Lunatic Bule

Dua minggu sudah Mickey, saudara dari Anthony dan Dhea berada di Indonesia. Setelah private party yang aku juga ikuti itu berlangsung, si bule gila itu sudah bolak balik Jakarta-Jogja untuk mengurus bisnisnya. Suatu malam ketika aku bersama dengan Anyssa kekasihku sedang berada disebuah kafe untuk merayakan selesainya Praktek Kerja Lapangan-ku, kami yang duduk di pojok ruangan tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah sapaan tepat dari belakang tempat dudukku. “Hai Adi! Apa kabar Adi.” Dan ternyata setelah aku menoleh kebelakang yang menyapaku adalah seorang bule yang sudah aku hapal mukanya, yaitu Mickey saudara dari Anthony.

“Hai Mick. How are you?” balasku dan setelah melihat dia mengerutkan dahi aku jadi sadar kalau bahasa Inggris Mickey sangat terbatas, maklum orang Belanda. Dia tersenyum setelah sejenak berpikir mencerna kata-kataku barusan dan membalasnya, “Baik, terima kasih.”

Kami kemudian bercakap-cakap sejenak dan terputus ketika kekasih Mick, Viola datang dan duduk didepannya. Sepertinya tempat ini menjadi pilihan mereka berdua untuk hang out. Maklum saja karena kafe ini memang sering dikunjungi oleh bule karena lokasinya berdekatan dengan hotel-hotel internasional tempat dimana para wisatawan asing sering menginap. Dalam percakapan kami seringkali aku tidak sadar dan menatap kearah kaus yang dipakai oleh Viola yang berbelahan dada rendah itu. Terlihat buah dadanya sangat besar seukuran 38A mungkin. Bule perempuan ini memang bertubuh proporsional karena dengan badan sesintal itu dan payudara sebesar itu diimbangi dengan tinggi badan sekitar 175 cm jadi wajarlah kalau Mickey tertarik kepadanya. Sepertinya Mickey menyadari bahwa Viola sering aku perhatikan buah dadanya sehingga pada suatu waktu dia bercanda dengan menghalangi pandanganku dengan gelas wine sembari tertawa. Kedua gadis itu tak ada yang sadar apa yang membuat Mick tertawa tetapi aku sadar betul dan sempat malu dibuatnya.

“Well…have a nice night dude. Aku pergi dulu. Omong-omong besok datanglah ke spa di hotelku sekitar jam 4 sore. Aku ada sesuatu yang mau kuberikan kepadamu. Sebuah gift dari Holland…after all kamu adalah teman dari kedua sepupuku. Came OK…” katanya saat akan meninggalkan kafe bersama Viola. Aku hanya menjawabnya dengan senyuman ringan.

Besoknya di jam yang telah ditentukan, aku pergi kesebuah hotel tempat Mickey menginap dan memasuki ruangan spa di hotel tersebut. Sepertinya Mickey sudah berada didalam dan sudah hampir selesai. “Well dude. Kamu mau spa? Came on. Aku masih memiliki dua kupon spa gratis dari hotel.” Tawarnya tapi aku menggeleng karena jujur saja aku tidak begitu familiar dengan spa apalagi jam 6 sore nanti aku mempunyai janji dengan Virna, dosen pengawasku untuk Praktek Kerja Lapangan. Memang Michael ini suka sekali dengan spa selama di Indonesia. Menurutnya disini pemijatnya lebih pandai daripada dengan di negeri asalnya ditambah lagi aroma therapy nya juga jarang dijumpai di Belanda. Yang jelas disini spa harganya hanya sepersepuluh jika dibandingkan dengan harga spa di Belanda.

Setelah menunggu sekitar 5 menit, Mickey akhirnya selesai dan mengajakku ke kamarnya. Kamar nomer 215, setelah kubuka ternyata sebuah suite yang cukup mewah dengan satu tempat tidur besar dengan bathtub dan Jacuzzi didalamnya. Luar biasa dan aku yakin ini salah satu kamar termahal yang dimiliki hotel ini. “Here you go. Ini buat kamu. Jacket buatan Giordanno Buffe, asli dari Paris. Hope you like it buddy.” Katanya sambil menyerahkan jaket kulit tersebut kepadaku. Ini benar-benar hari mujurku, aku pernah melihat jaket ini ditawarkan di E-bay dengan harga lebih dari 1200 Euro (silahkan kalikan sendiri dengan kurs Euro saat ini).

Setela berterima kasih dan chatting basa-basi akhirnya Mickey memulai pembicaraan yang serius. Raut mukanya berubah dari yang sebelumnya penuh canda tawa menjadi terdiam, hening walaupun tetap rileks. “Well, ada yang ingin aku katakan kepadamu tapi aku tidak tahu apakah kamu bersedia atau tidak.” Katanya penuh misteri.

“Katakan saja. Kalau aku bisa akan aku usahakan.” Dalam hati aku juga penasaran dengan apa yang ingin dia katakan kepadaku.

“Well, kamu sudah lihat khan kekasihku, Viola? Menurutmu dia cantik tidak? Umurnya baru 26 tahun lho.” Kata Mickey kepadaku dan terang saja itu membuat diriku agak kaget juga walaupun akhirnya keluar juga pengakuan dari mulutku kalau dia cantik dan seksi. Mendengarkan pengakuanku sepertinya Mickey senang dan dia tersenyum lalu mendekatiku. “Jangan marah dahulu ya. Aku punya angan-angan nih gimana kalau kita mengadakan pesta seks lagi seperti dulu.” Kali ini aku bisa melihat sinar matanya seperti berbinar-binar bak lentera yang kelebihan minyak.

“Aku sih mau-mau saja. Aku akan hubungi Micha, aku sudah dapat nomor teleponnya kok. Don’t worry my friend.” Sahutku tetapi Mickey memotongnya.

“Ne…ne…ne. That’s not what Ike means. Thou are wrong idea my friend (memang bahasa Inggrisnya kacau balau, ini sudah seotentik mungkin dengan perkataan aslinya). Yang Ike mau katakan adalah kita swing party saja. Aku membawa kekasihku begitu juga dengan kamu. Tidak ada call girl-nya dude.” Sahutnya memperjelas maksudnya dan itu membuatku tersentak juga. Ternyata bule gila ini juga punya usulan yang sama gilanya juga. “Tetapi jangan mengatakannya ke Anthony karena dia bakalan marah kalau diajak ikut karena kekasihnya terlalu dia lindungi. Nanti tidak asyik lagi. Bagaimana menurutmu?” Mickey agak was-was juga menanti jawaban dariku mungkin dia takut kalau aku sampai marah dan membuatnya menjadi serba salah mengingat kami baru saja kenal.

“Memangnya siapa saja yang mau ikut? Apa hanya kita berdua?” tanyaku penuh selidik kepada Mickey. Dia mengangguk. “Untuk sementara baru kita berdua karena Robin tidak membawa pacarnya ke Indonesia. Perempuan itu masih takut dengan berita mengenai bom-bom dikawasan Asia. Dia pikir kalau di Indonesia itu seperti Vietnam, penuh dengan ranjau dimana-mana. Tapi rencananya nanti aku akan membawa salah seorang kolegaku yang kebetulan akan kesini bersama dengan istrinya untuk bersenang-senang dan join dengan kita. Tapi dia warga negara Jepang, semoga saja kamu tidak keberatan.” Mickey melanjutkan dan menunggu jawabanku.

Aku berpikir bahwa selama ini Anyssa juga sudah tidur bukan hanya denganku tapi denan banyak pria baik dalam acara swing patner maupun saat dia selingkuh dibelakangku dengan dua orang pria sebelum akhirnya ketahuan olehku. Membayangkan Anyssa bakal dikerjai seorang Bule membuatku jadi sedikit merinding juga mengingat batang kemaluan bule tersebut sangat besar. Panjangnya saja aku perkirakan 23-25 cm. Tapi setelah membayangkan Viola aku jadi bernafsu juga. Akhirnya aku menyanggupi tawaran dari si bule tersebut. Mickey nampak sangat senang dan hari yang dijadwalkan adalah besok malam karena besok adalah hari Sabtu sehingga Anyssa tidak ada kelas kuliah sama sekali dan dia pasti mau dengan tawaran ini jika aku yang menyuruhnya karena dia masih terikat dengan rasa takutnya kalau-kalau aku memutuskannya, mungkin dia lebih takut kalau aku menyebarkan foto-foto dan rekaman mesra dirinya denganku atau dengan orang lain walaupun aku tidak pernah mengancam dirinya dengan hal tersebut.

Hari berikutnya pada malam hari sekitar jam 7 malam aku datang kekamar Mickey yang sudah ditata sedemikian rupa dengan tambahan extra bed yang ditaruh dibagian bawah dekat dengan sofa dan mini bar. Malam sebelumnya Anyssa sempat protes saat mendengar acara ini namun segera terdiam ketika dia sadar posisinya berada di tempat yang lemah.

Aku melihat Viola mengenakan baju tidur terusan warna biru tua tanpa lengan dan rambut pirangnya terlihat terurai sebahu. Benar-benar sangat cantik dan seksi. Apalagi ketika pahanya yang tidak tertutup gaun tidur tersebut tersingkap ketika dia berjalan dan duduk, membuatku menjadi panas dingin. “Silahkan duduk semuanya. Well, perkenalkan ini Viola. Kalian pernah bertemu dengannya di kafe.” Mickey mencoba mencairkan suasana. “Oh iya, kalian mau minum apa? Aku sudah memesan champagne dan bourbon with gin, kalau kalian mau. Atau lebih suka black label?” tawarnya kepada kami.

Sembari menenggak champagne kami berempat terlibat percakapan yang cukup seru, ternyata Mickey adalah seorang ice cracker (sebutan bagi orang yang pandai memecah kebuntuan dalam pembicaraan, istilah yang sering dipakai di Amerika). Ditambah lagi dengan Viola yang ternyata mahir berbahasa Inggris sehingga percakapanpun bisa saling menimpali satu sama lain.

Sekitar satu jam kami berempat mengobrol sembari minum champagne yang akhirnya habis beserta sebotol black label. Aku dapat melihat baik Viola maupun Anyssa sudah tipsy dan dalam tiap candaan Mickey sudah berani merangkul Anyssa yang sudah melepaskan jaket dan tinggal mengenakan kaus tanpa lengan itu. Mickey lalu memposisikan duduknya berada didekat Anyssa sementara aku diberinya kode untuk mendekati Viola yang sudah mulai bicara ngaco dalam bahasa Belanda (jangan suruh aku menterjemahkannya yach…^_^).

“Kamu benar-benar gadis yang cantik Anyssa. Pesona gadis Indonesia berada ditubuhmu dan wajahmu. Awesome.” Kata Mickey sembari merangkul bahu Anyssa lebih erat dan kali ini salah satu tangannya sudah berani mengusap-usap paha Anyssa yang saat itu mengenakan jeans. Anyssa yang sudah tipsy karena banyak minum itu tidak menghiraukan tangan nakal Mickey yang sekarang sudah menyusup kedalam kausnya dan menyibakkan kaus yang dipakainya bersama dengan bra yang dia pakai. Kontan saja payudara Anyssa yang putih mulus itu mencuat keluar dari sarangnya. Mickey tertegun sejenak lalu dengan lembut tangannya meraba payudara Anyssa dan meremasnya pelan-pelan. Saat Anyssa sudah setengah sadar dan mengarahkan tangannya untuk mencergah tangan Mickey, mulut Mickey langsung menciumi leher kekasihku itu dari bawah hingga bagian telinga. Sepertinya bule satu ini tahu benar kelemahan wanita. Dan tak berselang lama, Mickey lalu melumat bibir mungil Anyssa yang sudah tidak memberikan perlawanan sama sekali bahkan terkesan menikmati ciuman dan remasan tangan Mickey pada kedua payudaranya. Tubuh gadis itu limbung dan jatuh keatas extra bed yang ditaruh diatas lantai.

Belum sempat aku berpikir lebih lanjut, tiba-tiba Viola mendekatiku dan menciumiku habis-habisan. Bule cewek ini benar-benar sudah bernafsu sepertinya. Leher, telinga dan bibirku dilumat habis oleh Viola yang ternyata mahir dalam hal ciuman mulut. Sembari berciuman dan saling memagut satu sama lain, aku melucuti pakaianku sementara Viona juga demikian. Buah dadanya yang besar itu terlihat jelas sekarang dan dapat kusentuh dengan tanganku. Viola mendesah-desah tiap kaii jemari kedua tanganku meremas payudaranya dan bibirku melumat putingnya dengan sedotan dan jilatan. Payudara Viola yang putih mulus itu sekarang sudah bebercak merah akibat sedotanku dan hisapanku yang kencang pada payudara tersebut. Belum lagi tubuh molek dara cantik ini membuatku menjadi semakin mabuk kepayang. Bulu kemaluannya yang lembut menutupi vaginanya yang sudah basah akibat rangsangan dank arena dia sudah tipsy sedari tadi. Saat kami sedang berpagutan tiba-tiba ada sebuah tangan yang mencengkeram penisku yang sudah tegang itu dan mengocoknya dengan cepat. Ternyata Viola telah tak tahan setelah 10 menitan dia foreplay denganku di tempat tidur yang besar itu. Lalu dengan sedikit memaksa dia mengarahkan batang kejantananku tersebut kearah liang vagina miliknya. Aku tahu benar kalau bule perempuan ini sudah tidak tahan lagi dengan rangsanganku dan ingin segera dieksekusi.

“Pleaseee…hit me now!” pintanya memelas dengan wajah yang sudah merah padam penuh dengan nafsu membara. Lalu dengan posisi women in top dia memasukkan batang kejantananku kedalam lubang kemaluannya yang sudah merah dan basah itu. Lalu dengan posisi vertical, Viola mulai menekan dan melesakkan batang kejantananku kedalam liang senggama miliknya. Dengan ukuran batang kemaluanku yang lumayan besar ini ditambah dengan kejadian aneh yang membuat batang kemaluanku bertambah besar hingga sekarang tinggal berselisih sedikit dengan ukuran batang kemaluan Mickey membuat vagina Viola agak susah juga dimasuki, namun karena gadis ini sudah biasa dengan penis besar dari dulu maka tak makan waktu lama untuknya memasukkan seluruh penisku kedalam vagina miliknya. Dengan semangat gadis ini menggoyangkan pinggulnya untuk mencapai kepuasan atas diriku.

Sesekali pinggulnya dihentak-hentakkan secara vertical sehingga beberapa kali batang kemaluanku nyaris keluar dari sangkar hangatnya itu. “Oh yes…you are so great baby. I never found any Asian penis like yours. Its bigger than when I have one night in Bali.” Racau Viola sembari terus memompa penisku dengan himpitan vagina miliknya. Payudara gadis ini berguncang-guncang saat aku meremasnya. Viola begitu liar, pantas saja sebelum aku pergi kemarin Mickey mengatakan untuk bersiap-siap minum Viagra karena Viola tidak mudah dipuaskan.

“Viola my baby. You’re so great too babe.” Balasku sembari melakukan gerakan aktif menusuk keatas dengan cepat sehingga membuat batang kemaluanku menyentuh dinding rahimnya. Gadis cantik ini berteriak dan meciumku bibirku dalam-dalam.

“Damn. You are fuckin’ good honey. Hit me more like before.” Ucapnya meminta lebih dan aku sanggupi dengan melakukan tusukan seperti barusan yang kembali berulang dan berulang hingga Viola mengejang dan otot vaginanya mencengkeram penisku dalam-dalam. Seiring dengan ciuman bibirnya aku tahu kalau gadis ini sedang mengalami orgasmenya. 10 menit setelah penetrasi dan hanya dengan satu gaya. Sepertinya perkataan Mickey tentang Viola tidak mudah dipuaskan adalah salah karena sekarang dia sudah mengalami orgasmenya yang pertama.

Sementara itu Mickey masih belum bercinta dengan Anyssa dan dia hanya menstimuli bibir, payudara dan bagian sensitive Anyssa yang lain. Sepertinya Mickey sedang berusaha mengatahui G Spot dari Anyssa. Mereka terduduk di sofa besar dan sedari tadi menonton persenggamaanku dengan Viola sembari melakukan foreplay. Sekarang tangan Anyssa sudah berani mengocok batang kemaluan Mickey yang besar dan sudah tegak menantang itu dengan panasnya sementara Mickey sendiri duduk dibelakang Anyssa dan memangku diperutnya sehingga kini batas jarak antara batang penis Mickey dengan bibir vagina Anyssa begitu dekat bahkan sesekali Mickey menggesek-gesekkan batang kemaluannya kearah bibir vagina kekasihku itu.

Mendapat perlakuan seperti itu dari Mickey kontan saja wajah Anyssa memerah menahan gejolak nafsunya yang sudah tak tertahan lagi, sesekali keluar desahan sensual dari bibir mungilnya itu. “Akhh…akhh…” desahnya ketika klitorisnya bersentuhan dengan batang kemaluan Mickey yang besar itu ketika pria bule ini menggesek-gesekkan penisnya di bibir vagina Anyssa. Belum lagi dengan remasan tangan Mickey di kedua payudara Anyssa yang menurutku sudah bertambah besar ukurannya dibandingkan dari pertama kali aku melihat buah dadanya itu.

Masih di sofa dengan posisi memangku Anyssa dari belakang, Mickey sekarang sudah mulai menusuk-nusukkan batang kejantanannya kearah bibir luar vagina Anyssa. Sepertinya tadi dia bersama pacarku itu sengaja menonton acara persetubuhanku dengan Viola dan sekarang mereka ingin memberikan pertunjukan tandingan. “Akhh..sakit…” jerit Anyssa ketika batang kemaluan Mickey menyeruak masuk kedalam bibir vaginanya dan dalam hitungan detik saja kepala kemaluan Mickey sudah terbenam seluruhnya di liang senggama pacarku itu.

Kedua tangan Mickey menarik kedua paha Anyssa sehingga mengangkang lebih lebar disbanding tadi dan kembali memberikan sebuah tusukan dahsyat kearah bibir kemaluan kekasihku itu. “Aku masukkan penisku ya Anyssa. Tahan dulu sebentar yah.” Kata Mickey sembari meneruskan penetrasinya walaupun Anyssa menjerit-jerit pelan menahan rasa sakit. Lalu entah karena kerasukan setan apa, Mickey yang tadinya lembut tiba-tiba beringas dan mendorong pinggul Anyssa kebawah sehingga memaksa bibir vaginanya membuka lebih lebar dan menyodokkan batang kejantanannya dengan keras kearah atas menembus labia minora kekasihku dan sekarang ssparuh dari batang kemaluan pria bule ini sudah menancap kuat di liang kemaluan kekasihku itu.

“Akhhh…sakittt!!!” seru Anyssa tapi sekarang Mickey sudah memelankan sodokan penetrasinya. Terlihat air mata meleleh dari kedua pelupuk mata Anyssa yang bening itu. Dia sepertinya menahan rasa sakit yang cukup hebat ketika Mickey memaksa bibir kemaluannya membuka lebar menerima sodokan batang penis sang bule yang berukuran raksasa (untuk ukuran Indonesia) itu.

Tubuh kecil Anyssa tiba-tiba terangkat keatas dan Mickey-pun berdiri sembari mengangkat seluruh tubuh Anyssa yang masih dalam posisi mengangkang dari belakang dan merebahkan tubuhnya di kasur besar yang berada diatas. Diposisikannya Anyssa tepat disamping tubuhku sementara itu dengan posisi berubah menjadi doggy style tanpa mencopot penetrasinya, Mickey kembali meneruskan proses penetrasinya yang sudah setengah jalan itu. Aku dapat melihat jelas vagina Anyssa yang bibir kemaluannya separuh melesak masuk bersamaan dengan masuknya penis raksasa Mickey kedalam liang kemaluannya.

Saat aku sedang terlena melihat pemandangan erotis disampingku itu, tiba-tiba penisku terasa hangat dan basah. Ternyata Viola sudah memperoleh kembali tenaganya yang sempat hilang lima menit yang lalu akibat orgasmenya yang pertama. Dengan dibantu kedua tangannya yang mulus itu dia melakuka oral seks kepada batang kemaluanku dan dengan rakus dia mengulum penisku sembari memaju mundurkannya perlahan sementara kedua tangannya mempermainkan buah pelirku. Permainan lidahnya di ujung kemaluanku membuatku semakin turn on saja. Gadis bule ini benar-benar tahu cara melakukan oral seks.

“You are so great Adi. I want to be fucked by you more and more. I like your dick, its so strong and hard, harder than dick of my people…” racaunya Viola sembari bercampur dengan bunyi kecipak air liurnya yang bercampur dengan cairan kejantananku yang dilumatnya dengan bibir seksinya itu. Wajah cantiknya itu menjadi semakin seksi saja kulihat saat dia menjilati batang kemaluanku dan menghisapnya sembari mengocoknya didalam mulutnya, wajahnya mirip dengan bintang film Moira Kelly dari Eropa hanya saja dengan potongan rambut model Lindsay Lohan.

“Arghh…” seru suara gadis disampingku. Ternyata Anyssa menjerit tertahan ketika batang kemaluan Mickey berhasil menjebol seluruh pertahanan kemaluannya. Sekarang seluruh penis Mickey sudah tertanam didalam liang senggama kekasihku itu. Aku tak habis pikir dengan apa yang dirasakan oleh Anyssa mengingat jelas-jelas batang kejantanan Mickey lebih panjang dibandingkan dengan milikku, setidaknya selisih 3-4 cm dari milikku yang sedang membengkak secara misterius ini. Mata Anyssa membelalak dan dia menggigit bibir bawahnya ketika Mickey mulai menggenjotnya pelan-pelan.

Batang bule raksasa itu secara rutin dan pelan-pelan bergerak maju mundur pelan-pelan melolosi bibir vagina Anyssa yang sudah merah padam karena gesekan tak henti-henti barusan. Walaupun sudah sangat basah tetapi tetap saja menerima penis seukuran raksasa itu membuat bibir vagina Anyssa seolah robek. Dengan tetap menggunakan posisi doggy style, tiap kali Mickey menarik batang kemaluannya dari liang kewanitaan Anyssa, gelambir di bagian dalam labia minora Anyssa ikut keluar sebagian dan setiap kali Mickey mendorong maju batang kemaluannya, gelambir itu ikut masuk melesak bersamaan dengan gesekan batang kemaluan bule tersebut.

Desahan demi desahan keluar dari mulut Anyssa sementara itu aku memposisikan Viola dengan posisi doggy style bersebelahan dengan Anyssa. Dalam hitungan detik aku sudah kembali menjarah liang kemaluan gadis bule ini untuk menuntut hak diriku untuk dipuaskan yang tadi belum terlaksana. Sembari meremas-remas payudara besar Viola yang menggelantung bebas kebawah, aku mempercepat intensitas sodokanku keliang kemaluannya. “Ohh…shitt…do me baby…do me more…!” racau cewek bule ini sembari mencium paksa bibir Anyssa yang sedari tadi wajahnya tertunduk.

Ciuman tersebut sepertinya menggugah gairah birahi Mickey yang masih terpendam dan sekarang si bule ini menyodok vagina Anyssa dengan lebih brutal dari sebelumnya dan sudah berani mengeluarkan kata-kata teaser (godaan) kepada kekasihku itu. “Kamu suka sayang? Vagina kamu benar-benar sempit. Rasanya seperti memperkosa dirimu yang mungil ini, menyenangkan. Shit akhh… benar-benar nikmat.” Seru Mickey sembari meremas-remas payudara Anyssa hingga memerah keduanya.

Seolah berlomba denganku yang sedang memompa kemaluan Viola, Mickey mempercepat gerakan sodokannya sembari kadang menoleh kearahku dan tersenyum, entah apa maksudnya. Sesekali dia keluarkan batang kemaluannya dari liang kemaluan kekasihku sehingga aku dapat melihat bibir vagina Anyssa yang sudah membentuk lubang menganga peninggalan penetrasi penis raksasa Mickey. Klitorisnya pun membesar dari sebelumnya dan cairan kewanitaannya membeludak sehingga membasahi sprei dan spring bed. Lalu dengan gerakan gesit Mickey kembali menusukkan batang penisnya untuk masuk lagi kedalam liang kemaluan kekasihku itu sembari melenguh kencang, begitu berulang-ulang setidaknya hingga sepuluhan kali. Hal ini sepertinya membuat Anyssa lepas kontrol dan mencapai orgasmenya yang pertama ditengah rasa sakit yang tadi dideritanya akibat penetrasi Mickey.

Sementara itu aku juga merasakan kalau Viola mengalami orgasme lagi padahal baru aku pompa dia selama 10 menit. Tapi sekarang aku tahu kalau Viola bukan kuat dalam hal menahan orgasme tetapi dia mampu memperoleh orgasme beruntun secara berulang-ulang (multy orgasm). Pantas saja Mickey mengatakan kalau gadis ini tidak mudah puas. Bahkan setelah orgasmenya yang kedua, Viola tidak membutuhkan istirahat dan berbalik telentang sembari kembali tangannya menancapkan penisku di bibir vaginanya yang sudah menganga tersebut.

“Wow…you are really a slut in bed. Hahaha…”godaku kepada Viola dan diapun hanya tersenyum nakal lalu memelukku dari bawah sehingga sekarang kami melakukan gaya mercenary.
“Every women is a slut baby. You just need to find out when they at bed.” Balas dara bule ini lalu mencium bibirku dalam-dalam yang kubalas dengan tusukan keras batang kejantananku kedalam liang kewanitaan miliknya. “Damn. You are a naughty boy…hahaha…” candanya ketika tahu kalau liang kemaluannya kembali aku kerjai dengan keras. “Be careful, because my lover will take a revenge for me…see your girl friend, it will teared out by him.” Lanjut Viola sembari ujung matanya menunjuk kearah Mickey yang semakin brutal mengerjai Anyssa yang sekarang dalam posisi telentang dan ditindih tubuh besar Mickey.

Melihat kekasihnya aku kerjai dengan brutal, Mickey membalasnya dengan brutal pula. Anyssa yang bertubuh mungil itu tersentak-sentak oleh sodokan-sodokan penis raksasa Mickey namun tak berdaya untuk memposisikan dirinya agar rasa sakitnya berkurang karena tubuh mungilnya itu sedang ditindih oleh tubuh besar bule gila ini. “Damn…you are so good girl. So sluty and horny.” Lalu setelah selesai berbicara, Mickey kembali memompa vagina Anyssa sembari dengan bantuan kedua bahunya, Mickey mengangkat kedua tungkai kaki Anyssa.

Sepuluh menit dengan posisi mercenary ditambah dengan melihat pemandangan erotis disampingku membuatku tidak dapat menahan diri lagi dan akhirnya keluar juga spermaku membasahi liang kemaluan gadis bule cantik ini. Viola memelukku erat-erat sepertinya enggan melepasku pergi. Dengan kakinya yang mengapit pinggangku dara cantik ini menikmati orgasmenya yang ketiga dengan tubuhnya yang menggelinjang hebat lalu sepuluh detik kemudian dia terkulai lemas.

Sementara itu Anyssa sepertinya belum dapat beristirahat karena walaupun dia sudah dua kali orgasme tetapi Mickey belum mencapai klimaksnya. Bahkan sesekali dia mencuri cium Viola yang terkulai dalam pelukanku sementara batang kemaluannya tetap memompa vagina Anyssa. Selang beberapa saat, dengan kedua tangannya yang besar, Mickey mengangkat tubuh Anyssa sehingga berposisi setengah duduk walaupun tubuh atas nya masih condong kebawah lalu dengan berjongkok bertumpu dengan salah satu lututnya, Mickey mengangkat tubuh mungil Anyssa dan menyetubuhi kekasihku dalam posisi itu. Mau tak mau kedua tangan Anyssa mengapit leher Mickey agar kepalanya tidak mendongak berlebihan kearah bawah.

Peluh sudah membasahi tubuh Anyssa sementara Mickey belum ada tanda-tand akan mengakhiri persetubuhannya dengan pacarku itu. Sembari menyaksikan tontonan live show panas ini, Viola kembali bangkit tetapi tidak beranjak kearahku melainkan mengarah ke Mickey dan Anyssa. Dia lalu telentang dengan kepala tepat dibawah pompaan penis Mickey ke vagina Anyssa dengan tubuh berada dibelakang kekasihku. Lalu dengan panasnya Viola menjilati batang kemaluan Mickey yang saat itu masih menyodok-nyodok liang kewanitaan Anyssa dengan brutal. Sesekali gadis bule ini mengulum buah pelir

Mickey yang membuat pertahanan pria tersebut semakin rapuh. Apalagi kedua tangan Viola ikut-ikutan beraksi mempermainkan payudara Anyssa yang terguncang-guncang ketika dipompa oleh Mickey. “Wow… sure you are so tough Anyssa. You can hold your stamina until now. I was beaten by you sweetie.” Ucap Viola sembari terus mengerjai payudara dan klitoris Anyssa dari belakang sementara bibirnya tetap menstimuli buah zakar Mickey.

“Shit…I’m cuming, damn this good. Akhhh…” seru Mickey sembari menyemburkan seluruh cairan spermanya didalam liang kemaluan kekasihku, Anyssa. Sementara Anyssa sendiri juga mencapai orgasmenya yang ketiga gara-gara stimuli yang dilakukan oleh Viola. Tubuhnya menggeliat hebat dan beberapa saat kemudian lemas memeluk tubuh Mickey yang masih memangkunya dengan penis masih menancap di liang kemaluannya. Viola beranjak dari situ dan menggoda Mickey, “Wow. You have a big shot this time honey.” Candanya ketika melihat cairan sperma yang dikeluarkan oleh Mickey sangat banyak sehingga saat batang kemaluannya dicabut dari liang kewanitaan pacarku dari dalam liang vagina Anyssa mengalir keluar cairan putih kental yang sangat banyak bercampur dengan cairan orgasme milik Anyssa. Bibir vagina pacarku terlihat sembab merah gelap akibat benturan dan gesekan keras batang penis Mickey.

Anyssa lalu berbaring disebelahku dan memelukku erat. “Sayang. Kamu puas?” tanyanya kepadaku. Aku hanya mengangguk dan bertanya hal yang serupa kepadanya dan dia menjawab sembari menunjuk kearah penis Mickey yang masih separuh tegang. “Lumayan. Tapi sakit jadi susah menikmatinya. Lagian terakhir-terakhir tadi dia kasar. Sampai sekarang vaginaku masih sakit dan perih.” Rajuknya sembari mencium bibirku dengan hangat. Lalu kami berdua tertidur.

Sekitar jam dua malam aku dikejutkan oleh desahan-desahan seksi dari kamar mandi. Saat aku mencari Anyssa, ternyata dia sudah menghilang dari sampingku sementara itu Viola sendiri masih tertidur pulas disampingku menggantikan Anyssa dengan posisi tangannya memegangi kemaluanku yang basah lagi. Penasaran dengan kejadian di kamar mandi maka aku beranjak dan menuju kearah kamar mandi dengan telanjang bulat.