Lina yang Beranjak Dewasa

Hari ini merupakan hari kelulusan bagi para siswa SMU se-Jawa Tengah. Hal ini juga berlaku bagi Lina, adik Anyssa kekasihku. Dara cantik ini akhirnya memutuskan untuk kuliah di Jogja dengan alasan bahwa kakaknya berada di Jogja sehingga dia mempunyai teman.selama masih dalam tahap penyesuaian dengan lingkungan barunya.

Lina telah diterima di sebuah universitas terkenal di Jogja yang terkenal dengan jurusan Farmasi-nya sebelum dia lulus karena memang prestasi sekolahnya sangat bagus dengan ranking 1 tiap semester di kelasnya apalagi SMU tempat dimana di bersekolah adalah favorit bagi para orang tua karena telah banyak menuai lulusan berbakat dan berkualitas di kota S. bahkan sudah 8x mengirimkan kandidat untuk olimpiade matematika dan fisika tingkat nasional dan intenasional walaupun Lina bukan salah satu diantaranya. Belum lagi dengan hasil tes masuk universitas yang menyatakan bahwa pointnya jauh diatas batas minimum.

Well, enough about that. Cerita ini bermula dengan background dari seorang Lina yang notabene merupakan idola di sekolahnya. Banyak pria yang naksir kepadanya tetapi dasar gadis jahil, Lina hanya memanfaatkan pemuda-pemuda tersebut untuk kemudian ditinggalkan ketika dia sudah tidak mempunyai ketertarikan dengan pemuda tersebut atau sudah tidak membutuhkannya lagi. Contohnya saja adalah pemuda bernama Hendra yang menyukainya sejak hari pertama dia masuk sekolah. Mereka bahkan pernah pacaran waktu Lina berada di kelas dua tetapi putus begitu Lina naik ke kelas tiga SMU.

Terang saja Hendra shock berat karena dia sudah berusaha mempertahankan Lina dengan segala daya dan upaya. Hendra yang anak dari seorang pejabat di PT. Pertamina sudah sering memanjakan Lina dengan segala macam gift yang diberikannya tiap hari. Sebut saja coklat yang hampir tiap hari diberikannya kepada Lina, itupun belum termasuk makanan-makanan lainnya yang selalu ada untuk diberikan kepada pujaan hatinya itu. Walaupun sebenarnya dia tidak tahu kalau barang-barang tersebut seringnya dibagikan Lina kepada teman-teman cewek karibnya. Hal ini membuat Lina mendapatkan loyalitas dari teman-temannya karena selalu memberikan jajanan enak kepada mereka hampir tiap hari.

Tak cukup dengan makanan, Hendra juga membombardir Lina dengan gift lain yang cukup mahal seperti sepatu, kaus, jaket, jam tangan, tas ransel, tas jinjing, puluhan boneka yang selalu baru tiap minggunya dan belum lagi cincin dan kalung dengan leontin opal yang menjadi salah satu hadiah termahal yang pernah dia berikan kepada siapapun bahkan jika dibandingkan dengan pemberiannya kepada orang tuanya sekalipun. Tapi semua itu akhirnya hancur juga ketika Lina memutuskan untuk tidak memperpanjang hubungan cinta mereka lagi karena ada isu bahwa Hendra sudah dijodohkan oleh orang tuanya dengan salah satu kerabat jauhnya sendiri.

Malam itu di pesta perpisahan para pelajar SMU yang berada di bangsal sekolah, terlihat Lina bercakap-cakap dengan dua orang teman wanitanya. Sembari menenggak segelas Fanta merah ditangan, Lina terlihat sangat elegan dengan gaun warna pink tanpa lengan. Dengan potongan leher agak rendah dia bisa memamerkan kalung opal favoritnya yang tentu saja pemberian dari Hendra. Tanpa dia sadari dari kejauhan ada sepasang mata memperhatikannya dengan bermacam-macam emosi didalamnya. Cinta, benci, marah, malu, rindu dan berbagai macam emosi lainnya bercampur di benak dan jiwa orang ini. “Hai ngapain bengong. Hen, ayo kesini! Aku mau perkenalkan pacarku yang baru.” Sapa seseorang memecahkan lamunan sang pemilik sepasang mata tersebut.

“Hai Lina.” Sapa Hendra ketika bertemu dengan orang yang dituju. Kecut juga hatinya setelah tahu kalau temannya sekarang sudah menjadi kekasih Lina.

Pemuda yang bernama Soni tersebut lalu menepuk pundak Hendra, “Sori bos, aku nggak bilang sama kamu kalau aku sudah pdkt dengan Lina sebulan yang lalu. Lagipula khan kamu sudah putus lama jadi sebagai teman kurasa sudah tidak apa-apa donk ndeketin dia.” Soni kembali berucap namun kali ini belum sampai dia melanjutkan kata-katanya, sebuah bogem mentah sudah mendarat diwajahnya.
“Terus apa maumu nunjukin ini ke aku hah? Masih bilang kalo teman pula. Cuih!” umpat Hendra. Untungnya Lina cepat mencegat Soni ketika ingin membalas pukulan Hendra sementara Hendra sendiri sudah ditarik oleh kedua sohib karibnya untuk menjauh.

“Dasar anak cengeng. Mentang-mentang kaya aja langsung belagu. Salah sendiri kalau dia kalah saingan denganku. Dasar!” seru Soni kepada Hendra yang sudah menjauh dibalik kerumunan. Sesaat kemudian sebuah tamparan hinggap di wajahnya.

“Kamu ini nggak tau malu. Sejak kapan kita pacaran? Bikin aku malu aja. Baru juga dekat seminggu ini sudah omong besar kemana-mana.” Bentak Lina sembari ngeloyor pergi bersama kedua temannya yang ikut-ikutan mencibir pemuda ini.

“Lin tunggu! Aku mau kasih penjelasan!” seru Soni tapi tak digubris oleh Lina dan kedua temannya yang berlalu dibalik pintu bangsal utama menuju gang yang menghubungkan ruangan-ruangan kelas 3 dengan bangsal dan auditorium.

Satu jam kemudian acara pindah ke ruangan auditorium dimana para group band sudah tiba baik dari dalam sekolah maupun dari universitas yang ada di kota S. Suasana sangat meriah dan masing-masing murid mencari pasangannya masing-masing. Sementara itu Lina dalam kesendirian karena kedua temannya ikut bergabung dibarisan paling depan untuk ikut berjingkrak-jingkrak bersama alunan musik Rock yang diusung band universitas yang personelnya rata-rata berwajah ancur.

Entah apa yang mendorong Lina untuk meninggalkan tempat itu karena beberapa menit kemudian dalam lamunannya dia sudah berada di lorong lantai dua sekolahnya tempat dimana murid-murid kelas tiga belajar di pagi dan siang hari. Sekarang nampak berantakan karena ada pembaharuan kursi dan meja dari pihak sekolah. 5 buah ruangan untuk anak kelas tiga nampak kosong dan sepi walaupun ada cahaya lampu temaram di ujung gang dekat anak tangga. Lina kembali membayangkan masa-masa indah waktu mereka masih SMU. Ditempat ini dia menghabiskan hampir seluruh satu tahun hidupnya.
Mata Lina menoleh kesamping ketika dia mendengar ada bunyi kecil di sebuah ruangan. Entah keberanian dari mana yang membuat setan cilik ini berani masuk kedalam ruangan yang padam lampunya itu. Nafasnya semakin berat dan ketika dia akan berpaling keluar ruangan, tiba-tiba ada sepasang tangan yang mendekapnya dari belakang. Tangan yang cukup kekar yang kemudian merangsek kearah depan sehingga membuat tubuh mungil Lina ikut terdorong kearah depan.

Seorang pria dengan nafas yang menderu. “Siapa kamu? Lepasin aku! Kalau nggak aku bakalan teriak nih.” Ancam Lina sembari berusaha melepaskan diri dari cengkraman pria ini. Namun apa daya karena mulutnya langsung dibungkam oleh sebuah tangan yang kemudian menyeretnya menuju kearah jajaran meja belajar yang tersusun berkelompok tanpa kursi. Lalu mendorongnya hingga Lina terjerembab dengan tubuh separuh diatas meja belajar tersebut.

Belum sempat dia berteriak, pria misterius tadi melilit mulutnya dengan menggunakan taplak meja guru sehingga mulutnya tidak dapat bersuara lagi bahkan untuk bernafas saja susah. Tak hanya itu, sekarang kedua tangannya telah direntangkan dengan paksa dan diikat dengan bagian atas kaki meja menggunakan tali plastik yang sebelumnya digunakan di bangsal sebagai pengikat snack selama masih dalam plastik besar dan juga sebagai rumbai-rumbai hiasan untuk pintu dan jendela bangsal.

Dengan mulut tersumbat dan kedua tangan terentang terikat pada kaki meja membuat keringat dingin bercucuran keluar dari dara cantik ini. Lina seolah mendapatkan bayangan tentang apa yang bakal dia alami setelah ini. Terlebih setelah pria misterius ini membuka paksa kedua pahanya dan ditumpangkan keatas meja belajar. Sontak gaun pink yang dia pakai bagian bawahnya tersibak dan terlihat jelas celana dalam yang membalut selangkangan dara cantik ini. Bukan hanya itu saja melainkan paha mulusnya sekarang terpampang sudah dihadapan pria misterius ini.

Lina berusaha berkata-kata tetapi yang keluar dari mulutnya hanyalah suara tak jelas karena sumpalan di mulutnya. Lina berusaha berontak namun gagal karena cekalan pria ini jauh lebih kuat dari pada otot kakinya. Seperti yang dia duga sebelumnya, tangan jahil pria misterius itu merengut celana dalamnya dan melemparnya jauh membentur papan tulis.

Pria itu mengarahkan pandangannya kearah selangkangan Lina yang berbulu jarang itu. Sepertinya dia telah melihat barang yang dia sukai berada disana. Bibir vagina Lina dengan ujung klitorisnya yang menyembul keluar sedikit itu membuat sang pria misterius ini nafasnya semakin memburu. Jemari liarnya sudah menelusuri paha putih mulus Lina dengan bernafsunya dengan tak henti-hentinya meremas-remas kedua paha mulus Lina tersebut dan berakhir dengan sentuhan jemarinya di bibir vagina dara cantik ini.

Lina berusaha menjerit namun lagi-lagi hanya suara aneh yang keluar dari mulut yang tersumbat kain itu. Sementara itu sang pria misterius semakin beringas saja mengarahkan jemari tangannya kebibir vagina Lina menyentuh klitoris, labia minora dan bahkan dilesakkan dua jari tangannya kedalam liang kewanitaan Lina yang sekarang sudah mulai basah itu.

Sementara itu gaun pink yang dipakai oleh Lina sudah disibakkan keatas oleh pria misterius itu hingga sebatas leher dan sebagian dari gaun itu menutupi wajah Lina. Dia hanya bisa merasakan ketika payudaranya sudah diremas-remas dan disedot-sedot oleh mulut pria misterus ini tanpa ampun tanpa dia bisa melihatnya. Lina merasakan ketika puting susunya dijilati lidah pria tersebut dan jemarinya yang lain menstimuli puting susunya yang lain dengan bernafsu dan memilin-milinnya.

Sekitar lima menit sang pria ini menjilati hampir seluruh tubuh Lina, mulai dari payudara, paha, tangan, perut, pinggang, pusar dan merembet kea rah vagina Lina yang sudah mulai basah karena rangsangan pria tersebut. Dengan rakus dia menjilati dan menyedot-nyedot bibir vagina gadis cantik ini sehingga timbul suara yang sensual. Klitoris gadis cantik inipun juga tidak lepas dari jilatan pria misterius dan disusul dengan sodokan lidahnya kearah liang kemaluan Lina yang membuat gadis cantik ini semakin menggelinjang menahan rasa nikmat yang ditimbulkan oleh jilatan pemuda ini. Jika mulutnya tidak tersumpal kain, mungkin Lina sudah mendesah-desah tak karuan.

Saat Lina tengah merasakan rentetan kenikmatan, tiba-tiba dia merasakan adanya benda asing yang menerobos bibir kemaluannya dan melesak masuk. Ternyata batang kejantanan pria misterius itu sudah menyeruak masuk kedalam lubang kewanitaannya. Air mata menetes dari pelupuk mata dara cantik ini setelah dia tahu kalau dirinya tengah diperkosa oleh orang tak dikenal.

Dengan sedikit kesulitan, akhirnya batang kemaluan tersebut berhasil masuk dan langsung mengobrak-abrik seluruh jerohan dalam vagina Lina. Dengan perkasanya pemuda tersebut memompa tubuh Lina yang tak berdaya telentang diatas meja belajar SMU. Sembari ditemani nafasnya yang mendengus memburu tak karuan, pria misterius ini mempercepat sodokan-sodokan penisnya seolah ingin menghajar habis kemaluan Lina yang sedang menangis itu. Pria ini lalu membuka gaun Lina yang menutupi wajahnya dan Lina tersentak ketika dalam remang-remang dalam jarak dekat dia melihat wajah pria itu yang tak lain adalah Hendra, mantan pacarnya yang dia putuskan waktu dia masih kelas 2 di SMU ini.

“Lin. Akhh…kamu cantik sekali Lina. Akhh….jangan khawatir aku nggak akan cerita kepada siapapun.” Ucapnya sembari terus memompa tubuh Lina tanpa ampun. Payudara Lina sekarang juga tak luput dari remasan dan hisapan bibir mesum Hendra yang sudah dikuasai oleh hawa nafsu tersebut sementara pinggulnya masih dimaju mundurkan untuk melesakkan penisnya berulang kali melewati bibir kecil vagina Lina yang sudah merah basah itu.

“Lina sayangku. I love you Lin…akhhh…” seru Hendra sembari mengejang tubuhnya. Lina paham betul kalau ini tandanya dia telah mencapai klimaksnya. Didorongnya tubuh Hendra dengan kedua kakinya yang masih bebas dan saat batang kejantanan Hendra keluar dari vaginanya itulah saat dimana pemuda ini berejakulasi. Cairan putih kental memancar mengarah kearah Lina yang terkulai tak berdaya. Sperma Hendra jatuh dan membasahi meja tulis dan sebagian terciprat ketubuh Lina. Perut, pusar dan bahkan beberapa bagian di buah dadanya tak luput dari semburan sperma pria ini.

Namun Lina sedikit tenang karena setidaknya Hendra tidak berejakulasi didalam rahimnya yang saat ini sedang subur. Walau bagaimanapun Lina tidak ingin punya janin dari pemuda bau kencur ini.
“Maaf Lin. Tapi aku ingin sebelum aku berpisah denganmu, aku bisa melepaskan keperjakaanku denganmu. Terima kasih yah. Lagipula aku tidak ingin bermusuhan denganmu karena aku masih cinta kamu.” Pemuda ini ngomong panjang lebar sebelum akhirnya melepaskan ikatan Lina dan meninggalkannya dalam kesendirian.

Bau sperma yang khas semerbak dari tubuh Lina yang waktu itu sudah mengenakan gaunnya lagi. Dengan taplak (celemek) meja dia menyeka bagian tubuhnya yang terciprat oleh sperma Hendra dan melemparnya kelarah meja guru. Sementara itu celana dalamnya yang sudah kotor terkena debu dia buang kearah jajaran bangku-bangku yang tersusun vertical di pojok ruangan. Lalu dengan langkah gontai dia keluar dari kelas dan menuju auditorium. Dalam benaknya dia sadar betul kalau mulai saat itu dia bukan hanya pernah bercinta denganku saja melainkan juga dengan Hendra, mantan kekasihnya.
Selama dalam acara musik, Hendra yang berdiri sendirian di ujung auditorium sering menatao Lina tajam dan tersenyum seolah ingin menunjukkan kemenangannya. Seolah ingin mengatakan kalau akhirnya dia berkuasa atas tubuh dara cantik ini.

Darah Lina seolah menggelegak seperti ada luapan amarah yang akan dia keluarkan dari dalam batinnya. Walaupun selama ini dia menyukai seks, tetapi hanya sebatas denganku saja dan itupun karena dia menyukaiku dan berhubungan intim atas dasar suka sama suka. Terang saja hal barusan membuatnya emosi. Saat amarahnya masih menggelegak hebat, datanglah seseorang pemuda culun bernama Indra menghampirinya. Pemuda berpotongan rambut ala 70-an itu datang menyalami Lina atas keberhasilannya meraih ranking satu di kelasnya.

Indra sebenarnya sudah lama naksir berat dengan Lina tapi apa daya karena wajah dan bodynya tidak mendukung dalam perebutan hati dara cantik ini. Walaupun wajahnya bisa dibilang agak manis tetapi potongan rambutnya membuatnya menjadi seperti tertinggal 20-30 tahun dari jaman sekarang. Belum lagi sifatnya yang super pemalu membuatnya berada di rantai makanan paling bawah di sekolahnya (yah seperti di sekolah kalian semua lah).

Sejenak kemudian muncul ide Lina untuk membalas hinaan Hendra kepadanya. Pemuda culun tersebut mendapatkan sebuah berkah tak terhingga malam itu. Lina menggandeng tangannya atau lebih tepatnya menyeretnya keluar dari auditorium dan menuju kearah kelas tiga yang berada di lantai dua gedung kelas utama. Lalu dengan paksa dia mendorong Indra kearah dalam ruangan tempat dia dinodai oleh Hendra barusan. Lalu dengan paksa pula dia mencium bibir Indra dan kedua tangannya sigap melucuti seluruh pakaian Indra sampai pemuda ini telanjang bulat.

Seolah tak percaya, Indra berusaha mengembalikan kesadarannya yang sebenarnya tidak kemana-mana sedari tadi. Dia masih tak percaya kalau sekarang ini di sedang ciumi oleh Lina dengan tubuh telanjang. Belum puas ia berciuman dengan Lina, tiba-tiba gadis itu melepaskan diri dari pelukan pemuda ini dan Lina meraih penis Indra yang berukuran kecil itu lalu mengocoknya dengan cepat seolah tak sabar menunggu penis tersebut siap.

“Lina…akhhh…” dalam sekejab saja batang penis Indra yang tidak seberapa itu sudah menegang. Mulut Indra mulai menyosor kearah bibir Lina dan mereka berciuman dengan mesranya. Lidah muda mudi ini saling bertautan diantara bibir mereka yang berciuman dengan penuh gairah.

Beberapa saat kemudian Lina mengarahkan tangan Indra kedalam gaun pesta yang dikenakannya dan menyentuhkannya dengan bibir vagina Lina yang sudah basah itu. Indra kaget bukan kepalang mengetahui Lina tidak mengenakan celana dalam dan dia tambah terangsang berat ketika Lina mengangkat kaki kanannya dan menyibakkan gaun pink nya keatas sehingga sekarang vagina Lina terpampang jelas didepan mata Indra.

Indra terbelalak kagum seolah tidak percaya akan hal yang sedang menimpanya sekarang. Namun dasar lelaki, nalurinya bekerja dengan baik, dengan perlahan dan sedikit takut-takut dia mengarahkan batang kemaluannya itu kearah bibir vagina Lina dan dalam beberapa percobaan seluruh penisnya telah amblas kedalam vagina Lina yang sedang mengangkang itu.

Babak berikutnya adalah saat dimana Lina memeluk tubuh Indra sementara kaki kanannya masih bertumpu pada bangku untuk guru pengajar dikelas itu. Sementara itu Indra masih dengan sibuk mengerjai vagina Lina dengan kemaluannya yang berukuran agak kecil itu. Sembari mengeluarkan suara-suara desahan yang bercampur dengan deru nafas, Indra mempercepat sodokannya sembari salah satu tangannya meremas-remas payudara Lina sementara tangan yang lain menyibakkan gaun Lina dan meremas pantatnya dengan gemas.

Dengan sebuah ciuman hangat cukup membuat gairah Indra tak terbendung lagi. Apalagi sekarang tangan nakal Lina sudah menjelajahi buah zakar Indra yang sudah membesar itu dan mempermainkannya. Beberapa menit kemudian, Indra mengejang merasa spermanya akan keluar.
“Tahan sebentar!” teriak Lina memperingatkan Indra. Lalu dara cantik ini melepaskan pelukannya dan mencabut penis Indra yang masih bercokol dikemaluannya lalu mengocoknya dengan cepat.
“Lin…akhhh…” nampak Indra berejakulasi ditangan Lina dan semprotan spermanya memancar membasahi dinding dan meja guru. Setelah beberapa saat kemudian saat Indra berhasil menguasai dirinya lagi dia mendekat ke Lina yang membetulkan gaunnya yang tadi acak-acakkan. “Terima kasih yah Lina. Akhirnya kamu mau memandangku. Aku suka kamu Lin.” Ucapnya kepada dara cantik ini namun sayang semuanya tidak digubris oleh Lina dan gadis ini hanya melenggang keluar dari ruangan tanpa sepatah kata apapun.

Saat dia akan menuruni tangga dia bertemu dengan Hendra dan meliriknya lalu berlalu sembari berbisik. “Aku tahu kamu tadi mengintip. Aku memang sengaja agar kamu tahu kalau kamu tidak bisa menguasaiku dan menyakitiku.” Ucap gadis ini pelan lalu berlalu dibalik tembok sekolah. Hendra sekarang sadar kalau sedari tadi dia sudah termakan jebakan Lina yang sengaja mempertontonkan persetubuhannya dengan Indra, temannya yang culun itu.

Walaupun seolah tegar tetapi akhirnya Lina menangis juga ketika dia menceritakan hal ini kepadaku. Saat melihat aku marah dan berniat memberikan Hendra pelajaran Lina mencegahku dan memelukku. “Sudahlah mas. Toh aku juga masih ada sedikit rasa suka sama dia. Sekarang aku tidak punya hutang apapun sama dia. Lagipula ternyata ada enaknya juga yah bercinta dengan orang asing walaupun aku dikuasai amarah waktu itu tetapi sensasinya tetap ada.” Lalu dara cantik ini tersenyum kecil sembari mencubitku mesra.

“Kamu mau sensasi lebih sayang?” kataku kepada Lina. Dia bertanya mengenai maksud ucapanku tetapi aku hanya menjawab setengah-setengah. “Ntar juga tahu. Tapi kalau kamu suka variasi, yang ini mungkin akan jadi hal baru bagi kamu.” Lanjutku sembari mencium bibirnya dan mengakhirinya dengan persetubuhan malam itu, dua malam setelah Lina melewati pesta perpisahannya di SMU.