Riau, sebuah daerah yang dulu sekali pernah dingin dan sejuk namun sekarang seiring dengan proses penggundulan hutan besar-besaran membuat wajah sang bumi menjadi berubah.

Namun bagi Rini, Riau merupakan tempat yang paling dia cintai. Bagaimana tidak karena dia lahir dan besar ditempat ini hingga dia lulus SMU. Gadis berpostur tinggi dan berkulit putih ini kerap kali membayangkan kehidupan diluar kampung halamannya itu. Namun baginya hal tersebut hanya bisa sebatas khayalan belaka mengingat untuk pergi keluar pulau termasuk hal yang susah karena orang tuanya sendiri bukan dari kelompok orang yang berekonomi baik namun berkat kegigihan sang ayah akhirnya Rini berhasil menempuh bangku SMU nya tanpa kendala biaya.
Keberuntungan Rini berubah ketika dia berhasil mendapatkan beasiswa dari salah satu universitas swasta di Jakarta. Kedua orang tua Rini gembira sekali, bagaimana tidak karena anak semata wayang mereka mendapatkan tawaran untuk mengecap bangku kuliah tanpa dipungut biaya sepeserpun, itu semua juga berkat keberhasilan Rini yang selalu giat belajar hingga memperoleh prestasi nilai yang gemilang. Pihak sekolahpun juga telah memberikan rekomendasi sehingga uang masuk dan sumbangan awal masuk kuliahpun ditiadakan mengingat Rini dari keluarga yang mendekati tidak mampu.
Air mata bahagia dan haru bercampur dan menetes dari pipi sang ibu ketika menyaksikan anaknya berangkat memasuki bus antar provinsi untuk menuju Jakarta. Berbagai pikiran bersliweran di benak Rini membayangkan bentuk kota Jakarta yang selama ini hanya dia saksikan lewat televisi saja.
“Non. Udah sampai nih.” Kata sang kondektur kepada Rini. Gadis cantik ini bangun dari tidurnya dengan masih memicingkan matanya sambil melihat sudah berada dimana dia sekarang. Samar-samar dia melihat stasiun bus yang penuh sesak dengan calon penumpang bercampur pedangang dengan tulisan besar pada papan namanya “Pulogadung”. “Non. Udah sampai nih. Ini pemberhentian akhir.” Tegur sang kondektur lagi. Rini menyadarkan dirinya yang masih setengah sadar itu lalu bergegas mengambil kopernya dan beranjak pergi.
“Oh…ini yah yang namanya Pulo Gadung. Besar amat ya….” Batin Rini melihat kesibukan di stasiun tersebut.
Selang beberapa saat kemudian dia tersadar kalau dia perlu untuk menyambangi kampus yang nanti akan menjadi tempat kuliahnya. Dia lalu mulai bertanya-tanya kepada orang disekitar situ perihal alamat dari kampus tersebut. Setelah beberapa kali bertanya akhirnya dia mendapatkan arah untuk menuju kekampus tersebut sekalian dengan angkot yang harus dinaikinya nanti.
Sekitar satu setengah jam kemudian, Rini telah sampai di pintu gerbang kampus tercintanya. Setidaknya dia sudah mendapatkan lokasi kampusnya dan tinggal mencari tempat kost. Celingukan dia mencari orang yang dapat ditanyainya. Rini bingung juga karena disini semua orang berjalan begitu cepat sehingga tidak ada waktu untuk memperhatikan kalau didekat mereka ada seorang gadis cantik yang kebingungan sambil membawa 2 koper besar.
“Halo. Kamu calon mahasiswa baru ya?” sapa seseorang dari arah belakang sambil menepuk pundak Rini.
Rini terkejut sejenak lalu berusaha tersenyum dengan muka kuyunya itu, maklum dia belum mandi pagi. “Iya. Baru saja datang nih dari Riau. Eh, bang, numpang tanya dong. Kalo tempat kost disekitar sini adanya dimana ya?” tanya Rini sambil membetulkan letak rambutnya yang sedikit acak-acakan.
Pemuda itu tertawa, “Hahahaha…gak usah panggil bang. Gua belum setua itu lagi. Oh ya nama gua Radit. Kalo lu mau gua bisa ngantar lu keliling sekitar sini buat cari tempat kost. Gimana?” tawar pemuda berambut ikal itu kepada Rini.
Sesaat Rini ragu juga melihat cara pakaian Radit yang asal-asalan, tapi mau gimana lagi karena dia juga buta lokasi. Akhirnya dia diantar Radit dengan mobil pick-upnya. “Mobilnya mas Radit ya?” tanyanya mencoba membuka percakapan.
Radit tersenyum, “Waduh gua masih culun gini gimana bisa beli mobil non. Gua cuman minjem punya kantor gua. Gua khan selain kuliah juga kerja sambilan.” Kata Radit menjelaskan.
Rini baru sadar ternyata dia seorang mahasiswa juga, “Oh kuliah juga yah.” Sahut Rini polos dan hal itu memancing tawa Radit yang lebih keras. Sejenak dalam hati Rini memaki kebodohannya sendiri.
“Gua khan satu kampus sama situ. Cuman gua udah tahun ke 3. Udah senior elu.” Sahut Radit setelah puas tertawa ngakak.
“Emang kerja dimana? Eh ditempet kak Radit ada yang buka lowongan buat cewek nggak? Aku juga mau nih part time sama seperti kak Radit.” Tanya Rini memberanikan diri. Dia tahu kalau ingin hidup lebih mapan dikota besar seperti Jakarta ini harus punya sumber penghasilan sendiri sehingga dia tidak begitu merepotkan orang tuannya.
Radit melirik kearah Rini dengan serius begitu mendengar pertanyaan tersebut. “Lu yakin? Lu yakin mau kerja? Semester awal tuh krusial banget lageee…lu butuh waktu buat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru elu dan masih perlu penyesuaian diri juga dengan tempat kuliah elu. Lagipula gua kerja ditoko meubel, gua nggak yakin elu bakalan tahan disana. Gajinya gak seberapa besar dibandingkan dengan tenaga yang dikuras.” Ujar Radit mencoba memberikan masukan.
Rini tertunduk, dia dalam hati juga mengiyakan argument Radit, dia pasti bakalan butuh waktu buat menyesuaikan diri di lingkungan barunya yang sekarang. Sementara ini dia bahkan masih belum tahu akan kost dimana.
“Nah. Ini dia tempat kost yang pas setidaknya menurut gua. Tempatnya nyaman dan terjangkau. Walaupun sederhana tetapi bersih. Anak didalamnya semuanya anak kuliahan walaupun bukan sekampus dengan universitas kita.” Jelas Radit sambil membukakan pintu Rini yang masih setengah melamun.
Memang tempat kost ini dihuni oleh 16 orang dan semuanya anak kuliahan. Mereka rata-rata merupakan mahasiswi tingkat akhir dan tinggal menempuh skripsi saja. Walaupun begitu mereka merupakan mahasiswi dari universitas yang berbeda dengan yang ditempati Rini.
“Wah Radit. Bawa cewek lagi. Pasti nyariin kost yah.” Sapa seorang ibu-ibu yang berusia sekitar 40an tahun. Radit hanya cengar cengir tanpa menjawab. Lalu ibu itu mempersilakan mereka berdua masuk. Sepertinya ibu tersebut adalah pemilik kost. “Radit ini emang suka bantu ibu buat nyariin anak kost disini. Maklum soalnya sekarang susah nyari anak kost yang baik-baik. Semua mahasiswi disini merupakan anak yang alim-alim dan nggak macem-macem. Mereka emang hanya mempunyai tujuan buat mencari ilmu di kampus mereka.

Yah maklumlah, ibu juga sukanya menerima mahasiswi yang nggak macem-macem, susah kalau ada apa-apa ntar.” Ibu itu seolah mulai mempromosikan merk dagangnya sendiri saja.
Rini diajak oleh sang pemilik kost tersebut untuk menengok kamar yang akan dihuni oleh Rini nantinya. “Nah Rini, ini dia kamar kamu nantinya. Udah di cat oleh Radit kok seminggu yang lalu jadi masih baru catnya masih bersih. Nanti ibu bawakan selimut sama sprei dan sarung bantalnya yah.” Kata ibu itu lagi sambil membukakan pintu kamar. Kamar itu berukuran 3 x 3 meter dengan cat warna biru muda dengan lantai keramik warna putih. Memang kecil tetapi bersih dan nyaman untuk ditinggali. Rini lega akhirnya satu permasalahannya selesai sudah. Tinggal sekarang dia mengurus hal yang lain.
“Memangnya kamu kerja apaan aja sih selain di toko mebel, nyariin tempat kost dan tukang cat? Jangan-jangan kerjaan tukang parkir juga kamu embat?” canda Rini asal.
Radit tersenyum, “Emang. Tapi dulu. Sekarang udah kagak. Maklum, kalah sama orang laen yang punya bekingan preman.” Jawaban sederhana yang sempat membuat Rini terheran-heran. Ternyata pemuda disampingnya ini merupakan orang yang tekun dalam mencari uang sekaligus menimba ilmu. “Eh gua cabut dulu yah. Ntar kalau ada perlu apa-apa, lu telepon aja gua. Nomernya…bentar….nih. Kalo perlu hubungin aja gua, gak perlu malu. OK? Bye…” Radit lalu beranjak pergi dari tempat itu sambil menyempatkan diri menghabiskan minumannya yang disuguhkan oleh ibu kost. “Mubazir ntar hehehehe…” ujarnya lagi sebelum menghilang dibalik pintu.
Sudah sekitar sebulan kiranya Rini menjalani hidupnya sebagai seorang mahasiswi di Jakarta. Perlahan dia mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Walaupun sulit memang. Karena kampus tempat dia kuliah sekarang ini merupakan tempat kuliah anak-anak orang kaya.

Sebagian besar dari mereka datang dan pergi menggunakan mobil, sementara sisanya menggunakan motor. Yang rela berjalan kaki kekampus mungkin hanyalah segelintir anak saja termasuk Rini.
“Akhh…aduh…” rintih Rini ketika seseorang menabraknya dari belakang. Rini terjatuh terjerembab dan seluruh buku yang dia bawa dari perpustakaan berjatuhan ke tanah.
“Waduh, sori banget. Gua buru-buru soalnya. Sori yah.” Kata orang yang menabraknya tadi sambil berusaha membantu Rini mengumpulkan buku-bukunya yang berserakan.
Rini menoleh kedepan dan melihat seorang pemuda berambut sedikit panjang dengan wajah yang tampan memunguti buku yang berjatuhan tadi lalu memberikannya kepada Rini. “Sorry yah. Gua nggak sengaja tadi.” Kata orang itu sambil tersenyum manis kearah Rini.
Tanpa dia sadari, Rini tersipu begitu melihat senyum manis pemuda tampan tersebut. “Ah nggak apa-apa kok.” Sahut Rini setelah berhasil menguasai keadaan lagi dari keterpanaannya terhadap pemuda itu.
“Lu terluka? Coba sini gua liatin apa ada yang lecet.” Pemuda itu mencoba mencari luka di tangan dan kaki Rini.
Rini berdiri bergegas, “Aku nggak terluka kok. Beneran nggak apa-apa kok.” Sahutnya mencoba meyakinkan walaupun sebenarnya lutut kanannya terasa begitu sakit karena terantuk batu tadi waktu jatuh.
“Bagus deh kalo nggak ada yang lecet. Oh iya, nama gua Kevin, gua anak fakultas ekonomi lu anak fakultas mana?” pemuda itu memperkenalkan dirinya pada Rini.
Gadis cantik ini serasa tak percaya setelah sebulan lebih di kampus dia akhirnya berhasil diperhatikan oleh orang lain dan bahkan oleh seorang pemuda setampan Kevin. Selama ini Rini selalu minder dan jarang dianggap oleh teman-temannya yang kebanyakan membuat kelompok atau gank mereka sendiri sesuai dengan status sosial atau ekonomi mereka.
“Namaku Rini. Aku dari fakultas kimia. Tuh gedungnya didepan.” Kata Rini sambil menunjuk kearah gedung bertingkat 4 didepannya.
“Iya iya gua udah tau itu gedungnya. Gua udah 2 tahun lebih disini. Eh sori yah soal yang tadi.” Kata Kevin lagi dan ini sudah keberapa kalinya dia meminta maaf kepada Rini.
Dalam hati Rini, Kevin sudah dia anggap sebagai pemuda yang baik walaupun baru saja bertemu atau bahkan Rini sudah menyimpan kekaguman pada diri Kevin yang tampan itu. “Udah dibilang nggak apa-apa juga.” Sahutnya pelan.
“Oh iya. Lu selesai kuliah jam berapa?” tanya Kevin lagi. Lalu dia melihat jam tangannya. “Sampai sore nggak?”
“Aku sampai jam 4 sore, emang ada apa?” Rini ganti bertanya sambil sesekali melirik kearah jam tangan Kevin. Seolah ingin tahu mengapa Kevin begitu sering melihat jam tangannya.
“Oh kalo gitu gua tungguin lu di tempat parkir ini jam 4 tepat yah. Sebagai permintaan maaf gua, gua bakalan ajak lu makan malam. OK. See you Rini.” Sahut Kevin lalu pergi dengan sekilat mungkin. Rini belum sempat menjawab pertanyaannya dan hanya terdiam bengong melihat tingkah pemuda ini.
Sorenya seperti yang sudah dijanjikan, Kevin menungguinya ditempat parkir. Lalu dengan mobil Honda Jazz miliknya dia mengajak Rini kesuatu tempat makan yang exklusif di daerah Jakarta Pusat.
Rini dibuat bengong begitu masuk kedalam restoran tersebut. Semua terkesan mahal dan mengagumkan dimata Rini. Memang restoran ini terkenal sebagai salah satu restoran yang terpandang di Jakarta juga menduduki deretan 10 besar restoran termahal disini.
Malam itu membuat Rini seolah seperti terbang dalam mimpi saja. Bagaimana tidak, diajak makan malam oleh seorang pemuda seganteng Kevin saja sudah merupakan sesuatu yang menyenangkan, apalagi ditambah dengan makan malam ditempat yang romantis dan elegan seperti ini. Sama sekali tidak pernah terpikir oleh Rini sebelumnya.
Pertemanan Rini dengan Kevin semakin hari semakin erat saja. Bahkan hampir tiap minggu mereka berdua sering keluar untuk makan malam. Dalam bulan ke tujuh Rini tinggal di Jakarta, dia sudah mengenal dunia malam yang sebelumnya diperkenalkan oleh Kevin. Karena bujukan Kevin pulalah sekarang Rini sudah pindah ketempat kost yang jauh lebih bebas dari yang dulu yang serba terkekang.
Tanpa Rini sadari sekarang dia sudah mulai terbiasa dengan kehidupan malam para mahasiswa di kampusnya. Tempat kost Rini sekarang dihuni oleh pria maupun wanita dan sama sekali bebas tanpa aturan jam malam dan sebagainya, yang penting pembayaran tepat waktu maka sang pemilik kost tidak bakalan peduli dengan tingkah anak kostnya.
Alhasil selain biaya hidup Rini yang meningkat pesat, nilai-nilai pelajarannya pun dibuat terjun bebas. Jika disemester pertama dia berhasil mendapat IP diatas 3, maka disemester kedua ini dia harus puas dengan penurunan IP-nya hingga mendekati dua koma lima. Benar-benar penurunan yang drastis.
Dalam waktu setahun setelah Rini berkenalan dengan Kevin, dia sudah berubah menjadi seorang Rini yang baru. Dari gaya berbicara hingga gaya berpakaiannya-pun sudah berbeda jauh. Sekarang Rini sudah dengan santainya mengenakan busana minim didepan umum sangat berbeda dengan waktu dulu dia pertama kali datang ke Jakarta yang masih mengenakan pakaian sederhana. Memang Kevin sering kali membelikan Rini pakaian dan perhiasan pernak pernik untuk menunjang penampilan gadis cantik itu. Dan tiap kali pemuda ini membelikan pakaian selalu pakaian yang seksi dan terbuka sehingga sekarangpun Rini sudah terbiasa memakainya.
Pertengahan Juli tepat dimana semester genap telah selesai, para mahasiswa mendapatkan libur yang lumayan panjang. Berkat itu pula mereka dapat meluangkan waktu untuk bersantai dan melarikan diri sejenak dari rutinitas belajar mereka.
Rini tak terkecuali, dia mendapatkan ajakan dari Kevin untuk pergi berlayar dengan kapal yacht milik ayahnya. Rini dengan senang hati menerima ajakan itu. Kapan lagi bisa bertamasya dengan kapal boat mewah kalau tidak sekarang, pikirnya dalam hati.
Hari Kamis pagi mereka berangkat dari marina untuk menuju ke perairan di kepulauan seribu. Selain Kevin, ikut serta juga Tasya, Edeline, Reymond dan Roni. Tasya dan Roni merupakan teman dari Kevin yang sudah dikenal baik oleh Rini karena selama 3 bulan terakhir ini mereka sering bersama dengan Rini dan Kevin tiap kali mereka berdua pergi ke night club. Sementara Edeline dan Reymond merupakan teman Kevin ketika dia masih sekolah di Australia bersama dengan kakaknya.
“Wah keren yah lautnya, jernih.” Seru Reymond sambil membuka kaus pantainya. Terlihat badan Reymond yang sangat terawat dan berotot, sepertinya pemuda ini sering pergi ke fitness centre.
“Lihat nih apa yang kubawa!” suara Kevin terdengar seiring dengan kemunculannya bersama Roni dengan menggotong sebuah boks pendingin yang ternyata berisi bir impor. “Merk terkenal nih, dijamin ngalahin yang local-lokal. Hahahaha…” ungkap Kevin berpromosi.
Semua tak terkecuali Rini mulai menenggak minuman tersebut hingga sekitar sepuluh menit kemudian mereka tiba di perairan pesisir pantai salah satu pulau yang sepertinya tak berpenghuni.
“Wah keren juga pasirnya putih coi. Yuk berenang ketepi.” Seru Kevin yang kemudian melepas kausnya dan diikuti dengan teman-temannya yang lain yang sudah siap dengan pakaian renang mereka. Terlihat Edeline yang sudah mengenakan two piece bikini yang bewarna ungu, benar-benar memamerkan lekuk indah tubuhnya yang putih mulus itu. Gadis peranakan Manado dengan bule Australia itu memang berpostur tubuh proporsional, dengan tinggi sekitar 170an centimeter dan ditunjang dengan tubuhnya yang indah karena memang pada dasarnya dia hobi berenang. Belum lagi wajahnya yang cantik mengingatkan pada wajah VJ Mariska di MTV.

Memang benar-benar cantik. Tapi yang membuat mata Kevin dan Roni bahkan Reymond yang pernah tinggal satu apartemen dengannya waktu di Australia terkagum-kagum adalah bentuk buah dadanya yang begitu besar, mungkin seukuran E-Cup dengan bentuk mancung seperti buah papaya saja. Menggiurkan sekali pokoknya.
Rini melihat kearah Adeline yang begitu cuek walaupun banyak mata memperhatikan payudaranya yang ranum itu. Dalam hati Rini dibuat minder juga mengingat kepercayaan dirinya masih belum sehebat Adeline soal memakai bikini. Memang sudah biasa bagi Rini mengenakan pakaian yang memamerkan belahan dada atau bagian pusar tetapi mengenakan bikini yang super tipis seperti yang dikenakan Adeline membuatnya seperti telanjang saja.
“Ayo! Jangan pada bengong disini lah.” Seru Tasya yang sudah mengenakan bikininya yang bewarna biru muda itu dengan model silang pada bagian punggungnya. Walaupun buah dada dan tubuh Tasya tak seindah Adeline tetapi tetap saja diatas rata-rata. Maklum dulu waktu masih SMU dia pernah menjadi model sampul bagi salah satu majalah remaja yang cukup terkenal di Indonesia.
Akhirnya semua keenam orang itu terjun kelaut dan berenang menuju kearah pantai. Selanjutnya mereka larut dalam kegembiraan. Mulai dari saling menggoda hingga akhirnya mereka berpisah sesuai dengan keinginan masing-masing. Mereka pergi berpasangan.
Reymond pergi bersama Adeline yang saat itu ingin berjemur dipantai sambil menikmati bir. Sementara itu Roni dan Tasya malah asyik bermain pasir dan berlomba membuat istana pasir. Rini dan Kevin menghilang di kerimbunan semak.
“Jangan jauh-jauh Kev! Aku takut kalau ntar kita tersesat.” Rajuk Rini kepada pemuda itu. Kevin tertawa mendengarnya.
“Mustahillah kita tersesat. Emang pulau ini segede apaan? Liat aja cuman ada satu batu besar yang menonjol yang tingginya saja nggak bisa dibandingkan dengan tingginya gedung fakultasmu. Hahaha…” jawab Kevin lalu menggandeng tangan Rini untuk memanjat batu itu.
Suasana hangat menerpa bercampur dengan semilir angin yang sejuk begitu mereka sampai dipuncak bebatuan yang tingginya kurang lebih 30an meter itu. Dari situ mereka bisa melihat betapa kecilnya pulau ini. Mungkin hanya seukuran stadion gelora senayan saja.
“Tuh khan kecil pulaunya. Eh kita ambil foto yuk disini.” Ajak Kevin sambil mengeluarkan kamera digitalnya yang berusaja kemarin dia beli.
Rini mengiyakan lalu mereka berdiri bersandar pada batu besar yang menjulang sementara dari belakang, Kevin yang bersandar pada batu besar itu merangkul tubuh Rini yang saat itu mengenakan bikini warna pink dari belakang sehingga sekarang Rini bersandar pada tubuh Kevin. Semula gadis cantik ini ragu dan merasa risih juga saat beberapa kali entah sengaja atau tidak lengan Kevin menyentuh gundukan payudaranya yang berselimutkan bikini warna pink itu.
“Kevin!!!” Rini tiba-tiba berteriak histeris. Bukan tanpa alasan dia berteriak. Kevin yang sedari tadi seolah siap untuk difoto otomatis dengan kamera digitalnya tiba-tiba dengan cepat merengut bikini bagian atas dari Rini sehingga sekarang buah dada Rini terpampang jelas dan terfoto oleh kamera tersebut.
Dengan sigap Kevin melemparkan bra bikini tersebut ketempat yang cukup jauh untuk dijangkau Rini. Rini memprotes tindakan Kevin itu tetapi apa daya karena tenaganya kalah kuat dan reaksinya juga terlambat. Sekarang Kevin mencium bibir Rini dari arah belakang dengan tetap merangkul tubuh Rini. Rini mencoba mengelak tetapi tetap saja lagi-lagi dia kalah sigap.
Jika dalam keadaan normal tentu saja Rini tidak keberatan dicium oleh pemuda setampan Kevin apalagi karena Rini juga menyimpan perasaan suka yang sangat besar terhadap Kevin. Tapi kali ini lain. Kevin telah bertindak kurang ajar dengan menelanjangi bagian atas tubuh Rini dan Rini-pun tidak menyukai hal tersebut. “Kevin! Kamu kurang ajar sekali sih.” Bentak Rini setelah berhasil melepaskan diri dari ciuman Kevin tetapi tubuhnya tetap didekap dari belakang.
Beberapa detik kemudian Kevin mengarahkan kedua tangannya untuk meremas kedua payudara Rini sementara bibirnya sekarang menyosor kearah leher jenjang Rini. Tepat pada saat itu pula kamera menyala kembali dan memotret tingkah kedua orang ini. Ternyata Kevin sudah mensetel kamera digital tersebut untuk mengambil gambar secara otomatis tiap beberapa saat sekali. Foto kedua mereka adalah foto dimana Kevin dengan kedua tangannya sedang meremasi payudara Rini tanpa adanya perlawanan yang berarti.
“Rin. Kita khan udah lama jalan bareng masa lu masih nggak mau sih?” rayu pemuda tampan ini. “Kamu tau nggak kalau sebenarnya gua udah lama banget suka ma lu. Lu mau khan jadian ma gua?” rayu Kevin lagi yang kali ini membalikkan tubuh Rini menghadapnya.
Mata gadis cantik itu tak percaya mendengar pengakuan Kevin karena sepanjang yang dia tahu bahwa Kevin itu adalah cowok favorit di kampusnya yang mempunyai banyak sekali penggemar. Sementara Rini hanya menganggap dirinya sebagai teman dekat Kevin saja karena untuk melangkah lebih lanjut ke jenjang yang lebih tinggi Rini merasa masih tahu diri dengan kondisi ekonominya. Namun dengan pengakuan Kevin barusan membuat semua itu berubah. Ini kali keduanya Rini dibuat melayang-layang setelah sebelumnya Kevin merayunya untuk mau pergi berwisata dengan kapal boat pribadinya itu.
Berikutnya yang terjadi adalah Rini pasrah ketika ciuman Kevin mendarat di bibirnya. Rini berusaha untuk menutupi payudaranya karena malu dengan kondisi seperti itu namun Kevin malah menyingkirkan pertahanannya itu sehingga sekarang selain menciumi bibir Rini, Kevin juga meremasi kedua buah dada Rini yang bulat dan putih mulus itu.
“Toket lu besar juga yah Rin. Gua suka banget lihatnya. Lu benar-benar cewek impian gua selama ini.” Puji dan rayuan kembali menggema di benak Rini tiap kali Kevin melontarkan rayuan gombalnya. Walaupun memang buah dada Rini memanglah menarik karena sesuai dengan ukuran tubuhnya yang mempunyai tinggi 168 cm dan berat 46 kg tersebut. Ukurannya tidak sebesar milik Edeline tetapi tetap menarik, sekitar 34 C.
“Kevin kamu beneran mau pacaran ma aku?” tanya Rini lagi tak percaya disela-sela ciumannya dan dijawab dengan anggukan serius dari Kevin yang kemudian menciumnya lagi. “Kevin aku juga udah lama suka ma kamu.” Akhirnya Rini membuka juga kartu miliknya dengan sebuah pengakuan.
Sedetik kemudian tangan Kevin mulai beralih menuju kearah bawah dan mulai meremasi pantat Rini yang padat berisi itu. Sesekali jemarinya menyusup diantara celah yang terbuka pada bikini Rini untuk menyentuh langsung pantat Rini yang sekal itu bahkan jemarinya juga sempat menyentuh daerah terlarang milik Rini yaitu vaginanya.
“Kev…” desah Rini mencoba menguasai diri namun apalah daya karena dirinya juga sedang dimabuk cinta dan sedang terangsang berat. Sepertinya bir yang barusan dia tenggak memberikan andil kepada Rini mengapa dia begitu mudah pasrah dengan nafsunya. Mengapa dia juga tidak melawan ketika Kevin membaringkannya di sebuah batu besar yang datar lalu melucuti celana dalam bikininya hingga lolos semua meninggalkan Rini dalam ketelanjangan mutlak.
Dengan posisi berada dibawah, sekarang tubuh Rini menjadi bulan-bulanan nafsu dari Kevin yang semakin lama semakin menggebu-gebu saja. Ciuman pemuda itu bukan hanya mendarat dibibir dan lehernya tapi juga menuju kearah payudara dan puting susunya hingga sekarang membuat Rini menggelinjang menahan nikmat yang tak terkira. Sebelumnya Rini tidak pernah merasakan perasaan sehebat ini karena ini kali pertamanya bercumbu dengan seorang pria. Bahkan ciumanpun dia hanya sekali saat dengan pacarnya di SMU itupun hanya beberapa kali saja selama mereka pacaran.
Jemari Kevin kian berani mengarah ke bagian vagina Rini yang ternyata sudah sangat basah karena cairan pelumas yang terus terusan keluar. Rini yang semula berusaha mati-matian menutup selangkangannya dengan mengapitkan paha sekarang perlahan malah membuka pahanya untuk meminta perlakuan lebih dari jemari nakal Kevin yang sudah ahli itu. Sesekali bibir vagina Rini yang sudah ditumbuhi bulu-bulu halus itu digesek dengan kedua jari Kevin, kadang dengan sengaja Kevin memasukkan jemarinya lebih dalam walaupun sudah dicegah oleh tangan Rini dan menggesek klitoris gadis cantik ini sehingga membuat Rini semakin lupa diri saja.
Entah berapa lama mereka bergumul disana dengan mengeluarkan berbagai suara desahan. Kevin lalu melepaskan celana renangnya dan saat itu juga Rini dapat melihat penis Kevin yang menegang.
Seumur hidup Rini baru kali ini dia melihat batang kemaluan seorang pria dewasa. Perasaannya bercampur antara takut karena ukurannya yang sangat besar menurutnya dengan rasa penasaran untuk melihat reaksi lanjutan dari Kevin. Padahal semua itu sudah seharusnya dia dapat duga karena babak berikutnya adalah prosesi yang sakral-lah yang terjadi. Prosesi yang seharusnya Rini simpan untuk pernikahannya nanti.
Tahu kalau Rini belum berpengalaman dalam hal seks membuat Kevin memegang control sepenuhnya terhadap permainan ini. Pemuda ini melebarkan kedua paha Rini lalu menaikkan keduanya hingga bersandar diatas pundak miliknya lalu dia dengan bantuan salah satu tangannya mengarahkan batang kejantanannya kearah bibir vagina Rini yang sudah basah dengan cairan cinta itu. Sentuhan benda asing itu terasa begitu hangat dan aneh bagi Rini tapi sedetik kemudian berubah menjadi rasa sakit yang hebat ketika dengan paksa Kevin melesakkan batang kemaluannya kedalam liang senggama Rini tanpa bisa dicegah lagi. Tangan Rini secara reflek mendorong perut Kevin karena rasa sakit yang melanda vaginanya kala itu namun dengan cekatan kedua tangan Kevin mencekal tangan Rini dan menindihnya kesamping kepala gadis cantik itu.
“Sakittt…sakit banget Kev. Lepasin aku…sakit nih.” Berontak Rini ketika penis Kevin semakin dalam saja melesak kedalam vaginanya.
Kevin mana mau menghentikan kenikmatan ini. Sekarang setelah tahu Rini tidak bertenaga lagi dia lalu memperdalam tusukan batang kesayangannya itu kedalam liang kesucian Rini. Dalam beberapa usaha yang dilakukan akhirnya berhasil juga Kevin menjebol keperawanan Rini. Darah segar mengalir membasahi liang kemaluan Rini dan Kevin-pun juga dapat merasakan kalau batang penisnya merasakan adanya cairan hangat menyentuh batang kejantanannya.
“Pertama emang sakit sayang tapi ntar juga berubah jadi nikmat kok. Lu nyantai aja Rin.” Kata Kevin tanpa peduli penderitaan yang dialami Rini. Lalu tanpa menunggu leih lama lagi dia langsung mulai memompa tubuh mulus Rini dengan cepatnya dan terkesan kasar. Berulang kali pantat sekal Rini menghantam permukaan batu besar itu walaupun tidak meninggalkan luka tapi tak urung memerahkan kulit pantat Rini juga.
“Kevin…sakitttt…” jerit Rini dan sempat membuat Kevin kaget juga. Namun itu tak berlangsung lama karena berikutnya bibir Kevin sudah menyumbat bibir gadis cantik ini dengan sebuah ciuman mesra. Lidah pemuda pujaan hati Rini ini menjelajahi rongga bulut Rini sementara batang penisnya menjarah keperawanan Rini tanpa henti hingga sepuluh menit kemudian tubuh pemuda ini mengejang hebat.
“Rini…kamu memang luar biasaaa….akkhhhh…” seru Kevin lalu menghentakkan senjata mesumnya itu dengan kencang hingga membuat tubuh Rini terguncang hebat lalu Kevin-pun lemas lunglai diatas tubuh bugil Rini dengan posisi penis masih menancap di vagina sang gadis.
Rini menitikkan air matanya dan dia barusaja sadar kalau miliknya yang paling beharga sudah lenyap dirampas oleh pemuda yang dia puja selama ini. Dirampas? Atau mungkin malah Rini yang dengan pasrah merelakannya dan memberikannya kepada Kevin? Entahlah, yang jelas sekarang gadis cantik ini sudah memulai babak baru dalam kehidupannya, sebuah kehidupan yang dulu tak pernah dibayangkannya. Apalagi sekarang dia mulai sadar kalau dia bisa saja hamil karena persetubuhan ini karena dia juga sadar kalau sperma hasil ejakulasi Kevin seluruhnya dimuntahkan oleh penis pemuda itu kedalam liang kegadisannya tersebut.
“Kevin. Kamu jangan tinggalin aku yah.” Pinta Rini dengan nada sendu. Kevin tak menjawab, dia masih menikmati sisa orgasmenya. Namun saat pemuda ini mencabut penisnya dia sempat tersenyum pada Rini lalu mencium bibir Rini dengan lembut.