Cerita ini murni fiktif dan tidak ada keinginan dari penulis untuk mendiskreditkan siapapun dan mahluk apapun didalamnya baik atas dasar ciri fisik ataupun asal usul (SARA…tau khan?) Jadi berpikirlah only for sex tiap kali baca tulisan ini. Berhubung penulis sedang tidak dalam kondisi mood yang baik untuk mengarang maka jadilah karangan ala kadarnya ini.

Beware: – Didalam cerita seru ini terdapat adegan panas (ya iya lah) dan pengkhianatan jadi bagi yang mental atau emosinya mudah meledak-ledak jangan membacanya didekat gelas, piring atau pisau untuk menghindari pelampiasan kekesalan pada benda-benda mudah pecah tersebut. Juga jangan membacanya didepan orang tua kecuali kalau anda penganut sistem liberalisme dalam keluarga Happy reading……..

Ini kisah tentang dua orang pemuda yang berteman cukup lama. Banu yang seorang pemalu yang super kuper namun pandai dalam hal akademis, sementara sahabatnya adalah Nugie seorang playboy cap buaya yang sudah terkenal di kampusnya bahkan bakat playboynya itu sudah terintis sejak dia duduk dibangku sekolah menengah pertama. Padahal dibanding Banu jelas tampang Nugie lebih pas-pasan tetapi postur badan yang tinggi tegap ditambah kepandaian berbicara dan bergaul membuat dirinya banyak dilirik wanita di kampus maupun diluar kampus.

Pada suatu kesempatan, kedua sahabat ini ngumpul bareng di kafe kampus mereka. Banu sedang mendengarkan cerita Nugie mengenai gossip terbaru mengenai kehidupan mahasiswa di lingkungan mereka. Memang Nugie mempunyai banyak sumber berita yang anehnya mereka semua memberikan informasi yang terlalu mendekati fakta daripada gossip, mirip wartawan sungguhan saja.

Saat Nugie sedang asyik-asyiknya bercerita, tiba-tiba Banu melongo tertegun melihat ke arah gedung disebelah kafe kampus itu. Terlihat seorang gadis yang berparas lumayan cantik sedang berjalan keluar dari gedung itu. “Oh, cewek itu. Lu tertarik Ban?” tanya Nugie sambil ikut-ikutan memperhatikan cewek itu. Banu hanya tersipu malu, “Dia teman kuliah di salah satu kelas yang aku ikuti. Anak ekonomi juga, cuman dia anak akuntansi.” Kata Banu menjelaskan. Nugie yang mendengar penuturan Banu tertawa ngakak dan baru berhenti setelah perutnya di sikut oleh Banu, “Soriii…hahahah…soriii bangettt…

Ternyata kamu udah lama naksir dia. Kenapa nggak bilang sih? Siapa namanya?” tanya Nugie kembali. Banu hanya menggeleng lesu, “Aku nggak bisa bilang kalau aku suka dia. Ngomong ke dia aja baru 2 kali waktu aku membantu dosen membagikan soal tes ke dia. Namanya aku juga nggak tahu. Bingung nih mau mulai dari mana.” Banu menundukkan mukanya seperti jenderal yang kalah sebelum bertempur. Nugie kembali ngakak dan langsung menghambur keluar kafe dan menuju ke arah cewek tersebut. Entah apa yang ada di benak pemuda satu ini.

Dia segera mengajak gadis yang belum dikenalnya untuk ngobrol. Gilanya lagi dia langsung mendapatkan tanggapan positif. Nugie mengikuti jalan gadis itu disampingnya sambil terus nyerocos ke sang gadis. Anehnya gadis itu bukannya merasa terganggu malah menanggapinya dengan penuh senyuman. Sekitar sepuluh menit kemudian, Nugie kembali ke kafe dan dengan wajah berseri dia mengapit bahu Banu. “Gua dah tanya namanya. Namanya Tina, lu entar bisa deketin dia sendiri khan. Tuh kostnya ada di Pondok Cemara, deket dari sini kok.

Kalo gak salah tuh tempat emang kost khusus cewek, rada elite emang dan dekat kampus pula. Lu coba aja kesana.” Kata Nugie sambil duduk kembali di sebelah Banu. Banu kaget mendapatkan begitu banyak keterangan dari Nugie, bagaimana mungkin dalam waktu sesingkat itu temannya dapat mengumpulkan begitu banyak data dan padahal baru saja mengenal cewek tersebut. Walaupun memang si Tina ini seorang gadis yang ramah. Dua hari kemudian dimalam hari, Banu mencoba untuk memberanikan diri datang ke kost Tina di Pondok Cemara. Memang tempat yang cukup elite bagi kalangan mahasiswa. “Mau cari siapa mas?” Tanya seorang perempuan separuh baya, mungkin pembantu di kost tersebut.

Banu agak gelagapan menjawabnya, “Anu…saya mau mencari Tina. Tina-nya ada?” tanya pemuda ini dengan sopan. Perempuan separuh baya itu mengatakan kalau Tina ada dan beranjak untuk membukakan pintu gerbang lalu mempersilakan Banu untuk masuk ke ruang tamu. “Sebentar yah mas, saya panggilin dulu anaknya. Maklum ada dikamar atas.” Kata pembantu itu sambil menunjuk kearah lantai dua rumah itu. Banu menanggapinya dengan senyum walaupun dalam hati dia sedang kebingungan, dia tidak tahu harus mengatakan apa nanti saat ketemu dengan Tina. “Hai.”

Suara lembut Tina terdengar dari depan pintu ruang tamu. “Siapa yah? Ada perlu apa nyariin aku?” sapanya ramah. Banu kebingungan lagi, “Anu…maaf udah ganggu kamu. Namaku Banu, salam kenal yah.” Banu memberanikan diri memperkenalkan namanya kepada Tina. Tina duduk dikursi disamping Banu. “Ada perlu apa Banu?” tanyanya untuk yang kedua kali. Banu menyeka keringat dingin yang muncul di dahinya. “Cuman main aja kok. Boleh khan?” pemuda ini menelan ludahnya sendiri, dia berharap-harap cemas terhadap tanggapan dari Tina. “Ahahaha…kirain mau apaan. Eh kamu jangan-jangan satu kelas kuliah denganku yah?” tanya Tina lagi. “I…iya. Kamu tahu juga yah. Kirain gak pernah perhatiin ke aku hehehe.” Banu meringis senyumnya yang paling indah.

Tina lalu menawari minum Banu, walaupun Banu menolak halus tetapi karena dipaksa akhirnya sang pembantu dapat orderan untuk membuatkan minuman. “Aku cuman menebak aja kok. Soalnya bisa tahu namaku khan nggak mungkin kalau nggak sekelas denganku. Atau jangan-jangan dari temanku.” Katanya sambil mengerling kearah Banu. Harapan mendapat perhatian dari Tina tiba-tiba saat itu juga runtuh, Banu kembali ketitik dimana dia kehilangan kepercayaan dirinya lagi.

Sekitar sepuluh menitan Banu dan Tina tenggelam dalam percakapan yang rada-rada membosankan namun dipaksakan. “Maaf yah Ban. Tapi sebentar lagi aku harus pergi keluar. Soalnya aku udah janji sama temanku. Kamu nggak apa-apa khan?” tanya Tina. “Oh, nggak apa-apa kok Tin. Aku juga udah mau pergi, soalnya ada tugas yang harus aku kerjakan.” Dalam hati Banu kecewa juga tetapi daripada terus-terusan menjadi secret admirer-nya Tina mendingan memulai pendekatan sekarang walaupun pendekatan yang tidak berkualitas. Malamnya. Ban terus membayangkan wajah Tina. Saat dia sedang asyik-asyiknya melamun terdengar ketokan pintu kamar kostnya. “Siapa seh?” teriak Banu jengkel.

Dia padahal baru saja dapat menangkap bayangan terbaik dari Tina di benaknya. “Halo bos. Lagi ngapain bos?” sesosok mahluk menyebalkan yang ternyata Nugie, teman kost Banu nongol dari balik pintu kamarnya. Sambil melepaskan helm-nya dari kepala besarnya itu dia langsung aja menyelonong masuk kedalam kamar Banu mencari sesuatu yang bisa dimakan dan langsung menemukan sekotak biscuit. “Thanks ya bos. Tadi gua baru makan dikit dan masih laper berat neh.” Katanya sambil cekikikan. “Begh…emang kamu dari mana sih? Jam sebelas malam baru pulang.” Banu kembali merebahkan dirinya dikasur sambil menyingkirkan jaket kulit Nugie yang menutupi bantal kesayangannya. “Biasa bos. Cari pasangan.

Gua khan baru saja putus sama si Lely. Padahal kalau terus jomblo khan bisa kesepian gua ntar…heheheh.” Sahut Nugie seenaknya. “Lagi pula tadi gua sekalian pergi ke mall buat nyariin baju temen gua. Dia lagi bingung cari baju untuk pesta pernikahan saudaranya. Sekalian aja gua ajak jalan-jalan keliling kota hehehe…” Banu hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan sahabat akrabnya itu. “Kamu tuh nggak pernah berubah emang. Dasar buaya darat.” Sekitar dua bulan, Banu memperbanyak frekuensi pertemuannya dengan Tina.

Mulai dari pergi kost-nya ataupun mengantarkan Tina saat dia pulang dari kampus ke kostnya. Entah kenapa seiring dengan waktu, Tina malah semakin dekat dengan Banu. Bahkan beberapa kali Banu dia yang mengajak pemuda itu duluan untuk jalan-jalan keluar. Bagai dibuai mimpi, hal ini terang saja membuat Banu senang dan bahagia.

Sudah dua tahun dia menjadi secret admirer Tina, sekarang sudah bisa berjalan berdua dengannya, jelas itu merupakan prestasi tersendiri baginya. Hanya entah kenapa tiap kali Banu mengajak janjian pergi berdua dengannya diwaktu malam, Tina selalu menolak. Dia beralasan kalau malam adalah waktu dia untuk belajar, sementara itu dia tidak mau keluar malam kalau tidak penting sekali. Alasan yang masuk akal bagi Banu untuk diterima. Hingga suatu malam dia nekat berkunjung ke kost Tina. Ternyata sang pembantu mengatakan kalau Tina sedang pergi keluar dengan temannya. Terang saja Banu kecewa mengingat Tina selama ini selalu tidak mau diajak keluar oleh Banu dengan berbagai alasan.

Seminggu kemudian diwaktu malam. Nugie mendatangi Banu dan seperti biasa dia mulai menebar gossip yang tidak jelas. Namun entah kenapa Banu masih mau menanggapinya entah karena dia sudah mulai tertular Nugie yang suka menggosip atau karena dia begitu menghargai sahabatnya ini. Memang selama ini Nugie selalu dekat dengan Banu bahkan seringkali dia membantu Banu jika pemuda ini dalam kesulitan menghadapi permasalahan non-teknis.

Mulai dari menguruskan denda tilang, melobi dosen agar mendapatkan tes susulan setelah sakit, atau membantu negosiasi dengan pihak sponsor saat Banu menjabat koordinator sebuah seminar nasional dikampusnya. Intinya mereka seperti Bonnie and Clyde jika di Amrik sono atau mirip si Buta dari gua hantu dengan Kliwon keranya yang setia (tidak perlu khan saya jelaskan siapa yang mirip kera disini?) “Lu tau nggak Ban?

Ternyata si Lely itu setelah putus dari gua, sekarang menggandeng temen sefakultas gua. Lu kenal dengan Ronny anak dari Medan itu khan? Yang dulu suka teriak-teriak kalau lagi kalah maen basket di kampus. Bayangin aja, apa yang bagus dari dirinya? Jangan-jangan karena konti-nya gede kali ya. Heheheh…” lagi-lagi Nugie ngomong ngawur dengan suksesnya. “Heh? Emang dulu kamu sama Lely udah pernah gituan?” tanya Banu iseng sambil terus membalikkan halaman novel yang dia baca. “Ya iyalah. Gue khan yang pertama ngentotin dia. Dari semua mantan pacar gue, cuman dia yang masih perawan. Tapi anehnya paling mudah diajak ML. gila gak tuh?” cerocos Nugie lagi. Banu geleng-geleng kepala, “Kamu tuh yang gila. Apa nggak kasihan sama Lely setelah kamu gituin langsung kamu tinggal?” kata Banu lagi. Seperti biasa, Nugie punya 1001 jawaban pembenaran dirinya.

“Khan berdasar suka sama suka bos. Nggak ada yang maksa dia buat melakukan seks dengan gua kok hehehe.” “Ntar bentar lagi gua mungkin bakalan dapat perawan lagi nih. Doain gua yah bos heheheh.” Celetuk Nugie dengan gilanya lagi. Lalu pemuda itu ngeloyor pergi dari kamar Banu. Sementara Banu dengan cueknya melanjutkan bacaannya. Tepat 10 hari kemudian, Banu yang sedang duduk-duduk dikursi taman, dihampiri teman kuliahnya. “Oi, Ban. Lagi ngapain disitu?” teriak temannya itu yang bernama Yusril. “Ah nggak lagi ngapa-ngapain? Emang kenapa?” sebenarnya Banu sedang menunggu Tina lewat. Biasanya gadis itu lewat sekitar jam segini didepan taman kampus. Entah kenapa sejak tadi Banu tidak melihatnya, atau jangan-jangan dia tidak masuk kelas. “Eh. Ntar kekost gua yah. Ada yang gua mau perlihatin nih. Anak-anak yang lain juga datang kok. Ada Kopral, Rio dan Reza.” Kata Yusril lagi kepada Banu. “Emang mau ngapain? Pasti kalian mau pamer koleksi bokep lagi khan? Males ah, bosen nih liatin gituan.” Sahut Banu. Yusril tidak mau menyerah membujuk Banu, “Weleh. Yang ini lain bro. si Reza barusaja dapat film documenter dari anak kampus sini.

Cuman siapa orangnya gua kagak tau bro. Lu datang yah, soalnya gak asyik kalo kaga rame. Lagian ntar si Kopral datang bawa makanan kecil kok. Ok bos?” katanya lagi sambil berlalu tanpa menunggu jawaban dari Banu. Baik Yusril dan ketiga temannya itu merupakan teman satu fakultas dari Banu yang kebetulan satu angkatan juga. “Yah, daripada nggak ada kerjaan. Ntar sorean aku kesana aja lah.” Kata Banu dalam hati. Sorenya sekitar jam 4 sore. Lima orang sudah berkumpul, Banu dan keempat temannya termasuk orang yang dipanggil Kopral juga datang. Sebenarnya itu panggilan saja karena kebetulan potongan rambut temannya itu mirip potongan rambut seorang kopral dalam sebuah film perang. Nama aslinya sih Ridwan. “Nih, gua perlihatkan koleksi terbaru gua. Gua dapatnya dari temen gua yang kebetulan handycam-nya dipinjem untuk merekam adegan mesum ini. Sip deh pokoknya. Heheheh…” kata Reza sambil menyerahkan VCD cakram untuk dimasukkan kedalam CD-Rom komputer Yuzril. Dalam hitungan detik kelima pemuda ini duduk rapi menunggu tayangan spektakuler yang mungkin bakalan menjadi skandal di kampus mereka nantinya. Tayangan pertama memperlihatkan gambar yang tidak begitu jelas. Karena tertutup tangan dan kain. Kamera diarahkan untuk meliput area tempat eksekusi nanti berlangsung.

Terlihat sebuah hotel yang dekat dengan obyek wisata. Bahkan papan nama obyek wisata itu juga diperlihatkan. Lalu tayangan beralih kepemandangan dalam kamar. Diatas tempat tidur sudah tergolek sesosok tubuh perempuan yang wajahnya ditutupi dengan bantal. Tubuh perempuan itu sudah telanjang bulat. Terlihat payudaranya yang putih mulus kencang itu ikut rebah seperti tubuhnya yang langsing. Rambut hitam sebahunya sebagian menutupi bagian atas payudara gadis itu. Lalu terlihat kamera diletakkan diatas meja kecil dan diatur sehingga wajah pemain film documenter itu tidak terlihat dikamera. “Jangan ah. Aku malu.” Ujar sang perempuan lirih namun terdengan suara sang pria yang malah tertawa lebar.

Lalu terlihat paha gadis putih itu dilebarkan oleh sang pria yang masih terus mengocok batang kemaluannya sendiri. Sambil menciumi buah dada gadis itu, sang pemuda menggesek-gesekkan batang kemaluannya kebibir vagina gadis itu yang masih rapat. Bulu-bulu halus menghiasi bagian atas vagina gadis itu. “Wah masih perawan tuh. Liat aja memeknya masih polos gitu.” Seru Ridwan alias Kopral kepada yang lain dan diamini oleh seluruh peserta nonton bareng diruangan itu termasuk Banu. Semenit kemudian, penis sang pemuda itu dihunjamkan dengan kekuatan penuh membelah bibir vagina sang gadis. Terdengar suara rintihan mengerang dari gadis itu menahan rasa sakit karena vaginanya yang sempit itu diterobos oleh batang penis yang begitu besar milik seorang pria.

Tubuh gadis itu sempat bergetar menahan sakit lalu lemas. Beberapa saat kemudian, pemuda itu mulai menggenjot penisnya yang masih separuh masuk kedalam liang senggama sang gadis. Gadis tersebut sedikit meronta namun luluh juga setelah tubuhnya dihujani ciuman dan jilatan dari mulut pemuda itu. Sayangnya pemuda itu menggunakan penutup muka mirip masker, sehingga bagian hidung keatas tidak terlihat karena tertutup sementara hanya bagian lubang mata, hidung dan seluruh bagian mulutnya yang terlihat oleh kamera. “Wah, ceweknya mulai merasa senang tuh.’ Ejek Yusril sambil meraih snack yang dibawa Reza tadi. Tubuh seksi gadis itu mulai terguncang-guncang, saat ini seluruh batang kejantanan sang pemuda misterius itu sudah masuk kedalam vaginanya dan mulai memompa dengan kencang tanpa ampun.

Kedua tangan sang gadis yang berusaha mendorong tubuh pemuda itu malah sekarang dicekal oleh kedua tangan pemuda itu sementara lagi-lagi mulutnya menjarah buah dada sang gadis yang putih mulus. “Wah enak tuh. Ukuran 34C atau D malah…gedhe bangettt…” celetuk Reza dan lagi-lagi yang lain mengamininya juga. Memang sepasang payudara gadis itu cukup besar dan lagi putih mulus. Lalu sambil mempercepat sodokan penisnya, sekarang kedua tangan pemuda bertopeng itu giliran meremas buah dada sang gadis. Entah karena menahan rasa sakit atau lelah, sang gadis terlihat lemas tak bertenaga lagi untuk memberikan perlawanan terhadap sang pemuda.

Pemuda itupun merangkul erat tubuh sang gadis sambil memperdalam hunjaman penisnya dengan cara menyandarkan kedua paha gadis itu diatas pundaknya lalu memperdalam penetrasi penisnya. Sekarang kamera bisa melihat jelas lelehan darah perawan dari liang kewanitaan sang gadis yang mengalir ke seprei kasur tempat mereka bercumbu. “Akhh…okhhh…aku keluar…akhhh…” desah sang pemuda sambil mempercepat pompaannya lalu mencabut batang kemaluannya dan menyemprotkan cairan spermanya keatas payudara dan perut sang gadis.

Sang pemuda tersenyum puas sementara sang gadis akhirnya wajahnya tersorot kamera ketika pemuda itu memindah posisi tidur gadis itu. Lalu dengan kamera ditangan, pemuda tersebut menyorot vagina gadis itu yang sudah melebar karena penetrasi barusan dan memperlihatkan darah perawannya sambil memasuk-masukkan jari tengahnya kedalam liang kemaluan gadis itu. Sekarang topengnya terlihat dilepas dan pemuda itu menyorot wajah sang gadis setelah sebelumnya memperlihatkan ceceran sperma yang membasahi buah dada gadis itu. Banu bagai disambar geledek kala melihat wajah sang gadis.

Gadis yang barusaja membintangi video mesum amatiran itu tak lain adalah Tina, gadis yang dia taksir selama ini. Jelas sudah, itu pastilah Tina, walaupun dengan make-up yang sudah tak karuan dan rambut acak-acakan tapi jelaslah itu Tina. Belum sempat detak jantung Banu kembali normal, dia kembali dikejutkan ketika melihat wajah sang pemuda yang tak lain adalah Nugie, sahabat karibnya sendiri. Kamera itu memperlihatkan bagaimana Nugie dan Tina lalu berciuman mesranya dan akhirnya Nugie menyuruh Tina untuk melakukan oral seks kepadanya dan dituruti oleh Tina.

Walaupun masih amatir tapi terlihat kalau Nugie menikmati oral seks Tina. Entah sudah berapa detik atau menit Banu merasakan baal dalam dirinya sehingga dia tidak lagi merasakan apapun disekelilingnya. Dia masih tidak percaya kalau sahabatnya sendiri telah meniduri gadis pujaannya selama ini bahkan dalam rekaman kamera. Banu masih shock dan pandangannya kosong kearah layar monitor komputer bahkan ketika pertunjukan asyik itu berakhir dengan muncratnya sperma Nugie dibibir Tina.