Sex Data: Lina

Sekitar 4 hari setelah aku bercinta dengan Lena pada saat acara out bond dari kampus, aku kembali bertemu dengan Lina saat dia kostku. Bagi yang sudah lupa, Lina adalah adik kekasihku yang pernah aku tiduri juga.

Dia datang sembari membawa kue yang dia buat sendiri dari rumah. Dia berkata kepada orang tuanya untuk mengunjungi kakaknya selagi dia libur Ujian Akhir. Dia berencana untuk menginap di kostku. Karena untuk tiga hari kedepan kostku sepi dan tinggal aku bersama dengan dua orang temanku (anak-anak baru yang aku belum begitu kenal) maka aku ijinkan saja dia menginap tapi hanya maksimal dua hari dan dia menyetujuinya dengan gembira.

“Kamu tujuannya nginep disini buat dapat jatah tiap saat khan? Ngaku hayo…!” Godaku padanya dan dia tertawa kecil, “Alah! Mas Adi juga suka khan ngentotin aku. Ngaku juga hayo!” balasnya padaku. Aku agak kaget setelah mendengar Lina sudah terbiasa mengeluarkan kata-kata kotor didepanku yang dulu dia tabukan.

Singkatnya, malam itu Lina datang ketempatku dan menginap dikamar kostku. Ada seorang teman kost ku yang tahu namun karena membawa cewek menginap itu sudah hal yang biasa maka dia tidak mempedulikannya lagi. Sekitar jam 9 malam ketika sehabis makan malam, aku dan Lina menonton DVD yang kami sewa waktu makan diluar tadi. Berupa film action namun tetap saja ada bumbu-bumbu seksnya. Dan begitu hal tersebut keluar maka event yang kutunggu tiba juga. Lina nampak begitu menikmati adegan hot pemain film itu sedangkan aku dari belakang tiba-tiba memeluknya erat sembari kedua tanganku meremas-remas payudaranya. Lehernyapun tak luput dari ciumanku begitu pula dengan bibirnya kala dia menengok kebelakang.

“Hayo, sekarang sapa yang minta jatah?” Godanya padaku sambil tersenyum manis. Senyumannya benar-benar seksi membuatku bergairah tinggi sekali. Gadis ini seolah menggodaku dengan goyangan pinggang dan perutnya yang meliuk-liuk ketika aku rangkul. Cara itu berhasil membuatku menjadi semakin bernafsu saja untuk mengerjai gadis ini.

“Aduh mas Adi ini. Gak sabaran yah?” Kata Lina sambil menepiskan tanganku ketika meremas buah dadanya dari belakang. “Sabar dulu dong mas. Film nya kan belum selesai.” Protesnya kepadaku. Walau aku sudah rangsang dia habis-habisan tapi dia tetap kukuh dengan pendiriannya yaitu ingin menyelesaikan menonton film yang kami putar sekarang.

“Huh, kamu ini emang pinter bikin orang belingsatan Lin.” Kataku padanya sambil bersungut-sungut. Lina tertawa melihat kelakuanku itu, seperti anak kucing yang jatah makanannya direbut. Menanti penuh harap.

Lina lalu berbalik menghadap kearahku, “Memang sapa juga yang mulai. Kan mas Adi belingsatan gara-gara otaknya ngeres molo khan.” Sahutnya mengena di hatiku. “Hehehe…ngeres juga setelah liat kamu Lin.” Sahutku sambil mencium bibirnya.

Kali ini dia membalas ciumanku dan bisa ditebak kalau dalam hitungan menit kami sudah bergumul di kasur tanpa pakaian sehelaipun. “Akhh…mas Adi ganas amat hari ini…” Desah Lina disela-sela cumbuan bibirku ke payudaranya yang putingnya sudah mengeras mengacung kedepan. Setiap jilatanku di putingnya membuat gadis belia ini menggelinjang tak karuan. Belum lagi pusarnya yang menggairahkan tak luput dari jilatan lidahku sementara kedua buah dadanya aku remas bergantian. Semakin turun jilatanku hingga akhirnya mengarah ke liang kewanitaaannya yang sudah mulai basah.

“Jangan mas! Kotor disitu.” Protes Lina namun tak aku hiraukan. “Memekmu wangi kok Lin, bersih pula. Sering kamu bersihkan pastinya.” Sahutku sambil memainkan lidahku di klitoris gadis belia ini. “Akhh…akhhh…Aku bersihkan buat mas Adi, supaya mas Adi betah sama aku…akhh…” Ternyata Lina benar-benar menyukaiku sehingga begitu memperhatikan pendapatku tentang dirinya.

Tubuh seksi dara cantik ini menggeliat, menggelinjang tak karuan tiap kali aku menggesekkan ujung lidahku di ujung klitorisnya. Desahan-desahan kenikamatan memenuhi ruangan dimana aku bersamanya sedang menanjaki puncak kenikmatan. Hanya berselang sepuluh menit kemudian, aku mengarahkan batang kejantananku kearah bibir vagina Lina yang memerah itu. Dalam beberapa kali tusukan saja akhirnya seluruh batang kejantananku berhasil menembus masuk sempurna kedalam liang kewanitaan Lina.

Aku menggoyang-goyangkan batang kemaluanku didalam liang senggamanya untuk memperluas ruang gerak penisku. Hal ini nampaknya membuat Lina menjadi setengah kesetanan. Sembari mengigit bibir bawahnya dia menggoyangkan pantatnya lebih ganas daripada goyanganku. Desahanpun keluar bertubi-tubi dari mulutnya membuat suasana saat itu menjadi semakin panas dan menggairahkan. Jemari lentik tangannya mencengkeram erat bahuku yang saat itu menindih tubuhnya hingga beberapa kali seolah mencakar kulitku sehingga memerah.

Melihat goyangan Lina semakin hot saja, aku mengubah gerakanku menjadi maju mundur dengan intensitas yang cepat sehingga membuat kedua kemaluan kami bergerak dalam dua fase gerakan sekalihus, maju mundur dengan memutar. Mungkin karena gerakan baru inilah, Lina menjadi sangat bernafsu daripada biasanya. Diapun mencapai orgasme dalam sepuluh menit kedepan walaupun kami tidak berganti gaya dan hanya menggunakan gaya mercenary.

Puas dengan goyangannya dan tusukan penisku, Lina lalu mengeluarkan penisku dari sangkar madu miliknya. Terang saja aku protes berat karena aku belum mencapai orgasme. Namun setelah Lina membuka mulutnya dan mengulum habis-habisan penisku yang sudah belepotan cairan kewanitaan plus cairan orgasme miliknya, aku menjadi terdiam dan menikmati. Ternyata dia sudah lebih baik dalam hal tehnik mengoral, yang nantinya dia memberitahuku kalau selama ini dia berlatih dengan menggunakan mentimun. Luar biasa, itulah yang aku rasakan ketika ujung penisku dijilatinya saat seluruh penisku masih berada didalam mulutnya. Serasa tersetrum rasanya. Belum lagi ulah kedua tangannya yang mempermainkan kedua buah pelirku. Rasanya ingin meledakkan nafsuku dimulutnya. Dan benar saja, dalam beberapa menit aku langsung berejakulasi didalam mulutnya. “Lin, aku keluar…akhhhh…”

Desahku diiringi cairan putih kental nan hangat keluar dari penisku dan menyemprot, membasahi rongga mulutnya yang seksi itu. Lina lalu menjilati seluruh cairan spermaku hingga bersih dari batang kemaluanku dan menelannya. “Wow, kamu ternyata ada kemajuan. Luar biasa kamu Lin.” Kataku padanya sambil membelai lembut rambutnya yang sudah basah oleh keringat.


Lina hanya tersenyum dan menyahut, “Ini juga demi mas Adi. Khan mas Adi selama ini dah baik sama Lina. Sekarang giliran Lina yang baik ma mas Adi. Dibandingkan Mbak Anyssa, mana yang lebih baik servisnya?” Tanya Lina kepadaku. Aku tersenyum dan menjawab, “Tentu saja kamu Lin.” Lalu dia pun tersenyum kecil sepertinya senang dengan jawabanku yang memang sudah dia nantikan dari tadi. Lalu kami melepaskan hari itu dengan tidur berangkulan tanpa menghiraukan lanjutan film yang kami tonton barusan, setidaknya sekitar 3 sampai 4 jam kami tidur dalam keheningan berselimutkan kepuasan