Chapter

**************

Cerita ini merupakan kisah nyata pengalaman pribadi gue. Nama tokoh sudah diganti untuk menghindari timpukan bata dari yang kenal ama gue😛

**************

“Veny” kata si gadis sambil menyodorkan tangannya kearahku.

“Rana” kataku pendek sambil menjabat tangannya dengan erat.

Perkenalan yang tidak meninggalkan kesan sama sekali. Ia hanyalah salah satu dari sekian banyak wajah dan nama yang harus kuhafal hari itu. Masih ada puluhan calon mahasiswa lagi yang harus kukenal, calon mahasiswa yang akan menjadi teman satu angkatanku

Setelah menanggalkan seragam abu-abuku, tanpa kusangka aku diterima di universitas negeri paling terkenal di Indonesia. Aku tentu saja terkejut, karena aku bukanlah seorang murid yang pintar atau rajin. Nilai ku selalu biasa-biasa saja, malah aku cenderung pemalas yang lebih suka bermusik daripada belajar. Waktu mendaftar pun aku iseng-iseng saja, toh pikirku dengan otakku yang pas-pasan, paling aku masuk universitas “papan nama” saja.

Tapi ketika namaku ternyata tercantum di “daftar keramat” di koran *****, hidupku pun langsung berubah. Akupun berkemas dan berangkat ke kota D, hanya berbekal ransel berisi pakaian dan uang secukupnya.

Masa ospek pun tiba, tentu saja namanya bukan ospek, tapi mau, Mapras, Mabim, masa orientasi, ataupun eufimisme lainnya, tetap saja intinya adalah perploncoan. Disanalah aku pertama mengenalnya.

Namanya Veny, dia satu angkatan dan satu jurusan denganku. Kulit putih dengan mata sipit khas warga keturunan, rambut hitam lurus yang selalu diikat atau dijepit, dan kacamata minus yang selalu bertenggar di hidungnya. Tapi semua itu tidak bisa menutupi kecantikannya, justru malah menonjolkanya.

Kuakui ia cantik, tidak sampai bikin cowok menoleh dua kali, tapi cukup cantik untuk membuat beberapa seniorku langsung “menandainya” sebagai bahan godaan, atau mungkin bahan untuk dijadikan pacar. Tapi aku sendiri justru tidak tertarik. Secara fisik ia memang tipeku, tapi ada satu yang membuatku tidak tertarik untuk menjadikannya lebih dari teman.

Ia seorang yang berada, putri tunggal dari seorang wedding planner yang cukup terkemuka di Jakarta. Tidak kaya raya, tapi punya cukup uang sehingga ia bisa membawa mobil pribadi ke kampus. Sedangkan aku? Aku hanyalah mahasiswa miskin dari daerah, satu-satunya harta yang bisa kubanggakan hanyalah sepeda motor bekas kakakku yang ia berikan waktu aku masuk kuliah. Masuk café hanya seminggu sekali, dugem? Apalagi! lagipula aku memang tidak suka suasana dunia malam dan tempat yang bising dan ramai, bikin kupingku pekak saja.

Dua semester pun kulalui dengan status sebagai mahasiswa. Sudah kuduga IP ku pun pas-pasan, dunia musik rupanya memang lebih menarikku daripada dunia pendidikan. Aku pun mulai sering manggung di café-café kelas menengah di sekitar Jakarta dengan band ku, dan mulai terlibat di dunia malam yang pada awalnya justru kujauhi. Jangan tanya masalah bayaran manggung, mungkin setelah dipotong sana sini, sisanya hanya cukup untuk bayar kost plus makan seadanya. Tapi yang terpenting adalah uang yang kudapat itu halal, dan kepuasan yang kudapat dari penyaluran hobiku, jauh lebih berharga daripada sekedar rupiah.

Semua berjalan secara hyper-natural, kecuali satu; hubunganku dengan Veny.

Berawal dari pembagian kelompok untuk mengerjakan tugas makalah, Veny dan aku yang dimasukkan kedalam satu kelompok tiba-tiba saja menjadi akrab. Aku seakan baru mengenal sisi lain dari Veny, sisi yang penyayang, lemah lembut, dan baik hati. Dan entah kenapa aku selalu mendapat sinyal-sinyal aneh darinya. Sinyal yang hanya dipancarkan oleh mereka yang sedang jatuh cinta.

Jangan salah, wajahku tidak jelek, bahkan banyak yang bilang aku ganteng, tapi ganteng yang tidak keurus. Kaos kusut karena tidak disetrika, rambut sedikit berantakan karena jarang disisir, dan jeans belel dan sobek yang disengaja untuk mengukuhkan identitasku sebagai pembangkang. Kulitku yang tadinya putih pun sudah agak belel karena kepanggang matahari. Mana pantas aku bersanding dengan tuan putri seperti dirinya.

Tapi cinta memang gila, saking gilanya aku bahkan tidak sadar kalo aku sudah ketularan gila. Yang aku tahu ketika suatu hari aku berjalan berdua dengannya menyusuri lorong kampus, secara spontan aku bilang.

“gue suka sama elo” aneh, padahal waktu itu kita lagi ngomongin masalah metodologi penelitian untuk makalah kelompok kami.

Ia memandangku sejenak, mungkin untuk menjajaki keseriusanku. Ia lalu tersenyum.

“Gak salah nih? Mister jutek dari jurusan ******* baru aja nembak gue?!” katanya sambil tersenyum.

Merasa dipermainkan emosiku langsung naik.

“Forget it…” kataku sambil beranjak pergi.

“Eiit tunggu… “ katanya sambil menyambar tanganku dan menggenggamnya erat.

Aku menoleh kearahnya, dan ia tersenyum manis sekali. Aku pun ikut tersenyum, hilang sudah emosiku yang memang mudah naik.

That’s it! Hanya dengan pertukaran beberapa kalimat pendek itu, aku dan Veny pun resmi pacaran. Seperti sudah kuduga anak-anak satu jurusan pun langsung heboh menyambut berita resminya hubungan “odd couple” ini.

“Waahh incest nih! Masa pacaran ama kalangan sendiri! gak seru ah” kata Cella teman akrab Veny.

“Ven, gak salah milih lu?! Pacaran ama Rana paling ntar dikasih makan drum ama gitar, mending pacaran ama gue, gue kasih jatah makan bakso sepuas lu” timpal Marto yang memang memiliki beberapa kios bakso di Jakarta Selatan.

“Udah udah, biarin aja mereka. Ntar kalo pelet si Rana udah ilang, si Veny juga waras lagi dan bakalan mutusin nih cumi basah” tambah Tedy, sohib beratku sambil menepuk pundakku.

Seperti kata pepatah, lain di mulut lain di hati. Meski kata-kata mereka bernada miring, tapi aku tahu dalam hati mereka mendukung sepenuhnya kisah cinta aku dan Veny. Sayangnya ada satu orang yang tidak mendukung; mamanya Veny.

Ketika aku dikenalkan sebagai pacar oleh Veny, mamanya memandang tindikan di kedua kupingku , dan tato tribal yang mengelilingi bisep di lengan kananku. Ia mengangguk dingin lalu berjalan meninggalkan kami. Cukup untuk menunjukkan ketidak setujuannya akan pilihan putri tunggalnya itu.

Tapi dengan atau tanpa restu dari orang tuannya, hubungan kami berjalan terus, hari berganti minggu, minggu menjadi bulan, dan akumulasi 12 bulan pun menjadi 1 tahun. Anniversary 1 tahun kami jadian dirayakan dengan sederhana, di café kecil langganan kami di dekat kampus, hanya berdua dengan cake kecil yang kubeli dari bakery dekat kost-an ku.

Sepulangnya, kami kembali ke kamar kost-ku, kami berdua duduk di kasur yang digeletakkan begitu saja di atas karpet di lantai kamar. Aku memetik gitar Ibanez kesayanganku dan menyanyikan lagu yang kutulis khusus untuknya, lagu mendayu-dayu yang mungkin tidak bisa merajai chart radio, tapi cukup untuk menerbitkan senyum bahagia di bibir Veny, and that’s all I ever want. Aku meletakkan gitarku dan meraih wajahnya, Ia sedikit memejamkan matanya dan menyodorkan bibrnya yang indah ke arah mulutku

Aku lalu menempelkan bibirku pada bibirnya yang lembut dan hangat, bibirku begitu rakus menciumi, menjilati, bahkan mengulum bibir merah Veny. Perlahan dengan lidahku aku menjilati bibir bagian bawahnya, naik keatas, lalu mendorong lidahku memasuki mulutnya yang sedikit terbuka. Aku langsung mencari lidahnya dan begitu menemukannya aku memijatnya lembut dengan lidahku, dan ia balas membelit lidahku dengan lidahnya. Basah, hangat, tidak ingin lepas rasanya, apalagi wangi tubuh Veny yang amat kuhafal, membuatku betah berlama-lama dalam pelukannya.

Semakin lama ciuman kami semakin panas saja rasanya, dan ia pun menyadarinya.

“Rana, hmmm kamu mau… gituan?” katanya malu-malu.

“Kalau kamu mau, tapi aku gak maksa” kataku maklum.

“Gak kok, kita kan udah pacaran setahun… “

“Kamu yakin?” kataku lagi.

Ia hanya mengangguk. Ada satu rahasia yang disimpan erat oleh Veny, rahasia yang hanya aku dan dia yang tahu. Veny sudah tidak perawan lagi. Ketika ia masih di SMA, keperawanannya direnggut paksa oleh pacarnya. Meski Veny terus menerus menolaknya, namun pacarnya terus memaksa,mula-mula dengan ancaman akan diputus, hingga akhirnya dengan sedikit kekerasan, pacarnya merenggut keperawanan Veny.

“ Gak bisa dibilang diperkosa, karena aku juga gak ngelawan, tapi tetap saja selama itu aku berpikir dalam hati ‘aku diperkosa, aku diperkosa ’” cerita Veny padaku.

Hanya berselang 2 minggu kemudian, Veny memutuskan pacarnya. Karena ia selalu terbayang-bayang peristiwa itu. Rupanya gejolak nafsu sesaat itu telah meninggalkan trauma yang mendalam di hati Veny. Itu sebabnya aku sama sekali tidak pernah meminta untuk bersetubuh dengannya, bukannya nggak pengen, hanya saja ia belum siap, aku juga.

“Tapi kamu punya pelindung?” pertanyaan Veny memutus lamunanku.

“Nggak… “

“Ya udah kamu nyari dulu gih, aku tunggu disini” katanya pelan hampir berbisik.

Kesempatan ini langsung tidak kusia-siakan. Benakku berkecamuk oleh berbagai emosi, senang, bergairah, takut, bahkan malu. Kupacu motorku menuju apotek yang letaknya tidak jauh dari kost-an, kebetulan penjaganya sudah kukenal karena merupakan teman dari temanku.

Dengan sedikit salah tingkah, aku berjalan menuju konter apotek.

“Hai Ran, tumben kesini, mau beli obat?” kata Rina si penjaga apotek.

“Ehh iya Rin,, ada hmm… anu… kondom?” kataku sedikit terbata.

Sejenak ia agak terkejut mendengar pertanyaanku, lalu senyum pun terbit diwajahnya.

“Ada, tapi ada surat nikah gak?” katanya dengan tampang serius.

“Haahh, emang mesti pake gituan?” kataku yang memang baru kali ini mencoba membeli alat pencegah kehamilan.

“Ya iya lah, masa dijual bebas gitu aja, ntar anak-anak sekolah pada beli lagi” katanya lagi.

“Ohh gitu yah… ya udah deh gak jadi” kataku lemas sambil berbalik dan hendak meninggalkan apotek.

“Eh Ran, Rana, tunggu mo kemana? Gue cuma becanda, tunggu bentar” katanya sambil tangannya meraih kedalam lemari obat.

“Nih, segitu aja udah keder” katanya sambil tersenyum.

Aku yang tidak tahu harus bilang apa hanya menyodorkan selembar uang pecahan besar, aku tidak tahu berapa harga sekotak kondom yang kupegang ini, jadi hanya kukira-kira saja.

“Ini kembaliannya… “ kata Rina sambil menyerahkan kembaliannya.

Tapi belum sempat aku menarik tangannku, Rina sudah meraih pergelangan tanganku dan memegangnya dengan erat.

“Ran, ini mungkin bukan urusan gue, tapi… pikir dulu sebelum berbuat, kalo lu cuma main-main… mendingan jangan deh” katanya serius.

Aku mengangguk, dan Rina pun melepaskan pegangannya. Aku langsung berbalik dan bergegas keluar dari apotek itu, seumur hidup belum pernah aku merasa malu seperti barusan.

*******

Aku mengetuk pintu kamar kost-ku yang rupanya terkunci. Cklekk suara kunci yang terbuka, jadi akupun mendorong pintu dan memasuki kamar. Deeggg, dadaku langsung berdetak kencang melihat pemandangan didepanku.

Veny berdiri dengan kaki bersilang, ia menyandar agak ketembok, rambutnya basah sepertinya habis mandi, dan tubuhnya hanya tertutup handuk milikku saja. Ia tampak agak menunduk menghindari pandanganku, dan semburat merah tampak jelas di pipinya yang putih.

“Ehh ini, aku… “aku yang tak tahu harus bilang apa, akhirnya hanya bisa menggaruk-garuk ujung hidungku. Kebiasaanku jika sedang salah tingkah.

Tanpa berkata apa-apa, Veny melangkah mendekatiku, ia mengalungkan kedua lengannya ke leherku dan dengan sedikit berjinjit, ia menciumku lembut sekali.

Segera kulumat bibirnya dengan lembut, layaknya orang kelaparan yang baru saja menemukan makanan. Lidahku juga mulai menggeliat ikut meramaikan suasana, dan menyelusup masuk kedalam mulutnya. Veny pun membalas dengan mempertemukan lidahnya dengan milikku dan langsung kupijati lidahnya dengan lidahku. Lidahnya pun kukulum dan kusedot, hingga tak lama kemudian sekeliling mulut kami pun penuh dengan air liur.

Bibirku mulai bergeser turun secara pelan-pelan mengusap dan mencium hangat di lehernya yang putih mulus. “Aaaahh”, dia mendongakkan kepalanya, memberiku ruang lebih, ia pun makin mendesah dan merasakan kegelian lain yang lebih nikmat.
Tanganku lalu bergerak membuka kaus yang aku pakai, akupun bertelanjang dada. Sekarang giliran lipatan handuk yang ia kenakan, dan handuk itupun langsung turun jatuh ke lantai. Sungguh pemandangan yang amat menakjubkan, Veny kini berdiri didepanku dengan hanya memakai celana dalam saja, sementara payudaranya yang berukuran sedang, terbuka dengan indah.

Aku kembali menurunkan kepalaku dan menjilat kedua payudaranya sambil kugigit lembut permukaan payudara yang halus lembut itu. Dia pun mengeluh manja. “Aahh…, sakkiitt…”,
kemudian kupeluk dan kutarik pinggangnya, diapun memeluk kepalaku dan merapatkannya ke dadanya.

Aku kembali menjilati payudaranya hingga akhirnya ketika sampai ke puncak payudara Veny, aku mengecup puting payudara itu lalu perlahan memasukkannya kedalam mulut, dan menghisapnya dengan lembut. Ia menggelinjang, mungkin karena kegelian.

Kali ini kedua tanganku meraih kedua bukit payudara Veny dan meremasnya dengan pelan-pelan, halus dan lembut, tetapi kenyal. Hmmm tubuhnya terasa wangi sekali, mulutku beralih-alih antara dua pucuk bukit payudara Veny, perlahan mempermainkan puting payudaranya didalam mulutku, hingga akhirnya kembali mendaratkan ciuman di bibirnya yang merekah.

Tak tahan lagi, segera kubuka dan kuturunkan celana panjangku hingga tinggal tersisa celana dalam saja.

Aku kembali melumat bibir dan lehernya, tapi kini tanganku pelan-pelan turun menuju selangkangannya sambil terus menjilati dan mengisap puting payudaranya. Tanganku menggosok-gosok selangkangannya, dan kadang kuremas-remas gundukan bukit kecil di selangkangannya itu, desah nafasnya pun kini makin berat.

Aku kini berlutut didepan Veny, aku meraih bagian pinggang celana dalamnya, dan dengan pelan-pelan kuturunkan cdnya terus hingga mencapai pergelangan kaki. Ia pun mengangkat sedikit kakinya hingga aku bisa melepaskan cd-nya. Terlihatlah vaginanya yang bagian atasnya ditumbuhi bulu-bulu yang masih agak lembab, sementara belahannya sendiri bersih dan tampak menggoda.

Dengan tidak sabar lagi aku segera mengarahkan wajahku di sela-sela paha Veny dan menenggelamkannya di pangkal pertemuan kedua kakinya. Pertama-tama aku mengecup bibir vagina itu, Bau semerbak khas vagina langsung menyergap hidungku, jadi kemaluan wanita begini yah baunya, pikirku dalam hati. Lidahku lalu menjulur dan perlahan menjilat seluruh permukaan bibir kemaluannya.

“Hmmpp… “ erangan tertahan sedikit keluar dari mulut Veny, tangannya tiba-tiba menopang ke bahuku.

Aku mengangkat kepalaku menatap wajahnya, dan menyadari bahwa kakinya terasa lemas akibat sentuhan lidahku.

“Gue baring aja yah” katanya sambil melangkah dan memposisikan tubuhnya hingga setengah berbaring diatas kasur, sementara punggungnya ditopang dua bantal yang ditumpuk.

Ia mambuka kedua kakinya kesamping, dan menekuknya hingga membentuk huruf M.

“Ayo Ran, terusin… “ undangnya.

Dan akupun memenuhi undangan itu. Aku langsung tidur menelungkup dengan kepalaku diantara kedua pahanya. Mulutku kubuka lebar-lebar untuk bisa melahap seluruh bukit kemaluan Veny. Hmmm rasanya sedikit aneh karena dari vaginanya mengalir lendir yang agak lengket di kulit, tapi terasa licin ketika digosok, dan bau khas vagina pun makin tajam. Tapi tampaknya Veny menyukai servisku, jadi kuteruskan jilatanku, demi untuk menyenangkannya.

Kujilati sepuas-puasnya seisi selangkangan Veny sampai bersih. Lidahku bergerak lincah dan keras di tengah-tengah bibir kemaluannya. Dan ketika lidahku mengayun dari bawah ke atas hingga tepat jatuh di bagian daging kecil yang agak menonjol, hmm ini pasti yang namanya klitoris pikirku, Kujepit klitorisnya dengan jariku dan menggosoknya, lalu lidahku menjilatinya tanpa kompromi.

“Hmm ya, disitu Ran… “ erang Veny pelan.

Ia kini sudah tak bisa diam. Badannnya seperti gelisah dan bergeser-geser ke kiri-kanan.Tangannya membelai-belai kepala dan rambutku dengan lembut, dan kulihat ia sedikit menggigit bibirnya. Apalagi ketika aku memasukan lidahku sedalam-dalamnya ke liang vagina Veny, lalu menggerakkan lidahnya dengan liar, memutar dan menggaruk-garuk dinding vagina miliknya.Mungkin ada sekitar 10 menit aku menjilati vagina Veny.

“Ven, gantian dong, pegel nih” kataku.

“Ya udah, ayo” katanya sambi menegakkan tubuhnya. Akupun berdiri dan menurunkan CD-ku dan membukanya. Tangan Veny pun mengelus penisku yang sudah sangat tegang, badanku sempat tersentak ketika merasakan sentuhannya. Seumur hidup baru kali ada orang yang menyentuh alat vitalku.

Veny terus memegang penis saya. Ia genggam perlahan dan mulai mengocoknya dengan lembut. Dan perlahan ia tuntun penisku ke wajahnya, akhirnya penisku masuk juga kedalam mulutnya dengan perlahan dia mulai menjilati penis saya. Rasanya luar biasa, hangat basah, agak-agak geli, tapi nikmat.

Matakupun terpejam, dan lututku terasa lemas. Apalgi ketika mulut dan lidah Veny mempermainkan testisku, lalu naik dan mengemut kepala penisku dengan cukup keras.

Aku yang sudah berusaha menahan erangan, tidak sanggup lagi, dan…

“Aakkhh…, aakkhh… Ven”, sambil membelai-belai rambutnya yang indah.

Hisapan Veny terus berlanjut, kali ini disertai gigitan kecil dan garukan dengan giginya, penisku rasanya bertambah gatal, semakin digaruk justru semakin gatal, siksaan nikmat ini sungguh terlalu dashyat buatku yang baru pertama kali ini merasakan yang namanya oral seks. Kepala penisku pun berdenyut-denyut berusaha membendung sesuatu yang mendesak keluar.

“ven, stop, stop… “ kataku sambil menepuk pundaknya. Jangan sampai aku keluar secepat ini.

“Napa Ran?” katanya sambil tersenyum menggodaku.

“Lah ni anak… “ kataku gemas.

Aku langsung menubruknya sambil menariknya hingga menindihku diatas kasur. Aku menarik kepalanya dan langsung melumat bibirnya, tak lupa lidahku ikut bermain mengeksplorasi rongga mulutnya.

Tak lama aku menghentikan ciumanku dan memandang kedua bola matanya dengan tatapan serius.

“Sayang… mulut kamu kok bau titit” kataku, membalas ledekannya yang tadi.

“Hmm mulut kamu juga bau meki” balasnya. Dan kami berdua pun tertawa cekikikan layaknya anak kecil yang sedang bermain.

Tanganku kembali meremas-remas kedua payudaranya yang putingnya sudah semakin tegang. Dan sewaktu tangan kananku turun ke liang kemaluannya dan memainkan jari-jariku di sana.diapun mendesis, “Aahh…, aahh…, aahh…, aahh”,
Jariku pun telah basah kuyup, tandanya ia telah siap. Aku lalu menariknya kesamping dan berbalik menindihnya. Pertama-tama aku meraih kotak berisi kondom yang kuletakkan begitu saja diatas meja rendah disebelah kasur. Kubuka bungkusnya dan kukeluarkan lingkaran karet dari dalam bungkus itu. Aku menempelkan ujung lingkaran itu di kepala penisku dan menggulungnya kebawah, hingga kondom itu menutupi seluruh batang penisku, spermisida yang melapisi kondom itu sempat mengganggu jari-jariku jadi kusapukan saja ke seprai kasur.

Kugenggam penisku dan kuarahkan menuju liang vaginanya, kusodok pelan-pelan tapi tidak mau masuk-masuk, kepala penisku akhirnya hanya menggesek-gesek clitoris dan bibir kemaluan Veny. Tapi aku terus berusaha, hingga akhirnya dengan perlahan-lahan kepala penisku menerobos masuk membelah bibir vaginanya, ia sediit meringis dan merintih.

“Napa say? Mau aku lebih pelan-pelan?” kataku hati-hati karena takut menyakitinya.

Ia menggigit bibirnya sambil menganggukkan kepala.

Veny memang sudah tidak perawan, tapi tetap saja vaginanya baru sekali saja dimasuki penis, hingga meski vagina itu sudah sangat basah itu, akan tetapi masih terlalu sempit, meski ukuran penisku rata-rata saja.

Akhirnya aku menekan pantatku pelan- pelan menancapkan peniskuy itu semakin dalam. Veny kembali merintih, jadi aku kembali menciuminya untuk menenangkannya. Hingga akhirnya seluruh batang penisku amblas ke dalam liang vagina Veny.

“Arghhhh…!” erang Veny dan aku hampir bersamaan

Aku merasakan betapa nikmatnya jepitan vagina itu, hangat, basah dan berdenyut-denyut, seperti memijat-mijat penisku,belum pernah aku merasakan sensasi ini sebelumnya, kepalaku langsung terasa pening, terlalu nikmat rasanya.

Aku kembali memegang payudaranya dan kuremas-remas secara perlahan, sementara mulutku menciumi mulut, pipi, dan lehernya, sementara Veni memegang pinggangku. Kutarik pelan-pelan penisku lalu kumajukan lagi tarik lagi majukan lagi, begitu seterusnya berulang ulang. Veny pun makin keras mendesis, “Aahh…, ahh…, ahhkkhh…” akhirnya ketika kurasakan bahwa penisku mulai turun naik dengan lancar, aku pun dengan menggebu-gebu memompakan penisku ke dalam liang vagina Veny. Goncangan dari tubuhku membuat tubuh mungil Veny agak terlonjak-lonjak, payudara nya pun bergoyang-goyang mengikuti irama genjotanku. Akhirnya kusambar sambil terus kuremas-remas payudaranya itu.

Dengan tak kuasa menahan diri, dari mulut kami berdua terdengar erangan tertahan. Rasa nikmat kini telah merambat dari daerah bagian bawah badan, naik keseluruh keseluruh tubuhku, rasa panas yang merambat naik, luar biasa indah. Perlahan-lahan perasaan nikmat yang kurasakan melingkupi segenap kesadaranku, sejenak aku lupa segalanya, kecuali untuk terus bergerak, menggesekan alat vital kami. Lupa diri…

Erangan Veny pun berubah menjadi desahan-desahan pendek seperti orang tercekik, badannya telentang pasrah dan bergoyang-goyang mengikuti irama genjotanku. Ia seakan-akan pingsan dengan kedua matanya terkatup. Ingin kubilang bahwa kami bersenggama selama berjam-jam, bagaimana aku begitu perkasa dan membuat Veny menjerit- jerit. Tapi jujur saja, aku hanya mampu bertahan 15 menit saja.

Sungguh sulit untuk menggambarkan perasaan yang menyelimutiku saat itu, akan tetapi badanku serasa melayang-layang dan suatu perasaan nikmat yang tidak dapat dilukiskan terasa menyelimuti seluruh badanku, sampai suatu saat perasaan nikmat itu tidak dapat dikendalikan lagi serasa menjalar dan menguasai seluruh tubuhku dan tiba-tiba meledak membanjir keluar berupa suatu orgasme yang dahsyat yang mengakibatkan seluruh tubuhku berkedut-kedut tak terkendali, badanku serasa ditarik-tarik tangan tak terlihat, tapi justru terasa nyaman luar biasa.

Aku hanya bisa memejamkan mataku dan memeluk tubuh Veny erat-erat. Hingga akhirnya gelombang orgasme itu lewat, dan desahan panjang pun keluar dari mulutku.

Veny masih belum orgasme, ia menatapku dengan pandangan memohon, jadi dengan berbaring miring disebelah tubuhnya, aku segera memasukkan kedua jariku kedalam vaginanya

Dengan agak cepat aku terus menggerakkan kedua jariku maju mundur dengan cepat dan keras, sesekali jempolku menjepit klitorisnya dan mengosoknya dengan agak keras, dan hanya beberapa menit kemudian.
“…Rannn…, aaauuuggghhh…, hhhhmmmppp….!!”, dengan segera kulumat bibir indah Veny yang setengah terbuka itu. Sepertinya ia telah mencapai orgasme.

Matanya terpejam dan nafasnya turun naik beraturan. Aku masih berbaring miring dengan kepala ditopang. Aku ingin menatap terus wajah Veny yang seperti ini. Amat damai, rileks, tersenyum bahagia. Ingin rasanya aku mengecupi butir-butir keringat yang membasahi dahi dan pipinya, memantulkan cahaya seperti glitter, ingin kubakar saja pemandangan ini dibelakang bola mataku, supaya bisa kunikmati selalu.

Perlahan ia membuka kedua matanya, tampak bercahaya. Tak kuragukan jika saat ini ia merasa bahagia, aku juga.

“ I love you ” bisikku pelan.

“ Love you too ” balasnya sambil mengalungkan kedua lengannya keleherku dan menarik kepalaku, hingga aku mencium bibirnya yang lembut.

Mungkin suatu hari nanti kami akan saling membenci, kami akan saling memaki, dan mengutuki peristiwa hari ini. Tapi saat ini… di kamar ini… yang ada hanya rasa bahagia, bahkan mungkin cinta.

********

Kami membersihkan diri di kamar mandi (di kost-an ku semua kamar memiliki kamar mandi masing masing didalam), dan sedikit bermain air dengan saling menyiram. Setelah selesai, kamipun berpakaian, dan kulihat jarum jam sudah menunjukkan waktu jam 8 malam. Aku membuka pintu dan Veny melangkah keluar.

Kost- kost ini memiliki 20 kamar yang berderet mengapit sebuah lapangan kecil berlantai semen, dimana ditengah lapangan itu terdapat sebuah meja tenis, dan kursi kursi, dimana anak-anak kost selalu nongkrong dan mengobrol. Malam itu juga teman-teman kost ku sedang berkumpul, semuanya ada 10 orang.

Ketika melihat kami keluar kamar, beberapa orang bertepuk tangan dan menyorakiku, sebagian lagi mengedipkan mata dan mengacungkan dua jempol kearahku. Tahu sama tahu, apa yang baru saja kuperbuat dengan Veny didalam kamar.

“ Apaan sih! Berisik ah! Biasa aja, biasa.. ” kataku dengan wajah yang pasti semerah udang rebus.

Veny yang wajahnya juga memerah mempercepat jalannya menuju gerbang rumah kost, tempat mobilnya terparkir. Ia membuka pintu mobil, dan sebelum masuk ia berbalik dan menatapku, ia hendak mengatakan sesuatu tapi tidak jadi. Aku juga tak tahu harus bilang apa, jadi aku hanya bisa tersenyum bego.

“ Dahh… “ kata Veny sambil melambai dari balik kemudi mobilnya.

Aku balas melambai, dan mobil itupun berjalan pergi, meninggalkan jejak debu dibelakangnya. Aku berbalik dan menuju lapangan meja tenis, sambil menulikan telinga mengantisipasi serangan verbal yang pasti akan menyerbuku.

********

Sayangnya hubungan kami akhirnya putus ditengah jalan. Setelah dua tahun lebih kami berpacaran, kami akhirnya putus. Ingin rasanya kubilang bahwa putusnya kami karena tidak mendapat restu dari orang tua, atau karena kami berbeda agama, atau mungkin karena ada orang ketiga. Ingin rasanya kubilang…

Tapi kenyataannya, aku sendiri sudah tidak ingat mengapa kami putus. Yang kuingat adalah aku bertieriak padanya, dan ia berteriak padaku, aku memakinya dan ia balas memakiku. Dan begitu saja kata putus terlontar dari mulutku. Ia menatapku sejenak, lalu membalikkan badan and just walk out of my life. Sama mudahnya seperti ketika jadian dulu, beberapa pertukaran kata dan kamipun putus.

Setelah 4 tahun kuliah, Veny akhirnya lulus, sementara aku masih berkutat dengan skripsiku. 6 bulan setelah ia lulus, anak-anak jurusanku yang masih belum lulus semuanya menerima undangan pernikahan dari Veny, semua kecuali aku. Bohong kalau aku bilang aku tidak peduli, dusta jika aku bilang tak sakit hati. Tapi toh itu semua sudah terjadi. Water under the bridge, kalo kata orang bule.

Aku tidak datang ke acara pernikahannya, aku juga tidak pernah melihat seperti apa wajah mempelai prianya, yang aku tahu 6 bulan kemudian bersama ratusan mahasiswa lainnya aku memakai toga dan diwisuda. Lengkap dengan ibu-ibu yang menangis dan kilatan lampu blitz yang menyinari wajah-wajah bahagia.

Life goes on… dan Veny, hanyalah menjadi satu bab dari cerita hidupku, seperti juga aku hanyalah menjadi satu catatan kaki dalam sejarah hidupnya.

By : Raito Yagami