Pembantu yang beruntung

Ada sebuah keluarga, boleh dibilang keluarga yang sempurna, karena selain kaya juga penampilannya menarik. Di dalam keluarga ada 2 anak kembar yang namanya Sinta dan Santi umur mereka berdua 18 tahun, keduanya sangat cantik dan juga kulit mereka putih mulus, tidak heran karena mereka memiliki ayah yang tampan dan juga ibu yang cantik, dan juga selain cantik, badan mereka sexy dengan ukuran dada keduanya sama yaitu 36C karena dari sejak kecil, ibunya memberitahukan kepada mereka agar selalu merawat tubuh. Keluarga mereka adalah keluarga bebas, jadi dari mereka kecil, mereka sudah diberikan pelajaran sex oleh ibunya dan mereka selalu mempraktekkannya pada ayahnya, tapi ayahnya tidak pernah mengambil keperawanan anaknya. Sinta dan Santi selalu berprestasi sejak dari SD hingga SMA. Bagi mereka, sex itu sudah biasa dilakukan, jadi laki-laki mana saja yang pacaran dengan mereka pasti setidaknya sudah sekali melakukan sex dengan mereka. Dan di sekolah mereka, mereka mengizinkan siapa saja yang ingin meraba-meraba mereka karena mereka sudah terbiasa, bahkan guru-guru baik yang masih muda ataupun yang sudah tua pernah melakukan sex dengan keduanya, bahkan karyawan-karyawan di sekolah mereka pernah juga, mereka selalu minta agar sperma mereka dikeluarkan di dalam rahimnya karena mereka merasa hangat jika dikeluarkan dalam rahimnya, tapi mereka selalu minta untuk dikeluarkan ke dalam lubang anusnya jika mereka sedang dalam masa subur. (kepanjangan ya latar belakangnya….. maaapphh yaaa ….)

Kejadian ini terjadi ketika mereka sedang libur setelah ujian. Pada suatu hari, ayah dan ibunya berkata bahwa mereka akan pergi karena ada urusan selama 4 bulan, tak disangka keesokan harinya terdengar berita bahwa pesawat yang ditumpangi ayah dan ibunya mengalami kecelakaan dan nama kedua orang tua mereka ada di dalam daftar orang yang meninggal, mereka sedih sekali, sekarang di rumah itu hanya tinggal mereka berdua dan para pembantunya. Setelah beberapa bulan akhirnya mereka bisa melupakan kesedihan mereka dan mereka sudah mulai kuliah. Pada sore hari Sinta pulang lebih cepat daripada Santi karena dia merasa sangat lelah. Setelah sampai di rumah, dia langsung merebahkan tubuhnya di kasurnya dan tertidur. Setelah beberapa jam dia bangun dan menuju ruang makan, dia heran kenapa Santi belum pulang, lalu dia telpon Santi dan katanya “Maaf kak, kayaknya Santi pulangnya agak malem deeh, soalnya Santi ngerjain tugas di rumah temen, gak apa-apa kan kak”, Sinta menjawab “ya udah tapi jangan malem-malem bgt yaa…” lalu Sinta menutup telponnya. Lalu dia memanggil pembantunya yang laki-laki karena pembantunya yang wanita sedang pulang kampung. Pembantunya bernama Parmin, umurnya sekitar 40an, giginya tonggos dan wajahnya jelek serta badannya kurus kerempeng, dia memegang semua kunci kamar di rumah itu karena itu dia leluasa masuk kekamar Sinta&Santi untuk mengintip mereka ketika sedang mandi. “Ada apa, non?” tanya Parmin. “Aku mau makan nee, tolong ambilin ya” jawab Sinta. Lalu Parmin mengambilkan nasi dan lauknya di dapur. Sinta pergi kekamarnya untuk ganti pakaian karena dia masih memakai baju yang dipakainya kuliah dan juga sambil menunggu makanannya disiapkan. Lalu ide gila Sinta muncul untuk menggoda si Parmin karena dia sudah 1 minggu tidak dibelai laki-laki. Lalu Sinta mengganti pakaiannya dengan hot pants yang hanya sampai 5 cm di bawah selangkangannya dan untuk atasannya dia memakai tank top berwarna putih yang sangat ketat dan tidak memakai apa-apa di dalamnya sehingga putingnya yang berwarna pink kecoklatan terlihat jelas.

Lalu Parmin berteriak “Non, makanannya udah siap”. Lalu Sinta langsung turun untuk makan dan juga ingin melihat reaksi Parmin. Parmin hanya bengong melihat Sinta memakai pakaian yang sangat seksi. Sinta hanya tersenyum ketika melihat penis berdiri di balik celananya. Setelah selesai makan, Sinta berniat melancarkan rencana selanjutnya. Sinta berpura-pura menumpahkan air minumnya dan mengenai tank top putih yang dipakainya otomatis payudaranya yang masih kencang dan indah terlihat jelas, dia melihat ke arah Parmin yang memperhatikan payudaranya dan berusaha menutupi anunya yang menegang di balik celana. Sinta hanya tertawa dalam hati, dan saatnya untuk sentuhan terakhir pikirnya. Dia pergi ke kamarnya untuk mandi, dan ketika dia mandi, dia tau kalau Parmin sedang mengintip tapi dia pura-pura tidak tau.

Setelah akan selesai, Parmin bergegas keluar agar tidak ketahuan. Sinta keluar kamar mandi hanya melilitkan handuk di tubuhnya dan memanggil Parmin untuk mengambilkan hpnya yang tertinggal di bawah, lalu Parmin mengantarkan hp Sinta dan mengantarkan ke kamarnya, dan betapa kagetnya dia melihat Sinta sedang menungging untuk mengambil sesuatu dari laci bajunya dalam keadaan telanjang, Sinta sengaja berlama-lama agar nafsu si Parmin bangkit, dan benar saja hp milik Sinta di taruh di meja dekat si Parmin dan Parmin langsung mendekati Sinta dan tanpa basa-basi lagi, Parmin menjilati vagina Sinta yang terpampang dengan jelas di hadapannya, tubuh Sinta menggeliat keenakan, Parmin menjilati vagina Sinta selama 5 menit dan akhirnya Sinta mengerang “aaakkhhhh……..Baaaanng……aaaakkuuu..,,,,,ke,,,lu,,, aaar” cairan kewanitaan Sinta mengalir deras dari dalam *****nya, Parmin langsung melahap cairan itu dengan lahap sampai berbunyi “ssllllluurrppp….”

Setelah semua cairan habis tidak tersisa dilahap oleh Parmin, Parmin menggendong Sinta yang sudah sedikit lemas ke ranjang Sinta. Setelah membaringkan Sinta di tempat tidur, Parmin berkata “aadduuhhh…,,,,non,,,,udah lama, saya ingin nyobain badan non, akhirnya kesampaian juga” Sinta hanya tersenyum ke arahnya. Dalam sekejap Parmin sudah melepaskan baju dan celananya sehingga terlihatlah badannya yang kurus dan kulitnya yang hitam, tapi Sinta tak menyangka kalau penisnya Parmin ternyata lumayan besar dan berurat. “Malam ini aku akan puas” pikir Sinta dalam hati. Lalu Parmin mendekati Sinta, Parmin mencari mulut Sinta dengan mulutnya, setelah dia menemukan mulut Sinta, dia langsung memainkan lidahnya di dalam mulut Sinta, awalnya Sinta sulit menyesuaikan diri karena nafas Parmin sangat bau dan giginya yang tonggos membuatnya sulit untuk melakukan french kiss dengannya, tapi akhirnya Sinta terbiasa dengan hal itu dan mulai membalas ciuman Parmin, sambil berciuman tangan kanannya memencet puting Sinta dan memelintirnya dan tangan kanannya mengerjai vagina Sinta, Sinta sangat keenakan dibegitukan oleh Parmin. Lalu ciuman Parmin berpindah ke payudaranya, di sela-sela “menyusu” pada Sinta, Parmin berkata “non, susu non indah dan kenceng banget, jadi pengen gigit!!” setelah berkata itu Parmin mengigiti puting Sinta, Sinta hanya membalasnya dengan erangan.

Sinta berkata “aayooo…Banng,,,masukkin dong,,,,,,udah gak tahan nihh!!!” Parmin menjawab “siiipp non,,,,!!”” Parmin mengarahkan ******nya ke lubang Sinta dan Parmin langsung menusukkan ******nya tanpa memperdulikan Sinta, sehingga Sinta kesakitan dan berkata “aaaduuhhh bang,,,, pelan-pelan dong,,,,,sakit tau!!!!” tapi kemudian rasa sakit Sinta berubah menjadi rasa nikmat karena Parmin lihai memainkan “barang”nya. Parmin berkata “nooon,,,enaakkk banget,,,,,,memek non,,,,,sempit banget!!!””

10 menit mereka melakukannya tapi tak ada tanda-tanda bahwa keduanya akan orgasme, lalu mereka berganti posisi, sehingga Sinta berada di atas, mereka melakukannya dalam posisi ini selama 15 menit, tapi keduanya belum mencapai orgasme. Mereka berganti posisi lagi menjadi doggy style, dalam posisi ini mereka melakukannya selama 10 menit, Parmin berkata “noonnn,,,,,saayyyyaa,,,,maaauuuu,,,kkeeelllluuuaa rrr…..” Sinta berkata “keellluaaariinnn,,,,,,diiiii,,,,,,daaa,,,lllaaaam mm,,,,,” tapi Parmin belum mengeluarkan spermanya, mungkin dia menahan agar Sinta juga orgasme pada saat bersamaan, 5 menit kemudian Sinta berkata “aaaaa,,,,kuuuu,,,,keee,,,lluuuuaarrrr!!!” lalu Parmin segera menyemburkan spermanya ke dalam ***** Sinta diiring dengan mengalirnya cairan cinta Sinta, lalu Parmin dengan sisa-sisa tenaganya mengangkat Sinta ke tempat tidur dan membaringkannya, lalu Parmin di sebelahnya dan menciumi payudara Sinta sambil berkata “makasih non, udah ngasih izin saya untuk make badan non”. Tidak lama kemudian ****** Parmin menegang lagi dan juga Sinta meminta lagi dan ketika mereka akan memulai kembali, tiba-tiba pintu terbuka dan ternyata Santi pulang dan melihat mereka dalam keadaan telanjang bulat, spontan Parmin kaget dan mencari-cari bajunya. Santi berkata “tenang aja bang, gak apa-apa kok, boleh gak Santi ikutan?” Parmin kaget mendengar perkataan Santi, Parmin berkata “beneran non, gak apa-apa?” Santi menjawab “iya, gak apa-apa kok, boleh gak nih ikutan?” Parmin mengangguk, Santi langsung membuka baju dan celananya, dan dalam sekejap dia sudah telanjang bulat, Santi mendekati kakaknya dan menjilati vagina kakaknya sambil berkata “aduh sayang nih, masa sperma lezat kayak gini dibuang-buang” Parmin hampir tidak percaya, kini di hadapannya ada dua orang wanita cantik dan sexy yang ingin melayaninya, kini Parmin dikeroyok dua wanita cantik sampai-sampai dia harus matian-matian menahan orgasmenya agar kedua wanita itu terpuaskan, 1 jam lamanya mereka melakukan threesome, lalu Santi berkata “baanngg,,,, keluaarin pejunya di dalam rahim aku aja,, gantian” Lalu Parmin menyemburkan pejunya di dalam rahim Santi. Setelah semuanya selesai, Sinta & Santi seperti anak kecil yang berebut es krim, mereka berdua berebut untuk menjilati penis Parmin. Parmin merasa di surga, dia diperebutkan oleh dua wanita cantik yang diidam-idamkannya. Sinta berkata “udah bang, malem ini tidur di sini aja ya” Parmin mengangguk, sebelum tidur Sinta menjilati batang penisnya Parmin sedangkan Santi mengemut-emut buah zakarnya Parmin sehingga membuat Parmin menyemprotkan spermanya untuk yang ketiga kalinya, semprotannya mengenai wajah Sinta, lalu Santi menjilati muka kakaknya sampai bersih dari sperma Parmin. Mereka berdua tidur di sebelah Parmin dalam keadaan telanjang. Sinta di sebelah kiri dan Santi di sebelah kanan Parmin, mereka berdua menjilati wajah Parmin, sehingga wajah Parmin basah karena jilatan-jilatan mereka, dan akhirnya mereka bertiga tidur dalam keadaan telanjang.

Writen by : Dina_nakal n Friends