Jakarta , Rabu 30 Januari 2008.
Sancaka mendongakkan kembali kepalanya keatas, tersenyum sendiri menggeleng-gelengkan kepalanya sebelum melangkah masuk ke dalam bangunan itu, empat orang sekuriti yang berpakaian rapi tampak mengangguk hormat kepadanya.

Hampir sebagian besar penggemar dunia hiburan malam yang yang menyukai suasana hingar bingar dengan balutan music techno tentu mengenal bangunan yang dimasuki Sancaka, ya benar sekali, bangunan itu adalah Diskotik Stadium Jakarta, penampilan bagian depan bangunan diskotik di kawasan Hayam Wuruk ini sebenarnya tidaklah terlalu menarik.

Ada beberapa hal yang menjadi magnet bagi Sancaka ke diskotik ini, pertama balutan interiornya yang sedikit membawa aura mistis, kedua begitu banyak dan mudahnya mendapatkan gadis-gadis penghibur yang sekiranya menarik seleranya tanpa perlu membuang tenaga untuk berburu, ketiga jika tak mendapati seorangpun diantara gadis-gadis penghibur itu yang menarik seleranya maka dengan begitu bebasnya penjualan Ecstacy maka semakin memudahkan Sancaka dalam memikat gadis-gadis pengunjung diskotik sebagai calon mangsanya, dan keempat permainan sinar laser diskotik ini menurut Sancaka masih yang terbaik di seantero Jakarta.

Sancaka melangkah kedalam dan langsung menuju lift dibagian paling belakang.
Melintasi lantai satu gedung diskotik Stadium yang berfungsi sebagai semacam cafetaria tadi ada dua orang gadis yang sedang menikmati minumannya memandang kagum dan melempar senyum manis padanya.
Sancaka yang memang berwajah ganteng dan berpenampilan modis memang menarik perhatian.
Pintu lift terbuka, Sancaka menyempatkan menoleh kearah kedua gadis tadi, melempar senyum untuk kemudian menghilang kedalam lift.
Kedua gadis itu tampak terpana sebentar untuk kemudian saling pandang dengan muka merona.

****

Mengapa Sancaka terlihat pergi sendiri ke diskotik seramai itu?
Kemanakah Gayatri?

****

Melihat penampilan Sancaka yang tampak tidak berubah sedikitpun itu, akan tidak masuk akal sehat kita kalau kita membayangkan Gayatri masuk ke Stadium bersama pemuda itu.
Seandainya Gayatri masih hidup tentu umurnya sudah mendekati enam puluh tahun.

Sayangnya Gayatri meninggal di usia yang masih relatif muda, sejak kejadian penumpasan Tuan Frantzheof de Van Pierre dan penyelamatan Gayatri, Sancaka berusaha sekuat tenaganya untuk membahagiakan sang tunangan yang kemudian secara resmi dinikahinya itu.

Tahun-tahun kehidupan perkawinan Sancaka dan Gayatri yang tidak dikarunia anak itu membuat keduanya dapat bebas menikmati kemesraan penuh berdua, ditambah lagi keduanya lebih banyak menghabiskan waktu dengan pelesiran mengunjungi tempat-tempat pariwisata yang terkenal di seantero nusantara.
Seakan keduanya selalu berada dalam masa bulan madu saja layaknya.

Disaat Gayatri termenung sendiri terkadang Sancaka dapat menangkap sinar kesedihan dimata kekasihnya itu, bagaimana pun usaha Sancaka membahagiakan Gayatri akan tetapi dia pun menyadari bahwa dia tak akan dapat menghilangkan kerinduan terpendam akan kehadiran anak-anak di lubuk hati kekasihnya itu.
Hanya saja keadaan dirinya yang sudah bukan manusia biasa lagi itu tak memungkinkan bagi dirinya untuk membuahi kandungan kekasihnya itu.
Sancaka hanya dapat selalu berusaha mengalihkan perhatian kekasihnya itu dari kerinduan itu.

Seiring berjalannya waktu, Sancaka melihat kesedihan lain dimata kekasihnya itu, yang walaupun Gayatri tidak pernah mengungkapkan perasaannya dan tidak pula mau membicarakan hal itu secara langsung, tapi Sancaka dapat menangkap penyebab hal itu, betapa tidak, bergulirnya waktu diikuti perubahan pada Gayatri yang merasa diri semakin bertambah tua dan merasa tak secantik dulu lagi, perasaan yang membuahkan kecemasan dan rasa takut kehilangan pemuda itu, kehilangan semua kasih sayang dan kemesraan dari Sancaka, sementara dimata Gayatri yang terlihat jelas adalah Sancaka tak berubah sedikit pun, seakan pemuda itu berada diluar kuasa putaran waktu.
Kecemasan Gayatri seakan membenarkan mitos bahwa tahun ketujuh perkawinan adalah tahun yang rawan dalam perjalanan bahtera perkawinan.

Begitupun malam itu, malam kedua mereka berada diatas KMP Tampomas II yang berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok tanggal 24 Januari 1981, entah kenapa Gayatri terlihat murung dan tampak gelisah, setelah mengecup kening Sancaka yang tampak tertidur lelap setelah pertempuran barusan, Gayatri pun keluar dari kabin kelas satu yang mereka sewa dan bermaksud mencari udara segar diluar.

Gayatri yang tampak melamun sambil menikmati hembusan angin laut yang mempermainkan rambut panjangnya dikejutkan oleh kepanikan yang diakibatkan terjadinya kebakaran di kapal itu, walaupun awak kapal berusaha menenangkan penumpang namun tak urung kepanikan yang ada membuat Gayatri takut juga.

Perjalanan mereka berdua yang bertujuan ke Manado ini, yang awalnya terasa begitu menjanjikan mengingat daerah tujuan mereka kali ini cukup terkenal dengan wisata alam dan wisata kulinernya ini, baru menginjak hari kedua secara tiba-tiba saja telah berubah menjadi perjalanan yang penuh kepanikan dan ketakutan.

Kepanikan para penumpang pun semakin mempersulit Gayatri kembali ke kabin dimana Sancaka berada.
Ternyata makin lama api makin membesar, keadaan pun semakin tak terkendali.
Akhirnya terdengar aba-aba dari awak kapal bahwa para penumpang diperintahkan untuk segera menaiki sekoci.
Proses evakuasi terasa berjalan sangat lambat.
Sebagian penumpang tampak mulai terjun bebas ke laut guna menghindari kobaran api, sebagian lagi menunggu proses evakuasi di dek dengan panik.

Gayatri mulai beruari air mata dan terus berusaha kembali ke kabinnya walaupun harus melawan arus penumpang lain yang berdesakan, dan akhirnya Gayatri terjebak diantara para penumpang yang berdesakan kesana-kemari dengan panik itu, dan kemudian ikut terseret diantara para penumpang yang berusaha mencari jalan selamat lain dengan terjun ke laut.

Gayatri hanya dapat menjerit histeris ketika tubuhnya ikut terseret terjun ke laut lepas.

Tak dapat disalahkan memang kalau ada beberapa orang yang menyeret Gayatri terjun ke laut, mereka benar-benar berniat menyelamatkan gadis itu sebagaimana mereka berusaha menyelamatkan diri sendiri, namun satu hal yang tidak diketahui oleh orang-orang itu adalah Gayatri tidak dapat berenang!.

Walaupun sebagian besar masa hidupnya dia habiskan di daerah Kertapati Palembang yang berada di tepian Sungai Musi, namun karena dia adalah anak seorang yang dapat dianggap cukup berada pada masa itu membuat pergaulannya sangat dibatasi dan diawasi oleh orang tuanya, tak seperti anak-anak lain yang dapat bermain bebas di luar rumah bahkan di sungai, sehingga memang agak janggal kalau ada orang asli daerah tempat tinggalnya itu tidak bisa berenang.

Diatas kapal tampak Sancaka dengan panik menerobos kerumunan penumpang yang saling berdesakan itu sambil terus meneriakkan nama Gayatri.
Tanpa sedikitpun mengetahui bahwa kekasihnya itu mulai tenggelam dan meregang maut dengan tragis.
Sancaka berkelebat cepat berusaha mencapai tempat yang dianggapnya paling tinggi di kapal itu, matanya mencorong tajam berusaha mencari sosok Gayatri.
Tapi dia tak menemukan apa yang dia cari.

Sancaka meraung parau dan dengan cepat merubah wujudnya, diapun terbang kesana kemari mencari sosok diantara para penumpang yang berenang panik diatas permukaan laut.
Tapi usahanya ini pun sia-sia belaka.
Dia tetap menemukan sosok Gayatri disana.

Sampai akhirnya dengan didahului ledakan dan air laut tampak mulai masuk ke ruang mesin membuat kapal menjadi miring dan mulai menunjukkan tanda-tanda akan tenggelam.
Sancaka sudah terkuras habis tenaganya dalam mencari Gayatri.
Pemuda itu dengan sisa tenaganya melesat sejauh mungkin dari KMP Tampomas II yang mulai tenggelam itu.
Pemuda itu berusaha berpegang erat pada benda yang dilihatnya mengapung diatas permukaan laut.

Sampai akhirnya Sancaka yang ditemukan dalam keadaan tak sadarkan diri itu berhasil diselamatkan dan dievakuasi ke Makasar oleh sebuah kapal berbendara Panama guna mendapat perawatan seperlunya.
Cukup lama Sancaka masih berusaha mencari tahu akan keberadaan Gayatri kekasihnya namun semua seakan tak membuahkan hasil. Kesedihan mendalam ia rasakan selama bertahun-tahun karena bencana itu hingga dirinya benar-benar dapat menerima kemungkinan terburuk bahwa kekasihnya itu telah tewas.
Yang mempersulit pencarian Sancaka karena memang mereka berdua, dirinya dan Gayatri, tidaklah secara resmi terdaftar di dalam daftar penumpang kapal itu.
Sancaka mendapatkan tiket dan kabin kelas satu yang terbaik di kapal itu dengan membayar mahal melalui jasa seorang pejabat di Pelabuhan Tajung Priok.

Keberadaan penumpang seperti dirinya inilah yang mengakibatkan kesimpang-siuran jumlah korban dalam bencana tenggelamnya KMP Tampomas II, satu sumber menyebutkan jumlah penumpang 431 orang yang tewas (sebanyak 143 orang berhasil ditemukan/dievakuasi mayatnya dan sebanyak 288 orang yang hilang/karam bersama kapal) serta sebanyak 753 orang berhasil diselamatkan, sementara sumber lain menyebutkan jumlah korban tewas sebanyak 666 orang.

Terkadang Sancaka menyesali diri mengapa dia tak merubah kekasihnya itu menjadi seperti dirinya, seandainya Gayatri telah menjadi seorang vampire seperti dirinya mungkin kekasihnya itu tidak akan tewas secara tragis dalam bencana terkutuk malam itu.
Menyesali mengapa sisi kemanusiaan yang masih tersisa dalam dirinya tidak mengijinkan dirinya membawa Gayatri kedalam bentuk lain kehidupan yang dirasakannya, kehidupan abadi yang terbebas dari dua hal yang paling ditakuti manusia pada umumnya, yaitu menjadi tua renta dan mati, sebuah bentuk kehidupan abadi yang mungkin saja membangkitkan kemarahan Tuhan Sang Penguasa Tunggal Alam Semesta.

Kenangan akan Gayatri yang paling membekas dalam ingatan Sancaka adalah malam pertama bersama kekasihnya itu.

Malam itu setelah pesta perkawinan mereka usai, Sancaka tampak masih berada diluar bermain domino bersama para kerabat dekat Gayatri di halaman rumah mertuanya yang memang cukup luas itu.
Sancaka yang asyik bermain domino, menikmati rokok dan kopi hangatnya dikejutkan dengan jeweran Bu Puji ibu mertuanya, “Cepat masuk … Penganten perempuan kok dibiarkan sendiri menunggu di kamar sementara penganten laki nya asyik sendiri disini … ini juga semuanya malah membiarkan nggak ada yang menegur dan mengingatkan Sancaka”, cerocos sang ibu mertua sambil menarik telinga pemuda itu.
Sambil meringis Sancaka terpaksa berdiri dan mengikuti tarikan sang mertua di telinganya.
Semua kerabat tampak tertawa dan membiarkan tindakan Bu Puji yang memperlakukan Sancaka seperti anakkecil yang tertangkap tangan berbuat nakal.

Sampai didepan kamar Gayatri barulah Bu Puji melepaskan jewerannya dari telinga Sancaka, “Cepat sana masuk … kasihan Gayatri … Dia sud…”, bisikan lirih sang ibu mertua terhenti.
Sancaka yang melihat suasana agak sepi segera menyambar bibir Puji Astuti, walaupun ciuman itu cuma sesaat tapi sudah cukup membuat muka sang mertua menjadi bersemu merah dengan jantung berdebar.
Sancaka dengan cepat masuk ke dalam kamar Gayatri yang telah disulap menjadi kamar pengantin, meninggalkan Puji Asuti yang tampak tersipu malu sambil mengusap bibirnya yang baru saja dikecup oleh Sancaka.

Begitu sampai di dalam kamar, Sancaka mencium bau harum melati memenuhi kamar Gayatri, matanya melihat sosok kekasihnya itu bangun di dalam kelambu yang melingkupi ranjang yang agaknya bakal menjadi ranjang pengantin mereka berdua malam ini.

Memang Gayatri begitu mendengar suara pintu terbuka langsung bergegas bangun, akan tetapi dia merasa tidak perlu keluar dari dalam kelambu itu, dari dalam dia dapat melihat jelas siapa yang datang.

Sancaka dengan cepat mengunci pintu kamar itu dari dalam.

Sancaka berjalan mendekat kearah ranjang dan dengan pelan menyingkapkan kelambu itu.
Dilihatnya Gayatri yang hanya mengenakan BH dan celana dalam itu setelah bertemu pandang langsung tertunduk malu sambil menarik selimut menutupi tubuhnya.
Sancaka meneguk liurnya melihat tubuh mulus istrinya itu.
Sancaka dengan cepat mulai membuka pakaiannya.

Melihat Sancaka mulai membuka bajunya Gayatri menjerit lirih dan menarik selimutnya lebih tinggi untuk menutupi mukanya.
Sancaka tersenyum geli melihat reaksi Gayatri.
Setelah semua pakaiannya telah terlepas kecuali celana dalamnya, Sancaka segera merangkak naik keatas ranjang itu.
Menyusup kedalam selimut sambil merangkak ke arah Gayatri.

Kembali Sancaka meneguk liurnya ketika melihat kemulusan paha Gayatri yang penuh berisi dan dua buah bukit kembar yang tegak menantang didepan mukanya.

Gayatri yang masih duduk bersimpuh sambil menutupi tubuh dan mukanya dengan selimut itu menyadari bahwa Sancaka yang mendekatinya sambil merangkak didalam selimut itu sudah berada sudah berada tepat didepannya dadanya.

Tubuh Gayatri tersentak mengejang ketika Sancaka membungkuk dan mulai menciumi pahanya, dan nafasnya mulai tersengal ketika ciuman Sancaka mulai naik ke perut dan merambat terus kearah buah dadanya, setelah itu kini kedua tangannya yang tak kuasa lagi menahan selimut yang menutupi mukanya ketika ciuman Sancaka terus naik ke leher dan belakang telinganya.
Gayatri mendesah kegelian.

Sancaka segera menyambar bibir Gayatri, dilumatnya bibir istrinya itu dengan lembut, Gayatri pun tak tinggal diam, tangannya segera merangkul leher Sancaka dan membalas lumatan bibir suaminya itu.
Tangan Sancaka segera bekerja membuka pengait BH yang dikenakan Gayatri.
Dengan lembut didorongnya tubuh Gayatri rebah terlentang sambil menarik lepas BH istrinya itu.

Gayatri menggeram lirih ketika Sancaka maju menindih tubuhnya dan langsung menjilat dan melumat kedua puting susunya.
Sancaka menjilati kedua puting susu istrinya sambil sesekali memberikan hisapan-hisapan lembut bergantian.

Jilatan dan hisapan Sancaka semakin lama semakin ganas, kedua tangannya mulai ikut meremas-remas buah dada Gayatri, terkadang dengan geram Sancaka seperti berusaha melahap buah dada istrinya itu, seakan ingin memasukkan sebanyak mungkin bagian buah dada gayatri kedalam mulutnya, diikuti sedotan yang kuat, membuat Gayatri mendesis keenakan sambil balas meremas-remas rambut Sancaka.

Sancaka tak ingin membuang waktu lagi, tangannya mulai bekerja membuka celana dalamnya sendiri dan kemudian mulai berusaha menarik lepas celana dalam Gayatri.

Setelah semua penghalang yang ada sudah melayang ke tepi ranjang, Sancaka segera merayap naik sambil menempatkan tubuhnya diantara kedua paha Gayatri.

Gayatri memandang sayu kearah Sancaka, “Lakukanlah Mas … Sekarang Mas Sanca sudah memiliki hak atas tubuhku sepenuhnya … Aku tak akan berontak dan menolak seperti dulu lagi”, bisiknya lirih.

Sancaka tersenyum dan segera memeluk serta mulai melumat kembali bibir istrinya itu.

Sancaka bukanlah pemuda yang lugu, keris pusakanya tak perlu dituntun lagi dalam hal mencari dan memasuki sarungnya.

Sambil terus melumat bibir Gayatri, kepala penisnya yang mengacung keras itu mulai memberikan gesekan-gesekan di belahan bibir vagia istrinya itu.
Sampai dirasanya belahan itu sudah mulai licin, basah dan hangat.

Dengan gerakan pelan, kepala penis Sancaka mulai menekan dan membelah bibir vagina Gayatri.
Tubuh Gayatri tampak menahan nafas dengan tubuh sedikit mengejang kaku, matanya terkatup rapat.

Gerakan pinggul Sancaka dengan pelan dan mantap terus mendorong maju.
Kepala penis yang berdiri tegak itu dengan kuat menerobos dan menerjang kedalam liang vagina Gayatri.
“mmfffhhh ….”, jeritan gayatri meledak dalam lumatan bibir Sancaka. Keningnya tampak berkerut menahan sakit. Semua otot vagina nya segera bereaksi mencengkeram kuat batang penis Sancaka.
Rasa ngilu membuat Sancaka terpaksa menghentikan gerakan penisnya.

Sesaat Sancaka sempat tertegun melihat air mata yang mengalir turun dari sudut mata Gayatri.
Sancaka segera menepis pikiran aneh yang muncul dikepalanya.

Dengan lembut Sancaka membujuk dan menenangkan Gayatri, “Nggak apa-apak kok … Aku nggak apa-apa …”, jawab Gaytri pelan, walaupun raut wajahnya dan gerakan tubuhnya menindikasikan betapa dia berusaha menahan rasa sakit yang mendera kemaluannya.
Dipegangnya kedua belah pipi Sancaka dan ditariknya mendekat, bibirnya segera melumat bibir Sancaka.

Sancaka membalas lumatan bibir Gayatri, tetapi masih belum berani menggerakkan penisnya yang masih terbenam dibawah sana, biarlah dia akan menunggu sampai liang vagina gadis itu terbiasa dulu dan dapat menerima kehadiran penisnya.
Sancaka dengan ganas mengalihkan ciumannya ke leher dan terus merambat turun ke arah buah dada Gayatri.
Dengan buas Sancaka mulai kembali melahap kedua buah dada yang ranum itu bergantian, dia ingin memberikan rangsangan sebanyak mungkin kepada Gayatri.

Gayatri agaknya telah mulai dapat merasakan kenikmatan dari semua perbuatan Sancaka. Cairan hangat mulai kembali membasahi liang vaginanya.
Tubuhnya sudah tidak menegang kaku seperti tadi, bibirnya mulai mengeluarkan desahan-desahan pelan dan setiap kali tubuhnya bergerak dia mulai merasakan ada kenikmatan dibawah sana walaupun masih ada rasa sakit yang tersisa.

Mendengar desahan Gayatri dan merasakan bahwa pinggul istrinya itu mulai bergoyang perlahan dengan sesekali diikuti jepitan kedua paha Gayatri dipinggulnya, Sancaka kembali mengarahkan ciumannya di bibir Gayatri.
Dengan lembut sancaka mulai menggerakkan pinggulnya.
“mmmhhhh…”, Gayatri melenguh dalam lumatan bibir Sancaka, kedua tangannya merangkul erat leher Sancaka, kenikmatan yang mulai dirasakannya sudah mulai mengatasi rasa takut dan rasa sakitnya.

Liang vagina Gaytri yang semakin hangat dan basah itu semakin memudahkan gerakan penis Sancaka.

Sancaka melepaskan pagutan bibirnya dan mengangkat tubuhnya bertumpu pada kedua tangannya, sehingga kini dengan leluasa dia dapat menggerakkan pinggulnya sambil mengamati rekasi Gayatri.

Sancaka mulai menggerakkan pinggulnya dengan tempo yang sedikit lebih cepat, bibirnya tersenyum melihat reaksi Gaytri yang tampak berpegangan dan meremas erat batal yang berada dibawah kepalanya.

“ssshhhh … terusss mass … terusss ….”, ceracau Gayatri mulai yang didera kenikmatan, matanya yang tertutup rapat sesekali terbuka dan menatap sayu kearah Sancaka, tubuhnya menggeliat di setiap ayunan penis itu di dalam liang vaginanya.

Sancaka terus mempertahankan kecepatan ayunan pinggulnya, sampai beberapa menit kemudian kening Gayatri tampak berkerut dengan mulut terkatup rapat, “mhhh … mmmhhh”, gumamnya tak jelas berulang kali, diikuti tubuh Gayatri yang tampak menegang dan berhenti menggeliat. Didahului hentakan kedua kakinya Gayatri membuka mata dan mulutnya, “aaccchhh …. achhh … ssshhhh”, dalam desahan kuat yang menunjukkan bahwa Gayatri telah mencapai puncak kepuasannya, tubuhnya tersentak-sentak beberapa kali.

Sancaka mempertahankan penisnya terbenam sedalam mungkin didalam liang vagina Gayatri, dan kemudian merebahkan tubuhnya kembali keatas tubuh istrinya itu, Gayatri dengan gemas segera menyambut dengan melumat bibir Sancaka, “Enak banget Mas … Gayatri mau lagi yang seperti tadi …” bisiknya malu-malu diantara ciuman-ciumannya di bibir Sancaka.

“Mas perlu istirahat yah?”, tanyanya polos ketika Sancaka bangun dan melepaskan diri dari hujan ciuman Gayatri itu.

Sancaka tersenyum geli dan mencubit dagu istrinya itu, “Bukan istirahat … Ini mau persiapan perang nona manis”, sahutnya sambil mengambil posisi seperti berjongkok diantara kedua paha gayatri, “Bersiaplah untuk serangan gelombang kedua”, lanjutnya sambil mengangkat dan melingkarkan kedua kaki Gayatri di pinggangnya. Sancaka kemudian meletakkan kedua tangannya diatas kedua buah dada Gayatri.

Sancaka mulai meremas lembut kedua buah dada Gayatri, dan ketika Gayatri kembali memejamkan matanya dan mulai mendesah, Sancaka mulai mengayunkan pinggulnya, penis Sancaka mulai menggesek kembali liang vagina Gayatri yang hangat dan terasa mencengkeram ketat itu.

Semakin lama Sancaka semakin mempercepat ayunan pinggulnya sambil meremas-remas kedua buah dada Gayatri dengan gemas.
Kedua paha Gayatri menjepit kuat pinggang Sancaka, “Augghhh … agghhh … ter … terusss masss”, desisnya berulang-ulang, dia dapat merasakan betapa penis yang menghunjam di bawah sana terasa semakin keras dan tegang memenuhi semua bagian dalam vaginanya, menimbulkan kenikmatan yang tak terkira bagi Gayatri.

Gerakan pinggul Sancaka mulai tak terkendali, dia berusaha sedapat mungkin mempertahankan diri lebih lama lagi.
Di kala Sancaka merasa sudah mulai tak dapat mempertahankan diri lebih lama lagi, kedua kaki Gayatri kembali menghentak kuat diiringi desisan panjang dari mulutnya, Gayatri telah sampai pada puncaknya dan kini giliran Sancaka telah tiba.
Dicengkeramnya dengan kuat kedua buah dada Gayatri dan dengan ganas diapun menghempaskan pinggulnya sekuat mungkin, Sancaka menggeram dan memuntahkan semua cairan yang sejak tadi ditahannya.
Gayatri kembali tersentak dan mendesis ketika merasakan ada semburan cairan hangat menyirami bagian dalam liang vaginanya, kedua pahanya keembali menjepit pinggang Sancaka ketika penis itu terus berdenyut-denyut didalam sana.
Semburan dan denyutan itu menimbulkan sensasi baru bagi Gayatri.

Kedua tangan Gayatri segera menyambut tubuh Sancaka yang dengan lunglai merebahkan diri diatas tubuhnya.
Kedua nya kembali berciuman dengan mesra.

“aauuu … geli”, jerit Gayatri ketika batang penis Sancaka yang mulai mengecil itu terdorong keluar dengan sendirinya dari dalam liang vaginanya.

Sancaka tertawa geli melihat kepolosan gayatri dan segera bergulir kesamping tubuh istrinya itu, tetapi Gayatri segera mengikuti dengan memeluk dan menyembunyikan wajahnya ke leher Sancaka.
Tubuhnya yang terasa lemas dan puas membuat rasa kantuk segera menyerangnya, “Bobok yuk … capek banget rasanya … capek tapi enak”, bisiknya sambil mengecup pipi Sancaka sekilas, “Besok lagi ya…”, lanjutnya sebelum kembali meluruk keleher suaminya itu.

Sebelum turut memejamkan mata menyusul Gayatri yang langsung tertidur pulas dalam pelukannya itu, Sancaka kembali sempat termenung sejenak.

Tidak salahkah penglihatannya tadi?
Gayatri menangis seperti perawan yang pertama kali digagahi?
Bukankah Gayatri sudah tidak perawan lagi?
Tapi cengkeraman otot-otot didinding liang vagina gadis itu persis seperti reaksi ketika dia merenggut keperawanan Ratih dulu.

Sancaka melupakan kekuatan pikiran dan sugesti yang selalu melingkupi manusia.
Gayatri memang sudah tidak perawan lagi.
Akan tetapi didalam pikiran Gaytri yang kehilangan ingatan akan kejadian yang dialaminya bersama Tuan Frantzheof de Van Pierre, masih tertanam sugesti yang kuat bahwa dirinya masih perawan tulen.
Gayatri percaya bahwa dirinya belum pernah dijamah oleh lekaki selain Sancaka, apalagi sampai bersetubuh.
Sugesti yang melahirkan reaksi seperti perawan pada umumnya, yang secara refeks memberikan perlawan terhadap penis yang menerobos masuk kedalam vaginanya, karena selama persiapan perkawinannya banyak teman-temannya menggoda dan memberitahukan sambil bercanda bahwa kali pertama bersetubuh itu akan menimbulkan rasa sakit dan Gayatri mempercayai cerita teman-temannya yang sudah menikah terlebih dahulu itu.

Agak lama baru Sancaka menyadari hal itu.

Akan tetapi satu hal yang membuat Sancaka senang adalah kemampuan regenarasi dari darah Tuan Frantzheof de Van Pierre yang diminum oleh Gayatri pada kondisi masih perawan dulu membuat liang vaginanya tak berbeda nikmatnya dengan perawan tulen, mungkin hanya darah perawannya saja yang sudah tidak ada lagi sebagai pembedanya.

****

Keluar dari lift dilantai 4 Sancaka langsung membayar biaya masuk dan kemudian salah seorang gadis penjaga memberikan cap dengan menggunakan tinta khusus yang kasat mata, dugaan Sancaka pastilah semacam tinta khusus yang agaknya hanya dapat dilihat dengan sinar ultra violet, tak terlalu memperdulikan hal itu Sancaka langsung masuk kedalam.
Suasana masih belum ramai akan tetapi dentuman musik techno sudah langsung menyambut pemuda itu.
Sekilas dia melihat gadis-gadis yang siap menjadi pendamping para tamu hampir memenuhi tempat di belakang bartender, Sancaka langsung melangkah ke sebelah kanan dan menaiki tangga keatas.

Sancaka mengambil tempat duduk agak ditengah, dan segera menyalakan zippo, menyulut rokoknya dan mengangkatnya keatas.
Seorang petugas berseragam segera mendekatinya, Sancaka menyerahkan tiket tanda masuk yang tadi diperolehnya sambil membisikkan order 2 bungkus rokok dan segelas minuman kesukaannya.

Sancaka langsung meraih gelas minumannya yang baru saja diantarkan oleh petugas tadi.
Sancaka memandang berkeliling, sudah tiga malam berturut-turut dia datang ke diskotik ini, namun sosok yang dicarinya tak juga tertangkap oleh matanya.

****

Siapakah yang dicari pemuda itu?

****

Tak lama kemudian Sancaka melihat dua orang gadis yang tadi dilihatnya dilantai satu telah menyusul naik ke diskotik di Lantai empat ini dan terlihat celingak-celinguk mencari sesuatu, kedua gadis itu memang cukup cantik manis.
Sancaka tersenyum sendiri, agaknya kedua gadis itu tentulah mencari dirinya, dia dapat melihat binar kekaguman dimata keduanya tadi sebelum dia menghilang masuk lift.
Teringat akan pulpen yang beberapa hari lalu di belinya dalam salah satu maskapai penerbangan domestik, Sancaka segera mengeluarkan, mengarahkan dan mengedip-ngedipkan senter kecil yang ada dipulpen itu karah kedua gadis itu.
Gadis pertama menangkap kerdipan sinar biru yang dikeluarkan pulpen ditangan Sancaka dengan segera menarik tangan temannya mendekat.

Sancaka mempersilahkan kedua orang gadis itu duduk di mejanya, “Sanca”, ujarnya sambil mengulurkan tangan berkenalan.

“Novi …”, sahut gadis pertama menyambut uluran tangan Sancaka, “Jessy …”, lanjut gadis kedua menyusul memperkenalkan diri.

Sancaka tersenyum, “Mau minum apa?”, tanyanya membuka pembicaraan.
“Terserah abang saja”, jawab Novi manja.
Sancaka kembali menyalakan zipponya dan mengangkatnya keatas.

Setelah beberapa saat mengobrol akhirnya Sancaka mengetahui kalau kedua gadis ini adalah pegawai sebuah kantor akuntan publik yang cukup terkemuka di Jakarta.
Keduanya sedang menunggu kedatangan seorang teman lelaki mereka, teman lelaki mereka itu diminta mencari barang yang bagus buat bekal dugem mereka malam itu, “Sekarang banyak barang yang nggak jelas … jadi kita mau cari dari luar aja …”, bisik Jessy menjelaskan, “Setelah bekerja keras sebulan penuh guna menyelesaikan proyek besar seperti hari ini … kita butuh tiga biji vitamin-e buat terbang lepas sampe pagi”, lanjutnya tersenyum sambil menghembuskan asap rokoknya.

Tentulah pil setan Ecstacy yang dimaksud dengan barang oleh gadis ini pikir Sancaka. Biasanya Sancaka tidak pernah mempedulikan begitu banyaknya orang yang menggunakan barang haram itu, akan tetapi kegundahannya menunggu dan mencari selama tiga hari ini menimbulkan ketertarikan pada dirinya untuk mencoba, biarlah untuk sekedar pembuang kejenuhan pikirnya, “Hubungi temanmu itu … bilang kita butuh tambahan limabelas butir lagi untukku … nanti aku ganti uangnya … cash”, bisik Sancaka ke telinga Jessy.

Walaupun keningnya berkerut terkejut, Jessy tanpa banyak bicara segera meraih handphone miliknya dan mengirimkan pesan singkat ke teman lelakinya sesuai permintaan Sancaka.

Tentu saja Sancaka yang bukan manusia biasa merasa bahwa dia tentu memerlukan dosis beberapa kali lipat dosis manusia biasa jika dia ingin mengetahui efek dari pil setan itu, walaupun jumlah yang dimintanya cukup mengagetkan Jessy.

Beberapa saat kemudian Jessy menunjukkan layar handphone kepada Sancaka, rupanya balasan pesan singkat dari teman lelakinya yang memberitahukan bahwa barang yang diminta sudah berhasil didapatkan, dan ada sejumlah angka tertera disana, Sancaka hanya mengangguk dan menarik segumpalan uang yang diikat karet dari saku kiri depannya, menghitung dan menyerahkan sejumlah uang sebagaimana tertera dalam pesan singkat tadi, “Siiip …”, sahut Jessy senang menyambut uang tersebut dan langsung membalas pesan singkat teman lelakinya.

Sancaka kembali memesan tiga gelas minuman kesukaannya, agaknya Novi menyukai juga minuman beralkohol tinggi itu, gelas gadis itu cepat sekali habisnya, ternyata gadis cantik satu ini cukup kuat minum agaknya.

Seorang lelaki muda yang cukup ganteng dengan raut wajah khas warga keturunan mendekati meja dimana Sancaka, Novi dan Jessy berada.
Jessy segera berdiri menyambut pemuda yang baru datang itu, “Sanca …”, Sancaka memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan, “Herry …”, sahut pemuda itu ramah.

Herry mengeluarkan dua bungkus rokok putih merk luar dari saku celananya, membukanya sekilas dan menyerahkannya kepada Sancaka, yang sebungkus lagi diserahkannya kepada Jessy, “Thanks ya Her … You’re the savior of the day”, Jessy tersenyum sumringah sambil menyerahkan uang yang tadi diberikan oleh Sancaka.

Jessy segera meraih zippo milik Sancaka.

Melihat nyala zippo yang diangkat Jessy, seorang petugas segera datang menhampiri.
Setelah bisik-bisik dengan Sancaka dan Herry, gadis itu kembali memesan enam gelas minuman beralkohol tinggi yang menjadi kesukaan Sancaka ditambah enam botol air mineral dingin.

Novi, gadis yang satunya lagi, sejak tadi tampak asyik sendiri bergoyang sendiri menikmati alunan musik techno kesukaannya.
Hanya sesekali mendekat ke meja untuk meneguk minumannya.
Bahkan tadipun hanya menoleh sesaat dan cuma melambaikan tangan saja menyambut kedatangan Herry.
Bukan main gadis ini pikir Sancaka.

****

Tak terasa waktu sudah melewati tengah malam, sekitaran sepuluh menit yang lalu sancaka telah menelan pil setan terakhir dari limabelas butir yang dibawa Herry tadi, karena tidak merasakan reaksi dari pil setan yang katanya dapat membuat orang terbang melayang itu, maka Sancaka dengan tidak sabaran mulai menelan pil itu setiap selang beberapa menit.

Kini semua pil yang ditelannya tadi bekerja nyaris bersamaan waktunya, tubuh Sancaka mulai bereaksi.
Tak kuasa lagi menahan diri, Sancaka segera bangkit dari duduknya dan sedikit maju menjauhi meja.
Dengan ringan seluruh denyut dan gerak tubuhnya mengikuti setiap beat musik techno yang bergema kencang.

Novi yang tadinya asyik bergoyang sendiri dalam keadaan yang mulai setengah mabuk minuman keras itu segera bergerak mendekati Sancaka.
Gadis itu menempel dan bergoyang mengimbangi gerakan Sancaka.

Sancaka yang semakin tenggelam dan terseret dalam alunan musik mulai merasakan ada gelombang kuat halusinasi yang mulai menyerang kesadarannya.
Pandangannya mulai menangkap gambaran-gambaran dan suara-suara yang tadi tidak sedikitpun tertangkap oleh mata dan telinganya.

Mendekati pukul satu dini hari, tiba-tiba dentuman beat musik melambat, Sancakapun refleks berhenti, dengan didahului suara efek seperti desau angin diikuti alunan string, mengalunlah lagu yang langsung membuat Sancaka terdiam.

Lirik lagu dan vusal effect yang ditampilkan membuatnya tegak terpaku.

When You’re Feeling Down
When You Feel
You Need To Get Away
You Could Just Fly Away

When You’re Feeling Low
When You Feel
You Need To Get Away
You Could Just Fly Away

I Feel The World Is Gone Insane
And If You Feel The Same
You Could Just Fly Away

Fly Away
You Could Just Fly Away

Pandangan matanya terpukau menyaksikan permainan sinar laser diantara gelombang asap putih didepannya, dan seperti sebagian besar pengunjung diskotik itu, Sancaka langsung bersorak histeris penuh kagum ketika seakan-akan seekor naga dengan sesosok tubuh wanita dipunggungnya menyeruak keluar dari gulungan awan dan balutan sinar laser itu.
Dentuman beat kembali menghentak dengan gebukan-gebukan khas Stadium, membuat Sancaka dan seluruh pengunjung yang lain segera bergoyang kembali

Dibawah pengaruh obat yang kuat Sancaka tanpa sadar terus menerus menatap sinar laser biru berkilau dari mata sang naga yang semakin mengenggelamkannya dalam buaian ilusi.

Namun Sancaka bukanlah manusia biasa, memang butuh dosis yang beberapa kali melebihi manusia normal untuk membuat pil setan itu berpengaruh pada dirinya, akan tetapi sebaliknya pengaruh pil setan itupun menguap habis beberapa kali lebih cepat dari manusia normal.

Sancaka tak menyadari bahwa perbuatan bodohnya tadi adalah penyebab banyaknya kematian pengguna pil setan itu yang menjadi overdosis.
Mereka menginginkan reaksi secepatnya, dan dengan dengan tak sabar terus menelan butir tambahan pil setan itu karena menganggap belum ada reaksi, dan ketika beberapa butir pil setan yang telah ditelan itu bereaksi susul menyusul dalam waktu yang berdekatan, jantung mereka yang hanyalah jantung manusia normal tidak lagi kuat menerima beban kerja yang berlebihan, belum lagi penurunan suhu tubuh yang terlalu drastis dan ancaman dehidrasi berlebihan membuat bahaya maut dengan cepat mencengkeram mereka.
Kebanyakan mati sia-sia dalam keadaan tak sadarkan diri.
Tak seimbang dengan kenikmatan sesaat yang tawarkan oleh pil-pil setan itu.
Tentunya bukan bentuk kematian yang pantas digugu dan ditiru.

Ditambah lagi kualitas dan kandungan pil setan itu kini semakin tak jelas, yang dapat saja mengandung bahan-bahan kimia yang berbahaya semakin membuat himbauan “Say No To Drugs” bebar-benar sebuah kata yang bijak dan memang bukan himbauan kosong.

Dari sekian banyak kasus kecanduan narkoba, kebanyakan adalah sama seperti Sancaka tadi, berawal dari sekedar coba-coba, sekedar ingin tahu, terpancing rasa penasaran akan kehebatan dan sensasi yang akan didapat, untuk kemudian tanpa sadar mulai terjerumus dan tenggelam dalam jurang ketergantungan yang tak sedikit berujung kematian.

Keingintahuan yang salah tempat memang terkadang berbuah kematian, seperti kata pepatah kuno “Curiosity Kills The Cat”.

****

Sancaka terduduk lemas, tubuhnya basah bermandikan keringat.
Disambarnya sebotol air mineral dingin dari atas meja, dan mulai menenggak habis isinya, terasa aliran air dingin itu menyegarkan tenggorokannya yang kering.

Novi yang mulai mabuk itu berhenti bergoyang dan mendekati Sancaka, melihat langkah gadis itu mulai limbung, Sancaka segera menarik gadis itu kedalam pelukannya.
Novi hanya tertawa membiarkan.

Tubuh Sancaka seketika menegang kaku.

Bukan karena hangat dan harumnya tubuh Novi yang kini dipeluknya itu.

Melainkan karena kehadiran aura gelap yang tiba-tiba dirasakannya, matanya mulai berputar mencari.

Tak lama kemudian sesosok tubuh berpakaian gaun malam warna hitam muncul diujung tangga.
Sosok tubuh itu langsung berjalan ke arah Sancaka.
“… Rianti …”, hanya bisikan yang lebih merupakan desisan yang sanggup keluar dari bibir Sancaka.

Novi yang mendengar bisikan Sancaka itu membuka matanya, didepannya berdiri seorang wanita yang terlihat anggun dan cantik sekali.

“Novi …”, ujarnya mengulurkan tangan berkenalan.
Gadis yang baru datang itu yang memang Rianti adanya segera tersenyum menyambut, “Rianti …” sahutnya.
“Herry …”, terdengar pemuda yang duduk di meja itupun mengulurkan tangan berkenalan.
Kembali Rianti hanya tersenyum menyambut uluran tangan pemuda itu.

Rianti mendekat kearah telinga Sancaka, “Aku harap ini adalah yang pertama dan terakhir Mas Sanca mencoba pil-pil setan murahan itu … “, bisiknya tegas.
Sancaka bagai anak kecil yang dimarahi ibunya dengan cepat mengangguk-anggukkan kepalanya.
Entah sejak kapan Rianti telah mengawasinya.

Rianti kemudian langsung terlibat obrolan dengan Herry, membiarkan Sancaka yang memeluk tubuh Novi, karena dilihatnya gadis itu tersenyum dengan mata terpejam berada dalam kenyamanan pelukan Sancaka.

Herry yang hanya minum sedikit minuman keras dan masih dalam keadaan sadar sepenuhnya itu kini mendapat teman mengobrol tak lagi bengong sendiri seperti tadi.
Dia tak boleh mambuk karena merasa sudah tugasnya untuk menjaga keamanan dan keselamatan Novi dan Jessy.
Berulang kali setiap Rianti membisikkan sesuatu ditelinga pemuda itu terlihat pemuda itu tertawa keras sambil menunduk.

Telinga Sancaka yang peka dapat menangkap apa yang dibisikkan oleh Riatni dan Herry.
Matanya segera mengawasi kearah Jessy, gadis beberapa kali menoleh ke arah Herry dengan raut muka dongkol.
Agaknya memang gadis itu sebenarnya juga menaruh hati pada pemuda itu, dan selama ini gadis itu pun menyadari bahwa Herry pun menaruh hati padanya, dan Jessy yang sedikit tinggi hati itu merasa senang selama ini dapat mempermainkan perasaan pemuda itu.
Tapi tak urung kedekatan Rianti dan pemuda itu membakar rasa cemburunya.

Jessy yang sudah mulai lepas dari pengaruh pil setan tadi segera mengajak mereka keluar dengan alasan mencari udara segar.

Keluar dari dalam lift dilantai delapan Hotel Sahid Jaya, Rianti segera merangkul pinggang Herry, menyeret pemuda itu pergi sambil membisikkan sesuatu dan terlihat keduanya tertawa-tawa, menuju ke salah satu kamar yang telah dipesan.

Sancaka segera membimbing Novi yang tampak sempoyongan menuju kekamar lainnya, entah sudah berapa banyak minuman yang dihabiskan gadis itu, Novi yang terlihat terdiam melihat aksi Rianti dan Herry tadi akhirnya melangkah mengikuti Sancaka.

Kamar yang dimasuki Sancaka ternyata kamar dengan double-bed.
Sancaka tersenyum melihat pengaturan Rianti ini.
Karena tadi sewaktu masih di Stadium didengarnya Rianti yang meminta Herry untuk memesan dua kamar hotel untuk mereka, satu kamar dengan single-bed dan satu kamar lagi dengan double-bed.
Herry hanya mengangguk-angguk dan segera melaksanakan permintaan Rianti dengan menghubungi teman akrabnya yang bekerja di Hotel Sahid Jaya ini, yang kebetulan sedang bertugas malam itu.

Sancaka membaringkan Novi keatas pembaringan.
Gadis itu menggeliat bangun sambil memegang kepalanya, “Maaf … Aku mau mandi air hangat buat menghilangkan pengaruh minuman ini”, ujarnya sambil melangkah terhuyung ke arah kamar mandi, kali ini gadis itu menggoyang-goyangkan tangannya tak mengijinkan Sancaka untuk membantunya.

Sancaka hanya tersenyum mengangkat bahu membiarkan gadis itu.

Sancaka menoleh kearah Jessy dan tertegun melihat perbuatan gadis itu.
Gadis itu berdiri disamping tempat tidur didekat jendela membelakangi Sancaka membukai seluruh pakaiannya.
Tubuh telanjang gadis itu segera masuk kedalam selimut, “Kemari lah Bang … Jessy kedinginan nih … “, panggilnya lirih sambil mengulurkan kedua tangannya.

Sancaka mendekat dan duduk di tepi pembaringan itu.
Gadis itu tak mungkin dapat menipu dirinya, dia tahu bahwa perbuatan gadis ini hanya terdorong oleh rasa marah dan cemburu melihat Herry dan Rianti yang berangkulan mesra masuk ke kamar lain tadi.
Sancaka tak ingin menyakiti hati gadis itu, dia ingin membuat gadis itu merasa kecewa.

Sancaka segera menyusup kedalam selimut itu, dan masuk kedalam pelukan Jessy, dikulumnya bibir ranum gadis itu.

Jessy memang sudah kehilangan keperawanannya sewaktu masih kuliah dulu, dia berikan mahkotanya dengan rela untuk kekasihnya yang akan berangkat meneruskan pendidikan ke luar negeri.
Apa daya kekasihnya mengalami kecelakaan dan tewas mengenaskan di negeri orang.
Walaupun untuk mendapatkan posisi jabatannya sekarang ini diapun harus merelakan tubuhnya beberapa kali dinikmati oleh Boss dikantornya, namun Jessy bukanlah gadis murahan yang mau bercinta dengan sembarang lelaki.
Belum ada lelaki lain yang menidurinya selain kekasihnya dulu dan Boss dikantornya, bahkan tidak juga Herry yang telah hampir dua tahun ini mengejarnya.

Entah darimana datangnya perasaannya ini, Jessy merasa ada sesuatu yang aneh dalam pelukan dan ciuman Sancaka, membuat gadis itu tergetar dan segera bereaksi membalas lumatan bibir Sancaka.
Tangannya segera bergerak berusaha melepaskan pakaian yang masih dikenakan pemuda itu.

Tak ingin membuang waktu, Sancaka segera melepaskan pelukan dan ciumannya, tersenyum dan berbaring disamping gadis itu sambil melepaskan bajunya.
Jessy tak mau tinggal diam, begitu baju Sancaka terlepas dia segera memeluk dan menciumi dada Sancaka.
Sancaka mengelus-ngelus kepala gadis itu sebentar sebelum berusaha melepaskan celananya, begitu celana itu terlepas Jessy dengan cepat menggerakkan tangan kannya menyambar batang penis Sancaka.

Sancaka terlentang membiarkan sambil membelai-belai rambut gadis itu, permainan lidah dan tangan gadis itu dengan cepat membangkitkan nafsunya.
“Gila … ada ya yang tegang dan keras kayak ini”, bisik gadis itu menghentikan jilatannya didada Sancaka, dan dengan cepat gadis itu bangun duduk dan membungkuk melahap kepala penis Sancaka yang berdiri tegang dalam genggaman tangannya.

Permainan lidah Jessy dan gerakan kepala gadis itu yang membuat batang penis Sancaka terasa masuk sampai ke tenggorokannya ditambah hisapan-hisapan kuat setiap kali penisnya masuk ke mulut gadis itu membuat Sancaka mendesis keenakan.

Jessy merasa puas melihat pemuda itu mendesis dan mulai meremas-remas rambutnya.

Merasa bahwa kepala penis pemuda itu semakin mengembang besar dan terasa mulai berdenyut kencang, Jessy segera menghentikan aktifitasnya, dinaikinya tubuh pemuda itu sambil mengarahkan kepala penis yang berada digenggamannya itu ke belahan bibir vaginanya.

Jessy menatap lekat-lekat ke mata Sancaka sambil menurunkan tubuhnya, Sancaka menggeram pelan, lubang kenikmatan yang baru mengenal dua lelaki itu masih terasa begitu rapat dan mencengkeram dengan ketat.
Jessy mendesis sambil menggigit bibirnya sendiri, dengan perlahan dia terus menurunkan tubuhnya sampai akhirnya batang penis Sancaka tenggelam seluruhnya ke dalam liang vaginanya.

Jessy segera menarik kedua tangan Sancaka kearah buah dadanya, tanpa diperintah lagi Sancaka dengan gemas mulai meremas dan mempermainkan kedua puting susu gadis itu.
Buah dada yang lumayan besar dan tegak menantang itu benar-benar membuat Sancaka gemas.

Dengan bertumpu di dada Sancaka, Jessy mulai menggerakkan tubuhnya naik turun sambil menggoyangkan pinggulnya.
Baik Jessy maupun Sancaka sama-sama mengeluarkan desahan-desahan dan lenguhan halus dengan terpejam rapat.
Semakin lama Jessy semakin mempercepat gerakannya.

Batang penis Sancaka yang menegang dengan sangat keras itu mengocok dan menggesek seluruh liang vagina gadis itu, membuat Jessy semakin menggila, “Auuchhh … Auuchhh ….”, rintihnya berulang-ulang.
Gerakan Pinggulnya semakin cepat tak beraturan.

Sancaka sudah hampir meledak namun dia masih berusaha menahan diri sekuat mungkin.
Kedua tangannya mencengkeram kedua buah dada gadis itu dengan kuat.

Jessy membuka kedua matanya, gadis itu menggeram dengan nafas memburu, “Tuntaskan Bang … Tuntaskan … Aku nggak kuat lagi … aku nggak kuat lagi …”, geramnya berulang-ulang.

Sancaka melepas pertahanannya, cengkeramannya di kedua buah dada gadis itu semakin kuat.
Dengan tubuh mengejang, batang penis Sancaka berdenyut-denyut kuat dan menyemburkan muatannya.
Semburan hangat itu membuat Jessy histeris dengan beberapa hempasan kuat gadis itu pun meraih puncak kepuasannya.

Sancaka menarik tubuh lemas Jessy yang terengah-engah dengan mata terpajam itu kedalam pelukannya.
Keduanya bibir mereka kembali saling lumat dengan gemas.

Jessy menggulingkan tubuhnya kesamping tubuh Sancaka, berusaha mengejar nafasnya yang seperti mau putus rasanya.
Sancaka sempat mengangkat kepalanya dan memandang kearah kamar mandi, dia baru ingat bahwa masih ada Novi didalam sana.
“Tenang Bang … Dia bisa satu jam mandi air hangat kalo sudah mabok begitu …”, bisik Jessy terengah-engah kepuasan.

Sancaka tersenyum tenang, tubuhnya berbalik dan segera memeluk tubuh gadis itu, seperti anak manja diletakkannya kepalanya keatas dada gadis itu, “Manja …”, bisik Jessy sambil membelai-belai rambut pemuda itu.

Sejenak hatinya terasa nyeri membayangkan dikamar yang lain tentunya Herry tengah memeluk tubuh molek Rianti.
Tapi segera ditepisnya perasaan itu.

“Bangun Bang … pakailah kembali pakaian Abang … jangan sampai Novi keluar nanti”, bisik gadis itu, “Abang temani dia ya Bang … Jessy capek mau tidur dulu …”, lanjutnya lagi.

Sancaka bangun dan mengecup kening gadis itu, dengan cepat dikenakannya kembali semua pakaiannya.
Setelah itu dia pun segera berbaring di ranjang yang satunya sambil menyalakan rokoknya.

Diliriknya Jessy dengan segera tertidur pulas.

Baru saja Sancaka menyalakan batang rokok keduanya ketika terdengar suara pintu kamar mandi terbuka.

Novi keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang hanya terbalut handuk, kepalanya juga terlilit handuk, sejenak gadis itu berdiri mematung memandang kearah Sancaka yang berbaring santai diatas tempat tidur itu.
Diliriknya Jessy yang meringkuk dalam selimut di ranjang yang lain, melihat bahu gadis itu yang terbuka dia dapat menduga kalau gadis itu dalam keadaan telanjang dibalik selimut itu.
Melihat situasi bahwa agaknya dia harus berbagi tempat tidur dengan Sancaka membuat wajah gadis itu sebentar pucat sebentar merah dengan jantung berdebar-debar.

Sancaka menyadari kegelisahan gadis itu, telinganya yang sensitif bahkan dapat mendengar jelas degupan jantung gadis itu.
Sancaka bangkit berdiri dan melangkah kearah kamar mandi, biarlah gadis itu menenangkan diri selagi aku membersihkan dan menyegarkan diri pikir pemuda itu sambil berjalan melewati Novi yang tertunduk malu.

Sancaka baru saja melepas bajunya saat terdengar ketukan di pintu kamar mandi, “Maaf Bang … Semua handuknya sudah terpakai oleh Novi”, sahut gadis itu menyodorkan handuk yang tadi dipakainya menutupi kepalanya, “Nggak apa-apa kok … khan bekas dipakai gadis cantik …”, balas Sancaka mencoba bergurau sambil menyambut handuk itu.
Novi hanya tersenyum dan segera berlalu, Sancaka hanya mengangkat bahu dan menutup kembali pintu kamar mandi itu.

Tak lama waktu yang dibutuhkan oleh Sancaka, pemuda itu keluar dari kamar mandi tanpa baju dan hanya mengenakan celana panjangnya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Novi sedikit bersembunyi di dalam selimutnya hanya kepalanya saja yang terlihat, akan tetapi gadis itu belum tidur, matanya menatap tajam kearah Sancaka.
“Belum tidur nih?”, tanya Sancaka sambil berdiri di antara kedua tempat tidur itu, “Aku nggak mau tidur sama Jessy …. hmmm Abang boleh tidur disini tapi nggak boleh macem-macem”, sahut gadis itu dengan wajah tegang.

Sancaka hanya mengangguk sambil tersenyum.

Melihat anggukan kepala Sancaka barulah Novi menggeser tubuhnya memberi tempat buat Sancaka.
Timbul niatnya untuk menggoda gadis itu, “Boleh berbagi selimut khan?”, tanyanya berbisik sambil duduk ditepi pembaringan itu.
Novi yang berbaring menyamping kearah Sancaka itu segera menganggukkan kepalanya, “Tapi aku kalau tidur biasanya cuma pakai CD doang … kalo pake pakaian atau celana lengkap gini nggak bisa nyenyak tidurnya … “, lanjut Sancaka.
“Nggak apa-apa … Buka aja … tapi inget ya … nggak boleh macem-macem”, bisik gadis itu sambil memejamkan matanya.
Sancaka hampir saja tertawa mendengar jawaban gadis itu.
Dibukanya celana panjangnya dan segera menyusup masuk kedalam selimut itu.

Setelah Sancaka masuk kedalam selimut itu dan dirasanya sudah mulai tak bergerak lagi, barulah Novi berani membuka matanya kembali.
Gadis itu sempat terkejut sesaat karena Sancaka berbaring menyamping kearahnya dan wajah pemuda itu cukup dekat dengan wajahnya.
Akan tetapi diapun segera menyadari bahwa tempat tidur ini memang cukup kecil dan bantalnya pun cuma ada satu.

Berbaring berhadapan dengan jarak sedemikian dekat membuat Sancaka semakin jelas mendengar degupan jantung gadis itu yang semakin cepat tak beraturan.
Sancaka menatap lekat-lekat kedalam mata gadis itu, dan ketika sinar mata gadis itu mulai meredup Sancaka dengan perlahan mendekatkan wajahnya dan mengecup sekilas bibir gadis itu.
Novi hanya sempat mendesah pelan, karena kembali Sancaka mengecup dan melumat bibir gadis itu.
Kali ini tidak hanya sekilas, bahkan Sancaka kini menggeser tubuhnya dan mulai memeluk dan meraba tubuh gadis itu.

Sancaka melepaskan ciumannya, “Aku juga nggak bisa tidur pake pakaian lengkap …”, bisik gadis itu tertunduk malu.
Dia dapat menduga bahwa Sancaka menghentikan ciumannya karena sewaktu memeluk dan merabanya tadi pemuda itu mendapati dirinya hanya mengenakan BH dan CD saja.

Sancaka segera memeluk kembali tubuh gadis itu, sambil melumat bibir ranum itu tangannya mulai membuka pengait BH di punggung gadis itu.
Dengan cepat dan tanpa kesulitan yang berarti, BH itupun segera melayang ke samping pembaringan.
Terpampanglah dua bukit kecil yang bulat dan kencang, menilik bentuk puting dan lingkaran disekitarnya agaknya gadis ini juga belum pernah hamil/melahirkan seperti Jessy tadi, Sancaka segera melumat kedua puting susu itu dengan gemas, diremas dan dihisap serta dijilatinya bergantian.
Novi hanya mendesis geli keenakan.

Puas bermain didada gadis itu Sancaka dengan gemas langsung melumat bibir gadis itu sambil meremas kedua buah dada yang bulat kencang itu.
Kemudian tangannya mulai merambat turun kearah celana dalam gadis itu.
Sancaka merasakan bahwa tubuh gadis itu menegang.
Tangannya menyusup dan mulai meraba dan meremas dengan lembut kedua bongkahan pantat gadis itu.

Akan tetapi ketika tangan Sancaka hendak menyusup kedepan kearah selangkangan gadis itu, tiba-tiba tubuh Novi tersentak kaget, gadis itu yang tadi memeluk dan membalas lumatan bibir Sancaka kini berusaha melepaskan diri sambil menolakkan tubuh Sancaka.
Sancaka kaget dan bingung juga melihat wajah ketakutan gadis itu, ditambah lagi ada air mata yang mengalir disana.

Dengan bujukan-bujukan halus akhirnya Sancaka dapat mengorek keterangan dari gadis itu.
Dulu sewaktu Novi masih sekolah dan baru berusia delapanbelasan dia telah dipaksa melayani nafsu bejat saudara sepupunya yang telah menjadi pencandu narkoba setelah sebelumnya dicekoki minuman keras.
Walaupun perbuatan itu hanya terjadi satu kali itu saja dan tidak membuatnya hamil, akan tetapi membawa dampak psikis bagi diri gadis itu.

Setiap kali menjalin hubungan dengan lelaki, setiap kali saat bermesraan dan sang lelaki mencoba turun lebih dari wilayah dadanya, setiap kali itu pula gadis itu menjadi panik.
Setiap kali seorang lelaki memutuskan hubungan, setiap kali itu pula gadis itu mencari pelarian, mencoba menghilangkan kekecewaannya seperti dia mengosongkan botol-botol minuman keras yang terus dituangnya.

Lama kelamaan tak ada lagi waktu luang gadis itu tanpa ditemani minuman keras.

Sancaka merasa kasihan kepada gadis itu, ditariknya gadis itu kedalam pelukannya, ditenangkannya gadis itu.

Cukup lama keduanya terdiam namun keduanya tidaklah tertidur, Sancaka dengan lembut membelai kepala gadis itu, sementara Novi berperang dengan dirinya sendiri.
Novi mengangkat kepalanya dan memandang Sancaka lekat-lekat, “Kalau seandainya aku mengijinkan Abang melakukan yang itu tadi … Maukah Abang berjanji untuk melakukannya dengan perlahan … Dengan lembut …”, tanya gadis itu lirih.
Sancaka tersenyum tetapi pemuda itu tidak juga mengangguk kepalanya.
“Aku ….”, bisikan gadis itu terhenti karena Sancaka langsung menutup mulut gadis itu, perlahan dibaringkannya tubuh gadis itu.

Sancaka dengan lembut mulai mengecup bibir gadis itu.
Setelah Novi mulai membalas lumatan bibirnya dengan tak kalah bernafsu, Sancaka dengan perlahan melepaskan ciumannya.
Membuat gadis itu mendesah penasaran.
Bibirnya mulai merambat ke leher dan turun kearah kedua buah dada gadis itu.

Dikecup dan dijilatinya kedua puting susu gadis itu sambil kedua tangannya memberikan remasan-remasan lembut.
Setelah dirasakannya puting susu gadis itu mulai menegang dan remasan tangan gadis itu dirambutnya semakin kuat, kembali Sancaka menghentikan aksinya.
Membuat gadis itu menggeram lirih penasaran.
Bibrinya mulai merambat kebawah kearah perut gadis itu.

Kedua tangan Sancaka segera berusaha menarik lepas celana dalam gadis itu, Novi membiarkan dan bahkan mengangkat pantatnya mempermudah usaha Sancaka.

Novi memejamkan matanya ketika Sancaka dengan perlahan mulai mengangkat dan membuka lebar kedua pahanya.
Sancaka membungkuk kearah selangkangan gadis itu.
Aroma khas segera menyerbu masuk kedalam hidung pemuda itu.
Tubuh gadis itu mengejang kaku ketika dengan lembut lidah Sancaka mulai menjilat membelah bibir vaginanya.

Novi menutup mulutnya dengan tangannya sendiri, berusaha meredam desahan dan lenguhannya, ketika ciuman dan jilatan Sancaka dibawah sana ditambah remasan-remasan gemas kedua buah dadanya terasa semakin ganas dan liar.

Sampai suatu saat gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat, desahan nafasnya terdengar memburu, kedua tangannya dengan gemas meremas rambut Sancaka.
Didahului desahan panjang tubuh gadis itu tersentak kuat, kedua pahanya menjepit kuat kepala Sancaka.
Ciuman dan jilatan Sancaka telah mengantarkan gadis itu menikmati orgasme pertama dalam hidupnya.

Sancaka merangkak maju dan segera menindih tubuh gadis itu.
Novi segera menyambut dan menyambar bibir Sancaka.
Bibir keduanya segera saling lumat dengan ganas.

Sancaka mulai menggesek-gesekan kepala penisnya di belahan vagina gadis itu.

Novi mengetahui dan merasakan hal itu, gadis itu sudah memutuskan bahwa inilah saatnya dia membiarkan semuanya terjadi, dia bahkan ikut menggerakkan pinggulnya mengimbangi gerakan kepala penis itu.

Namun tak urung gadis itu menjerit lirih ketika kepala penis itu membelah masuk kedalam bibir vaginanya.
Sancaka menghentikan gerakannya, kepala penisnya terjepit kuat dan terasa ngilu sewaktu dia mencoba mendorongnya lebih jauh.

“Aku mulai ya … mungkin akan sedikit terasa sakit … Aku akan mencoba selembut mungkin … Sudah siap?“, bisik Sancaka dan setelah melihat anggukan kepala gadis itu Sancaka pun bangkit duduk diantara kedua paha gadis itu.

Sancaka melebarkan kedua paha gadis itu, diarahkannya kepala penisnya dibelahan vagina gadis itu.
Dengan perlahan diapun menggerakkan pinggulnya mendorong kepala penisnya masuk.
Tubuh Novi menegang.
Gadis itu tampak menggigit bibirnya sendiri.

Kembali Sancaka mendorong penisnya sedikit lebih dalam.
Gerakan penisnya seperti tertahan.
Novi merintih dan meremas bantalnya dengan kuat.

Dengan sedikit sentakan Sancaka memaksa penisnya masuk lebih dalam.
Novi menjerit lirih, rasa perih membuat kedua tangannya refleks menahan gerakan pinggul Sancaka.
Air mata gadis itu mengalir turun.

Sancaka menggerakkan pinggulnya memaksa penisnya masuk lebih dalam lagi.
Novi mulai menangis.
Kedua tangannya dengan lemah berusaha mendorong mundur pinggul Sancaka.

Sancaka menarik mundur pinggulnya dengan perlahan.

Pemuda itu terkejut mendapati ada noda darah dipenisnya.
Akan tetapi dia mendiamkan hal itu, dia tak ingin membuat gadis itu panik.
Dengan segera didorongnya kembali penisnya memasuki liang vagina gadis itu.

Sancaka menarik dan mendorong masuk penisnya dengan gerakan perlahan, sedikit demi sedikit penisnya pun masuk semakin dalam.
Semakin jelas bahwa memang ada darah yang melumuri penisnya.

Novi sudah mulai dapat menikmati gerakan penis Sancaka didalam liang vaginanya.
Tubuhnya mulai menggeliat dan bibirnya mulai mendesah lirih.
Tak ada lagi air mata mengalir disana.

Sancaka kembali menurunkan tubuhnya, kini pemuda itu menarik dan mendorong penisnya sambil menghisap dan menjilati kedua puting susu gadis itu.
Novi mendesah dan melenguh keenakan sambil meremas-remas rambut pemuda itu.

Karena ini pertempuran keduanya setelah dengan Jessy tadi, seharusnya Sancaka dapat bertahan lebih lama dari biasanya, akan tetapi Sancaka merasa bahwa dia tidak akan dapat bertahan lama menghadapi Novi yang ternyata masih perawan tanpa gadis itu menyadarinya.
Ketatnya liang vagina gadis itu memberikan sensasi kenikmatan yang luar biasa.

Dipeluknya gadis itu.
Kembali bibir keduanya saling lumat dengan ketat.
Sancaka kini memompa penisnya keluar masuk liang vagina gadis itu dengan cepat.
Novi membuka pahanya selebar mungkin, menerima penuh setiap hunjaman penis pemuda itu.

Gerakan pinggul Sancaka semakin cepat, semakin liar tak terkendali.

“Novi … Sudah nggak tahan lagi Bang … Rasanya Novi mau meledak seperti tadi ketika Abang jilatin anunya Novi …”, desah gadis itu diantara ganasnya ciuman Sancaka dibibirnya.
Sancaka tak menjawab diapun sebenarnya sudah tak dapat menahan dirinya, pemuda itu semakin mempercepat dan memperkuat hunjaman-hunjaman penisnya.

Tak lama kemudian Novi menghisap bibir Sancaka dengan kuat, tubuhnya tersentak-sentak mengejang, Sancaka melepaskan pertahanannya, dihempas-hempaskannya pinggulnya dengan kuat, sambil menghunjamkan penisnya sedalam mungkin diapun memberikan semburan kuat kedalam vagina gadis itu.

Sancaka menciumi seluruh bagian muka gadis itu, membuat Novi tertawa geli kesenangan.
Tak sedikitpun merasa sesak dibawah tindihan tubuh Sancaka yang terengah-engah dengan nafas memburu.

Setelah acara mandi bersama, Novi segera memeluk tubuh Sancaka yang lebih dahulu membaringkan diri diatas tempat tidur itu, dan tak butuh waktu lama gadis itupun tertidur pulas dengan senyum bahagia menghias wajahnya.

Matahari sudah naik tinggi, ketika Herry dan Jessy terbangun dalam keadaan kaget, pandangan keduanya melekat erat, betapa tidak keduanya terbangun dalam keadaan saling berpelukan, dan tanpa membuka selimutpun keduanya sadar bahwa mereka sama-sama telanjang.

Herry nekat mendekatkan mukanya kearah Jessy, gadis itu hanya diam dan membiarkan pemuda itu mengecup bibirnya.
Jessy sudah memutuskan akan membiarkan semuanya … membiarkan apapun perbuatan pemuda itu.

Tempat tidur itu menjadi ajang pelampiasan nafsu terpendam keduanya selama ini.

Jessy tak ingin kehilangan dan tak ingin ada perempuan lain merebut pemuda itu lagi.
Kehadiran Rianti dengan pesona mautnya semalam telah menyadarkan gadis itu.

Rencana Rianti dengan memindahkan Jessy menjadi satu kamar dan satu tempat tidur dengan Herry berhasil dengan baik.

****

Dikamar yang lain terlihat Novi berdiri tersenyum dan menatap keluar jendela, mendekap dan menciumi sekuntum mawar merah yang ditinggalkan Sancaka.
“Sampai lain kali gadis manis … Sanca”, cuma itu pesan kecil yang tertulis di tangkai mawar itu.

“Lain kali … Kapankah kali yang lain itu Sanca … Kapan … Aku bahkan sudah merindukanmu Sancaka …”, desah gadis itu lirih.

“Aku akan menunggumu Sanca … Tapi kumohon … Datanglah sebelum kelopak terakhir mawar merah ini jatuh mengering layu Sanca”, desisnya sambil kembali menciumi bunga itu.

****

Kemanakah Sancaka dan Rianti?

Malam itu keduanya tampak bersenda gurau dengan mesranya di teras sebuah rumah besar di kawasan Jakarta Selatan.
Saling menceritakan pengalaman masing-masing sejak terakhir mereka bertemu setelah kematian Gayatri dulu, belasan tahun yang lalu.

Selama ini Rianti hanya dapat menanti datangnya Sancaka, dia menyadari sepenuhnya betapa cinta pemuda itu kepada Gayatri, mungkin sebesar cintanya kepada pemuda itu pula, dan dia akan terus menunggu sampai Sancaka dapat mengikis rasa kehilangan akan istrinya itu.
Bukankah waktu tak menjadi masalah bagi dirinya, menunggu sepuluh atau seratus tahun pun tak ada bedanya.

Keduanya memutuskan mulai saat itu untuk terus bersama.
Tak akan lagi berada dalam keadaan sendirian dalam mengarungi kehidupan abadi yang entah sampai kapan akan berakhir ini.

Harta peninggalan dari Tuan Frantzheof de Van Pierre yang selama ini disimpan dan dikelola Rianti sudah lebih dari cukup untuk menunjang keduanya hidup penuh kemewahan.
Dulu setelah menyelamatkan Gayatri dari Villa Darah itu Rianti langsung menghilang, lenyap bagai ditelan bumi, hanya Sancaka yang tahu kemana perginya Rianti dari sepucuk surat yang ditinggalkannya untuk Sancaka.
Belakangan Sancaka mengetahui ada enam peti penuh terisi lempengan-lempengan emas yang akan diselamatkan gadis itu, setiap lempeng mempunyai berat duapuluh lima gram dengan hiasan cetakan-cetakan simbol yang tidak dimengerti oleh Rianti.
Tapi Rianti tak mau ambil perduli, emas tetaplah emas, apapun bentuk dan tandanya.

EPILOG

Di sebuah ruangan besar yang tampak dipenuhi rak-rak besar dengan berbagai jenis buku yang tersusun rapi, dimana sebuah meja besar terletak ditengah-tengah ruangan itu tampak seorang biarawan yang sudah cukup tua sedang membaca sebuah buku.

Sebuah buku bersampul kulit yang tampak mulai retak-retak permukaannya dengan kertas yang mulai berwarna kuning kecoklatan yang sudah cukup tua agaknya, biarawan itu membalik setiap lembaran buku itu dengan hati-hati, setelah beberapa lama kemudian tampak biarawan tua itu tersenyum setelah menutupkan kembali buku yang sedang dibacanya.

Dengan hati-hati biarawan tua itu meletakkan kembali buku itu disusunan paling atas sebuah rak yang terletak di depan meja besar itu dan kemudian melangkah keluar dan menutup pintu masuk ruangan itu.

Biarawan tua itu tak lain adalah Ignatius Rianto, sejak Padre Gabriel wafat dan meminta dia menyimpankan catatan hariannya di perpustakaan biara ini, setiap tahun pada bulan dimana dulu mereka beramai-ramai menumpas Tuan Frantzheof de Van Pierre si vampire tua, Rianto selalu membuka dan membaca kembali catatan Padre Gabriel itu sambil membersihkan dan merawat buku itu.

Buku catatan harian yang berisikan “The Untold Story” tentang Vampire tua yang bernama Frantzheof de Van Pierre yang sebenarnya nama itu adalah kamuflase nama belanda dari “Prince Of The Vampire” atau pangeran kaum vampire, karena memang sejatinya vampire tua itu termasuk salah satu dari enam high ranking vampire yang menjadi tangan kanan kesayangan dari Count Draculla, dan menjadi semacam raja kecil kaum vampire untuk wilayah Asia dan Australia. Sebelum akhirnya harus menyembunyikan diri jauh di pedalaman Sumatera Selatan guna menghindari kejaran DR Abraham Van Helsing dan kawan-kawan setelah perburuan dan penumpasan Count Draculla dan kakitangannya di Transylvania pada sekitaran tahun 1885 sampai dengan Tahun 1887.

*** TAMAT ***