Balada Asisten Dosen

Namanya Ayu Endah Estianti, biasa dipanggil Ayu atau Hesti. Perawakannya tinggi semampai walaupun agak kurus tetapi dia selalu enerjik dalam tiap kesempatan. Sifatnya yang periang dan enerjik inilah yang disukai oleh banyak orang sehingga pada usianya yang ke 22, dia sudah mendapatkan pekerjaan sebagai asisten dosen di sebuah universitas tempatku kuliah. Dia juga hampir selesai mengerjakan skripsinya sehingga bisa dipastikan kalau beberapa bulan lagi dia akan segera lulus dari fakultas tempatnya belajar.
Gadis putih ini berambut sebahu dan sangat modis ditiap kali penampilannya dimuka umum. Wajar kalau dikalangan asisten dosen bahkan dikalangan mahasiswa senior dia disebut icon fesyen terkini, terlebih difakultas tempat dia mengajar.

Berasal dari keluarga yang sanagt mampu karena ayahnya sendiri adalah salah satu pegawai senior di Pertamina dan kekasihnya adalah seorang pengusaha mebel asal Jepara, sebut saja namanya Roy. Sekilas kehidupannya yang serba sempurna membuat orang iri, dan terlihat begitu perfect dalam segalanya.

Namun tak ada yang namanya kehidupan sempurna. Semua yang terlihat indah itu tiba-tiba saja hancur pada suatu malam ketika aku secara tak sengaja menemukan sebuah kepingan kaset kecil disebuah toilet disebuah rumah makan di kota Salatiga. Malam itu aku bersama dengan beberapa orang teman mengunjungi salah satu teman kami yang kebetulan sedang menjalani pemeriksaan di kantor polisi karena dia ikut ditangkap saat berkunjung ke kost temannya yang kebetulan kuliah di salah satu universitas di kampus tersebut. Malang nasibnya karena berada ditempat yang salah dan diwaktu yang salah, karena pada waktu dia berkunjung ternyata di kost temannya itu ada beberapa orang yang sedang pesta narkoba sehingga dia ikut tertangkap saat penggerebekan, walaupun akhirnya nanti terbukti kalau dia tidak ikut menggunakannya dan waktu itu hanya berkunjung saja (setelah sempat meringkuk sehari di sel).

Pulang dari membesuk teman di kantor polisi kami segera pulang tapi sebelumnya mencari tempat untuk makan. Karena tidak mengetahui lokasi makan yang sesuai maka mau tak mau kami masuk juga ke rumah makan francise terkenal di kota itu. Selesai makan, sekitar jam setengah sembilan malam kami bergegas pergi dengan beriringan menggunakan sepeda motor. Sesaat sebelum pergi aku dan seorang teman pergi ke toilet untuk membasuh muka agar tidak mengantuk namun saat aku akan membasuh muka tiba-tiba pandangan mataku tertuju kepada sebuah benda kecil bewarna hitam yang tergeletak begitu saja diatas washtafel.

Aku pungut benda tersebut dan ternyata adalah sebuah kaset kecil, mulanya aku tak tahu kaset itu namun setelah diberitahu temanku aku jadi tahu sekarang kalau kaset tersebut adalah kaset video yang digunakan untuk handy cam tipe lama. Akhirnya aku menuju ke tempat parkir dengan membawa kaset misterius ini yang dalam hati aku bertanya-tanya apa yang ada didalam kaset ini, mungkin suatu hal yang menarik tapi bisa juga hanyalah kaset kosong atau rekaman tak menarik lainnya. Lantas apa hubungannya antara penemuan kaset ini dengan kehancuran kehidupan sempurna dari Ayu Endah Estianti? Kalian akan segera tahu setelah ini.

Malam berikutnya setelah aku kembali dari kampus aku teringat kalau aku mempunyai kaset miesterius yang belum terbuka yang masih berada di saku jaketku. Aku nyalakan micro projector yang aku pinjam dari Anthony, temanku. Kebetulan dalam micro projector tersebut terdapat 3 format alat perekam yang bisa masuk kedalamnya yaitu kaset kecil, CD/DVD ataupun HDD.

Sesaat yang terlihat hanyalah obrolan biasa antara ketiga pria yang salah satunya baru aku ketahui nantinya adalah kekasih dari Ayu Endah Estianti. Sepertinya pembicaraan ini berada disebuah hotel, yang sekilas aku lihat dari inisial yang tertulis di daftar menu diatas mini bar yang sempat ter spot oleh kamera adalah inisial dari sebuah hotel termewah dikota Solo.

Sekitar 10 menit pembicaraan begitu membosankan lalu tiba-tiba kamera mati dan semuanya gelap. Sedetik kemudian kamera kembali menyala kali ini dengan pemandangan yang lain lagi, yaitu pemandangan seorang perempuan muda yang sudah mabuk sempoyongan yang berusaha direbahkan oleh dua orang pria disampingnya. Sekilas aku tak percaya tetapi setelah aku pause dan kuperbesar gambarnya baru aku sadar kalau cewek tersebut adalah Ayu.

Ayu terlihat begitu mabuk hingga racauannya tak karuan, tapi paling banyak adalah makian yang keluar dari mulutnya yang ditujukan kepada kedua pria yang merebahkannya itu.

“Lepasin! Lepasin sialan kalian!” bentak Ayu ketika salah seorang dari mereka sudah berani meraba payudara Ayu yang masih terbungkus blazer warna biru itu. Teriakan itu nampaknya bukannya membuat kedua pria ini sadar malah mereka semakin menjadi dengan mempreteli seluruh baju dan blazer Ayu hingga sekarang terpampanglah payudara Ayu yang masih tertutup bra warna putih itu.
“Udah deh, mending kamu diam aja. Pacar kamu udah terlalu banyak hutang kepada kita-kita gara-gara ekspor mebelnya batal. Kita jadi tekor puluhan juta tahu buat batalin LC nya. Ini semua gara-gara pacarmu yang ga becus ngurus perusahaannya, sampe bahan baku kurang. Dasar geblek.” Serunya sambil menciumi bibir Ayu yang kini sudah tidak seliar tadi perlawanannya, mungkin karena sudah kehabisan tenaga atau bisa juga karena dia sudah mabuk berat.

“Roy udah pasrah dari pada dia masuk bui mendingan kamu yang dikorbankan…hahahaha…” salah seorang lagi dari mereka menimpali. “Anggap saja ini adalah pembayaran hutangnya kepada kami berdua.” Lalu dengan kasar dia menarik lepas rok span warna biru dari paha Ayu hingga lepas. Kini Ayu tinggal menggunakan underwear dan bra saja.

“Itu bukan salah aku. Kenapa aku yang dibeginikan? Stop…udahhh…! Kalau nggak berhenti aku bakalan teriak. Lepasss…!” bentak Ayu dengan sisa-sisa kekuatannya.

“Silakan saja kalau mau teriak. Kamar ini kedap suara dan terletak dibagian paling luar dari bangunan hotel. Kamu pikir kami nggak persiapkan semua ini hah? Teriak aja sampe puas dijamin kagak ada yang bisa denger teriakan kamu. Say cheese…” balas pria itu sambil memfoto tubuh seksi Ayu yang tinggal menggunakan dalaman.

“Tolong…! Tolonggg…!” teriak Ayu namun sepertinya kamar itu memang kedap suara sampai-sampai Ayu lemas sendiri karena kebanyakan teriak. Satu tamparan mendarat di pipi Ayu hingga meninggalkan luka sayatan kecil, karena sang penampar memakai cincin stempel di jarinya.

Jeritan berhenti berganti tangis, ketika salah satu dari mereka yang berambut agak panjang dan dikucir membetot bra dan celana dalam Ayu hingga robek dan nyaris putus. Ayu terpekik tertahan karena dalam detik berikutnya mulutnya sudah tersumbat oleh mulut salah seorangnya lagi yang berambut ala Tao Ming She. Kedua orang ini sepertinya pengusaha ekspor impor yang cukup besar dan patner bisnis dari Roy, kekasih Ayu. Ayu memang seorang gadis pribumi namun kekasihnya adalah seorang WNI keturunan sama seperti kedua pria yang menggumulinya kali ini. Ayu sendiri nampak setia kepada Roy karena disetiap penampilan mereka dimuka umum, selalu mesra. Malang bagi Ayu karena Roy ternyata hanya menganggapnya obyek belaka dan tak sega-segan mengorbankannya demi sesuatu yang menurutnya lebih berharga dari pada kekasihnya sendiri yaitu uang.

“Akh..jangan…akhhh…” Desah Ayu diantara rontaannya yang sudah melemah. Cowok berkucir itu ternyata sedang menjilati bibir vagina Ayu yang sekarang sudah mulai basah karena rangsangan tiada henti, sementara pria yang satunya lagi Teo (begitu temannya memanggilnya) langsung menstimuli payudara dan puting dari Ayu. Kontan saja Ayu yang berusaha melawanpun lama-lama juga terangsang hebat karena walaupun hatinya menolak tapi tubuhnya menginginkannya juga dan putingnya pun ikut mengeras mengacung seolah meminta lebih pada pemerkosanya. Teo sepertinya senang melihat sikap Ayu yang malu-malu mau itu lalu lidahnyapun mulai menelusuri buah dada Ayu dan tak lupa putingnyapun dia jilati lembut hingga sekarang bukan erangan yang keluar dari mulut Ayu namun lebih mirip desahan kenikmatan. Sedotan-demi sedotanpun dilakukan kedua pria ini, satu di payudara dan satunya divagina.

“Akhhh….” Jerit Ayu ketika memperoleh orgasmenya yang pertama. Kedua pria ini tersenyum puas lalu tertawa-tawa mengejek Ayu. “Ternyata doyan yah…heheheh” Ejek si kucir kepada Ayu. Wajah Ayu memerah karena malu akan dirinya yang tak dapat menyembunyikan rasa yang dia nikmati baru saja.
Si kucir lalu melepaskan seluruh bajunya dan mulai menindih Ayu. Terlihat batang kemaluannya yang bewarna putih kemerahan sudah menegang dan sudah keluar dari sarangnya, karena penisnya memang tidak di khitan. Digesek-gesekkan batang kejantanan itu di bibir vagina Ayu yang sudah memerah dan basah karena cairan cintanya. “Jangan perkosa saya…jangan…” rintih Ayu lemah sembari kakinya sesekali menendang lemah namun hal itu tidak menyurutkan niatan si kucir untuk menyetubuhinya.
“Ayu, kamu benar-benar cantik sayang. Sekarang aku bakalan jadi orang pertama yang ngentotin kamu. Akhh…Ayu…” Si kucir lalu melesakkan batang kemaluannya kedalam liang kewanitaan Ayu melewati bibir kemaluannya. Terlihat jelas dari kamera yang sekarang dibawa oleh Teo dan diarahkan ke proses penetrasi pertama itu, bibir vagina Ayu nampak terbelah saat batang penis si kucir menembusinya dan lipatan bibir kemaluannya sebagian ikut melesak kedalam seiring dengan melesaknya batang kemaluan dari sang pria.

“Akhhh…sakit…akhhh…ampun..sudah…okhhh.” Desah Ayu sambil mengejang dan tangannya mencengkeram erat sprei sementara pahanya berusaha ditarik untuk menghindari tusukan lebih dalam lagi dari si kucir. Namun tenaga si kucir nampaknya lebih besar dan apa daya bagi Ayu, dia tinggal pasrah saja ketika vaginanya ditembus oleh penis milik seorang pria yang bukan siapa-siapanya. Dalam setarikan nafas saja si kucir sudah berhasil melesakkan separuh dari batang kemaluannya kedalam liang kenikmatan milik Ayu.

Ayu mengejang karena rasa sakit yang dia derita, tubuhnya mengejang hebat dan mulutnya mulai mengeluarkan teriakan. Nampaknya si kucir sudah berhasil menembus selaput dara gadis ini. Sedetik kemudian si kucir menyodokkan penisnya lebih dalam dengan kecepatan tinggi dan sekali lagi Ayu menjerit kesakitan. Air mata mulai meleleh dipipinya. Sementara itu senyuman nampak dari bibir si kucir. Lalu pria ini melanjutkannya dengan sodokan-sodokan ringan tanpa berhenti untuk memberikan Ayu kesempatan untuk mengambil nafas lebih dulu.

Kocokan penis didalam liang vagina Ayu semakin lama semakin cepat saja. Ayu sudah tidak punya lagi kekuatan untuk melawan sehingga hanya pasrah ketika tubuhnya terguncang-guncang dengan keras menerima sodokan-sodokan dari pria yang menindihnya sekarang. Sesekali Ayu menjerit kecil ketika si kucir mencabut penisnya dan melesakkannya lagi dengan kecepatan tinggi sehingga terkadang klitoris Ayu ikut tergesek hebat. Tiap kali batang kemaluan itu keluar masuk dari liang kewanitaan Ayu, nampak cairan bening agak putih keluar bersamaan dengan darah keperawanan dari lobang kemaluan dara ini.
“Wah, enak bener nih memek cewek satu ini. Peret abis choi.” Ucap si kucir kepada temannya yang sekarang sedang membawa kamera merekam kejadian ini. Temannya hanya membalas dengan tawa. Ayu nampak terhina namun dia tidak bisa melakukan apapun lagi karena tubuhnya sudah terljur ternoda dan didalam hatinya dia tahu kalau dia juga menikmatinya walaupun tidak sepenuhnya, itu terbukti dari orgasme pertamanya tadi.

Selang lima menit kemudian, si kucir lalu mengangkat paha atas Ayu hingga tungkai kakinya dapat disandarkan diatas bahunya lalu masih dengan menindihnya, si kucir mempercepat sodokannya dan kali ini lebih brutal. Terlihat bibir kemaluan gadis ini sudah mulai keluar gelambirnya sehingga mencuat melebihi bibir luar vagina Ayu, hal ini biasanya terjadi pada gadis yang sudah sering bercinta atau sudah pernah bercinta dengan brutal. Ayu mengaduh pelan dan akhirnya menjerit ketika si kucir melakukan satu sodokan brutal kearah rahimnya dan menghentikan pompaannya ketika penisnya masih didalam vagina sang dara. Sesaat kemudian dia mengejang hebat sembari menciumi bibir Ayu dalam-dalam dia melenguh keras.

Walaupun Ayu belum pernah bercinta sebelumnya tetapi dia sadar apa yang sedang terjadi. “Jangan dikeluarkan didalam…aku sedang subur..jangannn…” Jerit Ayu histeris ketika si kucir berejakulasi didalam liang kemaluannya. Terlambat sudah, Ayu hanya bisa menangis lagi.

Teo meletakkan kameranya dan diletakkan di meja tetapi diposisikan tetap menghadap tempat tidur dengan posisi yang pas untuk mengambil keseluruhan gambar persetubuhan ini. Si kucir mencabut batang kemaluannya dan seketika cairan sperma keluar mengalir dari dalam vagina gadis ini.

Teo berbaring terlentang sementara Ayu diseret oleh si kucir untuk menduduki pinggang Teo yang sudah bugil itu. Batang kemaluannya sudah menengang sedari tadi diarahkan vertikal sehingga terlihat jelas ketika Ayu membuka selangkangannya menduduki batang kejantanan tersebut. Penis itu perlahan membelah vagina Ayu yang sudah basah dan hanya beberapa detik saja sebelum seluruhnya tertelan oleh liang kewanitaan Ayu. “Akhh…enak bener nih. Peret bener.” Kata si Teo yang lalu mulai menggoyangkan pinggangnya menyodok vagina Ayu dengan penisnya dari arah bawah. Si kucirpun tak tinggal diam, dia lalu mendorong-dorong tubuh Ayu maju mundur dan memerintahkannya untuk menservis Teo dari atas. Ayu yang sudah pasrah hanya bisa menuruti permintaan tersebut.

Sekarang Ayu terlihat seksi melakukan gerakan erotis menyetubuhi sang pria, Ayu terlihat seperti sedang menggilas batang kemaluan Teo tanpa ampun dengan selangkangannya. Sesekali Teo mengangkat pantat Ayu dan langsung menariknya kebawah lagi dengan cepat sehingga tusukan batang kemaluannya semakin dalam saja hingga menyentuh dinding rahim sang gadis cantik ini.

“Aku ikutan lagi yah? Kayaknya enak nih.” Seru si kucir, semula Teo menolak namun setelah diberi kode akhirnya dia tersenyum seolah tahu apa yang akan temannya perbuat pada dara ini. Dengan menggunakan kondom berpelumas, si kucir mengarahkan batang kemaluannya yang sudah menegang lagi keliang anus Ayu.

“Jangan disitu! Sakit….jangan….akhhh!!!” Jerit Ayu ketika batang kemaluan itu melesak dengan kasar kedalam liang anus Ayu. Entah untuk yang keberapa kalinya Ayu kembali menangis. Kali ini baik vagina maupun liang anusnya diperawani bersamaan sehingga membuat dia tak kuat menahan sakit yang sangat. Darah mengalir dari liang anusnya yang sempit itu.

Si kucir dan Teo sepertinya sudah bersepakat, bersamaan mereka melakukan sodokan yang seirama sehingga tiap kali penis kedua orang ini melesak penuh kedalam vagina atau liang anus Ayu, kedua penis ini seolah bergesekan dan pembatas antara kedua lubang milik Ayu menjadi semakin kecil terdesak oleh kedua batang kemaluan pria ini.

“Akhh…sakit…akhh…udah..” Ayu menjerit lagi ketika si kucir memompanya dengan lebih brutal sementara kedua tangannya bergantian dengan mulut Teo mempermainkan kedua payudara Ayu.
“Kita keluar barengan aja.” Seru si kucir dan Teo mengiyakan. Sekitar sepuluh menit kemudian, Ayu yang ditindih oleh si kucir dan berada ditengah tumpukan tubuh kedua pria ini seakan mau pingsan. Teo mempercepat sodokannya begitu juga dengan si kucir, lalu nyaris bersamaan mereka mencabutnya engan kasar lalu melentangkan tubuh Ayu sambil mengocok penis mereka berdua.

Bersamaan penis kedua orang ini diarahkan keatas wajah Ayu dan dalam hitungan detik penis Teo menyemburkan cairan maninya menyiram ke wajah Ayu yang sebagian sempat memasuki mulut Ayu yang sedikit terbuka sementara si kucir menyambungnya dengan semprotan kedua yang membasahi bibir dan leher dara cantik ini. Wajah Ayu yang cantik itu sekarang bermandikan peluh dan belepotan sperma kental yang merata di hampir seluruh wajahnya.

Sepertinya rekaman ini digunakan untuk mengancam Ayu agar tidak cerita kepada siapapun mengenai hal ini. Well, aku tidak tahu tentang kedua pria ini namun yang jelas aku tahu mengenai Ayu, rahasia gelap gadis cantik ini sudah ditanganku. Berikutnya tinggal tunggu langkah berikutnya dariku.