciuman dalam-dalam sambil meremas kedua payudara gadis ini. Sementara Zara hanya terpejam sembari membalas ciuman bibirku. Lalu disertai dengan sebuah sodokan keras dan dalam, aku mendiamkan batang kejantananku didalam lubang kemaluan gadis ini dan menyemprotkan spermaku didalam dinding rahimnya.

Aku diamkan penisku didalam vagina gadis ini sembari terus menciumi bibirnya dan memainkan putingnya. Penis yang mulai mengecil itu aku tarik keluar bersamaan dengan mengalirnya cairan putih kental dari bibir vagina gadis ini membasahi sprei tempat tidur juga bercampur dengan darah segar. Ternyata masih ada sisa selaput dara yang belum robek waktu dia kehilangan keperawanannya denganku tempo hari.

“Kamu benar-benar hebat Za. Sekarang kamu sudah menjadi wanita dewasa.” Kataku sambil membelai rambutnya. Sementara Zara hanya berbaring disamping dengan kepala bersandar diatas dadaku. “Zara senang sekali hari ini mas. Mas Adi mau khan ngelakuin ini lagi ama Zara?” tanyanya padaku sambil tangannya memainkan batang kemaluanku yang sudah menegang lagi.

“Tentu Zara. Tapi kasih aku yang satu itu dulu dong.” Kataku sambil mendorong lembut kepalanya kearah penisku yang sudah ereksi. Zara tahu benar apa mauku dan mulutnya membuka lalu memasukkan batang kemaluanku yang sudah tegang lagi dan masih belepotan sperma plus percikan darah itu kedalam mulutnya. Oral seks dari Zara memang luar biasa, ditambah dengan permainan tangannya yang sudah ahli dan lidahnya tiap kali menyapu ujung penisku membuatku menjadi panas dingin. Hanya membutuhkan waktu kurang dari sepuluh menit bagiku untuk mengeluarkan sperma kloter keduaku. Cairan putih kental itu menyembur didalam mulut Zara dan langsung ditelannya cepat-cepat. Lalu dengan telaten dia bersihkan batang kemaluanku yang sudah mulai melemas dengan jilatan dan hisapan sehingga bersih dari sperma dan berkilat karena ludahnya.

Usai dengan permainan ini aku berkata kepada Zara kalau kapanpun dia mau bercinta denganku, aku akan selalu menunggunya dan siap untuk melayaninya. Saat aku akan keluar dari kamar hotel bersamanya, Zara sempat menyelipkan tangannya masuk kedalam celana panjangku dan menyentuh penisku sehingga kembali tegang lalu dengan tertawa kecil dia berlari meninggalkanku kedalam sebuah taksi dan berlalu. “Sialan! Udah mau pulang pake acara bikin konak lagi.” Kataku dalam hati melihat tingkah laku Zara.