Arine, the youngster one

Namanya Arine Susilowati, dia adalah pacar dari temannya temanku (ribet yah…). Orangnya pendiam dan nampaknya sedikit introvert, atau banyak malah. Cowoknya kerja di sebuah toko penjualan ikan hias sementara Arine sendiri menjadi penjaga wartel sekaligus warnet yang memang satu ruko. Aku mengenal sepasang sejoli ini dari seorang temanku, sebut saja namanya Yani (bukan nama asli). Cerita berikut ini merupakan cerita tentang kisah temanku yang bernama Yani tersebut dan ditulis berdasarkan kisah aslinya (setidaknya menurut versi Yani). Oh iya, bagi yang belum tahu, Yani itu nama cowok bukan cewek. So the story begin at here…

Arine dan kekasihnya yang bernama Sigit sudah lama menjadi teman dari Yani, temanku ini. Sebenarnya karena Sigit dan Yani merupakan patner bisnis kecil-kecilan dibidang onderdil sepeda motor. Singkat cerita ketiganya semakin akrab satu sama lain sehingga sudah hal yang biasa jika Yani suatu saat main ketempat Arine dan juga sebaliknya.

Sore itu sekitar jam 5. Arine kembali dari tempat kerjanya karena kebetulan hari itu dia masuk shift pagi sehingga bisa pulang sorean. Sesampainya di teras rumahnya, dia melihat ada seorang pria sedang duduk-duduk dikursi tamu rumahnya yang saat itu sedang terkunci karena kebetulan orang tuanya sedang pergi keluar kota.

“Hai Arine. Lama amat. Aku udah nungguin kamu dari tadi lho.” Sapa pria tersebut yang umurnya kira-kira 35 tahunan. Arine sendiri masih berumur 23 tahun sehingga agak aneh terlihatnya bersanding dengan pria ini sebagai temannya.

“Hah, kamu kok disini? Nanti kalau orang tuaku tahu gimana?” seru Arine sambil melempar tas jinjingnya keatas kursi kosong. Dengan marah dia menarik lengan pria itu dan menyuruhnya menjauhi rumahnya. “Sana pergi! Aku khan sudah bilang kalau aku nggak mau lagi ketemu kamu.” Seru Arine sambil mendorong sang pria agar menjauh.

Pria ini tertawa mendengar perlakuan Arine kepada dirinya dan dengan tenang dia membetulkan kemejanya yang kucel dan amburadul gara-gara tarikan kasar Arine. “Santai aja sayang. Ortu kamu khan lagi pergi keluar kota. Lagipula aku kemari juga karena kangen sama kamu. Masak kamu tidak kasihan sama aku sih…heheheh…” Gelak pria ini sembari kembali mendekat dan kali ini dia berani mencekal kedua bahu Arine.

“Lepas! Kalau tidak aku bakalan teriak!” Gadis ini mulai ancang-ancang untuk berteriak namun sebelum suara keluar dari mulutnya, tiba-tiba sebilah pisau terhunus tepat di lehernya. Sang pelaku sepertinya berada dibelakang Arine sejak tadi.

Keringat dingin mengucur dari wajah Arine, “Mau apa kamu…?” dengan memaksakan dirinya untuk tenang dia mulai berani berbicara. “Kalau kamu teriak, leher kamu bakalan putus. Kamu ikutin saja kemauan kami.” Bentak suara dari belakang Arine.

Akhirnya Arine digiring kesebuah mobil Kijang LGX yang langsung tancap gas ketika sang gadis malang tersebut sudah berada didalamnya. Dari kejauhan sepasang mata memperhatikan kejadian ini tanpa berkedip. Yang kemudian bergegas menyusul dan membuntuti mobil tersebut.

Sekitar setengah jam kemudian, tiba juga mereka di sebuah rumah besar yang terletak diluar kota. Arine dipaksa masuk rumah tersebut dan karena didekat rumah tersebut adalah perkebunan dan rumah terdekat berada dalam radius 100 meteran maka tak satupun saksi mata yang mengetahui penculikan Arine ini…kecuali sepasang mata yang sedang mengintip dari balik rimbunnya pohon cemara diujung persimpangan jalan.

Arine terhempas oleh dorongan dari pria yang tadi menodongnya. Gadis ini terdorong kearah kursi sofa yang sudah agak usang. “Apa mau kalian sebenarnya? Apa salahku?” seru Arine kepada pria itu.
Pria yang berkemeja rapi tadi, sebut saja namanya Ahmad. Ahmad tersenyum simpul melihat perilaku Arine yang sudak mulai panik dan ketakutan. “Kamu nggak punya salah? Yang benar saja…kamu khan sudah bikin aku malu dimuka umum kemarin.” Bentak Ahmad sambil mencengkeram dagu Arine dengan kasar lalu mendorong lagi gadis ini hingga nyaris jatuh dari sofa.

“Gara-gara kamu aku jadi malu didepan teman-temanku. Selama ini aku terkenal sebagai Don Juan yang selalu dapatkan semua cewek yang aku inginkan. Kamu baru aku ajak kencan sebentar saja sudah main tampar. Masih bilang kalau tidak punya salah?” seru pria ini sembari membuka sebuah botol wiskey merk Jack Daniels.

Arine seperti tak percaya dengan ucapan pria itu barusan, “Apa? Kamu sendiri pegang-pegang pantatku, emangnya aku ini cewek murahan apa?” balas Arine tak kalah berang dan kali ini dia berusaha kabur namun kakinya terjegal oleh pemuda berpisau, sebut saja namanya Cahyo.

“Jangan coba-coba kabur perek!” bentak Cahyo kepada Arine dan langusng mendorongnya dengan keras kearah sofa lagi. sepatu hak tinggi Arine sampai patah dibuatnya. “Sekali lagi kamu berani coba-coba kabur, aku gorok lehermu.” Ancam Cahyo sambil mempermainkan pisau miliknya.

“Arine…Arine. Aku sudah tahu siapa sejatinya kamu kok. Jadi tidak perlu sampai sok suci didepanku. Aku tahu tentang dirimu dan rahasia gelapmu.” Kata Ahmad dengan tenang. Dia menyodorkan segelas kecil wiskey namun di tepis tangan mulus Arine hingga nyaris tumpah semuanya. Pria ini hanya tersenyum saja tak berusaha membalas.

“Aku nggak tahu apa maksudmu. Sekarang lepaskan aku atau aku laporkan kepolisi.” Seru Arine lalu berdiri menantang. Ahmad malah tertawa melihat tingkah gadis ini lalu dia meletakkan gelas wiskeynya dan berkata, “Silakan saja kalau kamu mau lapor. Jangan lupa kalau aku tahu bahwa kamu pemakai narkoba, bukan hanya itu saja. Aku juga tahu kalau kamu itu penari striptease di pub XXX. Jadi kalau kamu mau lapor polisi dengan semua rahasia kelammu itu….yah silakan saja. Jangan lupa kalau aku ini adalah asisten Kepala Kejaksaan, dan sekedar informasi saja kalau pengguna narkoba golongan 2 sepertimu minimal bisa kena ganjaran 4 hingga 6 tahun penjara. Tentu kamu juga tidak bakalan mau khan kalau sampai tertangkap. Apalagi di kota ini penjara khusus narkoba untuk wanita tidak ada sehingga kamu bakal dijebloskan ke penjara umum wanita, bercampur dengan pembunuh dan penjahat brutal lainnya. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya…hahahaha…silakan saja jika mau lapor…hahaha.” Dengan penuh percaya diri akhirnya Ahmad berhasil membungkap perlawanan Arine.

Gadis ini langsung lemas ketika mengetahui bahwa hidupnya sudah diujung tanduk. “Apa yang kalian mau sebenarnya? Kalau uang, aku bisa usahakan asalkan tidak banyak.” Sekarang Arine mulai melunakkan intonasi bicaranya.

Ahmad tertawa lagi, “Uang? Aku mana butuh uang darimu sayang. Yang aku butuhkan adalah balasan karena kamu telah berani menamparku didepan kolegaku.” Balas Ahmad kali ini dia meraih kedua tangan Arine dan matanya mulai memandangi seluruh bagian tubuh dara cantik ini. “Pacarmu benar-benar beruntung punya cewek semanis kamu, sudah gitu putih pula…benar-benar gadis yang menggairahkan.” Ucap Ahmad sembari matanya terus memelototi bagian-bagian tubuh Arine.

Serasa mendapatkan bayangan mengenai apa yang bakalan terjadi nanti, Arine langsung terduduk lemas tak berdaya dan tak henti-hetinya keringat dingin keluar dari tubuhnya. “Tolong jangan apa-apakan aku. Aku bakalan mau nurut apa aja yang jadi mau kamu tapi jangan sakiti aku…tolong…” pinta Arine yang sudah mulai melemahkan suaranya dan terdengar gemetaran menahan rasa takut.

Cahyo tertawa congkak dibelakangnya, “Nurut tapi kok gak mau diapa –apain? Ya mana mungkin sayang…hahahaha…” serunya lagi dan Arine seperti tersambar petir disiang bolong mendengar ucapan itu. Belum sempat dia berdiri berontak, tiba-tiba kedua lengannya sudah dicekal dan dia langsung ditangkap oleh kedua pria ini dan ditelentangkan diatas sebuah kasur bekas yang masih tebal yang berada diatas ubin tua tersebut.

Dengan kondisi tangan terikat pada sebuah kaki lemari nan besar dan berat membuat Arine tak lagi bisa berbuat apa-apa. Sementara kedua kakinya ditindih oleh Ahmad. Rontaan dan jeritan Arine tak membuahkan hasil, yang ada malah Cahyo berulang kali menampar pipinya hingga memerah panas.
“Sekarang kita lihat apa sehabis ini kamu bakalan bisa berontak lagi kepadaku…hehehe…” Ahmad lalu mencengkeram celana jeansnya dan memelorotkannya kebawah kaki Arine hingga sekarang paha mulus gadis ini terpampang dengan jelas dimata kedua pria asing ini. Arine semakin memberontak tapi sekali lagi tamparan mendera wajahnya dan membuatnya menangis sesenggukan sembari memohon ampun kepada kedua pria bejat ini. Arine seolah-olah sudah kehilangan jiwanya ketika tangan kasar Ahmad membetot celana dalamnya sementara baju dan bra yang dia pakai dirobek oleh Cahyo dengan brutal. Sekarang tinggallah Arine dengan ketelanjangannya ditonton oleh Ahmad dan Cahyo yang tak henti-hentinya menelan ludah menahan libido mereka yang sudah memuncak.

Kedua pria ini lalu mencopot seluruh pakaiannya hingga sekarang ketiga insan manusia ini benar-benar polos tanpa busana. Diangkatnya kedua tungkai kaki Arine dan disandarkan keatas bahunya lalu dengan semangat 45 Ahmad mengarahkan batang kemaluannya yang sudah tegang sedari tadi itu kearah bibir vagina Arine. Arine menjerit namun tak ada gunanya ketika ujung kemaluan Ahmad sudah berhasil melewati labia mayora miliknya. “Sekarang aku bakalan mengetahui rasanya jadi pacarmu.

Dapat service dari gadis secantik kamu khan sudah merupakan hal yang luar biasa…hahaha..beruntung banget pacarmu itu ya…” Ahmad menyindir Arine sembari melakukan penetrasi kedalam liang kemaluan gadis ini. dalam satu sentakan keras tepat setelah pria ini selesai berucap, batang kemaluan Ahmad berhasil menerobos bibir vagina Arine hingga seluruh penisnya terbenam didalamnya. Arine menjerit keras karena terang saja vaginanya masih kurang basah untuk dimasuki penis seorang pria.

“Ugh, seret sekali oi. Walau udah nggak perawan tapi masih asoy nih.” Ucap Ahmad kepada temannya Cahyo yang hanya meringis melihat kelakuan sobatnya itu.

“Ampun…akhh…ahhh…” Erang Arine diantara rasa sakitnya ketika liang kewanitaannya dijarat oleh batang kejantanan yang berukuran besar itu tanpa foreplay terlebih dahulu. Walaupun sudah tidak perawan, tetapi vagina gadis ini masihlah terlalu sempit untuk menerima penis sebesar milik Ahmad ini.

Tiap kali batang kemaluan Ahmad menyodok vagina Arine, terlihat bibir vagina sang dara ini juga ikut melesak kedalam karena kurangnya cairan pelumas dibibirnya dan saat batang kemaluan Ahmad ditarik keluar, maka bibir vagina yang tadi melesak kedalam menjadi monyong keluar. Bahkan gelambir di labia minora-pun ikut keluar. Untuk Ahmad hal itu seperti disurga karena seperti bercinta dengan perawan tetapi bagi Arine yang kondisi vaginanya sudah mulai rusak karena pompaan kasar Ahmad, bagaikan dineraka.

Sembari meremas payudara gadis cantik ini, bibir Ahmad kembali menyelami kenikmatan leher dara ini dan sesekali menciumi paksa bibir Arine yang kini sudah tidak melawan karena lemas kehabisan tenaga. Selang sepuluh menit kemudian, diangkatlah kedua kaki Arine lebih tinggi dan ditekuk hingga kini lutut Arine dapat menyentuh payudaranya sendiri sementara dari atas, hunjaman-hunjaman penuh nafsu dilakukan oleh Ahmad dan mengobrak-abrik liang kewanitaan gadis ini tanpa sisa. Arine hanya bisa pasrah ketika vaginanya diperlakukan sebrutal itu oleh Ahmad. Beberapa saat kemudian Ahmad mempercepat pompaannya dan dalam hitungan detik, dia mencabut penisnya lalu menyodorkannya keatas bibir Arine dan berejakulasi disana. Arine mencoba berpaling namun terlambat karena cairan putih kental itu telah terlajur membasahi bibir dan wajahnya. “Luar biasa enaknya. Ngentotin kamu memang bersensasi tersendiri Rin. Yo, sekarang kamu mau ikutan ngentotin dia nggak?” seru Ahmad kepada rekannya yang sedari tadi mematung itu.

“Iyalah. Masa udah bugil gini masih ditanya mau cicipin atau nggak.” Balas Cahyo sambil tertawa. Pria ini mengambil posisi diantara kedua paha Arine. “Wah, bibir memeknya nih cewek udah beda dari yang tadi. Pasti gara-gara kontolmu tuh bikin rusak nih onderdil.” Canda Cahyo yang lalu melesakkan batang kemaluannya kedalam liang senggama Arine, kali ini tidak diiringi dengan erangan sang dara karena Arine sudah lemas dan nyaris pingsan.

Cahyo juga tak kalah brutal dari Ahmad. Bahkan dengan posisi Arine tengkurap sekalipun masih dilakukan sodokan dengan sangat keras dan cepat. Tak jarang batang kemaluan Cahyo menyeruduk dinding rahim gadis ini sehingga Arine hanya bisa menjerit kecil dalam ketakberdayaannya. Selang beberapa menit kemudian, Cahyo mengejang. Kedua tangannya mencengkeram erat payudara Arine yang menggelantung saat dia dalam posisi merangkak. Gadis ini menjerit menahan sakit pada payudaranya, Arine juga panik saat merasakan bahwa didalam liang vaginanya terdapat penis yang sedang mengejang dan menyemprotkan sperma dalam jumlah yang sangat banyak. Apalagi ini adalah masa suburnya. “Crottt….crottt…crootttt…” Semburan air mani itu akhirnya memenuhi dinding vagina Arine dan saat Cahyo mencabut penisnya, ada beberapa yang mengalir keluar lewat bibir vagina Arine yang kini sudah agak rusak itu. Membasahi sprei kumal beserta bercak darah. Mungkin akibat dari dinding rahim yang terluka karena gesekan keras atau mungkin karena sebab lain.

“Sekarang, kamu sudah aku maafkan telah menamparku tempo hari. Nah kalau gini kan udah impas sayang. Hehehe…” Ahmad tertawa lalu pergi kembali kemobilnya beserta Cahyo yang sudah berpakaian lagi, meninggalkan Arine dalam ketelanjangannya…kali ini sendiri.

Sepasang mata yang dari tadi memperhatikan perilaku ketiga orang ini akhirnya keluar dari persembunyiannya. Pemilik mata misterius itu adalah Yani, temanku yang juga teman dari pacar Arine.

Pemuda ini akhirnya membawa Arine pergi dari tempat itu dan berjanji untuk tidak menceritakan peristiwa itu kepada pacarnya ataupun teman-teman Arine. Sayangnya karena Arine tidak mengenalku dan aku bukan pacarnya, maka saat Yani menceritakan semua hal ini kepadaku bukanlah suatu pelanggaran janji. Nah sekarang inilah cerita hasil dari petualanganmun temanku, kataku dalam akhir surat yang aku sertakan cerita ini yang aku kirim kepada Yani yang sekarang berada di Papua.

Fact:

Didalam kisah ini memang tidak diikut sertakan nama kotanya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan karena pelakunya merupakan pejabat negara. Ahmad sekarang sudah dimutasi kedaerah diluar jawa sementara Cahyo sekarang menjadi aktivis disebuah ormas pemuda yang dibekingi oleh sebuah partai besar. Arine sendiri sekarang sudah bekerja di sebuah perusahaan di Batam dan sudah putus dari pacarnya karena sudah menemukan pria lain yang lebih mapan pekerjaannya dan menikahinya sebulan setelah putus dari Sigit (poor one, I feel sorry for you dude).

Seluruh cerita mengenai Arine adalah bersumber dari Yani dan secara tak langsung credit terhadap cerita chapter ini saya tujukan kepada my friend, Yani.