================================================== === Warning: – Didalam cerita ini terdapat unsur seks dan pemaksaan. – Dilarang mengcopy paste untuk tujuan komersil ataupun tujuan meraih keuntungan (model apapun) tanpa persetujuan dari penulis. ================================================== ====

Namaku Adi, bagi yang sudah mengenalku lewat T/S Diary Seorang Remaja di Cerita Seru mungkin masih ingat tentang Ayu yang pernah aku ceritakan. Kisah ini dimulai lagi ketika aku mendapatkan pekerjaan sambilan sebagai teknisi sebuah perusahaan jaringan yang berpusat di Semarang. Sebenarnya pekerjaan ini hanyalah untuk satu proyek saja karena kebetulan aku bukan pegawai tetap dan perusahaan yang bersangkutan sedang mengalami defisit pegawai tehnik. Singkatnya aku di sewa untuk satu proyek saja sampai mereka mendapatkan pekerja baru. Proyek pemasangan ulang jaringan komputer intranet dan internet di sebuah perguruan tinggi swasta di kota Salatiga merupakan proyek yang harus kukerjakan. Bersama dengan teman-teman teknisi yang lain kami bekerja memasang segala macam keperluan penyambungan jaringan di kampus tersebut.

Pada hari ketiga aku dan seorang temanku memperoleh jatah mengerjakan install ulang perangkat di komputer di ruang dosen di salah satu fakultas dikampus itu. Aku masuk ke sebuah ruangan kedap suara dan mencari-cari dimana letak komputernya berada. Saat sedang menunggu proses menginstalan selesai, aku iseng-iseng melihat-lihat isi meja dosen ini. Aku melihat sebuah foto dipajang diatas meja disebuah bingkai yang kecil warna merah tua. Astaga, ternyata aku pernah melihatnya, aku pernah melihat dosen ini disuatu tempat.

Setelah aku mencoba mengingat-ingat aku baru sadar kalau dosen itu adalah perempuan yang pernah kulihat di rekaman handphone yang kaset-nya kutemukan di sebuah rumah makan di kota yang sama. Taku salah orang, aku kembali memutar video itu dan kucocokkan sekali lagi wajahnya, dan memang cocok sekali. Astaga, pikirku kenapa bisa kebetulan sekali. Tanpa sadar rasa ingin tahuku semakin besar dan memberanikan diri untuk mencari-cari tanda bukti lain dari keberadaan dosen cantik ini. Dosen yang sebelumnya masih menjadi asisten dosen sekarang sudah menjadi dosen di sebuah fakultas di kampus ini. Di laci meja kerja aku menemukan beberapa dokumen penting dan foto-foto miliknya bersama dengan klise-nya. Foto itu tak salah lagi adalah foto Ayu yang pernah kulihat di rekaman kaset handycam tempo hari.

Aku juga menemukan sebuah surat yang lecek sepertinya habis diremas-remas tetapi kembali disimpan rapi. Surat cinta dari kekasih Ayu yang dulu pernah mengumpankannya ke relasi bisnisnya untuk membayar kerugian mereka akibat tender L/C yang tidak jalan. Didalamnya terdapat permintaan maaf dan penyesalan walaupun begitu dia masih mempunyai keberanian untuk meminta Ayu untuk kembali kepadanya. Saat aku selesai membacanya, mataku tertuju kepada sebuah surat yang sudah robek-robek dan sudah diremas-remas didalam kotak sampah. Aku pungut dan aku coba satukan, ternyata isinya mengejutkan. Surat itu berisi mengenai ancaman pemerasan yang dilakukan oleh mantan relasi bisnis mantan pacar Ayu yang dulu juga pernah menodai perempuan cantik ini. Inti dari surat itu mengancam kalau Theo (pengirim surat) akan membeberkan rekaman percintaan Ayu dengan dirinya dan temannya yang satu lagi jika Ayu tidak bersedia menuruti permintaannya.

Pria ini juga meminta Ayu untuk datang nanti malam di sebuah hotel di dekat kawasan wisata di kota itu. Malamnya aku sudah bersiap di hotel yang dituju oleh Ayu nantinya. Hotel yang terletak dijalan menuju ke obyek wisata terkenal di wilayah Salatiga ini memang sering digunakan untuk bermalam muda-mudi yang menginginkan fantasi seks namun tidak ada tempat terutama jika malam minggu tiba. Aku sudah membayar seorang bellboy untuk memberiku kunci pintu penghubung antara dua kamar. Disana memang ada kamar-kamar yang saling berhubungan dan dihubungkan dengan sebuah pintu penghubung yang langsung menjadi penghubung dua kamar.

Aku sudah mempersiapkan memesan kamar yang berada di sebelah kamar si Theo ini. Semuanya sudah siap dan juga kunci duplikat yang dapat menghubungkan pintu paralel ini. Sekitar jam 9 malam Theo sudah tiba dan dia juga membawa Ayu turut serta kedalam kamar. Ayu waktu itu mengenakan kaus lengan panjang dari bahan mirip wool. Bagian bawahnya mengenakan celana jeans warna hitam dan ketat membuat lekuk tubuh bagian bawahnya dapat terlihat dengan jelas. Gadis ini sangat proporsional postur tubuhnya. “Wah wah. Dengan potongan pendek sebahu gini aku jadi pangling loh Yuk sama kamu….makin cantik aja hehehe…” ujar Theo dengan rayuan sampahnya.

Tangannya lalu membelai rambut Ayu namun ditepis dengan kasar oleh Ayu. “Apa sih maumu? Apa belum cukup kamu hancurkan diriku hah?” bentak Ayu agak keras namun Theo lalu membungkam mulut Ayu dengan tangannya. “Mending kamu diam aja deh Yu. Aku punya rekaman pas kita sedang bercinta, jadi kalau kamu nggak pengin rekaman itu jatuh ketangan rektorat mendingan kamu turuti apa kataku. Mengerti?” ancam Theo sambil kini tangannya sudah berani memainkan buah dada Ayu dari balik kaus lengan panjangnya.

Ayu mau tak mau menuruti apa mau Theo. Pria itu lalu menindih tubuhnya di tempat tidur dan mulai melucuti pakaian Ayu hingga Ayu nyaris bugil, tinggal mengenakan celana dalam warna hitam miliknya. Sebesar apapun perlawanan Ayu tidak artinya dibandingkan dengan tenaga Theo yang berbadan besar itu. Kembali Theo melancarkan ciuman mautnya di leher Ayu, mau tak mau Ayu juga dibuat lemas oleh serangan penjahat kelamin satu ini. “Lepasin aku! Lepas…in…mfff…” mulut Ayu tersumpal lagi oleh bibir kasar Theo. Entah berapa lama perlawanan dari Ayu berlangsung, saat itu Ayu sudah lemas tak bertenaga. Tenaganya terkuras habis untuk sebuah perjuangan yang sia-sia.

Theo lalu membuka seluruh pakaiannya. Sekarang sebuah benda laknat yang dulu pernah menjarah liang perawan Ayu telah muncul dihadapannya kembali. Bagaikan terkena flash back kejadian yang lampau, Ayu begidik merinding melihat penis besar yang dulu pernah menodainya berulang-ulang. “Sekarang kamu sudah dalam kekuasaanku. Lebih baik menurut karena jika tidak maka kamu akan mendapatkan ganjaran setimpal yaitu dipermalukan didepan banyak orang. Kamu mau itu terjadi huh?” ancam Theo dan berhasil. Ayu sekarang tidak lagi memberontak dan hanya bisa pasrah saja. Sepertinya Theo tahu benar kalau siasatnya berhasil oleh sebab itu dia melancarkan serangan keduanya. Sekarang baik Theo maupun Ayu sudah sama-sama bugil diatas tempat tidur. Ayu yang sudah kehilangan daya lawannya hanya bisa pasrah ketika payudaranya dijilati, dijamah dan dihisap sebagai bulan-bulanan jemari dan mulut liar Theo.

Apalagi sekarang Theo seperti harimau yang hilang kendali. Dia sudah tidak peduli lagi akan nasib Ayu karena dia merasa Ayu adalah miliknya sekarang, bahwa Ayu adalah budak seksnya yang boleh diperlakukan sesuka hatinya. Ayu berlinang air mata namun tidak juga melawan lagi. Dia tidak melawan walaupun dia merasakan kalau kedua pahanya sudah dibuka lebar oleh Theo dan klitorisnya sudah bergesekan dengan ujung kepala penis Theo. “Kamu suka kontolku khan? Nggak perlu malu sayang.

Kontolku ini memang mak nyus apalagi kalau lawan mainnya cewek secantik kamu ini. Hehehe…” ejek Theo sambil terus memainkan penisnya dibibir vagina Ayu. Ayu menggelinjang kegelian dan juga terangsang. Dia berulang kali mendesis walaupun dia sudah berusaha untuk mencegahnya keluar namun desahan itu tetap aja ada. Melihat reaksi Ayu dan ditambah dengan semakin membanjirnya cairan kemaluan dari bibir vagina Ayu yang keluar, Theo semakin merasa dirinya diatas angin sekarang. “Akhhh…sakit…” seru Ayu ketika bonggol besar penis Theo itu menyeruak masuk menerobos pertahanan bibir vaginanya. Ayu tak kuasa menahan rasa sakit dan sekali lagi dia merintih kesakitan.

Theo tidak ambil pusing dengan hal itu. Kembali dia menyodokkan batang kemaluannya kedalam vagina Ayu. Entah sudah berapa kali pompaan Ayu mendadak mengejang tak karuan. Ternyata Ayu mencapai orgasme pertamanya. Orgasme pertama dalam hidupnya yang direngut oleh seorang lelaki bejat yang memerasnya untuk menidurinya sebagai imbalan tutup mulut. Sementara itu Theo menyusul dengan ejakulasinya sekitar satu menit setelah Ayu selesai dengan orgasme pertamanya. Sperma Theo membasahi sprei dan perut Ayu. Theo-pun ambruk disamping tubuh Ayu yang lunglai tak bertenaga. Dia tersenyum puas telah berhasil menodai dosen cantik ini lagi. “Ayo kita mandi bareng. Biarkan aku membersihkan sisa sperma yang menempel di tubuhmu.” Kata Theo mengajak Ayu untuk masuk kamar mandi namun ditolak oleh Ayu. Gadis ini tidak mau beranjak dari tempat tidur. Theo memaksanya dan mengancamnya lagi sehingga Ayu mau tak mau harus bersedia mandi bareng dengan lelaki sialan itu. Dengan setengah dipaksa Ayu digiring menuju kamar mandi bersama Theo. Aku keluar dari persembunyianku dan memasuki kamar mereka.

Pintu kamar mandi setengah tertutup namun aku dapat sedikit mengintip kalau dikamar mandipun Ayu sedang digarap oleh Theo habis-habisan. Kali ini dia disuruh nungging oleh lelaki itu dan diperkosa dari belakang tanpa ampun. Bunyi suara keran mengalir berpadu dengan desahan kedua insan manusia ini bersamaan dengan bunyi kecipak hasil benturan penis Theo dan bibir vagina Ayu. Sekitar dua puluh menit mereka bersenggama didalam kamar mandi. Saat mereka keluar, mereka tidak menyadari kalau kamar mereka sudah didatangi orang tak diundang, yaitu aku. Ayu bergegas membenahi pakaiannya sementara terdengar suara dari pintu depan. Suara diketok. Theo menegurnya dengan kasar karena memang dia sudah memasang tanda “jangan diganggu” didepan pintu tetapi tetap saja ada yang mengetuk apalagi orang tersebut berkata “room service” terang saja hal itu membuat Theo makin gusar. Lalu dia membuka pintu dan bersiap memaki karyawan hotel tersebut namun amarahnya sirna berganti dengan keterkejutan dan rasa takut. “Dasar keparat! Jadi selama ini kamu suka indehoi disini hah?” bentak seorang perempuan berumur 30an tahun. Perempuan itu adalah istri dari Theo yang juga kepala keluarga. Aku sebut kepala keluarga karena sebenarnya seluruh kekayaan yang dimiliki Theo berasal dari duit keluarga istrinya dan istrinya juga seorang pebisnis handal jauh lebih handal daripada sang suami yang hanya bisa foya-foya. Sang istri menepis tangan karyawan hotel yang berusaha menenangkannya lalu dia menyeruak masuk kedalam. Theo sudah kalang kabut, dia tidak tahu apa yang bakal terjadi kalau sang istri bertemu dengan Ayu.

Namun yang ditemukannya bukanlah Ayu melainkan seorang pelacur murahan dengan face yang sangat pas-pasan. Sementara Ayu sudah lenyap. Theo menganga heran, kaget campur bingung. Plak! Sebuah tamparan keras mendarat dipipinya dan disusul dengan tamparan lainnya begitu melihat seorang pelacur bersama suaminya didalam kamar. Pelacur itupun pergi sambil masih membenahi bra dan pakaian atasnya lalu menyempatkan diri mencium pipi Theo sambil mengatakan, “Lain kali kalau mau enjot-enjotan telepon aja lagi. Asalkan nggak bawa istri tapi yach sayang….muachhh.” kata psk itu sambil lalu dan menghilang dibalik tembok. Sementara dari kamar sebelah aku menyaksikan diam-diam peristiwa perang dunia ketiga itu. Disampingku berdiri Ayu dengan senyum puas.

“Makasih ya Di udah nolongin aku. Kamu dapat khan kaset rekamannya?” tanya Ayu padaku. Aku lalu merogoh kantong sakuku dan menunjukkan kepada Ayu sebuah kaset kecil handycam. Ayu tersenyum lega. “Aku heran dari mana kamu bisa dapat ide seperti ini. Tetapi kamu benar-benar dewa penyelamatku. Makasih banget. Eh kamu dapat psk itu dari mana?” tanya Ayu lagi. Aku menoleh padanya, “Lah disini khan banyak juga. Aku cari yang paling murah namun masih muda. Tampang ancur gak masalah tapi asalkan dia mau berakting seperti yang sudah aku rencanakan. Lagipula aku bayar 10x harga seharusnya buat dia tutup mulut selamanya.” Kataku sambil membelai rambut Ayu.

Entah apa yang mendorongku untuk menolong Ayu kala itu. Apakah mungkin karena aku simpati padanya atau aku hanya tertarik saja. Yang pasti malam itu Ayu menghadiahi aku sebuah ciuman mesra dibibirku dan dia berjanji akan memberikan sesuatu yang lebih.